A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kalah Cepat



Hari hampir beranjak malam, tampak Meila sedang membaca dari salah satu Novel pilihannya yang baru ia beli tadi. Dia sudah mandi, ia berniat akan menunggu Dimas terlebih dulu dan mengajaknya makan malam bersama. Beruntung Dimas membawa kunci cadangan, jadi ia tidak perlu repot-repot untuk berlari-lari jika tiba-tiba saja Dimas pulang. Kalaupun Dimas sudah sampai, akan terdengar suara pintu terbuka yang di dahului dengan gerakan memutar kunci.


Sambil dengan posisi tengkurap, Meila membaca setiap lembar demi lembar dengan wajah sumringah. Hal itu terpancar dari caranya membaca dan mendalami isi cerita. Di tengah aktivitas menyenangkannya, tiba-tiba terdengar ada seseorang datang dari ruang bawah. Dengan cepat, Meila langsung beranjak dari posisinya serta menutup bacaannya sebelum kemudian memberikan tanda jeda di bagian halaman yang telah ia baca.


Meila berlari-lari hingga menuruni anak tangga, tanpa melihat siapa yang datang terlebih dulu sambil melontarkan pertanyaan yang membuat kalimatnya terhenti ditambah rasa terkejut yang nyata.


"Kakak, kamu udah pul.......lang?"


Matanya membelalak sekaligus degub jantungnya yang saling berkejaran. Meila hampir saja terhuyung jatuh jika tangannya tidak berpegangan pada sisi tangga yang kokoh. Betapa terkejutnya gadis itu ketika orang yang sedang ia hindari dengan tiba-tiba muncul dan merangsek masuk dengan santai layaknya tuan rumah.


●●●


"Beno?" gumam Meila dalam hati dengan jantung bergemuruh.


"Wow..Wow..Wow! Baru aja gue bakal kasih kejutan dateng ke kamar lo! Rupanya lo udah turun sendiri nyamperin gue!" Mata Beno menyapu keseluruhan isi ruangan, hingga ujung bibirnya terangkat, "Mewah juga rumah pacar lo, ya? Tapi sayang, sangat mudah buat gue memasukinya." Perkataan sekaligus tawa licik itu menggema ke seluruh penjuru ruangan, membuat Meila memundurkan langkahnya ke belakang hingga menyentuh ujung meja yang ada di bawah tangga.


"Oh, ya! lo bilang apa tadi? Kakak?" ujung bibirnya terangkat penuh ironi, "Rupanya mulut manis lo itu udah mulai terbiasa memanggil nama pria itu, ya?" Sergah Beno, mulutnya tak henti-hentinya mengejek dengan bola mata memutar disertai tatapan mata melecehkan, dan dengan lancang tangannya hampir menggapai tubuh Meila.


"Berenti! Jangan mendekat! Tetep disitu." Meila berteriak. Dengan napas terengah menahan gemetar, Meila masih berusaha memundurkan tubuhnya meski sudah tidak ada ruang lagi walau satu jengkal saja.


Gimana bisa dia masuk ke rumah ini dan melewati sistem keamanan di luar sana?


Tanpa membantah, Beno pun mendengarkan instruksi Meila namun tanpa meninggalkan senyuman licik di wajahnya.


"Lo pasti lagi berpikir gimana caranya gue bisa masuk dan menembus sistem keamanan, kan?"


Pertanyaan Beno seperti sebuah jawaban dari rasa ingin tahu Meila, dengan wajah pucat dan alis mengkerut serta tubuh gemetar ditambah dengan telapak tangan yang berkeringat dan terkepal kuat, Meila berusaha untuk tidak bertindak aneh yang akan membuat Beno semakin buas layaknya predator padanya. Gadis itu berusaha tenang meski rasa takut mulai menjalari sekujur tubuhnya.


Melihat Meila yang terdiam dan tak berniat menjawab namun sangat menginginkan jawaban, Beno mengungkapkan dengan sendirinya dengan santai dan tangan bersedekap.


"Gue udah menyabotase semua sistem pengamanan yang akan menghalangi langkah gue," tubuhnya ia majukan sedikit sehingga hampir menjangkau Meila. "Dan.... sekaligus tim keamanan juga udah gue sabotase, perlu tau!" Beno terkekeh, kekehannya itu berhasil mengirimkan senyar aneh hingga membuat Meila bergidik ngeri dan secara refleks memeluk tubuhnya sendiri.


