
Airin tampak sudah rapi. Dengan rambut dikuncir kuda serta jacket hitam, dirinya sedikit memoleskan liptint berwarna natural di depan cermin. Kemudian, tersenyum menatap pantulan dirinya yang terlihat girly dengan tatapan geli. Namun tak urung dia merapikan kembali penampilannya sebelum keluar dari kamar. Karena Bryant pasti sudah menunggunya di depan.
Ya! Sekitar satu jam yang lalu, pria itu menghubunginya jika dia akan menjemputnya satu jam kemudian dan meminta pada Airin untuk berpakaian rapi tanpa memberitahu maksudnya. Dan seperti perintahnya, saat ini Airin sudah rapi dan siap untuk di ajak kemanapun oleh Bryant. Meski Airin belum tahu, akan di ajak kemanakah dirinya oleh pria itu.
Dengan langkah ringan, Airin berjalan keluar kamarnya. Mengunci pintu rumahnya sebelum kemudian menghampiri Bryant yang sedang menunggunya dengan senyuman khasnya. Dengan kedua tangan dimasukkan ke kantung jaket kulit hitam yang senada dengan yang Airin pakai.
"Hai," Airin menyapa begitu langkahnya berhenti dan berdiri di depan Bryant. "Maaf, aku lama."
Braynt tampak menegakkan tubuhnya, menyusuri keseluruhan dari Airin yang tampak berbeda dan juga.... cantik!
"Nggak masalah kalo aku harus nunggu lebih lama lagi," terlihat senyum nakal dari wajahnya. "Apalagi kalo hasilnya secantik ini."
Pungkasnya kemudian dengan nada menggoda.
Pipi Airin merona seketika karenanya. Lalu, gadis itu tampak sedikit berdecak sambil meninju perut rata Bryant dengan pukulan ringan tanpa tenaga. Bryant pun langsung terkekeh melihat Airin salah tingkah, dan tercetak senyum kemenangan dari bibir Bryant yang tidak ditutup-tutupi.
"Udah siap?" Tanya Bryant tiba-tiba yang langsung mendapatkan tatapan bingung penuh tanya dari Airin.
"Kita mau kemana sih, kak? Besok masih ada satu hari kuliah lagi sebelum akhir pekan. Aku nggak mau telat masuk kuliah pertama karena dosen killer yang nggak bisa di toleransi." Celanya cepat penuh penjelasan dengan bibir mengerucut lucu.
"Nggak akan lama. Aku janji." Sahutnya cepat disertai kekehan kecil sambil mencubit pipi Airin dengan gemas.
Bryant lalu menghela napas ringan dengan tatapan teduhnya. "Kita cuma akan nonton. Aku janji, sebelum jam 12 malam nanti, kamu udah sampai rumah dengan selamat." Ucap Bryant penuh janji.
Airin tampak mengerlingkan matanya. Sudah lama dia tidak menonton film apalagi di bioskop. Dan sekarang, Bryant mengajaknya tanpa diminta. Membuat perasaannya senang sekaligus tidak sabar secara bersamaan.
"Kalo gitu, ayo kita berangkat. Atau nanti kita akan kemalaman." Pungkasnya tiba-tiba dengan kerlingan mata.
Bryant terkikik geli melihat tingkah Airin yang jauh dari kesan tomboy yang selama ini melekat padanya. Kemudian, langsung meraih tangan Airin sebelum kemudian memakaikan helm padanya.
Setelahnya, Bryant langsung menancapkan gas motor sportnya dan membawa Airin bersamanya.
●●●
Meila terbangun saat merasakan tenggorokannya kering. Sambil mengerjapkan matanya, Meila berusaha menarik diri dari rasa kantuk yang mendera hingga membuat matanya terasa lengket untuk membuka. Dilihatnya dirinya yang sudah terbaring di atas tempat tidur Dimas dengan Dimas disampingnya. Tangan pria itu terulur ke atas rambut kepala Meila seolah habis membelai rambutnya dengan lembut hingga akhirnya Meila terbuai semakin dalam dan terlelap.
Posisi Meila yang meringkuk dan posisi Dimas yang menunduk hingga bibir yang nyaris menyentuh kepala Meila, membuatnya menduga jika semalam pastilah Dimas yang membawanya ke tempat tidur saat dirinya terlelap dalam dekapannya karena kelelahan menangis, dan mengecupi pucuk kepalanya tanpa henti untuk memberi ketenangan. Dan seketika sebuah senyum simpul di bibir tipisnya terurai dengan raut wajah sedikit bersalah.
Perlahan, Meila menolehkan kepalanya ke meja nakas. Dilihatnya tidak ada air minum di sana. Dia baru ingat jika dia lupa untuk membawa air minum karena terlalu memikirkan kejadian kemarin.
