
Sinar mentari menyusup masuk melalui celah-celah kecil jendela kaca dengan tirai-tirai yang sedikit terbuka. Dua sejoli yang tertidur pulas di sofa sambil berpelukan masih setia dengan kedamaian nyata oleh keheningan fajar dan kicauan burung di pagi hari.
Dimas mulai membuka matanya sambil sesekali mengerjap dengan kening mengerut begitu sinar mentari yang hangat menyapa wajahnya. Dia hampir saja lupa akan merenggangkan tubuhnya jika ia tidak ingat kalau disampingnya masih berada sosok mungil yang meringkuk manja dalam dekapan hangatnya.
Senyumnya mengembang ketika matanya menatap langsung ke wajah manis Meila yang polos masih tertidur pulas dengan damai. Dimas mendekatkan telinganya ke depan bibir Meila untuk mendengarkan nafasnya yang teratur. Dan tiba-tiba ide jahilnya pun muncul di otaknya, Dimas menggesekkan bibirnya pada wajah Meila seperti seringan kapas, menyusuri keseluruhan wajah gadis itu sambil sesekali mencium keningnya.
Perlakuan jahil Dimas membuahkan hasil, Meila menggeliat manja layaknya bayi yang di jahili ibunya ketika sedang tidur. Hal itu malah membuat Dimas tidak menghentikan aksinya, dia mengelus pipi Meila dengan lembut dan berbisik di telinganya.
"Bangun, Mei..."
Lagi, gadis itu hanya menggeliat manja dan malah mengeratkan pelukannya pada Dimas.
Dimas tertawa, "Bangun, sayang. Kamu harus mandi."
Akhirnya dengan perlahan matanya mengerjap dengan pandangan yang masih buram. Setelah beberapa kali dia mengerjapkan mata sambil mengumpulkan nyawanya, akhirnya mata yang indah dan polos itu terbuka sempurna meski kedipannya masih sedikit sayu.
"Good Morning!" Dimas berucap lembut.
Meila pun tersenyum dan langsung merespon Dimas dengan cepat. "Morning."
Meila mengamati suasana sekitar, dahinya mengerut sambil membenarkan posisi duduknya.
"Jam berapa ini kak?" Meila bertanya polos.
"Jam tujuh pagi." Jawab Dimas santai sambil merenggangkan otot-ototnya.
Sontak Meila langsung tersentak, "astaga! Kita kesiangan, kak. Aku juga belum siapin sarapan." Kemudian matanya menyusuri tubuhnya sendiri dan berganti menyusuri Dimas. "Dan..... kita juga belum mandi. Belum siap-siap."
Dimas terkekeh, "kita masih dalam suasana class meeting. Jadi mau dateng jam berapapun, nggak akan masalah, Mei." Dimas menjawab dengan lembut.
"Lagian... aku udah bilang sama Rendy kalo kita akan sedikit telat." Dimas menyambung kembali.
Meila menolehkan kepalanya segera, menangkap isi perkataan Dimas. "Kapan kamu bilang ke kak Rendy?"
"Semalem pas kamu udah tidur." Jawab Dimas cepat.
Meila terlihat berfikir dan sedikit gelisah, kemudian dia mengeluarkan apa yang mengganjal dihatinya. "berarti.... berarti kak Rendy tau kakak nginep disini?"
Dimas mengangguk cepat dengan tatapan menelisik. "Kenapa?" Kemudian menarik dagu Meila dengan lembut agar menatapnya.
Wajah Meila berubah murung ketika hawa mengerikan muncul seakan minta dikeluarkan dari pikiran melalui ucapan.
"Berarti kak Rendy juga tau tentang..... tentang teror itu?" Meila berusaha bersuara meski tenggorokannya sedikit tersekat.
Dimas tersenyum lembut seolah menyalurkan ketenangan dalam senyumnya. "Bahkan sebelum kamu cerita pun aku dan Rendy udah mengetahuinya."
Meila sedikit membelalakkan matanya begitu penjelasan Dimas sampai ke telinganya.
"Aku dan Rendy udah mulai curiga sejak kamu masuk ke ruang senat dengan wajah pucat dan tubuh melemas. Mungkin kamu pikir kita nggak mengawasi gerak-gerik kamu, tapi kamu salah kalo kamu berpikir kayak gitu, Mei." Tangan Dimas bergerak untuk menangkup wajah Meila. "Tiap gerak-gerik kamu, langkah kamu, tindakan kamu bahkan ekspresi kamu kita mengetahuinya. Kamu nggak perlu menutupinya lagi sekarang. Kita hadapi ini bersama-sama. Okay?" Dimas memberikan penjelasan dengan lembut pada Meila.
