
Suara bel yang berbunyi akhirnya menyudahi adegan pelukan hangat mereka yang tercipta selama kurang lebih lima belas menit itu. Meila melepaskan pelukannya terlebih dulu dibarengi dengan suara Dimas yang berucap dengan penuh teka-teki.
"Itu pasti dia," Dimas merapikan anak rambut Meila yang sedikit berantakan sebelum kemudian menghapus air mata yang tersisa, lalu turun untuk mengelus pipi Meila dengan lembut.
Meila mengerutkan keningnya, menatap Dimas dengan tatapan bingung yang saat itu sedang tersenyum padanya sambil menyembunyikan sesuatu, seperti akan memberikan sebuah... kejutan?
"Siapa?" Tanya Meila ingin tahu, dengan suara serak dan parau.
Saking gemasnya karena memasang wajah polos, Dimas memajukan wajahnya untuk mengadu ujung hidungnya dengan ujung hidung Meila yang mungil, yang masih tampak memerah sehabis menangis.
Pria itu kemudian terkekeh sebelum akhirnya menjawab, "kamu akan tau sebentar lagi." Dimas lalu beranjak bangun dan tangannya bergerak mengelus kepala Meila, setelahnya tanpa berkata lagi langsung berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan Meila yang masih tampak bingung dibuatnya.
Dimas berjalan menuju pintu utama dengan langkah cepat untuk membukakan pintu. Kemudian memutar kunci yang tergantung pada knop pintu lalu menariknya hingga terbuka lebar dan terlihatlah siapa sosok yang ada dibalik pintu tersebut.
"Akhirnya lo dateng juga, Ren!"
Dan benar saja, Rendy lah yang datang dan langsung disambut hangat oleh Dimas sekaligus mempersilahkannya masuk dengan membuka pintu lebar-lebar sebelum kemudian Dimas menutup kembali pintu dan menguncinya. Sebelumnya, Dimas sudah memberi tahu Rendy kalau dia telah berhasil menyelamatkan Meila dari sekapan Beno, juga tentang kondisi Meila kepadanya.
"Ya. Sesuai janji gue tadi. Setelah gue nyelesaiin tugas, gue akan langsung ke rumah lo." Rendy mulai memasuki ruang utama dan melangkah perlahan dibarengi dengan Dimas yang mulai menyamai langkahnya.
"Sorry gue nggak ngabarin lo kalo gue ngikutin cewek itu. Karena gue pikir, gue baru akan ngabarin lo setelah gue tau keberadaan Meila. Dan ternyata semuanya sangat kacau, Ren." Dimas berkata dengan sedikit rasa bersalah dalam suaranya.
Rendy menggelengkan kepala, "Itu nggak masalah, Dim. Yang penting lo udah berhasil nyelametin adek gue." Tangan Rendy bergerak memegang bagu Dimas, "Gimana keadaannya? Dia baik-baik aja, kan?" Rendy bertanya untuk memastikan.
"Dia baik-baik aja. Nggak ada luka fisik yang mengkhawatirkan. Tapi trauma psikis yang mungkin sulit buat dilupain sama dia." Dimas berusaha menjelaskan sambil menghela Rendy untuk mengikutinya menaiki anak tangga.
"Untuk selebihnya... lo bisa pastiin sendiri." Dimas menyambung kembali, dan langsung di respon baik oleh Rendy.
Mereka menuju kamar Meila yang pastinya gadis itu sedang bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang datang dan sedang ditunggu oleh Dimas.
●●●
Suara pintu terbuka seketika langsung membuat Meila menolehkan kepalanya penuh waspada, sampai terlihatlah sosok Dimas dibalik pintu dengan senyum mengembangnya.
"Mei, ada yang datang untuk kamu," Dimas bergerak maju diikuti oleh Rendy yang ada dibalik punggung Dimas.
Seketika Meila mengerutkan keningnya, dan saat itulah sosok Rendy muncul di belakang Dimas dengan senyuman khasnya.
