
Cuaca pagi ini tampak begitu cerah, dengan pancaran sinar matahari yang menyinari bumi untuk menyapa manusia-manusia dibawah sana yang akan memulai hari. Meila tampak melangkah keluar dari kamar mandi sambil bersenandung riang, mencerminkan suasana hatinya yang tampak cerah, secerah mentari pagi ini.
Tubuhnya sudah terasa segar, dengan masih mengenakan jubah mandinya, Meila berjalan menuju meja rias samping ranjang sementara tangannya mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk sambil menatap pantulan dirinya melalui kaca rias dihadapannya.
Di waktu yang bersamaan, Dimas baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk Meila dan akan membawakan ke kamarnya. Langkahnya perlahan mulai menaiki tangga menuju kamar Meila yang ada di lantai dua tepat di sebelah kamarnya.
Dimas mengetuk pintu itu perlahan, ketika terdengar telah mendapatkan jawaban dari dalam, Dimas mendorong dan membukanya lebar untuk masuk ke kamar Meila.
Mata tajamnya langsung menangkap ke arah gadis mungil yang terbungkus jubah mandi sambil tersenyum hangat, "Kayaknya ada yang udah segar pagi ini," sapanya kemudian ketika melihat Meila yang tampak segar sambil bersenandung didekat meja riasnya.
Meila menoleh ke arah sumber suara, senyumnya langsung mengembang saat Dimas telah memasuki kamarnya. Dimas yang membawa senampan sarapan untuk Meila langsung meletakkannya di sisi nakas dekat ranjang, lalu membawa kakinya untuk menghampiri Meila dan mendekatinya.
Dimas bergerak memeluk Meila dari belakang, menyentuhkan wajahnya ke rambut Meila yang basah, dan meletakkan dagunya di atas pundak mungilnya. Lalu, menghirup aroma gadisnya yang berbau aroma lembut bayi menyenangkan ketika menembus indra penciumannya.
"Selamat pagi..." ucap Dimas dengan suara parau setengah berbisik, sambil mendekatkan bibirnya ke pundak Meila dan memberikan kecupan singkat disana.
Meila tersenyum sambil menatap pantulan dirinya dan Dimas didepan kaca rias, sementara tangannya bergerak mengusap lengan Dimas yang dilingkarkan ke perutnya yang rata. Dimas sendiri tampak berhati-hati ketika melingkarkan lengannya disana, takut-takut akan menyakiti luka jahitan yang baru saja sembuh dan masih dalam tahap pemulihan itu.
"Selamat pagi..." ucap Meila lembut membalas sapaan Dimas, sementara bibirnya mengurai senyum.
Sekali lagi, Dimas menghirup aroma yang menguar ke udara, dekat dengan lekukan antara leher Meila yang terasa sejuk. "kamu wangi sekali. Wangi aroma bayi lembut yang menyenangkan sampe bikin aku betah didekat kamu," sambil berbisik, bibirnya bergerak mencium pelipis Meila, sesekali menghirup aroma rambutnya.
Dengan gerakan sepelan mungkin, Dimas memutar tubuh Meila agar menghadap ke arahnya, matanya menatap gadisnya lekat-lekat lalu tangannya mengambil handuk yang Meila pegang, akan membantu gadis itu mengelap rambutnya yang sudah setengah kering.
"Sini, aku bantu mengeringkan rambut kamu." Pinta Dimas kemudian, ketika mereka sudah saling berhadapan.
Meila tidak menolak, dia hanya menengadahkan wajahnya ke arah Dimas sambil tersenyum, membuat Dimas mengerutkan keningnya dengan sedikit mendengus pelan, disertai uraian senyum sambil lalu ke arah gadisnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum terus?" Tanya Dimas ingin tahu, tangannya masih bergerak mengelap rambut Meila dengan gerakan lembut tak terkira.
Meila menggelengkan kepalanya pelan, "nggak kenapa-napa," jawabnya
singkat.
Dimas mengangkat sudut bibirnya dan membentuk senyum ironi. Tampak ide jahilnya muncul tiba-tiba untuk menggoda gadisnya.
