
Berada di ruang perawatan rumah sakit seorang diri memang sangatlah membosankan. Tanpa ada yang menemani, tidak melakukan apapun hanya sebatas berbaring di atas ranjang. Begitupun yang dirasakan Meila. Dia sedang setengah bersandar di ranjang yang hanya di temani oleh televisi dan ponsel di tangannya.
Tanpa keberadaan Dimas, pria itu berangkat ke kampus dengan adanya sedikit perdebatan kecil bersama Meila. Bagaimana tidak, saat Meila baru saja bangun dan membuka matanya, dengan santainya Dimas sedang duduk di sofa yang tak jauh dari sana. Melihat Dimas yang tidak juga bersiap-siap berangkat kuliah, membuat Meila bingung dan berpikir jika karena dirinyalah pria itu memilih untuk tetap menemaninya dan tidak masuk kuliah.
Namun bukan Meila jika tidak bisa meyakinkan. Dengan pengertiannya, Meila berbicara dengan hati-hati dan penuh keyakinan jika dirinya baik-baik saja. Hingga akhirnya Dimas menyerah kalah dan mau berangkat kuliah. Sampai akhirnya dia berjanji akan segera kembali dan menemaninya lagi dengan membawakan beberapa buku untuknya.
Dan sekarang, saat Meila hanya sendiri di ruangan rawatnya, dia merasa kesepian dan bosan. Entah sudah berapa kali dia hanya mengganti channel televisi tanpa menontonnya. Sampai beberapa saat kemudian sebuah ketukan pintu berhasil menolehkan kepalanya.
Dan, tanpa harus menunggu lama siapa yang datang berkunjung, sebuah suara serempak terdengar dibarengi dengan pintu yang terbuka lebar.
"Kami datang....!"
Itu adalah perpaduan suara dari Airin dan Vika yang terdengar seperti sedang berlomba paduan suara.
"Kalian.....?" Pekik Meila bahagia dibalut dengan mata berbinar.
Melihat Airin dan Vika yang datang diikuti dengan Bryant dan Rendy yang berjalan di belakangnya, sontak membuat Meila hampir bergerak turun untuk berbaur memeluk mereka. Namun, gerakan tangan Airin lebih cepat untuk mencegahnya turun dari ranjang.
"Eits! Jangan, jangan!" Sergahnya sembari mengibaskan tangan. "Nggak perlu, Mei. Kondisi lo masih baru pulih. Nggak apa-apa, istirahat aja." Ucap
Airin memberi pengertian. Lalu, dengan senyumannya Meila kembali bersandar ke kepala ranjang.
"Gimana kondisi kamu, Mei? Maaf karena aku menarik kamu terlalu kencang, kamu jadi harus kayak gini." Vika berkata dengan penuh penyesalan.
Meila tersenyum sambil membawa tangannya memegang tangan Vika.
"Jangan merasa bersalah kayak gitu, kak. Aku nggak apa-apa. Aku udah baik-baik aja." Sahutnya perlahan. "Lagian... malah harusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku, kaki kamu terkilir karena tertimpa rak itu."
"Vika udah baik-baik aja, dek." Kali ini Rendy yang menyahuti. "Kakinya memang terkilir, tapi dia udah bisa lari-larian, kok." Kilahnya jahil diikuti kekehan. Membuatnya mendapatkan tatapan sengit disertai sikutan ringan ke perutnya yang rata dari sang kekasih, Vika.
Semuanya tertawa. Mereka tenggelam dalam percakapan manis yang tercipta dengan tenang nan damai. Seolah kebosanaan yang tadi Meila rasakan hilang sudah dan berganti dengan keramaian yang menghangatkan.
●●●
"Om senang akhirnya kamu mau main ke ruangan om. Malah om pikir kamu udah lupa sama janji kamu, Dim."
Disertai kekehan, kalimat itu melayang di udara saat Yoga sedang berjalan mendekat pada Dimas sambil membawa dua cangkir teh.
Mendengar kalimat bernada sindiran, sontak membuat Dimas tersenyum yang dibarengi dengusan ringan.
"Aku baru ada waktu buat main ke sini. Ngeliat teman-teman Meila datang buat menjenguk, ya... aku pikir nggak ada salahnya aku mampir ke sini sambil membiarkan mereka ngobrol-ngobrol dengan santai." Sahutnya sambil menyeruput teh miliknya.
Melihat Dimas yang memulai pembicaraan mengenai Meila, telah membuat Yoga tertarik untuk terus menanyai dan mencari tahu sejauh apa hubungan mereka. Didahului dengan deheman kecil, Yoga akhirnya bertanya langsung tanpa basa-basi.
