A Fan With A Man

A Fan With A Man
Double-date



Mereka sedang berada di meja makan dan sedang menyantap sarapan. Setelah tadi menciptakan suasana menenangkan satu sama lainnya, Dimas membiarkan Meila merapikan diri dan menunggunya di meja makan untuk sarapan.


Tak ada yang memulai perbincangan, keduanya sama-sama menikmati menu sarapan masing-masing tanpa suara. Dimas sendiri hampir menghabiskan sarapannya dengan santai, dan mengunyahnya perlahan dengan tenang.


Namun, berbeda dengan Meila, gadis itu terlihat sedikit lemas seperti sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal dibenaknya. Membuatnya tidak tenang dan harus segera dibicarakan kepada Dimas.


Sambil menaruh sendok ke atas nasi gorengnya, tepatnya di sisi kanan piring, Meila mendesahkan napas lesu sebelum kemudian mengeluarkan isi hatinya.


"Kak Dimas," suaranya meragu, namun tak lama Meila melanjutkan ucapannya lagi. "Apa.... nggak apa-apa kalo kita keluar? Aku takut kalo.... Beno...."


Dimas yang mendengar ucapan itu ketika sedang mengunyah suapan terakhirnya, terhenti sejenak disertai alis yang mengernyit dalam, lalu dia tersadar jika saking terfokusnya merawat Meila, dirinya tidak sempat memberitahu gadis itu kalau Beno sudah tertangkap, penyebab semua kekacauan itu sudah ditahan.


Dengan perlahan Dimas mengambil segelas air dan meminumnya. Lalu, meletakkannya kembali dengan senyuman santai namun lembut yang membuat dahi Meila berkerut penuh tanda tanya.


"Saking aku terfokus merawat kamu, kayaknya aku lupa untuk memberitahu kamu berita itu." Ucap Dimas berteka-teki, dimajukannya tubuhnya agar semakin dekat dengan Meila.


Sungguh, Dimas membuatnya penasaran, Meila sedikit terperangah oleh kata-kata yang pria itu ucapkan.


"Berita.... apa?" Tanya Meila dengan rasa penasarannya.


Dimas tersenyum, tangannya pun mengikuti, mengenggam jemari mungil itu dengan sedikit remasan lembut. Lalu ditatapnya wajah Meila sebelum kemudian mengutarakan maksud dari ucapannya tadi. Menjawab rasa penasaran Meila yang sedang menunggunya dengan mata besarnya.


"Hal yang kamu takutkan itu udah menjauh dari kamu. Dia udah mendapatkan tempat yang layak untuk semua perbuatannya. Pria itu nggak akan mengganggu kamu lagi," rupanya Dimas masih berteka-teki, membuat wajah Meila semakin dibuat penasaran olehnya.


"Beno udah tertangkap, Mei... Dia udah mendapatkan balasannya. Kamu nggak perlu cemas dan memikirkannya lagi." Dimas berujar perlahan, sedikit ada nada penekanan dalam intonasinya, memaksa Meila untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Meila terkesiap, matanya membelalak sempurna dan hampir tidak percaya.


"B-beno... tertangkap? Dia.... di... dipenjara?" Meila seolah mengulang kata-kata Dimas, mengucapnya sekali lagi dengan terbata, layaknya anak kecil yang mengulang kata-katanya sambil mengoceh gemas, sikapnya itu untuk memastikan sekali lagi, bahwa yang didengarnya itu tidaklah salah.


"Ya. Beno udah tertangkap dan sekarang udah menjadi tahanan resmi. Dia dikenakan pasal berlapis atas semua perbuatannya." Jelas Dimas menimpali.


"Kapan kak? Kapan Beno tertangkap?" Tanya Meila lagi.


"Waktu kita masih berada di rumah sakit dengan keadaan hujan lebat." Jawab Dimas singkat, dimajukannya wajahnya sedikit dengan tangan sambil mengelus permukaan tangan Meila yang halus. Meila sendiri langsung dapat mengingat waktu dimana hujan lebat itu terjadi.


Meila sungguh bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang pria yang mempunyai banyak akal dan sangat licin itu dengan mudahnya tertangkap? Mungkinkah dia sedang lengah sehingga tidak menyadari jika pergerakannya sedang diawasi?