Penjelasannya itu rupanya telah menyentuh sisi dasar hati Meila yang belum pernah dijamah dengan kata-kata indah oleh siapapun. Kemudian, dengan hitungan detik tubuh mungil itu menghambur untuk memeluk Dimas, mengalungkan lengan-lengannya ke pundak pria itu.
"Terima kasih, kak.. Terima kasih. Kamu selalu kasih perhatian yang lebih buat aku, yang mungkin nggak aku sadari sama sekali. Jujur, aku takut banget ketika harus menghadapi ketakutan ini lagi. Ketakutan yang membuat aku gelisah sepanjang hari karena membayangkan betapa menakutkannya pria itu. Ketakutan yang membuat aku nggak bisa tidur nyenyak tiap malamnya. Sejak teror ini muncul, aku mulai parno sama suasana sekitar aku, mewaspadai hal-hal yang belum tentu akan semenakutkan seperti yang aku bayangkan." Meila mengeluarkan isi hatinya yang belum sempat ia ucapkan semalam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sikap Dimas berubah sayang sambil mengusap punggung Meila lembut, dia mengecup pelipis Meila kemudian menghirup wangi aroma bayi yang menyenangkan pada tubuh gadis itu di lekukan lehernya, "Mulai sekarang, nggak perlu sungkan untuk cerita sama aku. Bersandarlah sama aku, Mei. Manjalah sama aku. Aku, Rendy dan juga yang lainnya akan selalu ada buat kamu." Kalimat menenangkan Dimas itu membuat Meila terharu, hingga air matanya akhirnya lolos kembali membasahi pipi.
Dimas menjauhkan Meila dari pelukannya, menangkup wajah gadis itu dan mengamatinya lekat-lekat.
"Sekarang gadis mungil ini nggak boleh nangis, keimutan kamu tuh berkurang tau nggak." Sambil mengusap air mata di pipi Meila, Dimas berucap dengan nada menghibur.
Dan itu berhasil, Meila tersenyum sambil memegang tangan Dimas yang berada di wajahnya. Dan hal itupun juga membuat Dimas senang karena sikapnya.
Dimas mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup bibir Meila sekilas dan berbisik disana.
"Sekarang kamu mandi dan bersih-bersih. Habis itu kita kerumah aku untuk ganti baju dan sarapan disana. Okay?" Dimas berbisik di depan wajah Meila.
Seperti biasa, perintah Dimas tidak dibantahnya, sambil tersenyum malu, Meila justru langsung berdiri dan beranjak pergi melewati tangga menuju kamarnya, dan hal itu tidak lepas dari pandangan Dimas yang mengawasinya.
●●●
Mereka baru saja memasuki sebuah halaman yang cukup luas yang didalamnya terdapat sebuah ring basket tepat di sisi rumah berpagar tinggi itu.
Dimas langsung beranjak keluar dari kemudi lalu mengitari mobilnya menuju pintu penumpang untuk membukakan pintu bagi Meila. Dimas menjulurkan tangannya, dan Meila pun tanpa ragu langsung menyambut uluran tangan Dimas sambil memasang senyuman manisnya.
Dimas menghela tubuh Meila untuk mengikutinya menuju ruang utama dan membiarkan Meila yang masih sedikit beradaptasi mengawasi sudut rumah megah Dimas tanpa bersuara. Dimas menarik tangan Meila dengan lembut untuk mendudukkannya di sebuah sofa besar ruang keluarga dengan posisi menghadap pada home teatre.
"Kamu tinggal sendiri di rumah sebesar ini, kak? Nggak ada asisten rumah tangga atau tukang kebun gitu?" Meila akhirnya bersuara begitu perhatiannya mulai teralihkan pada Dimas yang duduk di samping sofa tempat Meila duduk.
Dimas tersenyum, "Iya. Aku terbiasa sendiri sejak tiga tahun lalu tanpa asisten rumah tangga. Aku mengerjakannya sendiri. Kalau untuk tukang kebun, mereka akan dateng seminggu dua kali untuk bersih-bersih halaman." Dimas menjelaskan.
"Anggap aja rumah sendiri." Tangannya bergerak mengusap rambut Meila sambil membentuk senyuman dibibirnya. Kemudian berbalik badan menuju kamarnya yang ada di lantai atas dengan langkah santai.