"Oh, ya. Soal Meila... jadi benar, dia itu kekasihmu?" Sambil membaca ekspresi dari wajah Dimas.
Ekspresi Dimas sendiri tampak santai dan tenang. Dia justru tampak menyunggingkan senyumnya kala mendengar nama Meila disebutkan.
"Seperti yang om liat sebelum dan juga sesudahnya." Jawab Dimas sambil memutar-mutar cangkir ke atas piring tatak. "Aku nggak akan mengelak atau menyanggah tentang itu. Aku hanya memberi jawaban sesuai dengan apa yang orang itu lihat dan rasakan." Dimas memberi jeda, kedua matanya pun melirik nakal pada Yoga. "Termasuk om." Sambungnya jujur.
Yoga tampak tersenyum puas dengan jawaban yang Dimas berikan. Bahkan pria itu sampai memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan lawan bicaranya.
"Kamu sudah lebih dewasa. Om bisa merasakan saat pertemuan pertama di malam itu." Yoga merujuk pada malam dimana Meila mengalami demam tinggi dan dialah yang menanganinya. "Ada sebuah ikatan yang tidak kasat mata namun sangat jelas bisa dirasakan. Siapapun akan bisa menangkap itu meski hanya mengira-ngira saja." Lalu, sudut bibirnya tertarik ke atas sambil mengingat kejadian bagaimana Meila bersikap manja dan cara Dimas memperlakukannya. "Gadis polos, pemalu dan manja, tapi juga ceria. Sangat cocok sama kamu yang sudah jauh lebih dewasa dan penyayang." Ucapnya jujur. Diikuti dengan lirikan kedua matanya yang terangkat. "Benar, bukan?"
Dimas sama sekali tidak menyanggah. Namun justru seolah mengiyakan dengan memberikan senyumannya.
Sambil tersenyum, Dimas menjawab. "Sejak kapan aku bisa bohong sama om? Apapun yang aku lakuin, tindakan aku, pasti selalu ketebak sama om tanpa aku jelasin lebih dulu."
Yoga menghela napasnya, menumpukan kedua sikunya ke atas lututnya.
"Ya... meskipun begitu, om senang melihatnya. Kamu berhasil mengubah sikapmu menjadi sosok pria yang lebih dewasa. Kamu berhasil membuktikan kalau kamu pantas mendapatkannya. Jangan sia-siakan itu, Dimas."
Melihat kepercayaan yang diucapkan Yoga, Dimas tersenyum tulus seraya mengedipkan mata penuh janji. Seolah dia sedang berjanji tidak akan menyia-nyiakannya.
"Lalu... sekarang ceritakan. Bagaimana bisa ada bekas luka tusuk di perutnya? Apa ada seseorang yang sudah mencelakainya?"
Melupakan pembicaraannya sebelumnya, Yoga sepertinya tampak penasaran dengan luka tusuk di perut Meila sampai mengakibatkan luka jahitannya terbuka.
Mendengar pertanyaan Yoga, wajah Dimas berubah menjadi serius. Dia tampak tertegun beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari rasa penasaran Yoga.
"Kejadiannya beberapa waktu lalu, om." Dimas membenarkan posisi duduknya. Tampak serius, disertai amarah yang terpendam dari bola matanya yang seakan bangkit lagi. "Pisau itu melesat dari sasarannya."
Senyum ironi berkembang di bibir merahnya. "Harusnya aku yang merasakan rasa sakit itu, om. Tapi... entah gimana caranya gadis polos itu udah memasang badan menyelamatkan aku."
Sejenak, keheningan menguasai ruangan dingin ber-ac yang dipenuhi dengan bau khas dari obat-obatan itu.
"Kenapa? Apa kamu memiliki musuh?" Yoga tampak memperhatikan dan mengawasi setiap gerak-gerik Dimas. Namun, sekuat apapun dia menilai, tetap saja hanya ada setitik rasa bersalah yang efeknya sangatlah besar untuk Dimas.
"Aku memiliki musuh sejak aku mengenal Meila, om." Jawab Dimas jujur.
"Aku nggak akan tau kejadian sebelumnya kalo aku nggak pernah dekat dengannya." Kedua matanya memandang lurus diikuti dengan rahang yang mengetat. Mencoba mengingat sosok yang telah membuat gadisnya merasakan sakit. "Beno. Namanya Beno. Pria menjijikkan yang nggak pernah bisa menghormati wanita. Pria hina yang nyaris membuat gadis polos itu tercemar karena ulah biadabnya."