"Rendy yang mengatur itu semua. Sebelumnya, dia telah berkoordinasi sama aku kalau dia, sedang bekerja sama dengan temannya untuk memata-matai keberadaan Beno. Kami juga melibatkan polisi yang menyamar agar sulit dikenali." Dimas menatap Meila lekat-lekat, membiarkan gadisnya untuk berpikir tentang penangkapan Beno yang dirinya tahu kalau saat ini, Meila sedang membayangkan bagaimana Beno tertangkap melalui cerita darinya.


"Setelah beberapa waktu rencana kita hampir berhasil dan penangkapan itu hampir terjadi, Beno menyadarinya. Beno menyadari jika dia sedang dimata-matai oleh kami dan akan melarikan diri. Namun Beno juga nggak semudah itu untuk melakukannya, saat salah satu mata-mata kita bergerak untuk menyergap dan melakukan perlawanan, saat itu juga seorang polisi yang menyamar datang bersama beberapa polisi lainnya untuk mengepung. Dan terjadilah penangkapan itu. Tanpa perlawanan dan tanpa pergerakan apapun."


Meila rupanya masih berusaha mencerna semua penjelasan Dimas. Sampai-sampai, dirinya terpaku mendengar setiap detail rencana yang mereka susun demi untuk menangkap Beno, dan semua itu demi untuk dirinya.


Dimas tampak terkekeh ketika dilihatnya Meila masih terperangah tanpa bersuara. Berusaha mengalihkan perhatian gadisnya, Dimas mengusap punggung lengan Meila dengan lembut sebelum kemudian berucap menenangkan.


"Jadi intinya, mulai sekarang kamu nggak perlu merasa cemas lagi untuk keluar rumah." Sambil melengkungkan senyum, Dimas memberi jeda sejenak dengan bola mata memutar. "Tapi, tetap. Selama kamu masih dalam pengawasan aku, selama kamu berada dibawah perlindungan aku, selama itu juga aku nggak akan pernah ngebiarin kamu kemana-mana sendirian. Karena apa? Karena meski Beno udah tertangkap, masih ada wanita ular itu. Dan bukan nggak mungkin kalau dia akan mencari Beno-Beno yang lain untuk mengganggu kamu."


Penjelasan Dimas yang tak luput dari perhatian itu menumbuhkan rasa damai dan aman dalam diri Meila. Meila juga menyadari jika masih ada Sisil yang tadi dimaksudkan oleh Dimas yang belum diketahui keberadaannya sampai saat ini. Tapi yang jelas, apapun keputusan Dimas dan Rendy, Meila mempercayai jika itu pasti yang terbaik untuknya dan untuk keamanan dirinya.


Perlahan senyum dibibir Meila terbentuk, memberikan senyuman terbaiknya pada Dimas yang saat itu masih memandanginya dengan tatapan penuh kelembutan tak terkira.


"Terima kasih..."


Meila mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus. Menciptakan suasana hening menyenangkan diantara mereka.


"Sama-sama." Jawab Dimas tak kalah lembut. Disertai usapan lembut ke dagu Meila dengan sedikit cubitan ringan namun tak menyakiti.


Bersamaan dengan selesainya pembicaraan mereka, didetik itulah terdengar suara bel yang dibunyikan, menandakan datangnya seseorang dan menunggu untuk segera dibukaan pintu. Terdengar jelas jika suara bel itu meninggalkan jeda sejenak tapi kemudian terdengar kembali.


"Sekarang, kamu lanjutkan sarapan kamu. Aku akan lihat siapa yang datang." Perintah Dimas sambil beranjak dari tempatnya duduk. Tak lupa juga dirinya untuk menghadiahkan sebuah kecupan singkat ke kening Meila sebelum kemudian melenggang pergi begitu Meila menganggukkan kepalanya dan langsung meraih sendoknya kembali untuk melanjutkan sarapannya yang terhenti.


●●●


Perlahan, Dimas membuka pintu utama dengan gerakan perlahan. Dan betapa terkejutnya dia ketika dihadapannya terpampang dua orang yang sudah berdiri didepan pintunya dengan dua buah koper yang ditaruh di lantai.


"Kalian...?" Tegur Dimas kemudian dengan mata setengah membelalak namun tampak senyum sumringah membingkai wajahnya.


