A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kebencian Sisil



Semuanya sudah berkumpul di ruang utama. Tak ada yang memulai pembicaraan, semuanya hanya terdiam, saling menunggu untuk mengeluarkan suaranya. Terlebih lagi Meila, gadis polos itu hanya menatap kepada wanita dan pria paruh baya itu secara bergantian sambil sesekali menoleh ke arah Dimas yang juga tidak memgucapkan sepatah katapun.


"Mm...ma-maaf, om dan tante siapa? Kenapa bisa kenal sama aku?"


Mendengar suara Meila memecah suasana, membuat semuanya memusatkan perhatian padanya. Wanita paruh baya itu tampak menoleh kepada sang suami, seakan meminta pendapatnya untuk mengutarakan maksud kedatangannya. Sang suami pun rupanya tampak santai dan sabar, dengan sedikit memberikan anggukan kepala tipis, sang suami memberikan isyaratnya.


"Sebelumnya... kami mohon maaf karena sudah mengganggu kamu, membuat kamu bingung dengan kedatangan kami. Tapi kami perlu bertemu denganmu agar semuanya jelas." Sang istri mulai menjelaskan maksudnya. Sambil memberi jeda dalam kalimatnya, sekali lagi, sang istri tampak menoleh kepada sang suami sebelum kemudian melanjutkan lagi kalimatnya.


"Perkenalkan, kami adalah orang tua Sisil." Wajah Meila yang tadinya terlihat santai dan tanpa beban, seketika menegang begitu mendengar nama perempuan itu. Tangannya yang diletakkan diatas kedua pahanya tampak gelisah dan saling bertautan.


Bukan Dimas jika tidak memperhatikan semua reaksi yang Meila berikan. Pria itu dengan cepat menangkup tangan Meila untuk menggenggamnya, memberikan ketenangan sambil mengusapnya dengan lembut. Meila menolehkan kepalanya pada Dimas yang langsung memberikan ekspresi kedipan mata yang mengisyaratkan jika dia tidak perlu takut, karena ada dirinya disampingnya yang akan selalu mendampinginya.


"Sisil?" Meila berusaha menyebut nama itu. Dengan bibir yang bergetar namun tak urung dia tetap berusaha tenang.


"Ya..." Kali ini Ayah Sisil lah yang bersuara menggantikan sang istri. "Bukan tanpa alasan kami kesini dan ingin bertemu denganmu. Sudah beberapa hari ini tingkah anak kami sangat aneh. Tidak mau keluar dari kamar dan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Dia terkadang suka berteriak-teriak menyebut-nyebut namamu hingga histeris. Semua barang-barang ia lemparkan ke sembarang tempat. Kami sangat bingung kenapa dia seperti itu. Maka dari itu, kami memutuskan untuk mencari informasi tentang dirimu agar kami juga tahu apa masalahnya."


Meila tertegun mendengar penjelasan seorang ayah yang sangat mengkhawatirkan putrinya. Namun, bukan salahnya juga jika dia berusaha membela diri bukan? Haruskah dia menjelaskan semuanya?


Perlahan Meila tampak menghela napas, akan berucap sesuatu tapi kemudian sebuah suara menghentikannya.


"Mungkin semuanya memang harus diluruskan disini. Maaf, jika saya mengambil alih pembicaraan ini. Tapi, saya tau jika untuk menjelaskan semuanya, Meila mungkin akan sedikit merasa gelisah." Dimas mengambil alih pembicaraan. Memulai untuk menjelaskan akar dari permasalahan yang belum sempat terselesaikan.


"Tolong jelaskan pada kami, kami juga perlu tahu kenapa anak kami seperti itu." Sang istri berucap dengan memohon.


Dimas mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Meila yang terasa berkeringat. Barulah dia mulai menjelaskannya.


"Sebenarnya semua penyebab masalah ini adalah Sisil sendiri, om, tante. Sisil udah merencanakan penculikan pada Meila." Mendengar pernyataan Dimas, membuat orang tua Sisil terkejut tidak percaya.


"Apa? Penculikan? Sisil melakukan itu ke kamu, Nak?" Mendengar suara lembut dari seorang ibu, membuat mata Meila berkaca-kaca hingga membuatnya merindukan sosok ibunya. Tak urung Meila menganggukkan kepala tipis guna menjawab untuk meyakinkannya.


