A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kecurigaan James



"Sejak kapan lo disini?"


Rendy yang baru saja memasuki ruang senat tampak terkejut melihat kehadiran Dimas yang sedang terduduk kaku disana. Wajahnya tampak serius dengan kedua tangan mengepal. Sementara tubuhnya bersandar tegap ke kursi.


"Satu jam yang lalu." Dimas menyahuti.


Rendy sedikit heran dengan ekspresi datar dari Dimas. Pasalnya, tidak seperti biasanya Dimas menampakkan wajah seperti itu. Terkecuali memang sedang ada hal yang tidak mengenakkan.


Sambil menaruh tasnya ke atas meja, Rendy menarik sebuah kursi untuknya.


"Apa ada sesuatu? gue melihat beberapa bodyguard lo berjaga di sekitar sini. Apa ini berhubungan sama Meila?"


Pertanyaan Rendy yang tanpa basa-basi membuat Dimas menaruh pandangan padanya. Dan dengan seringaian tipis tentunya.


"Lo sadar rupanya." Dimas terkekeh sambil lalu.


Rendy pun membalas gurauan Dimas dengan tawanya juga. "Siapapun yang udah mengenal lo, nggak akan asing sama para bodyguard itu. Kecuali... Kalo orang itu membangkang." Kelakar Rendy dengan kalimat sindiran.


Dimas mendengus pelan seraya terkekeh sambil lalu.


"Gue berjaga-jaga dari hal-hal yang nggak memungkinkan." Tatapan Dimas berubah serius. "Gue meletakkan beberapa penjaga untuk keamanan Meila dari seorang lelaki yang akhir-akhir ini terus datang dan mendekatinya."


"Siapa?" Rendy menyambar dengan cepat.


Dimas menatap Rendy beberapa detik sebelum kemudian menjawab dengan lantang.


"Dion. Ferdion Sagara." jawabnya lantang.


Ekspresi Rendy tampak bingung bercampur kaget. Pasalnya, baru kali ini dia mendengar nama itu. Terlebih lagi, selama ini tidak ada laki-laki lain selain Beno yang telah berani kurang ajar pada Meila.


Dimas cukup mengerti kebingungan Rendy. Hingga akhirnya dia menjelaskan sosok laki-laki itu padanya hingga tidak ada yang tersisa. Mulai dari pertemuan pertama mereka yang benar-benar tidak disengaja, hingga akhirnya pertemuan seterusnya yang tampak tidak biasa, sampai tindak kejahatan Dion yang hingga saat ini berjalan secara kucing-kucingan.


Setelah mendengar semua penjelasan Dimas, Rendy sangat terkejut bukan main. Bagaimana bisa perempuan yang sudah dia anggap sebagai adik satu-satunya itu dikelilingi oleh laki-laki tidak bermoral seperti Beno dan Dion?


"Tadi lo bilang, kalian bertemu di pesta James. Untuk apa laki-laki itu disana?"


"Dia datang kesana sebagai perwakilan dari perusahaan kecil miliknya. Dan perusahaannya itu adalah salah satu dari anak perusahaan milik Anderson Entertainment sehingga seluruh perusahaan dibawah naungan keluarga Anderson semuanya datang tak terkecuali si Dion itu." Dimas menyahut dengan raut wajah setengah jengkel ketika mengingatnya. Sebab, di malam itulah pertama kalinya Meila merasa takut pada Dion sekaligus juga pertemuan kedua mereka.


"Apa James tau tentang laki-laki itu?"


"Justru James yang kasih tau gue latar belakang dari laki-laki itu. Dan setelahnya gue yang cari tau informasi tentang dia melalui Henry dengan bukti-bukti yang udah terkumpul. Dan hasilnya 90% akurat. Tinggal menyelidiki satu kasus lagi yang berkaitan dengan penyelundupan barang haram yang ditransaksikan secara ilegal."


