
Meila mengerjapkan mata, membuka matanya secara perlahan yang masih berkabut. Suasana kamar yang dimasuki cahaya cerah matahari, serta suara burung yang berkicauan saling bersautan, menambah kesan asri pemandangan pagi ini.
Pandangannya terpaku pada sosok pria tegap dihadapannya yang masih dengan setia memeluknya dengan erat namun tidak menyakiti. Mata polos Meila mulai menyusuri setiap sudut wajah Dimas yang tampak berseri dan sangat menawan jika diperhatikan lebih dekat. Alis mata tebal serta bulu mata yang lentik, batang hidung yang kokoh menonjol serta rahang tegas, pipi yang menyimpan lesung pipi yang dalam sehingga menambah kesan manis jika dipandang. Ditambah dengan bibir ranum yang sedikit tebal dan memerah, yang membuat wanita manapun akan menelan ludah karena godaan yang nyata.
Ketika matanya terpaku pada bibir Dimas yang merah merekah, seketika itu juga matanya membelalak dan dengan refleks menyentuh bibirnya sendiri dengan jarinya disertai dengan jantung yang berdegup kencang. Otaknya secara tidak langsung mengingat setiap kecupan-kecupan yang Dimas berikan untuknya.
Astaga! Mikir apaan sih, gue? Masih pagi juga! Jangan mikir macem-macem, Meila!
Disertai gelengan kepala yang kuat dan sambil menutup matanya dengan telapak tangan, tanpa sadar telah membuat Dimas tersenyum geli tanpa suara karena tingkah gadis yang ada dipelukannya. Oh Jelas! Dimas sudah bangun dan sadar sedang diperhatikan oleh Meila yang langsung bersikap canggung dan tersipu malu. Namun pria itu memilih diam dan membiarkan gadisnya itu berimajinasi layaknya sedang membaca Novel seperti kebiasaannya.
Setelah berhasil mengatur napasnya dan mengatasi degub jantungnya yang kencang, secara perlahan Meila mulai bangun dan beranjak dari posisi tidurnya tanpa suara sebelum pria itu terbangun karena tersadar dengan tingkah anehnya.
Tapi Meila salah, diluar dugaan, sebuah tangan kekar menarik pinggangnya dengan posesif membuat Meila memekik kaget dan terjerembab kembali dalam posisi tidur menghadap Dimas dengan jarak yang sangat dekat.
"Jadi gadis mungil ini mau melarikan diri setelah memasang wajah malu-malu karena sudah memandangi seorang pria?"
Dimas berucap santai dibalut dengan nada menggoda yang kental, wajahnya sengaja ia dekatkan hingga tanpa jarak, membuat mata Meila membelalak disertai dahi yang mengerut.
Kak Dimas tau kalo aku merhatiin... dia? Atau jangan-jangan... ya ampun, bodoh banget si gue!
"Ah! I-itu... mmm... aku cuma mau mandi, kok. Ak-aku... aku berniat akan bangunin kak Dimas setelah aku selesai mandi. Iya. Bener kok."
Dengan terbata, Meila berusaha menjawab asal sambil membuang wajahnya agar tidak bertatapan langsung dengan Dimas. Hal itu semakin membuat Dimas penasaran dan malah ingin menggodanya.
"Cuma mau mandi?" Dimas mengulang kalimat Meila," sebelah tangannya terangkat untuk merapikan anak rambut Meila yang menutupi pandangannya, "Hmm, okay... kamu akan mandi setelah melakukan sesuatu." Dan sebelah tangannya lagi semakin posesif menarik pinggang Meila semakin mendekat, membuat jantung Meila kembali berdegup kencang tak karuan.
Dengan tangan menahan dada Dimas, Meila berusaha agar Dimas tidak semakin dekat lagi, karena Meila tidak ingin Dimas mendengar suara degup jantungnya yang saling berkejaran yang sedang memukul-mukul dadanya.
"M-melakukan... sesuatu? Melakukan apa?" Sambil menatap dengan mata sayu, Meila bagaikan anak kecil yang baru mengetahui sesuatu dengan memasang wajah antusias.
"Give me a mornin' kiss!" Dimas berucap berbisik di depan wajah Meila dengan bernada rayuan sambil memasang seringaian dibibirnya.
