
Tubuhnya menegang dengan mata membelalak, dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, wanita yang satu kampus dengannya dan sekarang, justru malah mengumpankannya pada sosok seperti Beno. Napasnya terengah dengan keterkejutan yang nyata, memandangi keseluruhan sosok wanita dihadapannya dari ujung kepala hingga kaki. Dan penampilannya saat ini sangatlah jauh berbeda dengan penampilannya sehari-hari ketika dikampus.
Sisil menyeringai tajam, sebelah bibirnya terangkat ke atas dengan senyuman penuh ironi. Sisil pun membungkuk, menelusuri wajah Meila yang saat ini masih terpaku kepadanya dengan tatapan tidak percaya.
"Udah ngeliatinnya? Gue tau kalo gue secantik itu sampe lo nggak bisa berkedip sedikitpun." Sisil berucap seperti meledek, tangannya terangkat untuk mengusap rambut Meila, namun seketika usapan itu berubah menjadi jambakan kasar hingga membuat kepala Meila terdongak keatas dengan paksa.
"Lo pasti bertanya-tanya kenapa gue bisa ada disini dan ikut campur tangan," wajah Sisil semakin mendekat, matanya menatap tajam dengan tatapan rasa iri yang tak terbendung lagi. "Ups! Sorry. Gue lupa kalo lo nggak bisa ngomong dengan mulut yang tertutup kayak gitu," tangan sebelah Sisil terangkat untuk menutup mulutnya sendiri seperti sedang terkejut, "sini gue bantuin buat buka mulut lo!" Dengan gerakan kasar, Sisil langsung menarik perekat yang menutupi mulut Meila hingga membuat Meila memekik sakit karena perekat yang ditarik oleh Sisil sangatlah kasar.
"Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku, Sil?" Dengan suara lemah dan gemetar, Meila berhasil mengeluarkan suaranya dengan terpaksa, ditengah tenggorokannya yang sakit dan terasa kering.
Sisil tersenyum licik berbalut kedengkian, wajahnya menggambarkan sikap jijik yang ia perlihatkan dengan terang-terangan. Sisil menegakkan tubuhnya, bersedekap dengan kedua tangan sambil mengamati Meila yang tampak pucat dan lusuh.
"Lo pikir... karena siapa gue kayak gini?" Sisil berbalik badan, berjalan mondar-mandir di hadapan Meila lalu berhenti tiba-tiba dengan suara menghentak dan mencengkram pipi Meila dengan kasar, "karena lo, cewek sok lugu!" Lalu menghempaskan kembali wajah Meila dengan kasar hingga wajahnya tertutup oleh rambutnya sendiri yang acak-acakan.
Dengan sikap hati-hati, Meila kembali menatap Sisil dengan wajah syok penuh tanda tanya luar biasa.
"A-aku? Kenapa sama aku, Sil? Apa salah aku sama kamu?" Meila menghempaskan rambut yang menutupi wajahnya sendiri sambil menunggu jawaban Sisil yang saat ini sedang menunduk menatap tajam padanya.
Sisil berdecih, memandang Meila dengan sikap jijik, "jangan sok lugu! Hanya karena lo, semua perhatian orang-orang cuma berpusat sama lo. Se-mu-a-nya!" Sisil menekankan kata-katanya. "Seolah cuma lo di dunia ini yang patut di perhatiin. Sedangkan gue, bagaikan sampah, yang udah dibuang, jangankan dipungut, diliat aja mereka udah jijik sama gue." Sisil mengeluarkan isi hatinya tanpa ditahan-tahan lagi sehingga membuat Meila membelalak.
Pandangan Meila masih belum berpaling, gadis itu justru mengamati wajah Sisil untuk mencari tahu kebenaran yang ada.
Apa Sisil iri sama aku? Ya! Udah jelas kalau Sisil sangat iri. Tapi kenapa?
Pertanyaan itu berkecamuk di pikirannya, jika dilihat-lihat dari sisi manapun, Sisil memang sudah menyimpan kedengkian terlalu lama. Namun kedengkian itu seolah ia simpan dan tutup rapat-rapat dan menunggu waktu yang tepat untuk diledakkan jika waktunya tiba.