"Dia bekerja sama dengan seorang mantan mahasiswa bermasalah yang sudah di blacklist dari kampus kami. Dia melakukan kerja sama untuk mempermalukan Meila dengan cara melecehkannya dan merekamnya dalam bentuk sebuah video yang akan disebarkan ke semua orang." Saat Dimas menjelaskan, tangan mungil Meila tiba-tiba meraih lengan Dimas sambil memasang wajah khawatir yang mengisyaratkan jika dia tidak perlu melanjutkannya. Tetapi, Dimas segera menepis rasa khawatir dari wajah Meila dengan anggukan kepala tipis sambil mengeratkan genggamannya. Lalu melanjutkan ucapannya kembali dengan wajah tegas namun santai. "Namun, saya berhasil menggagalkan itu. Saya berhasil menemukan tempat dimana Sisil menculik dan menyekap Meila pada saat kejadian keji itu akan berjalan. Saya mengambil bukti video rekaman yang Sisil tinggalkan di TKP, sedangkan Sisil.... kabur entah kemana dengan meninggalkan ponselnya begitu saja."


Sambil mendekap mulutnya tidak percaya, sang istri tampak menatap ngeri ketika membayangkan jika anaknya telah tega melakukan hal keji pada teman sesama perempuannya.


Sang istri merasa terenyuh dengan pernyataan yang Dimas berikan. Perlahan dimajukannya tubuhnya dan meraih tangan Meila untuk memberikan usapan lembut pada punggung lengannya.


"Kami sama sekali nggak pernah menyangka jika Sisil tega melakukan ini sama kamu, Nak. Kami memohon maaf atas semua masalah yang telah anak kami perbuat sama kamu. Terlebih lagi, jika itu sudah merugikanmu baik fisik maupun mental." Ucap sang ibu dengan suara melemah, dengan segala rasa bersalah yang bersarang dihatinya karena ulah putri semata wayangnya.


"Aku udah memaafkannya, tante. Om dan tante nggak perlu merasa bersalah kayak gini ke aku." Berusaha bersikap tenang, Meila berucap meyakinkan dengan tulus. "Aku udah berusaha melupakannya."


Orang tua Sisil tertegun mendengar pengakuan Meila. Bukan tanpa alasan, terutama sang istri, tampak tersentuh dan semakin merasa bersalah dengan apa yang putinya perbuat. Sang istri sempat berpikir bahwa, Meila hanyalah perempuan yang memanfaatkan kecerdasan dan kepopulerannya saja untuk menarik simpati semua orang. Namun, setelah bertatapan langsung, dirinya dengan jelas mengenal sifat Meila yang polos dan pemaaf itu.


Apa yang sebenarnya Sisil cari dari gadis ini? Apakah semua fasilitas yang mereka berikan masih belum mencukupi? Sehingga dia mencari kesenangan lain dengan cara merugikan teman perempuannya? Bukankah selama ini apa yang ia inginkan selalu mereka kabulkan?


Sang istri menatap Meila lekat-lekat, menatap langsung pada bola mata jernihnya yang polos.


Inikah gadis yang sangat dibenci putrinya? Gadis polos yang dengan mudahnya telah memaafkan semua perbuatan Sisil padanya? Jika aku memintanya untuk menemui putrinya, maukah dia?


"Kami nggak tau apa maksud Sisil melakukan itu ke kamu. Tapi yang jelas, kami sangat menyayangkan perbuatan buruk Sisil padamu, Nak."


"Dasar dari semua masalah itu adalah sifat iri dan dengki Sisil, tante. Sifap iri dan dengki yang mendominasi kepribadian Sisil hingga menaruh dendam, dan rasa ingin menarik perhatian semua orang agar semua berpihak padanya." Sanggah Dimas santai namun tegas.


"Semua memang salah kami. Kami tidak memberikan perhatian padanya secara intens. Kami hanya memantaunya melalui informasi para keamanan dan asisten rumah tangga." Sang suami tampak berucap sambil memijat keningnya.