"Kak Rendy!" Dengan wajah terkejut menahan haru, Meila tidak bisa menahan kesedihannya didepan Rendy, air matanya langsung bercucuran sambil beranjak bangun turun namun segera di hentikan oleh Rendy yang langsung menghampiri Meila dan memeluknya erat layaknya seorang kakak kepada adiknya.
Meila menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Rendy, dengan tubuh yang gemetar dan cengkraman kuat dipunggungnya.
"Maaf karena aku nggak bisa jaga kamu. Maaf karena membiarkan pria gila itu menyekap kamu sampe bisa mendapatkan celah untuk menyakiti kamu." Rendy berbisik dengan lembut sambil mengusapkan tangannya ke rambut Meila.
"N-nggak apa-apa, kak. Ak-aku udah baik-baik aja." Meila melepaskan pelukannya sekaligus bibirnya membentuk sebuah senyuman paksa, lalu menjawab pernyataan Rendy dengan suara tersekat karena isakan menyesakkan.
Jemari Rendy bergerak mengusap wajah Meila, menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu.
Hubungan Meila dan Rendy terbilang cukup kuat. Mungkin karena hubungan mereka yang terjalin sangat lama dan juga sikap Rendy yang penyayang dan memposisikan diri sebagai sosok seorang kakak laki-laki yang sabar dan pengertian.
"Sekarang yang harus kita pikirin gimana caranya menangkap Beno. Karena dengan situasi yang kayak gini, udah pasti dia semakin terdesak dan nggak akan segan-segan lagi buat ngelakuin hal diluar nalar kita."
Dimas bersuara memecah suasana, membuat keduanya menolehkan kepalanya secara bersamaan.
"Lo bilang.... Sisil yang membantu dia? Apa itu bener?" Tanya Rendy pada Dimas untuk memastikan.
Dimas menganggukkan kepala pelan, melirik ke arah Meila sejenak untuk menilai reaksinya. Dan reaksi gadis itu hanya diam dengan kepala tertunduk sambil memainkan jemarinya yang bertautan.
"Nggak sengaja gue teringat sama gantungan kunci yang gue liat di cctv, dan bentuknya sama persis sama milik seseorang yang mengendap-ngendap bersama Beno malam itu."
Seketika Meila yang sedang tertunduk saat itu langsung mengangkat kepalanya dengan cepat sambil mengernyitkan alisnya, menatap kepada dua orang pria yang saat itu sedang membicarakan hal yang belum diketahuinya.
"Ma-malam itu? Malam apa? Ada kejadian apa, kak? Kak Dimas ada apa?" Meila tidak sabar menyuarakan rasa ingin tahunya, bertanya bergantian pada kedua pria didepannya.
Rendy menghembuskan napasnya perlahan, menatap pada Dimas sekilas sebelum kemudian memandang ke arah Meila untuk menjelaskan sesuatu yang belum mereka beri tahu sebelumnya, dan setelah mendapat anggukan dari Dimas tentunya.
"Dek, kamu ingat file-file laporan yang sempat hilang di laptop beberapa waktu lalu? Hingga akhirnya secara tidak langsung membuat kamu tertuduh menjadi penyebab hilangnya file itu?" Rendy mulai memberikan penjelasannya dengan pelan-pelan, tampak Meila yang sedang berpikir untuk mengingat-ngingat.
Dan Meila menganggukkan kepalanya dengan cepat setelah ia berhasil mengingat potongan ingatan yang tersimpan di memori otaknya.
"Iya, aku ingat. Tapi.... Apa hubungannya sama Sisil?"
"Sisil lah yang membantu Beno untuk menyabotase semua file laporan kita, Mei. Tapi lebih tepatnya... Beno yang membantu Sisil untuk menyabotase laptop kita. Karena Sisil tau, Beno sangat ahli dalam bidang sistem kerja komputer dan cara menyabotase laporan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Tapi mereka salah, mereka lupa kalo masih ada camera cctv yang mengawasi mereka dua puluh empat jam." Rendy menjawab dengan suara perlahan, berusaha memfokuskan Meila padanya.