"H-hah...?" Dengan refleks Meila menutup mulutnya sendiri dengan mata membelalak dengan keterkejutan nyata.
Dimas terkekeh dengan reaksi yang Meila keluarkan.
Berkebalikan dengan Meila, kalimat yang Dimas ucapkan itu terdengar lantang dan terdengar seperti sebuah perintah. Meila tergeragap, tubuhnya gelisah ingin segera melepaskan diri dari dekapan Dimas. Namun Meila tidak bisa melakukannya, dia sudah mulai terbiasa dengan sentuhan pria itu, sentuhan yang memberi kenyamanan dan perlindungan sehingga menghasilkan perasaan menenangkan yang nyata.
"S-sekarang? Di.... sini?" Meila seakan mengulang dan secara tidak langsung justru mempertegas kalimatnya. Membuat Dimas semakin ingin menjahilinya.
"Ya. Disini." Dimas menunjuk bibirnya sendiri dengan sengaja. Membuat pipi Meila merona menahan malu karenanya.
Astaga! Apa aku harus melakukannya? Apa kak Dimas cuma mau ngerjain aku aja?
"Hei, kok bengong? Ayo lakuin. Kalo diem aja kamu nggak akan mandi. Kita akan terus kayak gini seharian."
Dimas masih terus menggoda gadisnya, membuatnya semakin terpojok karena ucapan yang terlontar dari bibirnya.
"Hhah? Se...seharian?"
Dimas menganggukkan kepala, memasang wajah nakal dengan seringaian lebar yang tidak Meila sadari. Gadis itu terlalu sibuk berpikir sendirian karena mulai terdesak dengan pernyataan Dimas.
"H-harus sekarang, kak?" Sambil memasang wajah sendu, Meila bertanya kembali untuk memastikan. Dan Dimas pun langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa berpikir lagi.
Meila mulai menimbang-nimbang, mungkinkah dia harus menciumnya? Kalau dia tidak melakukannya, Dimas akan menahannya dikamar ini bersamanya seharian penuh. Dan Meila tidak mau membiarkan itu. Dirinya butuh Mandi untuk menyegarkan diri, tubuhnya butuh makan untuk mengisi energi, dia juga ingin keluar rumah meski hanya sekitar taman saja untuk menghirup udara segar, sebagai bentuk melepaskan rasa penat dan menghilangkan ingatan buruk dari pikirannya.
Meila mendongakkan kepalanya, memandang Dimas yang saat ini sedang menantikan tindakannya. Dengan perasaan canggung sambil menarik napasnya berkali-kali, tangannya bergerak naik meraih wajah Dimas, menangkup wajah pria pemilik rahang tegas dengan tangan menahan gemetar.
Andai Dimas tahu betapa canggungnya dia saat ini? Mungkin pria itu akan lebih sedikit mengendurkan sikapnya. Namun semuanya sudah kepalang basah, jemari Meila sudah berhasil menyentuh wajah Dimas dengan mengerahkan seluruh kekuatannya dan mengesampingkan rasa canggungnya.
Wajahnya semakin mendekat, disertai matanya yang mulai terpejam, begitupun dengan Dimas yang langsung membentuk seringaian lebar dibibirnya. Seketika Dimas terpaku memandang wajah Meila yang terlihat polos seiring dengan semakin mendekatnya wajah gadis itu. Dimas mengamati tiap sudut wajah Meila yang tampak indah dimatanya, bibir tipis dan ranum berwarna pink natural yang akan terasa manis jika dikecup.
Tanpa berpikir panjang lagi, Dimas langsung menyambar bibir Meila dan mengecupnya dengan lembut. Pria itu membuat keadaan menjadi berbalik hanya dengan hitungan detik saja. Dimas bisa merasakan reaksi tubuh Meila yang sempat terkejut karena tindakannya, namun beberapa detik kemudian gadis itu mulai tenang mengikuti irama yang dimainkan olehnya.
"Aku nggak sabar menunggu kamu mendaratkan sebuah kecupan ke bibirku. Rasanya terasa lama hingga membuat aku berinisiatif untuk melakukannya dengan segera."