"Hai, kak." Airin bersuara lebih dulu sambil diselipi sikap tomboy yang menjadi khasnya.


"Sorry, Dim.. gue udah ganggu lo pagi-pagi gini. Gue langsung berangkat dari Bandung dan langsung kesini." Ucap Bryant sambil melirik ke arah Airin, membuat gadis itu membalas lirikannya dengan kekehan canggung.


Tentunya Dimas tahu maksud dari sikap Bryant, bukan tanpa alasan dirinya bertamu kerumahnya pagi-pagi dengan Airin jika bukan untuk bertemu Meila, sahabatnya. Tapi mengenai Bryant....


Dimas tertawa disertai gelengan kepala, "it's okay. Ayo masuk! Meila ada di dalam lagi sarapan." Tangannya digerakkan menghela keduanya untuk mempersilahkannya masuk.


Mendengar Dimas menyebut nama sahabatnya, senyum Airin bertambah sumringah dan dengan tergesa-gesa ingin langsung berlari menghampiri Meila. Namun kemudian meragu mengingat jika koper dan ranselnya masih berada di luar bersama Bryant, membuat langkahnya terhenti dan akan mundur kembali jika Bryant tidak berucap dengan cepat.


"Kamu hampiri Meila aja. Biar koper kamu aku yang bawa." Sergah Bryant dengan nada pengertiannya.


Sungguh mengejutkan! Reaksi Airin tampak sumringah disertai mata yang berbinar riang. "Terima kasih, kak Bri." Setelah berucap, Airin langsung berlari untuk menghampiri sahabatnya. Dirinya sudah tidak sabar untuk mendengar semua cerita darinya selama mereka tidak bersama.


Reaksi Dimas tak kalah mengejutkan, pria itu tampak terperangah heran dengan alis yang naik sebelah sambil menahan senyum. Apalagi, mendengar Airin yang memanggilnya dengan sebutan itu, seolah mereka sudah sangat akrab selama dirinya tidak ke kampus dan merawat Meila dirumahnya.


"Sini, biar gue bantu bawa koper-koper lo." Dengan cepat, Dimas membantu Bryant membawakan beberapa koper ditangannya dan membawanya masuk.


Bryant lah yang masuk terlebih dahulu diikuti dengan Dimas dibelakangnya sebelum kemudian menutup pintu kembali dan mengikutinya.


●●●


"Meilaaaaaaaa...!"


Suara sapaan lantang khas dari kejauhan itu langsung dapat dikenali. Sontak Meila langsung menolehkan kepala sekaligus memusatkan matanya pada sosok cewek tomboy yang sedang berlari menghampirinya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Airin!" Sontak Meila beringsut bangun dari duduknya. Mereka berdua saling berpelukan layaknya sahabat yang saling terpisah dan baru saja dipertemukan kembali setelah sekian lama.


"Gue kangen banget sama lo, Mei..." ucap Airin lebih dulu mengungkap perasaannya.


"Gue juga kangen banget sama lo. Udah hampir dua minggu kita nggak ketemu. Padahal cuma antara Jakarta-Bandung aja." Balas Meila disertai kekehan sambil menggerakkan tangannya ke punggung Airin.


"Eh, lo sama siapa kesini?" Meila bertanya dengan penasaran begitu melepaskan pelukannya.


Begitu Airin baru saja akan membuka suara, disaat bersamaan Dimas muncul bersama dengan sosok tegap yang hampir menyamai ketinggiannya. Dimas berjalan bersisian dengan Bryant sambil membantu membawa koper dengan langkah santai dan senyuman.


Meila menganggukkan kepala, tersenyum ke arah Bryant yang berjalan menghampirinya diikuti oleh Dimas disampingnya.


"Hai, kak Bryant. Aku baik-baik aja. Terima kasih..." jawab Meila membalas sapaan Bryant.


"Eh iya, kalian pasti belum sarapan, kan? Gimana kalo sarapan bareng-bareng? Kebetulan gue buat sarapan lebih tadi. Bentar gue siapin piring buat kalian. Mumpung masih hangat."


Dimas menawarkan kepada Airin dan Bryant tanpa menunggu jawaban dari keduanya, dan langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan peralatan makan.


