
Mereka akhirnya memutuskan untuk menikmati waktu akhir pekan di sepanjang taman tempat mereka memarkirkan kendaraan sebelumnya. Setelah mereka selesai di toko kue, dengan bijak Dimas memberikan sekantong besar berisi bermacam rasa cheese cake pada Meila. Dengan sedikit rasa canggung dan sedikit menekan rasa malunya, Meila menerima sekantong besar itu dari tangan Dimas.
Meila mengutuk dirinya sendiri, mungkin di lain waktu ia harus memperhatikan porsi makannya terlebih lagi jika menyangkut makanan manis terutama cheese cake. Setelahnya, mereka keluar beriringan dengan di antar oleh Bram selaku asisten manajer sebagai ucapan pengantar kata terima kasih.
Jarak antara toko kue menuju taman hanya berkisar 20 langkah, terhitung dari pintu keluar toko sampai gerbang tempat palang pintu parkir di letakkan. Situasi jalanan masih sangat ramai. Jika di wilayah-wilayah tertentu hanya memberlakukan car free day dari pukul 6 pagi sampai pukul 12 siang saja, berbeda dengan taman kota tempat mereka kunjungi sekarang, taman itu akan terus ramai seriring dengan bertambahnya waktu sampai waktu petang menjelang nanti.
Dimas menekan tombol kunci otomatis mobilnya sampai terdengar bunyi 'bibip' tanda pintu sudah bisa dibuka dan di kendarai. Dimas membuka pintu kemudi, perhatiannya teralihkan ketika melihat Meila yang masih berdiri mematung sambil melihat sekeliling taman dan tak henti-hentinya menatap takjub keseluruhan isi dari taman itu. Seketika itu juga hati Dimas melembut, entah kenapa rasanya ingin sekali untuk selalu menyenangkan hati gadis yang sedang bersamanya itu. Ditutupnya kembali pintu kemudi yang telah dibukanya, dihampirinya Meila dan diambilnya sekantong besar berisi cheese cake itu kemudian dimasukkannya ke dalam kursi mobil bagian belakang sampai memasang seulas senyum penuh tanda tanya.
Kebingungan Meila akan sikap Dimas membuatnya mengerutkan kening dalam tanda heran. Namun, sebelum ia berhasil mengeluarkan kata protesnya Dimas sudah langsung berucap kata.
"Baru jam setengah empat sore. Masih ada 2 setengah jam lagi waktu petang tiba sebelum taman ini tutup. Gimana kalo kita masuk kesana?" sambil menunjuk sedikit dengan dagunya dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Meila. "Ada danau cukup luas didalam yang pasti akan membuat kamu suka."
Ajakan itu terngiang di udara dibarengi dengan angin yang bertiup kencang di waktu sore sehingga membuat rambut Meila bertiup tak beraturan entah kemana. Tangan Meila bergerak berusaha menyingkirkan anak rambut yang tadi berhembus menutupi sebagian matanya dan merapikan sebisanya. Namun gerakannya ditahan oleh tangan kekar Dimas. Dimas mengambil alih, dia menjumput anak rambut Meila dengan lembut dan menyelipkannya ke belakang telinga. Meila tersentak tak berkedip, perlakuan cowok didepannya ini selalu mengejutkan. Pandangan mata mereka saling bertemu selama beberapa detik.
"Cantik!" kata itu keluar dari bibir Dimas dengan jarinya yang masih menempel di telinga ketika menyelipkan anak rambut Meila tadi. Dimas memang tak menyembunyikan keterpesonaannya kali ini. Mungkin karena kedekatan mereka yang hampir tanpa jarak atau karena tatapan Dimas yang terlalu terlihat. Seketika itu juga rona merah langsung menjalar di pipi bahkan seluruh wajah Meila. Bukan karena terik matahari sore yang masih setia menemani, melainkan atmosfer suhu antara mereka yang membuat panas.
Dimas tak bisa menahan kekehannya, dan di saat bersamaan tangannya naik ke puncak kepala Meila dan menghadiahkan usapan lembut nan gemas namun mengandung rasa sayang didalamnya. Seketika itu juga Meila mengalihkan pandangan ke segala arah berusaha memutus tatapan mereka yang hampir membuat oksigen disekitar mereka habis.
Ya ampun... hampir aja gue kehabisan nafas! Bener-bener ya, sikap cowok didepan gue ini gak bisa ditebak. Padahal sekuat tenaga gue gak bersikap hal-hal yang bisa memancing dia..hufft!
Meila terus saja menggerutu dalam hati. Jika saja Dimas bisa mendengar atau membaca pikirannya, mungkin dia sudah di tertawakan oleh Dimas dengan segala ke absurd-annya.