Dimas berkata sambil menggesekkan bibirnya didepan bibir Meila yang sedikit menganga, mata mereka tetap saling terpejam sambil mengatur napas secara perlahan. Hembusan napas hangat Dimas terasa hangat menyentuh permukaan bibirnya, layaknya sinar mentari pagi yang mendaratkan sinar hangatnya hingga menyentuh tubuh.
●●●
"Kenapa? Kok cemberut gitu mukanya?"
Dimas bertanya ketika melihat Meila yang tampak merengut sambil menusuk-nusuk roti lapis di atas piringnya.
Meila menggeleng lemah, kemudian mendenguskan napasnya perlahan, "nggak apa-apa."
Dimas yang memperhatikan Meila dengan lekat menaikkan sebelah alisnya, lalu menarik ujung bibirnya sedikit dan membentuk senyuman.
"Aku tau kamu pengen banget ke kampus lagi, tapi kamu masih harus memulihkan tubuh kamu, Mei. Dan di sisi lain... kamu masih trauma dan belum siap untuk berhadapan sama Sisil. Iya, kan?"
Meila pun menganggukkan kepalanya paham, pernyataan Dimas itu sangat tepat sasaran. Ya. Memang benar Meila sangat ingin ke kampus, tapi seperti yang Dimas katakan tadi, dirinya masih belum siap untuk bertemu Sisil dan bertatapan langsung dengannya. Meila takut hal itu hanya akan menimbulkan trauma kenangan buruk ketika mengingat kejadian yang lalu.
Meila bukan tipe wanita yang dengan tega membalas kejahatan orang lain yang telah berbuat buruk padanya. Dia bahkan tidak akan mengungkit atau mempermasalahkan yang sudah lalu dan memilih untuk memaafkannya. Namun, mengenai Sisil adalah hal yang berbeda. Meila akan merasa sangat bersalah ketika harus menatap langsung ke arah bola mata Sisil yang menyimpan rasa sakit yang sangat dalam hingga akhirnya berubah menjadi kedengkian.
"Kak Dimas, apa menurut kamu... pernyataan Sisil itu benar?"
Meila tiba-tiba bertanya dengan nada hati-hati dan suara yang merendah, hampir Dimas tidak bisa menerka kalimat Meila jika pria itu tidak memfokuskan telinganya untuk mendengar pertanyaan Meila yang tampak ragu.
Dimas tampak mengernyitkan alisnya, meletakkan garpu dan pisau yang ia pegang ke atas piring.
"Pernyataan apa?"
"Saat aku diculik kemarin.... Sisil sempat mengutarakan perasaannya yang selama ini ia simpan dan dengan sengaja membuat pengakuan mengejutkan, sampe aku akhirnya merasa bersalah dan hampir menyerah membiarkan Sisil berbuat apapun agar aku bisa menebus kesalahan aku sama dia,"
Meila melipat tangannya ke atas meja makan, terlihat seperti anak sekolah dasar yang sedang menunjukkan sikap hormat didalam kelas ketika mendengarkan pelajaran dari gurunya.
"Dia bilang aku adalah penyebab dia jadi kayak gitu, secara nggak langsung aku yang udah buat Sisil jadi orang jahat. Dia bilang, gara-gara aku dia nggak diperhatiin, kehilangan popularitas, dia bilang aku sengaja bikin semua orang berpusat sama aku sehingga dia merasa tersaingi dan.... dan...." Meila tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Cemburu maksudnya?" Dimas menyambar kalimat Meila yang menurutnya adalah benar. Sontak Meila terpaku akan jawaban Dimas yang secara spontan memang itulah yang dimaksud olehnya.
"Mei, mau semua orang suka ataupun benci, kita nggak ada hak untuk membuat mereka berpihak sama kita. Kasus Sisil ini beda. Sisil udah memaksa dirinya menjadi pendengki, dia nggak mau berusaha untuk memperbaiki diri menjadi yang lebih baik. Mungkin dia bisa dengan cara mengubah sikapnya? Atau ubah cara pandang dia ke semua orang, cara berkomunikasi atau isi dengan kegiatan positif yang bisa membuat semua orang ikut berpartisipasi. Tapi dia malah lebih memilih mengambil jalan singkat untuk menyingkirkan kamu, niatnya aja udah salah, Mei. Apalagi cara berpikirnya, itu semua karena rasa iri dan dengki yang udah mendominasi dalam hatinya."
