
Seperti tawaran Dimas sebelumnya, mereka akhirnya menghabiskan waktu siang hingga sore tiba dengan berjalan-jalan santai di sekitar restoran. Sambil menatap suasana sekeliling yang dipenuhi dengan bunga serta pepohonan rindang semakin membuat udara menjadi sejuk karena adanya penghijauan disana.
Tapi rupanya bukan udara sejuk karena adanya pepohonan, melainkan awan mendung yang sedikit mendominasi tanda akan turunnya hujan lebat. Tadi, sewaktu mereka datang padahal cuacanya sangat terik tepat dengan posisi matahari diatas kepala. Tetapi berubah seketika menjadi awan mendung yang menggeser dan mendominasi awan cerah tadi.
Tak bisa dipungkiri suasana hati Meila saat ini, suasana hati gembira yang menyelubungi relung hati. Hal itu tampak terlihat jelas dari raut wajahnya yang berseri-seri, dengan senyuman yang tak henti-hentinya mengiasi wajah manisnya. Seperti senyuman puas berselimutkan rasa lega dengan segala kepenatan yang ada.
Meila harus berterima kasih pada Dimas yang sekali lagi telah membawanya ke tempat-tempat menyenangkan dan mendamaikan hati seperti ini. Dilihatnya Dimas dengan matanya yang lembut, dibarengi dengan senyumnya yang mengisyaratkan ungkapan rasa terima kasih yang tidak pernah cukup ia ucapkan atas semua perlakuan Dimas untuknya.
Meila menyadari, sikapnya pada Dimas belumlah sepadan dengan perlakuannya pada dirinya selama ini.
"Kak Dimas... thank you!" Dengan wajah sedikit malu, dia berusaha mengeluarkan suaranya yang tersekat. "Sekali lagi... kamu ngajak aku ke tempat-tempat indah kayak gini. Aku suka banget!" Ucap Meila dengan tulus.
Dimas menoleh, sedikit menurunkan pandangannya pada Meila yang berada sejajar dengan lengan kekarnya. Dirinya tersenyum, menatap wajah gadis itu lekat.
Dimas menghentikan langkahnya sekaligus membuat langkah Meila juga ikut terhenti. "Aku juga suka! Sangat." Jawab Dimas singkat sambil menyusuri wajah Meila.
Mata Meila membelalak bingung, tidak mampu menangkap kemana arah pembicaraan Dimas. Dia memilih untuk mengiyakan seolah mengerti maksud dari jawaban Dimas.
Melihat tanggapan Meila yang diam tapi memaksakan untuk mengerti, membuat Dimas gemas dengan tingkahnya. Mungkinkah selain sifat polos, Meila juga memiliki sifat cuek? Entah harus dengan kata-kata apa lagi yang harus Dimas ucapkan untuk mengusik perasaan gadis ini.
Saking gemasnya, Dimas mencubit hidung Meila pelan kemudian mengacak-acak rambutnya gemas hingga rambut panjangnya yang lurus dan rapi itu terlihat berantakan karena ulahnya.
"Kak Dimas..." Meila sedikit merajuk, "rambut aku berantakan deh," Meila mengerucutkan bibirnya, sedangkan jemarinya bergerak menyisir rambutnya dengan asal.
Seketika gerakannya dihentikan oleh tangan kekar dan hangat yang memegang pergelangan tangannya. Meila langsung mendongakkan wajahnya ke arah Dimas yang tampak terlihat tinggi dihadapannya.
Dimas lah yang mengambil alih, dia menurunkan tangan Meila yang masih berada di atas kepala, sedangkan sebelah tangannya lagi bergerak seolah menyisir rambut gadis itu dengan lembut menggunakan jemarinya.
"Perlu kamu tau, aku belum pernah memperlakukan gadis seperti yang seharusnya seorang pria lakukan sebelumnya." Tangannya bergerak turun, berhenti di pipi mulus gadis itu yang mulai bersemu, kemudian mengusapnya lembut.
"Apa kamu selalu kayak gini?" Dimas bertanya kembali sambil mengelus dengan gerakan tidak beraturan.
Meila semakin bingung dengan pertanyaan Dimas, dia memberanikan diri untuk menatap wajah Dimas yang entah mengapa terlihat sangat mempesona, atau mungkin juga karena Meila yang tidak pernah memperhatikan dengan jelas tiap inci garis wajah pria dihadapannya ini.