"Kamu iri sama aku, Sil?" Meila akhirnya mengeluarkan kalimat kesimpulan melalui hasil pengamatannya.
Sisil tertawa, suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan hingga menimbulkan senyar aneh yang membuat Meila merinding mendengarnya. Kemudian Sisil menarik sudut bibirnya, lalu tersenyum penuh ironi setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Meila.
Sisil membungkuk kembali ke hadapan Meila, "Ya! Gue iri sama lo! Lo dapetin semuanya yang lo mau. Perhatian, kasih sayang, bahkan Cinta dari kekasih lo itu." Dengan sedikit membentak, Sisil meninggikan suaranya hingga membuat Meila berjingkat kaget dan berkedip.
Meila tidak pernah melihat kemarahan Sisil sampai seperti ini. Dia hanya mengenal Sisil ketika dikampus saat perkuliahan dimulai dan berakhir. Dan saat ini, Sisil membuka semua topeng yang ia sembunyikan rapat-rapat didepan Meila tanpa sisa, tanpa ada sedikitpun celah yang masih tersembunyi didalamnya.
Mata Meila mulai berkaca-kaca, didalam hati kecilnya ada sedikit rasa bersalah kepada Sisil karena secara tidak langsung, dialah yang menyebabkan Sisil seperti itu hingga menyimpan kedengkian padanya.
"Terus aku harus apa biar kamu nggak iri lagi sama aku, Sil? Apa yang harus aku lakuin biar kamu nggak salah paham lagi sama aku?" Air matanya mulai menetes, membasahi pipinya.
Sisil tertawa girang, ada rencana licik didalamnya. Wanita itu melirik Beno yang sedang bersedekap dan menyandarkan bokongnya pada ujung meja, yang dengan setia mendengarkan pembicaraan mereka tanpa bersuara, dan menunggu giliran untuk melakukan tugas selanjutnya.
Meila yang tidak hanya tinggal diam, rupanya mengikuti kemana arah lirikan mata Sisil yang tertuju ke Beno, hal itu semakin membuat Meila bergidik ngeri dengan mata membelalak. Jika sudah menyangkut dengan Beno, sudah pasti hal-hal diluar nalar akan pria itu lakukan, bukan?
Berbeda dengan Beno yang hanya sekedar dilirik oleh Sisil, pria itu melonggarkan sedikit tangannya yang tadi sedang bersedekap santai, bergerak dari tempatnya berdiri lalu beranjak menghela tubuhnya hingga berhenti tepat dihadapan Meila. Hawa-hawa mengerikan semakin terkumpul menjadi satu dan menguat, membuat Meila sesak dan ingin secepatngya keluar dari ruangan pengap minim udara itu.
"Lo nggak perlu ngelakuin apapun buat gue! Cukup diem aja dan nikmatin," tangan sisil mengapit pipi Meila menggunakan ibu jarinya dengan kencang, hingga membuat Meila memekik kesakitan dengan rahang yang terapit oleh Sisil, lalu berbisik didepan wajah Meila, "biar Beno aja yang ngelakuin sesuatu itu buat gue."
Insting Meila tidaklah salah, Beno dan Sisil sudah pasti telah merencanakan semuanya dengan matang, telah menyusun rencana yang ia siapkan dengan rapi.
Meila menatap Beno sejenak, membaca wajah pria itu yang hanya tersenyum dibalik wajah mengerikannya. Dadanya mulai dipenuhi kesesakan karena pikiran-pikiran aneh nan mengerikan mulai terkumpul di pikirannya.
"Apa yang kalian rencanakan? Tolong... tolong lepasin aku. Aku mohon." Pinta Meila memelas dengan air mata yang membasahi pipinya. Namun permintaan dari Meila itu rupanya tidak dihiraukan sama sekali oleh keduanya, mereka malah beranjak pergi meninggalkan Meila sendiri dengan pikiran penuh tanda tanya dan perasaan takut yang semakin memuncak.
"Tolong! Tolong lepasin, aku. Tolong keluarin aku dari sini. Aku mohon. Sisil. Beno." Meila terus saja berteriak sambil meronta, memohon untuk dilepaskan, namun Beno dan Sisil tidak menjawab sepatah kata pun atau menoleh sedikit saja, hingga mereka akhirnya keluar dan menghilang dibalik pintu itu dan menutupnya kembali.