Meila terkejut dengan mata membelalak, matanya tampak mulai berkaca-kaca, "kenapa mereka ngelakuin itu?"
"Karena tujuannya adalah kamu, Mei. Sisil yang menyimpan perasaan iri dan dengki sama kamu, merasa tertandingi karena semuanya berpusat pada kamu. Kamu mendapatkan semua perhatian di seluruh kampus, oleh sebab itu Sisil menggunakan segala cara buat menjatuhkan kamu."
Dimaslah yang menjawab pertanyaan Meila. Membuat keduanya menoleh dan Rendy yang menganggukan kepala tanda setuju akan jawaban Dimas.
"Ya. Benar yang dibilang Dimas, dek. Dan mengenai Beno... pria itu masih menyimpan dendam sama kamu. Dia masih penasaran untuk melanjutkan niat jahatnya yang beberapa tahun lalu sempat gagal." Rendy menyambung kata-katanya lagi untuk memperjelas semuanya.
"Dan karena tujuan mereka sebenarnya satu orang yang sama, yaitu kamu, akhirnya mereka bekerja sama untuk menjatuhkan dan mempermalukan kamu lewat rekaman video yang mereka rencanakan melalui ponsel Sisil, yang ditinggalkan sama dia karena panik melihat kedatangan aku secara tiba-tiba."
Dimas merogoh kantung celana miliknya, lalu mengeluarkan benda pipih itu untuk memberikannya pada Rendy.
"Ini ponsel yang ditinggalkan Sisil di gudang itu. Gue udah mengamankan semuanya" Dimas berkata sambil memberikan ponsel itu pada Rendy.
Seketika tubuh Meila menegang ketika menangkap ponsel yang ada ditangan Rendy, diikuti dengan bayangan dimana dirinya menyerah pasrah di bawah kungkungan Beno tergambar jelas dikepalanya.
Rendy memperhatikan perubahan sikap Meila yang gelisah dan memundurkan tubuhnya perlahan untuk menjauh. Kemudian tangannya bergerak menggenggam tangan Meila yang terasa basah karena keringat dingin.
"Dek... nggak perlu malu untuk sebuah keadilan. Kamu nggak perlu takut karena kamu nggak sendirian menghadapi ini semua. Ada kita yang akan jaga kamu, memberi dukungan buat kamu. Ya?"
Air matanya jatuh kembali ke pipinya, menahan haru luar biasa karena dua pria di hadapannya yang sangat berarti untuknya. Rendy yang ia anggap sebagai seorang kakak laki-laki yang selalu mengayomi, dan juga Dimas yang entah mulai kapan sudah berhasil menumbuhkan rasa sayangnya secara perlahan karena mulai terbiasa bersamanya, terbiasa dalam perlindungannya.
●●●
"Brengksek! Lagi-lagi gue selalu kalah. Aw."
Beno tampak meringis kesakitan ketika sedang mengompres sudut bibirnya yang robek akibat pukulan yang dilayangkan Dimas berkali-kali padanya. Kemudian berlanjut ke bagian wajahnya yang memar dengan kompresan air dingin. Wajahnya hampir dibuat babak belur oleh Dimas yang memukulnya tiada henti tanpa memberi celah untuk membalas.
Seringaian ironi tiba-tiba muncul dibibirnya, sambil menggoyangkan rahangnya yang terasa ngilu, "padahal tinggal sebentar lagi gue berhasil mencicipinya, menikmati lekuk tubuhnya yang sangat menggoda itu, tapi lagi-lagi gagal. Sial!"
Beno kembali memasukkan kain kompres ke dalam mangkuk air dingin lalu memerasnya sebelum kemudian menempelkannya kembali ke bagian wajahnya yang memar, yang belum terjamah olehnya.
"Tapi gue nggak akan nyerah gitu aja. Gue nggak akan tinggal diam dan merasa kalah. Gue akan bales mereka dan buat keadaan berbalik, hingga mereka yang akhirnya menyerah kalah."