"Kamu gila, Beno!" Teriak Meila dengan tidak melepaskan tangannya dari memeluk tubuhnya sendiri.


Beno menyeringai, menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Meila dengan tatapan misterius seperti sedang membayangkan sesuatu. Sebelah tangannya ia sembunyikan ke belakang tubuhnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang jika waktunya pas, akan ia keluarkan dengan perencanaan yang tepat pula.


Rupanya mata Meila yang tajam tidak luput dari pengawasan dan gerak gerik Beno yang sedikit mencurigakan dengan menyembunyikan tangannya ke belakang. Seringaiannya semakin menajam dengan dibarengi langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat.


Alarm tanda bahaya rupanya telah berbunyi, dengan kondisi sudah mendesak ke dinding, Meila tetap mengeluarkan keingintahuannya tentang apa yang mengganjal di matanya hingga memaksa otaknya untuk memberontak.


"Ap-apa yang kamu sembunyiin, Beno? Ja-jangan... jangan macem-macem atau aku akan teriak." Sergah Meila menakuti, ia telah sekuat tenaga menguras keberaniannya sampai yang tertinggi.


Beno tidak menghiraukan ancaman Meila yang terdengar seperti gertakan baginya. Dia terus melangkah hingga sedikit lagi hampir benar-benar menggapai Meila yang sudah sangat terdesak ke dinding.


"Sebelum lo teriak, gue udah lebih dulu membungkam mulut lo dengan ini...." dengan cepat dan tanpa Meila bisa melakukan perlawanan, Beno menyuntikkan sesuatu ke leher Meila hingga membuat gadis itu tersentak untuk memberontak beberapa detik, lalu melemas dengan pasrah tak sadarkan diri tanpa terkendali.


●●●


Tubuhnya terikat pada sebuah kursi, ruangan yang tampak gelap dan terasa pengap minim udara telah membangunkan Meila dari tidur singkatnya. Mulut dari bibir mungil itu disumpal dengan lakban perekat berwarna hitam hingga tidak memungkinkan baginya untuk berteriak meminta pertolongan. Jangankan berteriak, sedikit mengangkat suaranya saja rasanya mustahil untuk mengeluarkan pita suaranya yang terasa kering dan sakit.


Dengan rambut acak-acakan dan sisa-sisa bulir air mata yang mulai mengering, disertai rasa pusing yang memberatkan kepala akibat obat bius yang telah disuntikkan, barulah Meila teringat kalau dirinya saat ini sedang disekap oleh Beno, dibawah kekuasaan psychopath itu. Dadanya bergemuruh ketika dia mulai merunut penyebab dirinya bisa berada diruangan asing seperti saat ini.


Beno telah menculiknya! Pria gila itu berhasil membawanya pergi dengan menyuntikkan obat bius padanya.


Tubuhnya terasa lemah, rasanya semua tenaganya sudah terkuras habis. Meila mencoba meronta, menggerakkan kaki beserta tangannya yang terikat, namun hal itu nihil, justru malah semakin membuat dirinya lemas.


Kak Dimas, tolong aku. Temukan aku, kak! Aku takut disini. Siapapun tolong...


Meila menangis dalam diam, dadanya terasa sesak. Mungkinkah perkataan Beno akan menjadi kenyataan bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan menolongnya? Bahwa aku harus bertekuk lutut dan menyerah pasrah dibawah kakinya? Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, ia hanya bisa pasrah dan menunggu adanya keajaiban datang menolongnya.


●●●


Dimas baru saja memarkirkan mobilnya, dengan wajah penuh sumringah sambil keluar dari kursi kemudinya lalu cepat-cepat ingin bertemu gadis mungilnya. Dia telah membawakan strawberry cheese cake kesukaan Meila, ketika dalam perjalanan pulang, dia melewati toko kue langganannya dan menyempatkan diri untuk mampir dan membeli makanan lembut dan manis itu untuk Meila.


Namun, saat langkahnya hampir dekat dan baru akan mengambil kunci untuk membuka pintu utama, rasa gelisah dengan mata menyipit kemudian berubah membelalak sambil berlari mempercepat langkahnya. Didorongnya pintu itu dengan dorongan kasar, lalu ia berlari merangsek masuk.


"Mei.... kamu dimana?" Sambil berlari-lari, Dimas menyusuri seluruh isi ruangan dengan memastikannya ke kamar Meila terlebih dahulu. "Mei....?" Jantungnya berdegup kencang seiring dengan pikiran-pikiran aneh mulai menggayutinya.


