A Fan With A Man

A Fan With A Man
Teror 2



Vika tampak sedang memperhatikan sesuatu dari kejauahan. Sambil menunggu Rendy yang sedang memarkir mobil, dia berinisiatif menunggu di depan pintu koridor. Dengan ekspresi penasaran, Vika akhirnya menyipitkan kedua matanya dan meyakini jika yang dia lihat saat ini adalah mobil milik James. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah, ketika dia melihat Sisil yang keluar dari mobil itu.


"Vika, ayo." Seru Rendy dengan kalimat ajakan.


Melihat ajakannya tidak dihiraukan Vika, Rendy mengulanginya lagi dan kali ini dia berhasil membuat Vika tersadar dari lamunannya.


"Vika, kamu lagi ngeliatin apa sih? Hm?"


Vika tersentak. "Eh, itu. Aku kayak ngeliat mobil James disana."


Rendy mengikuti arah pandang Vika. "James? Dimana?"


"Disana. Dan yang lebih bikin aku heran, aku ngeliat dia mengantar Sisil."


Dahi Rendy mengernyit. "Ngantar Sisil? Mungkin kamu salah liat, Vika."


Wajah Vika mendongak pada Rendy. Dan kali ini ekspresinya berubah ragu.


Apa mungkin aku salah liat? Tapi... aku yakin kalo itu mobil kak James. Dan perempuan tadi....


Sebelum Vika benar-benar tenggelam kembali dalam lamunanya, Rendy dengan cepat menarik tangan Vika untuk kembali mengajaknya masuk sebelum mereka benar-benar terlambat.


"Udah, jangan dipikirin. Ayo, kita masuk."


●●●


"Nah, sampai."


Dimas dan Meila akhirnya sampai di parkiran kampus yang mulai ramai. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka keluar bersama sebelum kemudian Meila bertanya sesuatu untuk memastikan.


"Kak Dimas jadi meeting penting hari ini?"


"Iya, sayang. Dan sepertinya kita nggak bisa pulang bersama nanti. Kamu nggak apa-apa?"


Setelah sarapan tadi, Dimas mendapat panggilan telepon dari Henry yang mengingatkannya jika ada meeting penting dari klien perusahaan menyangkut kerja sama antar perusahaan.


Meila memulas senyum simpul. "Tenang aja. Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir. Okay?"


Dimas membalasnya dengan senyuman. "Aku akan menyuruh Henry buat jemput kamu nanti."


Meila mengangguk setuju dengan ucapan Dimas. Mereka lalu keluar dan berjalan menuju kelas masing-masing dengan berjalan berdampingan dan saling bergenggaman tangan.


●●●


Di kejauhan, seorang pria berpakaian hitam tampak sedang mengawasi seseorang. Orang itu tidak pernah melepaskan pandangan dari wanita yang sedang berada di halaman kampus. Tampak dari belakang, wanita itu sedang fokus dengan ponselnya. Wanita adalah Sisil yang sedang memainkan ponsel dan berniat akan mengganti nama James di daftar kontak teleponnya.


"Seenaknya masukin nomor telepon ke ponsel orang. Pakai nama panjang segala lagi dengan pedenya."


Dia terlihat mencari nama 'James' di pencarian kontak agar lebih cepat. Dan nama itu langsung muncul dengan nama lengkap, dan dengan menggunakan huruf-huruf besar pula.


"Apa maksudnya pakai huruf besar segala?"


Sisil lalu menekan tombol edit untuk mengganti nama James sambil membubuhkan seringaian jahil di bibirnya.


"Liat aja. Aku akan ganti namanya dengan nama yang benar-benar cocok dengannya."


Dia lalu mengetikkan sebuah nama, dan memasukkannya, kemudian menyimpannya dengan memasang seulas senyum nakal, bahkan tidak sadar sampai membuatnya tergelitik dan terkekeh sendiri.


"Ya. 'Tukang Obat'! Itulah nama yang cocok untukmu." Sisil menahan geli ingin tertawa. "Mari kita simpan."


"Halo?"


Hening. Tidak ada sapaan dari seberang telepon.


"Halo, ini siapa? Niat telepon gak, sih? Atau gue matiin teleponnya."


Ocehan Sisil disambut kemudian. "Halo, wanita satu malamku."


Baru saja Sisil akan mematikan panggilan telepon tersebut, tiba-tiba suara sautan dari seberang sana membuatnya membeku dan bergidik. Kedua matanya membulat sempurna. Dia langsung mengenali suara penelepon itu.


"Beno? Bu-bukannya lo... di penjara?" Suaranya meninggi dan juga melemah kemudian di akhir kalimat.