"Aku tau, aku memang tampan. Kamu nggak usah terpesona kayak gitu," ucapnya bangga dengan sengaja. Sedangkan Meila yang mendengar perkataan narsis yang langsung keluar dari mulut Dimas itu langsung membelalakkan matanya sekaligus terperangah, seolah tidak menyangka jika pria itu akan memuji dirinya sendiri dihadapannya.
Dan tanggapan Meila malah terkekeh, menertawai Dimas yang tiba-tiba narsis dan memuji dirinya sendiri. Meskipun... Meila memang mengakuinya, jika Dimas memang pria tampan, dan juga satu-satunya pria yang sudah berhasil membuat jantungnya berdegup kencang, dan saat ini sedang berada dihadapannya.
"Kamu PD banget sih, kak." Meila menjawab disela-sela tawanya yang renyah, sambil menggerakkan tangannya untuk memukul dada Dimas dengan pukulan ringan.
Bukannya menghindar, Dimas justru membiarkan tangan mungil Meila menyentuh dadanya, dan ikut terkekeh bersamanya. "Tapi benar, kan...?" Sambar Dimas lagi seolah mendesak Meila agar berkata jujur.
Meila tak bergeming, gadis itu malah memandang Dimas dengan mata polosnya dan kepala yang terangkat seakan memindai. Begitupun dengan Dimas, dia sendiri membalas pandangan Meila dengan tatapan lembutnya, menghentikan gerakannya dari mengelap rambut Meila dan membiarkan handuk itu menutupi kepalanya begitu saja.
Kedua telapak tangan Dimas bergerak untuk menangkup sisi wajah Meila, lalu ibu jarinya bergerak menyentuh alisnya, mengusapnya lembut disana. Alis tipis namun tebal itu tampak rapi mengikuti alur garisnya. Lalu turun sedikit untuk mengelus pipi Meila sebelum kemudian menarik wajahnya maju. Perlahan wajahnya pun mendekat, semakin mendesak untuk mendaratkan bibirnya ke atas bibir tipis ranum berwarna merah muda segar nan menggoda itu.
Meila sendiri tampak memperhatikan, dirinya menyadari tindakan apa yang akan Dimas lakukan padanya. Dan tiba-tiba saja seberkas ide jahil muncul begitu saja untuk mengerjai Dimas. Saat Dimas hampir menggapai dan bibirnya hampir menyentuh bibir Meila, Meila dengan sengaja menurunkan handuk yang ada diatas kepalanya lalu menutupi bibirnya sebagai penghalang, agar Dimas menghentikan tindakan yang akan ia lakukan.
Tetapi, bukannya berhenti, Dimas tak gentar, justru semakin dekat dan tidak mempedulikan handuk yang menjadi penghalang dirinya untuk memberikan kecupan disana. Saat bibir Dimas sudah dekat dan hampir menyentuh handuk, dengan satu gerakan lembut, pria itu menurunkan handuk penghalang yang menghalanginya tanpa susah payah. Dan didetik itulah.....
Dimas berhasil mendaratkan sebuah kecupan di bibir Meila dengan sempurna. Meski Meila sempat terkejut dan membeku sejenak, namun didetik setelahnya langsung bersikap tenang dan menerimanya. Meila sendiri bisa merasakan jika Dimas sedang tersenyum sambil menciumnya, senyum kemenangan karena telah lolos dari ide jahilnya.
"Nggak ada yang bisa menghalangi aku untuk memberikan kecupan ke bibir ini....." ucapnya begitu melepaskan bibirnya dari Meila, sementara ibu jarinya mengusap bibir gadis itu dengan usapan lembut. ".....meskipun, jika itu hanya sebuah handuk." Sambungnya lagi sambil mengangkat handuk ditangannya ke udara, hingga berhasil membuat gadis itu melirikkan matanya.
Setengah tergeragap, Meila tampak menatap Dimas dengan malu-malu. Sedikit mendengus sebal sambil menyembunyikan pipinya yang tampak merah merona karena digoda olehnya. Bukan! Bukan dengusan marah, melainkan dengusan malu hingga merasa canggung kembali, seperti saat Dimas pertama kali mengecupnya dan mengambil ciuman pertamanya.