Dimas mencoba menjelaskan, memberikan pengertian pada Meila.
"Iya. Aku tau, kak. Tapi...." tiba-tiba saja Meila terdiam, seperti mengingat sesuatu yang dikatakan Sisil pada malam itu.
Selain perhatian, Sisil juga menyebut kalau dirinya juga mendapatkan segala kasih sayang dan rasa cinta dari Dimas. Kemudian sekilas ingatan tentang ucapan Dimas semalam yang sempat mengucapkan perasaannya meski itu adalah hal spontan. Mungkinkah pria ini benar-benar mengungkapkan perasaannya?
Tiba-tiba saja wajahnya memanas ditambah dengan degub jantung yang memukul-mukul rongga dadanya. Meila yakin pasti saat ini pipinya sedang merona, dia harus cepat mengatasi kegugupannya. Dia tidak ingin Dimas menyadari perasaannya saat ini karena memang dia belum siap untuk mengakuinya. Oh Jelas! Meila pun merasakan perasaan yang dengan perlahan tumbuh dengan sendirinya. Perasaan nyaman dan tenang, perasaan karena terbiasa karena perlakuan manisnya, perasaan takut kehilangan, bahkan perasaan lain yang Meila tidak bisa gambarkan dan menurutnya asing.
"Hei, kenapa? Kok bengong sih?"
Dimas menggerakkan tangannya ke depan wajah Meila, melambai-lambaikannya untuk memecah tingkah Meila yang tampak aneh. Dimas sedikit bingung karena wajah Meila yang memerah tiba-tiba, sontak Dimas mengerahkan tangannya untuk menyentuh kening Meila untuk merasakan suhu tubuhnya.
"Kenapa? Kamu demam? Atau ada luka yang sakit?"
Dimas bertanya secara maraton hingga membuat Meila tersipu malu, seketika itu juga Meila mengangkat tangannya dan meraih tangan Dimas yang masih ada di keningnya, kemudian menggenggam tangan pria itu dan membawanya ke atas meja.
"Yakin cuma itu aja?"
"Iya." Meila memberikan senyumannya lagi.
Dimas tersenyum lembut, kemudian sebelah tangannya yang bebas terangkat untuk mengelus pipi Meila dengan lembut.
"Nggak usah ngampus dulu, ya. Tunggu kamu sampe benar-benar pulih dulu. Hm?"
Dimas berucap lembut dengan suara rendahnya, membuat Meila merasa tenang ketika mendengar perintah lembutnya sehingga tanpa ragu dan dengan patuh, gadis itu mengangguk, menuruti apa yang pria itu katakan.
●●●
"Diantara kalian, ada yang tau keberadaan Sisil dimana?"
Rendy bertanya pada beberapa mahasiswa yang sedang bercengkrama di taman kampus. Pertanyaan Rendy tentunya memiliki alasan kuat dikarenakan Sisil yang tidak terlihat sejak pagi sampai saat ini waktu tengah hari jam makan siang hampir habis.
Diantara mahasiswa itu sebagian menggelengkan kepalanya dan selebihnya hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
"Okay, thanks!"
Kemudian Rendy beralih kembali pada tiga mahasiswi yang sedang berkumpul di pinggiran teras taman, Rendy tahu bahwa salah satu dari mereka adalah teman satu kelas Sisil dan Meila.
"Sorry, Kalo gue ganggu waktu istirahat kalian." Rendy berhenti didepan tiga mahasiswi dengan sikap sopan. "Gue mau tanya, kalian tau kemana Sisil? Hari ini... gue nggak ngeliat dia, gue ada rencana ngadain rapat evaluasi buat kegiatan mingguan, mungkin kalian tau Sisil kemana?"
Tiga mahasiswi itu tampak saling berpandangan satu sama lainnya, namun tiba-tiba salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Rendy dengan lugas.
"Sisil hari ini nggak masuk, kak. Katanya sih ada urusan mendadak di keluarganya. Izinnya sih gitu."
Urusan mendadak? Pasti bukan karena itu dia absen hari ini.