Rendy mengangguk setuju dengan tindakan sangat cepat yang Dimas lakukan.


"Gue akan dukung apapun keputusan lo! Selama itu demi keselamatan Meila, berapapun bodyguard yang lo letakkan di seluruh area gedung ini, gue akan setuju."


●●●


James akhirnya mengantar Sisil sampai depan gedung. Dia sengaja berhenti agak jauh dari lokasi kampus untuk berbicara pada Sisil.


Namun tidak seperti yang James harapkan, tanpa berbicara sepatah kata pun Sisil langsung melepas seat belt dan baru akan membuka pintu mobil sebelum tangan James menahannya lebih dulu.


"Kamu kenapa? Ada sesuatu?" Tanpa basa-basi, James bertanya langsung ke intinya.


"Nggak ada apa-apa. Aku buru-buru karena sudah hampir telat. Terima kasih tumpangannya." Tanpa berniat berbicara baik-baik pada James, Sisil membuang mukanya saat menjawab pertanyaan James. Dan itu semakin membuat James curiga.


"Pasti ada sesuatu, kan? Laki-laki itu menerormu lagi? Iya?"


Mendengar kata 'laki-laki' yang dimaksud James adalah Beno, Sisil langsung menoleh dan emosi.


"Aku bilang nggak ada apa-apa. Apa kata-kataku nggak bisa dicerna sama otak kamu?" Sisil akhirnya emosi.


Jujur, sebenarnya dia tidak mau mengatakan hal kasar pada laki-laki telah beberapa kali menolongnya. Tetapi, keadaan mendesak lah yang membuatnya terpaksa.


"Aku nggak mau berdebat sama kamu. Lebih baik, kita urus diri masing-masing. Aku minta sama kamu jangan campuri urusanku lagi. Dan satu lagi, kamu nggak perlu repot-repot jemput aku nanti. Aku akan pulang naik taksi. Terima kasih udah mengantarku." Imbuhnya sembari membawa tangannya untuk membuka pintu mobil dan menutupnya dengan cepat.


Gerakan Sisil tampak terburu-buru. Seolah tidak ingin James bertanya lagi hingga akhirnya dia sulit untuk membuat alasan yang masuk akal.


Tanpa bisa menahan Sisil, James terdiam bingung dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Yang ada dalam ingatannya, beberapa jam yang lalu perempuan itu tampak baik-baik saja meski tidak ada pembicaraan yang berarti diantara mereka. Tetapi meski begitu, diantara mereka tidak ada ketegangan satu sama lain.


Dan seketika sikap Sisil berubah tanpa James tau penyebabnya. Dan yang anehnya lagi, perubahan sikap Sisil yang tiba-tiba aneh dan tertutup itu terjadi setelah dia meninggalkan Sisil untuk melakukan pengisian bahan bakar dan menyuruh menunggunya di mobil. Jadi, apakah ada sesuatu saat dia tidak bersamanya?


Jika memang benar, James akan mencari tahu dan menyelidikinya. Dia juga akan bertanya, apa maksud dari kata-kata Sisil yang mengatakan untuk jangan mencampuri urusannya lagi dan memintanya untuk mengurus diri masing-masing? Dan itu pun setelah James gagal mempertahankan perasaannya sendiri dan memilih untuk memulainya secara terang-terangan.


●●●


"Kok nggak dimakan makanannya? Kenapa? Atau mau diganti makanan lain?"


Dimas dan Meila sedang menikmati makan siang bersama mereka di kantin kampus yang mulai dipenuhi oleh para mahasiswa. Setelah memesan dua porsi makan siang yang dipesankan oleh Dimas, mereka mencari tempat duduk paling nyaman yang tidak begitu ramai oleh mahasiswa lain.


Meila menggeleng, "Nggak usah. Aku cuma lagi nggak napsu aja."


Dimas tersenyum, "jangan terlalu dipikirin. Aku udah menyuruhnya untuk jangan datang lagi, kan?"