Suasananya berubah canggung ketika terdengar ada kesedihan terdalam dari sosok seorang ayah yang sangat mencintai putrinya. Bagi seorang ayah, putrinya adalah mutiara berharga yang sangat dijaga agar tidak sampai terluka. Tidak sampai tergores sedikitpun hingga menimbulkan luka yang membekas. Tetapi, mendengar nada lemah dari sosok ayah yang tertunduk lemah dengan pandangan kosong, seakan menggambarkan jika dia telah gagal menjaga putrinya.


Berusaha menekan rasa yang bergejolak, Meila bermaksud menyinggung keberadaan Sisil mengenai keadaannya. Dia berdehem sejenak sebelum mengucapkan kata.


"Tadi... tante bilang, Sisil nggak keluar kamar? Dari kapan tante? Gimana keadaannya?"


Sang istri tampak menghela napas perlahan, "Iya, Mei. Kurang lebih udah seminggu dia nggak mau keluar dari kamarnya. Kami udah berusaha membujuknya, tapi tetap nggak ada hasil. Terkadang sunyi tanpa suara, tapi terkadang berteriak-teriak histeris sambil menyebut-nyebut nama kamu,"


Satu minggu? Berarti bertepatan dengan kejadian penusukan itu?


Sang istri terlihat menoleh ke arah sang suami, mengisyaratkan sebuah anggukan kepala tipis untuk meminta izinnya dari maksud lain kedatangannya.


"Begini, Mei... sebenernya... sebenernya kami punya satu permohonan sama kamu."


Meila mengernyitkan alisnya, "permohonan? Permohonan apa, tante?"


"Sebenernya kami pengen kalo kamu ikut membujuk Sisil, minimal sampai dia mau keluar dari kamarnya."


"Apa?" Dimaslah yang mengeluarkan tanda protesnya dengan cepat. "Nggak bisa, tante. Semuanya malah akan kacau kalo Meila dipertemukan lagi dengan Sisil. Dia nggak akan segan-segan melakukan sesuatu yang nggak pernah kita duga."


"Kak Dimas," sergah Meila dengan lembut. Lalu mengisyaratkan melalui kedua alisnya agar memberinya izin.


"Tapi....." Dimas tidak mampu berkata lagi, tatapan mata penuh permohonan dari Meila melemahkannya. Tatapan permohonan yang sudah pasti tidak bisa ditolaknya. Dimas menghela napasnya perlahan, "okay... aku izinin kamu kesana. Kita kesana bersama-sama." Ucapnya dengan lembut namun tegas.


Mendengar Dimas mengizinkannya, Meila tampak memberikan senyumnya, senyuman isyarat rasa terima kasihnya pada Dimas. Begitupun dengan orang tua Sisil, keduanya tampak menghela napas lega dengan keputusan Dimas.


"Tapi satu hal yang harus diperhatikan. Jangan ada kekerasan, apalagi kontak fisik yang bisa mengakibatkan Meila terluka. Sebab, jika itu sampai terjadi, saya nggak akan tinggal diam."


Peringatan yang Dimas ucapkan itu mampu membuat orang tua Sisil terdiam membeku, tertegun serta rasa khawatir jika nanti, bisa saja anaknya akan bertindak diluar kendali yang akan merugikan gadis polos ini.


"Baiklah, kami akan pantau dan mengikutsertakan beberapa bodyguard untuk menjaga. Mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi." Sang suami berbicara memastikan.


Tampak keduanya saling memandang lega, berpikir jika apa yang mereka pikirkan tidaklah sulit setelah semuanya dibicarakan baik-baik. Dan sekarang, dengan segala kerendahan hati, Meila mau memberikan sedikit waktunya untuk berbicara dengan putrinya. Namun, masih ada satu masalah lagi, bagaimana reaksi Sisil jika mereka saling bertemu dan berbicara? Akankah Sisil menerimanya, atau... keadaan malah semakin kacau?


●●●


Suara Bel dari arah pintu utama memaksa Airin berlari untuk segera membukakan pintu. Dengan senyum khasnya, perlahan dia menarik gagang pintu dan membukanya lebar.


Senyumnya mengembang sempurna saat matanya langsung beradu tatap pada Bryant yang berdiri didepannya sambil menenteng sebuah box pizza berukuran besar yang dilambaikannya ke udara.


