
Hambusan dari napas panas yang menusuk memaksa Dimas untuk bangun dari tidurnya yang lelap. Berkali-kali dia mengerutkan dahinya masih dalam mata terpejam. Bahkan, sesekali terdengar suara rintihan kesakitan yang dekat sekali dengan telinganya.
Berusaha mencari tahu sumber suara itu, Dimas berusaha membuka matanya lebar-lebar yang masih terasa lengket. Dirasakannya suhu ruangan kamarnya, namun sebaliknya, justru terasa dingin namun juga sejuk. Tapi, ketika dirinya baru akan menoleh, suara rintihan sekaligus terpaan napas panas yang sangat dekat itu menerpa kulitnya lagi. Membuatnya dengan segera memastikan keadaan seseorang yang ada dalam peluknya.
Sumber suara rintihan itu berasal dari Meila. Gadisnya. Meski matanya terpejam, dahinya tampak berkerut dalam disertai gigilan tubuh yang dibarengi rintihan.
Dengan cepat, Dimas mengubah posisi menjadi setengah duduk, lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Meila untuk memastikan suhu tubuhnya. Dan betapa terkejutnya ketika dirasakannya hawa panas luar biasa menyentuh kulitnya.
Gadis ini demam! Meilanya jatuh sakit.
Perlahan dan setengah berbisik, Dimas membangunkan Meila dengan lembut. Berusaha memasuki alam bawah sadar gadis itu sambil mengusap rambutnya dengan sayang.
"Sayang," ucapnya lembut, dan gadis itu tidak menjawab. Justru malah semakin menggigil dengan mengeratkan selimut yang melingkar di dadanya, meringkuk di sana.
"Sayang, kamu demam." Ucap Dimas lagi dengan suara lirih. Dan lagi, bukan jawaban yang didapatnya, melainkan suara racauan dari sana.
Membuat Dimas dilanda kecemasan luar biasa.
Diliriknya jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul 3 pagi dinihari. Itu artinya, Meila baru tertidur 1 jam setelah bangun dari mimpi buruknya tadi. Dimas berpikir untuk mengompres Meila dengan air hangat terlebih dulu sembari dia menghubungi dokter keluarga dan memanggilnya ke rumah.
Dengan tergesa-gesa, Dimas beranjak turun dan menapaki lantai tanpa alas kaki dan langsung berlari untuk mengambil alat kompres. Beruntung tidak memakan waktu lama, setelah air hangat dan handuk sudah didapatnya, segera dia berjalan dengan cepat kembali ke kamar, mengompres Meila dengan cepat sebelum suhu tubuhnya semakin bertambah panas lagi.
Dimas mulai mengompres dahi Meila, menempelkan handuk hangat itu ke dahinya sambil ditekannya dengan lembut. Gadis itu masih menggigil, meringkuk di balik selimut tebal sambil menggumamkan kata-kata tidak jelas.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi dokter akan datang." Ucapnya sangat pelan, lalu dirapatkannya selimut itu agar lebih menutupi lagi, "aku disini... aku disini..." bisiknya dengan suara paling pelan, yang hanya memang diperuntukkan bagi Meila seorang. Seraya mengusap punggung lengan gadis itu dengan pelan seirama menenangkan.
Seolah bagaikan mantra, kalimat Dimas itu mampu membuat Meila sedikit tenang, meski Dimas tahu bahwa Meila sedang menahan hawa panas tubuhnya sendiri dengan sekuat tenaga. Terlihat dari adanya kerutan di kening yang begitu dalam dan hembusan napasnya yang pendek-pendek.
Sementara Dimas, tidak diam begitu saja. Sebelah tangannya juga ia gerakkan bergantian untuk membelai rambut gadis itu lembut sambil membisikkan kata-kata ajaib berupa mantra yang mampu membuat Meila terdiam tenang, seolah dapat merasakan kehadiran Dimas di dekatnya.
●●●
Sisil mengerjapkan matanya perlahan ketika merasakan tenggorokannya sangat kering meminta untuk dibasahi. Dengan tubuh masih sangat lemah, diliriknya sang ibu yang sedang terduduk di samping sambil tertidur dengan kepala menunduk di atas kursi yang di tarik dekat ranjang.