"Mei...!" Dimas terus memanggil nama Meila sambil berlari.


Pencariannya berlanjut ke taman tempat dimana terdapat gazebo, karena Dimas berpikir mungkin gadis itu sedang membaca buku-buku yang baru dibelinya tadi disana dibawah kerlap-kerlip bintang. Namun hasilnya tidak sesuai dugaannya, gadis itu tidak ada. Lalu dia berlari ke kebun belakang, dan hasilnya juga tetap sama. Hampir seluruh ruangan sudah ia susuri, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Meila.


Dimas menuruni anak tangga sambil berlari lalu berhenti di ruang utama. Sambil bertolak pinggang, Dimas mengusap wajahnya dengan putus asa, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mencari kontak Meila untuk menghubunginya. Dimas menghubungi ponsel Meila, namun suara dering telepon itu justru terdengar di kamar Meila, membuat Dimas menolehkan kepala serta mendongak ke arah lantai dua kamar gadis itu.


Gadis itu tidak membawa ponselnya?


"Ah. Shit!" Teriak Dimas putus asa.


Dadanya semakin bergemuruh, tangannya terangkat untuk menjambak rambutnya sendiri. Dimas mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mengembuskan napasnya seperti sedang menahan amarah besar. Dimas menundukkan kepala, menatap ke arah meja sofa ruang utama, matanya tanpa sengaja menemukan selembar kertas seperti sebuah pesan yang memang ditujukan untuknya.


Dimas mengambil kertas itu dengan kasar, dengan cepat membukanya sambil menahan napas dengan jantung yang semakin berdegup kencang dan langsung membaca isi surat itu.


"Ketika lo baca surat ini, mungkin kekasih lo udah dipelukan gue sekarang. Ya. Benar! Gue yang udah membawa kekasih lo. Lo gak perlu khawatir dengan keadaannya, gue yang lebih paham bagaimana cara memperlakukannya. Jangan merepotkan diri lo buat mencari tahu tentang keberadaannya saat ini, karena itu adalah hal yang mustahil dan gak akan terjadi."


"Brengsek!" Dimas berteriak dengan menggeram sambil meremas kertas itu lalu melemparnya ke lantai. Dia hanya kalah cepat dari Beno. Otaknya mulai dipenuhi dengan pikiran-pikiran menakutkan seperti yang bisa dilakukan seorang psikopat pada umumnya.


"Kamu dimana, Sayang?" Ucap Dimas lirih, dadanya terasa sesak hingga refleks membuat tangannya terangkat untuk memegang dadanya yang terasa sakit.


"Gue harus segara menemukan Meila! Apapun caranya!" Dimas mengucapkan tekadnya penuh janji, tangannya terkepal, dan matanya membelalak tajam, "Rendy! Ya. Rendy." Dia berlari untuk mengambil kunci mobilnya kembali di atas lemari hiasan, lalu beranjak pergi dan langsung menancapkan gas mobilnya dan melajukannya dengan cepat.


●●●


"Apa?"


Gema teriakan itu begitu mengudara ke seluruh penjuru ruangan. Keterkejutan Rendy dengan pengakuan Dimas membuat dirinya dibalut kemarahan luar biasa. Ya! Dimas datang menemui Rendy malam itu juga untuk memberitahu padanya bahwa adik kesayangannya telah diculik oleh Beno.


"Padahal semua sistem pengamananan termasuk cctv dan tim keamanan rumah gue udah gue pastiin aman dan jauh dari penyusup. Tapi sayangnya itu masih belum cukup, Ren. Pria gila itu udah menyabotase semuanya, termasuk tim keamanan yang udah gue siapin buat jaga Meila juga disabotase sama dia dengan obat bius." Dimas memberi penjelasan.


Rendy terlihat berpikir keras, terlihat dari kerutan di dahinya. "Gak ada jejak yang menunjukkan tanda-tanda kemana Beno membawa Meila?"


Dimas menggeleng lemah, "gak ada. Cuma selembar kertas itu aja yang dia tinggalin."


"Gue mikirin keadaan dia saat ini, Ren. Gue takut serangan paniknya kembali menyerangnya lagi." Ucap Dimas putus asa.


Rendy memandang Dimas, mengamati kecemasan dalam jiwanya. "Satu-satunya cara yang bisa kita lakuin saat ini adalah, mencari tau siapa seseorang yang berkomplot sama Beno. Karena dari orang itulah kita bisa menggali informasi tentang keberadaan dan dimana Beno udah menyekap Meila."