Apa sebenarnya rencana mereka? Apa yang akan terjadi sama aku?
●●●
Semua anggota senat sedang mengadakan rapat mingguan untuk mengevaluasi sistem kerja mereka agar terus dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan kedepannya. Semuanya hadir termasuk Sisil yang sudah tergabung dalam anggota itu, kecuali Meila yang dikabarkan sakit oleh Rendy sebagai pembawa berita guna me-minimalisir kabar tentang diculiknya Meila oleh Beno.
Posisi Dimas saat ini hanya diam, tanpa kata juga tanpa suara. Pikirannya entah berada dimana ingin segera menemukan keberadaan Meila yang saat ini memenuhi pikirannya. Konsentrasinya terpecah, bahkan hanya terfokus pada Meila saja bukan yang lainnya.
"Oke semuanya, berhubung sekretaris kita, Meila, sedang tidak enak badan jadi kita persingkat aja rapat kita." Rendy menutup sesi rapat dengan segera, tidak seperti biasanya yang bisa memakan waktu sampai dua jam, kali ini cukup singkat, hanya tiga puluh menit selang sesi evaluasi.
"Ada lagi yang mau kalian tanyakan?" Sambung Rendy kembali di akhir sesi rapat. Tidak ada jawaban atau sanggahan sedikitpun dari setiap anggota, "oke. Kalo nggak ada hal lain lagi.... kita tutup sesi rapat kali ini. Terima kasih atas waktunya, sampai bertemu di rapat selanjutnya. Selamat siang."
Rendy beranjak dari kursi sambil setengah membungkuk tanda terima kasihnya. Begitupun dengan semua anggota lainnya yang juga bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan senat dengan tertib.
Berbeda dengan anggota yang lain yang langsung meninggalkan ruangan, Sisil justru terlihat sedang memasukkan beberapa file ke dalam tasnya, dirinya tampak begitu terburu-buru setelah mendapatkan sebuah pesan melalui ponselnya. Disaat yang bersamaan pula, tanpa sengaja Dimas melihat sebuah gantungan kunci berbentuk replika menara eiffel berlapis emas yang sangat mewah yang tidak asing baginya.
"Gantungan kunci itu..... kayaknya nggak asing. Gue pernah ngeliat itu. Tapi dimana?" Dimas berucap tanya dari dalam hatinya. Dia mulai berpikir keras dengan mengerutkan keningnya dalam, mencoba menggali ingatannya yang tersimpan.
Sisil sudah selesai merapikan semua file-file nya kedalam tasnya dan keluar meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru dan setengah berlari seperti akan pergi ke suatu tempat.
Dan beruntungnya, Dimas akhirnya bisa mengingat dimana ia pernah melihat gantungan kunci itu dengan jelas.
Gantungan kunci itu.... gantungan kunci yang gue liat di kamera cctv! Dan itu berarti..... Sisil....
Dan betapa terkejutnya Dimas dengan dugaannya sendiri. Jika memang Sisil yang ada di cctv, itu berarti Sisil lah yang selama ini membantu Beno, bukan? Mungkinkah Sisil yang selama ini membuka jalan buat Beno hingga bisa dengan leluasa memasuki celah untuk mengganggu Meila?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dikepala Dimas, hingga dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengejar Sisil tanpa berpikir ulang sebelum kehilangan jejak dan akhirnya menyesal.
Dimas langsung berlari meninggalkan ruangan senat tanpa sepatah katapun. Dengan meninggalkan Rendy yang masih berbicara dengan beberapa anggota senat tanpa berpamitan terlebih dahulu.
●●●
Dengan langkah terseok-seok, Meila berusaha beranjak berdiri untuk menggapai pintu keluar. Dirinya telah berhasil membuka ikatan di kaki dan tangannya menggunakan sepotong pisau cutter yang entah dari mana datangnya sudah ada di atas meja.
Dengan tubuh lemas dan wajah pucat serta tenggorokan yang kering, Meila berusaha membuka pintu yang ternyata telah dikunci dari luar dengan sangat rapat.