Tanpa berniat untuk meminta bantuan, dengan tangan masih berbalut selang infus, diraihnya segelas air minum di atas nakas. Namun, suara berderit dari gelas yang beradu dengan gerakan meja nakas yang berbahan besi, telah membangunkan ibunya dari rasa kantuk yang mendera dan memaksanya langsung terduduk tegap.
"Sisil, nak, kamu udah sadar?" Antara haru, cemas, juga bahagia, sang ibu tampak terkejut melihat putrinya sudah membuka matanya dengan kulit tidak sepucat seperti saat dibawa ke rumah sakit.
Dilihatnya tangan Sisil yang meraih gelas, dan tanpa berpikir langsung mengambil alih tangan Sisil untuk menggapai gelas tersebut.
"Kamu haus, nak? Kamu ingin minum? Mama akan ambilkan untuk kamu." Ucapnya dengan nada antusias penuh bahagia.
Sebenarnya Sisil sangat malas jika harus mendengar suara ibunya yang manis itu. Baginya, semua perhatiannya itu palsu. Semuanya terlalu dipaksakan jika mengingat keadaan hubungan mereka selama ini.
Dengan perlahan, ibu Sisil membantu putrinya untuk meneguk segelas air minum yang sangat membantu menyegarkan tenggorokannya itu.
"Gimana keadaan kamu? Apa.... ada yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?" Tanya ibunya memastikan ketika telah menaruh gelasnya kembali ke atas meja nakas.
Bola mata Sisil berputar dengan tatapan malas, "nggak usah sok perhatian sama aku. Toh, selama ini kalian juga nggak peduli, kan?" Ucapnya sarkasme.
Sejenak ibunya tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya. Lalu, dengan tangan gemetar, diraihnya lengan Sisil untuk mengusapnya. "Apa yang kamu katakan, Sisil? Kenapa kamu bilang kami nggak peduli sama kamu? Kami sangat menyayangi kamu, nak..." sejenak, Sisil bisa merasakan usapan hangat dari seorang ibu yang selama ini tidak dirasakannya. Hatinya tersentak dan sangat jahat jika dia membohongi dirinya sendiri tidak tersentuh akan perlakuan itu. Namun, sebelum Sisil semakin larut dalam perasaannya sendiri, perasaan lemah yang jauh dari sikapnya, Sisil langsung menepis tangan ibunya dengan kasar dan memalingkan wajah seraya berujar.
"Jangan coba-coba merayuku demi untuk kepentingan kalian. Aku bisa menjaga diri aku sendiri."
"Kenapa kamu seperti ini, Sisil? Kenapa sifat kamu berubah? Apa karena kami kurang memperhatikan kamu? Apa semua fasilitas yang kami berikan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu?"
Sisil tersenyum ironi, sedikit mendengus pelan hingga akhirnya berucap kata.
"Kalo kalian berpikir kayak gitu, nggak ada yang salah. Itu memang benar! Kalian pikir, semua fasilitas yang udah terpenuhi itu mampu bikin aku bahagia? NGGAK! Justru sebaliknya, aku semakin menderita. Jadi, kalo kalian berpikir, kenapa sifat dan sikap aku berubah, tanya pada diri kalian sendiri sebagai orangtua!" Ucapnya setengah berteriak.
Sang ibu hanya bisa berkaca-kaca menahan amarah, sesal, juga rasa sayang pada putrinya. Namun, melihat Sisil yang masih bersikeras melawannya, dia tidak mempermasalahkannya. Karena, itu semua bukan sepenuhnya salah Sisil, melainkan mereka sebagai orangtua.
"Ada hal yang harus mama tanyakan ke kamu." Ucapnya dengan nada tegas penuh penekanan. "Apa benar kamu sedang hamil?"
Sisil terdiam, tubuhnya membeku namun sedetik kemudian wajahnya menampilkan kesan tidak peduli. "Ya." Jawabnya singkat tanpa penjelasan. Sementara sang ibu, sangat menginginkan kejelasan dari putrinya mengenai kehamilannya.
