
James tiba di apartemennya tepat pukul 2 dini hari. Dengan membawa Sisil dalam gendongannya yang sedang terlelap. Dia memutuskan untuk membawa Sisil ke apartemennya mengingat kondisi perempuan itu yang sangat tidak meyakinkan untuk berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya.
James membaringkan Sisil ke atas kasurnya. Membenarkan posisinya dengan memasangkan selimut ke seluruh tubuhnya. Dia berniat untuk menghubungi Adrian saat mereka sudah sampai di apartemennya. Itu pun dengan alasan jika dia telah berhasil menemukan Sisil dan akan menjemputnya besok pagi dan mengantarnya pulang.
Ya. Dia terpaksa harus berbohong demi agar perempuan ini terlepas dari amarah orang tuanya.
Sungguh benar-benar gila, bukan?
James lalu duduk di pinggir ranjang dan memandangi Sisil yang sedang menggumamkan kata-kata dalam keadaan tidak sadar, dan mengingat ciuman pertama di antara mereka tadi. Masih dengan bergumam tidak jelas, Sisil seketika langsung meringkuk di balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Kemudian James langsung mengalihkan lagi pandangannya sebelum dia benar-benar lepas kendali dan melakukan hal yang lebih dari sebelumnya. Dia tidak mau di cap sebagai lelaki brengsek yang hanya memanfaatkan kondisi seorang perempuan yang sedang tidak sadar karena mabuk.
James kemudian bangkit dari pinggir ranjang dan melenggang menjauh ke arah balkon kamar. Dia berniat akan menelepon Adrian untuk mengabarkan keadaan putrinya. Dengan sedikit perasaan bersalah karena berniat untuk berbohong demi perempuan yang sekarang sedang tidak sadar di atas ranjangnya.
"Ya, Om." Nada dering panggilan itu langsung terjawab di nada dering kedua. "Iya, om. Emm... Aku mau mengabarkan kalau aku sudah menemukan Sisil. Dan dia bilang akan menginap di rumah temannya malam ini."
James mengutarakan maksud dengan memberikan penjelasan setenang mungkin.
"Haaah... syukurlah. Akhirnya kamu menemukannya. Om sampai pusing mencari keberadaan anak itu." Suara Adrian terdengar lega. Tapi tidak dengan James. Dia merasa bersalah karena telah membohonginya.
"Iya, om. Aku udah menemuinya dan akan mengantarnya pulang besok pagi sebelum jam kuliahnya dimulai. Om dan tante nggak perlu khawatir dan istirahat aja."
"Om sedikit lega mendengarnya. Terima kasih banyak, James, karena lagi-lagi om merepotkanmu. Untung ada kamu yang membantu kami."
"Jangan sungkan, om. Aku senang bisa membantu om dan tante. Lebih baik om dan tante istirahat. Biar aku yang akan menjemput dan mengantar Sisil pulang besok pagi." Seru James memberi saran dengan sikap tenang.
"Baiklah, kalau gitu. Terima kasih sekali lagi, ya. Kamu juga istirahatlah. Dan jangan terlalu memporsir pekerjaanmu. Tidak baik untuk kesehatanmu, James. Kalau gitu, om tutup teleponnya, ya.." Adrian akhirnya memutus panggilan telepon itu dengan membiarkan James meninggalkan ekspresi lesu dan lemas.
James akhirnya menghembuskan nafasnya sejenak sebelum akhirnya berucap dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku, om. Aku terpaksa harus melakukannya."
●●●
Suasana ruang makan itu sangat hening. Hanya terdengar dentingan garpu dan sendok yang bertabrakan dengan piring. Dimas dan Meila tampak menikmati sarapan mereka masing-masing tanpa suara. Terlebih dengan Meila, dia terlihat diam dan lebih banyak menunduk. Lebih tepatnya seperti sedang menyembunyikan pandangan matanya dari Dimas.
Dimas sendiri sangat sadar akan hal itu. Karena dialah penyebab gadis mungilnya itu tiba-tiba menjadi pendiam.
"Kamu bilang hari ini ada rapat senat? Kamu udah nyiapin semuanya?"
Dimas bertanya tiba-tiba.
"Udah..."
Jawaban itu singkat. Tanpa mengangkat kepala maupun menoleh.
Dimas jadi ingin menggodanya kalau seperti ini. Tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakannya. Hal itu akan dia lakukan sekarang juga.
"Hari ini jadwal kelas aku sedikit longgar. Kalau kamu mau, kita bisa jalan-jalan sebentar sebelum pulang ke rumah. Gimana?"
"I-iya..."
