
"Pokoknya ada deh, ceweknya. Belum saatnya gue cerita ke lo!"
Mereka telah sampai di suatu cafe tepat tak jauh dari tempat kejadian mereka bertemu tadi. Rendy memutuskan untuk mengajak Dimas ketempat yang lebih nyaman untuk mengobrol tanpa mengganggu atau diganggu kendaraan lain. Atau bisa dibilang sambil sedikit mengintrogasi sahabatnya kenapa tak menghubunginya jika memang tak jadi ke luar negeri.
Senyumnya mengembang bersamaan dengan perkataannya. Alih-alih mengalihkan pandangannya dari pria yang telah lama baru ia temui, justru malah membuat Rendy semakin penasaran. Di hadapkannya tubuhnya ke arah Dimas dan ia perhatikan wajahnya penuh intimidasi. Dimas yang ditatap seperti itu membuatnya mengernyitkan sebelah alisnya tanda tak suka.
"Ngapain ngeliatin gue kayak gitu, hah? Sekian lama kita gak ketemu lo gak sakit yang 'aneh-aneh' kan, Ren?"
Rendy membelalakkan matanya mendengar Dimas menekankan kata 'aneh' sambil ditatap penuh tanya.
"Lo pikir gue cowok apaan? Gue masih sehat. Lagian masih banyak cewek yang ngejar-ngejar gue diluar sana." ucapnya dengan nada sombong.
"Ya gue pikir, lo ngeliatin gue kayak orang udah lama gak ketemu pacarnya bertaun-taun." Dimas tersenyum miring penuh ledek.
Rasa penasarannya belum padam. Seakan tak mau kalau ia ketinggalan suatu rahasia akan sahabatnya, ia bertanya lagi pada Dimas. Rendy tak mau memaksakan keinginannya untuk mencari tau. Sebab ia tau, jika memang sudah waktunya, maka Dimas pasti akan menceritakan semuanya.
"Oke... oke... gue gak akan maksa. Gue tau kalo ada cewek yang berhasil mengusik lo, berarti cewek itu pasti berbeda." ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dimas mengangkat bahunya. Ia merasa memang perlu menceritakan semuanya pada Rendy, mengingat memang tak pernah ada yang ditutup-tutupi diantara mereka.
"Sekarang ceritain ke gue, gimana ceritanya lo gak jadi ke Amrik?" sambil mengangkat sebelah alisnya penuh selidik, pertanyaan Rendy seakan terdengar dengan nada introgasi seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi penculik anak 5 tahun yang ketahuan.
Dimas menghela nafas panjang. Sedikit sunyi sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya. "Ceritanya panjang, bro! gue harus ngeyakinin orang tua gue dulu buat gak maksa gue ikut bersama mereka. Gue butuh alasan yang cukup kuat dan meyakinkan terutama buat bokap gue dengan jaminan gue gak akan bersikap diluar kebiasaan gue lagi. Cukup di masa SMA aja gue ikut balapan liar sampe yang emang gak ada manfaat sama sekali..." Dimas menghela nafas lagi sebelum melanjutkan ucapannya. "lagian.. gue udah dewasa bukan SMA lagi yang emang lagi masa pubertas dimana tingkah masih urakan dan bebal ketika dinasehati. Gue sadar perbuatan gue udah bikin semua nya rugi. Dan salah satunya lo, Ren! gara-gara gue, motor yang baru lo beli pake hasil kerja keras lo malah rusak sama gue. Makanya pas tadi gue hampir aja mau nabrak lo, seakan bayangan itu muncul lagi di hadapan gue." jelasnya panjang lebar sambil menundukkan kepalanya penuh rasa bersalah. Suasana menjadi hening. Seakan tak mau suasana canggung mengambil alih, Rendy memberanikan diri mengeluarkan suaranya.
"Jadi itu salah satu alasan lo juga buat gak ngehubungin gue setelah insiden itu?" tanyanya meyakinkan. Dimas menganggukkan kepalanya.
Rasa bersalah memang masih terpancar di matanya. Ia memberanikan diri untuk menjawab. "Ya...itu salah satunya." jawabnya lemah, sambil berusaha menatap bola mata Rendy.