"Hai... Pizza...?" Ucapnya dengan nada merayu.


Airin terkekeh disertai gelengan kepala geli, "hai...! Tapi aku nggak pesan pizza. Mungkin.... masnya salah kirim?"


Bryant mendengus pelan, "emangnya ada, kurir Pizza setampan aku?" Jawabnya meledek sambil menyandarkan sebelah bahunya di balik pintu.


Airin tergelak, lalu mempersilahkan Bryant untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan tanpa diduga pria itu berhenti sejenak dan langsung memberikan kecupan singkat ke bibir Airin yang terbuka.


"Itu hukuman kecil karena kamu udah menyamai aku dengan kurir." Bisiknya tepat di depan telinga Airin. Sontak membuat Airin terkesiap dengan wajah yang memerah.


Setelah berhasil membuat Airin salah tingkah, Bryant melenggang masuk menuju ruang santai yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari pintu. Membiarkan gadis itu tercengang dengan pipi memerah dan jantung berdebar sambil memegangi pintu.


"Kamu masih mau berdiri disitu atau membiarkan pizza ini mendingin tanpa dinikmati?"


Suara Bryant yang mengejek sambil terkikik tanpa suara itu membuat Airin terkesiap dan langsung terbangun dari lamunannya. Dengan buru-buru, dia langsung menutup kembali pintu utama dan menghampiri Bryant yang sudah duduk di ruang santai sambil membuka kardus pizza dengan santai.


"Bodohnya gue! Kendalikan diri lo, Airin!" Rutuknya seorang diri disertai gelengan kepala.


●●●


"Ayo, Mei, Dimas, silahkan masuk."


Sang istri tampak mempersilahkan Dimas dan Meila memasuki rumahnya. Saat ini mereka sudah sampai di rumah Sisil yang tampak besar dan megah. Dari kejauhan seorang asisten rumah tangga tampak menghampiri, berjalan mendekat ke arah sang Nyonya dengan hati-hati dan sikap hormat. Asisten itu meraih tas jinjing yang dipegang sang Nyonya dengan perlahan, mengambil alih untuk meletakkannya ke tempat yang sudah disediakan.


"Sisil gimana, bi? Ada perkembangan?"


"Masih belum keluar kamarnya, Bu. Beberapa menit yang lalu sebelum ibu dan bapak pulang, Nona berteriak-teriak lagi." Jelas sang asisten.


"Yasudah, kamu buatkan minum untuk mereka, ya. Siapkan juga beberapa camilan ke ruang utama." Perintah sang Nyonya dengan tenang, dan langsung dijawab anggukan oleh sang asisten.


"Mmm... tante, dimana kamar Sisil?" Meila bertanya dengan ragu, diliriknya Dimas yang berdiri tegap disampingnya. "Kalo boleh... boleh aku kesana?"


Dimas tertegun, tidak menyangka jika gadis mungil yang polos ini akan langsung menawarkan diri untuk datang ke kamar perempuan yang telah menyakitinya. Berbeda dengan kedua orang tua Sisil yang tampak terkejut mendengar permintaan Meila pada mereka.


"Tentu, Mei, tentu. Kami akan antar kalian." Dengan segera, sang istri langsung mengantar Dimas dan Meila menuju lantai dua, ke kamar Sisil.


Meila sendiri tahu jika saat ini Dimas pasti sedang mencemaskannya. Terlihat dari raut wajahnya yang memgeluarkan aura dingin membunuh saat mendengar Meila meminta untuk diantarkan ke kamar Sisil.


Seolah ingin meredakan aura tidak enak pada diri Dimas, perlahan tangan Meila meraih tangan Dimas dan menariknya untuk mengikutinya. Lalu, tak lupa memberikan senyuman dan anggukan tipis sebagai isyarat jika tidak akan terjadi apa-apa padanya. Dimas pun mengikuti, percuma juga jika harus berdebat dengannya saat ini, meski Meila berusaha meyakinkannya agar tidak mencemaskannya, tapi dia akan tetap mengantisipasi dengan segala kemungkinan lain yang akan terjadi.


