
Sarapan menjadi hal wajib untuk mereka yang akan memulai aktifitas kembali di pagi hari. Seperti Dimas dan Meila yang terlihat sedang menikmati sarapan mereka dengan santai di meja makan. Tetapi, di tengah suasana kebersamaan mereka, entah kenapa ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah Meila hari ini.
Gadis itu tampak sedikit pucat dan lemas. Seolah sedang tidak bertenaga. Bukan pria yang baik jika Dimas tidak memperhatikan itu. Dia telah menanyakannya pada Meila saat gadis itu menuruni anak tangga. Namun, Meila hanya menjawab jika dia tidak apa-apa dengan suaranya yang lemah.
Tetapi, bukan Dimas jika dia langsung percaya begitu saja. Dia terus memperhatikan dan mengawasi gerak-gerik dari gadis itu yang membuatnya khawatir.
Saat pikiran Dimas masih berkelana, Meila seketika mendorong piringnya dengan masih menyisakan sedikit roti lapis. Kemudian, meraih gelas susunya yang masih hangat dan meneguknya sedikit.
Dimas langsung menaikkan sebelah alisnya dengan heran. Dia ikut menghentikan tangannya, memajukan tubuhnya sedikit sebelum akhirnya bertanya.
"Kamu kenapa?"
Meila memandang ke arah Dimas, menatapnya dengan mata sayunya. Dia berusaha tersenyum meski Dimas tau jika saat ini dia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku cuma nggak napsu aja, kak." sahutnya pelan dengan sedikit senyuman.
Dimas menggerakkan tangannya untuk mengelus pipi Meila. "Kamu keliatan pucat, Sayang." Ucapnya lagi dengan raut kecemasan. "Apa... kamu izin aja hari ini?"
Wajah Meila berubah seketika. Dia tau Dimas pasti sangat mencemaskannya. Dia berusaha tersenyum sambil menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Dimas.
"Aku cuma sedikit lelah aja, kok. Nggak perlu sampai izin. Ya?" Pungkasnya cepat sambil berusaha meyakinkan.
"Kamu yakin?"
Meila mengangguk dengan pasti. Dia tidak ingin Dimas mengkhawatirkannya. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya yang suka datang tiba-tiba. Dia akan berbicara padanya di saat waktu santai mereka nanti. Meila juga sudah berjanji untuk tidak menutupi apapun dari Dimas, bukan?
"Kita berangkat sekarang ya, kak."
Tidak mau melihat Dimas terlalu larut dalam kecemasannya, Meila akhirnya berucap untuk segera berangkat ke kampus. Mereka pun beranjak dari kursi masing-masing, berniat melangkah keluar. Namun, suara pekikan yang keluar dari bibir Meila sangatlah jelas disertai gerakan spontan dari tangan Meila yang memegangi perutnya, yang dengan segera menghentikan langkah keduanya.
"Awh!"
Meila, gadis itu kesakitan lagi. Dan kecemasan di wajah Dimas pun semakin bertambah.
"Kamu kenapa? Perut kamu sakit?" Dimas berusaha merangkul Meila dengan sigap. "Itu... luka jahitan itu, kan? Ada apa? Apa lukanya sakit lagi?" Melihat Meila hanya diam kesakitan, dia semakin tidak sabar mendengar jawaban gadis itu sampai menanyakannya kembali.
"A-aku... nggak apa-apa, kak. M-mungkin... mungkin karena aku terlalu banyak gerak aja akhir-akhir ini. Ma-makanya sedikit sakit."
Meski Meila terus berulang kali mengatakan dia tidak apa-apa, tetapi wajahnya tidak menunjukkan yang sebenarnya. Gadis itu tampak sangat menahan napas, kesakitan, meringis, serta meremas permukaan bajunya hingga menimbulkan bekas kusut. Terlihat dari caranya membungkukkan tubuh sambil mencengkram erat tangan Dimas. Tangannya pun berkeringat dingin yang disertai gemetar.
"Nggak apa-apa gimana sih, Mei? Jelas-jelas kamu lagi kesakitan gitu?"
Dengusnya dengan suara yang sedikit meninggi.