●●●
"Enak?"
Dimas bertanya pada Meila yang tampak lahap menikmati sarapannya. Sesuai janjinya, Dimas membuatkan dua porsi omelet berisi sayur dan daging cincang beserta sosis untuk mereka sarapan. Tidak lupa juga segelas hot coklat kesukaan Meila yang menguarkan wangi harum khas cokelat menenangkan hingga dapat membuat siapa saja meneteskan air liurnya.
Pertanyaan Dimas itu langsung di tanggapi cepat dengan anggukan kepala Meila.
"Abisin sarapan kamu. Setelah itu kita berangkat." Sambar Dimas lagi begitu dilihatnya Meila memasukkan makanannya kedalam mulutnya.
"Siap bos!" Jawab Meila bersemangat.
Dimas sedikit terkekeh, dia telah menyelesaikan sarapannya lebih cepat. Sambil menyesap secangkir cappuccino cream miliknya, dia melirik ke arah Meila sambil menelisik berusaha membaca raut wajah gadis itu dengan lekat.
Dimas bisa melihat sepertinya Meila sudah sedikit lebih baik dibandingkan semalam, tapi itu belum sepenuhnya. Jika masalah itu disinggung sedikit saja, dia yakin rasa traumanya akan muncul kembali ke permukaan.
Dimas memilih untuk tidak menyinggungnya, dia tersenyum seraya mencuri-curi tatap. Disaat yang sama, mata Meila tanpa sengaja menangkap ekspresi Dimas yang sedang tersenyum sambil melihatnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum kayak gitu kak?" Meila bertanya sambil mengerutkan alisnya.
"Sarapannya kurang? Atau.... kamu masih laper? Makan punya aku aja. Nih!" Meila bertanya sambil menyodorkan sepiring omelet miliknya ke arah Dimas.
"Nggak. Nggak." Tangan Dimas mendorong piring yang disodorkan Meila kepadanya dengan lembut. "Aku udah kenyang. Kamu abisin sarapan kamu." Perintah Dimas dengan senyuman.
"Okay.." jawab Meila dengan suara pelan hampir tanpa suara.
Meila mulai menyuapkan makanannya kembali kedalam mulutnya. Dia mengunyah makanannya perlahan seakan menikmati rasa lezat yang membuat lidahnya tidak menolak lagi dan lagi. Ketika indera perasanya sedang berpesta, sekilas ingatan yang hampir membuatnya tersentak dan tanpa sadar menepuk keningnya perlahan seolah telah melupakan sesuatu.
"Astaga, kak! Aku lupa balikin jacket kamu. Aku buru-buru tadi, padahal aku udah siapin buat kasih ke kamu."
Meila berucap dengan nada penuh semangat dan kemudian perlahan suaranya berubah sendu seakan merasa bersalah.
Dimas tersenyum, "gak perlu. Buat kamu aja." jawabannya terdengar ringan dan terdengar sangat tulus.
Meila menatap Dimas seakan mencari tau ekspresi wajah pria didepannya. "Tapi aku udah cuci, kak. Udah aku setrika juga, dan.... wangi kok. Beneran!" Meila terus berbicara pada Dimas sambil memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
Dimas meletakkan minumannya dan tersenyum lagi, "Iya. Aku tau, kok. Tapi, kamu simpen aja buat kamu. Gak apa-apa."
"Serius?" Tanya Meila lagi untuk memastikan. Dan langsung disambar Dimas dengan anggukannya yang lembut namun terlihat tegas, anggukannya itu terlihat seperti perintah yang tidak bisa untuk ditolaknya.
Dengan sabar Dimas menunggu Meila menyelesaikan sarapannya tanpa menyuruh gadis itu untuk terburu-buru. Dimas sendiri sangat menikmatinya, memperhatikan gerak-gerik Meila mulai dari memotong potongan omelet dengan ukuran yang sesuai dengan suapannya, kemudian menusukkan potongan omelet tadi dengan garpu dan memasukkan ke dalam mulutnya yang mungil serta mengunyahnya.
Namun, ketika Meila sedang memasukkan potongan omelet kedalam mulutnya, tiba-tiba saja ada bagian dari omelet itu yang menempel di bibir bawahnya. Meila tidak menyadari itu dan tetap mengunyah, Dimas yang dari tadi memperhatikannya kemudian langsung terkekeh ringan dan memajukan tubuhnya agar lebih dekat lagi. Dimas mengangkat tangannya, dan dengan gerakan cepat langsung mengusap bibir bawah Meila menggunakan ibu jarinya dengan lembut, sehingga membuat Meila tidak bisa mengelak karena tindakan yang Dimas lakukan itu.
"Pelan-pelan makannya." Ucap Dimas lembut dengan ibu jarinya yang masih menempel pada bibir Meila.
Hal itu sontak membuat pipinya merona dengan tindakan Dimas. Ditambah lagi dengan Dimas yang berucap dengan nada perhatian yang tulus dan dengan tatapan matanya yang mampu membuat Meila salah tingkah.
Dimas melirik ke piring Meila yang masih menyisakan satu kali suapan lagi, tangannya meraih garpu yang dipegang Meila kemudian menusukkan potongan terakhir omelet itu dan langsung mengarahkannya ke mulut Meila.
Meila tidak menolaknya, dengan patuh dia membuka mulutnya untuk menerima suapan dari tangan Dimas untuknya. Dimas pun terkekeh karena sikap gadis itu, Dimas terkekeh kembali namun lebih kepada terkekeh gemas dengan sikap Meila yang penurut dan tidak membantah.
Meila pun sama, kenapa dia tidak mengelak? Sungguh, bagi Meila, jika ia sedang bersama pria itu, dirinya selalu merasa seperti Dimas seakan menghipnotisnya sehingga Meila tidak bisa membantah atau menolak perintahnya.
"Gadis pintar!" Puji Dimas sambil tersenyum ketika dia berhasil menyuapkan suapan potongan terakhir omelet kedalam mulut Meila dan langsung dikunyah tanpa membantah.
●●●
"Jadi gimana? Lo akan lanjut dengan teror-teror ini, atau... berenti dan membuat rencana lain?"
Sisil berucap sambil menyandarkan bahunya pada sebuah kursi. Tampak dihadapannya Beno yang sedang mengaduk-aduk ice coffee di depannya dengan sisi-sisi gelas yang mulai berembun.
Beno berinisiatif menghubungi Sisil lebih dulu dan mengajaknya untuk bertemu disebuah cafe di pusat kota yang ramai sehingga harus membuat Sisil untuk berpenampilan agak sedikit tertutup dengan pashmina menutupi kepalanya dan kacamata hitamnya. Sebab, Sisil takut ada seseorang yang akan mengenalinya atau ada yang melihatnya sedang bertemu dan berkomunikasi dengan Beno.
Berbeda dengan Beno yang terlihat cuek dan santai meski tetap berpakain tertutup serba hitam yang biasa ia kenakan. Beno mulai menyedot ice coffee nya, kemudian menjauhkannya sedikit dan menatap ke arah Sisil yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Gue akan tetep menjalankan teror ini." Beno berhenti sejenak sebelum akhirnya berucap kembali. Aura licik di wajahnya menguar begitu ingatan akan suara Meila yang ketakutan ketika berbicara dengannya melalui ponsel, tampak membuat darahnya mendidih ingin berhadapan langsung dan menyentuhkan jemarinya ke kelembutan kulit Meila yang halus.
"Tapi... nggak menutup kemungkinan gue akan ubah rencana awal, dan mungkin juga... gue akan tambah rencana lain biar lebih seru,?" Beno menyambung kembali sambil tersenyum licik dengan kilatan dimatanya. Hal itu juga membuat Airin menyunggingkan senyum jahatnya dengan terang-terangan.
"Gue akan ikutin alur ini lewat senyum licik lo itu! Kalo saatnya udah pas, gue yang akan turun tangan dan menampakkan diri gue di depan cewek itu." Sisil menaikkan ujung bibirnya, kemudian menatap ke arah Beno dengan tatapan serius, ada sebuah kilatan dendam dimatanya.
"Dan... gue juga gak sabar, akan betapa terkejutnya cewek sok lugu itu ketika gak pernah terbayangkan olehnya kalo gue yang ada dibalik penderitaan dia." Sisil tertawa licik tanpa ditahan-tahan lagi. Meski hampir tergelak, namun dia masih bisa menguasai diri agar suaranya tidak terpecah sehingga bisa mengalihkan perhatian banyak orang.
Mereka akhirnya sama-sama tertawa licik dengan memikirkan rencana masing-masing dengan imajinasi yang berbeda-beda memenuhi pikirannya.