
Sepanjang perjalanan pulang tak ada percakapan antara dua sejoli yang sudah selangkah lebih dekat karena ciuman mereka yang singkat dan terbilang mendesak namun cukup romantis. Ya, ciuman yang terjadi terbilang cukup romantis karena moment yang pas pada saat senja tiba berganti petang di tengah taman terbuka hijau yang lapang.
Dimas lebih memilih fokus mengemudi tanpa bersuara, begitupun dengan Meila yang lebih memilih memalingkan wajah ke arah luar jendela untuk melihat pemandangan ibukota malam dengan lampu jalan kerlap-kerlip tinggi menjulang disepanjang perjalanan yang mereka lalui. Dia berusaha keras untuk tak menoleh pada Dimas, hanya terdengar alunan musik pengantar kebisuan yang diputar untuk menemani kecanggungan di antara keduanya.
Dimas sangat tahu sikapnya tadi telah membuat hubungan mereka hampir ke titik nol lagi, dimana pada saat pertemuan awal mereka yang tanpa sengaja setelah beberapa waktu Dimas mencari tau dan Meila yang berusaha melupakan. Namun hal itu tak membuat Dimas menyesal sedikitpun, malah justru membuatnya semakin penasaran dan ingin menelisik lebih dalam kepribadian Meila.
Kecanggungan dan kebisuan mereka membuat perjalanan terasa lebih lama dari perkiraan, tanpa bicara dan juga tanpa saling tegur sapa, hal itu membuat Meila sedikit jengah dan ingin buru-buru sampai rumah dan masuk mengunci diri dikamar sambil mengutuk sikapnya yang tak bisa mentolerir bahkan menolak sedikit saja tindakan Dimas, justru malah dia...menikmati?
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mobil yang mereka kendarai telah masuk ke dalam komplek perumahan Meila berada. Hanya tinggal beberapa blok lagi mereka akan sampai. Sunggguh jika bisa, Meila akan turun dan lebih memilih jalan kaki daripada harus duduk disamping sang pengemudi tanpa perbincangan. Dia sama sekali tak merasa marah ataupun menyesal, melainkan canggung bahkan malu jika membayangkan memutar kembali kejadian sebelumnya.
Akhirnya mereka sampai tepat di depan gerbang tinggi yang sisi kanan dan kirinya terdapat lampu yang menghiasi halaman rumah.
"T-terma kasih kak udah nganterin aku sampe rumah. Makasih juga untuk hari ini." Meila berusaha menyuarakan apa yang ada dipikirannya dengan tenggorokan yang sedikit tersekat dan kecanggungan yang masih kental. Ia sekilas menatap pada Dimas namun segera mengalihkan lagi pandangannya ke luar jendela berusaha tak menciptakan kontak mata pada Dimas.
Dimas menyadari itu, namun ia tak mau menghiraukan. Ia tersenyum dan berusaha setenang mungkin mengendalikan perasaannya lagi. Ia mengubah posisi duduknya sedikit mengarah ke samping Meila duduk.
"Sama-sama. Kapanpun kamu mau, aku selalu bisa." jawaban Dimas sangat misterius dan penuh tanya ditambah lagi dengan senyuman menggodanya yang membuat Meila tepat di sampingnya saat itu langsung menolehkan kepala sekaligus mengerutkan keningnya dalam.
"Hah? B-bisa apa?" tanyanya dengan nada polos dengan mata sedikit membelalak.
Sikap Meila yang seperti itu lagi-lagi membuat Dimas gemas. Gadis ini sangat polos, ia ingin menyentuh, mengusap kepala Meila gemas seperti yang sudah ia lakukan namun dengan segera ia urungkan.
Dimas terkekeh sebelum kemudian ia menjawab pertanyaan Meila dengan lembut. "Ya bisa nemenin kamu. tentunya. Aku akan selalu ada waktu, kapanpun kamu mau ke taman itu lagi. Atau... kemanapun." Dimas mengangkat sebelah alisnya penuh pengertian pada Meila namun terselip nada menggoda didalamnya.
Pipi Meila langsung memerah mendengar jawaban Dimas. Mungkin saat ini Dimas sedang berpikir kalau ia sedang memikirkan hal-hal diluar kepalanya dan Dimas pasti tau itu.
"Astaga! Lo mikir apaan sih? malu-maluin aja lo, Mei!" ucapnya dalam hati sambil berusaha menenangkan diri agar tersamar oleh penglihatan Dimas.
"Yaudah, kalo gitu aku masuk ya kak. Sekali lagi terimakasih." Meila berusaha menampilkan senyumnya meski masih dengan wajah malu.
Dimas menganggukkan kepala tipis dan mengedipkan mata tanda mengiyakan. Meila membuka seatbelt sedangkan Dimas membuka pintu kemudi dan keluar kemudian memutari mobil untuk membukaan pintu Meila.
Beruntung melepaskan seatbelt itu tak sesulit seperti yang ada di film-film sehingga kali ini tak ada drama tatap menatap antara mereka, jika memang itu terjadi, Meila tak bisa membayangkan pasti akan semakin canggung dan menyesakkan dada.
Setelahnya Meila turun dan tersenyum sebelum melangkah membalikkan tubuh. Saat itu juga Dimas menyadari ada yang tertinggal di jok belakang mobilnya. Itu adalah kantung besar berisi cheese cake tadi yang ia taruh sebelum akhirnya ia mengajak Meila ke taman.
"Mei, tunggu.." Dimas menahan tangan Meila dengan tegas namun lembut. Saat itu juga Meila langsung menoleh menengadah ke arah Dimas dan tak berusaha melepaskan tangannya yang ditahan oleh Dimas.
