A Fan With A Man

A Fan With A Man
Tertangkap



Dimas sedang menyuapi buah jeruk yang baru dikupasnya untuk Meila. Setelah selesai makan malam tadi, saat Dimas meletakkan piring kotor ke atas nampan, sang perawat datang di waktu yang tepat dan langsung mengambil piring kotor itu dan membawanya.


Selang infus yang tertanam di lengan Meila juga sudah dilepas. Sehingga memudahkannya untuk bergerak dengan leluasa tanpa khawatir akan terganggu oleh gerakan-gerakan yang ditimbulkan. Suasana diluar sana sedang hujan deras, disertai dengan suara gemuruh petir yang saling bersautan sekaligus tiupan angin kencang yang membuat siapapun akan bergidik ngeri karena terkejut akan suara keras yang menggema di langit sana sehingga memilih untuk bergelung manja dalam kehangatan selimut dan berlindung di bawah atap rumah mereka.


"Kak Dimas, apa aku boleh tanya sesuatu?" Meila bertanya disela-sela aktifitasnya saat mengunyah,


"Tanya apa?" Dimas menyahuti Meila dengan cepat tanpa menghentikan tangannya untuk menyuapi Meila.


Meila sempat terdiam sejenak, tampak ada sedikit keraguan untuk mengucap.


"Kak Dimas... nggak bosen nungguin aku di rumah sakit?" Meila memberi jeda dalam kalimatnya, tampak gerakan Dimas juga sempat terhenti tapi beberapa detik kemudian gerakannya kembali melanjutkan, "Nemenin aku... nungguin aku di ruangan yang kayak gini-gini aja, tembok putih polos tanpa corak yang bikin jenuh."


Dimas tersenyum, tangannya bergerak untuk menyuapi potongan jeruk terakhir ke mulut Meila. "Kenapa harus bosen? Justru menyenangkan. Karena aku bisa menghabiskan banyak waktu sama kamu. Nggak peduli ruangan itu sempit atau luas, atau mempermasalahkan corak dinding yang polos kayak gini. Buat aku, itu menyenangkan. Menikmati kebersamaan bersama orang yang kita sayang." Seru Dimas dengan nada jujur, terdengar jelas tidak ada keraguan dalam suaranya.


Meila terdiam, mencoba membaca isi hati Dimas melalui matanya.


Dimas tersenyum sekilas, "Mau seberapa pun kamu baca pikiran aku, jawabannya akan tetap sama." Dimas menyahuti jawaban yang seolah sedang dicari Meila, "Mei, denger aku. Udah berapa kali aku bilang ke kamu jangan pernah sungkan sama aku. Anggap aku sebagai sandaran kamu. Jangan berpikiran berlebihan yang hanya akan membuat kamu tidak bisa menemukan jawabannya. Kamu hanya perlu rasakan apa yang ada dihadapan kamu saat ini." Tangan Dimas menggenggam tangan Meila, membungkus tangan mungil yang terasa sangat pas dalam genggamannya.


"Kamu liat, tangan mungil kamu ini sangat pas dalam genggaman aku." Dimas memainkan tangannya dengan tangan gadisnya, menyelipkan jari jemarinya ke sela-sela jari Meila yang terasa pas di tangannya, lalu mengangkat tangan mereka ke udara.


Meila pun menatap tangan mereka, menyatu disana hingga tanpa sadar telah membuat senyum Meila mengembang dengan sendirinya. Lalu didetik kemudian pandangan matanya berpindah pada bola mata Dimas, tampak sedang memikirkan hal hingga mampu membuatnya terhanyut dalam lamunannya.


Dimas sendiri tampak mengamati, dengan alis mengernyit dalam, dirinya tidak bisa menahan untuk bertanya pada gadis dihadapannya itu apa yang membuatnya tersenyum sendiri hingga terhanyut dalam lamunanya sendiri.


"Kamu kenapa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" Dimas bertanya, terlihat wajahnya menyimpan rasa penasaran yang nyata.


Bukan tanpa alasan Meila melamun, dirinya sedang memutar kembali ingatannya tentang kesan pertama penilaiannya terhadap Dimas. Dimana pria itu secara langsung dan terkesan berani meminta kontak nomor ponselnya hingga akhirnya pria itu juga yang mem-block akun sosial miliknya.