"Aku harus cepet keluar dari sini," dengan perasaan harap-harap cemas, wajahnya menoleh ke segala arah, mencari alat apa saja yang bisa ia gunakan untuk membuka pintu itu.
Namun sayang, ia tidak menemukan apapun lagi selain potongan cutter yang tadi ia gunakan untuk membuka ikatan ditubuhnya. Jika saja ia menemukan sebuah paku atau benda apapun itu yang berbentuk runcing, itu akan memudahkannya untuk membuka pintu itu.
Siapapun tolong aku...
●●●
Dimas semakin dibuat bingung dengan alur perjalanan yang semakin tidak beres ketika ia harus mengikuti Sisil melewati jalan-jalan sempit dan hampir dibilang kumuh seperti jalan tikus yang setelahnya keluar menembus menuju jalan setapak panjang yang jauh dari kawasan penduduk.
"Mau kemana dia sebenernya?"
Dimas terus saja mengikuti laju mobil Sisil yang tentunya dengan menjaga jarak, dia tidak ingin Sisil curiga kalau Dimas sedang mengikutinya secara diam-diam.
Digudang tempat Meila disekap, sudah ada Beno yang entah datang dari mana sudah menghentikan rencana Meila yang ingin melarikan diri darinya. Meila tertangkap basah saat sedang mengotak-atik knop pintu, tapi tanpa disangka sebelum Meila berhasil menariknya, Beno lah yang terlebih dahulu mendorong knop pintu hingga Meila terjatuh ke lantai.
"Wow! Rupanya cerdas juga, ya?" Beno berucap dengan nada mengejek. "Tapi nggak semudah itu lo bisa lari dari sini." Beno menutup pintu dibelakangnya dan menghampiri Meila yang saat itu masih belum bangun dari jatuhnya.
Meila hanya memundurkan tubuhnya yang lemah menggunakan bokongnya yang diseret.
"Aku mohon, Beno. Biarin aku keluar dari sini." Meila masih terus memohon hingga tanpa sadar, tubuh belakangnya sudah menabrak tembok hingga dia tidak bisa bergerak lagi.
"Lo boleh keluar dari sini," Beno berjongkok didepan Meila, "tapi, setelah gue melakukan tugas gue." Tangannya dengan kurang ajar disentuhkan ke kulit tubuh Meila yang gemetaran, Beno sama sekali tidak mempedulikan penolakan Meila yang saat itu menggunakan tangannya untuk menepis tangan Beno dari tubuhnya.
Meila mulai menangis ketakutan, dia tidak bisa membiarkan trauma dan serangan paniknya muncul disaat sedang terdesak seperti ini, jika tidak Beno akan memanfaatkannya untuk melancarkan rencananya, bukan? Tapi tidak ada yang bisa Meila lakukan saat ini, tubuhnya terlalu lemah dan lelah, dirinya terasa lemas hingga tak sanggup lagi untuk memberontak.
Sisil sudah sampai didepan pintu besar yang tampak seperti gudang tempat Beno dan dirinya bertemu. Dengan terburu-buru, Sisil langsung keluar dari kursi kemudinya lalu berlari menuju pintu masuk yang terlihat pengap dan tidak layak untuk ditempati.
Dimas pun mengikuti alur Sisil dengan hati-hati, dengan langkah pelan dan tidak menimbulkan suara. Dia semakin yakin bahwa ada yang disembunyikan wanita itu di dalam gudang besar dan pengap ini. Dan ia yakin, kalau yang disembunyikan itu adalah Meila, gadisnya.
●●●
Sisil memasuki ruangan dengan langkah khas suara high heels nya. Didetik itu pula dua orang didalam, Beno yang terlihat antusias dan penuh nafsu, dan berkebalikan dengan Meila yang sedang ketakutan dan berurai air mata serta tubuh yang gemetaran, menolehkan kepalanya secara bersamaan ketika Sisil memasuki gudang.
"Gue pikir lo udah bertindak duluan tanpa menunggu gue." Ucap Sisil dengan tawa ironinya yang licik.