Lagi, tidak seperti dugaan Dimas. Dengan memancingnya kalau mereka bisa berjalan-jalan dulu setelah pulang kuliah, rupanya tidak cukup menarik perhatian Meila. Gadis itu masih tetap menunduk dan berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengannya.
"Kamu mau kita kemana? Ke mall? Ke taman? Atau... nonton?"
Dimas memberikan pilihan yang langsung dijawab Meila tanpa memberikan jawaban dari salah satu yang Dimas sebutkan.
Dimas terkekeh melihat Meila yang lebih pendiam dari biasanya. Gadis itu lebih sedikit berbicara, dan menghindari tatapannya.
Dengan gemas dan tidak sabar, Dimas menarik dagu Meila untuk dihadapkan padanya. Memindai wajahnya dengan seksama, serta memperhatikan tingkahnya yang terlihat kikuk.
"Kamu itu kenapa, sih? Aku perhatiin sejak tadi pagi, kamu berusaha menghindari tatapan aku. Kenapa?"
"Ng-nggak apa-apa. Aku cuma... lagi buru-buru aja buat nyiapin rapat nanti." jawab Meila sekenanaya.
Dimas tersenyum simpul. Dia tau itu hanya dalih untuk mengalihkan pembicaraan saja.
"Buru-buru kenapa? Bukannya kamu bilang kamu udah nyiapin semuanya?" Dimas memancing dengan bertanya balik.
"I-iya, memang udah. Tap-tapi aku harus memastikannya lagi, kan?"
Dimas mengangguk. "Tapi bukan karena... itu kan?" Tentu maksud Dimas menjurus pada tanda yang ada di leher Meila.
Meila tersentak dan tergeragap. Dia tidak menyangka jika Dimas akan menyinggung tanda di lehernya lagi pagi ini. Mungkin sekarang tanda yang dia tinggalkan itu sudah berubah warna menjadi merah kebiruan.
"Bu-bukan, kok. Bu-bukan karena itu,"
Dimas terkikik geli dan membuat Meila keheranan. Dan kali ini gadis itu malah memperhatikan Dimas yang sedang nenertawainya dengan ekspresi bingung tanpa sadar.
Emang apanya yang lucu?
"Emang kamu tau apa yang aku maksud dengan kata 'itu'?" Dimas bertanya dengan memberikan penekanan pada kata 'itu'. Yang tentunya dengan gaya jahilnya yang kental.
"Emang apalagi? Maksud kakak itu yang sema.....lam...., kan?" .
Hap!
Meila langsung menutupi mulutnya sendiri karena terjebak dengan kejahilan Dimas. Dia merasa kesal hingga membuat wajahnya merona dan panas.
Dimas tampak terkikik geli melihat Meila yang kembali salah tingkah dengan wajah merona.
"Coba sini aku liat," pintanya.
Dimas lalu mengibaskan rambut Meila untuk melihat tanda yang dihasilkan dari kelakuan nakalnya itu. Dia lalu mengusap tanda di leher itu dengan lembut. Kemudian menatap Meila kembali dengan tatapan sayang dan dalam.
"Manis. Terlihat manis dan sangat kontras." Serunya dengan ekspresi penuh sayang. "Kamu yakin nggak mau menutupinya dengan baju kerah yang lebih tinggi lagi?"
What? Apa ini kurang tinggi? Aku udah mencari-cari baju yang cocok dengan memberantakkan hampir seisi lemari kamu, tau nggak?
"Ini adalah baju dengan kerah paling tinggi yang ada di lemari kakak. Lagipula, kalaupun ada yang liat dan bertanya, aku langsung jawab aja kalau ini adalah gigitan serangga seperti yang kak Vika alami dulu."
Kali ini ekpresinya berubah menjadi percaya diri. Dan itu sungguh membuatnya imut di mata Dimas.
Mendengar pengakuan Meila, Dimas terkejut. Matanya membelalak kagum dengan apa yang Meila ucapkan. Dan yang tak kalah mengejutkannya lagi, gadis itu berbicara dengan ekspresi polos yang membuatnya menjadi semakin gemas dan juga imut.
Tatapan Dimas berubah sayang sekaligus kagum. Dia lalu mengusap tanda di leher Meila sekilas, lalu beralih naik mengusak-usak rambut kepalanya dengan sayang.
"Gadis pintar!" Pujinya kemudian. Lalu dia bertanya lagi dengan ekspresi menggoda yang kental. "Berarti kapan-kapan... aku boleh melakukannya lagi?"
Kedua mata Meila membelalak. "Kakak!" Sergahnya kemudian sambil memberikan pukulan ke lengan Dimas yang langsung disambut gelak tawa pria itu.