"Kenapa kamu nggak bicara sama kami soal kehamilan kamu, Sisil? Kamu melakukannya dengan siapa? Kenapa kamu menyembunyikannya dari kami? Jika kamu tidak menyembunyikan kehamilan kamu, janin itu pasti masih ada di rahim kamu saat ini!"
Kalimat terakhir yang diucapkan ibunya seketika membuat Sisil menolehkan wajahnya ingin tahu, dengan mata membulat sempurna, Sisil mencoba mencerna kalimat ibunya dengan raut wajah tanpa dosa.
"Apa tadi? Jadi.... aku keguguran?" Ujarnya memberi kesimpulan.
"Ya. Calon bayi yang kamu kandung itu tidak bisa diselamatkan karena benturan yang sangat kuat saat kamu jatuh. Disamping itu, kondisi janin kamu terlalu lemah karena tidak mendapatkan asupan makanan dan gizi yang cukup sehingga tidak berkembang."
Sisil tertawa, lebih tepatnya tersenyum ironi. Tidak menunjukkan adanya rasa bersalah atau kesedihan dari wajahnya. Lalu tangannya digerakkan untuk meraih perutnya sendiri, mengusapnya dengan kasar seraya mengucap kalimat.
"Itu lebih bagus, bukan? Karena aku memang nggak menginginkannya!" Jawabnya enteng dengan segala kebahagiaan yang nyata.
Sungguh, sang ibu sangat terkejut mendengar pernyataan Sisil. Sang ibu sempat tertegun dengan apa yang ada di dalam benak putrinya. Jika wanita normal manapun, saat mereka mengalami keguguran pasti akan merasakan kesedihan yang amat dalam dan merasa bersalah karena tidak mempu menjaganya dengan baik. Tapi ini, dia malah terlihat bahagia dan malah sangat bahagia.
Bagaimana cara berpikir gadis ini? Dimana sebenarnya perasaannya?
"Jaga bicara kamu, Sisil! Kamu udah keterlaluan! Dimana hati nurani kamu, hah?" Kali ini ibunya sudah tidak mampu menahan amarahnya lagi.
"Hati nurani?" Sisil mendengus kasar, "mereka udah aku buang jauh-jauh dari hidupku. Jauh sebelum kalian menyadarinya." Sambungnya enteng disertai seringaian lebar. Sekaligus menampilkan raut wajah tertegun dari sang ibu atas pernyataan yang terlontar dari putrinya, sekaligus menyisakan gurat kesedihan yang tak bisa ditutupi.
●●●
"Dia nggak apa-apa. Hanya gejala flu dan juga asam lambungnya naik."
Dokter Yoga baru saja selesai memeriksa Meila yang masih berbalut selimut dan melepaskan stetoskopnya yang dimasukkan ke dalam tasnya. Sementara Dimas, berdiri berjarak satu meter dari ranjang sambil bersedekap cemas.
Mengingat dokter Yoga mengatakan jika asam lambung Meila naik, Dimas langsung teringat jika gadis itu memang belum memakan apapun sejak kemarin sore. Sedangkan mereka sempat terkena hujan saat perjalanan pulang dari taman. Ditambah lagi kejadian mengerikan yang memberatkan pikirannya, seketika telah membuat nafsu makannya hilang.
"Tapi, demamnya tinggi banget, Om. Apa benar-benar nggak ada yang perlu di periksa lebih lanjut?" Dimas berujar memastikan.
"Nggak perlu, Dim. Dia hanya butuh istirahat total dan jangan terlalu banyak pikiran. Karena itu akan memicu asam lambungnya naik kembali." Jelas Yoga dengan detil.
Perlahan dokter Yoga beranjak dari pinggir ranjang, berjalan santai sambil Dimas mengekori. Setelah kira-kira melewati beberapa langkah dari ranjang, Yoga berhenti tepat di depan pintu kamar dekat lemari nakas, memutar posisi menghadap Dimas sebelum kemudian berujar.
"Apa... ada kejadian yang membuatnya syok? Atau mungkin... sesuatu yang membuatnya terbebani?" Yoga bertanya perlahan sambil menilai perubahan raut wajah Dimas dari santai menjadi tegang.