Meila sedikit mendongak untuk bisa menatap mata itu, "Se-selalu... kayak gini? Maksudnya?" Dia memang sama sekali tidak mengerti maksud dari pertanyaan Dimas. Dirinya membeo dengan sedikit menekankan dua kata terakhir pertanyaan Dimas.
Dimas tersenyum, "iya, selalu polos dan merona tiap deket aku." Dia menatapnya lekat penuh intimidasi.
Meila tergeragap, dia benar-benar kehabisan kata-kata untuk sekedar hanya menyanggah pernyataan Dimas yang seakan tepat sasaran. Meila sebenarnya juga bingung dengan sikapnya sendiri, entah kenapa jika bersama Dimas jantungnya selalu berdegub kencang tidak seperti biasanya, namun dia berpikir kalau itu adalah karena perasaan gugup yang dirasakannya mengingat dirinya yang belum pernah berhubungan dekat dengan pria manapun kecuali dengan Rendy. Dia seolah seperti seseorang yang bodoh tidak bisa menentukan sikapnya yang seharusnya dia tunjukkan pada pria yang bisa dibilang baru saja ia kenal.
Ada perasaan aneh yang membuatnya selalu gugup namun juga bercampur bahagia menjadi satu. Tapi Meila masih belum bisa memposisikan perasaan itu dengan benar. Karena didalam hatinya yang paling dalam, masih ada rasa trauma mengerikan yang disebabkan oleh pria tidak bertanggung jawab. Dia selalu berharap agar tidak dipertemukan kembali pada pria itu, pada Beno Aryatama.
Seketika bayangan mengerikan itu muncul kembali, dia memejamkan matanya berusaha untuk mengusirnya. Bayangan mengerikan yang telah lama ia simpan dalam-dalam dan sekuat tenaga dipertahankan agar tidak muncul lagi ke permukaan.
Dimas rupanya memperhatikan raut wajah Meila yang mulai berubah, wajahnya mengisyaratkan rasa takut dan trauma yang amat sangat mengerikan. Dimas paham betul dengan apa yang dirasakan Meila saat itu, dan mungkin bayangan itu muncul kembali saat ini ketika tanpa sengaja Dimas sedikit menyinggungnya.
Oh jelas, Dimas sudah mengetahui semuanya tentang insiden tidak bermoral yang dilakukan oleh Beno pada Meila dari Rendy. Dia merasa sangat marah ketika dengan penuh amarahnya Rendy menceritakan insiden itu hingga menyebabkan Meila menyimpan rasa traumanya dalam-dalam yang jika dibiarkan akan menyebabkan kondisi psikisnya tertekan hingga akhirnya tidak terkendali.
Hal itu dapat membahayakan dirinya jika sekali saja, rasa trauma itu tidak diungkit lagi hingga akhirnya naik ke permukaan.
Melihat Meila yang mulai gemetar dan gelisah, tatapan Dimas akhirnya melembut, tidak tega untuk membuatnya semakin takut dengan trauma yang berkepanjangan. Dia menangkup wajah Meila dengan kedua tangannya, didetik itu pula gadis itu membuka matanya yang sedang terpejam dengan dahi sedikit berkerut karena menahan rasa takut. Dia tersentak dan mundur satu langkah dari posisinya semula.
Matanya berkaca-kaca, seperti menahan tangis yang akan meledak jika disinggung sedikit lagi. Dimas bisa merasakan rasa sakit karena trauma mendalam yang Meila rasakan selama ini. Mungkin juga karena tidak ada seorang pun yang berani untuk menyinggung sehingga Meila memilih untuk mengubur rasa trauma itu dalam-dalam agar tidak sampai naik ke permukaan.
"Ma-maaf, kak..." suaranya serak seperti menahan tangis.
Perasaan Dimas seperti teriris melihat gadis didepannya itu berucap dengan suara gemetar menahan tangis sambil menunduk menautkan jemarinya dengan gelisah. Jika saja Dimas tidak mempedulikan perasaan Meila saat itu, dirinya pasti akan langsung menghambur maju, menarik gadis itu ke pelukannya dan membiarkan dirinya mengeluarkan rasa sakitnya.
Namun Dimas memilih untuk bersabar, tidak mau tergesa-gesa. Dia memberanikan diri maju satu langkah agar sedikit lebih dekat dengan Meila. Dilihatnya Meila terdiam, mengalihkan pandangannya agar tidak bisa dijangkau oleh mata Dimas. Namun lagi-lagi Meila kalah cepat, Dimas mendaratkan kembali tangannya untuk menangkup wajah Meila. Dirasakannya Meila tersentak dan sedikit gemetar ketika menerima sentuhannya, Dia mengangkat wajah gadis itu dengan lembut hingga mata mereka saling bertemu.