Hingga pada suatu hari mereka dipertemukan dan melakukan tatap muka secara langsung tanpa direncanakan sebelumnya. Dan sampai didetik pertama matanya menatap Meila secara langsung dan gadis itu tampak malu dan canggung, didetik itulah dirinya telah jatuh cinta dan penilaiannya tentang Meila melalui media sosial tidaklah salah. Dirinya telah jatuh cinta jauh sebelum Dimas bertatap muka dengannya.


"Aku cuma lagi memutar ingatan aku," Meila tersenyum lembut, berusaha berkata jujur dengan apa yang dipikirkannya. "Ingatan dimana kak Dimas dengan jujur minta nomor ponsel aku di media sosial waktu itu." Seyuman itu berganti kekehan kecil yang membuat Meila terhibur.


"Iya. Dan kamu dengan teganya menolak aku," sergah Dimas cepat menimpali. Tampak sudut bibirnya terangkat membentuk senyum ironi.


Meila terdiam lalu mendesah pelan, "Aku nggak bermaksud nolak kamu waktu itu, kak. Aku cuma nggak bisa langsung kenal dengan orang asing apalagi itu di media sosial... dan kamu juga udah tau alasan lainnya." Meila berusaha menjelaskan alasan dirinya tidak memberikan nomor ponselnya pada Dimas. "Aku minta maaf kalo udah menyinggung perasaan kamu. Saat itu aku nggak bermaksud untuk nolak kak Dimas," sekarang giliran Meila yang mengenggam tangan Dimas, "aku bukan tipe cewek yang mudah kenal dengan seseorang terlebih lagi itu di media sosial dan... apalagi orang itu adalah pria. Aku nggak mengenal kak Dimas sama sekali, dan kita juga belum pernah melakukan percakapan secara intens sebelumnya. Aku butuh mengenal lebih jauh, tapi kak Dimas malah langsung nge-block aku gitu aja tanpa bertanya-tanya lagi," Meila terkekeh sendiri, menertawakan sikapnya dan juga sikap Dimas yang saling bertentangan saat itu.


Hal itupun menular, Dimas ikut terkekeh bersamaan dengan Meila. Dimas menghembuskan napasnya perlahan, menjawab pernyataan Meila sebelum kemudian menatap ke dalam bola matanya.


"Kamu tau, apa yang ada dipikiran aku tentang kamu waktu itu?"


Mata Meila setengah mengerling, membuat ekspresi penasaran di wajahnya. "Apa...?"


"Acuh dan pemalu." Seru Dimas cepat, bersamaan dengan ucapan Dimas, didetik itu juga Meila mengernyitkan alisnya heran.


"Kok gitu?" Tanya Meila kemudian,


"Iya. Acuh. Cewek acuh yang nggak tertarik dengan pria karena terlalu terlena dengan kesendiriannya. Tapi juga cewek pemalu yang nggak terbiasa berinteraksi dengan seorang pria atau karena memiliki problem sendiri ketika membahas tentang pria. Dan ternyata aku benar, tebakan aku memang nggak salah, sikap asli kamu memang acuh dan pemalu, kan?" Dimas tertawa, menertawakan Meila yang sedang memberengutkan bibirnya begitu penjelasan Dimas terhenti.


"Terus... kenapa waktu itu kak Dimas ngeblocked aku?" Meila akhirnya menyuarakan rasa ingin tahunya sementara bibirnya merengut manja pada Dimas.


"Jujur, aku sempat kesal waktu itu, sampe aku langsung ngeblocked akun kamu tanpa melanjutkan percakapan lagi," Dimas berucap rendah setengah berbisik, dia memajukan tubuhnya agar semakin dekat dengan Meila. "Tapi setelah aku mem-blocked akun kamu itu, justru malah sebaliknya, aku semakin nggak berhenti untuk mikirin kamu tiap detiknya. Selalu berharap suatu saat nanti dipertemukan di waktu yang tepat hingga akhirnya doa aku terjawab dan kita dipertemukan dan berkenalan..." Dimas berhenti sejenak, memberi jeda dalam ucapannya ketika melihat pipi Meila yang merona menahan malu saat Dimas membicarakan pertemuan pertama mereka. "...aku sungguh bersyukur saat aku bisa menatap kamu secara langsung dan..." Dimas memainkan telapak tangannya, menirukan gerakan saat menjabat tangan Meila dan menjabatnya dengan lembut. "...pertama kalinya menjabat tangan kamu yang mungil dan halus ini." Mata Dimas terangkat, menatap ke arah Meila dengan wajah yang sudah memerah hingga menjalar turun ke leher.