Akhirnya, dengan gerakan paling pelan, Meila beranjak bangun dari tempat tidur, berusaha bergerak dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik yang akan membangunkan Dimas dari tidurnya.
Namun Meila salah, jika dia bisa keluar dan bergerak dengan mulus tanpa membangunkan Dimas, pria itu rupanya langsung merasakan adanya pergerakan di sampingnya hingga membuatnya mengerjap, dan segera menarik kesadarannya sepenuhnya dari rasa kantuk yang menyelimuti.
"Mau kemana? Kamu butuh sesuatu?" Suara Dimas terdengar parau, suara khas dari seseorang yang baru saja membuka mata dari tidurnya.
"A-aku.... aku mau mengambil air minum," sahut Meila dengan suara pelan.
Dilihatnya Dimas yang langsung melihat pada meja nakas sambil menegakkan tubuhnya untuk duduk di tempat tidur. Kemudian, menarik tangan Meila yang kakinya nyaris menyentuh lantai yang dingin untuk kembali naik ke atas tempat tidurnya.
"Biar aku yang ambil. Kamu tunggu di sini aja," Ucapnya lembut penuh perhatian. Dan kali ini matanya sudah membuka sempurna dan tampak segar.
Meila menatap Dimas dengan ragu, namun sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan mengerti disambut dengan senyuman Dimas sambil menggerakkan tangannya untuk meremas tangan Meila dengan lembut.
Dimaspun beranjak dari tempat tidur, melibaskan selimut yang menutupinya dengan pelan. Namun, saat kakinya sudah menyentuh lantai dan akan melangkah, tiba-tiba saja lampu padam dibarengi dengan suara pekikan kaget Meila di atas ranjang.
"Kak Dimas," suara Meila bergetar memanggil nama Dimas.
Sementara Dimas, dirinya sedang merogok meja nakas mencari ponselnya untuk menghidupkan lampu senter dari sana.
"Ssshh... aku di sini," ucap Dimas seketika kala dirinya berhasil menyalakan lampu senter. Mendekati Meila yang sedang meringkuk di kepala ranjang dengan wajah takut luar biasa.
Sambil menggenggam tangan Meila yang mulai terasa dingin, Dimas merogoh laci kecil untuk mengambil sesuatu. Dan dia menemukan lampu senter kecil elektric untuk diberikannya pada Meila.
"Kamu pegang ini," sambil meraih tangan Meila dan menggenggamkan lampu senter padanya. "Aku akan ambil air minum untuk kamu." Dilihatnya gadis itu yang masih ketakutan di matanya. Lalu, Dimas berucap kembali pada Meila untuk meyakinkannya. "Nggak akan lama. Aku janji." Pungkasnya kemudian diselipi senyuman meneduhkan.
Sesaat, Meila mengangguk meski terlihat masih ragu. Setelahnya, Dimas beranjak berdiri dan baru akan melangkahkan kakinya lagi saat sebuah tangan mungil menahannya dengan menarik ujung bajunya. Dimas pun langsung menolehkan kepalanya untuk memastikan.
"J-jangan lama-lama,"
Suara itu berasal dari Meila dengan bola mata menyalang bercampur panik, layaknya kucing mungil yang meminta elusan di bawah guyuran hujan. Terdengar serak, manja, dan penuh permohonan. Membuat Dimas tidak tahan untuk tidak menghadiahkan senyuman hangat disertai elusan kepala sayang dan juga kecupan lembut ke kening Meila.
"Nggak akan, sayang. Aku janji." Sahutnya dengan suara paling lembut.
Kemudian, setelah memastikan jika Meila sudah sedikit lebih tenang, Dimas langsung menggerakkan kakinya, melangkah dengan cepat menuju dapur, dan segera kembali untuk memeluk Meilanya lagi.
●●●
Sekembalinya Dimas dari dapur, dia memasuki kamar yang masih tampak gelap seperti tadi dia keluar. Dia mengarahkan cahaya ponsel ke arah ranjang untuk mencari Meila. Dan benar saja, gadis itu masih tetap meringkuk di kepala ranjang dengan tangan gemetar menahan takut.
Dimas berjalan mendekatinya, dan dengan spontan Meila langsung mendekat pada Dimas.
"Ini, diminum dulu," perintah Dimas seketika.
Sementara Meila menerima segelas air minum dari Dimas, tangan pria itu beralih merapikan rambut Meila yang menutupi sebagian wajahnya. Menyisirnya lembut menggunakan jemarinya. Beberapa detik kemudian, Meila memberikan gelas itu kembali pada Dimas yang langsung diletakkan ke atas meja nakas.