Dimas pun tahu, Airin dan Bryant sudah pasti belum sarapan mengingat tadi Bryant bilang kalau mereka mengambil penerbangan dini hari. Walaupun dalam perjalanan didalam pesawat disediakan beberapa makanan ringan dan juga sarapan, Dimas bisa menebak jika mereka pasti tidak menyantapnya dengan benar.


"Ayo, Rin.. kak Bryant... kita sarapan bareng." Ajaknya dengan riang.


Meila mengajak keduanya untuk sarapan sambil menemaninya yang juga belum menghabiskan sarapannya. Lalu, mempersilahkannya untuk menempati tempat duduk kosong sambil menunggu Dimas membawakan alat makan untuk mereka.


Tak lama kemudian, Dimas datang dengan membawa dua buah piring ditangannya dan meletakkannya di masing-masing tempat mereka duduk. Lalu, menyendokkan nasi goreng ke atas piring Airin dan Bryant sebelum kemudian memerintahnya dengan nada menyuruh yang kental hingga menciptakan gelak tawa diantara mereka, layaknya seorang ibu yang sedang menyuruh anaknya untuk makan tanpa ada perlawanan.


●●●


"Jadi itu sebabnya, lo tinggal disini sampe sekarang?"


Meila tampak mendesah pelan, "iya, Rin. Karena itu juga kak Dimas nggak ngebiarin gue buat tinggal dirumah sendirian sementara bibi lagi pulang kampung." Jelasnya lagi.


Meila sudah menceritakan semua kejadian yang menimpanya pada Airin. Mulai dari Beno yang menerornya, lalu penculikan yang dialaminya yang telah direncanakan oleh Sisil dan Beno, hingga penusukan yang terjadi padanya beberapa hari lalu.


Setelah Airin dan Bryant sarapan, mereka melakukan bincang-bincang sesaat di meja makan sebelum kemudian dua pria itu memilih untuk memisahkan diri dan memilih untuk melanjutkan percakapan antara sesama pria di taman belakang. Sementara para gadis masih setia berada di kursi meja makan tanpa mau beranjak pindah ke ruang utama.


"Tapi syukurlah, Mei. Lo baik-baik aja. Apalagi... sekarang si psikopat gila itu udah masuk tahanan. Gue kaget banget waktu denger berita dari kak Bryant kalo lo ditusuk sama Beno." Airin berucap sambil bersungut-sungut dengan bola mata memutar. "Rasanya gue pengen cepet-cepet balik ke Jakarta dan ketemu lo, pengen meluk lo, pengen denger semuanya langsung dari mulut lo." Lalu seketika ucapannya berubah menjadi kekehan ringan.


Mendengar Airin membicarakan tentang Bryant, telah memancing rasa penasaran Meila yang tadi belum sempat hilang. Sebelum pembicaraan mereka kemana-mana, Meila berpikir untuk menanyakannya langsung pada Airin sebelum sahabatnya itu mengalihkan pembicaraannya.


"Eh, Rin.. tentang kak Bryant.. kok lo bisa dateng barengan kesini dan... sama-sama bawa koper juga? Kalian berdua... ada apa?" Tanpa ditahan-tahan lagi, Meila langsung menanyakan apa yang ada di benaknya dengan lantang.


Disertai tatapan menyelidik, Meila sampai menyipitkan matanya hingga membuat Airin tergeragap kehabisan kata.


"Eh, itu...."


Astaga! Saking terlalu merindukan Meila, dirinya sampai lupa untuk menyiapkan jawaban kalau-kalau Meila menanyakan kebersamaannya dengan Bryant. Dan sekarang, itu terjadi. Haruskah ia memberitahu Meila tentang kedekatannya dengan Bryant beberapa waktu terakhir?


Tak ada gunanya untuk merangkai kebohongan saat ini. Airin berpikir untuk mengatakannya saja pada Meila tanpa harus ditutupi. Masalah dia mau menyimpulkan apapun, itu urusan belakangan. Yang jelas, tak ada untungnya untuk menutupi kedekatannya bersama Bryant.


"Gue dan kak Bryant nggak sengaja ketemu di Bandung, Mei. Itupun pertemuan yang nggak disengaja, dan di lift pula...."