"S-sampai... kayak gitu...?" Tanya Meila tidak percaya, Dimas langsung mengangguk cepat, tanpa ada keraguan disana.


Dimas menarik Meila kedalam dekapannya, menghela kepalanya agar langsung bersandar ke dadanya, tangannya pun mengusap kepala Meila dengan gerakan lembut tak terkira, sebelum kemudian mengecup pelipisnya sekilas, semakin membuatnya terlena akan perlakuan Dimas.


"Didetik aku menjabat tangan kamu, didetik itulah aku berniat dalam diri aku untuk mendekati kamu dan nggak akan melepaskan kamu untuk kedua kalinya." Tangannya bergerak mengusap punggung Meila dengan gerakan seirama. Meila pun mengikuti, tangannya dilingkarkan untuk memeluk Dimas. Menghirup aroma green tea yang menyegarkan sambil tersenyum disana.


"Meski aku sempat menyesali tindakan aku yang dengan egois memblocked akun media sosial kamu secara sepihak, tapi kalo akhirnya kamu bersama aku seperti saat ini, aku sama sekali nggak menyesalinya." Dimas tersenyum, disertai dengan kecupan singkat ke puncak kepala Meila. "Aku bersyukur bisa memiliki kamu," Dimas meletakkan dagunya ke puncak kepala Meila, "maka dari itu... kamu nggak perlu meminta maaf dan merasa nggak enak untuk semuanya. Karena aku mensyukuri setiap proses perkenalan kita."


Bersamaan dengan Dimas yang menyelesaikan kalimatnya, didetik itu pula suara petir dengan keras menyambar saling bersautan, membuat Meila secara refleks terkejut hingga Dimas bisa merasakan tubuh mungilnya berjingkat kaget disertai dengan semakin mendesakkannya tubuhnya pada Dimas, seolah mencari perlindungan dari suara petir yang meneror bertubi-tubi.


"Suara petirnya nyeremin, kak. Aku takut..." Suaranya terhalang dari balik dada Dimas, terdengar serak dan bergetar.


Tangan Dimas semakin mengeratkan pelukannya, sementara telapak tangannya mengusap punggung Meila seolah menyalurkan ketenangan disana.


"Ssshh... it's okay. Aku disini." Kepala Dimas tertunduk, menarik kepala Meila perlahan agar dapat menatapnya. Ketika wajah Meila terangkat untuk menatap Dimas, disaat itulah terlihat jelas jika gadis itu benar-benar sedang ketakutan. Matanya memerah dengan air mata yang menumpuk di sisi bawah kelopak mata yang hanya sekali kedipan saja akan terjatuh.


Dimas tersenyum sementara ibu jarinya mengusap air mata yang sudah gadis itu tahan akhirnya menetes juga ke pipinya.


"Ternyata selain takut gelap, kamu takut petir juga, ya?" Suara Dimas setengah mengejek, membuat Meila menggerakkan tangannya untuk mencubit bagian perut Dimas sambil mendengus pelan.


Dimas tergelak lepas, namun bukannya menepis cubitan yang diberikan Meila, dia malah membiarkan dirinya menjadi sasaran cubitan dari tangan mungil gadisnya itu. Membuat Meila sedikit jengkel dan mendengus kesal karena dijahili Dimas.


"Kak Dimas, kenapa suka banget ngeledek aku sampe aku kesel?" ucapnya merajuk, "padahal kakak tau kalo aku nggak pernah bisa marah sama kak Dimas..."


Suara itu hampir tak terdengar, ketika Meila menyelesaikan kalimatnya, kepalanya tertunduk sementara wajahnya menahan malu luar biasa karena tidak menyangka akan mengucapkan kalimat yang secara tidak langsung sedang menunjukkan kelemahannya didepan Dimas.


Dimas sendiri terpaku, karena tanpa diduga-duga, sekali lagi Meila mengeluarkan sebuah pengakuan dari mulutnya sendiri. Jantungnya memukul-mukul dadanya, dipenuhi perasaan lega yang diselimuti oleh rasa bahagia luar biasa.