"Ssshh...! kamu nggak perlu takut untuk mengingatnya. Ada aku disini." Dimas berucap lembut berusaha menenangkan.
Meila menatap tepat ke mata elang Dimas yang tajam. Tidak ada rasa takut atau ngeri didalamnya, malah justru sebaliknya, tatapan mata meneduhkan seakan melindungi hingga dia merasa aman.
"Aku udah dengar semua ceritanya dari Rendy." Air mata gadis itu akhirnya jatuh tepat ketika Dimas berucap. Ibu jari Dimas mengusap air mata Meila yang tanpa bisa ditahan membasahi pipi lembutnya.
Meila tidak bisa menahan air matanya lagi untuk tidak jatuh. Sekali ini saja, biarkan dia mengeluarkan rasa sakit nya yang sudah lama dia pendam dalam-dalam hingga ke dasar. Dia tidak tahu kenapa, jika bersama Dimas dirinya seperti meminta untuk dilindungi, dirinya merasa aman jika bersamanya.
Meila kembali menatap Dimas, menelisik jauh kekedalaman matanya. Dia bisa melihat jelas ada ketulusan disana, dan saat itu juga entah kenapa air matanya jatuh berlinangan tanpa bisa dibendung lagi. Dimas tidak tega melihatnya, dia menarik tubuh gadis itu lembut ke pelukannya, membiarkan Meila menumpahkan seluruh rasa sakitnya ke dadanya yang bidang, memeluknya erat dan membiarkannya bersandar disana dengan suara isakan yang tenggelam di dadanya.
"Keluarin semuanya, Sayang... keluarin rasa sakit kamu. Kamu nggak perlu takut. Ada aku disini. Seenggaknya... biarin aku ikut merasakan rasa sakit kamu." Dimas berucap perlahan, mendaratkan bibirnya di puncak kepala Meila dan menciumnya, sambil mengelus belakang punggung Meila dengan lembut.
Tepat ketika Dimas selesai mengucapkan kata-kata menenangkan itu, didetik itulah Meila melingkarkan tangannya pada punggung kokoh Dimas sebagai perlindungan untuknya. Dikecupnya puncak kepala gadis itu dengan lembut seakan ingin menyalurkan perasaan aman bahwa pilihannya sudah tepat dengan menumpahkan rasa sakitnya pada Dimas. Tangisannya pun semakin menjadi dengan isakan yang tidak tertahankan lagi.
Cukup lama Meila menangis dalam pelukan Dimas. Dengan tubuh gemetar menahan takut ketika dengan sengaja bayangan itu kembali melintas didepannya seolah tidak mau pergi. Sambil sesekali mengecupkan bibirnya pada puncak kepala Meila lembut, Dimas tak henti-hentinya membisikkan kalimat menenangkan sebagai motivasi bahwa dirinya tidak lah seorang diri. Dia bisa dengan bebas bersandar, membagi keluh kesahnya, bermanja dengannya, merengek, merajuk atau mengadu apapun pada Dimas.
Sampai dirasakannya Meila yang mulai bisa menguasai diri. Tidak gemetar lagi dan hanya terdengar suara sesegukannya saja yang mulai mereda, Dimas menghela tubuh gadis itu sehingga tangannya yang masih dilingkarkan pada punggung kokoh Dimas, mengendur tapi belum berniat melepaskan pegangannya. Dicengkramnya erat-erat jacket Dimas sehingga menimbulkan goresan lecek bekas remasan tangan mungil Meila.
Dimas menangkup wajah Meila, merapatkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengannya. Terlihat jelas matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah karena tangisannya, menandakan betapa sulitnya dia selama ini memendam rasa traumanya seorang diri. Diusapnya air mata itu yang masih membekas di pipi Meila dengan lembut.
"Are you feeling better now?" Dimas berucap sambil manatapnya lekat,
Tanpa kata, hanya tersisa sesegukannya saja. Meila membalas tatapan Dimas dengan mata sayunya yang sembab, dan itu sudah mewakilkan bahwa perasaannya sudah lebih ringan jika dibandingkan sebelumnya. Dimas masih menyusuri tiap inci wajah Meila dengan lekat, dia bahkan tidak ingin melewatkan sedetik saja untuk memalingkan wajahnya dari gadis itu. Seluruh pikirannya bahkan perasaannya sudah terfokus padanya, bahkan jauh sebelum mereka saling bertatap muka secara langsung seperti pertemuan pertama mereka di kampus itu.