"Waw! Ternyata lo masih mengenali suara gue, Sisil? Atau jangan-jangan lo masih belum melupakan malam itu sehingga lo langsung mengingat gue begitu mendengar suara gue?"


Sisil bisa merasakan dengan jelas jika Beno sedang menyeringai di seberang telepon sana. Dia juga menyadari adanya hawa tidak beres yang akan segera menghantuinya.


"Laki-laki brengsek!" Tangan Sisil mengepal kuat seperti akan menonjok.


Beno tertawa keras dengan umpatan yang diucapkan Sisil.


"Malam itu lo sangat menikmatinya, Sisil. Kita sama-sama menikmati belaian dan sentuhan masing-masing. Mungkin lo lupa, malam dimana kita melakukannya, gue nggak memakai pengaman dan dalam kondisi sangat sadar. Mungkin gue harus mengingatkan lo lagi? Lo tau kan, maksudnya apa?"


Napas Sisil mulai menderu. Bergemuruh. Jantungnya pun ikut berdegup kencang tatkala dia mengingat kejadian menjijikkan di malam itu.


Sisil lalu memutar arah pandangannya. Berdiri dengan gusar. Mencari keberadaan Beno yang dia yakini pasti sedang mengintainya dari jauh.


"Lo dimana, hah? Gue akan buat perhitungan sama lo kalo lo berani muncul di depan gue!" Ujarnya mengancam.


Sisil yakin, Beno pasti berada di sekitarnya. Terdengar jelas dari suara laju mobil dan motor yang saling bersautan di seberang telepon.


"Weits! Sabar. Tenang. Jangan emosi. Kasian calon anak kita."


Calon anak?


Refleks, tangan Sisil otomatis memegang perutnya dengan tangan gemetar. Dia mulai sesak jika mengingat dirinya yang sudah dengan sukarela memberikan keperawanannya pada laki-laki rendah dan menjijikkan seperti Beno.


"Lihat, kan? Gue bisa ngeliat jelas kalo lo lagi mengusap-usap perut lo itu."


"Lo jangan macem-macem, Beno! Dimana lo, hah? Dimana?" Nafas Sisil mulai terengah dan sesak saat meneriakkan kekesalannya. Tenggorokannya tersekat dan matanya mulai memanas. Ingin menumpahkan semuanya namun tidak bisa. Seolah ada baris penghalang yang menahan air matanya.


Dengan tidak disangka, Beno malah memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Hal itu menambah kebingungan sekaligus penasaran Sisil. Dia sadar, tidak seharusnya dia berurusan dengan pria itu. Dan itu adalah kesalahan terbesarnya.


"Halo? Halo! Jangan matiin teleponnya! Halo?!" Sisil terus memanggil-manggil dengan berteriak. Hal itu justru memancing perhatian banyak orang termasuk Meila yang saat itu tidak sengaja akan melewatinya. Melihat Sisil berteriak-teriak seperti orang kerasukan dengan dipandangi banyak orang, membuat Meila bergegas menghampirinya.


"Laki-laki brengsek!" Teriaknya histeris.


Mendengar tidak ada sahutan dari lawan bicaranya, Sisil akhirnya melempar ponselnya yang saat itu langsung jatuh tepat di bawah kaki Meila.


Meila lalu mengambil ponsel Sisil dan mengembalikannya padanya. Dengan ekspresi bingung, Meila akhirnya berujar meski ragu akan direspon baik atau sebaliknya.


"Sisil, ini ponsel kamu." Sambil memberikan ponsel itu yang langsung diberi tatapan aneh oleh Sisil. "Kamu nggak apa-apa? Kenapa teriak-teriak?"


Sisil memandangi Meila beberapa detik sampai akhirnya dia mengambil ponsel miliknya dari tangan Meila secara serampangan. Dan tanpa menjawab pertanyaan Meila, Sisil malah memilih pergi meninggalkan Meila yang masih menyisakan ekspresi bingung di wajahnya.


Seolah perhatiannya tidak dihiraukan oleh Sisil, tidak membuat Meila sakit hati. Dia malah merasa mungkin Sisil sedang memiliki masalah sehingga dia perlu membutuhkan waktunya sendiri untuk menenangkan diri dan menyelesaikannya.


Tapi ada satu hal yang sedikit mengganggu perhatian Meila saat dia benar-benar melihat wajah Sisil dengan seksama. Yaitu, ada sebuah genangan air mata yang mengumpul di sudut matanya. Dan itu bisa disimpulkan jika Sisil pasti sedang mengalami masalah yang cukup berat.