
Suasana hati Meila yang tadinya membaik seketika berubah muram dan gelisah. Ekspresinya menjadi ketakutan sambil berdiri kaku di belakang tubuh Dimas yang kokoh. Tanpa melepaskan genggamannya, Meila seakan mengisyaratkan jika dia sedang merasa takut didekati oleh Dion.
Dimas merasakan tangannya basah oleh tangan mungil Meila. Maka dari itu dia langsung meremas tangan mungil Meila sebagai bentuk penenangan diri kepada gadisnya.
"Oh, maaf kalau aku membuatmu kaget. Aku nggak berhenti memikirkanmu karena mengkhawatirkanmu. Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?"
Meila tidak berniat menjawab pertanyaan Dion. Dia bahkan berusaha untuk tidak melakukan kontak mata pada laki-laki itu.
"Meila baik-baik aja. Seperti yang kamu lihat. Dia tampak sehat dan cerah jauh sebelum kamu datang." Dimas lah yang dengan senang hati menjawab pertanyaan Dion.
Jawaban itu begitu menohok hingga mengenai hati. Dion ingin sekali membalas perkataan Dimas dengan ucapan yang tak kalah menyakitkan. Tetapi dia masih menahannya sekuat tenaga demi reputasinya di depan Meila.
Ayo! Keluarkan sifat aslimu, Dion! Keluarkan taringmu yang selama ini kamu tahan di depan kekasihku. Keluarkan semua kelicikan yang berkedok dengan kebaikanmu itu.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku sangat khawatir sampai tidak bisa tidur karena memikirkanmu semalaman."
"Untuk apa memikirkan kekasih orang lain yang tidak ada hubungannya denganmu? Aku sudah bilang, bukan? Aku yang paling tau cara memperlakukannya." Dimas sengaja melepaskan genggamannya pada Meila lalu beralih merangkul Meila dengan rapat. Sambil memberikan usapan lembutnya sekilas.
Lagi-lagi Dimas menyela perkataan Dion.
"Lebih baik, kamu pergi. Meila sangat terganggu dengan keberadaanmu." Dimas terus memprovokasi Dion. Seolah dia tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara pada Meila.
Dion menggeram tertahan sambil mengepalkan tangannya. Tulang gerahamnya mengetat seolah menahan amarah yang amat.
Jika didengarkan, perkataan Dimas masih terdengar wajar. Meski terdengar kasar, namun Dimas masih sedikit bersikap baik dengan tidak meninggikan suaranya. Sebab, Dimas juga memikirkan perasaan Meila yang sedang merasa gelisah. Dan jika dia tidak bisa menahan amarahnya, Meila akan semakin gelisah karena kondisi dan situasi mereka yang sedang berada dalam area kampus dimana ada banyak mahasiswa disana. Dan Dimas menghindari hal-hal buruk yang nantinya akan terjadi.
Dion memandangi Meila beberapa saat. Pemandangan yang tidak mengenakkan baginya saat Meila mengkerut, semakin merapat dalam rangkulan Dimas tanpa mau melihat ke arahnya sedikitpun. Tangannya yang kecil seolah sudah hafal dimana harusnya diletakkan. Mencengkeram baju Dimas dengan erat seperti sedang meminta perlindungan. Dan yang tak luput dari pandangannya adalah, ekspresi ketakutan yang Meila tunjukkan saat Dion menatapnya dengan harapan penuh jika Meila akan membalas tatapannya. Tetapi hal yang Dion harapkan tidaklah terjadi. Melainkan rasa kekecewaan yang dalam hingga berubah menjadi tumpukkan amarah.
Perubahan sikap Meila yang tiba-tiba itu seketika memantik kecurigaan Dion. Seakan ada sesuatu yang sudah Meila ketahui tentang dirinya sehingga dia memilih menjaga jarak darinya.
Gadis incarannya sedang ketakutan padanya? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Meila? Kenapa kayaknya Meila sangat menjaga jarak darinya?
"...kak, ayo kita masuk." Meila merajuk dengan kepala menengadah. Matanya yang jernih seperti sedang memohon dengan amat.
"Iya, sayang. Kita masuk, ya..." jawab Dimas lembut sambil mengusap-usap bahu Meila.
"Ah, baiklah. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Dan sepertinya kamu sudah sangat sehat jika dibandingkan kemarin." Dion berusaha menyelipkan canda dalam kalimatnya. Namun, tetap saja hal itu tidak berhasil menarik perhatian Meila. "Kalau begitu... Aku pergi dulu." Pamitnya kemudian dengan langsung pergi tanpa menoleh lagi.
"Ssshh... it's okay... gak apa-apa." Dimas berbisik menenangkan. "Jangan panik, ya. Tarik nafas pelan-pelan. Ada aku."
Meila mendongak disertai anggukan pelan. Kedua matanya memerah karena menahan air matanya.
Tatapan Dimas pun melembut diikuti dengan jarinya yang mengelus pipi Meila. "Kita ke ruang senat dulu supaya kamu lebih tenang, ya? Kamu mau?"