Saat Dimas akan membuka mulutnya menjawab pertanyaan Yoga, suara gerakan dari arah ranjang memaksanya untuk menoleh dengan cepat, melihat ke arah gadisnya yang memanggil namanya dengan suara lemas.
Dengan cepat Dimas menghampiri Meila sebelum kemudian memberi isyarat pada Yoga jika dia akan mengantarnya setelah berbicara sebentar pada Meila.
"Ya. Aku disini." Dimas berucap dengan suara rendah, hampir berbisik, namun sangat lembut. Tangannya pun mengikuti, menyentuh kening gadis itu perlahan sambil mengusapnya dengan sayang. "Aku akan mengantar dokter Yoga dulu sampai halaman. Nggak akan lama. Aku akan kembali lagi menemani kamu. Segera." Ucapnya pasti. Yang langsung dijawab dengan anggukan tipis gadis itu. Tangan Dimaspun bergerak sambil merapikan selimut lalu menaikkannya lagi hingga batas leher.
Dimas pun tersenyum, sementara dokter Yoga yang hanya memperhatikan, sekilas dengan cepat dapat menyimpulkan jika gadis yang sedang terbaring lemah itu sangatlah spesial bahkan diistimewakan oleh Dimas. Membuat dirinya tergelitik hingga tidak mampu untuk tidak membingkai sebuah senyum di bibirnya.
Setelah memastikan kondisi Meila, Dimas menghela dokter Yoga untuk keluar kamar dan mengantarnya hingga halaman. Dokter Yoga tampak memelankan langkahnya saat melewati anak tangga sebelum kemudian berdehem dan berujar.
"Kamu sangat mencintainya?" Tanyanya spontan tanpa basa-basi.
Dimas menoleh, dan tidak lama dia tersenyum dengan lepas tanpa beban. Menandakan jika senyumnya itu sebagai jawaban.
"Diliat dari senyuman kamu, itu udah menjawab semuanya." Simpulnya singkat.
Mereka melanjutkan langkahnya lagi, namun masih sambil berbincang ringan.
"Jujur, om kaget banget pas kamu hubungi. Om pikir ada apa kamu
menghubungi om di waktu dinihari. Mendengar suara kamu yang terdengar sangat cemas. Padahal om sendiri tau kalo kamu cuma tinggal sendirian di rumah sebesar ini." Ucapnya sambil terkekeh.
Hal itupun menular, Dimas ikut tersenyum renyah mendengar ucapan Yoga.
"Maaf, om, kalo aku udah bikin om kaget atau khawatir. Karena saat itu... cuma nama om Yoga yang terlintas dipikiran aku." Jelasnya jujur.
Ya! Yoga adalah dokter keluarga Dimas sekaligus teman dari ayah Dimas. Mereka sudah mengenal sangat lama bahkan sejak Dimas berumur 5 tahun. Bahkan, saking dekatnya, Dimas telah menganggap Yoga sebagai pamannya sendiri. Beruntung Yoga sedang tidak dalam kesibukan atau ditugaskan ke luar kota. Jika itu terjadi, Dimas sangat bingung untuk menghubungi siapa lagi.
"Nggak perlu sungkan kalo untuk membantu keponakan om." Ucapnya dengan kekehan, "beruntung om lagi nggak bertugas ke luar kota dan jadwal di rumah sakit juga nggak begitu padat. Jadi om bisa tinggalin sebentar." Sambungnya kemudian.
Dimas tersenyum. Mereka sudah sampai di pintu utama dengan dua pengawal Dimas yang menunggu di sana. Yoga berpamitan pada Dimas sebelum kemudian mengeluarkan selembar kertas pada Dimas yang bertuliskan beberapa resep obat yang harus Dimas tebus di apotek.
"Ini adalah beberapa resep obat yang harus diminum. Usahakan perutnya terisi sebelum meminum obatnya. Memang, akan ada sedikit rasa mual saat makanan masuk ke dalam mulutnya. Tapi itu hanya sebentar, jika dia memuntahkan isi perutnya sebelum perutnya terisi, itu tidak apa-apa. Tapi akan menyebabkan tubuhnya semakin lemas. Untuk saat ini, pastikan pola makannya dijaga." Dokter Yoga memberi penjelasan pada Dimas untuk menangani Meila dengan tepat.