Ketika mereka sudah berdiri didepan pintu kamar Sisil, semuanya hanya saling bertatapan tanpa bicara. Saling memandang sambil memikirkan, bagaimana reaksi Sisil jika mengetahui Meila ada didepan kamarnya? Ingin bertemu dan berbicara padanya?


Sang istri memajukan tubuhnya hingga dekat dengan pintu, lalu mengetuk pintu itu perlahan sebelum kemudian mengucapkan sesuatu memanggil anaknya.


"Sisil, nak, ada Meila datang ingin bertemu sama kamu. Keluarlah, nak."


Tampak tidak ada tanggapan dari dalam, namun beberapa saat kemudian ada benda yang dilempar ke arah pintu kamarnya sebelum kemudian meneriakkan tidak ingin bertemu siapapun.


Semuanya sempat terdiam, namun kemudian terdengar suara sahutan lagi dari dalam kamar.


"Kalo dia mau ketemu sama aku, dia yang harus masuk. Aku nggak mau keluar dari kamar. Ingat! Meila harus masuk sendiri tanpa siapapun mendampinginya. Atau aku nggak mau bicara sama sekali."


"Sisil, tapi nak......."


"Tante, biarin aku masuk ke dalam. Mungkin Sisil mau bicara sama aku berdua aja." Dengan cepat Meila meraih lengan ibu Sisil, meyakinkannya kalau dia bersedia untuk berbicara pada putrinya.


Namun, Dimas lah yang tampaknya sangat keberatan. Dengan segala pikiran-pikiran buruk yang akan terjadi nantinya, Dimas tidak mungkin membiarkan Meila berdua saja dengan perempuan itu di dalam kamar. Terlebih lagi, dengan apa yang telah perempuan itu lakukan padanya. Bagaimana jika Sisil akan melakukan sesuatu yang ekstrem yang akan mencelakakannya lagi?


"Sisil, aku akan bicara sama kamu. Kita bicara berdua aja." Ucap Meila dengan pelan.


Tak berapa lama, terdengar suara kunci yang diputar dari dalam, menandakan jika Sisil telah membuka kunci pintu yang selama ini tidak ia buka.


Saat Meila baru akan meraih kenop pintu, tangan Dimas menahan pergelangan tangan Meila dan menghentikannya. Menatap khawatir pada Meila yang mendongak ke arahnya.


"Kak Dimas, aku nggak apa-apa. Aku akan coba bicara sama Sisil." Ucap Meila dengan lembut diselipi dengan senyuman.


Melihat senyuman yang terpancar dari bibirnya hingga menyeruak membuat wajah polosnya berseri-seri, membuat tatapan Dimas melembut disertai helaan napas ringan.


"Kalo terjadi apa-apa, kamu teriak, okay? Aku disini tunggu kamu." Ucap Dimas dengan nada paling lembut.


Setelah mendapat izin dari Dimas, Meila masuk ke kamar Sisil sambil menarik napas perlahan. Memejamkan matanya sejenak sebelum kemudian berjalan dan hilang dibalik pintu yang tertutup dari dalam.


Tidak bisa dipungkiri, Meila juga sangat takut jika Sisil akan berbuat sesuatu lagi yang akan melukainya. Namun, Meila melihat dari sisi seorang ibu yang sedang meminta sesuatu darinya untuk membujuk putri semata wayangnya. Tidak ada waktu lagi untuk Meila berpikir macam-macam. Yang terpenting sekarang, dia berusaha agar bisa bicara dengan Sisil dengan perlahan dan tanpa paksaan.


●●●


Hal pertama yang Meila simpulkan saat memasuki kamar itu adalah satu kata, yang terdiri dari empat suku kata. Be-ran-ta-kan. Ya! Kamar itu tampak berantakan entah seperti apa bentuk interior kamar itu sudah tidak berbentuk lagi. Tempat tidur yang acak-acakan di lantai, serta meja rias yang cantik itu bergeser jauh dari tempatnya semula. Termasuk alat make-up yang biasanya disimpan di atas meja rias, sudah berserakan kemana-mana. Begitupun dengan meja lemari nakas yang beserta barang-barang pecah belah juga pecah tak berbentuk lagi.


Dengan kepala menunduk dan wajah setengah terkejut, Meila melangkahi lantai demi lantai dengan hati-hati, menghindari pecahan benda-benda yang akan melukai kakinya.


