
"Simon Hutabarat."
Nama itu yang Dimas sebut saat pertama kali membaca pada lembar pertama berkas yang dipegangnya. Dengan didampingi Henry di sampingnya, Dimas tampak teliti membaca tiap lembar informasi mengenai jejak kejahatan Simon.
"Jadi dia orangnya yang sudah membantu memuluskan jalan transaksi ilegal yang Dion lakukan?"
"Benar, tuan. Saya sudah menyelidiki latar belakangnya. Dia ditinggalkan oleh istri dan anak-anaknya karena terlibat hutang judi. Sejak transaksi ilegal itu berjalan, Simon seketika gelap mata dan mulai bermain judi. Dia menghambur-hamburkan semua uang yang diberikan Dion sebagai uang tutup mulut ke berbagai klub malam. Sampai suatu hari ketika dia kalah taruhan hingga menyebabkan banyak hutang. Hingga sekarang, kabarnya dia telah dipecat dari tim kepolisian secara tidak hormat."
Dimas mendengarkan penjelasan terperinci dari Henry. Pandangan matanya tidak luput dari berkas-berkas yang dibacanya.
"Lalu, dimana dia sekarang?"
"Menurut informasi yang saya dapat, dia tinggal di sebuah gubuk di daerah pedesaan terpelosok yang sangat minim penduduk. Itu dia gunakan sebagai bentuk persembunyiannya dari pihak terkait."
Dimas mengangguk-anggun paham dan terlihat puas akan informasi yang Henry berikan.
"Bagus. Kamu terus awasi orang itu. Kalau perlu, letakkan penjagaan dari jarak aman. Dan pastikan dia tidak curiga jika kita sedang memata-matainya."
"Baik, tuan."
Setelahnya, Henry langsung mengundurkan diri dari ruangan Dimas. Membiarkan tuannya berkutat dengan beberapa berkas yang telah dia siapkan sebagai bentuk tanda bukti kejahatan yang Simon lakukan dalam membantu tindak kejahatan Dion. Karena dengan begitu, akan semakin mudah baginya untuk mengalahkan Dion secara telak tanpa harus memberitahu Meila tentang semua kejahatan Dion padanya.
●●●
"Jadi... begitu ceritanya, om, tante. Saat ini Sisil ada di apartemen aku. Dia sedang merasa cemas kalau om dan tante mencarinya ketika dia sedang tidak ada di kamarnya. Dia terpaksa pergi tengah malam tanpa meminta izin dulu karena ada hal sangat penting mengenai temannya."
Setelah James dipaksa untuk sarapan bersama, sekarang mereka telah berkumpul di ruang tamu. Mendengarkan maksud kedatangan James dengan seksama. Adrian pun termenung. Sementara Riana terlihat kebingungan. Keduanya sangat meresapi penjelasan yang James berikan sejak tadi. Tanpa suara dan tanpa sanggahan sekalipun.
Setelah beberapa detik Adrian termenung, akhirnya dia menghela napasnya pelan sebelum akhirnya berbicara dengan penuh bijaksana.
"Haaahh...Om tau kalau om itu sangat keras padanya. Tapi itu semua semata-mata untuk kebaikannya juga, James. Om mengerti mungkin dia takut om tidak izinkan jika keluar tengah malam seperti yang selama ini om terapkan. Tapi, setidaknya dia bisa membangunkan kami. Kami hampir saja berpikiran buruk tentang anak itu." Adrian tertawa ringan ketika membayangkan tentang putrinya.
"Ya, aku tau kecemasan om dan tante. Tapi sekarang Sisil aman bersamaku. Justru dialah yang mencemaskan kalian sejak tadi. Aku harus memaksanya untuk sarapan dan setelah aku memastikan dia menyantap sarapannya dengan benar, barulah aku kemari untuk meminta baju ganti sekalian menjelaskan pada om dan tante."
"Baiklah, kalau gitu. Ma, tolong siapkan pakaian untuknya, ya."
"Iya, pah. Nak James, tunggu, ya. Tante akan siapkan pakaian Sisil dulu."
Sembari bangkit dari sofa, Riana berkata pada James untuk menunggunya menyiapkan pakaian untuk Sisil yang akan dibawa oleh James. Dan setelahnya, membiarkan James dan suaminya melanjutkan perbincangan mereka di ruang tamu ditemani secangkir teh hangat.
●●●
Mata perkuliahan berjalan seperti semestinya. Semua mahasiswa dan mahasiswi tampak fokus memperhatikan setiap penjelasan yang dosen berikan tanpa terlewat sedikitpun. Tetapi tidak dengan Meila, wajahnya tampak pucat dan tidak bersemangat. Sesekali meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya.
Keningnya juga mulai berkeringat. Rasanya dia ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan bergelung dengan selimut sambil menikmati minuman hangat. Ya. Sepertinya Meila sedang mendapati masa periodenya kali ini. Rasa sakit itu datang tiba-tiba saat dirinya sedang berusaha fokus pada mata kuliah yang sedang berjalan.