"Baik om. Sekali lagi terima kasih udah mau aku repotin." Ujar Dimas lagi dengan kekehan yang tampak sungkan.
Yoga hanya terkekeh sambil menggeleng pelan, lalu tangannya terangkat untuk memegang bahu Dimas seraya berpamitan.
"Kalo gitu... om pamit dulu, ya? Jaga teman spesial kamu, Dim." Ucapnya meledek. "Jaga diri kamu juga. Kalo ada apa-apa, jangan sungkan buat hubungi om, ya." Sambungnya kemudian.
Setelah Yoga berpamitan, Dimas memerintah pada salah satu pengawalnya untuk mengantar Yoga hingga masuk ke dalam mobilnya dengan aman. Sementara pengawal yang satunya lagi ditugaskan untuk menebus resep ke apotek 24 jam yang ada di sekitar komplek perumahannya.
●●●
Ketika Dimas kembali ke kamar dengan membawa semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap panas di tangan, tampak Meila masih berbaring lemas dengan mata sayup-sayup meringkuk di balik selimutnya yang tebal. Bukan tidak menyadari, gadis itu sangat menyadari akan datangnya Dimas saat membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali dengan perlahan.
Dimas tersenyum menghampiri sambil meletakkan mangkuk bubur ke atas meja nakas lalu duduk di pinggir ranjang. Tangannya tidak bisa jika tidak menyentuh gadis itu sedikit saja meski itu hanya menyentuh kening dan mengusapnya lembut di sana. Bibirnya mengikuti, saat mata tajamnya melihat ke arah bibir Meila yang kering dan pucat, Dimas langsung mengecup bibir itu sekilas.
Meila merespon dengan perlahan, berusaha membuka matanya yang terasa berat ditambah dengan rasa pusing yang mendera dan hawa panas tubuhnya yang menguar lewat hidungnya. Dilihatnya ke arah jendela, suasana masih sangat gelap dan sunyi, menimbulkan sebuah pertanyaan yang akhirnya ia lontarkan kepada Dimas.
"....K-kak, ini jam berapa....?" Tanyanya lemah, disertai suara serak.
"Ini baru jam 4 pagi." Ucap Dimas lembut. "Kamu harus minum obat. Makanya aku bawain bubur untuk mengganjal perut kamu yang kosong itu. Di makan dulu ya, buburnya?" Ujar Dimas masih dengan suara paling lembutnya.
Dengan cepat, Meila langsung menggeleng lemah sambil menutupi mulutnya dengan selimut. "Tapi aku mual, kak. Aku nggak napsu," rengeknya lemah, dengan suara yang hampir hilang.
Sambil tersenyum, Dimas mengelus pipi gadis itu lembut. "Aku tau, Sayang. Tapi kalo kamu nggak makan sedikitpun, asam lambung kamu akan naik lagi dan itu akan menimbulkan infeksi di lambung kamu. Sedangkan tubuh kamu juga demam, harus meminum obat penurun demam juga, kan?"
Meila terdiam, menatap Dimas dengan mata sayunya dan wajah pucatnya yang tidak ada rona sedikitpun. Namun, keterdiamannya sudah mampu menjadi jawaban yang Dimas inginkan.
Perlahan, Dimas membantu Meila untuk setengah berbaring, merapikan bantal dan meninggikannya sedikit agar gadis itu merasa nyaman. Setelah memastikan jika gadis itu sudah merasa nyaman,
Dimas mengambil mangkuk bubur itu dan menyendokkannya, menyuapinya dengan sabar sampai Meila mau membuka mulutnya.
Dan satu suapan pun berhasil masuk ke mulutnya dengan sempurna. Meila sampai mengerutkan keningnya saat lidahnya tidak merasakan apapun. Itu membuatnya semakin mual dan ingin memuntahkannya, namun sekuat tenaga dia berusaha menelannya meski sangatlah sulit.
Dimas tau jika Meila pasti tidak bisa merasakan apapun di lidahnya. Rasanya akan hambar karena efek dari radang tenggorokan yang dialaminya dari gejala flu yang mendera.
Sambil menggeleng lemah, tangannya berusaha mendorong sendok yang akan disodorkna ke mulutnya.
