
"Jadi... kabar itu benar?"
Pak Andre, selaku Kepala dekan tampak memberikan pertanyaan bernada intimidasi.
Pagi ini, Meila dan Rendy, selaku ketua senat sekaligus yang bertanggung jawab penuh atas segala kegiatan materiil maupun non-materiil dipanggil oleh kepala dekan.
Didepan meja kebesaran sang kepala, tampak Meila dan Rendy tertunduk lemas dengan wajah penuh rasa bersalah. Mereka tak sanggup berbalik menatap mata sang kepala dekan. Mereka hanya menundukkan kepala lemah tanpa membantah, hanya suara ketukan pena yang sedang dimainkan oleh pak Andre untuk menemani kesunyian di dalam ruangan tersebut.
"Kenapa kalian tidak memberitahukan masalah ini pada saya?" Sekali lagi, suaranya seperti menusuk ke telinga bagi siapa saja yang mendengar.
Beruntung ruangan itu bersifat private, jika tidak, dipastikan semua dosen dan anggota lain dengan posisi masing-masing akan mendengar betapa kuatnya suara orang yang ditakuti dikampus itu.
"Karena kami pikir... kami akan bisa menanganinya tanpa... bapak harus tau, pak." Rendy mengambil inisiatif untuk menjawab sambil masih tertunduk dalam. Meila yang berada disamping Rendy tak berani mengeluarkan suara jika tak ditanya, dia berusaha mengalihkan rasa gugupnya dengan menjalinkan kedua tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Tapi faktanya, kalian masih belum berbuat apa-apa untuk menyelesaikan masalah ini."
Pernyataan itu mengaung diudara, suasana menjadi hening. Begitupun dengan Rendy yang tak mampu menjawab apapun karena memang kenyataannya, belum ada tindakan yang menunjukkan mereka akan berbuat sesuatu.
Suasana sempat hening sesaat, seolah mereka saling menunggu siapa yang akan bersuara selanjutnya. Pak Andre tampak menarik nafas sebelum mengeluarkan pertanyaan, "Siapa... orang terakhir yang menggunakan laptop itu?" Pak Andre memandang Meila dan Rendy bergantian, menyipitkan mata seolah tak sabar menunggu jawaban.
"S-saya pak..." suara Meila memelan, terdengar gemetar ketika bersuara. Meski sekuat tenaga dia berusaha untuk bersikap tenang, namun suara serak karena rasa gugup yang melanda begitu kuat menderanya.
"Coba ceritakan pada saya bagaimana file-file itu bisa hilang?" Pertanyaan pak Andre seolah sedang mengintimidasi seorang pencuri, dan secara tak langsung menuduhnya kalau Meila lah pelakunya.
Meila tercenung, begitupun dengan Rendy yang langsung mengangkat kepalanya menatap pak Andre, "P-pak, tapi... bukan Meila pelakunya. Y-ya... memang dia orang terakhir yang menggunakan laptop itu, tapi itu memang jadwal tugas dia melakukan pengecekan rutin harian. Enggak mungkin Meila ngelakuin itu, pak.." Rendy berusaha menjelaskan pada pak Andre untuk meyakinkannya.
"Saya tidak menuduh Meila, Rendy.. Saya hanya minta penjelasan."
"Tapi pak...." Rendy berusaha membantah
"Kak Rendy!" dengan cepat Meila menyela ucapan Rendy sambil memegang punggung tangan Rendy untuk mengalihkan perhatiannya.
Meila tampak mengatur nafas sebelum memgeluarkan penjelasannya, "Siang itu, tepatnya hari Sabtu, setelah jam mata kuliah berakhir, saya langsung menuju ke ruang senat untuk melakukan tugas pengecekan rutin harian seperti biasanya. Hari itu memang jadwal saya, ketika saya membuka file dengan dokumen yang telah tersimpan dengan rahasia, semuanya masih tersimpan rapi, pak. Tidak ada yang berkurang ataupun hilang. Saya juga yakin, saya tidak melakukan hal ceroboh atau menekan tombol apapun tanpa sengaja yang akan menyebabkan data-data itu hilang, pak. Semuanya... aman dan normal, tidak ada yang mencurigakan. Kemudian... setelah saya pastikan semua data tak ada yang kurang dan masih tersusun rapi, saya mengakhiri tugas saya, setelahnya saya letakkan kembali laptop ke tempat semula, pak. Seperti biasa juga, saya selalu mengunci pintu ketika masuk kedalam dan keluar ruangan itu." Meila menjelaskan panjang lebar sambil masih menjalinkan tangannya yang sudah basah karena berkeringat. Dia sangat gugup, ini kali pertamanya mendapatkan masalah seperti ini. Rendy hanya mendengarkan, berusaha tak mengeluarkan pendapatnya yang malah akan membuat Meila semakin tertuduh.
