
Pertanyaan yang James layangkan membuat Sisil terpaku seketika. Langkahnya yang bergerak maju mengarah pada James seakan berhenti tepat dua langkah di depannya.
Tangannya yang dia gunakan untuk meminta kartu akses masuk kamar pada James langsung diurungkannya. Berubah haluan hingga mundur dan berdiri memutar.
"Apa maksud kamu?! Aku nggak ngerti apa yang kamu bilang." Sisil pura-pura tidak tau maksud dari pertanyaan James.
Melihat sikap Sisil yang masih menutupi sesuatu darinya, membuat James menghela napasnya dengan penuh kesabaran. Lalu membalikkan keadaan menjadi dialah yang berjalan ke arah Sisil hingga mempersempit jarak.
"Kamu tentu tau apa yang aku maksud, Sisil." James berucap dengan lembut. "Sikap kamu berubah sejak di tempat pengisian bahan bakar tadi. Tingkah kamu langsung aneh saat aku datang." James menatap Sisil lekat-lekat. Menelisik ke kedalaman matanya. "Apa telah terjadi sesuatu saat aku tidak ada?"
Ekspresi Sisil yang gugup dan tercengang, benar-benar bisa terbaca oleh James. Belum lagi suara Sisil yang tergeragap membuatnya semakin membuktikan jika memang ada yang sedang dirahasiakannya dari James.
"Si-Siapa bilang?! A-aku cuma males sama kamu karena terlalu lama menunggu." Sisil berkilah. "Lagi pula apa hubungannya sama kamu,?! Kamu bukan siapa-siapa. Kita bukan apa-apa. Jadi kamu nggak perlu ikut campur. Sekarang buka pintunya karena aku mau keluar dari sini. Cepat!"
James lagi-lagi mendesah. Tidak habis pikir dengan sikap Sisil yang masih membangkang.
"Kenapa kamu tidak mau jujur, Sisil. Apa kamu tidak percaya kalau aku bisa membantu kamu?"
"Bukan. Bukan nggak percaya. Tapi memang nggak bisa! Benar-benar nggak bisa, James!" Sisil tetap keukeuh pada pendiriannya yang tetap mempertahankan dirinya agar tidak goyah.
"Baiklah, kalau gitu aku tidak bisa membiarkan kamu ke luar dari sini."
Sisil terkejut dengan kedua alis mengernyit. "Kenapa? Kenapa aku nggak bisa keluar dari sini? Kamu nggak punya hak buat nahan aku disini, James!"
"Ada." James menyela dengan cepat. Hal itu sontak membuat Sisil tak bergeming. "Aku punya hak buat nahan kamu disini." Suaranya melembut seiring membawa kakinya semakin mendekat. Menghilangkan jarak yang masih tersisa hingga memangkasnya habis tanpa batasan.
Wajah mereka begitu dekat hingga napas mereka saling bertabrakan. James yang menahan dirinya sejak tadi agar tidak bertindak lebih jauh, dapat merasakan deru napas Sisil yang kasar dan menggebu-gebu menahan emosi. Tetapi akhirnya James mengalah pada perasaannya.
Perlahan, James mendekatkan wajahnya pada Sisil. Menatapnya dalam-dalam sambil mengurai kata.
"Coba sekarang kamu rasakan,..." perlahan tangan James mengambil tangan Sisil dan membawanya ke dadanya. Membiarkan Sisil merasakan detak jantung James yang berdegup cepat. "...kamu merasakannya, kan? Aku nggak perlu menjelaskannya lagi karena kamu juga mengerti apa yang aku maksudkan."
Sisil terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Bahkan, saat tangannya disentuh oleh James pun dia tidak mengelak.
"Aku tau kamu juga merasakannya, Sisil." suara James berubah lirih. Seiring dengan ditempelkannya dahinya pada dahi Sisil. Kedua mata James terpejam. Pun dengan kedua mata Sisil yang ikut terpejam karena terbawa suasana.
"Hanya 10 detik. Coba rasakan perasaanmu padaku, Sisil."
Suara James yang lirih seperti sebuah hipnotis untuk Sisil. Sisil bukan perempuan bodoh yang tidak bisa mengerti maksud perkataan James. Perkataan yang mengarah pada sebuah perasaan yang dalam sedang berusaha James isyaratkan padanya. Dan Sisil juga sempat merasakan perasaan itu meski telah dihalaunya.