Berkebalikan dengan Meila, Dimas tidak bisa menahan tawanya, tampak menyembur begitu saja lalu tatapannya melembut ketika menyadari Meila mulai memberengutkan wajahnya menahan malu dan menunduk karena canggung.
Perlahan namun pasti, dan dengan tatapan sayang, Dimas melemparkan handuk yang ada ditangannya ke atas ranjang, lalu menarik Meila untuk memeluknya. Mengecup puncak kepala gadisnya yang terasa sejuk menyentuh permukaan wajahnya, dan mengusap punggung Meila dengan usapan lembut tak terkira.
Seolah ajaib, pelukan Dimas padanya entah kenapa selalu berhasil menenangkannya. Dengan gerakan perlahan namun pasti, lengan mungil Meila bergerak melingkar ke pinggang Dimas. Bergelayut manja dalam dekapan hangatnya, menyerap kehangatan dari lengan-lengan kekar Dimas yang kokoh.
Dimas tersenyum merasakan gerakan tangan Meila di pinggangnya.
"Sepertinya gadis mungil ini udah nggak malu-malu lagi. Iya, kan?"
Perlahan kepalanya tertunduk, dan menjauhkan Meila sedikit agar bisa menatapnya. Meila yang ditatap oleh tatapan meneduhkan itu hanya bisa terdiam dan malah membuat pipinya merona kembali. Namun, tak urung perlahan bibirnya mengurai senyum dan tangannya bergerak memeluk Dimas kembali.
"Gadis mungil, lebih baik sekarang kamu sarapan sebelum makanannya dingin. Hm...?" Perintahnya lembut diselipi sikap sayang.
Didetik setelah Dimas berucap, didetik itulah Meila menganggukkan kepalanya dalam dekapan Dimas. Pria itu memberikan kecupan ke pelipis Meila sebelum melepaskan pelukannya. Menarik tangannya dengan lembut, lalu pergi mengajak Meila untuk duduk di tepi ranjang dan menemaninya sarapan sekaligus menungguinya hingga selesai.
●●●
Tubuhnya meringkuk di bawah lantai yang dingin yang hanya beralaskan karpet tipis. Dia memilih untuk menjauh dari teman satu selnya dan menunggu dengan gusar tentang kelanjutan hidup kedepannya. Setelah penangkapannya kemarin malam, dan setelah melalui proses verbal yang memakan waktu hampir tiga jam, sekarang Beno sudah ditempatkan dalam satu tahanan sel bersama tahanan lainnya dengan mengenakan seragam tahanan resmi.
Didepannya telah disediakan sepiring sarapan untuknya namun sama sekali belum disentuhnya sejak tadi. Perasaannya sangat kacau dan bercabang, disatu sisi dia memikirkan bagaimana caranya bisa keluar dari tempat laknat ini secepatnya. Sementara disisi lain, pikirannya entah mengapa tertuju pada Sisil hingga merasa gelisah tidak karuan.
"Woi, tahanan baru! Jangan meringkuk terus, makan makanan lo atau gue ambil lagi jatah makan lo kayak semalem."
Salah satu tahanan bersuara begitu melihat jatah sarapan Beno masih sepiring utuh belum berkurang sedikitpun. Seperti semalam, jatah makan malam Beno yang sudah diatur oleh pihak lapas telah diambil oleh tahanan lain karena Beno tidak juga memakannya.
Beno tak bergeming, dirinya tidak mempedulikan suara yang baru saja menyapanya. Baginya, semuanya hanya angin lalu yang tidak perlu didengarkan. Seolah hanya ada dirinya sendiri dalam tahanan itu tanpa menghiraukan keberadaan tahanan yang lain.
Saat tidak ada jawaban dari Beno, perlahan namun pasti, salah satu tahanan yang tampak sangar dengan penampilan kejamnya berjalan menghampiri Beno untuk mengambil piring sarapan itu begitu saja. Dengan tawa jahatnya yang bisa membuat bulu kuduk berdiri, tahanan itu tampak melemparkan sikap meremehkan pada Beno.