".....iya." jawab Meila dengan suara pelan.
●●●
"Kurang ajar!"
Dion tampak melampiaskan kemarahannya di dalam mobil. Dia begitu tersinggung dan marah dengan perlakuan Dimas yang telah merendahkannya.
"Berani-beraninya dia ngerendahin gue di depan perempuan yang gue suka!"
Dadanya tampak naik turun tak beraturan. Napasnya menggebu-gebu dengan kepalan tangan yang sangat kuat.
"Tapi kenapa Meila ketakutan begitu? Apa laki-laki itu udah mengatakan hal buruk tentang gue?" Dion menyimpulkan praduganya sendiri dengan cepat. Namun, beberapa detik dia langsung menepis dugaannya itu. "Nggak, nggak. Itu nggak mungkin. Tapi, mengingat kedudukan Dimas yang sangat tinggi, bukan nggak mungkin baginya dengan mudah menemukan jejak kejahatan gue dengan cepat. Dia bahkan bisa mendapatkannya dengan mudah melalui sumber daya paling ahli sekalipun."
"Tapi kalaupun memang Dimas udah menceritakan semua tentang gue pada Meila, itu artinya, gue harus lebih hati-hati dan mulai bertindak cepat. Gue nggak bisa melewatkannya begitu aja tanpa mendapatkan apa yang selama ini gue dambakan." Dion membulatkan tekad. Berpikir untuk memulai menjalankan rencananya secepat mungkin.
"Gue harus melakukannya. Harus! Gue sangat menginginkan perempuan itu!"
Dion langsung menancapkan gas mobilnya secepat kilat. Dia lalu mengemudikan mobil itu seperti orang yang kesetanan, membelah keramaian jalan raya di tengah kendaraan yang berlalu lalang.
●●●
"Ini, minum dulu,"
Dimas memberikan segelas air putih untuk Meila. Setelah kepergian Dion tadi, Dimas langsung mengajak Meila ke ruang senat untuk menenangkan gadis itu dari kepanikannya. Setelahnya, Dimas langsung mengambilkan segelas air putih. Sedangkan Meila terlihat lebih memilih berdiri di dekat lemari kaca dimana banyak penghargaan serta medali didalamnya.
Meila lalu meminum air pemberian Dimas dengan perlahan. Selang beberapa detik, Meila memberikan gelas berisi air itu kepada Dimas setelah dia selesai meminumnya.
"Sudah?"
Meila mengangguk. Sementara Dimas meletakkan gelas itu ke atas meja. Dilihatnya Meila yang sedang memilin-milin jemarinya dengan gelisah. Dan itu tak luput dari perhatian Dimas.
"Kemari,.." Dimas menyuruh Meila mendekat padanya untuk dipeluknya.
Seperti perintah, Meila langsung mendekat pada Dimas dan memeluknya.
"Kak, gimana kalau dia datang lagi? Aku nggak mau ketemu dia lagi, kak. Kenapa dia selalu muncul dan mendekati aku...?"
Usapan-usapan lembut yang Dimas berikan ke punggung Meila, sempat terhenti begitu Meila bertanya. Namun tak urung Dimas segera bergerak kembali.
"Kamu nggak usah pikirin itu. Aku akan berusaha agar dia nggak datang lagi untuk mendekati kamu. Aku janji." Dimas menyahut dengan kalimat janji yang meyakinkan.
Cukup lama Dimas menenangkan Meila. Dan Meila pun hanya diam saja di pelukan Dimas tanpa suara.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?"
Meila mengangguk pelan.
"Atau kita pulang aja? Kita izin lagi hari ini. Mau?"
Meila sontak menjauhkan dirinya dari Dimas. Lalu mendongak kepada Dimas yang sedang menunduk padanya.
"Nggak usah, kak. Nggak perlu sampai izin. Aku baik-baik aja, kok." Meila menjawab jujur untuk meyakinkan Dimas.
Dimas tersenyum lembut sambil membawa lagi Meila ke dalam pelukannya. Lalu menghadiahi kecupan ke atas puncak kepalanya.
"Baiklah, kalau itu yang tuan putri mau." Dimas berkelakar ringan hingga membuat Meila tersenyum malu-malu.
Dimas pun lalu melepaskan pelukannya dan beralih menggenggam tangan Meila. Sedangkan tangan yang lainnya merapikan rambut Meila yang sedikit berantakan karena bergesekan oleh dadanya.
"Sekarang kamu masuk ke kelas dan tetap fokus. Ingat, minggu depan kamu ada kuis." Dimas berujar mengingatkan sambil mencuil ujung hidung Meila dengan jari telunjuknya.
Meila tersenyum disertai kekehan ringan. "Iya. Aku ingat. Kalau gitu aku masuk kelas, ya."
Dimas memberi anggukan yang disertai kedipan. "Kita ketemu di jam makan siang, ya."
Meila langsung berbalik badan dan berjalan meninggalkan Dimas. Berjalan menuju pintu keluar untuk segera menuju ke kelasnya dimana jam mata kuliah pertama akan segera dimulai.