Yoga menghela napas, "Om langsung bisa memahami kalimat yang kamu ucapkan itu." Yoga menyela. Pria bertubuh tegap yang memakai jas putih khas seorang dokter itu tampak memandang Dimas dengan serius. Dia berusaha agar Dimas tidak perlu melanjutkan lagi kalimatnya. Sebab, kejadian itu sangatlah sensitif dan pastilah sangat memalukan bagi seorang wanita.
"Jadi..... itulah sebabnya dia tinggal bersama kamu?"
"Karena hanya dengan cara itu aku bisa mengawasi sekaligus melindunginya. Membuatnya merasa aman dan juga mempercayai aku sebagai satu-satunya orang untuknya bersandar. Aku nggak bisa membiarkan dia tinggal di rumahnya seorang diri."
Mendengar kalimat jujur sekaligus gentle dari Dimas, membuat Yoga menipiskan bibirnya membentuk sebuah senyuman tulus.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Dimas. Kamu melakukan apa yang seharusnya seorang pria sejati lakukan." Sergah Yoga menyela.
Dimas tersenyum, "aku cuma mengikuti perasaanku, om. Selebihnya... biar semuanya terjadi dengan sendirinya."
Yoga ikut membalas kalimat Dimas dengan senyuman pula. Dia berdehem ringan sebelum akhirnya berucap memutuskan.
"Jika kondisinya semakin membaik, besok dia sudah bisa keluar dari rumah sakit ini." Memberi jeda, Yoga menilai ekspresi Dimas. "Kamu bisa membawanya pulang bersama kamu." Sambungnya menimpali. Diikuti dengan seringaian lebar sambil membawa tangannya mengambil cangkir teh untuk di seruputnya.
Berpindah tempat ke ruang rawat, kamar itu masih penuh dengan suara canda tawa dari para gadis. Sedangkan para pria tampak mengawasi dan memilih menjauh ke sofa yang ada di seberang ranjang. Sampai sebuah ketukan dari seorang perawat memasuki ruangan dengan mambawa peralatan mandi untuk membantu Meila membersihkan diri.
"Nona Meila, saatnya bersih-bersih dan mengganti pakaian." Suara perawat itu dengan sopan.
Melihat perawat yang sedang menyiapkan peralatan untuk Meila, refleks Airin melihat pada jam dinding. Tanpa terasa karena terlalu asyik mengobrol dan bercanda, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Saking asyiknya kita, sampai nggak sadar kalo ternyata udah sore." Ucap Airin berkilah.
"Ya. Lebih baik kita balik dan biarin Meila bersih-bersih dan istirahat." Sahut Vika menimpali. Diikuti dengan para pria yang segera beranjak dari sofa.
"Thank you ya kalian udah mau repot-repot jenguk aku." Ucap Meila tulus dengan senyuman khasnya. "Aku senang banget. Aku tadi hampir bosan dan bingung mau ngelakuin apa."
Rendy berjalan mendekat. Tersenyum pada Meila seraya mengusap kepalanya lembut. "Cepet pulih ya, adik manis. Biar cepet masuk kuliah lagi."
Meila terkekeh sambil menjawab, "thank you, kak Rendy. Aku juga nggak sabar mau cepet-cepet masuk kuliah lagi dan bareng-bareng kalian lagi." Jawabnya dengan cengiran.
Semuanya tampak beranjak. Diawali dengan Airin yang memberikan pelukannya untuk Meila diikuti oleh Vika. Kemudian, bersiap-siap untuk keluar dari ruangan itu sebelum kemudian suara Vika menjadi penutup percakapan mereka.
"Kita semua balik ya, Mei. Get very well soon, dear!"
"Terima kasih sekali lagi." Sahut Meila lembut. "Hati-hati ya, kalian." Sambungnya lagi seraya melambaikan tangannya pada Airin dan yang lainnya yang mulai melangkah keluar ruangan.
●●●
Perawat itu memperlakukan Meila sangat baik. Mulai dari mempersiapkan alat mandi hingga baju ganti baru yang dibawakannya, sampai membantu Meila memakai baju terusan rumah sakit yang panjangnya sampai lutut. Lalu membiarkan gadis itu duduk di pinggir ranjang dengan kaki menggantung sambil sesekali diayunkan.
"Saya permisi, nona. Nanti akan ada perawat lain yang mengantarkan makan malam."
Sambil merapikan alat-alat mandi dan juga pakaian kotor, perawat itu memberitahukan jika tugasnya telah selesai dan akan ada perawat lain yang akan membawakan makan malam untuknya. Selanjutnya, perawat itu izin keluar dari ruangan sebelum kemudian mendapatkan ucapan terima kasih dari Meila karena telah merawat dan membantunya dengan sangat baik.
