A Fan With A Man

A Fan With A Man
Orang Tercinta



"Ada apa ya, kak? Kenapa macet banget?"


Sambil memandang lurus ke depan disertai kening yang mengkerut, Meila bertanya pada Dimas di tengah kemacetan. Memecah konsentrasi Dimas yang sedang fokus memegang kendali setir di balik kemudi.


"Ini sangat wajar dengan jam sibuk di waktu sore. Jam-jam segini kan jam sibuknya orang-orang kembali dari pekerjaan mereka. Mereka kembali ke rumah setelah seharian bekerja di kantor untuk berkumpul bersama orang tercinta di rumah sebagai penghilang penat." Dimas berujar lembut. Sesekali menoleh ke arah Meila yang tampak serius memandang lurus ke depan.


"Oh iya. Ini kan jam pulang kantor. Berarti kamu juga gitu ya, kalau pulang dari kantor?" Meila tertawa sambil memperlihatkan cengiran khasnya.


Dimas yang melihatnya pun ikut tertawa. "Iya. Sama kayak aku yang setelah dari kantor langsung kembali ke rumah untuk bertemu orang yang tercinta." Pungkas Dimas menggoda.


Pipi Meila merona malu mendengar ucapan Dimas. Lalu salah tingkah karena setelahnya Dimas menatapnya dengan intens di tengah-tengah kemacetan ibu kota yang tidak bergerak sedikitpun.


"Iiiih,... jangan tatap aku kayak gitu, kak."


Dimas tertawa melihat tingkah kekasihnya yang terlihat canggung. Lalu karena tidak tahan, tangannya menyentuh kepala Meila untuk mengusapi rambutnya dengan lembut dan penuh rasa sayang.


●●●


Mobil itu berhenti di sebuah basement gedung. Lokasi yang sangat familiar dengan ingatan Sisil sebelumnya. Melihatnya saja seperti sedang mengulang-ulang kejadian yang lalu. Ya! James tidak membawa Sisil ke rumahnya. Melainkan ke apartement nya.


"Kenapa membawaku kesini? Aku mau pulang!" Sisil berujar ketus ketika James baru saja menarik rem tangan di mobilnya. Dia tidak menjawab ataupun menanggapinya.


James lalu keluar dari mobil dan langsung menuju pintu penumpang dan membukakan pintu untuk Sisil.


"Ayo, turun." Sergah James dengan nada perintah.


"Aku nggak mau. Ini bukan rumahku." Sisil masih terus membangkang sambil melipat kedua lengannya ke dada. Berjaga-jaga takut James akan menarik tangannya lagi seperti tadi.


Sambil menahan kesabarannya yang sudah di ujung puncak, James menarik paksa tangan Sisil agar segera turun dari mobil. Dan seperti biasa, Sisil langsung meronta untuk minta dilepaskan.


"Kamu apa-apaan, James! Aku nggak mau. Lepasin aku! Aww..." Sisil meringis kesakitan.


Tetapi sayangnya, ringisan Sisil dan ocehan Sisil itu tidak dihiraukan James meski dia sedang berusaha membawa langkah Sisil untuk terus mengikutinya.


"Bukan aku. Tapi kamu yang apa-apaan!" James menimpali ucapan Sisil dengan sergahannya.


Mereka sampai di depan lift khusus yang akan membawa mereka ke ruangan kamar apartemen James yang mewah yang sudah pernah dua kali Sisil datangi. Dan jika dihitung, ini adalah kali ketiga dia menginjakkan kakinya ke dalam apartemen James.


"Kenapa kamu selalu ikut campur?! Aku nggak minta kamu buat ngelakuin ini!"


Sisil masih terlihat jengkel bahkan sudah berada di dalam lift.


"Karena aku mau." James menjawab cepat dengan ekspresi santai.


"Dasar laki-laki nggak waras!" Rutuk Sisil dengan kesal.


James melirik Sisil dengan kilatan senyum penuh arti. Dia terdiam sambil sesekali memperhatikan pantulan gambar mereka di dalam lift yang berisikan kaca di sisi-sisi mereka.


Tak lama kemudian lift pun berdenting dibarengi dengan gerakan yang berhenti. Kemudian pintu lift terbuka dan tanpa membuang waktu James langsung menarik kembali Sisil untuk mengikutinya.


"Kamu mau apa sih? Aku bilang aku harus pulang! Kenapa kamu malah bawa aku kesini?"


Beruntung, pintu-pintu kamar di sepanjang koridor dirancang dengan fasilitas kedap suara. Jika tidak, mungkin suara Sisil yang melengking dan meninggi sudah pasti mengganggu seluruh penghuni apartemen.


"Kamu akan pulang nanti. Setelah kita bicara." James menyahut sambil lalu.