●●●
Danau itu sangat luas. Jika tadi diluar sana Dimas mengatakan pada Meila bahwa, 'ada danau cukup luas didalamnya', hal itu berbeda bagi Meila. Dengan sisi kanan dan kirinya dihiasi berbagai macam warna bunga, ada sejumlah burung angsa yang sedang berenang-renang di dalamnya dan tak lupa juga daun teratai yang mengapung di permukaan air dengan bunga yang bermekaran semakin menambah nilai indah didalamnya.
Dimas langsung mengajak Meila menuju danau begitu melihat raut wajah Meila sangat antusias mendengar perkataannya. Semakin sore tiba, semakin bertambah pula pengunjung yang datang. Dimas berusaha menjaga Meila layaknya bodyguard untuk melindungi Meila agar tak tersenggol atau tiba-tiba saja hilang ditengah kerumunan banyak orang. Sampai sesekali dia harus menggenggam tangan Meila hanya untuk sekedar menariknya keluar ketika kerumunan pengunjung mulai datang bergerombol layaknya pasukan ikan predator menghampiri umpan.
Sekarang mereka sedang duduk di bangku taman didepan danau tempat dimana Meila menyukai spot area tersebut.
Semakin sore angin semakin sejuk, seiring dengan waktu petang yang semakin mendekat, pengunjung mulai berdesakan mencari area ternyaman untuk mereka menyaksikan sunset dengan area taman seperti lapangan terbuka hijau. Beruntung, Dimas dengan cepat mengajak Meila untuk duduk seakan ia tau bahwa akan ada banyak orang yang mencari tempat duduk ternyaman untuk menyaksikan senja sore sebelum petang tiba.
"Kamu sering kesini kak?"
Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar keluar dari mulut Meila sambil memiringkan kepalanya ke arah Dimas. Dengan pencahayaan remang dikarenakan lampu-lampu taman yang belum sepenuhnya menyala, membuat Meila justru semakin cantik di hadapannya. Dimas bergeming, hal itu membuat Meila sedikit terusik dengan kediaman Dimas.
Meila mengerutkan keningnya ketika tak ada jawaban dari mulut Dimas. "Kak...?" dia berusaha menggerakkan tangannya untuk mengalihkan pandangan Dimas. Hanya beberapa detik Dimas langsung menanggapi, dia berdehem sebelum akhirnya menjawab. "O-oh itu.. iya. Dulu waktu SMA." jawabnya masih dengan seulas senyum.
Meila hanya ber-oh ria mendengar jawaban Dimas. Namun, jawaban itu langsung menggelitik rasa ingin tahunya. Dia langsung menoleh lagi ke arah Dimas.
"Tau dari mana kamu? Sok tau deh.." Dimas mencolek ujung hidung Meila dengan lembut. Sikapnya terlihat santai ketika menjawab. Jika kebanyakan pria akan gugup jika ditanya atau disinggung sedikit saja tentang pasangan di masa lalu, hal itu tidak bagi Dimas.
"Aku gak pernah kesini sama cewek sebelumnya. Mungkin waktu dulu, saat SMA, aku kesini sama cewek, tapi bukan hanya berdua tapi ada beberapa cowok lainnya, dan itupun untuk kepentingan tugas kelompok yang ditempatkan di sebuah taman ini. Bukan kayak 'kita' sekarang."
Ada sedikit penekanan ketika Dimas berucap di kalimat terakhir. Tersimpan nada misterius penuh maksud ketika terngiang di udara dan masuk ke telinga. Rupanya Dimas sudah mulai menggoda Meila tanpa aba-aba. Meski sekuat tenaga dia berusaha untuk tak menggodanya, namun hal itu sangat sulit ketika dilakukan. Hingga akhirnya tanpa sadar berjalan begitu saja tanpa terkendali.
Dimas memang tak pernah mengajak wanita manapun ke taman ini. Hanya dengan Meila lah dia mengajaknya, bisa dibilang Meila adalah cewek istimewa yang berhasil dia ajak ke tempat ini. Karena Dimas tau, kebanyakan cewek diluar sana akan memilih menghabiskan waktu akhir pekannya dengan menghabiskan uang orang tua mereka dengan berbelanja barang-barang ber-merk dan pulang larut malam. Tetapi, ketika bersama Meila hari ini, tanpa pikir panjang dan menimbang-nimbang dia langsung berinisiatif mengajak Meila ke tempat yang sebagian besar disukai anak-anak pada umumnya.
Ketika tak lama senja tiba, semua pengunjung sibuk mengabadikan moment indah itu dengan ponsel mereka masing-masing. Ada yang saling bergandengan, memeluk, duduk-duduk santai, seketika itu pula suasana berubah riuh rendah sambil memusatkan konsentrasi masing-masing.
