
James baru saja memarkirkan mobilnya di basement gedung apartemennya. Seperti ucapannya tadi, Dia membawa Sisil ke apartemennya demi menghindari pertanyaan serta kemarahan dari orang tua Sisil mengenai kondisi putrinya.
"Ayo,!" Ajak James ketika dia baru akan keluar dari mobil.
Perlahan, Sisil membuka pintu dan menginjakkan kakinya ke lantai dan turun. Sebenarnya dia merasa tidak enak hati menerima kebaikan James yang sangat berbanding terbalik dengannya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, James sudah menyelamatkannya.
James berjalan perlahan sembari mengimbangi langkahnya pada Sisil. Kemudian masuk ke area Lobby dan langsung menaiki lift khusus yang biasa dilalui bagi para pengunjung VIP. Di dalam lift itu mereka saling diam membisu tanpa berbicara, dan hanya menunggu kemana lift itu berhenti.
Tanpa menunggu lama, tak kurang dari 10 detik, bunyi dari lift yang berdenting menandakan bahwa mereka telah sampai.
James kembali memimpin langkahnya hingga akhirnya sampai pada ruangan apartement nya yang mewah nan elegan. James pun masuk lebih dulu dan diikuti oleh Sisil dibelakangnya. Lalu menyuruhnya untuk duduk di sofa utama.
"Duduklah,. Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu."
Setelah memberikan kalimat perintah itu, James langsung meninggalkan Sisil menuju kamarnya. Sepeninggal James disana, Sisil tampak terduduk, memperhatikan seluruh isi ruangan dengan detil tanpa terkecuali. Sisil baru benar-benar dengan jelas menyadarinya. Padahal ini adalah kali kedua dia menginjakkan kakinya di apartemen itu.
Berbeda dengan kemarin, yang jelas-jelas sedang emosi dan kesal karena dengan sembarangan telah membawanya ke apartemennya tanpa persetujuannya lebih dulu. Tetapi sekarang, dia malah merasa lega karena bisa memasuki ruangan apartemen ini lagi dengan memperhatikan setiap detil sudutnya.
Ruangan yang mewah, elegan, namun juga hangat. Sehangat genggaman tangan James padanya tadi.
Perasaan Sisil kembali berkecamuk. Dia merasa sesak sekaligus rasa bersalah kembali menghinggapi rongga dadanya. Memikirkan itu semua, seketika dia merasa gelisah dan gundah. Membuat pikirannya bercabang antara memikirkan pandangan orang lain, dan juga perasaan orang tuanya nanti saat mereka tau kelakuan putrinya yang ternyata belum berubah.
Sesaat begitu Sisil sedang berpikir, James datang menghampirinya dengan membawa satu set pakaian untuk Sisil. Lalu memberikan padanya sebelum kemudian menyuruhnya untuk bersih-bersih.
"Berhubung disini tidak ada pakaian wanita, aku hanya punya ini. Ini cukup nyaman dan kamu bisa memakainya. Ini, pakailah,.." sambil memberikan pakaian itu pada Sisil yang langsung diterima olehnya. "Kamu bisa tidur di kamar. Biar aku yang akan tidur di sofa." Imbuhnya yang terdengar lembut.
Sisil tak menjawab, dia hanya menunduk namun kepalanya mengangguk tanda mengiyakan. Membuat James merasa iba melihatnya. Jika biasanya Sisil adalah perempuan jutek dan galak yang pernah ditemuinya, namun kali ini dia tampak diam kehabisan kata.
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, Sisil. Aku yang akan mengurus semuanya."
Melihat Sisil yang tertunduk diam, membuat James tidak tega hingga akhirnya mengucapkan kalimat penghiburan yang setidaknya bisa membuat perasaannya sedikit lega.
Berhasil. Sisil akhirnya mendongak. Wajahnya tampak pucat karena takut dan perasaan bersalah.
"Aku... sebenarnya aku nggak melakukan apapun. Itu.... Aku...." saking gugupnya, Sisil sampai tidak bisa merangkai kata-kata yang akan diucapkannya.
James pun mengerti, dan untuk yang kesekian kalinya dia mengangkat tangannya lagi untuk mengusap kepala Sisil dengan lembut.
"Aku tau. Kamu pasti punya alasan sendiri kenapa kamu ada disana. Kamu tidak perlu menjelaskannya, Sisil."
Kenapa? Kenapa lagi-lagi James memperlakukannya seperti ini?
Sisil kembali tersentuh hingga nyaris terbawa suasana. Dia hampir saja menangis di bawah tatapan James yang teduh, yang sedang menundukkan wajahnya padanya.
Sisil akhirnya menunduk, mengangguk pelan sambil menetralkan perasaannya kembali. Membiarkan perasaannya penuh dengan rasa sesak yang akan dia tahan malam ini hingga esok pagi. Meski dia tau, jika malam yang akan dilaluinya ini pasti akan sangat panjang.
●●●
Di sebuah gedung terbengkalai yang tidak jauh dari lokasi gedung apartemen, Beno tampak sedang meringis menahan sakit. Rupanya dia sedang bersembunyi dari kejaran polisi karena takut keberadaannya akan diketahui.
"Argh! Sial! Akh...." sudah kesekian kalinya Beno mengumpat. Merutuki dirinya sendiri yang tampak kesal dan mulai tidak bertenaga.