Dimas tidak bisa hanya berdiam saja, jemarinya terangkat untuk mengangkat dagu Meila, menatap matanya secara intens hingga berhasil membuat jantung gadis itu berdegup kencang.


"Sepertinya... setelah pengakuan kamu kemarin, kamu jadi lebih mudah untuk mengungkapkan pengakuan yang lainnya juga, ya?" Dimas berucap merayu, membuat pipi Meila memerah hingga terasa panas.


"Eh!.... itu karena.... karena...."


"....I Love You...." tanpa menunggu Meila selesai berucap, lagi-lagi Dimas berucap lantang dengan suara tegas. Bahkan suara yang diucapkan perlahan itu seakan mengalahkan suara petir dan derasnya hujan diluar sana.


Saking menggemanya suara Dimas, Meila sampai tidak berkedip dan malah mengangkat wajahnya untuk langsung menatap bola mata Dimas secara langsung. Didetik itulah bibirnya tersenyum, matanya pun ikut tersenyum seolah sedang berbicara, wajahnya berseri-seri disertai pancaran warna kemerahan dari tulang pipi yang menyemburat.


"....Aku tau...." Suara Meila bergetar sementara bibirnya tersenyum haru, tangannya pun memegang tangan Dimas, mengusap pergelangannya dengan lembut, seakan mengisyaratkan jika dirinya memang merasakan hal yang sama dengannya. Namun hanya masih merasa malu untuk mengucapkan secara lantang dan tegas.


Perasaan Dimas pun membuncah bahagia, dikecupnya kening Meila dengan lembut, sementara tangannya menangkup kedua pipi Meila, lalu dikecupnya bibir tipis merah muda itu dengan lembut, "Aku sayang kamu... sangat!" Dimas berbisik disana, menggesekkan bibirnya ke atas bibir Meila.


Meila pun terpejam, terlena akan perlakuan Dimas padanya. "Aku tau, kak... aku tau..." Meila pun membalas ucapan Dimas dengan bibir yang saling menggesek, sama-sama saling menghembuskan napas hangatnya disana. Dimas mengecup kembali bibir itu, sedikit mencecapnya, sebelum kemudian melepaskan bibir mereka dan langsung menarik kembali Meila ke dalam pelukannya.


Memeluk erat gadisnya kedalam perlindungannya, memberikan kecupan-kecupan ke puncak kepala Meila. Menenggelamkannya ke dadanya sekaligus mengusap kepalanya dengan sayang. Sementara Meila sendiri seolah sudah terbiasa, langsung melingkarkan lengannya dengan manja, bergelayut manja dalam kehangatan Dimas, menghirup aroma vanila yang disukainya.


Mereka sama-sama terbuai akan keheningan senyap malam yang semakin larut. Menciptakan suasana hening yang mendamaikan diantara keduanya, membiarkan hati mereka untuk menyerah pada perasaan yang saling membutuhkan.


●●●


Suara dering telepon membangunkan Dimas dari tidur lelapnya sambil memeluk Meila dalam dekapan. Matanya mengerjap perlahan, lalu membelalak sempurna sambil bergerak hati-hati untuk turun dari ranjang dan melepaskan lengannya perlahan agar tidak membangunkan Meila yang sedang terlelap dalam kehangatan dibalik selimutnya.


Dimas pergi menjauh dari ranjang sebelum kemudian membenarkan selimut untuk menutupi Meila, lalu menuju keluar ruangan agar tidak menimbulkan suara gaduh yang mungkin saja akan muncul ketika berbicara lewat ponsel.


Rendy lah yang menghubunginya di waktu sudah lewat tengah malam ini. Dahinya berkerut dalam, bertanya-tanya kenapa Rendy menghubunginya di waktu dini hari jika memang tidak ada sesuatu yang sangat penting dan ingin diberitahunya.


"Hallo, Ren?" Diangkatnya panggilan masuk itu dan menyapanya.


"It's okay, Bro. Ada apa lo hubungin gue jam segini? Pasti ada hal penting yang harus lo sampein ke gue, kan? Karena nggak mungkin lo hubungin gue dengan cuma-cuma?" Dimas membalas sambil menyelipkan kekehan kecil dalam suaranya. Membuat Rendy juga ikut terkekeh diseberang telpon sana.