"Kenapa? Dalam hati lo pasti lagi ngetawain gue saat ini. Iya, kan?"


Suara Sisil memecah pikirian Meila dan memaksanya untuk mengangkat wajahnya ke arah sumber suara yang saat ini sedang bersandar di depan kaca pembatas antara kamar dan balkon, dengan pandangan penuh kebencian padanya.


Perempuan itu tampak lusuh dan kusut, rambut panjangnya dibiarkan terurai begitu saja dengan acak-acakan. Kulitnya tampak pucat, sangat kontras dengan adanya lingkaran hitam di sekitar matanya, menandakan jika dia kurang tidur atau mungkin tidak tidur sama sekali. Dan juga, perempuan itu terlihat lebih kurus tak terurus. Jauh dari image Sisil yang terkesan glamour dan serba mewah ketika saat terakhir mereka bertemu.


Melihat kondisi Sisil yang tampak memprihatinkan, membuat Meila sedikit terkesiap dengan kedua alis yang menaik.


"Kenapa kamu berpikir kayak gitu? Aku cuma...."


"Udahlah, nggak usah sok polos. Cepet ngomong mau ngapain lo kesini?"


Dengan tidak sabar, Sisil akhirnya mengeluarkan sifat aslinya lagi yang ia tunjukkan saat penculikan itu terjadi, membuatnya bergidik ngeri sambil menelan ludahnya.


"Harusnya aku yang tanya ke kamu, Sil. Sebenernya kamu kenapa? Kenapa kamu kayak gini? Kasian mama papa kamu, Sil."


Sisil mendengus kasar, serta sudut bibirnya terangkat ironi. "Gue kayak gini itu karena lo! Dan apa lo bilang tadi, kasian sama orang tua gue? Mereka nggak perlu gue kasihanin. Toh, mereka juga nggak pernah perhatian sama gue." Jawab Sisil dengan ketus.


"Tapi mereka punya cara sendiri buat bahagiain kamu, Sil."


"Bahagia lo bilang? Apa lo liat ada kebahagiaan dari mata gue?" Sisil bertanya balik dengan nada menantang.


Meila terdiam, menatap lemah ke arah Sisil yang memiliki tatapan mata kosong kearahnya. Lalu, menatapnya lekat sambil berjalan maju menghampiri Meila yang gugup.


"Masih bertahan juga ya lo? Gue pikir lo bakal mati setelah tertusuk." Ucap Sisil dengan nada menohok.


Kepala Meila terangkat, terdengar suara dengusan kesal yang refleks ia tunjukkan padanya. Lalu, matanya menyipit seolah menilai sebelum kemudian memberanikan diri menanyakan sesuatu dengan lantang pada Sisil.


"Kenapa kamu benci banget sama aku, Sil? Sebenci itukah sampe kamu pengen aku lenyap dari hadapan kamu?"


Sisil mendengus, memutar bola matanya dengan kasar sebelum kemudian mendorong bahu Meila dengan sikap jijik menggunakan jari telunjuknya.


"Karena lo emang pantes dibenci! Lo nggak pantes buat dapetin semua perhatian, semua kasih sayang, cinta, bahkan prestasi yang nggak penting yang disematkan ke lo, semua itu nggak pantes ada dalam diri lo!" Sambil bersedekap, mata Sisil semakin tajam menatap Meila, membuat Meila bergidik ngeri hingga membuat nyalinya padam setelah sebelumnya tadi sempat menyala dan bersemangat.


"Lo punya segalanya. Sahabat, kakak, orang-orang yang perhatian sama lo, bahkan cinta dari seorang Dimas yang lo dapetin dengan tulus. Prestasi yang menjulang, dan semua kata-kata pujian tentang lo. Meila ini, Meila itu, Meila yang ini, Meila yang itu. Meila! Meila! Meila! Semuanya tentang lo. Gue muak dengar nama lo." Sisil berteriak sambil menutup kedua telinganya. Membuat Meila terkesiap mundur menjauh darinya.