Beno terkekeh, "lo pikir, siapa yang akan merekam kalo bukan lo, Sil?"
Mereka tertawa bersama, yang tentunya tertawa yang membuat Meila semakin bergidik ngeri hingga dengan refleks memeluk tubuhnya sendiri.
"Ap-apa maksudnya? Apa yang kalian rencanakan?" Dengan setengah terisak, Meila mengeluarkan suaranya yang serak dan hampir tersekat.
Sisil merogoh tasnya dan mengeluarkan benda berbentuk pipih dari dalam sana dan memposisikannya ke arah Beno dan Meila dengan mode perekam video.
"Lo nggak usah banyak tanya, cukup nikmatin aja. Biar gue yang ambil alih untuk merekam setiap desahan sensual lo itu," Sisil tertawa licik, "gue pengen tau, apa kekasih lo itu masih mau sama lo ketika ngeliat video ini sampe ke tangannya?" Sisil tertawa puas melihat kepanikan Meila yang nyata dengan berderai air mata.
Meila semakin ketakutan, otaknya terasa beku tidak dapat berpikir. Tubuhnya sudah tidak mampu memberontak lagi.
"Lo udah siap?" Sisil bertanya pada Beno seakan memberi kode.
Beno menarik ujung bibirnya, disempatkannya melirik ke arah Meila dengan wajah memerah menahan hasrat yang sudah lama tependam.
"Untuk yang satu ini......." tangannya mulai menggerayangi setiap inci tubuh Meila. "Gue selalu siap. Kapanpun!" Sambung Beno menjawab dengan nada sensual yang kental hingga mampu membangunkan bulu-bulu halus di sekujur tubuh Meila yang ketakutan.
Tanpa aba-aba, Beno memajukan tubuhnya hingga merapat ke tubuh Meila. Mendorongnya dengan paksa hingga Meila terbaring jatuh dengan terpaksa, kakinya langsung menghimpit kedua kaki Meila hingga tidak memungkinkan gadis itu untuk meronta.
"Jangan Beno! Jangan. Aku mohon, lepasin aku." Teriak Meila disertai isakan.
Beno terus saja mendesak Meila. Hasratnya sudah semakin memuncak melihat Meila yang menggeliat dalam tindihannya yang rapat. Beno sudah tidak mempedulikan lagi rontaan demi rontaan Meila hingga tangan mungilnya ia gunakan untuk mendorong tubuh Beno yang terasa sangat berat diatasnya.
Beno semakin tidak sabar, ia merobek baju Meila hingga memperlihatkan kulit bahu mulusnya yang menggiurkan dan semakin membuat Beno menelan air liurnya berkali-kali.
"Lo bikin gue semakin bergairah, Sayang. Gue nggak sabar untuk segera mencicipinya." Setelah berucap, Beno langsung mendesakkan kepalanya ke lekukan leher Meila yang terasa hangat. Meila meronta-ronta ditengah aksi Beno yang mulai buas. Kakinya menendang-nendang namun tidak membuahkan hasil.
Meila semakin terisak, mendorong Beno sekuat tenaga agar lelaki itu beranjak dari atas tubuhnya.
"Tolong! Lepasin aku. Aku mohon. Tolong!" Meila terus berteriak, mengerahkan seluruh tenaganya yang masih tersisa.
Didetik yang bersamaan, sebuah pintu didobrak oleh seseorang dengan suara tendangan yang memekakan telinga. Sisil yang sedang asik merekam, tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya ke lantai dengan mulut menganga dan wajah terkejut bukan kepalang.
Dimas? Gimana dia bisa ke tempat ini?
"Brengsek! Lepasin dia." Dimas menendang punggung Beno hingga tersungkur ke lantai yang saat itu masih belum beranjak dari tubuh Meila.
"Kak Dimas..." ucap Meila dalam hati dengan isakan yang tak tertahankan. Dia beranjak bangun dan memeluk tubuhnya sendiri sambil sesekali menutupi tubuhnya yang ter-ekspose bekas robekan tadi.