Dari suara Rendy terdengar jelas jika pria itu sedang dalam suasana bahagia dan diliputi dengan kelegaan. Rendy menarik napas sejenak sebelum kemudian mengutarakan maksud dari menghubungi Dimas di waktu dini hari ini.


"Beno udah tertangkap, Dim." Suara itu menggema terbawa udara hingga menembus ke telinga Dimas lewat ponsel yang tertempel ke telinganya.


Dimas sempat terpaku, sempat tidak percaya jika pria licin seperti Beno akhirnya dapat ditemukan hingga akhirnya tertangkap. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan dari perasaan lega dan tenang. Sebab, jika Beno sudah tertangkap, berarti dirinya tidak perlu khawatir untuk mengajak Meila berjalan-jalan tanpa harus cemas memikirkan keselamatan gadisnya itu.


"Lo serius, Ren?" Dimas berucap tidak percaya, seakan ingin memastikan lagi agar Rendy mengulang perkataannya.


"Lo nggak salah denger, Dim. Beno si psikopat gila itu udah tertangkap oleh polisi kemarin sore. Kejadian kronologisnya gue belum sepenuhnya tau, tapi gue dapet informasi dari rekan mata-mata gue mengenai aktifitas Beno selama beberapa hari setelah penusukan itu terjadi. Dan hasilnya mereka kerja sama dengan polisi dan beberapa detektif sampe turun tangan ngebantu kita." Sekali lagi Rendy menarik napas lega dan menghembuskannya, "dan.... pada saat hujan lebat hingga akhirnya Beno mulai menyadari bahwa dia sedang dimata-matai, dia hampir kabur karena berusaha untuk mencari tempat persembunyian lain, tapi Beno salah perhitungan, dia nggak tau kalau kita udah mengepungnya dengan perhitungan matang dan telah memikirkan resiko terburuknya."


Entah sudah ke berapa kali Dimas juga menghembuskan napas lega, bahkan tubuhnya sampai bersandar ke dinding samping ruang rawat Meila.


"Syukurlah pria gila itu udah tertangkap." Gerahamnya mengetat sementara tangannya mengepal kencang, "Gue lega, Ren... gue bener-bener lega. Meski kemarin sasaran penusukan itu sebenernya ditujukan ke gue, tapi gue nggak mau ambil resiko lagi negbiarin Meila terluka." Jelas Dimas pada Rendy, ada sedikit penyesalan dalam kalimatnya.


"Karena itu juga Beno dikenakan pasal berlapis. Pembunuhan berencana,  perlakuan tidak menyenangkan terhadap orang lain, dan juga penyerangan di tempat umum hingga memancing kegaduhan." Jelas Rendy dari kejauhan. Suaranya terdengar santai.


"Thanks bro buat informasinya. Rasanya... beban di pundak gue terangkat semua dan hilang." Dimas berhenti sejenak, seketika kecemasan kembali merayapinya. "Tapi.... masih ada satu orang lagi, Ren. Orang yang membantu Beno masih berkeliaran diluar sana. Bahkan kita nggak tau keberadannya sampe sekarang,"


"Gue juga memikirkan itu, Dim. Tapi Sisil masih bisa kita jangkau meski melalui informasi dari Beno. Karena gue yakin, mereka pasti masih saling bertemu sebelum Beno tertangkap." Rendy berucap dengan penuh keyakinan, terdengar nada kepastian dari suaranya.


"Ya. Gue harap secepatnya Sisil juga bisa kita temukan. Gue cuma pengen Meila aman dan merasa tenang tanpa harus ketakutan saat berada diluar sana." Ucap Dimas kemudian dengan rahang mengetat, kilasan sikap Sisil saat memperlakukan Meila saat itu membuat amarahnya bangkit kembali.


Dimas sendiri tak habis pikir, bagaimana bisa seorang wanita menyiksa wanita lainnya sedangkan yang disiksanya itu selalu berprasangka baik padanya?


"Kalau gitu... gue tutup telponnya, Dim. Gue harus urus sesuatu dulu dengan mata-mata gue." Ucap Rendy kemudian, membangunkan Dimas dalam lamunannya.


"Ah! Okay, Ren. Sekali lagi... thanks informasinya." Jawab Dimas kemudian menutup sambungan telepon diantara mereka. Tangannya setengah meremas ponsel ditangannya, sementara tangan lainnya terkepal dan memukul dinding dengan pukulan ringan.


Tinggal satu orang lagi yang patut diwaspadai saat ini. Dia berharap agar Sisil bisa secepatnya tertangkap. Karena wanita itulah yang menjadi otak penyiksaan yang Meila rasakan.


Dimas mengatur napasnya perlahan, dipejamkannya matanya sejenak untuk menghembuskan napas dan menetralkannya. Setelah dirasakannya dirinya mulai tenang kembali, dengan pandangan lurus ke depan, Dimas berbalik dan kembali ke dalam ruang rawat untuk kembali memeluk Meila, gadis mungil yang sangat dicintainya.


●●●


"Selamat pagi,"


Sapaan itu terdengar begitu Meila menggeliat manja dalam rengkuhan Dimas. Matanya berusaha terbuka setelah mengerjap beberapa kali. Didongakkannya kepalanya hingga dapat beradu tatap dengan Dimas yang sedang tertunduk memandanginya dan tersenyum.


"Selamat pagi..." ucap Meila perlahan disertai senyuman,


Tangan Dimas bergerak untuk mengelus pipi Meila, "tidur kamu keliatan nyenyak banget, aku sampe nggak tega buat membangunkan kamu. Sampe perawat datang dan membawakan sarapan untuk kamu," otaknya tiba-tiba berpikir untuk sedikit menggodanya. "Lagipula... tadi kamu mengorok. Orang bilang... kalo orang yang tidur itu mengorok, berarti orang itu sedang lelah atau merasakan tidur nyenyak. Benar, kan?" 


Meila menatap Dimas dengan mata sayunya, belum mencerna kalimat Dimas sepenuhnya, dirinya masih berusaha menyerap cahaya yang masuk ke matanya. Tapi didetik kemudian, matanya membelalak sempurna ketika otaknya mulai menyerap kalimat yang dikatakan Dimas pada kalimat terakhir yang diucapkan pria itu.


Matanya membelalak sempurna, sementara kepalanya sedikit dijauhkan agar lebih leluasa menatap Dimas.


Me...ngorok? 


"Kak Dimas bilang apa? M-mengorok...?" Meila membeo, tatapannya seolah tidak percaya dengan apa yang Dimas ucapkan.


Astaga! Bisa-bisanya aku mengorok di depan kak Dimas? Entah apa yang dipikirkannya saat ini.


"Iya. Mengorok. Dengan kata lain.... mendengkur." Jawab Dimas perlahan, dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya.


Benar saja. Kecemasan itu langsung terpancar di mata Meila. Sementara wajahnya memerah menahan malu luar biasa hingga menjalar ke bangian lehernya.


"Kenapa muka kamu memerah gitu?" Dimas bertanya memancing, berusaha menahan diri agar tidak menyemburkan tawa dari bibirnya.


"Ap-apa... aku beneran mengorok, kak? Apa... suaranya kenceng banget tadi?" Meila bertanya terbata, berusaha mengesampingkan rasa malunya kali ini.


Dimas membuat ekspresi berpikir, sedikit melirik ke arah Meila sebelum berucap.


"Hmmm... Ya. Menurut kamu kalo orang mengorok kayak gimana?" Dimas malah balik bertanya dengan nada memancing, membuat Meila semakin tergeragap karenanya.


"Mmmm... ya... gitu," jawab Meila ragu,


Dipalingkannya wajahnya yang memerah sambil tergeragap dan bingung apa yang harus dilakukannya. Reaksi panik yang Meila berikan tak luput dari pandangan Dimas, didetik Meila ingin menjauhkan diri dari Dimas, didetik itulah Dimas menahan pinggang Meila dan menariknya dengan hati-hati agar kembali mendekat.


Saat Meila terkejut dengan rengkuhan lengan Dimas dipinggangnya hingga membuat kepalanya terangkat, didetik itulah Dimas tidak bisa lagi menahan tawanya. Dirinya tergelak melihat tingkah Meila yang terkejut dihadapannya.


"Kenapa kamu mempermasalahkan tentang mengorok, Mei? Memang apa salahnya dengan tidur mengorok?" Dimas bertanya santai sambil mendekatkan wajahnya disela-sela tawanya yang masih tersisa.