Pak Andre membenarkan posisi duduknya dari bersandar pada punggung kursi menjadi memajukan tubuhnya seolah masih ada pertanyaan yang ingin dikeluarkan, "...kamu yakin tidak ada orang lain selain kamu di ruangan itu?" Pak Andre mengangkat sebelah alisnya dan menatap keduanya bergantian berusaha membuat Meila dan Rendy fokus padanya. "Atau... apa kamu merasa diikuti?"
Pertanyaan terakhir pak Andre membuat keduanya saling bertukar pandangan tak percaya. Kalimat itu tak pernah mereka pikirkan sebelumnya, mungkin saja memang benar ada yang mengikuti Meila secara diam-diam, bukan? Tapi Meila sangat yakin tak ada yang mengikutinya saat itu. Bahkan jika memang ada, ketika orang itu membuka pintu akan terdengar suara knop pintu yang terbuka maupun tertutup, jadi dia yakin tak ada yang mengikutinya. Namun jika orang itu penyusup, bukan berarti tidak mungkin, bukan?
"Saya yakin, pak. Saat itu saya hanya seorang diri, dan tak ada orang lain selain saya." Meila berucap yakin.
"Tiga hari! selesaikan dalam tiga hari." Pak Andre mengambil kesimpulan dengan memberikan untimatum sebagai perintah yang tak bisa dibantah, "jika dalam tiga hari kedepan kalian tidak bisa menyelesaikan, kalian tau konsekuensinya. Khsususnya... kamu, Meila." Mengakhiri kalimatnya dengan nada perintah yang kental diselipi nada peringatan.
Meila dan Rendy menganggukkan kepala kuat-kuat. Berusaha mengerti maksud dari perkataan pak Andre.
"Kalau begitu... kita izin keluar, pak. Kita akan diskusikan ini pada teman kita yang lainnya." Ucap Rendy memutus astmoster tegang didalam ruangan. Pak Rendy menganggukkan kepala mempersilahkan keduanya kembali ke kegiatan masing-masing.
Mereka beranjak dari tempat duduk, berbalik arah menuju pintu keluar. Ketika tangan Rendy sudah menyentuh knop pintu dan akan membukanya, tiba-tiba suara berat nan menegangkan kembali terdengar ke udara. Secara refleks, mereka membalikkan tubuh kembali memasang wajah penuh antisipasi.
"Ingat, tiga hari!"
●●●
"Udah, Mei.. nggak usah dipikirin ucapan pak Andre tadi."
Ucap Rendy memberikan semangat pada Meila sambil menepuk bahunya pelan. Mereka baru saja keluar dari ruangan pak Andre. Meila berjalan lemas seperti ada beban berat tak kasat mata dipundaknya.
"Entahlah, kak..." sedikit menarik nafas dalam dengan memberengutkan bibir.
Rendy tampak memutar bola matanya, tampak berpikir akan melakukan apa lagi agar Meila tak selalu menyalahkan dirinya. Tiba-tiba sepintas pemikiran muncul, senyum lebar langsung terbentuk dibibirnya, "gimana kalo kita... ke kantin?" Rendy menoleh sejenak menunggu reaksi Meila, "...minum hot cokelat, gimana?" Sampai tak ada reaksi apapun dari ekspresi Meila, Rendy menahan nafas frustasi. Tapi dia mengerti dan tak ambil hati akan sikap Meila padanya, karena jika dia ada diposisi Meila sekarang, orang yang bersifat dipojokkan meski bukan pelaku sebenarnya, dia juga akan bersikap acuh karena memikirkan beban berat dipunggungnya. Terlebih lagi, ucapan pak Andre tadi yang bernada ultimatum seakan masih mengaung-ngaung ditelinga.
"Mei...?" Rendy memanggil nama Meila untuk memastikan.
"N-nggak deh kayaknya, kak... makasih buat tawarannya. Tapi aku lagi gak selera. Aku mau ke perpustakaan aja, yaa.." Mohon Meila dengan lembut yang detik itu juga mampu melembutkan hati Rendy, membuat Rendy tak mampu untuk berbuat apapun lagi.
"Perlu aku temenin...?" Tanya Rendy memastikan
"Nggak usah, kak... makasih. Aku gak apa-apa kok." Meila mengucapkan kata-kata itu dengan berusaha menampilkan senyumnya.
"Okay," Rendy mengangguk paham.
Setelah mendapat persetujuan dari Rendy, Meila berputar arah menuju perpustakaan. Langkahnya terlihat lesu, seperti orang yang sedang menanggung beban berat sendirian, padahal dengan senang hati siapapun akan membantunya. Siapa yang tak mau memberikan bantuan padanya? Mungkin karena sikapnya yang polos yang membuat pemikirannya buntu jika terkena masalah. Oh jelas, Meila belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, jika hanya kesalahan-kesalahan kecil dalam pengerjaan tugas, itu sudah terlalu sering, dan dia tak memusingkan hal kecil itu. Tanpa hitungan jam, dengan teliti dia sudah membereskan semuanya pada hal terkecil sekalipun.