Rendy berpikir sejenak sebelum kemudian menganggukkan kepalanya, dan tak lupa memberikan senyuman ramah pada mahasiswi yang dengan baik hati menjawab pertanyaannya tadi.
"Oh gitu ya. Kalo gitu... thanks informasinya."
Setelah mendapatkan jawaban, Rendy berbalik dan langsung berjalan dengan pertanyaan yang muncul di kepalanya. Dirinya semakin curiga dengan tidak adanya keberadaan Sisil di kampus. Mungkinkah wanita itu diam-diam sedang merencanakan sesuatu lagi? Atau mungkin saat ini Sisil sedang bersembunyi ke tempat paling aman bersama Beno sehingga jauh dari jangkauan?
Pikiran yang begitu mengganggu itu mulai berputar-putar dikepalanya. Rasanya Rendy ingin secepatnya memecahkan teka-teki dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang muncul saat ini juga. Sebab Rendy tahu, kecemasannya saat ini memiliki alasan kuat yang jika dibiarkan akan semakin membahayakan Meila, adik kesayangannya.
●●●
Hembusan angin sejuk seketika menerpa wajah gadis cantik yang saat ini begitu gembira berada di sekitar taman belakang rumah Dimas yang sangat luas. Dengan gaya casual namun sopan, Meila tampak begitu manis ketika dipadu padankan dengan kaus sweater berbahan ringan dengan tali di bagian depannya, dibalut dengan celana panjang tanggung sebawah lutut, serta rambut yang dikuncir kuda menjuntai hanya menyisakan anak rambut dan poni tipisnya, membuat gadis itu tampak polos dan imut.
Tampak Dimas datang dengan membawa dua gelas jus buah segar ditangannya, lalu ikut tersenyum ketika matanya menangkap langsung ke arah Meila dengan wajah berseri-seri.
"Kayaknya ada yang seneng banget mukanya, sampe berseri-seri gitu." Dimas tiba-tiba bersuara tepat ketika sampai disamping Meila, membuat gadis itu sedikit terkejut dengan kedatangannya.
Meila pun tersenyum dengan sedikit malu-malu dibarengi dengan Dimas yang memberikan segelas jus strawberry segar pada Meila yang langsung disambutnya dengan antusias.
"Thank you, kak.." ucapnya dengan mata berbinar. Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Dimas.
Meila tanpa menunda lagi langsung menyambar sedotan yang ada dalam gelas tersebut. Pandangan Dimas pun tak luput dari sosok disampingnya, dan senyum manis disertai lesung pipi terulas dari bibirnya.
Syukurlah gadis ini ceria lagi. Setelah kemarin hampir seharian penuh berusaha menenangkannya, hari ini gadis itu ceria lagi.
Sungguh membahagiakan jika kamu adalah satu-satunya orang yang dengan langsung menyaksikan orang yang kamu kasihi bahagia didekatmu. Terlebih lagi jika seseorang itu sangat berarti dalam hidupmu, kamu tak akan pernah membiarkannya terluka lagi dan hanya akan selalu membahagiakannya setiap saat.
Ketika Dimas sedang terhanyut dalam lamunannya sambil masih memandangi Meila, tiba-tiba saja Meila melihat ke arah Dimas yang sedang menatapnya tanpa berkedip. Seketika Meila mengerutkan keningnya, memanggil-manggil namanya dengan pelan.
"Kak..."
Suara panggilan itu belum juga direspon Dimas, sampai akhirnya Meila melambai-lambaikan telapak tangannya ke depan wajah Dimas.
"Kak..? Kak Dimas..?"
"Ah! Ya. Kenapa?" Dimas tampak terkejut ketika menjawab menyahuti Meila.
Meila terkekeh pelan, tampak manis sekali dengan bibir yang memerah semerah jus strawberry yang sedang diseruputnya.
"Kok kenapa, sih? Malah aku yang harusnya tanya, kakak kenapa bengong gitu sambil senyum-senyum?"
"Oh. Nggak kenapa-napa." Dimas menjawab santai, dan tidak melanjutkan kalimatnya. Meila pun hanya ber 'oh' ria melihat tanggapan Dimas.
"Gimana luka kamu? Masih sakit?"