Beno tergelak sendiri menertawai hal yang akan terjadi dan mulai terbayang dipikirannya. Dirinya tidak akan berhenti begitu saja sebelum keinginannya tercapai dan tuntas. Bahkan segala cara akan ia tempuh meski harus melakukan hal ekstrim sekalipun, termasuk untuk menyingkirkan Dimas yang menjadi penghalang baginya.
●●●
"Oke... berhubung udah hampir petang dan kamu harus istirahat, sebaiknya aku pulang."
Rendy berucap pada Meila yang masih terduduk bersandar di kepala ranjang. Cuaca diluar sana hampair gelap ditambah juga suhu udara yang semakin dingin hanya tinggal langit saja yang menurunkan hujannya membasahi tanah.
Rendy beranjak bangun dari pinggir ranjang lalu berdiri didepan Meila yang mendongak ke arahnya. Kemudian menunduk dan mengusap kepala Meila sambil kemudian berkata,
"Kamu istirahat, ya. Jangan mikir macem-macem. Kalo tubuh kamu masih merasa nggak enak, kamu nggak perlu kuliah dulu, okay?"
Meila menganggukkan kepalanya tanda mengerti lalu melengkungkan bibirnya membentuk senyuman, "iya, kak. Terima kasih udah dateng untuk aku."
"Dim, gue titip adek gue. Jagain dia." Ucap Rendy kemudian sambil melirik pada Meila yang tersipu malu karena ucapannya. Hal itu membuat Rendy tidak bisa menahan senyumnya.
"Kamu istirahat, ya!
Meila mengangguk, "Hati-hati di jalan, kak Rendy," kemudian berucap mengingatkan Rendy dengan mata melirik sekilas ke arah jendela yang tampak gelap dengan awan mendung. Rendy pun menganggukkan kepalanya tipis dibarengi sebuah senyuman.
Setelah berpamitan, Rendy beranjak keluar dari kamar Meila. Diikuti oleh Dimas yang menyempatkan untuk mengucapkan sesuatu padanya sebelum kemudian melangkah mengikuti Rendy untuk mengantarnya sampai halaman.
"Gue balik dulu, Dim. Gue titip Meila sama lo." Rendy berkata kembali ketika langkahnya sudah hampir sampai pada pintu utama menuju halaman. Lalu berhenti sejenak mendengarkan jawaban Dimas atas perkataannya.
"Lo tenang aja, Ren. Gue akan jaga dia dengan baik." Jawab Dimas dengan nada meyakinkan.
Rendy tersenyum renyah, "gue percaya sama lo." Kemudian terkekeh sambil memukul bahu Dimas dengan pukulan candaan yang disengaja. Lalu berbalik badan dan berjalan keluar pintu gerbang menuju mobilnya dan mengendarainya. Begitupun dengan Dimas yang menunggu sampai mobil Rendy tak terlihat oleh pandangannya lagi, kemudian masuk kembali serta menutup pintu utama dan menguncinya dengan rapat.
●●●
Ketika Dimas memasuki kamar Meila, gadis itu tampak sedang tertidur dalam kehangatan selimut tebal yang melingkupi seluruh tubuhnya dibawah cahaya lampu yang tidak terlalu redup. Dimas pun tersenyum lembut, dirinya sudah berpesan pada Meila untuk mengistirahatkan tubuhnya, sedangkan dirinya akan mengantar Rendy terlebih dahulu kemudian membersihkan diri, dan berjanji akan kembali ke kamarnya lagi untuk menemaninya. Dan gadis itu pun menurutinya, mungkin juga dikarenakan matanya yang sudah mengantuk dan tubuh yang lelah, oleh sebabnya dengan sendirinya, tubuh mungilnya menyerah pasrah dan memilih tidur dalam balutan kantuk yang tak tertahankan lagi.
Dimas memelankan langkahnya, dia menyempatkan diri untuk membenarkan selimut Meila yang sedikit melorot karena pergerakannya.