"Aku gak pandai merangkai kata seperti pria-pria diluar sana. Tapi aku bisa pastiin ke kamu, kalo perasaan aku cuma terfokus sama kamu. Jauh sebelum kita mulai dekat kayak gini." Dimas masih menangkup wajah gadis itu dengan ibu jari yang mulai bergerak mengusap pipi lembut Meila, mengungkapkan isi hatinya, "Kamu mungkin gak akan percaya kalo pikiran aku mulai terusik untuk mikirin kamu sejak aku mengenal kamu melalui aplikasi dunia maya yang bahkan sampai saat ini pun aku masih belum percaya kalo kamu ada dihadapan aku." bibirnya membentuk senyum ironi seakan sedang menertawakan dirinya sendiri.
Gerakannya terhenti ketika ingatan pada tindakan konyolnya itu menegur pikirannya, dia sedikit terkekeh. "Aku juga minta maaf untuk tindakan aku yang gak sopan dengan langsung mem-blocked akun kamu tanpa penjelasan. Tapi ketika aku tahu segalanya tentang kamu dari Rendy, aku jadi mengerti bahwa gak mudah untuk kamu berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi kamu yang udah mengalami hal tidak mengenakkan karena ulah seorang pria yang tidak bermoral dan bertanggung jawab." Dimas berkata tulus dari dalam hatinya, kemudian menengadahkan kepala Meila ke atas agar menatapnya.
"Kamu gak perlu berpura-pura kuat didepan aku. Kamu boleh membagi perasaan kamu sama aku, seenggaknya.. bermanjalah sama aku, Mei... jangan memendamnya sendirian, ada aku yang akan berusaha membuat kamu bahagia." Ditatapnya lekat-lekat wajah Meila.
Meila hanya menatap wajah Dimas lekat-lekat dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Entah itu karena terharu atau karena ingatan buruknya yang masih belum mau pergi juga dari pikirannya. Tapi yang jelas, Dimas tau pasti jika itu adalah ekspresi rasa harunya karena tersentuh oleh pernyataannya. Dia berhasil! dirinya berhasil membuat gadis itu merasa dibutuhkan, merasa disayang dan merasa dicintai hingga akhirnya kepercayaan diri Meila bangkit kembali seperti seharusnya.
Meila sendiri bingung untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Seolah ada tali tak kasat mata yang mengikat pita suaranya hingga dia tidak bisa berkata-kata.
Dimas mempelajari wajah Meila dengan lekat. Dilihatnya Meila yang mulai bingung untuk berucap namun berusaha untuk mengeluarkan suaranya.
Sampai dilihatnya Meila yang masih belum mampu mengeluarkan ungkapan hatinya, Dimas menggerakkan ibu jarinya ke bibir tipis Meila. Dimas mengusap bibir itu dengan lembut, kemudian mata mereka saling bertemu.
Dimas menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya agar semakin dekat lagi pada Meila. Dia memiringkan kepalanya perlahan kemudian mengecup bibir Meila dengan lembut, kecupan rasa sayang sebagai bentuk perasaan Dimas untuknya. Meila memejamkan matanya, berusaha menerima perlakuan Dimas padanya.
Dimas masih mengecup bibir gadis itu, ********** lembut, berusaha agar tidak menyakiti karena hanya akan membangkitkan traumanya kembali. Pegangannya di jacket Dimas terlepas, tangan mungilnya meraih pergelangan tangan Dimas yang ditangkupkan ke wajahnya.
Dimas lah yang melepaskan pertautan bibir mereka lebih dulu. Dengan napas yang sama-sama terengah, mereka berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar masuk ke paru-paru. Wajah mereka masih sangat dekat, Dimas masih menagkup wajah Meila, dan juga Meila yang masih menahan tangan Dimas dipipinya. Dengan dahi yang masih menempel, Dimas akhirnya membuka matanya perlahan, melihat gadis itu yang sedang terpejam sedang berusaha mengatur nafasnya sambil mengerutkan dahinya.
Matanya terbuka kembali setelah berhasil menetralkan nafasnya yang terengah. Didetik itulah pipi mulusnya langsung bersemu merah ketika dilihatnya Dimas sedang menatapnya lembut, lebih pada tatapan penuh sayang sedang tersenyum padanya.