Meila tersenyum, "cuma sedikiiiiittt lagi. Sebentar lagi juga sembuh, kok." Meila memperagakan lewat jari telunjuk dan ibu jarinya yang menempel dan diarahkan ke depan matanya dengan mata sebelah terpejam kemudian terkekeh. Hal itu menular kepada Dimas yang ikut terkekeh karena tingkah Meila yang polos.
"Kita duduk disitu, yuk!"
Dimas mengajak Meila dan menghela gadis itu untuk mengikutinya. Mereka duduk disebuah gazebo kayu yang dikelilingi dengan pepohonan rindang disekitarnya.
"Kamu nggak apa-apa kan kalo kita cuma disekitar rumah aja nggak kemana-mana dulu?"
Dimas bertanya sambil menilai reaksi Meila atas ucapannya. Dan hal ajaib pun muncul, gadis itu tidak merasa keberatan sama sekali, Meila justru menanggapinya dengan sebuah senyuman.
"It's okay, kak. Disini pun... aku udah seneng banget bisa menikmati udara sejuk meski tanpa harus keluar jauh dari rumah. Aku ngerti maksud kamu."
Bukan tanpa alasan Dimas menanyakan hal itu, Dimas bukan tidak ingin mengajak gadis itu jalan-jalan keluar rumah dengan menaiki kendaraan, namun Dimas masih memikirkan kondisi Meila yang masih harus memulihkan tubuhnya karena goncangan fisik. Dan secara perlahan menyembuhkan trauma psikis yang gadis itu alami. Tapi bukan tidak mungkin, Dimas tidak akan mengajak Meila keluar rumah ke suatu taman di tengah ibukota yang pernah Dimas ajak sebelumnya, terlebih lagi dikarenakan hal itu adalah moment dimana gadis itu memberikan ciuman pertamanya.
Seketika Dimas tersenyum saat ingatan dimana ciuman pertama itu terjadi diantara keduanya, begitu singkat dan tanpa rencana, namun menyisakan kenangan indah yang jika diingat, akan menimbulkan semburat merah di pipi gadis itu. Dimas memang berniat untuk mengajak Meila ke tempat itu satu atau dua hari lagi setelah gadis itu benar-benar pulih.
Dengan masih menyisakan senyuman, Dimas memajukan tubuhnya sekaligus mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Meila dengan lembut.
"Aku janji sama kamu, kita akan ke taman itu lagi," Dimas berucap seperti berteka-teki, membuat Meila mengerutkan alisnya.
"Taman...?"
"Ya. Taman. Taman ketika kamu memberikan ciuman pertama kamu buat aku." Kemudian Dimas menyambung tanpa memberi jeda seakan ingin menilai reaksi Meila.
Dan benar saja, gadis itu hampir tersedak kalau saja dia tidak bisa mengendalikan diri. Dan Dimas pun justru semakin melebarkan senyumnya tanpa di tahan-tahan lagi.
"Kak Dimas!" Dengan pipi merona yang menyemburat ke tulang pipi, Meila berusaha memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Dimas.
Namun sebelum Meila berhasil memalingkan wajah, Dimas sudah lebih dulu meraih dagu Meila dengan jarinya.
"Kenapa muka kamu merah gitu?"
"Ng... bu-bukan, itu..." Meila menundukkan wajahnya dan memberi jeda, "...aku malu, kak... kamu selalu to the point dan barusan... ucapan kamu terlalu frontal, kak." Suara Meila semakin mengecil seiring dengan penyelesaian kalimatnya.
Dimas tergelak lepas, membuat Meila bingung dan langsung mengangkat wajahnya. Kemudian pria itu menghentikan tawanya setelah beberapa detik dan berucap,
"Perlu kamu tahu," ibu jarinya bergerak mengelus pipi Meila, "aku akan selalu frontal jika itu menyangkut perasaan. Buat apa aku sembunyikan kalo semuanya udah jelas didepan mata aku?"
Kalimat Dimas itu berhasil membuat jantung Meila berdegup kencang, ditambah dengan wajah Dimas yang begitu dekat dan menatapnya dengan lekat, membuat Meila tidak memiliki kesempatan untuk menoleh sedikit pun, hingga memunculkan kembali rona merah yang sudah hilang, dan sekarang naik lagi ke permukaan hingga terasa panas dengan napas yang menggebu.