Beno akui, James begitu kuat darinya sampai-sampai dia tidak diberi kesempatan untuk sekedar membalas ancamannya. Melainkan dialah yang terus-terusan menjadi sasaran empuk pukulan demi pukulan yang dilayangkan James padanya.
Jika seperti ini, bisa-bisa dia kembali masuk ke dalam penjara sebelum misinya terwujud. Bahkan, mungkin kali ini hukumannya akan lebih berat dari sebelumnya. Dan setelah masa keringanan yang dia dapatkan dengan susah payah, tidak mungkin dia merusaknya lagi hanya dengan satu tindakan bodohnya seperti tadi.
Beno berpikir dia harus benar-benar bermain cantik kali ini. Dia tidak bisa membiarkan misinya gagal begitu saja bahkan sebelum dia mencicipinya. Dan Beno berpikir, sepertinya dia harus benar-benar mengancam Sisil agar perempuan itu mau mengikuti kemauannya lagi.
●●●
Suara tangisan yang teredam terdengar dari arah kamar. James yang sudah mulai terlelap, tiba-tiba terbangun dan kembali terjaga begitu menyadari jika suara itu berasal dari suara Sisil yang sedang ada di kamarnya. James pikir, Sisil sudah terlelap sejak dia sadar sudah tidak ada suara apapun dari sana. Tapi ternyata, Sisil sengaja membuat suasana hening sehingga James mengira bahwa Sisil telah meraih mimpi.
Karena merasa tidak tega, akhirnya James bangkit dari sofa sambil mengibaskan selimutnya. Dia berjalan ke arah dimana suara tangisan itu berasal. Dan benar, ketika dia sudah berada tepat di depan kamar, suara tangisan itu terdengar semakin kencang.
Di awali dengan ketukan, James memanggil Sisil dengan pelan berharap perempuan itu menjawabnya. Namun, tidak ada tanda-tanda Sisil menjawab ataupun mendengar.
"Sisil,... boleh aku masuk?"
Tidak ada jawaban dari dalam, James akhirnya membuka perlahan pintu kamarnya. Ingin melihat kondisi Sisil takut-takut perempuan itu melakukan perbuatan diluar nalar.
Dilihatnya Sisil sedang meringkuk di dalam balutan selimut. Menggulung dirinya di dalam sana sambil meredam tangisnya.
Pantas saja suaranya teredam hingga nyaris tidak terdengar jika dia benar-benar terlelap tadi. Ternyata inilah yang Sisil lakukan ketika sudah menganggap James tertidur.
Perlahan, James mendekati ranjang dan membangunkan Sisil. Bertanya padanya dari hati ke hati berharap perempuan itu kali ini menjawabnya.
"Sisil, apa ada yang menganggumu? Atau kamu merasa tidak enak badan?"
Hanya terdengar isakan dari sana. Dan bohong jika James tidak merasa terenyuh mendengarnya.
"Tunggu disini. Aku akan mengambilkan selimut tebal untukmu."
"....jangan pergi,..." Suara yang berbarengan dengan suara James itu samar-samar terdengar. Namun James masih dapat mendengarnya meski dia sempat terkejut dan terpaku dua detik.
"Tolong jangan kemana-mana,...." suaranya kali ini terdengar memelas sambil menahan isakan berat.
James lalu menghela napasnya perlahan dan menghembuskannya. Perlahan, tanpa bertanya atau meminta persetujuan Sisil, James membuka selimut yang menggulung seluruh tubuh Sisil hingga tenggelam di dalamnya sepenuhnya. Dan perasaannya terasa sakit begitu hal pertama yang James lihat adalah wajah memerah penuh air mata serta rambut lurus yang tampak acak-acakan itu perlahan menoleh dan menatapnya. Belum lagi dengan isakan yang tertahan, itu membuat James tidak bisa untuk tinggal diam.
Berusaha menenangkan Sisil, dan juga untuk menenangkan hatinya sendiri, James mengibaskan selimut lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring dengan posisi miring. Memeluk Sisil dengan hangat yang sedang berbaring membelakanginya. Memberikan Sisil ketenangan serta waktu untuknya untuk meluapkan rasa sesak yang sejak tadi ditahannya.
"Menangislah..." bisik James. "...menangislah sampai kamu merasa lega. Keluarkan semua perasaan tidak enak yang mengganggumu, Sisil." James berucap lembut di dekat telinga Sisil.
Di detik James selesai mengucap, di detik itulah Sisil menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan seluruh perasaan yang mengganjal dan tertahan entah sudah berapa lama. Mengeluarkan batu besar yang seolah menekannya dengan kuat ke dadanya.
Suara isakannya benar-benar keras kali ini. Hingga membuat James merasa sakit sampai harus memejamkan matanya. Tidak hanya itu, James juga semakin mengeratkan pelukannya pada Sisil. Erat dan juga hangat. Bahkan sesekali dia memberikan kecupan lembut ke belakang kepala Sisil sebagai bentuk penenangan. Dan menenggelamkan wajahnya ke rambut Sisil untuk menciumi aromanya.
Dan begitulah seterusnya. Tanpa kata, James berusaha melakukan tindakan yang menurutnya benar. Tidak peduli Sisil akan menganggapnya sebagai seorang lelaki yang telah mengambil kesempatan darinya atau lelaki yang memanfaatkan kelemahannya. Yang jelas saat ini, detik ini, dia telah menyadari perasaannya yang sejak pertama sudah berusaha disangkalnya dan juga ditahannya.