Lalu, kedua mata Dimas pun menyipit,
"Sejak kapan rasa sakitnya muncul?"
Kepala Meila menengadah, terperangah karena Dimas langsung mengetahui pusat rasa sakitnya itu. Tidak ada lagi yang bisa Meila sembunyikan sekarang.
Untuk apa dia menutupinya lagi?
"K-kemarin..." sahutnya dengan nada takut.
Dimas menghembuskan napasnya kasar bercampur kesal. Namun, dia juga tidak bisa memarahi Meila ditengah rasa sakitnya itu. Yang bisa dia lakukan adalah melembutkan dirinya agar Meila tidak semakin tertekan akibat rasa sakit ditambah dengan kemarahannya juga.
Tangannya terangkat untuk menangkup sisi wajah Meila, dan merapatkan tubuhnya seraya merangkulnya perlahan.
"Kenapa nggak bilang, Sayang?" Suaranya melembut. "Kita bisa periksakan ini ke dokter, kan? Lagipula, udah lama sejak operasi itu terjadi dan kita belum kontrol lagi."
"A-aku... aku berpikir akan mengatakannya nanti." Meila berucap dengan rasa bersalah. "Karena aku ngerasa... masih bisa menahannya.
T-tapi......."
"Kalo gitu kita izin aja. Kita periksakan dulu ke dokter." Dimas menyela tanpa berpikir.
"Ja-jangan kak... aku nggak apa-apa." Dengan cepat Meila langsung menyanggah.
"Tapi ini nggak bisa ditunda-tunda, Mei. Aku tau kamu kesakitan, kan? Aku nggak mau kamu merasakannya sampai harus berkeringat dingin dan menahan air mata kamu." Ucapnya dengan kalimat paling lembut dan perhatian, sambil masih mengelus pipi Meila yang hangat dengan sayang.
"Tapi nggak perlu sampai harus izin kuliah, kak." Mohonnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kemudian, tangan mungilnya yang gemetar meraih tangan Dimas sambil mengatakan sesuatu dengan wajah memohon. "Aku... akan check-up setelah pulang kuliah nanti."
Janjinya sambil menilai wajah Dimas. "Aku janji... aku janji akan periksakan ini setelah dari kampus. Boleh, ya? Aku mohon, kak...." sambungnya lagi dengan penuh permohonan dan tatapan matanya yang membuat Dimas tidak tega menolaknya.
Hening. Dimas hanya memandangnya lekat dengan sorot mata tajam.
Mengawasinya serta menatapnya langsung ke dalam mata Meila yang masih menggenangkan air mata.
Sambil mendesahkan napas ringan, Dimas menjawab permintaan Meila. "Okay. Tapi, kali ini nggak ada tunda-tunda lagi. Dan.... kalo rasa sakitnya muncul lagi meskipun itu di kampus atau disaat mata kuliah berlangsung, aku nggak akan menundanya atau berpikir dua kali untuk membawa kamu ke dokter saat itu juga. Mengerti?"
Tanpa suara, Meila hanya mengangguk patuh. Dia semakin merasa bersalah karena telah menutupinya dari Dimas. Dan sekarang, setelah
Dimas mengetahui yang sebenarnya, pria itu masih saja melembutkan sikapnya padanya. Tidak memaksanya agar harus menurutinya. Justru sebaliknya, Dimaslah yang lagi-lagi mengikuti permintaannya. Hal itu membuat air matanya semakin menggenang dan hampir lolos. Namun, hal itu segera Dimas tepis dengan mengusap air matanya menggunakan ibu jarinya.
Tatapannya pun berubah sayang. "Ssshh... it's okay," Ucap Dimas lembut seraya mengecup kening Meila dengan penuh perasaan.
Kemudian, memberikan pelukan hangatnya sambil mengusap lembut punggung dan kepalanya, seolah sedang berusaha mengalihkan gadis itu dari rasa sakitnya.
●●●
Dengan langkah ringan Rendy berjalan memasuki kamar. Mencari tahu keberadaan Vika yang masih belum keluar dari kamar sejak satu jam lalu. Padahal, sarapan sudah hampir siap dan mereka harus ke kampus untuk mengerjakan beberapa pekerjaan.