"Nggak mau lagi, kak.... rasanya hambar," ucapnya memelas.
"Itu karena disebabkan radang tenggorokan dari gejala flu kamu, makanya semua fungsi pengecap rasa di lidah kamu hilang untuk sementara." Ucapnya memberi penjelasan. "Maka dari itu....." perlahan sambil membawa sendok itu ke udara layaknya sedang membujuk anak kecil, "....kalo kamu menghabiskan bubur ini minimal separuh dari mangkuk ini, aku janji, semua rasa yang ada di lidah kamu akan balik lagi." Sambung dengan cara paling lembut, dan tanpa disadari telah membuat Meila memakannya lagi.
"Kamu mau kan, kalo lidah kamu bisa mengecap semua rasa lagi? Bisa makan es krim lagi, atau... cheese cake juga?"
Tanpa diduga, saat Dimas mengatakan makanan manis kesukaannya, mata Meila sempat membelalak dengan ekspresi wajah membayangkan makanan itu. Dan hal itu membuat Dimas menahan senyumnya geli dengan tangan terus menyuapi gadis itu tanpa henti, dan Meila pun selalu menerimanya.
"B-boleh... es krim?" Tanya Meila sambil memasang wajah antusias layaknya anak kecil. Dan Dimas pun mengangguk pasti. "Cheese cake.... juga boleh?" Tanyanya lagi, dan kali ini dengan mata berbinar dari mata sayunya yang polos. Dimas pun lagi-lagi mengangguk meng-iyakan dengan mantap.
Sungguh! Gadis ini sangatlah ajaib. Sifat dan sikapnya yang manja layaknya anak kecil malah semakin menumbuhkan rasa sayang dan cinta dalam diri Dimas. Ketika sampailah pada suapan terakhir, Dimas melihat ada setitik makanan yang menempel di sudut bibir gadis itu, membuatnya dengan segera mengusapnya lembut menggunakan ibu jarinya
"Apapun yang kamu mau, saat kamu udah sembuh nanti, aku akan berikan. Apapun itu! Tapi ingat, jangan...." Ucapnya penuh janji, sambil menyodorkan sendok suapan terkakhir ke dalam mulut gadis itu dengan sempurna.
"Berlebihan," potong Meila cepat meski suaranya sangat pelan. Dan tingkahnya layaknya anak kecil yang sangat menggemaskan.
Dimas tersenyum, "gadis pintar!" Puji Dimas kemudian.
"Dan aku benar, kan? Kalo diliat dari cara makan kamu yang udah menghabiskan bubur ini, kayaknya kamu akan cepat sembuh." Ucapnya perlahan saat Meila sudah menelan makanannya ke tengggorokan.
Meila menatap ke arah mangkuk yang masih di pegang Dimas, lalu matanya membelalak seolah tidak percaya jika dia telah benar-benar menghabiskan buburnya. Lalu, matanya beralih kepada Dimas yang sedang menatapnya dengan sebuah senyuman. Matanya menyipit meski merasakan pusing yang amat, sambil memberengutkan bibirnya, Meila mengucapkan sesuatu pada Dimas.
"K-kak Dimas, kamu... kamu curang,"
Dimas tergelak, lalu meletakkan mangkuk itu kembali ke atas meja nakas.
"Bukan curang, Sayang. Aku cuma berusaha mengalihkan rasa mual kamu," jelasnya lembut dengan tangan sambil mengusap kepala gadisnya dengan sayang.
Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh ke arahnya bersamaan. Meila menoleh ke arah Dimas dengan ekspresi bingung.
Tanpa mengatakan sesuatu, Dimas berjalan dan membuka pintu itu dengan segera. Dan tampaklah seorang pengawal yang sebelumnya telah diberi perintah olehnya untuk menebus beberapa resep obat.
Pengawal itu tampak membungkuk sopan sebelum kemudian memberikan sekantung kecil papper bag berisi obat-obatan yang sudah ditebus berdasarkan resep yang diberikan dokter Yoga. Lalu, setelah menyelesaikam tugasnya, pengawal itu langsung berbalik dan mengundurkan diri dengan sopan dan memberikan ruang untuk mereka sepenuhnya.