Sambil membawa laptop ditangannya, Dimas berjalan menuju sofa yang ada di seberang ranjang dekat dengan jendela kaca transparan dengan pemandangan hujan diluar sana serta tirai-tirai yang beterbangan oleh hembusan angin. Ditambah lagi dengan wangi dari aroma bau tanah basah yang tersiram hujan mengirimkan sinyal ketenangan bagi siapa saja yang menghirupnya.
Dimas mulai mengotak-atik laptopnya, menyelesaikan beberapa tugas yang sempat tertunda. Matanya sesekali menatap ke arah gadis mungil yang sedang meringkuk dibalik selimut dengan wajah polos tanpa dosa, bergelung manja didalam selimut tebal dan hangat yang berkebalikan dengan cuaca dingin dan suara riuh hujan diluar sana.
Ketika baru beberapa menit Dimas mulai terfokus pada layar laptop, terdengar suara ringisan kegelisahan seseorang dari seberang tempatnya duduk. Ringisan itu seperti suara dorongan kuat ingin melarikan diri dari cengkraman seseorang yang sangat kuat melingkupinya.
"Jangan. Nggak. Jangan. Aku mohon. Lepasin aku."
Suara rintihan itu semakin jelas dan berhasil memecahkan konsentrasi Dimas. Pandangannya terpaku pada tubuh mungil didalam selimut yang sedang meronta-ronta dengan kaki menendang-nendang kuat dibalut rasa ketakutan yang nyata.
"Nggak. Jangan! Tolooong!" Suara itu semakin kencang diselipi suara gemetar yang menyayat hati.
Dimas langsung menutup laptopnya dan meninggalkannya begitu saja di sofa, kemudian menghampiri Meila untuk memastikannya. Dan benar saja, dibawah cahaya yang redup, tampak air mata yang mengalir dari sudut matanya dengan dahi mengerut disertai buliran keringat dingin yang membasahi dahinya.
"Mei, bangun. Ssshhh... Mei!" Dimas harus menepuk-nepuk pipi Meila dengan sentuhan sedikit kasar agar gadis itu cepat merespon. Tidak menunggu lebih lama, Meila tersentak bangun dengan kebingungan dan ketakutan serta napas yang berkejaran seperti habis dikejar-kejar seorang penjahat yang akan menghabisinya.
"K-kak Dimas, dia dateng lagi. Di-dia dateng lagi, kak. Dia ada disini..." suaranya mulai tersekat menahan isakan yang sebentar lagi akan meledak.
Tangan Dimas bergerak menangkup wajah Meila dan mendongakkannya, "Ssshh... nggak ada siapa-siapa disini." Dimas sendiri pun mengerti siapa yang dimaksudkan Meila, "Dia nggak akan dateng lagi. Itu nggak akan terjadi, Sayang. Ssshh... tenangin diri kamu,"
"T-tapi.... itu... semuanya terasa jelas, kak. Ak-aku takut, kak." Tanpa bisa ditahan lagi, isakan itu akhirnya meledak begitu saja dengan air mata yang tanpa henti membasahi pipi mulusnya.
"Tenang, Sayang. Tenang," Dimas memeluk Meila dalam dekapan eratnya sebelum kemudian mengecup keningnya singkat, menenggelamkan wajah Meila ke dadanya. Membiarkan gadisnya untuk kesekian kali menumpahkan lagi air matanya dan membasahi bajunya sepuas yang ia mau.
Suara menyayat hati itu bagaikan sembilu yang begitu menusuk dan menyesakkan, membuat Dimas tidak tega dan langsung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menenangkan gadis yang saat ini sedang meringkuk mendesakkan dirinya seolah hanya dirinya saja satu-satunya tempat berlindung didunia ini.
●●●
Tidak ada sepatah katapun yang terucap antara Dimas dan Meila. Hanya suara riuh derasnya hujan dan sambaran petir yang saling bersautan yang membalut kesedihan gadis yang saat ini masih meringkuk, menyandarkan diri dengan tangan memeluk pinggang Dimas, dan keduanya memilih bersandar di ujung kepala ranjang. Tangan Dimas pun tak henti-hentinya mengusap bahu Meila dengan gerakan lembut seirama, serta memberi kecupan hangat dipucuk kepala gadisnya.