"Hah? Lift...?" Saking kaget dan terdengar lucu di telinganya, Meila sampai terperangah hingga hampir melepaskan tawa. "Kok bisa? Emang lo lagi ngapain, Rin? Bukannya... lo lagi nemenin nyokap lo seminar?" Sambung Meila kembali.


Airin tersenyum ironi, sementara ingatannya memutar kembali kejadian pertemuannya di lift dengan Bryant.


"Kunci kamar hotel gue ilang. Gue nyari-nyari di tas sampe gue nggak sadar kalo lift yang gue masukin itu udah ada kak Bryant didalamnya. Akhirnya dialah yang lebih dulu nyapa gue sampe gue sendiri kaget bisa ketemu dia di Bandung." Airin terkekeh, dan memberi jeda, sebelum kemudian menyambung lagi. "Terus kak Bryant nawarin ke gue buat bantuin gue mintain kunci lagi ke bagian reseptionis karena gue waktu itu buru-buru harus nyamperin nyokap karena seminar yang akan dimulai. Akhirnya gue iya-in buat kak Bryant bantuin gue. Hingga akhirnya semenjak itu kita jadi sering ketemu." Lalu seketika mata Airin membelalak ketika mengingat sesuatu yang membuatnya kaget. "Dan lo tau, Mei? Ternyata nyokap gue sama nyokap kak Bryant itu temenan. Mereka udah kenal sejak lama."


"Oh ya? Bagus dong." Jawab Meila singkat dengan polos. "Dengan begitu lo nggak harus takut lagi kalo sewaktu-waktu mau dikenalin ke orang tua kak Bryant. Kan udah saling kenal." Sergahnya lagi diselipi tawa menggelitik, membuat Airin mencebik kesal.


Ditempat lain, tepatnya di taman belakang di sebuah ayunan kayu, dua pria sedang membicarakan hal yang sama seperti yang para gadis bicarakan. Berbeda dengan Airin, Bryant tampak santai ketika menjelaskan tentang kedekatannya dengan Airin pada Dimas. Dia menjawab tanpa ragu, dengan lantang dan lancar, bahkan selalu diselipi tawa dalam setiap jawabannya.


"Gue ikut bahagia, Yant. Kalo akhirnya lo lagi deket sama cewek yang bikin lo berbunga-bunga." Ucapnya dengan nada ejekan, sedikit meledek namun ada rasa bahagia yang tidak ditutupi.


Bryant tergelak, yang diikuti juga oleh gelak tawa Dimas. "Yaah..." Bryant lalu mendesah pelan, "...seenggaknya, gue jadi tau dan bisa ngerasain, kenapa lo dulu sering uring-uringan dan berbunga-bunga nggak jelas didepan gue." Tawanya lagi sambil memukul bahu Dimas dengan pukulan ringan.


Sambil tergelak bersama, Dimas mengedarkan matanya ke arah dalam ruangan sambil menerawang. Tampak dari kejauhan terlihat samar dari pantulan kaca transparan kalau Airin dan Meila sedang tergelak bersama.


"Kita masuk sekarang? Kayaknya gue bisa nebak, mereka berdua juga pasti lagi bicarain kita." Dimas berujar sambil mengangkat bokongnya dari bangku ayunan kayu sementara bibirnya tersenyum ironi.


Tanpa menjawab, Bryant pun ikut beranjak, mengikuti langkah Dimas dibelakangnya yang berjalan menuju jalan setapak yang menghubungkannya melewati lorong dekat gudang, baru kemudian melewati dapur.


Ketika langkah kedua pria itu mulai memasuki dapur dan terlihat dua gadis yang sedang bersenda gurau diselipi dengan gelak tawa riang, yang langsung bisa memberikan aura gembira menyelimuti ruangan itu.


"Apa yang kalian bicarakan hingga tawa kalian terdengar ke taman?" Dimas berujar ketika langkahnya mulai mendekat, menghampiri Meila yang menyambutnya dengan senyuman.


Tanpa berniat untuk duduk, Dimas langsung memposisikan dirinya untuk berdiri tepat disamping Meila duduk hingga pinggulnya bersandar pada sandaran kursi meja makan tepat yang gadis itu duduki. Tangannya diselipkan ke belakang pundak Meila yang terasa hangat, mengelusnya sedikit sebelum kemudian meremasnya ringan lalu berhenti tepat di ujung bahu.