Tanpa Sisil sadari, dia langsung mengikuti arahan James dan nyaris terbuai. Tetapi, tak sampai 10 detik, baru berjalan 3 detik saja, Sisil langsung tersadar akan dirinya yang hampir terlena. Dengan cepat, Sisil langsung membuka kedua matanya dan berucap memohon.
"Enggak. Ini salah, James. Jangan... Jangan lakukan ini." Sisil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan James. Pegangan yang kali ini terasa lembut dan hangat tetapi juga begitu kuat. "Lepasin aku, James... biarkan aku pergi,"
"Kenapa, Sisil? Kenapa nggak bisa? Apa yang salah?"
Dengan kalimat memohon yang amat, James tidak bisa berkata-kata saat wajah Sisil menunjukkan rasa sakit yang kuat.
"Tolong... biarkan aku pergi dari sini. Aku nggak mau kamu menyesal karena telah salah memilih." Lagi, Sisil seperti sedang berteka-teki. Itu malah semakin membuat James curiga.
"Jadi benar kecurigaanku. Ada yang kamu sembunyikan dari aku. Benar, kan?"
Pertanyaan James lagi-lagi membuat Sisil terpaku tanpa kata. Membuatnya tercengang tanpa bisa berkutik sedikitpun.
●●●
Meila keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Dengan sudah mengenakan pakaian hangat, satu set pakaian jogger berbahan fleece tebal berwarna nude pink yang sudah Dimas siapkan untuknya. Baju itu sengaja dibelikan Dimas untuk Meila karena cuaca yang akhir-akhir ini cukup dingin.
Meila terus berjalan menuju tempat tidur. Berniat untuk menyiapkan kue-kue yang tadi dia letakkan disana. Tetapi, saat Meila baru saja akan mengambilnya, dia menyadari kalau kantung berisi kue-kue yang tadi di letakkan sudah tidak ada. Tangannya langsung berhenti dan meletakkan handuk itu ke atas tempat tidur.
"Kemana kue-kuenya? Perasaan tadi aku menaruhnya disini."
Dengan masih menyimpan tanya, tiba-tiba saja Dimas masuk dengan membawa senampan penuh berisi kue-kue dan juga camilan ringan seperti biskuit sambil memulas senyum pada Meila.
"Kamu udah selesai?" Dimas berujar saat pertama kali melihat Meila yang sudah selesai mandi dan tampak segar.
"Kakak yang ambil kue-kue itu? Aku pikir aku lupa meletakkannya tadi." Meila terkekeh sendiri dengan tingkahnya.
"Aku sengaja mengambilnya untuk menyiapkan ini. Ayo, kemari..." sambil mengajak Meila untuk ikut bersamanya, dan tentu saja Meila langsung mengekorinya.
Dan, ketika pandangan Meila mengikuti langkah kaki Dimas yang menuju ke balkon kamar, Meila langsung terperangah melihat suasana balkon yang sudah begitu indah. Balkon itu sudah disulap seperti suasana piknik dalam ruangan. Lampu kerlap-kerlip penuh warna yang menggantung di sepanjang pagar balkon, serta tenda piknik berukuran besar berkapasitas dua orang.
"Kenapa masih disitu? Ayo, kesini,"
"Kak Dimas yang menyiapkan ini?"
Ekspresi Meila yang takjub sekaligus terkejut membuat langkahnya melambat. Tentu saja Meila sangat senang. Bahkan saking senangnya dia sampai tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.
"Iya. Gimana? Kamu suka?"
Meila mengangguk takjub sambil membawa pandangannya ke arah tenda. Dimana semua makanan sudah tertata rapi di depannya.
"Suka banget." Meila menyahut kegirangan. "Ini kayak camping di atas gedung." Imbuhnya polos seperti anak kecil.
Dimas tertawa, "Kalau suka, kenapa masih disitu? Kemari,... kamu nggak mau duduk disini?" Sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Ah, maaf, aku masih takjub melihat semua ini." Kilahnya tertawa. Namun tak urung Meila langsung membawa langkahnya kepada Dimas yang sudah menunggunya.
Dimas langsung meraih tangan Meila padanya hingga gadis itu duduk di sampingnya. Di atas karpet tebal berbulu yang mengalasi lantai tempat dimana mereka duduk. Tidak lupa juga Dimas mengambil selimut hangat untuk menutupi punggung mereka agar terhalau dari udara yang cukup dingin.