"T-tapi kamu juga punya segalanya, Sil. Semua fasilitas kamu miliki tanpa kurang sedikitpun. Kenapa kamu masih merasa tidak puas sama semuanya? Padahal, kalo kamu mau, kita bisa berteman, kita bisa saling tukar cerita apapun. Kamu bisa cerita sama aku, curhat, dan ngeluarin semua uneg-uneg dalam diri kamu yang nggak bisa kamu ungkapin ke orang lain. Kenapa kamu nggak coba......."


"Ah! Udahlah! Nggak ada gunanya lo disini. Gue nggak butuh ceramah lo, gue cuma pengen lo menderita. Ocehan lo malah semakin bikin gue pusing, gue muak sama lo. Cewek sok polos, manja, sok lugu yang bisanya cuma narik perhatian semua orang." Marah Sisil sambil bersungut-sungut hingga membuat Meila berjingkat kaget sampai merasakan matanya panas oleh tumpukan air mata.


Sebegitu bencinyakah kamu sama aku, Sil? Sampai....  yang ada dalam pikiran kamu cuma pengen aku menderita?


Berusaha menekan rasa bersalah dan juga perasaan sesak di dada, dengan memberanikan diri Meila melangkah maju, menghampiri Sisil yang saat ini berdiri membelakanginya.


Dengan tangan gemetar, Meila meraih bahu Sisil dengan hati-hati. "Sisil, kamu nggak bisa kayak gini. Kamu harus....."


"Gue bilang berenti ganggu gue!" Dengan cepat Sisil menepis tangan Meila yang ada di bahunya. "Udahlah, lo nggak usah repot-repot nasehatin gue. Karena semua itu nggak perlu! Mending lo keluar dari kamar gue, sekarang!" Perintah Sisil dengan nada galak.


Namun sebaliknya, Meila tidak menggubris. Dia justru malah semakin mendekat, berniat untuk berusaha berbicara baik-baik sekali lagi pada perempuan itu.


"Sisil, dengerin aku. Ki-kita bisa bicarain semuanya baik-baik. Kita bisa berteman. Semuanya peduli sama kamu. Semuanya pasti mau berteman sama kamu."


"Lo tuh nggak punya kuping, ya? Gue bilang keluar dari kamar gue!" Sergahnya dengan kasar. Dengan napas tersengal penuh amarah, mata tajamnya terus memandangi Meila dengan tatapan membunuh yang kejam, memindainya dari ujung kepala hingga kaki.


Sikap Sisil yang mengerikan itu seketika membuat bulu kuduk Meila meremang disertai detak jantung yang berdebar kencang tak karuan. Meila menarik napas dalam, merasakan hawa membunuh dari tatapan mata Sisil.


"Atau lo mau gue ngelakuin sesuatu buat bikin lo diem dan nggak bisa ceramah lagi? Iya?" Tanya Sisil dengan menantang. Membuat Meila semakin terpojok dan gelisah.


Lalu, dengan langkah pasti, Sisil memajukan langkahnya dengan cepat, dan menarik tangan Meila dengan kasar. Mendorongnya agar menempel ke dinding balkon, lalu mengerahkan kedua tangannya untuk menyekik leher mulus Meila yang rentan sebelum kemudian mencarkarnya dengan kuku-kukunya yang tajam.


"Si-sisil... k-kamuh... ap-apa yang kam-muh lakuin? Uhuk... lep-pas-sin ak-kuh, S-sil!"


Dengan nada memohon sambil menahan tenggorokannya yang tersekat serta rasa perih yang menusuk, Meila menahan tangan Sisil untuk melepaskan cekikan dilehernya. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Meila mulai kehabisan napas karena cengkraman kencang dilehernya.


Sisil pun menyeringai lebar, menampilkan tawa licik dari seorang Sisil seperti yang ditunjukan saat menculik dirinya.


"Ini hukuman dari gue karena lo nggak mau keluar dari sini. Dan sekarang, jangan menyesal kalo lo nggak bakal selamat di tangan gue." Ucapnya ngeri hingga membuat Meila membelalak sempurna.


"Lo harus mati! Lo harus mati! Gue pastiin lo nggak akan selamat keluar dari sini! Serunya lantang sambil tertawa jahat.


Meila terus saja meronta, terbatuk-batuk sebagai bentuk pertahan diri agar bisa menghirup oksigen sedikit demi sedikit.