Tahanan itu tampak menyeringai, memindai Beno dengan tatapan jijik.
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, para tahanan yang dari tadi hanya memperhatikan dua orang yang saling bersinggungan tapi yang satunya hanya diam tidak berniat membalas, bersamaan itu pula tiba-tiba semuanya tertawa dengan kompak seolah sedang bersorak menyambut penghuni sel baru yang tampak lemah tak berdaya.
Beno lagi-lagi tak mempedulikan ucapan tahanan itu dan sorak sorai meremehkan yang sedang menertawakannya. Baginya, mereka semua adalah sampah. Sampah tahanan yang hanya merusak mental tahanan lain.
Beno berdecih, bola matanya tampak memutar seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan tahanan itu.
"Perlu kalian tau, lo adalah tahanan, gue adalah tahanan, kalian semua adalah tahanan. Kita semua sama-sama tahanan. Jadi, jangan sok jadi penguasa seakan-akan kalian bisa menginjak-injak gue disini. Gue akan secepatnya keluar dari tempat ini." Ucapannya terhenti, sementara matanya tampak memindai para tahanan lainnya dengan tatapan membunuh. "Dan kalian, akan terus mendekam dalam sel ini seumur hidup kalian! Camkan itu."
Setelah Beno menyelesaikan kalimatnya dengan lantang dan penuh percaya diri, dirinya mendapatkan tatapan membunuh dari para tahanan lainnya karena ucapan menantangnya itu. Khususnya oleh tahanan yang saat ini ada dihadapannya.
"Kurang ajar!" Ucap tahanan itu dengan menggeram, tangannya terkepal untuk memukul Beno dengan sekali gerakan. Namun, Beno lebih cepat dan bisa membaca situasi. Beno menepis pukulan itu dengan santai, lalu mendorong tahanan itu hingga mundur ke belakang dan pasti akan terjatuh jika salah satu temannya tidak memeganginya.
Melihat Beno yang tampak sengaja dengan memasang tatapan menantang, tanpa diduga telah memancing amarah seluruh tahanan tersebut untuk bergerak memukuli Beno secara brutal sebagai peringatan pertama. Meski Beno sempat berhasil lolos dari pukulan yang datang bertubi-tubi, namun pada gerakan selanjutnya dirinya kecolongan dan mendapat pukulan keras di bagian rahangnya hingga jatuh tersungkur ke lantai.
Hal itu dimanfaatkan oleh para tahanan lainnya untuk terus memukuli Beno tanpa henti hingga dirinya tidak berdaya dan kehilangan kekuatan untuk membalas pukulan mereka. Suara pukulan-pukulan itu rupanya telah memancing para sipir penjaga. Sampai beberapa sipir tahanan mendatangi sel itu untuk menghentikan aksi brutal yang belum juga terhenti.
"Hentikan!" Seru salah satu sipir sambil melerai, berusaha mengalihkan perhatian dan menghentikan aksi brutal tanpa aturan itu.
Tapi seruan itu sama sekali tidak dihiraukan, malah semakin menjadi hingga membuat hampir seluruh wajah Beno babak belur karena dikeroyok tanpa ampun. Jatah makanannya pun sudah berantakan dan berserakan kemana-mana tak berbentuk lagi.
Beno ditarik mundur oleh salah satu sipir agar menjauh, lalu menariknya dan mengeluarkannya untuk ditempatkan di sel terpisah sampai keadaan kembali aman.
"Lo nggak akan bisa keluar dari sini! Nggak akan bisa!" Ucap tahanan tadi dengan masih bernafsu untuk memukuli, seolah belum puas melampiaskan amarahnya meski Beno sudah tersungkur pasrah menerima pukulan dan tendangan mereka.
Beno hanya menanggapi dengan tatapan mengejek disertai seringaian. Salah satu sipir itu membantunya berjalan, sementara yang satunya lagi menggembok pintu sel kembali sebelum kemudian berucap memperingati. Seolah pukulan dan tendangan itu tidak ada rasa sakit sama sekali, Beno membalikkan tubuh sambil memutar bola matanya disertai raut wajah menjengkelkan hingga membuat seluruh tahanan menggeram kesal.
