
Hawa dingin yang menusuk hingga menyentuh tulang membuat Meila bergerak gelisah dalam tidurnya. Beberapa kali dia menarik selimut tebal agar tubuhnya terlindungi dari udara dingin. Namun, tetap saja rasa dinginnya membuat merinding sampai terasa dari ujung kaki hingga akar rambutnya.
Dingin...
"Kak, kenapa jendelanya terbuka? Anginnya begitu kencang." gumamnya dengan mata masih terpejam rapat.
Tidak ada jawaban. Tetapi Meila dapat merasakan hembusan napas hangat seseorang yang begitu dekat dengannya.
Kedua mata Meila perlahan terbuka, membaca situasi kamar yang begitu gelap sampai menimbulkan aura seram hingga membuat bulu kuduknya meremang. Dia berbalik, menghadap tepat ke samping yang diyakininya adalah Dimas. Namun, entah mengapa dia tidak bisa melihat wajah Dimas dengan jelas. Semuanya tampak gelap. Bahkan, dia merasa curiga sekaligus waspada karena aroma dari tubuh orang itu bukanlah aroma milik Dimas. Aroma maskulin yang begitu kuat namun sangat asing di indra penciumannya. Yaitu, aroma maskulin yang bercampur antara alkohol dengan asap rokok hingga menimbulkan rasa pusing dan mual.
Bergegas, Meila segera bangkit. Beringsut, memundurkan tubuhnya hingga menabrak kepala ranjang sambil mecengkram selimut yang menutupi setengah tubuhnya erat-erat.
Samar-samar, Meila melihat seringaian sensual dari seseorang di hadapannya. Hal itu semakin membuat bulu kuduknya meremang hingga dilanda ketakutan.
"S-siapa kamu?! Kenapa bisa masuk ke rumah ini?" Dengan suara terbata dan bergetar, Meila berusaha mengeluarkan suaranya yang tersekat. "Di-dimana kak Dimas...?"
Orang itu tertawa dengan suara yang membuat Meila terhenyak ke kepala ranjang hingga benar-benar tersudut. "Siapa itu Dimas? Hanya ada kita berdua di kamar ini. Ayo, tidur ke pelukanku." Ucapnya dengan suara mendesah dan kedua lengan terbuka. Bersiap untuk menyambut Meila ke dalam pelukannya.
Meila bergidik ngeri, bulu kuduk di sekitar tengkuk lehernya semakin meremang ditambah dengan hembusan udara dinginnya malam yang sunyi.
"Nggak! Dimana kak Dimas! Dimana...?!" Sahutnya setengah berteriak.
Lagi, orang itu tertawa kembali. Meila semakin dibuat bingung dan takut dengan keberadaan orang itu.
Apa aku lagi mimpi? God... jika memang ini mimpi buruk, tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini... aku mohon...
Meila tidak bisa mengenalinya. Bahkan, melihat wajahnya pun tidak bisa. Tertutup oleh cahaya dari lampu ruangan yang sengaja dipadamkan.
"Nggak ada pria lain selain aku. Malam ini, kamu milikku. Mungkin besok dan selamanya, kamu akan jadi milikku seutuhnya." Lalu, dengan serampangan langsung mencengkram pergelangan tangan Meila dan menariknya. Refleks, Meila langsung meronta sekuat tenaga. Memukul-mukul lengan pria itu menggunakan seluruh kekuatannya. Namun, cengkraman itu malah semakin kencang dan menjadi. Meila pun berusaha berteriak meminta bantuan. Tetapi suaranya tersekat, tidak bisa mengeluarkannya. Dia hanya bisa meronta-ronta dengan air mata yang mulai menggenang dan membasahi pipi. Berharap adanya belas kasih dari seseorang yang ia yakini adalah pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Dimas menepuk-nepuk pipi Meila dengan perlahan. Beberapa kali gadis itu berteriak sambil sesegukan sejak lima menit yang lalu. Pergerakannya yang meronta-ronta dengan kuat berhasil melepaskan dirinya yang ia tahu sedang terpejam di dalam pelukannya.
"Nggaaaakkk! Lepas! Kamu bukan kak Dimas! Lepasin aku...." Teriaknya dalam isakan dengan mata yang masih terpejam.
Dengan cepat Dimas langsung beringsut duduk dan menggoyang-goyangkan bahu Meila dengan kasar agar gadis itu terbangun. Dan tidak salah, tindakannya kali ini berhasil. Dengan napas terengah dan terisak, Meila masih meronta saat disadarinya lampu kamar masih dalam situasi redup hingga refleks mendorong Dimas sampai menjauh.