Apa yang harus aku lakuin? Aku nggak bisa teriak ataupun mengatakan sesuatu. Dada aku rasanya sesak.


Lain di luar kamar, Dimas dan kedua orang tua Sisil tampak gelisah saat mendengar hentakan dari teriakan suara Sisil yang melawan ucapan Meila. Memikirkan jika Meila pasti sedang tidak baik-baik saja di dalam sana.


Seolah pikiran cemas itu mendapatkan jawaban, terdengar suara Sisil dengan tawa jahatnya sedang berteriak kasar dan lantang penuh histeris. Menandakan jika perempuan itu sedang berada dalam kekalapan amarah yang menggebu-gebu.


"Lo harus mati! Lo harus mati di tangan gue! Gue akan pastikan itu!"


Suara itu tedengar jelas dari balik pintu. Sontak membuat Dimas harus mengambil langkah cepat dan darurat.


"Tante, maaf. Tapi, ini harus saya lakukan demi keselamatan Meila."


Tanpa menunggu persetujuan mereka, dengan cepat Dimas langsung mendobrak pintu kamar hingga terbuka lebar. Menampilkan pandangan diluar pikiran mereka yang sangat mengerikan. Tampak Sisil dengan kasar mencekik sambil mendorong Meila hingga ke tepi balkon. Seolah menahan diri, Meila tampak berusaha mendorong tangan Sisil dari lehernya yang sudah sangat terasa perih.


"Meila!" Dimas memekik dan berlari untuk melepaskan cengkraman tangan Sisil di leher Meila.


"Astaga, Sisil! Apa yang kamu lakukan, nak?"


Seolah tak menggubris, Sisil justru semakin menjadi. Berusaha mendorong Meila sekuat tenaga agar sampai ke tepi balkon. Namun, saat kakinya akan melangkah ke pijakan selanjutnya, tanpa diduga Sisil menginjak sebuah tabung lipstik yang ia lemparkan hingga berserakan kemana-mana. Seketika membuat keseimbangannya terganggu hingga akhirnya tergelincir jatuh dengan posisi terlentang.


Cengkraman itu terlepas, membuat Meila mengambil napas dalam-dalam untuk mengembalikannya napasnya.


Dimas menarik Meila ke dalam pelukannya, berusaha menenangkannya. "Sayang, kamu baik-baik aja?" Lalu melonggarkan pelukannya sambil menyusuri gadis itu. Seketika matanya menajam dengan penuh amarah saat dilihatnya ada luka cakaran yang disebabkan oleh Sisil. "Leher kamu terluka," lalu menyentuhnya sekilas sebelum kemudian menarik ke dalam dekapannya kembali. "Tarik napas.... lalu hembuskan... terus ulangi kayak gitu." Dengan sabar disertai kecemasan, Dimas memberikan instruksinya.


"Tante, saya udah bilang, kan? Jangan ada kekerasan. Tapi ini?"


"Kami minta maaf, nak Dimas. Ini juga diluar kendali kami. Kami nggak menyangka kalo Sisil akan senekat ini." Sang ayah memohon maaf disertai penyesalan.


Meila masih terbatuk-batuk dengan wajah memerah disertai mata yang berkaca-kaca. Ingin rasanya ia menangis saat sudah berada dalam perlindungan Dimas. Namun, suara teriakan dari ringisan kesakitan Sisil menahannya untuk tidak menangis melakukannya.


Sedangkan Sisil, tampak menahan kesakitan di bagian perutnya hingga meringis dan setengah berteriak. Disusul dengan darah yang mengalir keluar dari alat reproduksinya, semakin membuat kedua orang tuanya didera kecemasan.


"Sisil, kamu kenapa, nak? Apa yang terjadi sama kamu?" Ucap sang ibu sambil terisak lemah.


Mata Meila melebar sempurna, dirinya langsung didera dengan rasa bersalah yang amat dan kali ini, air matanya berhasil lolos. "D-darah? A-ada darah, kak..." ucapnya dengan gemetar dalam dekapan Dimas. Dimas pun langsung menoleh ke arah Sisil, dan benar, jika ada darah segar yang tak henti-hentinya mengalir dari sana.