Dimas lalu menghela Meila untuk kembali berbaring dan kembali tidur, sementara dirinya menaiki ranjang dengan tangan menarik selimut untuk menutupi tubuh Meila. Didetik Dimas baru akan membaringkan tubuhnya, disaat itulah Meila malah duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Membuat Dimas menaikkan alisnya penuh tanya.
Meila diam tidak menjawab, namun tatapan matanya mengisyaratkan jika dia menyimpan sebuah pertanyaan di benaknya yang ingin ditanyakan pada pria itu.
"Apa... kak Dimas masih marah sama aku?" Pertanyaan konyol itu pun memasuki gendang telinga Dimas. Antara gemas, lucu, namun juga tidak tega saat tatapan mata polos dan sayu itu menatapnya
dengan tatapan penuh permohonan.
"Apa wajah aku menggambarkan itu?" Dimas menyahuti dengan sebuah pertanyaan dengan mata penuh selidik. Namun, tidak lupa juga untuk menyelipkan senyumnya di sana.
Dan betapa polosnya Meila ketika dia menatap Dimas dan langsung menggelengkan kepalanya.
Jika Meila bertanya apa Dimas masih marah padanya? Maka jawabannya sudah pasti tidak. Seberapapun rasa marah Dimas pada Meila, tetap tidak akan bisa melebihi rasa sayangnya pada gadis itu.
Dimas memang sedikit marah pada Meila tadi, tapi dia juga sadar jika sikap gadisnya itu pasti demi untuk menjaga perasaannya agar tidak lepas kendali karena emosi.
Perlahan Dimas ikut menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang dengan memiringkan tubuhnya ke arah Meila, diikuti dengan jemarinya yang beralih menjumput anak rambut gadis itu untuk diselipkan ke belakang telinga.
"Aku emang sempat marah karena kamu nggak berusaha jujur sama aku. Tapi itu semua udah sirna bersamaan dengan kata maaf yang tulus dari kamu. Bukan itu aja, rasa marah aku itu nggak akan lebih besar dari rasa sayang aku ke kamu, Mei." Tuturnya lembut dengan tatapan menusuk meneduhkan. "Dan kalo kamu tanya apa aku masih marah sama kamu, dengan lantang aku akan jawab 'tidak'. Karena apa? Karena nggak ada yang lebih penting daripada cinta melebihi apapun."
Ungkapan Dimas itu tanpa sengaja telah menyentuh hatinya hingga naik ke mata dan berkumpul menjadi buliran-buliran bening di pelupuk matanya. Mungkin juga karena suasana kamar yang tanpa cahaya juga karena menahan rasa takut akan gelap sejak tadi sehingga lebih mudah untuknya menangis. Tenggorokannya pun terasa panas, hingga tidak mempu untuk menahan ledakan dari isakan yang bergulir dari pangkal tenggorokannya.
"A-aku... aku... minta......." ucap Meila terbata disela tenggorokannya yang tercekat.
"Ssshhh...." sambil tertawa ringan dan membawa jarinya ke depan bibir Meila, Dimas langsung memahami apa yang akan gadis itu ucapkan. Kemudian bergerak turun untuk menangkup wajah gadis itu. "Jangan minta maaf lagi. Kamu udah mengatakannya berulang kali. Dan itu udah cukup buat aku."
Sungguh, jika yang ada dihadapannya bukan Dimas, Meila pasti sudah melarikan diri dari kemarahan seseorang yang mungkin akan meledak-ledak sehingga membuatnya takut bahkan trauma. Namun, karena yang bersamanya saat ini adalah Dimas, pria lembut penuh kasih sayang serta pengertian, dia malah semakin merasa bersalah karena telah menutupi kejadian yang mungkin akan mencelakainya lebih parah.
"A-aku janji, n-nggak akan menutup-nutupi la-lagi dari kak Dimas." Ucap Meila terbata.
Tatapan Dimas pun berubah sayang, disertai senyumannya yang hangat. Perlahan, pria itu membawa Meila ke dalam peluknya, mengecupi puncak kepalanya dengan kecupan-kecupan ringan menenangkan hingga berhasil membuat gadis itu melingkarkan lengannya manja dengan erat ke pinggang Dimas yang kokoh.
Suara isakan Meila sangat mendominasi ruangan gelap nan hening itu. Namun, bukan Dimas jika dia tidak bisa meredam isakan gadis itu dengan memberikan kata-kata menenangkan di dekat pelipisnya seraya mengecupinya.
Dan saat dirasanya Meila sedikit lebih tenang, Dimas menjauhkannya sedikit serta diberikannya kecupan ke kening gadis itu sebelum kemudian mengusap sisa air mata di pipinya.