Cengkeraman James yang begitu kencang membuat Sisil meringis kesakitan hingga menimbulkan kemerahan di pergelangan tangannya. Tatapi itulah satu-satunya cara agar Sisil tidak kabur dan melakukan hal-hal aneh lagi.


Setelah menempelkan kartu dan menekan beberapa tombol angka sebagai akses masuk ke kamarnya, James langsung membawa Sisil masuk sebelum kemudian mengunci pintunya kembali.


"Sekarang jelaskan, kenapa kamu ada disana dan mau menabrakkan diri!? Apa Kamu nggak berpikir bagaimana kalau mobil itu benar-benar menabrak kamu, hah?"


"Itu yang aku mau! Kalau itu bisa membuat aku menyelesaikan masalahku, aku akan melakukannya!" Sisil menyela dengan ekspresi sengit.


James terkejut. "Apa kamu gila, hah?" Tanpa sadar, James membentak dengan suara meninggi. Tetapi, dia langsung mengingat jika menghadapi Sisil dengan cara yang keras, maka dia tidak ada bedanya dengan perempuan itu. Tidak! Dia harus mengalah dan membujuk meski perempuan itu keras, dia harus tetap melemah. Menghadapi Sisil harus dengan lembut. Bukan dengan kekerasan.


"Memangnya masalah apa yang bisa diselesaikan dengan cara itu, Sisil? Apa tidak ada cara lain? Aku bisa membantumu." Suara James seketika melembut. Ada sedikit nada permohonan yang tertahan di pangkal tenggorokannya. 


"Nggak! Nggak ada cara lain lagi. Meskipun ada, itu nggak akan mengembalikan keadaan." Sisil menjawab dengan lantang. Tetapi wajahnya menunjukkan, bahwa dia telah mengalami luka yang dalam sehingga suaranya terdengar pilu.


Mengembalikan keadaan? Apa maksud ucapannya? Sebenarnya sebesar apa masalahnya itu?


"Dan, aku nggak butuh bantuanmu. Sekarang, tolong buka pintunya. Aku mau pulang." Sisil langsung berjalan kepada James dan memintanya untuk membukakan pintu apartemennya. Sebelum kemudian James melayangkan pertanyaan yang berhasil membuat Sisil terpaku di hadapannya.


"Apa dugaanku benar? Apa laki-laki itu menerormu lagi? Iya?"


●●●


Meila dan Dimas akhirnya sampai setelah lama di perjalanan. Itu dikarenakan waktu yang disambung dengan akhir pekan sehingga menimbulkan kemacetan panjang.


Dimas keluar lebih dulu dari mobil, sementara Meila dengan semangat langsung mengikutinya keluar sambil membawa tas kertas berisi kue-kue yang tadi dibelinya. Beruntung, di perjalanan tadi mereka sempat meluangkan waktu untuk makan malam. Sebab, jika tidak, mereka pasti melewati makan malam mereka dengan perut kosong.


"Mau aku bantu?" Dimas menawarkan diri untuk membantu Meila membawakan tas kue nya.


"Nggak usah, kak. Biar aku aja."


Dimas tersenyum sambil menghela Meila untuk masuk ke dalam.


"Karena kita udah makan malam, gimana kalau setelah ini kita santai-santai di balkon sambil menikmati kue itu. Kamu mau?"


Tentu saja Meila tidak menolak. Lagi pula, masih terlalu sore juga untuk istirahat. Dan besok adalah hari akhir pekan yang akan sangat panjang dan menyenangkan. Tidak masalah jika dia harus berada di rumah saja seharian.


"Mau." Meila menyahut kegirangan. "Kalau gitu aku akan bersih-bersih dan menyiapkan kue-kue ini." Sambil membawa tas kue nya ke udara dengan semangat.


"Iya. Kenakan pakaian hangat, ya. Karena udaranya cukup dingin."


"Okay."


Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi, Meila langsung melangkah dengan cepat sambil bersenandung. Membawa kakinya perlahan menaiki anak tangga.


Karena Dimas khawatir Meila akan lupa untuk hati-hati saat menaiki tangga, akhirnya dia berujar mengingatkan sebelum gadis itu melangkah lebih jauh dan jatuh dari sana.


"Jangan lari-lari. Kaki kamu bisa terkilir dan jatuh nanti." Ujar Dimas mengingatkan.


Meila memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dari kejauhan. Tetap berjalan di atas anak tangga tanpa menghentikan kakinya. Hanya memperlambat langkahnya saja.


"Iya..."


Dimas hanya memperhatikannya dari kejauhan. Dengan memulas senyum meneduhkan, dia langsung berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan dua cangkir teh hangat untuk mereka.