Melihat sahabatnya yang terlihat tidak nyaman, membuat Airin penasaran sampai merasa khawatir. Belum lagi dengan wajah pucatnya yang tampak terlihat dengan jelas.
"Mei, lo kenapa? Wajah lo pucat banget. Lo sakit?"
Dengan gelengan kepala yang tampak lemah, Meila berusaha menjawab sambil menahan kram di perutnya.
"Kayaknya gue lagi dalam masa periode, Rin." Meila tampak menarik napasnya perlahan. " Sakit banget perut gue. Rasanya mau nangis."
"Mau izin aja, nggak? Atau mau ke UKM? Lo bisa istirahat sebentar."
"Nggak perlu, Rin. Gue tahan aja. Lagian bentar lagi juga istirahat." Meila menjawab dengan suara lemas.
Sambil tersenyum kecut, Meila berusaha tetap tenang. "Iya. Gak apa-apa."
Melihat sahabatnya terlihat ngeyel dan tidak mau mendengarkannya, Airin langsung diam namun tetap memperhatikan sikap Meila. Dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya itu menahan sakit dengan wajah pucat dan berkeringat.
"Nggak bisa! Nggak bisa kayak gini. Muka lo pucat banget. Kita ke UKM sekarang." Airin berujar seorang diri tanpa memberikan kesempatan untuk Meila menahannya.
"Nggak us.....sah, Rin....."
"Maaf, pak." Airin berucap tiba-tiba. Hal itu sontak membuat semua murid melihat ke arahnya.
Suara Meila dan Airin yang bersamaan membuat Meila tampak kebingungan namun juga pasrah.
"Ya, Airin, ada yang bapak bisa bantu?" Dosen itu tampak menyahuti.
"Teman saya, Meila. Kayaknya lagi sakit. Wajahnya tampak pucat. Apa dia boleh ke UKM untuk istirahat?"
"Airin......" Meila menggeramkan nama sahabatnya itu dengan suara pelan.
Mendengar nama Meila yang disebut, seketika membuat semua murid-murid memandangnya dengan penuh tanya dan cemas. Terutama para mahasiswa laki-laki yang mengagumi Meila di dalam kelas. Dan suasana pun menjadi ribut.
"Carmeila Queenza, apa benar yang Airin katakan?"
Sontak Meila langsung menegakkan tubuhnya seketika. Memaksakan dirinya untuk duduk tegap menjawab pertanyaan yang dilontarkan dosen.
"Ah, itu... sa-saya cuma kurang enak badan, pak. Nggak apa-apa, kok."
"Nggak bisa, pak. Bapak liat, kan, mukanya pucat banget? Kalo dia pingsan disini gimana pak? Pasti akan heboh semua, pak?!"
"...Airin...!" Meila merasa sedikit kesal dengan Airin. Alhasil, dia menyikut lengan Airin dengan cukup kencang.
"Baiklah. Meila, kamu bisa ke ruang kesehatan untuk istirahat sebentar. Dan, jika memang tidak memungkinkan, kamu bisa minta izin dan kembali lagi besok. Benar yang Airin bilang, kamu tampak pucat dan lemas. Airin, bantu dia, ya?! Dan untuk yang lain, lanjut berkonsentrasi."
"Tap-tapi, pak....."
"Baik, pak. Saya akan bantu Meila ke ruang kesehatan sekarang juga. Ayo, Mei."
Dengan tatapan peringatan yang Meila berikan untuk Airin, rupanya tidak digubris olehnya. Dia malah bergerak membantu Meila merapikan buku-buku beserta tasnya. Lalu membantunya bangun dari kursi sebelum kemudian merangkulnya erat. Membantunya berjalan ke ruang kesehatan dengan ditemani olehnya.
"Kalau gitu, saya izin, ya pak... te-terima kasih,." Dengan rasa canggung dan perasaan tidak enak, akhirnya Meila keluar dari kelas ditemani dengan Airin disampingnya.
"Gue tau, lo sengaja, kan, biar bisa bolos juga dengan alasan nemenin gu!?"
Pernyataan Meila sangat tepat sasaran. Bukannya mengelak, Airin malah tertawa dengan girang.
"That's my poin, bestie! Eh, tapi muka lo pucat banget. Emang lo nggak ngerasa keringat dingin bercucuran di kening lo? Gue aja kasian ngeliatnya." Sambil membantu Meila berjalan. "Pelan-pelan jalannya. Gue pegangin, kok." Sambungnya kemudian.
"Dasar!" Sergah Meila.
"Eh, jadi, mau gue bantu telfonin kak Dimas gak?"
"Nggak usah, Rin. Gue naik taksi aja. Nggak enak. Kak Dimas ada banyak meeting penting hari ini."
"Oke kalau gitu."
Mereka terus berbincang hingga akhirnya tidak terasa sampai di ruang kesehatan. Membaringkan tubuh Meila ke atas ranjang dengan dibantu Airin yang langsung duduk di kursi didekatnya.