Dengan masih menggenggam pergelangan tangan Meila, sebelah tangannya lagi membuka pintu belakang mobil dan mengeluarkan kantung besar itu kemudian menyodorkannya pada Meila. "Kamu lupa sama ini, cheese cake?" dinaikkannya sebelah alisnya sambil menatap Meila.
"Ah, aku lupa kak," Meila menerima kantung itu dari tangan Dimas namun masih berpikir dan akhirnya mengutarakan. "tapi, apa ini nggak apa-apa kak? ini banyak banget. apa.. bagi dua aja?" pertanyaan beruntun itu ia utarakan langsung dari pikirannya dan dengan cepat di sanggah pula oleh Dimas.
"Kamu lupa aku nggak suka makanan manis, hm?" Tanyanya yang sekaligus mengingatkan kembali pada Meila.
"Gak pake tapi-tapi an, anggap aja ini ucapan terima kasih aku karena kamu udah nolongin aku untuk kejadian supermarket beberapa waktu lalu." Dimas menekankan kata 'supermarket' pada Meila, hingga Meila dengan cepat langsung mengingat kejadian dimana ia membayar semua belanjaan Dimas sampai habis.
Mengingat kejadian itu membuat Meila tersenyum hingga sedikit tergelak, dan itu menular pada Dimas. Mereka menertawakan kejadian itu sampai pada akhirnya Dimas lah yang memulai pembicaraan kembali.
"Yaudah kamu masuk sana," sambil memajukan sedikit dagunya ke arah pintu gerbang. "malam semakin larut, udaranya mulai dingin." perintahnya lembut dengan nada penuh perhatian.
"Hmm, yaudah aku masuk ya kak. Sekali lagi terima kasih, cheese cake nya." ucap Meila sambil mengangkat kantung berisi cheese cake ke udara dan melambaikan ke arah Dimas.
"Ya.. sama-sama." jawabnya lembut dan selalu dengan senyuman khasnya yang ramah menampilkan lesung pipinya yang tak pernah ia tunjukkan pada gadis manapun.
Setelahnya Meila melangkah masuk, dan kali ini Dimas tak menahan apapun lagi. Dimas tak langsung masuk ke dalam mobil, ia memastikan terlebih dulu sampai Meila benar-benar masuk dengan aman. Setelahnya ia baru memasuki mobilnya sambil memasang senyum bahagianya yang tak pernah ia tampilkan pada siapapun.
βββ
Begitu masuk kedalam kamar, Meila tanpa pikir panjang langsung mandi dan membersihkan diri dari lengketnya keringat akibat sinar matahari yang begitu terik seharian ini.
Ia dengan bijak tak lama-lama menyiksa diri dengan mandi berendam di dalam bath tub, ia hanya menggunakan shower air hangat untuk mengguyur seluruh tubuhnya dan itu sangat membuat dirinya rileks.
Setelahnya ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dan berjalan menuju meja rias dengan kaca besar didepannya. Meila duduk sambil menatap dirinya di cermin, sepintas bayangan dimana Dimas menciumnya tergambar jelas di ingatan, jika diumpamakan cermin itu bagaikan layar besar yang menampilkan adegan mereka dengan jelas seperti didalam film. Tanpa sadar Meila menyentuh bibirnya dan mengusapnya lembut. Mengingatnya saja sudah membuat pipinya bersemu merah, jantungnya berdetak kencang, dengan cepat ia langsung menggelengkan kepala mengusir perasaan aneh yang menggayutinya.
Ketika Meila sedang berusaha sekuat tenaga menormalkan perasaanya, bunyi denting pesan aplikasi mengalihkan pikirannya. Dengan cepat Meila bangkit dan berpindah duduk di tepi ranjang dan membuka pesan dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Matanya membelalak ketika melihat nama Dimas lah yang mengiriminya pesan. Dibukanya pesan itu dengan jantung yang kembali berdetak kencang dan perasaan yang masih belum sepenuhnya bisa teratasi.
Kak Dimas :
"Maaf sebelumnya kalo aku udah ganggu kamu. Aku lupa ngucapin sesuatu sama kamu tadi, dan sepertinya aku harus ngucapin itu. Aku cuma mau bilang, Terima kasih udah mau aku ajak jalan hari ini, meski itu terbilang dadakan dan tak terencana. Aku harap lain waktu kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi dan akan aku pastikan, lain kali dengan Kencan yang sudah terencana! π
Sampai ketemu besok di kampus. Good Night, manis! π"
Pipinya merona kembali, ia menarik nafas dalam, berusaha menetralkan dirinya. Isi pesan itu membuat jantung Meila berdegub kencang. Ditambah lagi Dimas yang tak lupa menulis pesan itu dengan memberikan beberapa emoji manis pendukung pesan aplikasi.
Besok! Besok! Di kampus, entah gimana aku menghadapi kamu, kak!
βββ
Di tempat lain di sebuah balkon, si pengirim pesan sedang menyesap cappuccino dengan bibir penuh senyum menatap layar pipih ditangannya setelah mengetahui pesan yang ia kirim sudah sampai dan langsung dibaca oleh sang penerima.
Dimas mengingat kejadian dimana ia mencium Meila dengan senyum penuh ironi membayangkan betapa gemas Meila dengan wajah polos ketika terkejut menerima perlakuannya. Hal itu menggelitik hatinya, dia tak pernah memikirkan bahwa kejadian itu tak pernah terpikirkan bahkan membayangkan saja ia tak sempat. Dimas jadi berpikir, mungkin saja sekarang Meila sedang mengingat kejadian singkat ditaman tadi sambil menutupi wajahnya yang merona karena malu.