Selanjutnya Beno meninggalkan sel tahanan itu dengan tawa jahat mengerikan seolah sedang membangkitkan jiwa prikopatnya. Lalu pergi menuju sel tahanan baru secara terpisah selama proses hukuman berjalan.
●●●
"Apa...? Meila ditusuk sama Beno?"
Seruan keras dan lantang itu terlontar begitu saja dari mulut Airin saat
dirinya mengetahui keadaan Meila dari Bryant. Suaranya yang keras itu berhasil membuat pengunjung resto yang sedang mereka kunjungi menoleh ke arah mereka dengan raut wajah ingin tahu.
"Sssttt! Kendalikan suara kamu, Rin. Kita lagi ditempat umum." Bryant memberi peringatan pada Airin karena telah bersuara keras.
"Ya maaf, kak. Aku kaget denger berita dari kamu." Jawab Airin membela diri, sementara matanya tampak gusar membaca situasi. "Gimana bisa Meila kena tusuk sama Beno, kak?"
Bryant tampak mendesah pelan, terdiam sejenak hingga akhirnya berucap.
"Beberapa hari yang lalu. Kejadiannya di taman dekat rumah Dimas. Lebih tepatnya...Mereka lagi berjalan-jalan pagi ke taman." Bryant berhenti sejenak dan memberi jeda. "Menurut kabar yang aku terima dari Dimas, target Beno sebenernya adalah dirinya. Tapi... karena Meila ngeliat gelagat aneh yang ditunjukkan sama Beno, akhirnya Meila lah yang kena pisau itu." Bryant berusaha menjelaskan penuturannya menurut kabar yang ia terima dari Dimas.
Ya! Dimas telah menghubungi Bryant untuk menanyakan keberadaan dirinya yang tanpa kabar beberapa hari terakhir. Bryant juga tidak memberi tahu Dimas tentang kepergiannya ke Bandung mengingat dia tidak ingin Dimas terganggu dalam merawat Meila yang masih trauma karena penculikan yang dialaminya.
Kening Airin mengernyit ketika otaknya menangkap kalimat yang menegaskan bahwa Dimas lah target Beno sebenarnya. Hatinya bertanya-tanya, untuk apa Beno berniat menyakiti Dimas? Ada masalah apa Beno dengan Dimas?
"Tunggu... tunggu... tadi kak Bryant bilang, target Beno itu kak Dimas. Emang ada masalah apa kak Dimas sama Beno?"
Sekali lagi, Bryant tampak mendesahkan napasnya perlahan, saat ini dia berpikir bahwa dia harus menceritakan semua kejadian yang dialami sahabatnya selama Airin tidak ada.
"Aku lupa untuk menceritakan tentang Meila ke kamu," Bryant membenarkan posisi duduknya, menautkan jemarinya santai lalu memajukan tubuhnya agar lebih dekat. "Sebelum kejadian penusukan itu, Meila sempat diculik oleh Beno. Dan......" Bryant mulai menjelaskan awal mulai kejadian yang menimpa Meila.
"Hah...? Beno menculik Meila? Kok bisa?" Karena terkejut, Airin memotong ucapan Bryant dengan cepat, tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya
"Iya. Dan kamu tau, siapa otak dari penculikan itu?" Bryant bertanya pada Airin, berusaha memancing rasa ingin tahunya.
Airin menggeleng, namun wajahnya tampak tidak sabar menunggu jawaban yang keluar dari mulut Bryant.
"Sisil. Sisil adalah otak dari penculikan Meila. Mereka bekerja sama untuk menculik Meila. Tujuan Beno adalah untuk dendam lama yang jelas kamu tau masalahnya. Sedangkan Sisil, karena rasa iri dan dengki yang tertanam dihatinya sejak lama." tampak jelas Airin sempat membelalakkan matanya ketika nama Sisil terlontar dari bibir Bryant.