●●●
Dimas memasuki ruang senat dengan dahi berkerut ketika melihat pemandangan tak mengenakkan dengan posisi belakang kepala Rendy yang sedang tertumpu pada punggung kursi. Matanya terpejam, namun dahinya sedikit berkerut seperti sedang berpikir keras untuk memecahkan suatu masalah.
Dihampirinya dengan perlahan, hingga dia sampai disamping Rendy dan berinisiatif menarik kursi disebelahnya sebelum dia menepuk punggung Rendy pelan tak berniat mengejutkan.
"Kenapa, Ren? Ada masalah?" Tepukannya berhasil membuat Rendy membuka mata. Tatapannya sedikit berkabut, namun dia tetap mengumpulkan tenaganya untuk membenarkan posisi duduknya.
"Pak Andre..!" jawab Rendy lemas, membuat Dimas mengerutkan keningnya penasaran.
"Kenapa sama pak Andre?" Tanya Dimas ingin tahu.
"Pagi ini, gue sama Meila dipanggil ke ruangannya. Beliau membahas masalah kebocoran data itu dan....."
"Tau dari mana pak Andre? Lo bilang... masalah ini harus dirahasiain dulu sebelum kita menemukan jalan keluarnya, kan?" Sela Dimas di tengah-tengah penjelasan Rendy. Mulutnya terasa gatal tak sabar memotong penjelasan Rendy ketika nama Meila disebut olehnya.
"Gue juga gak tau beliau tau dari mana. Yang jelas... kita diberi waktu tiga hari buat menyelesaikan masalah ini. Dan...." Rendy menghentikan ucapannya sejenak, menelan ludah sesaat sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali. Begitupun dengan Dimas yang seolah menunggu kelanjutan ucapan Rendy yang menggantung.
"Dan... beliau memberikan serentetan pertanyaan intimidasi ke Meila. Ya... karena dia orang terakhir yang menggunakan laptop itu. Gue tau, pak Andre gak ada maksud menuduh, tapi ngeliat muka Meila yang langsung tertunduk lemah dengan tangan gemetaran berkeringat dingin, gue gak bisa berbuat apa-apa, Dim." Sesal Rendy mengutarakan isi hatinya pada Dimas.
Dimas membelalak. Dia ingin menghampiri pak Andre dan datang ke ruangannya, membicarakan masalah ini secara dewasa. Namun dia urungkan niatnya mengingat dirinya hanyalah tamu di universitas itu, jika sedikit saja dia salah bertindak, bisa-bisa dia dikeluarkan dari anggota pertukaran siswa dan di cap sebagai mahasiswa yang tidak kompeten.
Dia harus berpikir jernih sebelum melakukan sesuatu, tapi entah kenapa jika menyangkut Meila, pikirannya jadi buntu, dan perasaan lah yang menang dibandingkan dengan logika.
"Gue berusaha menghiburnya. Tapi tetep hal itu nggak berpengaruh. Jujur aja, masalah kayak gini baru kita alami setelah beberapa periode gue menjabat sebagai ketua senat, Dim." Pungkas Rendy lemah.
"Terus... dimana Dia sekarang?" Tanya Dimas ingin tahu.
Dimas tak menyebut nama Meila dalam kalimatnya. Namun, tanpa diperjelas lagi, Rendy dapat menangkap kata 'dia' yang dimaksudkan oleh Dimas.
"Perpus..!" Jawab Rendy singkat tapi jelas.
Di detik itu juga, Dimas langsung beringsut dari kursi tempatnya duduk. Hal itu membuat Rendy langsung mendongakkan kepala dengan wajah penuh tanya pada Dimas yang mulai melangkah menjauhinya. Alisnya sedikit mengernyit dengan tingkah aneh Dimas, Rendy menaikkan sebelah alisnya sejenak sebelum akhirnya ia menyuarakan pertanyaan.
"Lo mau kemana, Dim?"
Kalimat pertanyaan Rendy rupanya menimbulkan senyum ironi dibibir Dimas. Seketika itu juga, dia menghentikan langkahnya dan menolehkan kepala sejenak.
Ada senyum jenaka melingkari bibir Dimas, "Nyamperin adek lo!" Dimas tertawa ringan. Ada maksud tersembunyi didalam suaranya. Sampai dilihatnya Rendy mencerna ucapannya, dan tanpa menunggu jawaban dari Rendy, Dimas langsung bergegas dan melangkah kembali tanpa menoleh, dan ditinggalkannya Rendy seorang diri.