Cukup lama bagi mereka mencairkan sedikit suasana. Tak jarang keduanya mengaduk-aduk gelas coffee masing-masing yang ada di depannya sambil mulai bercengkrama selama mereka tak bertemu 3 tahun lamanya. Saking asyiknya mereka mengobrol waktu telah berubah menjadi petang. Matahari mulai membenamkan dirinya ke arah barat tanda senja mulai datang.
●●●
"Jadi.. Kalian berdua tau kan kenapa saya panggil ke ruangan saya?"
Pak Anthony memulai pembicaraannya pada Dimas dan Bryant yang sudah ia tugaskan untuk datang ke ruangannya saat jam makan siang. Dimas memang sudah mendengar kabar bahwa akan ada 6 mahasiswa yang mengikuti pertukaran pelajar selama 3 bulan ke universitas lain untuk mengumpulkan materi penunjang skripsi diakhir semester masa perkuliahan. Tapi ia tidak mengetahui bahwa diantara 6 siswa yang terpilih dirinya lah yang termasuk ke dalam pertukaran mahasiswa itu. Dimas dan Bryant menjadi mahasiswa pertama yang di tunjuk oleh dekan mewakili mahasiswa lainnya.
"Kami sudah tau pak.." jawab Dimas yang dibarengi anggukan oleh Bryant.
"Karena kalian sudah tau, sepertinya saya tidak perlu menjelaskan lagi secara detilnya, karena masa pertukaran pelajar ini sama seperti kalian belajar biasanya. Hanya saja selama sistem belajar mengajar disana kalian harus mematuhi seluruh peraturan yang ada di universitas tersebut. Apa sampai sini kalian mengerti?" Pak Anthony menjelaskan semuanya dengan terperinci.
"Mengerti pak.." jawab Dimas tegas, lalu kemudian menyambung kembali. "Kalau kami boleh tau, kapan kami memulai pertukaran pelajar ini pak?"
"Mulai besok. Kalian akan memulainya besok. Apa kalian siap?" pak Anthony sedikit mempertegas pertanyaan.
"Kami siap pak.." jawab Dimas dan Bryant berbarengan.
Setelah semua penjelasan diberikan oleh pak Anthony, mereka keluar dari ruangan dekan sambil sesekali berjalan mengobrol menuju kelas mereka. Setelah 3 tahun lalu insiden balap liar terjadi, Dimas sudah banyak berubah. Dirinya semakin dewasa, semakin bertanggung jawab atas setiap pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya. Itu memang ia janjikan pada orang tuanya terutama bagi dirinya sendiri.
Dan lagi, setelah kemarin ia bertemu dengan Rendy, perasaannya sedikit lebih lega setelah menjelaskan semuanya kejadian 3 tahun lalu. Rasa beban yang menumpuk dan menyesakkan dada sudah terlepas. Sekarang ia bisa melakukan tugas yang di berikan oleh dekan dengan beban masalah yang sudah hilang di pundaknya.
●●●
"Cepetan Rin.. gue ngejar kak Rendy sebelum dia masuk ke kelas nya lagi." sambil lari lari kecil ia berkata pada sahabatnya.
"Emang dia ada dimana sih? ini bukannya ke arah perpus, Mei?" tanyanya penasaran.
"Iya, gue udah kirim pesan katanya sih dia di perpus." sambil menyeimbangkan kakinya, Meila berusaha memelankan langkahnya pada Airin.
Tak perlu menunggu lama lagi ia langsung memasuki ruangan dengan tergesa. Seakan lupa kalau perpustakaan adalah ruangan sunyi nan sepi dimana dibutuhkan konsentrasi bagi para pembaca untuk mencerna maupun menghidupkan imajinasinya.
"Kakak.. Aku udah ba.......wa tugasnya." Hampir saja suaranya menggelegak ke seluruh isi ruangan kalau saja Airin tak membekap mulutnya dan membuat seluruh orang yang ada di ruangan mengarahkan pandangan padanya. Sang penjaga perpustakaan pun memberikan peringatan padanya dengan memberi isyarat pada ujung jari telunjuknya ke arah 2 gadis itu.