Dengan tertutup sebagian selimut hingga batas pinggang, namun tidak menghilangkan jejak kehangatan yang tercipta antara keduanya.
Tak ada yang bersuara lebih dulu untuk memecah keheningan, hanya tersisa isakan ringan dari sosok mungil yang saat ini tak henti-hentinya diberikan kecupan hangat di puncak kepalanya serta penghiburan dari sosok pria tegap nan kokoh yang melingkupinya.
Dimas menundukkan kepala, menatap gadisnya dalam diam, berusaha membaca sesuatu yang tersisa dari ekspresi wajahnya. Meila hanya diam, menarik napas dalam dengan mata terpejam sebagai bentuk untuk membuang pikiran-pikiran menakutkan yang melintas dipikirannya.
Dengan perlahan namun pasti, mata indah dan polos itu akhirnya terbuka dan langsung beradu tatap pada Dimas yang saat ini masih belum memalingkan pandangannya dari Meila. Kedua mata mereka pun bertemu, menciptakan suasana hening tanpa suara.
Dimas mengecup kening Meila dengan mesra dan kali ini bukan sebuah kecupan singkat, melainkan kecupan menenangkan yang ia berikan pada gadisnya hingga mampu membuat Meila memejamkan matanya.
"Aku minta maaf kalo aku udah ngerepotin kamu, kak. Maaf karena kamu ngadepin cewek cengeng kayak aku. Maaf juga karena aku terlihat lemah di mata kamu."
Suara itu menghentikan kecupan mesra yang saat itu dengan bibir masih menempel di kening Meila, Dimas sempat terpaku sejenak atas pengakuan Meila yang tidak pernah ia duga. Namun kemudian, kecupan itu berlanjut sekali lagi sebelum kemudian menundukkan kepalanya untuk berucap,
"Kamu sama sekali nggak ngerepotin aku. Menangis adalah cara yang paling mudah untuk meringankan beban, bukan karena cengeng, menangis juga nggak akan membuat seseorang menjadi lemah. Justru sebaliknya..." jemari Dimas mengusap air mata yang tersisa di pipi Meila, "...kamu akan semakin kuat setelah menangis, dan kamu bukan gadis lemah, Mei. Kamu itu gadis yang kuat. Kamu berusaha bangkit dengan menumpahkan beban kamu melalui air mata, mengganti kelemahan itu dengan kekuatan. Jadi, kamu bukan gadis lemah di mata aku." Kemudian mengakhiri kalimatnya dengan memberikan senyuman khasnya yang lembut.
Penjelasan panjang itu membuat Meila terpaku karenanya, pengakuan yang terdengar tulus hingga berhasil membuat hati Meila yang rapuh tersentuh dengan menyeluruh, sekaligus membuat matanya kembali berkaca-kaca menahan haru.
Kenapa kamu selalu berhasil membuat aku tersentuh, kak? Kenapa kamu selalu ngasih aku perhatian lebih bahkan sampe hal paling kecil sekalipun?
Dimas tersenyum karena sikap Meila yang terdiam dan hanya memandanginya saja tanpa mengucapkan sesuatu. Jemarinya mengusap kepala Meila dengan lembut sebelum kemudian memainkan jemarinya untuk mengelus pipi gadis itu dengan gerakan memutar.
"Kamu pernah dengar kalo pelukan itu adalah hal ajaib?" Dimas bertanya dengan jemari yang masih menempel di pipi Meila, sesekali mencubitnya ringan seperti memainkan sebuah squishy yang kenyal.
Meila pun dengan polosnya menggelengkan kepalanya, mendongakkan wajahnya ke arah Dimas yang menundukkan wajahnya sangat dekat. Hidung mereka hampir beradu, hingga dapat merasakan hembusan napas hangat masing-masing dengan jarak yang begitu dekat.
"Ada pepatah bilang, seorang pria ketika menghibur gadis yang sedang sedih akan memeluk layaknya sebuah pilar yang kuat."
