
"Kembaliannya ambil aja ya, pak.."
Meila baru saja turun dari taksi yang mengantarnya ke toko cake and pastry langganannya. Berhubung hari ini adalah hari libur yang bisa membebaskannya dari tugas-tugas kampus nan menumpuk. Ia memanfaatkan waktu liburnya untuk memanjakan diri. Baginya, hari libur ya untuk berlibur, memanjakan diri dengan melakukan hal-hal yang dapat me-refresh otak sebelum esok memulai aktifitas kembali dan menghadapi tugas baru.
Senyumnya sudah mengembang sejak turun dari taksi tadi. Moodnya memang selalu bagus jika menyangkut makanan manis. Ia sudah tak sabar ingin mencicipi berbagai makanan manis terutama cake kesukaannya 'strawberry cheese cake' . Apapun yang berbau cheese cake ia menyukainya.
Langkahnya sudah tak sabar ingin langsung membuka pintu kaca yang penuh dengan wallpaper bergambar cake dan donut berwarna sweet pink dengan taburan cherry diatasnya yang bertuliskan 'Sweet Cherry Cake & Pastry' .
Tangannya menggapai pintu, Meila mendorong pintu dan terdengar bunyi gemerincing bell tanda datangnya pengunjung. Seperti recepsionist pada umumnya yang selalu siap menyapa para tamu, hal sama pun dilakukan. Dengan sikap ramah selaku ingin memberikan pelayanan terbaik agar tak mengecewakan pengunjung yang datang.
"Selamat siang mbak, Meila.. Udah lama nih baru datang ke toko kami." sapa salah satu recepsionist dengan ramah.
Tentu saja, semua karyawan di toko itu sudah mengenal Meila termasuk sang resepsionist yang langsung bertatap muka pada Meila jika ia sedang berkunjung. Seakan mood nya memang sedang cerah secerah cuaca hari itu, ia langsung melebarkan senyumnya.
"Selamat siang juga." senyumnya tulus, sambil masih melangkah maju. "Terimakasih. Iya, baru sempet mampir karena lagi sibuk. hehe."
Meila berhenti didepan etalase kaca panjang tempat dimana terpampang banyak berbagai macam kue tart, donut dan kue-kue manis lainnya yang bisa membuat air liur menetes. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja dihadiahi permen dengan jumlah banyak sampai tak bisa ditampung oleh kedua tangannya.
"Silahkan di liat-liat dulu, mbak Mei."
Dilihat Meila belum juga memutuskan kue apa yang akan ia pesan dan makan, sang recepsionist dengan bijaksana membiarkan Meila untuk memilih dan memutuskan keinginannya terlebih dulu. Dengan sikap sigap dan sabar, resepsionist itu berusaha memberikan pelayanan terbaiknya dengan mengikuti arah Meila jika tiba-tiba ia menunjuk atau menginginkan sesuatu.
Dan hal itu benar saja, sesuatu yang diinginkannya tak ada. Ia sedikit mengerutkan keningnya, seolah bertanya dalam hati sendiri kemana cake kesukaannya itu. Ia menoleh ke arah receptionist dengan sedikit ragu sebelum kemudian bertanya.
"Mas, Aku mau Cheese cake nya, tapi kok gak ada ya?" dengan nada ingin tahu yang kental, ia masih berharap kalau-kalau cheese cake kesukaannya itu sedang dibuat atau masih berada di pantry dan belum di pajang.
Dengan sikap sopan, resepsionist pria bernama 'Alvin' yang namanya tertera di bagian dada kanan itu menghampiri dan mensejajarkan posisinya dengan Meila. Meski sempat berpikir selama beberapa detik untuk mencerna pertanyaan Meila, namun dengan cepat pula ia menjawab.
"Ah, Maaf mbak Mei. Chef yang menangani cheese cake sedang libur hari ini. Jadi persediaan kami kosong."
Dengan penuh kehati-hatian, Alvin menjawab dengan nada ramah nan sungkan yang kental. Efeknya cukup berhasil untuk Meila. Mendengar jawaban Alvin, Meila langsung memberengutkan wajahnya, dan itu tak luput dari penglihatan Alvin.
Meila juga baru tersadar kalau ia datang di hari libur yang memang waktu libur itu dipakai untuk berlibur seperti dirinya.
"Yaaahh... gak bisa bikin buat aku aja gitu, mas?" sambil memasang muka memelas, Meila memohonkan permintaannya, syukur-syukur dikabulkan. Tapi perkiraannya salah, pertanyaan Meila langsung di jawab gelengan cepat oleh Alvin.