Kemudian, mengajak Meila untuk kembali berbaring dan melanjutkan lagi tidurnya, mengingat waktu yang baru menunjukkan pukul 11.30 malam. Dimas menarikkan selimut untuk menutupi tubuh mungil Meila. Sementara Meila, langsung membawa tubuhnya mendekat, menyambut lengan kokoh Dimas yang direntangkan padanya.
"Good night, Sayang" ucap Dimas seketika sambil membawa kembali Meila ke dalam rengkuhan hangatnya disertai kecupan ke pelipisnya.
"Night too," sahut gadis itu kemudian sambil menyusupkan wajahnya ke lekukan leher Dimas yang hangat, diikuti dengan tangannya yang dilingkarkan pada pria itu dengan erat dan sikap manjanya.
●●●
Acara menonton pun akhirnya selesai. Ditandai dengan banyaknya penonton yang mulai berkerumun di ujung pintu teater lalu keluar dari sana. Ditengah kerumunan itu terlihat Airin dan Bryant yang berusaha memecah kerumunan pengunjung dengan saling bergandengan.
Sesekali mereka saling melempar pandangan, memasang wajah puas nan sumringah kala menikmati kebersamaan mereka.
Keduanya memilih film bergenre action-romance yang kebetulan sangat cocok dengan sifat tomboy Airin namun juga diselipi dengan keromantisan sebagai pemanis layaknya hubungan mereka.
Seperti janji Bryant tadi, yang akan membawa Airin pulang sebelum jam 12 malam dengan selamat, dan hal itupun ditepatinya. Saat ini, mereka sudah sampai di rumah Airin tepat pukul 11.45 malam. Mengantarnya tepat waktu di depan pintu gerbang rumah Airin yang sudah sangat sepi oleh penduduk komplek.
"Thank you buat ajakan nonton dadakannya. Aku suka!"
Airin berucap begitu turun dari jok motor Bryant seraya membuka helmnya. Tak lupa juga dia menyelipkan cengiran khasnya yang begitu jujur dari sana.
Bryant tersenyum sambil menerima helm yang Airin berikan, "sama-sama. Aku senang kalo kamu menyukainya."
"Mmm... kamu nggak mau mampir dulu?" Airin menawarkan pada Bryant, yang seketika langsung disambut seringaian nakal di sudut bibirnya yang menggoda.
"Kalo aku mampir, nanti malah nggak bisa pulang." Sahutnya meledek yang langsung disambut oleh tatapan membunuh dari Airin.
Hal itu membuat Bryant tergelak lepas, diikuti dengan tangannya yang meraih bahu Airin untuk mengusapnya lembut.
"Aku langsung aja biar kamu bisa cepat istirahat." Sanggahnya kemudian diselipi dengan nada pengertian. Airin mengangguk mengiyakan seraya menipiskan bibirnya.
Kemudian, secara tiba-tiba Bryant mengedarkan pandangan seolah membaca situasi. Dan, disaat waktunya tepat, tanpa peringatan pria itu mendaratkan kecupan singkat ke bibir Airin hingga gadis itu terperanjat kaget dan akan menghindar. Namun, sebelum Airin melakukannya, Bryant telah melepaskan bibirnya disertai senyuman nakal.
Airin merona, dan nyaris memarahi Bryant karena telah dengan sengaja mencuri ciuman dari bibirnya, jika saja kedua tangan Bryant sudah lebih dulu menangkup sisi wajahnya.
"Jangan marah-marah terus. Nanti cepet tua!" Ucapnya menggoda disertai ledekan yang kental.
Airin langsung mendengus kesal diikuti dengan helaan napas kasar. Entah mengapa rasa kesal sekaligus jantung yang berdegup kencang datang secara bersamaan.
"Yaudah, sekarang kamu masuk dan istirahat. Besok aku jemput, hm?" Perintah Bryant dengan menyela. Membuat Airin mau tidak mau mematuhi perintah Bryant mengingat waktu yang nyaris beranjak tengah malam.
"Baiklah. Aku masuk, ya. Kamu hati-hati. Jangan ngebut-ngebut. Dan.... sekali lagi, terima kasih buat ajakan nonton dadakannya."
Dan sungguh ajaib! Raut wajah Airin kembali berubah seketika menjadi sumringah. Membuat Bryant terkekeh disertai kekaguman yang nyata.
"Selamat malam, Sayang!" Ucap Bryant lantang sambil mengawasi perubahan kulit pipi Airin yang merona kembali.
"Se-selamat malam juga buat kamu," Sahutnya terbata dan salah tingkah.
Setelahnya gadis itu mulai membuka gerbang rumahnya. Kemudian masuk ke dalamnya dengan Bryant yang masih menungguinya dengan sabar hingga Airin menghilang di balik pintu dan penglihatannya.