Dimas menyambung kembali dengan suara rendah dan sedikit pelan serta mata yang langsung tertuju pada mata Meila.
"Teruslah menjadi pilar itu untuk aku, kak." Suara rendah dan jujur itu terdengar jelas di telinga Dimas, bahkan sampai mengalahkan suara petir yang saling bersautan diluar sana. Kalimat itu semakin membangkitkan perasaannya, juga telah berhasil menyentuh hatinya, bersemayam di jiwanya hingga Dimas tidak akan membiarkan gadis itu menarik ucapannya kembali yang telah dikeluarkan, dan telah dia simpan dalam hati yang paling dalam.
Mungkinkah Meila sedang berucap jujur padanya?
Dimas tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup bibir Meila, pria itu mengecup mesra dengan kecupan hangat, memberi sedikit ******* ringan untuk membasahi bibir Meila yang kering karena telah membuang energi melalui isakan yang tidak bisa dihentikan.
Dimas melepaskan bibirnya, menghembuskan napas panasnya pada Meila yang baru saja membuka kembali matanya yang sempat terpejam karena ciumannya. Kemudian menatapnya dalam diam,
"I Love You..."
Dimas berucap parau sambil menggesekkan hidungnya ke ujung hidung Meila. Kemudian mengangkat kepalanya kembali, membaca ekspresi Meila atas pengakuannya, dan gadis itu hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan tulang pipi yang bersemu merah dibawah cahaya minim lampu nan redup.
Kemudian Dimas tersenyum karena ekspresi lucu yang ditunjukkan Meila padanya, bibirnya mengecup ujung hidung Meila dan membawanya kembali kepelukannya. Memeluknya erat dengan dagu yang menempel ke rambut Meila, menghirup aroma dari kelembutan rambut gadis itu.
"Sekarang, gadis mungil ini tidur lagi, ya?"
Perkataan Dimas seketika membuat Meila menggelengkan kepalanya dalam dekapan Dimas sekaligus mengeratkan tangannya ke pinggang Dimas.
Dimas mengerutkan keningnya, "kenapa? Ini udah hampir tengah malam, Mei. Kamu perlu istirahat,"
"Ak-aku... aku takut mimpi itu dateng lagi, kak. Aku takut," dengan kepala terdongak, Meila merengek manja dengan rasa takut di wajah disertai kecemasannya, seolah trauma untuk memejamkan matanya meski hanya sekedar untuk tidur.
Meila melepaskan pelukannya, kemudian tanpa di duga dengan wajah memerah tersipu malu, tubuhnya bergeser ke samping dengan perlahan seolah memberikan tempat untuk Dimas berada didekatnya. Dimas bukanlah pria bodoh yang tidak mengerti maksud dari Meila, gadis itu jelas-jelas sedang meminta untuk ditemani, namun tidak bisa untuk mengutarakannya.
"Aku mohon, kak Dimas..."
Ditatap oleh mata polos dan sendu seperti itu, sudah pasti Dimas tidak mampu untuk menolaknya. Tatapannya kemudian melembut disertai senyuman, diiringi dengan tubuhnya yang langsung memposisikan diri ke tempat yang Meila maksudkan.
Kemudian merentangkan tangannya, "kemarilah..." dan mengajak Meila untuk berbaring disampingnya.
Meila pun menurut, gadis itu mulai berbaring dan menyambut tangan Dimas untuk memeluknya, dan memiringkan tubuhnya menghadap Dimas dengan pipi menempel ke dada bidangnya. Dengan cepat seolah sudah terbiasa, Dimas langsung memeluk Meila serta menarik selimut hingga batas pinggang untuk menutupi tubuh keduanya.
Kini mereka saling berhadapan, tanpa celah sedikitpun. Meila tampak tersenyum pada Dimas dengan pipi merona sebelum kemudian berucap dengan kepala terdongak, "Selamat malam, kak.."
Dimas tersenyum lembut, lalu mengecup kening Meila sebagai kecupan selamat malam penghantar tidur.
"Selamat malam, Sayang."