Sambil menunduk, Dimas tersenyum yang langsung dibalas senyuman juga oleh Meila yang mendongak padanya.


"Kita cuma lagi bicarain diri kita yang sama-sama nggak mengikuti perkuliahan, kak. Kelamaan izin, pasti banyak tugas dan juga kerjaan dari senator. Aku kangen mau kembali ngampus lagi." Ucapnya dengan kepala menengadah, memperlihatkan bola mata besarnya yang sangat menggemaskan.


Dimas sendiri terkekeh, tangannya yang tadi diletakkan di bahu Meila, bergerak menangkup dagu gadis itu yang terasa halus dan juga hangat menyenangkan.


"Secepatnya, ya. Secepatnya kamu akan mengikuti perkuliahan lagi." Jawab Dimas lembut disertai kedipan sebelah mata.


"Iya, Rin. Bener yang kak Dimas bilang, lo harus bener-bener pulih dulu. Lagian... jahitan lo kan baru aja kering." Sambar Airin menimpali. Dan seketika dibalas anggukan oleh Meila.


"Oiya, kak, kita akan tetap keluar, kan? Gimana kalo kita ajak Airin dan kak Bryant juga?" Berusaha mengingatkan, Meila rupanya secara langsung meminta izin Dimas untuk membiarkan Airin dan Bryant ikut bersamanya. Meila berpikir sekaligus membayangkan, pasti akan semakin seru jika bertambah dua orang yang ikut dengan mereka. Apalagi... jika dua orang itu adalah Airin dan Bryant, pasti akan semakin mengasyikkan, bukan?


"Kalian ada janji untuk keluar?" Bryant lah yang bertanya untuk memastikan. "Berarti... kita dateng diwaktu yang kurang tepat, Rin." Sambungnya lagi sambil menyebut nama Airin, membuat gadis itu mengangkat kepalanya pada Bryant.


"Iya, Mei. Kenapa lo nggak bilang dari tadi? Kan gue jadi nggak enak ganggu acara kalian." Sambar Airin menimpali.


Dimas dan Meila terkekeh, seakan kompak menertawakan Airin dan Bryant.


"Ngapain pake nggak enak sih. Lagian bener kata Meila, kalian ikut aja bareng kita. Gue yakin kalian juga pasti suka. Lagi pula, pasti akan lebih seru kalo kita jalan bareng." Dimas berdehem sementara matanya melirik ke arah Meila seolah memberi kode, "iya kan, sayang?" Ucap Dimas dengan senyum misterius.


Meila pun tak kalah antusias, gadis itu langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat, disertai mata yang berbinar kesenangan.


Berbeda dengan Airin, Bryant tampak santai menanggapi Dimas dan Meila. Dirinya tahu, kalau sepasang sejoli itu sedang berusaha membujuk Airin untuk ikut bersamanya. Sedangkan Bryant, kapanpun dia selalu siap jika Airin menyetujuinya.


"Yaudah, Rin.. ikut aja, ya? Kak Bryant juga kayaknya oke-oke aja tuh." Matanya sengaja melirik ke arah Bryant, "iya kan, kak?" Tak lupa menanyainya untuk sekedar memastikan. Dan tanpa berpikir langsung dijawab anggukan ringan oleh Bryant sambil mengedipkan mata mengiyakan.


Airin pun langsung mengangkat kepalanya, mengangkat sebelah alisnya untuk menilai ekspresi dari pria yang juga sedang berdiri disampingnya.


Sekali lagi, Meila menatap kepada Airin dan Bryant secara bergantian, "Ayolah, Rin.. ikut aja, ya? Kak Bryant juga udah setuju, kok. Anggap aja kita lagi double-date."


"Double-date...?" Sontak Airin dan Bryant berucap bersamaan tanpa sadar.


Membuat Meila harus menahan tawanya agar tidak menyembur. Sementara Dimas hanya menyaksikan dan menjadi penonton yang setia. Melihat gadisnya sudah mulai berseri-seri kesenangan seperti itu sudah membuat Dimas merasa bahagia. Jika untuk menuruti kemauan Meila bukanlah hal yang sulit, dan sekalipun itu memang sulit, Dimas akan berusaha untuk mewujudkannya, asalkan gadis yang dicintainya itu bahagia bersamanya.