Rendy terlihat menghampiri. Tak lupa untuk mengambil alih suasana bising yang telah dibuat oleh para gadis.
"Sorry semuanya.. kalian bisa lanjutin lagi membacanya. Biar gue yang urus selebihnya." perintahnya. Meila yang diberi tatapan peringatan oleh Rendy hanya memasang wajah canggung.
Kemudian setelahnya Rendy mengajak Meila dan Airin untuk mengikutinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mereka duduk di atas bangku panjang perpustakaan tempat Rendy mencari referensi buku untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya.
"Hhehehe..." dengan ekspresi nyengir kuda, Meila sedikit menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. "Aku lupa kak kalo ini perpus. Aku refleks tadi." sesalnya.
"Jangan diulangin lagi lain kali. Oke?!" ucapnya memberi pengertian. Meila hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Setelahnya mereka bertiga mengerjakan tugas senat dibantu dengan Airin yang mulai kebingungan dengan banyaknya point-point di tiap baris persyaratan.
"Gue bingung ngeliatinnya, sumpah! Gue heran kalian kok bisa sih jadi anggota senat dengan tugas seribet dan se-kompleks ini?"
Meila tersenyum miring dan Rendy tampak menyunggingkan ujung bibirnya. "Makanya otak jangan dibiasain bebal, biar bisa mencerna tugas-tugas kayak gini contohnya."
Airin memutar bola matanya malas mendengar jawaban pedas dari Rendy. Jawabannya langsung disela oleh Meila.
"Makanya, rin belajar. liatin gue cara nyelesaiinnya gimana. Dan kamu juga kak, jangan kebiasaan ngeluarin kata-kata pedas kayak tadi. Kalo ada orang yang nggak ngerti, ya di ajarin dong jangan diledek apalagi diejek." jelasnya panjang lebar seperti seorang ibu yang sedang menasihati anaknya.
"Tuh bener kak! dengerin tuh Meila. Lo sih bikin orang drop duluan sama omongan lo." sambung Airin yang dibalas senyuman miring oleh Rendy. Meila hanya tersenyum tanda setuju.
Seketika Meila mengingat ucapan Dosen sebelum keluar kelas tadi. Akan ada pertukaran pelajar besok. Pertukaran pelajar itu berlaku pada mahasiswa atau mahasiswi yang sedang atau sudah berada di semester 5 dan 6 masa perkuliahan.
"Kak.. emang bener mulai besok akan ada pertukaran pelajar di kampus kita?" Meila bertanya pada Rendy yang langsung di iyakan olehnya.
"Iya, bener.."
"Hmmm.. di kampus kita siapa kak yang akan di tuker? Kak Rendy kok gak ikut pertukaran pelajar?" pertanyaan Meila membuat Rendy menolehkan kepalanya cepat seolah terkejut. Ada kata yang janggal didengar olehnya dari pertanyaan cewek manis nan polos dihadapannya.
"Udah ada 6 siswa lain yang akan ikut pertukaran pelajar di kampus kita. Dan kakak gak termasuk didalamnya. Kakak udah ikut pertukaran pelajar itu tahun lalu. Dan siswa yang udah pernah berpartisipasi nggak akan di cantumkan lagi namanya. Dan satu lagi, bukan di tuker, dek... karena mereka bukan barang, ngerti?" jawaban panjang Rendy membuat Meila membelalakkan matanya, Airin yang memperhatikan itu seketika tawanya seakan ingin meledak tapi tertahan di tangannya. Ia pun menutup mulutnya sendiri.
Kalau saja ia sedang tak berada di perpustakaan melainkan di taman atau kantin, mungkin tawanya sudah pecah saat itu juga. Airin selalu heran pada jalan pikiran sahabatnya ini. Meila memang cantik, cerdas, disukai banyak pria pula.
*T*api kenapa terkadang sikap polosnya malah membuat ke-lolaannya semakin keliatan?
Mungkin karena sikap polosnya itu yang membuat Meila terlihat natural. tanpa polesan apapun hanya sedikit polesan bedak tipis dan liptint warna nude-pink senada dengan warna bibirnya.