"Yaudah deh, mas.. Terimakasih. lain kali aku kesini lagi bukan di hari libur deh." janjinya pada sang reseptionist sambil memasang setengah senyumnya yang sedikit kecewa.
Meila membalikkan tubuh dengan ekspresi lemas. Keinginannya untuk memakan strawberry cheese cake kesukaannya lenyaplah sudah. Ia melangkah keluar dengan perasaan sedikit kecewa karena sepanjang perjalanan tadi ia sudah membayangkan betapa lezatnya perpaduan antara cake lembut bertabur irisan buah strawberry segar dengan lelehan selai strawberry lembut didalamnya yang akan lumer di lidah.
●●●
Dimas melajukan mobilnya dengan santai. Jika biasanya dihari-hari libur jalanan ibukota akan padat merayap dikarenakan banyak keluarga yang berwisata atau keluar kota untuk sekedar menghilangakan penat sebelum memulai bekerja kembali esok hari.
"Tumben banget gak semacet kayak hari libur biasanya." gumamnya sendiri sambil menolehkan kepalanya.
Ketika Dimas sedang menolehkan kepala dan mulai melewati beberapa pertokoan, dengan cepat pandangannya menangkap seseorang yang ia kenal, dengan ekspresi terkejut bercampur senang. Tak menyangka bahwa seseorang yang ia pikir bisa ia lihat dan temui hanya dikampus, malah dengan mudahnya ia temui dimanapun dan kapanpun tanpa ia duga.
Dimas memutar arah menuju toko dan menghampiri orang itu. Ia berhenti didepan toko sebelum ia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Sampai ia pikir aman untuk memarkirkan mobilnya, ia turun dan langsung menghampiri orang tersebut.
Langkahnya ia percepat takut-takut orang itu akan keburu pergi sebelum ia sampai untuk menyapanya.
"Mei.. kamu ngapain disini?" ucapnya penasaran
Sang empunya namanya disebut langsung dengan cepat menolehkan kepalanya mendengar suara yang tak asing di telinganya. Kepalanya mengadah, matanya saling bertemu, sedikit terkejut namun ia langsung menjawab sapaan Dimas kepadanya.
"Ah, K-kak Dimas. kakak ngapain disini?" Meila yang terkejut reflek langsung menjawab pertanyaan Dimas dengan pertanyaan juga. Hal itu membuat Dimas tertawa dengan tingkah lucu Meila akibat tergeragap karena sapaannya.
"Yeee.. ditanya malah nanya balik," sambil menggelengkan kepalanya geli dan menyambung kembali. "Aku abis dari rumah dosen ngasih tugas. Kebetulan rumah Dosen kakak disekitaran sini. Kamu sendiri ngapain di depan toko kue sambil masang muka lemes gitu?" tanya Dimas dengan nada intimidasi.
"Itu kak..." sambil memasang muka lemas, Meila menjawab dengan menunjuk salah satu cake. Dengan penuh rasa ingin tahu, mata Dimas mengikuti arah wajah Meila, dan dengan cepat langsung ditangkap oleh Dimas.
"Cheese cake?" sambil menaikkan sebelah alisnya, Dimas menjawab dengan tepat. Jawaban Dimas langsung dijawab anggukan cepat oleh Meila.
"Iya..." Meila menarik nafas sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya. "...hari ini persediaan disini kosong. Chef yang bikin cheese cake lagi libur, jadinya gak bisa chef lain yang bikin cheese cakenya."
Melihat ekspresi Meila, hal itu membuat Dimas tidak menahan untuk tidak menarik sedikit ujung bibirnya. Gadis didepannya ini sungguh unik, sangat mudah untuk dibahagiakan, terutama dengan makanan manis. Jika bagi orang lain cheese cake termasuk hal sulit, tapi tidak bagi Dimas.
"Ikut aku yuk.." tanpa aba-aba Dimas langsung menarik tangan Meila dan berjalan sambil bergandengan menuju mobil. Begitupun Meila, karena terkejut dengan sikap Dimas yang langsung menggandeng tangannya, tak ada kesempatan baginya untuk membantah atau bertanya pada Dimas kemana mereka akan pergi. Yang dilakukan Meila hanya diam dan menurut seolah terhipnotis sampai ia tak mampu untuk menolak, seakan perintah dan ajakan Dimas adalah hal yang harus ia turuti.