"Tapi gimana caranya, Ren? Gue gak bisa nunggu gitu aja tanpa bertindak?" Sela Dimas mengutarakan ketidaksetujuannya.


"Gue tau ini sedikit sulit. Tapi... cuma itu satu-satunya cara buat kita tau dimana keberadaan Meila."


Tidak ada kalimat lagi yang keluar dari bibir Dimas, dia hanya menunduk lemah dengan keputus asaan yang nyata yang terpancar dari raut wajahnya.


●●●


Suara langkah kaki berhasil membangunkan Meila dari tidur-tidur ayamnya. Dengan mata yang lengket dan tubuh lemas, dada Meila bergemuruh dengan kewaspadaan yang membentengi dirinya saat ini.


Pintu ruangan itu terbuka, hingga muncul sosok bayangan gelap dari pria berpakaian serba hitam berjalan menghampirinya. Itu adalah Beno, pria yang saat ini sedang menyekapnya dan jauh dari jangkauan orang-orang.


"Wow. Sepertinya tuan putri udah bangun dari tidurnya." Beno berhenti didepan Meila. Bertekuk lutut seperti bersimpuh di depan Meila yang saat ini sedang ketakutan kepadanya.


Meila hanya mengeluarkan suara dari mulutnya yang terhalang oleh perekat yang menutupinya. Beno rupanya mengamati Meila dengan lekat, jarinya menyusuri kulit wajah Meila dengan gerakan menggoda. Meila mencoba menghindar, namun Beno justru semakin tertantang dengan memperlambat gerakannya yang berubah menjadi gerakan sensual mengerikan.


"Lo tau, udah lama gue memimpikan saat-saat seperti ini buat bisa menyentuh lo dengan leluasa, tanpa takut ada orang yang datang mengganggu." Beno memainkan rambut Meila dengan memutar-mutarkan ke jarinya. "Lo mau kan bermalam dengan gue tanpa ada orang lain didalamnya?"


Pertanyaan Beno itu sontak membuat Meila membelalakkan matanya penuh antisipasi, dia menggelengkan kepala dengan wajah memohon dan mata yang berkaca-kaca agar Beno mau mengurungkan niatnya itu.


Beno terkekeh, "Lo semakin cantik kalo lagi nangis. Justru malah...." wajahnya mendekat berbisik ke telinganya. "....semakin sexy. Dan gue semakin nggak sabar buat mencicipinya." Beno berucap dengan nada sensual yang kental hingga berhasil membuat Meila bergidik ngeri dengan senyar panas menggayutinya.


Air matanya semakin deras, dia berusaha berteriak namun usahanya percuma karena suaranya tenggelam dibalik perekat yang menutupi mulutnya. Tangan Beno semakin buas dengan mulai turun ke bahu, lalu berusaha hampir menggapai ke titik-titik sensitif tubuh Meila yang setengah mati ia jaga dari jamahan pria hidung belang seperti Beno. Namun keberuntungan masih saja berpihak pada Meila kali ini, sebelum kemudian bunyi dering ponsel panggilan masuk menggema dibalik saku sweater Beno hingga berhasil menghentikan aksi Beno dengan terpaksa.


"Ya. Gue didalem. Lo masuk aja!"


Jawaban Beno itu jelas seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Meila memperhatikan Beno dengan mengawasi gerak geriknya dari mulai menjawab telepon sampai kemudian menutup panggilan. Hal itu rupanya tidak luput dari pengawasan Beno yang tajam.


"Lo pasti penasaran kan siapa yang akan datang?" Tangannya memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, "lo akan tau sebentar lagi," matanya mengirimkan tanda kelicikan yang nyata, "dan pastinya akan membuat lo sangat terkejut." Kekehannya membuat Meila merinding ditambah dengan teka-teki dari perkataannya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu seperti suara ketukan high heels, dan sudah pasti itu adalah wanita. Sosok itu muncul diambang pintu, berdiri beberapa detik sebelum kemudian melangkah maju dengan langkah santai.


Meila mengamati langkah wanita itu, dengan menyipitkan mata dan perasaan harap-harap cemas tentang sosok wanita yang sedikit lagi hampir mendekat ke arahnya. Dan benar saja, betapa terkejutnya Meila dengan sosok dihadapannya saat ini, wanita tinggi semampai dengan penampilan modis sedikit glamor, dengan riasan make-up tebal diwajahnya, wanita yang sangat familiar dengannya.


Sisil...