Saat pintu terbuka dan Rendy memasukinya, dia melihat Vika yang masih bersiap di depan kaca rias. Gadis itu memang sudah rapi, tapi entah apa yang diperbuat para wanita jika sudah berhadapan dengan alat make-up. Jelas mereka akan bermain-main dengan memoleskan ke wajahnya meski hanya satu polesan saja. Dan itulah yang gadis itu lakukan sekarang. Vika sedang memoles bibirnya dengan liptint, lalu menyisir rambutnya sambil bersenandung.
"Sekarang aku tau kenapa para wanita sangat suka berdan-dan." Ucapnya tiba-tiba sambil memeluk Vika dari belakang.
Sedikit terkejut, Vika tersenyum halus. "Kenapa?"
Tangan Rendy bergerak naik, menyelampirkan rambut panjang milik Vika ke samping leher. Lalu mengecup leher itu dengan mesra.
"Dengan berdan-dan, kecantikan mereka akan naik berkali lipat sampai betah memandangi dirinya sendiri di depan cermin." Sambil berucap, Rendy tampak memainkan bibirnya ke area leher Vika dengan menggoda.
Dengan sekali gerakan, Rendy menggesekkan bibirnya dengan gerakan seringan bulu. "Kecuali kamu. Tanpa kamu merias diripun, kamu tetap cantik dan mempesona buat aku."
Sontak Vika bergerak geli, menggeliatkan tubuhnya dengan tidak nyaman yang ada dalam dekapan Rendy.
"Jangan ganggu aku, Rendy. Geli!" Sergahnya dengan nada manja dan memohon. Berusaha agar pria itu melepaskan pelukannya darinya.
Bukannya melepaskan, Rendy justru semakin mendekap erat Vika seolah sedang memerangkapnya. Dia semakin menggodanya dengan menghembuskan napas hangatnya ke area leher Vika dengan gerakan sensual. Membuat Vika merasakan gelenyar aneh yang menjalari tubuhnya.
"Anggap aja... ini hukuman buat kamu karena udah buat aku menunggu terlalu lama di meja makan." Sahutnya pelan disertai hembusan napas berat.
"Rendy, aku mohon...." ucapnya lirih dengan napas tertahan. "J-jangan melakukan hal aneh, Rendy. Ja-jangan... tinggalkan jejakmu di... di sana. Ki-kita... kita harus ke kampus, kan?" Mohonnya dengan sangat dan wajah yang sudah memerah padam.
Rendy terkekeh geli di dalam hatinya. Dia berhasil menggoda Vika sampai gadis itu memohon padanya agar tidak melakukan hal yang akan menarik perhatian semua orang nantinya. Rendy juga tidak sejahat itu yang akan meninggalkan jejaknya dengan sembarang dan akan membuat kekasihnya tertunduk malu di depan semua orang.
Tawa Rendy akhirnya pecah juga. Dia tergelak terbahak sambil memutar tubuh Vika yang tadi sempat membeku secara perlahan. Lalu merengkuh pinggangnya dengan posesif agar semakin rapat.
"Kenapa kamu setakut itu, huh? Asal kamu tau," jemarinya bergerak naik, melilitkan rambut-rambut halus Vika ke jarinya dan memainkannya. "aku nggak akan meninggalkan jejakku begitu aja, Vika." Sambungnya santai dan penuh teka-teki.
"T-tapi kemarin. Kemarin..... itu....." kemudian dia mengingat kejadian dimana Rendy mencumbunya tanpa henti hingga meninggalkan banyak jejak. Di detik itulah pipinya memerah padam sambil berusaha memalingkan wajahnya. Sebisa mungkin mencoba menghindari tatapan Rendy yang begitu mengintimidasi.
"Yang kemarin itu beda, Sayang." Rendy langsung menyahuti. Pria itu langsung bisa menyadari kejadian yang Vika maksudkan.
Vika mengangkat wajahnya dengan cepat, lalu menautkan kedua alisnya heran, dia baru menyadari jika Rendy sedang mencoba menggodanya sedari tadi.
Matanya pun menyipit lalu berkata sambil bersungut-sungut. "Kamu lagi menggoda aku, ya?"