Dimas terus memukuli Beno tanpa memberikan kesempatan pada lelaki itu untuk membalasnya. Dia menendang Beno hingga tersungkur, tapi rupanya Beno masih belum juga menyerah, lelaki itu bangkit dan berbalik akan memukul Dimas, namun Dimas lebih cepat untuk menepisnya. Dimas memutar tangan Beno dan menahannya, lalu memukul wajah Beno hingga darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Sisil yang saat itu bingung harus melakukan apa, dia malah melarikan diri dengan meninggalkan ponselnya yang masih merekam dan tidak mempedulikan Beno yang saat itu masih dipukuli oleh Dimas seperti orang yang kesetanan.
Dimas mencengkram kerah baju Beno, terlihat jelas Beno yang mulai lemah karena beberapa pukulan yang dilayangkan Dimas padanya, wajahnya hampir babak belur dengan memar diseluruh wajah sekaligus darah segar yang tak henti-hentinya keluar dari sudut bibirnya.
"Beraninya tangan kotor lo itu menyentuh dia?! Lo harus bayar setiap inci yang udah lo sentuh dengan darah lo itu!" Dimas kembali memukul Beno dengan kasar, dan tanggapan Beno malah seringaian licik serta kekehan kejam yang menghiasi wajahnya.
Beno terjatuh sambil memegangi bibirnya yang mulai terasa perih, dia beranjak bangun dan terhuyung. Dan sungguh diluar dugaan, Dimas yang sudah bersiap-siap untuk memberikan pukulannya kembali ke wajah Beno, lelaki itu justru kabur melarikan diri dan pergi dari gudang itu, Dimas dengan cepat mengejar Beno, namun sebuah suara yang lemah, suara yang sangat ia rindukan, dan juga suara yang menyesakkan, memangil namanya dengan lembut menahan isakan.
"Kak Dimas..."
Dimas menghentikan langkahnya, dia membatalkan niatnya untuk tidak mengejar Beno dan Sisil kali ini. Ada hal lain yang jauh lebih penting dan harus ia prioritaskan terlebih dulu. Akan ada saatnya nanti ia melampiaskan kembali dan memberikan hukuman kepada dua orang itu.
Dimas berlari dengan cepat menghampiri Meila yang telihat sedang menyandarkan tubuhnya di sudut tembok dengan rambut acak-acakan dan tubuh yang menyedihkan. Wajahnya dipenuhi air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.
Dimas mengampiri Meila dengan hati-hati, "Sayang..." Dimas berucap pelan sambil berjongkok dihadapan Meila yang saat itu sedang menatapnya dengan mata yang sudah tidak mampu lagi menampung air matanya. Jika Dimas mau, dia bisa saja langsung bergerak maju dan menarik Meila kedalam pelukannya, tapi ia tidak mau ketergesaannya justru malah semakin membuat gadis itu trauma. Namun Dimas tidak diam begitu saja, ia mengangkat tangannya untuk meraih tangan gadis itu secara perlahan. Dan tanpa diduga pula, Meila lah yang lebih dulu menghambur ke dalam pelukan Dimas dan memeluknya erat. Menumpahkan seluruh rasa takutnya yang ia pendam hampir dua puluh empat jam lamanya.
"Ssshhh... semuanya udah berakhir, Sayang. Kamu udah bersama aku sekarang." Bibir Dimas bergerak untuk mengecup pelipis Meila.
Dimas terus mengusapkan tangannya ke punggung Meila yang bergetar karena tangisannya. Mengecup pucuk kepalanya, menciumi wajah gadisnya, menenggelamkan wajahnya ke kelembutan rambut Meila, menghirup aroma bayi dari tubuh Meila yang menyenangkan baginya. Isakannya tak terelakkan lagi, cengkraman tangannya di punggung Dimas terasa kencang seiring dengan isakannya yang juga mengencang hingga menusuk ke telinga dan mampu menyentuh hatinya hingga terasa sakit. Begitupun dengan Dimas yang semakin erat memeluk gadisnya, seolah tidak akan membiarkan siapapun membawanya lagi dari pelukannya.
Dimas lega akhirnya ia bisa menemukan Meila dengan tidak membiarkan lelaki itu bertindak lebih jauh lagi. Ia tidak sanggup membayangkan kalau sedikit saja, gadisnya itu terluka fisik maupun mental yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya.