A Fan With A Man

A Fan With A Man
Informasi



Suara derap langkah kaki yang kian mendekat membangkitkan kewaspadaan Simon dengan segera. Perasaan cemas dan prasangka buruk langsung melanda dirinya yang sedang berusaha memejamkan mata dengan balutan ikatan yang sudah terikat kuat. Kaki dan tangannya mulai bergerak gelisah karena takut menghadapi seseorang yang telah dijanjikan sejak semalam. Dan Simon mulai merasakan hawa kengerian yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


Pintu yang tertutup rapat itu akhirnya membuka. Menampilkan sosok tinggi dan tegap yang muncul di balik pintu yang perawakannya disamarkan oleh pancaran sinar matahari yang langsung menyorot ke matanya. Menciptakan bayangan hitam tinggi semampai berperawakan tegap disana.


"Si-siapa disana?!"


Karena takut, Simon langsung bersuara menanyakan siapa yang mendatanginya. Tetapi, alih-alih menjawab, orang itu malah berjalan mendekatinya sambil memasang muka masam dan tegas.


Simon langsung terkesiap membentengi dirinya. Takut jika orang itu akan menyakiti dan memukulnya tanpa persiapan seperti sebelumnya.


"Cukup lama aku mencari keberadaanmu, Simon Hutabarat. Tetapi, baru beberapa hari lalu aku menemukanmu."


Dimas berhenti tepat di depan Simon sambil berdiri menjulang. Kemudian menunduk dengan menguarkan aura dingin yang langsung memenuhi seluruh ruangan.


"Apa yang kamu mau dariku? Siapa kamu sebenarnya?"


"Kamu akan tau nanti. Tetapi, kemauanku hanya satu. Yaitu, informasi tentang seseorang." Dimas berujar lantang tanpa basa-basi.


Alis Simon mengernyit tanda bingung. "Seseorang? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud. Mungkin kamu salah orang."


Dimas mendengus kecil sembari berjalan semakin mendekat pada Simon yang langsung mengkerut karena merasa terintimidasi.


"Mana mungkin aku salah orang? Kalaupun aku salah, aku tidak seceroboh itu karena salah menangkap orang." sambil menyeringai, Dimas berjalan memutari Simon. "Begini, aku akan pertimbangkan jika kamu mau bicara jujur dan memberikan sejumlah informasi yang aku butuhkan. Paling tidak, kamu bisa langsung bebas dari sini setelah memberikan informasi itu." Dimas sengaja mengiming-imingi kebebasan untuk Simon. Hal itu juga dia gunakan sebagai pancingan untuk Simon agar mau membuka mulutnya.


"I-informasi? Informasi apa?"


Dan sesuai keinginannya, Simon akhirnya terpancing. Selangkah lebih mudah untuk mendapat apa yang Dimas inginkan.


Sesaat, pandangan Dimas menggelap dan tatapannya menajam. Menaruh tatapan tak terbaca pada Simon sampai-sampai pria itu merasakan bulu kuduk di sekujur tubuhnya meremang hingga gemetar.


"Ferdion Sagara."


Saat Dimas menyebutkan nama Dion, sontak Simon langsung tersentak dengan memasang wajah terkejutnya yang nyata.


"Kamu pasti mengenalnya, bukan? Berikan aku informasi tentangnya tanpa ada yang ditutup-tutupi." Ujar Dimas kemudian sambil menelisik perubahan ekspresi Simon.


"Di-dion?" Simon berujar samar. "Aku tidak mengenal orang itu. Mungkin kamu salah orang. Tolong bebaskan aku dari sini." Simon meronta-ronta dalam ikatannya. Berharap ikatan itu akan mengendur dan lepas hingga dia bisa kabur. Tetapi sayangnya, entah sekuat apa ikatan itu hingga sekuat apapun Simon mengoyak, tetap tidak ada perubahan dalam ikatan itu. Ikatan yang memang benar-benar diikat mati dan kuat.


Dimas terkekeh mendengar pengakuan Simon. Dia merasa jika pengakuan pria ini sangatlah lucu hingga dia nyaris ingin tergelak. Dimas pun membawa kembali kakinya ke arah Simon dan semakin memangkas jarak dari jarak yang sebelumnya. Kemudian membungkuk sambil memberikan aura tegas nan menyeramkan.


"Simon... Simon! Kamu itu cukup lucu! Aku sangat terhibur dengan kelucuanmu." Dimas mulai memandangi Simon lekat-lekat. Menatapnya dengan tatapan membunuh yang langsung mengenainya. "Kamu bilang tidak mengenalnya? Benarkah? Jika memang kamu tidak mengenalnya, kenapa caramu menyebut namanya seperti sudah sangat akrab? Aku bahkan tidak menyebutkan nama panggilannya. Tetapi kamu sendiri yang telah membuka mulut mu dan memberitahuku nama panggilannya."


Simon terperangah hingga menganga. Kedua matanya pun membelalak karena terkejut ketika mengingat pengakuannya tadi yang diingatkan kembali oleh Dimas.


Bodoh!


Simon merutuki dirinya sendiri. Dia merasa sangat bodoh karena telah salah menyebut nama yang malah akan mencelakai dirinya sendiri. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Menjelaskan semuanya, atau tetap mengunci mulutnya dan tertawan ditempat ini sampai waktu yang entah kapan dia bisa bebas.


"Bagaimana? Jangan terlalu banyak berfikir, Simon. Kamu hanya memiliki dua pilihan. Yang satu menguntungkan, dan satunya lagi tentu akan menyulitkanmu. Dan kamu bukan orang yang bodoh yang akan memilih salah satu diantara dua pilihan itu yang akan menyusahkanmu sendiri, kan?" Dimas mulai memancing dan memprovokasi Simon.


Simon mulai dilema dan putus asa. Dia pun kehabisan kata-kata untuk menjawab Dimas. Dan langkah satu-satunya saat ini adalah memberikan informasi yang pria ini inginkan. Karena yang diinginkannya juga saat ini adalah, bebas dari tawanan pria ini dan menjauh darinya. Sebab, dia tidak ingin berhubungan lagi dengan nama yang disebutkannya. Nama dari orang yang telah menjatuhkan harga dirinya sekaligus menghancurkan reputasinya.


Tetapi, informasi apa yang diinginkan pria ini?


"B-Baiklah. Aku akan memberikan informasi itu. Tap-tapi.... setelah aku memberikan informasi itu, kamu harus membebaskanku dari tawanan ini."


Dimas mendengus kecil sambil sedikit menarik ujung bibirnya.


"Itu tergantung dengan niatmu! Kalau kamu kooperatif, aku akan senantiasa mengabulkannya. Aku bukan tipe orang yang akan mengingkari janjiku sendiri."


Sesaat, Simon bisa sedikit bernapas lega mendengar ucapan Dimas. Setidaknya, pria ini telah menjanjikan sedikit kebebasan untuknya.


"Ceritakan semua yang kamu ketahui tanpa berbelit. Juga keterlibatanmu. Dari awal sampai akhir. Dan jangan ada yang tersisa ataupun ditutupi dariku."


●●●


"Aku masuk dulu. Terima kasih tumpangannya."


Sisil mengatakan kalimat sopan untuk pertama kalinya di depan James. Tetapi, dari kalimat itu ada satu kata mengganjal yang begitu aneh didengar. James pun langsung bisa mengkritiknya dengan guratan senyum tipis penuh ironi.


"Tumpangan? Sejak kapan mengantarmu disebut memberi tumpangan? Jika kamu menyebutnya seperti itu, maka artinya aku harus mendapatkan bayarannya." James mulai menantang. Ingin mengetahui reaksi Sisil mengenai ucapannya.


"Bayaran? Maksudnya.... uang?"


James terkekeh melihat ekspresi polos Sisil yang sangat jarang dilihatnya.


"Tidak semua bayaran harus dengan uang, Sisil. Kamu bisa melakukan dengan cara yang lain, mungkin?"


Ekspresi wajah Sisil berubah ngeri, ditambah lagi dengan posisi duduknya yang otomatis memundur hingga nyaris membentur pintu mobil.


Pria ini benar-benar, ya?


Sisil menggumamkan kekesalannya dalam hati.


"Jadi aku harus apa?" Sisil akhirnya bertanya dengan terpaksa. Dari situlah bisa dia lihat perubahan wajah James yang menyeringai kesenangan. Perasaan Sisil seketika berubah tidak enak. Dia merasa James pasti sedang menjahilinya.


James pun perlahan memajukan tubuhnya mendekat ke arah Sisil. Mulai menggodanya sambil melihat reaksinya yang mulai berubah sedikit demi sedikit. Mulai dari bingung hingga waspada.


"I wanna kiss you," James berujar pelan. Sengaja mengeluarkan suara berat yang membuat bulu kuduk Sisil meremang seketika.


"Apa?" Sisil sontak memekik terkejut. Namun tak urung dia langsung membekap mulutnya sendiri karena takut suaranya akan terdengar keluar. Mengingat mereka sekarang ada di area gedung kampus.


"Tidak perlu sekaget itu. Kita kan bukan pertama kalinya melakukan itu." Jawab James santai.


Dasar laki-laki ini! Meskipun bukan pertama kali, bukan berarti dia bisa menciumnya di tempat umum, kan? Apalagi sekarang posisinya ada di area kampus yang banyak dilalui orang-orang. Bagaimana kalau ada yang melihat?


"Tapi ini kampus, James. Kamu gila, ya?"


"Aku tidak peduli." Sahut James acuh dengan bahu yang sedikit dinaikkan. "Kalau kamu bersedia, kamu akan keluar dari sini lebih cepat."


Kedua mata Sisil membelalak tidak percaya. Rasanya ingin sekali dia mendorong James menjauh kalau perlu sampai tubuhnya membentur pintu mobil. Tetapi, Sisil tidak sejahat itu yang akan mendorongnya hanya karena sebuah ciuman. Terlebih lagi kepada pria yang setidaknya telah menggetarkan hatinya.


"...ba-baiklah," Sisil akhirnya menyerah pasrah. Membiarkan James melakukan keinginannya secepat mungkin sebelum dia benar-benar dibuat terlambat hanya karena meladeninya.


Senyum nakal James muncul begitu saja. Seakan tidak mau membuang kesempatan, wajah James perlahan mendekat, tubuhnya pun bergerak maju hingga jarak yang sangat dekat. Sisil yang mulai gusar dengan jantung yang mulai berdebar hebat, pun tampak gelisah. Pendingin udara dalam kabin mobil itupun berubah panas. Mungkin saja saat ini wajahnya ikut merona dan matang.


Karena sibuk mengatur nafas dan debaran jantungnya sendiri, tanpa disadarinya wajah James tiba-tiba sudah ada di depannya dengan sangat dekat. Dirinya semakin gugup dan tangan-tangannya mulai basah, untuk menyamarkan kegugupannya itu, Sisil memutuskan untuk memejamkan matanya kuat-kuat sampai kedua alisnya mengernyit dalam.


James yang melihatnya langsung menahan tawa. Belum lagi dengan hidung Sisil yang kembang kempis seperti sedang meraup oksigen. Sangat kontras dengan pipinya yang berubah merah seperti buah apel matang.


Melihat Sisil seperti itu, James menjadi tidak tega dan mengurungkan keinginannya. Dia hanya menatap wajah Sisil karena terpesona. James pun tersenyum seketika, lalu karena tidak ingin membuat Sisil benar-benar terlambat, James malah melayangkan tangannya ke atas kepala Sisil dan mengusapnya dengan sayang. Sontak Sisil pun langsung terperanjat hingga membuat kedua matanya membuka.


"Masuklah,..." ujar James kemudian. "Aku tidak mau menjadi penyebab keterlambatanmu." Imbuhnya dengan bijak. Diselipi dengan nada lembut berbalut senyum.


Deg!


Bisa dirasakan oleh Sisil wajah James yang begitu dekat sangatlah berpengaruh padanya. Jantungnya semakin berdebar dan wajahnya semakin panas. Tanpa mengulur waktu lagi, Sisil langsung membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana. Berjalan sambil setengah berlari menjauhi mobil James dimana sang pemilik mobil tengah memandanginya dari sana dengan senyuman penuh arti.


"Haaahh... Sisil... Aku bisa gila!"