Rendy tersenyum nakal, "gadis pintar!" Ucapnya disertai senyum sensual.
"Kamu memang menyebalkan!" Sungutnya kesal sambil memukul dada Rendy.
"Sebanyak apapun kamu bilang aku menyebalkan, itu nggak akan merubah perasaan kamu ke aku, Vika. Aku sangat tahu sedalam apa perasaan kamu untuk aku. Dan kamu sama sekali nggak bisa menghindarinya." Sambil berucap, lengan Rendy rupanya bermain untuk memerangkap kedua tangan Vika. Dan itu membuat Vika lengah.
"Dan... tadi kamu bilang apa? Jangan meninggalkan jejakku di....sini?" Sambungnya nakal sambil melirik ke arah leher Vika yang jenjang.
Vika menelan ludahnya kasar. Lagi-lagi dia kalah cepat dari Rendy yang selalu bertindak selangkah lebih cepat darinya.
"Itu karena kita harus ke kampus aku nggak bisa meninggalkan jejak di sini. Tapi, kalo kita lagi santai dan menghabiskan waktu berdua aja itu berarti boleh. Iya, kan?"
Seolah mengambil kesempatan, Rendy bertanya dengan nada sensual yang disengaja hingga membuat pipi Vika merona dan panas. Lagi-lagi dia mengingat adegan saat Rendy mencumbu tanpa henti dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Rendy!"
Refleks Vika memekik, menyebut nama Rendy sambil menahan malu.
Dia merasa malu luar biasa, pun sambil menundukkan wajahnya.
Rendy terbahak-bahak sambil membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dia sangat tahu jika Vika sedang sangat malu padanya. Terlihat dari semburat merah yang berpendar di tulang pipinya.
"Kamu menyebalkan!" Pungkasnya kesal sambil menenggelamkan wajahnya ke dada Rendy. Lengannya pun mengikuti, melingkar manja pada tubuh tegap pria itu.
"Apapun itu," sambil berucap, Rendy menjauhkan tubuh Vika darinya.
Menangkup kedua sisi wajahnya dan mengangkatnya. "Kamu amat sangat menyukainya, bukan?" Kemudian mendaratkan ciuman ke bibir
Vika yang setengah terbuka. Mencecapnya lembut, menyapunya secara bergantian dengan penuh perasaan. Memagutnya, dan menyesapnya lembut sebelum akhirnya menyudahinya, hingga menimbulkan suasana hening di antara napas yang saling menderu.
●●●
"Sisil, ayo, papa akan antar kamu."
Mereka baru saja selesai sarapan. Semuanya sudah sangat baik, jauh dari sebelumnya. Pun dengan hubungan Sisil dengan orang tuanya yang berangsur membaik, komunikasi mereka juga sama baiknya meski masih ada sedikit kecanggungan dari pihak Sisil.
"Eh, tunggu."
Saat Sisil akan beranjak dari kursi, ibunya menahannya agar tetap di tempat dan menunggunya. Dan, sesaat kemudian, ibunya kembali dengan membawa sebuah bingkisan cantik, seketika itulah Sisil langsung ingat akan permintaan ibunya semalam. Yang memintanya untuk memberikan cheese cake buatannya untuk Meila.
"Yang semalam mama bicarakan..." suara ibunya terdengar kikuk. "Tolong berikan ini untuk Meila, ya."
"Ya. Aku ingat. Aku akan berikan ini padanya." Sisil langsung menangkap maksud ucapan ibunya. Suaranya terdengar datar. Namun, terlihat nyata adanya niat baik di sana.
Ayah Sisil hanya memperhatikan dari kejauhan. Sambil memulas senyum, dia sangat bersyukur jika putri yang sangat disayanginya sudah mulai merubah sifatnya.
"Terima kasih, nak. Semoga sukses untuk kuis mu hari ini." Ibunya memberikan semangat dengan ekspresi yang tak kalah semangat pula. Wanita paruh baya itu juga memberikan kecupan sekilas ke pipi Sisil hingga membuat Sisil mendadak canggung.