Ibu jarinya bergerak mengusap bibir bawah Meila yang memerah dan basah bekas ciumannya. Dimas terseyum melihat betapa gemasnya wajah Meila yang bersemu merah memenuhi seluruh wajahnya yang mulus, gadis itu terlihat malu namun tidak berusaha menundukkan wajahnya. Tepat disaat Meila yang masih beradu tatap dan merasa malu karena tatapan Dimas, di saat itulah awan mendung yang mulai menggelap menurunkan hujannya yang sejak tadi menyaksikan adegan mereka dari atas sana.
Dengan cepat Dimas langsung meraih tangan Meila, membawanya menuju gazebo di pinggir halaman restoran untuk berteduh disana.
Sesampainya di gazebo itu, Dimas mengusap wajah Meila yang sedikit basah terkena tetesan air hujan, mengelapnya dengan telapak tangannya yang hangat. Didetik itulah angin berhembus kencang sehingga Meila dapat merasakan rasa dingin yang menusuk menembus dari bajunya yang tidak tebal sampai ke tulang-tulangnya, dan secara reflek tangannya memeluk tubuhnya sendiri untuk menghalau rasa dingin yang mulai merayapinya.
Gerakannya itu tak lepas dari pandangan Dimas, dengan cepat Dimas langsung membuka jacketnya dan memasangkannya pada Meila.
"Kak... nanti kamu....."
"Ssshhh... i'm okay! Kamu kedinginan, jadi kamu yang pakai ini." Sanggah Dimas cepat sambil memakaikan jacket itu pada Meila.
"Nah... sekarang jadi lebih hangat!" Dengan memasang senyumnya, Dimas berucap sambil merapatkan jacket itu.
Dimas tersenyum ketika melihat tubuh Meila yang mungil tenggelam sepenuhnya dibalik jacketnya yang kebesaran. Gadis itu terlihat sangat imut, dan mungil dengan matanya yang masih sedikit sembab dan hidung memerah.
"Kamu keliatan imut banget dengan pakaian ini." Dimas terkekeh sambil memajukan wajahnya.
Pipinya kembali merona. Dimas yang tidak tahan segera menangkupkan tangannya kembali ke wajah Meila. Dengan tangan menangkup kedua sisi pipinya, dia mendongakkan kepala gadis itu perlahan agar pandangannya terangkat, dan Meila yang tidak menolak hanya menatap Dimas dengan mata polosnya dan tulang pipi yang memulas merah.
Dikecupnya bibir ranum itu sekali lagi, dilumatnya bibir itu dengan lembut. Dan didetik itulah hujan turun dengan lebat seakan menyelimuti adegan romantis mereka. Dimas dapat merasakan bibir Meila yang bergetar karena menahan dingin, berkebalikan dengan Meila yang merasa hangat dengan sentuhan bibir Dimas di atas bibirnya.
Dapat dirasakannya nafas mereka yang berkejaran, terutama Meila yang masih belum berpengalaman untuk diberikan ciuman hangat seperti yang Dimas lakukan.
Cukup lama mereka saling menghangatkan diri. Dan tak lama kemudian, Dimas lah yang berinisiatif menghentikan pertautan itu, dengan bibir yang masih bertaut dan dahi yang masih menempel. Mereka berusaha mengatur nafas masing-masing, meraup oksigen sebanyak-banyaknya sampai ke paru-paru.
Dimas menjauhkan sedikit wajah Meila dari wajahnya, didetik itu juga Meila membuka matanya ketika dirasakannya nafas hangat itu terasa menjauh darinya. Dengan masih menangkupkan tangan kokohnya di pipi Meila, dia menatap gadis itu lekat dengan tatapan penuh sayang. Kemudian mengecup kening Meila lembut dan membawanya ke dalam pelukannya, mendekap erat Meila ke dada kokohnya yang bidang.
Diusapnya punggung Meila dengan lembut. Dirasakannya Meila sedang menarik napas dalam, dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidangnya, kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang Dimas. Dapat dirasakannya Dimas sedang tersenyum sambil mengecup pucuk kepalanya.
Meila dapat menghirup aroma Dimas yang menenangkan itu. Perpaduan aroma vanila dan green tea yang memenuhi indera penciumannya.
"Terima kasih, kak!" Meila tersenyum dalam pelukan Dimas.
Dimas pun tersenyum sambil mengeratkan pelukannya, kemudian mengecup pucuk kepala Meila sekali lagi.
"Sama-sama, sayang!"