"Iya, sih... Tapi, tetap aja." Tiba -tiba seolah melupakan kejadian yang tidak mengenakkan, Meila malah mengingat sesuatu dan mengatakan hal konyol lain yang menurut Dimas lucu.


"Kak, apa aku keliatan gendut?" Meila berujar dengan polos. "Pipi aku keliatan chubby gitu," lalu menirukan dengan menggembungkan kedua pipinya yang langsung membuat Dimas tergelak.


"Siapa yang bilang kamu gendut, hm?"


"Nggak ada, sih. Cuma aku ngerasa berat badan aku kayaknya bertambah gitu."


"Meski kamu gendut sekalipun, kamu tetap cantik di mata aku. Masih imut, dan selalu bikin aku gemas."


"Kayaknya aku harus mengurangi makanan manis. Cheese cake, lolipop, smoothies, pokoknya semuanya yang manis-manis itu nggak boleh. Bikin gendut." Ujarnya seperti sedang mengultimatum dirinya sendiri.


Dimas terkekeh geli mendengar ocehan Meila. "Kamu itu lagi ngingetin siapa, sih? Aku, atau kamu?" Dimas menyeru sambil meletakkan sendoknya ke atas piring. "Tapi... emang kamu yakin nggak mau makan-makanan itu? Kalau gitu, berarti aku juga harus mengurungkan niatku untuk membeli lolipop buat kamu nanti. Haaahh... sayang banget padahal." Ujar Dimas memancing.


Kedua mata Meila membelalak. Berbinar. "Lolipop? Kak Dimas mau beli itu? Kapan?"


Dimas mengangguk dengan raut wajah penyesalan yang dibuat-buat.


"Iya. Tadinya nanti sore sepulang kuliah kita akan membeli itu buat kamu. Tapi karena kamu bilang mau mengurangi makanan manis. Terpaksa nggak jadi."


Ekspresi wajah Meila berubah sedih. Raut wajahnya menjadi lesu. Dan tatapannya begitu memelas ketika menatap Dimas.


"Kok wajahnya begitu? Kenapa?"


Meila menggeleng lemas sambil memainkan sendok makannya ke atas piring.


Akhirnya, karena tidak tega melihat kekasihnya yang tidak bersemangat, tawa Dimas yang beberapa menit lalu ditahannya menyembur begitu saja hingga membuat Meila keheranan.


Tangan Dimas lalu terangkat untuk meraih pipi Meila yang memang sedikit berisi dan kenyal. Lalu mencubitnya sayang sebelum kemudian berucap dengan kalimat yang menyenangkan untuk Meila.


"Hei, apa masalahnya dengan makanan manis? Mau kamu makan setiap hari pun, selama dalam porsi aman dan nggak berlebihan dengan memperhatikan nilai gizi, itu nggak masalah. Ya... meski memang akan lebih baik jika kamu mengkonsumsinya secukupnya aja, sih."


"Kalau gitu.... hari ini nggak apa-apa. Besok dan seterusnya harus dikurangi. Iya! Harus!". Dengan ucapannya yang polos, Meila mengucap janji sendiri untuk dirinya sendiri. Dan itu dengan tingkah gemasnya seperti biasa. "Jadi, kak, apa hari ini kamu tetap jadi membeli itu buat aku?" Lalu kedua matanya mengerling nakal seperti anak kecil yang sedang membujuk orang tuanya untuk meminta dibelikan mainan.


Dimas terkikik geli melihat Meila yang seakan sedang berusaha membujuknya. Dan karena gemas, Dimas mengangkat lagi tangannya ke atas rambut Meila dan mengusapnya sayang.


"Habiskan dulu makan siangnya. Aku berubah pikiran dan tetap akan membelinya buat kamu."


Meila tersenyum senang hingga memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. Lalu perlahan segera kembali menyantap makan siangnya dengan lahap sampai habis.