Sisil hanya bergumam seraya berbalik badan menuju pintu keluar. Ayahnya sudah menunggunya di sana. Dia berusaha menguasai dirinya agar tidak keluar kendali menjadi emosional di pagi hari. Meski di dalam lubuk hatinya dia sangat tersentuh dengan perlakuan orang tuanya, tetapi dia masih belum mau menunjukkannya secara gamblang di depan mereka. Dia masih merasa asing dan canggung. Mungkin nanti, seiring berjalannya waktu dia akan berani melakukannya.
Perjalanan mereka cukup lancar dan tergolong cepat. Hanya memakan waktu dua puluh menit. Tidak ada pembicaraan ataupun pertanyaan selama perjalanan. Pasangan ayah dan putri ini tampak diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ayahnya yang memang fokus menyetir sedangkan Sisil, lebih memilih membawa wajahnya ke arah jalan menikmati hiruk pikuk kendaraan yang berlomba-lomba menyalip kendaraan lain agar lebih cepat sampai ke tempat tujuan.
Mereka pun akhirnya tiba. Ayah Sisil sengaja memasukkan mobilnya hingga halaman parkir agar putrinya lebih dekat untuk memasuki koridor.
"Tadi papa dengar saat mama kamu bilang, kamu ada kuis hari ini?"
Sambil menarik rem tangannya, ayah Sisil bertanya pada Sisil sambil memiringkan wajahnya pada putrinya.
Sisil mengangguk, sementara tangannya bergerak untuk membuka sabuk pengaman yang menjaganya.
"Semoga lancar untuk kuis kamu nanti. Kamu udah belajar, kan?" Tanya pria paruh baya itu. Seolah sedang bertanya dengan anak sekolah dasar.
Kedua mata Sisil berputar malas, lalu terdengar suara decakan ringan sambil memasang wajah kesal.
"Aku bukan anak tingkat dasar yang harus diingatkan untuk belajar sebelum menghadapi ulangan, kalo papa lupa!" Jawabnya ketus.
Namun, masih ada sedikit nada lembut yang terselip pada kata 'papa'. Dan itu membuat papanya mengulas senyum senang.
"Papa cuma bertanya, Sisil. Apa nggak boleh papa tanya kayak gitu?"
Sisil berdecak sebal demi menutupi rasa canggung yang telah diciptakan ayahnya di dalam kabin mobil itu. Bisa dibilang, sudah sangat lama mereka tidak merasakan momen layaknya ayah dan putri.
Dan sekarang, saat itu terjadi, Sisil merasa sangat canggung dan kikuk.
Dia bingung harus melakukan apa demi menghadapi sikap ayahnya.
Sisil pun mendengus kasar dan mencebik sambil membawa tangannya untuk membuka pintu.
"Lebih baik aku masuk atau aku akan telat mengikuti kuisnya." Cebiknya.
"Eh, tunggu." Tangan ayah Sisil yang tiba-tiba menahan lengannya mampu menghentikan kakinya yang hampir mendarat pada aspal. Dan tanpa membiarkan Sisil memprotes, ayahnya sudah menempelkan bibirnya pada pelipis anaknya. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu mendaratkan kecupan penuh sayang kepada putrinya.
"Semangat, ya. Papa percaya kamu bisa menjawab semuanya."
Ucapnya memberikan semangat. "Yaudah kamu masuk sana. Nanti beneran telat. Dan jangan lupa berikan titipan mama kamu itu untuk Meila." Sambungnya lagi sambil melirik ke arah kotak kue di tangan Sisil.
Sisil sempat tertegun beberapa detik sampai akhirnya dia berhasil menarik diri dari rasa canggungnya.
Sisil tergeragap namun berusaha mengucap kata. "Mmm... t-terima kasih...," Jawabnya dengan suara pelan dan menggantung. Seperti masih ada kalimat yang akan Sisil ucapkan. "...P-papa juga..."
Dengan sekuat tenaga Sisil mengeluarkan kalimat itu, pun sambil meremas tangannya sendiri yang berkeringat. Setelahnya, Sisil langsung keluar dari mobil dan berdiri di sampingnya, memperhatikan ayahnya yang berputar arah meninggalkannya keluar menuju pintu gerbang sambil mengulas senyum tipis di bibirnya.