Meila seolah tak berkedip melihat pemandangan memanjakan mata itu. Matanya berbinar, menyala dengan sinar ketakjuban luar biasa yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Berbeda dengan Dimas yang sama sekali tak menghiraukan senja atau apalah itu. Yang ia hiraukan saat ini hanyalah ekspresi raut wajah gadis di sampingnya dengan keterpesonaan yang nyata, lebih indah dari apa yang orang-orang sedang saksikan saat ini.
"Kak, lihat! Indah banget warna langitnya."
Meila berusaha mengucapkan kata-kata itu sambil menunjuk ke arah langit tanpa menolehkan kepalanya pada Dimas seakan memberitahukan padanya bahwa apa yang dilihatnya saat ini benar-benar sangatlah indah di pandang oleh mata telanjang.
"Iya... Indah! sangat indah. Bahkan ini paling indah dari apapun."
Maksud ucapan Dimas bukan pada apa yang dimaksudkan Meila, melainkan 'indah' menurut persepsi nya sendiri dengan mata menyalang menatap penuh pesona pada Meila.
Rupanya kalimat terakhir Dimas berhasil mengusik indra pendengaran Meila. Kepalanya langsung menengadah ke arah Dimas, didapatinya Dimas sedang menunduk menatapnya dalam penuh pesona. Mereka saling bertatapan, 10 detik lamanya atmosfer di antara mereka tercipta sampai Meila yang terlebih dulu mengalihkan pandangannya kembali ke tempat dimana dia menatap langit senja. Namun, pergerakannya ditahan oleh jari Dimas dengan menarik lembut dagu Meila untuk menengadah kembali kepadanya, Meila sedikit tersentak, jantungnya berdegup kencang tak beraturan, Dimas semakin menunduk, memajukan tubuhnya hingga kedekatan mereka tak berjarak.
Hidung mereka saling menempel, Dimas menunduk dalam dan memiringkan kepalanya hingga bibir mereka bertemu. Dimas mencium Meila dengan lembut, menangkup sisi wajah Meila dan mengecupnya dengan kelembutan yang tak pernah ia berikan pada wanita manapun sebelumnya. Meila sedikit terkejut namun seketika itu juga ia langsung bisa menguasai dirinya dan memejamkan matanya seolah menerima perlakuan lembut yang diberikan oleh Dimas kepadanya.
Ciuman itu cukup singkat namun dalam. Ketika Dimas melepaskan pertautan bibir mereka, dia tak langsung melepaskannya begitu saja, Dimas masih menahan wajah Meila dengan menangkup sisi kanan dan kiri wajahnya. Dimas bisa merasakan Meila yang masih memejamkan mata sedang berusaha mengatur nafasnya.
Dimas masih memperhatikan Meila sambil memasang senyumnya. Dengan wajah mereka yang masih menempel, malah semakin membuatnya gemas. Perlahan mata Meila terbuka setelah dia berhasil menetralkan lagi nafasnya. Rupanya Dimas sedang memperhatikannya sejak tadi, dengan pipi merah menahan malu, Meila berusaha menunduk tak mau menatap mata elang Dimas yang tajam namun meneduhkan itu. Tapi, lagi-lagi hal itu tertahan oleh tangkupan tangan kekar Dimas di pipi Meila sambil memasang seulas senyum manis dengan lesung pipi mengintip di sela sisi pipinya.
"Is that your first kiss..?"
Meila tak pernah mengira bahwa Dimas akan menanyakan hal itu kepadanya. Pipinya yang sudah hampir senada dengan warna kulitnya, merona kembali hanya karena pertanyaan itu. Meila hanya diam dan menunduk malu, kali ini Dimas tak menahannya, namun keterdiaman Meila sudah bisa menjawab semua. Entah kenapa tingkah Meila yang malu-malu seperti itu malah semakin melembutkan hatinya. Ditangkupkan lagi tangannya ke sisi wajah Meila, membuat Meila mau tau mengangkat dan menatap Dimas tanpa perlawanan, kemudian dibawanya Meila kedalam pelukan dan ditenggelamkannya wajah Meila ke dalam dadanya yang bidang untuk menutupi wajahnya yang merah merona menahan malu.
Secara alami Meila menerima pelukan Dimas kepadanya dengan dirinya yang bisa merasakan Dimas yang masih tersenyum karena sikapnya.
"Maafkan aku yang nggak bisa mengontrol diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk nggak melakukan hal-hal diluar kendali, namun hal itu sirna ketika melihatmu dengan gemas seperti gadis kecil dan aku, layaknya seorang pria yang gak tahan akan tingkah gemas lawan jenisnya. Anggap saja hari ini layaknya kencan yang tak terjadwalkan."
Meila hanya terdiam mendengar alunan kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Dimas. Bahkan dia bisa merasakan senyum Dimas yang semakin menguat seiring denga semakin erat pelukannya. Dia tak membantah, apalagi menolak, yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk memasang wajahnya lagi didepan Dimas nanti setelah adegan romantis nan singkat tadi terjadi diantara mereka.