"Tuh kan! aku bilang apa. Sisil itu cewek jahat! Sisil itu ular. Licik. Udah berkali-kali aku bilang ke Meila untuk hati-hati sama cewek itu. Tapi, yah..... gadis itu terlalu baik, kak. Meila itu polos. Selalu menganggap semua orang itu baik." Ucapannya melemah seiring dengan perasaan bersalah. Karena bagaimanapun sebagai sahabat, dirinya tidak ada disamping Meila ketika gadis itu sedang dalam bahaya.
"Jadi, kenapa bisa kak Dimas yang jadi target Beno?" Sambung Airin lagi disertai rasa penasaran.
Bryant tampak meminum jus didepannya, menjauhkannya sedikit untuk menjawab pertanyaan Airin. "Karena Dimas lah yang menyelamatkan Meila ketika disekap. Diam-diam Dimas mengikuti Sisil saat akan menuju tempat rahasia Meila disekap. Hingga akhirnya Dimas menangkap basah Beno dan Sisil hingga akhirnya cewek itu kabur dan kita nggak tau dimana keberadaannya sampai saat ini. Sedangkan Beno, mendapat pelajaran setimpal dengan menerima pukulan-pukulan dari Dimas." Jelas Bryant lagi.
Airin sendiri sedang memainkan sedotan di minumannya. Memutar-mutar benda berbahan stainless itu dengan sedikit menimbulkan bunyi melenting ketika beradu dengan bibir gelas.
"Aku nggak sabar pengen ketemu Meila, kak. Aku bisa ngerasain gimana perasaannya saat itu. Dan aku merasa bersalah karena nggak ada disampingnya saat dia membutuhkan pertolongan dan support," sesal Airin kemudian, dirinya bisa merasakan bagaimana ketakutannya Meila menghadapi dua orang jahat itu.
Seketika sekelebat ingatan kejadian di masa lalu tentang insiden pelecehan yang dialami Meila melintas kembali. Saat dimana Meila ketakutan dengan bahu yang gemetaran menahan tangis sambil memeluk dirinya sendiri, gadis yang selalu merasa kuat padahal jelas sangat rapuh didalam.
"Kamu tenang aja, kita akan secepatnya ke Jakarta." Bryant berucap menenangkan, tangannya bergerak untuk mengusap tangan Airin dan meletakkannya diatas tangan Airin. "Aku janji, begitu kita udah di Jakarta, kita akan langsung mendatangi Meila, di rumah Dimas. Kamu tenang aja, ya!" Seru Bryant kembali, kalimat penuh janji seolah sedang menenangkan perasaan Airin saat ini.
Airin pun tahu, dia belum bisa meninggalkan Mama nya yang masih membutuhkan bantuannya. Sedangkan Bryant, dia masih harus menyelesaikan tugas yang diberikan papanya sekaligus sambil menemani mamanya juga yang sedang mengadakan seminar di hotel yang sama dengan Airin menginap.
Airin tersenyum lemah, namun tak urung bibirnya berucap untuk membalas perkataan Bryant. Menjawab perkataan penuh janji yang telah diucapkan oleh Bryant padanya dengan tulus.
"Terima kasih, kak Bri... terima kasih karena udah nemenin aku disini. Meskipun... itu karena nggak sengaja kita ketemunya." Kekehnya pelan diselipi tawa geli, "Kalo nggak ada kamu, aku pasti merasa nggak ada teman ngobrol karena cuma ada mama dan tante-tante yang nggak aku kenal itu," ucapnya lagi yang kali ini disertai gelak tawa lepas.
Bryant mengedipkan kedua matanya perlahan, lalu bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Sama-sama, Rin... Aku juga senang bisa nemenin kamu disini." Jawab Bryant singkat, namun terdengar nada kejujuran dalam ucapannya.
Apapun, Rin... Aku akan berusaha membuat kamu nyaman. Membuat kamu merasa, kalau kamu itu pantas untuk dihargai sebagai wanita. Meskipun kamu adalah wanita tomboy yang selama ini dianggap angin lalu dengan semua lelaki diluar sana. Dan juga karena aku... mulai mencintai kamu!