Didetik itulah Meila menyadari jika dirinya sedang dikerjai Dimas dan pria itu sedang menertawainya dengan puas saat ini.


"Iiih, kamu tuh..." dengan suara bersungut-sungut dan mendengkus pelan, Meila menepuk dada Dimas agar berhenti menertawakannya. Tapi bukannya berhenti, Dimas malah semakin menertawainya.


"Ak-aku... malu..." suara Meila tenggelam ketika berusaha menutup wajahnya dan bersembunyi dibalik dada Dimas.


"Kenapa harus malu...? Toh, kedepannya kamu akan sering tidur dalam pelukan aku, kan?" Seru Dimas kemudian sambil menarik wajah Meila dan melepaskan tangannya dari wajahnya.


Perlahan tangannya terlepas, Dimas bisa merlihat wajah Meila tanpa penghalang lagi, bahkan saat ini Meila sedang memasang wajah cemberut pun Dimas bisa melihatnya dan justru malah terkekeh.


"Kamu tuh nggak pantes cemberut kayak gini," tangan Dimas mencubit bibir Meila dengan gemas, lalu mengapit kedua pipi Meila dengan kedua tangannya sambil memajukan wajahnya semakin dekat. "Keliatan jelek, nggak manis lagi."


"Habisnya kak Dimas seneng banget bikin aku sebel," ucap Meila bersungut-sungut,


"Tapi kamu suka, kan...?" Sergah Dimas cepat menimpali kalimat Meila.


Meila mendesah pelan, terdiam sejenak dan meragu ketika akan berucap, "....y-ya...." suaranya tertelan hampir tak terdengar, namun Dimas tetap bisa mendengar pengakuan Meila yang begitu dekat.


Dimas tersenyum lebar, terkekeh geli sementara tangannya menarik kepala Meila agar mendekat ke dadanya. Mengecup puncak kepala gadisnya, memeluknya lagi sebelum kemudian memberikan kabar gembira bahwa Meila sudah diizinkan pulang dari rumah sakit.


"Sekarang dari pada kamu cemberut kayak gitu, lebih baik kamu sarapan, dan setelah itu bersiap-siap. Karena, menurut perawat yang membawakan sarapan tadi..." Dimas berhenti sejenak, memancing rasa penasaran Meila yang langsung mengangkat kepalanya karena tak kunjung bicara, "...hari ini kamu udah boleh pulang."


Ya, saat perawat datang membawakan sarapan untuk Meila tadi, dan melihat gadis itu belum juga membuka matanya dari tidur nyenyaknya, dan hanya melihat Dimas saja yang sedang duduk dipinggir ranjang sambil membenarkan selimut Meila, akhirnya perawat itu memberitahukan lewat Dimas bahwa Meila sudah boleh pulang dari rumah sakit dan hanya akan melakukan check-up berjalan dengan jadwal yang sudah ditentukan.


Mata Meila membelalak sempurna, matanya berbinar penuh kesenangan sementara wajahnya berseri merah muda.


"Beneran kak?" Tanya Meila memastikan sekali lagi, kali ini tidak bisa menutupi rasa bahagianya.


"Beneran, Sayang...." jawab Dimas dengan lembut, sementara jemarinya bergerak untuk merapikan anak rambut Meila yang menutupi sebagian wajahnya, mengusapnya ke belakang kepala hingga terlihat dahi mulusnya yang membuat Dimas tidak bisa berdiam diri untuk tidak memberikan sebuah kecupan disana.


"Lebih baik sekarang kamu habiskan sarapan kamu, setelah itu bersih-bersih." Ucap Dimas saat melepaskan bibirnya dari dahi Meila, "atau... kamu mau ke toilet dulu? Aku anterin?" Ucap Dimas lagi menawarkan.


Meila memutar bola matanya tampak berpikir, tapi sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Dimas pun langsung beranjak dari ranjang terlebih dahulu, lalu menghela tubuh Meila untuk turun dari ranjang mengikutinya. Memeluk pinggang gadisnya dengan posesif dan mengantarkannya hingga depan pintu toilet dan menungguinya disana sampai gadisnya masuk dan menutup pintu toilet hingga membuka pintu itu kembali.