"Terima kasih, suster." Ucapnya lembut.
Beberapa saat setelah perawat itu pergi, pintu ruangan itu terbuka kembali. Menampilkan sosok pria bertubuh tinggi nan tegap yang sedari tadi sedang ditunggu kedatangannya. Pria itu baru saja datang setelah tadi pagi meninggalkannya untuk berangkat kuliah. Dan sekarang, dia kembali lagi padanya, di sampingnya, untuk menemaninya.
Melihat pria yang ditunggunya datang, sudah pasti membuat senyum di wajah Meila merekah. Wajahnya cerah layaknya anak kecil yang sedang menunggu ayahnya pulang dari kantor dengan membawakan mainan.
Sambil berjalan mendekat yang hanya berjarak lima langkah saja dari pintu masuk menuju ranjang, senyum Dimas pun tak kalah sumringah. Pria itu menghampirinya dan langsung memeluknya. Mendekapnya hangat sambil mendaratkan kecupan ringan ke atas puncak kepala Meila, pun sekaligus menghirup aromanya yang belum menyentuh indera penciumannya sejak tadi.
"Gimana percakapan kamu sama yang lain? Apa menyenangkan?" Sedikit menjauh dan menunduk, menatap gadisnya yang terlihat begitu segar nan manis.
Kepala Meila ikut mendongak, lalu tersenyum diikuti anggukan kepala.
"Sangat." Spontan, tangan mungilnya bergerak melingkari pinggang Dimas, "kak Dimas dari mana?" Tanyanya lembut dengan kedua mata sayu.
Melihat Meila yang bersikap manja, tatapan Dimas melembut seraya tersenyum. Tangannya bergerak menangkup sisi wajah Meila dan mengusap pipinya lembut.
"Aku habis dari ruangan om Yoga. Menepati janji aku kemarin sebelum kamu keluar dari rumah sakit ini." Ucapnya sambil merapikan anak rambut Meila yang sedikit menjuntai.
Sesaat, suasana berubah hening. Keduanya saling beradu tatap juga senyum. Jemari Dimas pun tidak henti-hentinya mengusap tulang hidung Meila yang mungil dengan lembut.
".....ben sana özledim,...." ucap Dimas berbisik. Meila sedikit membelalak dengan perkataan Dimas yang tiba-tiba namun juga sekaligus senang. Kedua matanya membelalak karena terkejut, sambil tersipu malu dan merona mendengarnya. Dia tidak pernah mengira jika Dimas akan mengatakan kalimat itu dalam bahasa lain.
Dimas sendiri tidak memerlukan Meila agar membalas ucapannya jika dia juga merindukannya. Dengan melihat tingkah dan sikapnya saja sudah cukup dari sebuah jawaban yang dia harapkan. Sampai-sampai, Dimas tidak tahan untuk mendaratkan sebuah kecupan mesra ke pipi mulusnya.
"Om Yoga bilang, jika kondisi kamu semakin membaik, besok kamu udah boleh pulang dari rumah sakit." Ucap Dimas seketika. Membuat mata Meila berbinar kesenangan.
"Seriously?" Ucapnya seolah tidak percaya.
Sambil tersenyum sekaligus mengangguk, Dimas menjawab. "Iya, sayang." Menjeda kalimatnya sejenak, Dimas pun berucap lagi. "Tapi.... dua hari lagi kita harus kembali ke rumah sakit untuk membersihkan luka kamu." Jemarinya bergerak, mengusap kedua pipi Meila dengan sayang.
"Setelahnya, dalam dua minggu sampai satu bulan kedepan, kamu harus rutin check-up minimal satu minggu sekali di awal minggu untuk mengetahui perkembangan pemulihan luka itu agar kita juga tau apakah ada luka dalam yang tiba-tiba muncul atau jahitan yang terbuka lagi kayak kemarin. Hm?" Dimas menjelaskan dengan kalimat paling lembut.
Masih dengan wajah yang menengadah, Meila mengangguk senang seraya menjawab ucapan Dimas.
"Iya. Aku janji." Sahutnya dengan suara pelan. Keduanya pun saling melempar senyum.
Dimas menunduk, mengecup ujung hidung Meila yang mungil lalu menggeseknya dengan ujung hidungnya sendiri dengan gemas.
"....thank you...." dengan suara pelan, Meila berucap manja. Mengeratkan tangannya pada lingkaran pinggang Dimas yang kokoh. Bersandar manja sambil melemparkan senyumnya pada Dimas yang langsung di balas dengan sebuah kecupan hangat ke atas keningnya, sebelum kemudian mendekapnya kembali dengan penuh kehangatan.