"Jangan mendekat! Siapa kamu? Kamu bukan kak Dimas!" Teriaknya histeris.
Dimas sempat terperangah sebelum kemudian dia berhasil menarik diri untuk tetap menyadarkan Meila. Sementara itu, Meila tampak ketakutan dengan mata menyalang membaca situasi.
"Ini aku. Dimas." Sambil menjawab dengan suara meyakinkan, Dimas juga menggerakkan tangannya untuk menyalakan lampu yang ada di meja nakas samping ranjang.
"Nggaaaakkk! Bukan!" Kedua tangannya bergerak menutup kedua telinganya sambil menunduk. "Aku mohon.... jangan mendekat.... ja-jangan sakitin aku.... aku mohon...." mohonnya pilu sambil berderai air mata.
Tanpa menghiraukan Meila yang berteriak, terdengar suara geraman halus dari kedua rahang Dimas yang mengatup rapat penuh sabar. Dia tetap berusaha membuat Meila tenang dengan meraih lengannya pelan. Dan hal itu masih tetap mendapatkan perlawanan.
"Ini aku!" Sergah Dimas. Dan dengan sedikit kasar, Dimas menarik tubuh mungil Meila dan memegang kedua bahunya sambil menggoyangkannya.
"Ini aku. DIMAS! kamu lihat aku!" Lalu menangkup kedua sisi wajah Meila dan memaksa untuk menatapnya. Dan disitulah dapat terlihat jelas wajah Meila yang memerah basah penuh air mata dengan tatapan penuh rasa takut disertai isakan yang menyesakkan.
Didetik bentakan itu terucap, disaat itulah Meila mulai tersadar. Kedua matanya menyalang seperti sedang membaca situasi keseluruhan kamar sambil terisak. Ketika isakannya semakin menjadi, dia mulai kesulitan bernapas. Meila berusaha menarik napas dalam-dalam sampai terbatuk dan nyaris tersedak. Ya! Dia mengalami serangan paniknya dengan tiba-tiba.
Dimas yang melihatnya ikut panik karena hal yang ia takutkan, hal yang ia jaga agar gadisnya jangan sampai mengalami serangan yang tidak mengenakkan akhirnya terjadi juga. Dia pun langsung menarik Meila ke dalam pelukan. Mengusap-usap punggungnya pelan sambil mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan ke telinganya.
Dimas berusaha membuat Meila agar tenang. Mencoba mengalihkan pikiran gadis itu agar terlupa dari rasa takutnya.
"Ssshh... tenang... gak ada siapapun disini. Sekarang tarik napas... atur napas kamu. Jangan pikirkan apapun,... okay? Ulangi terus sampai rasa sesak itu hilang."
Tidak semudah itu membuat napasnya teratur. Sambil terbatuk-batuk, keringat dingin sebesar biji jagung pun mulai bercucuran. Tetapi Dimas tidak akan menyerah. Dia harus terus membimbing Meila untuk mengontrol diri sampai gadis itu mulai sedikit lebih tenang dan napasnya mulai teratur.
"Iya, bagus. Terus ulangi. Atur napas... hembuskan perlahan,"
Setelah beberapa menit, hembusan pelan yang terdengar dari Meila membuat Dimas sedikit lega. Namun, tidak sampai dua detik tangisannya pecah kembali saat mengingat mimpi buruknya lagi.
"A..a..ada se..seorang," ucapnya terbata. Gerakan tangan Dimas sempat terhenti sejenak dengan kedua alis yang mengernyit. "Di...di kamar ini,..." ditengah isakannya, dia melepaskan pelukan Dimas dan menatapnya sambil memasang wajah memelas.
"Ada s-seorang pria di... di kamar ini, kak." Suaranya terdengar pilu.
Dengan balasan tatapan penuh sayang, hati Dimas terenyuh melihat kedua mata jernih Meila yang begitu ketakutan seperti sedang meminta dikasihani. Apa mimpi buruknya begitu menakutkan sampai-sampai dia memasang wajah memelas?
Pria? Siapa yang Meila maksud?
Berusaha tenang, Dimas menjawab. "Ssshh... nggak ada siapa-siapa disini," sahutnya lembut. Tangannya mengikuti, mengusap peluh di dahi Meila dengan sayang. Lalu turun ke pipinya yang basah karena air mata. "Kamu disini bersama aku."
"T-tapi.... tadi orang itu disini," isaknya. "D-dia.... dia begitu dekat." Kemudian menunjuk ke arah tempat Dimas berada. "Disini.... pria itu tadi disini. Di tempat ini," air matanya mengalir kembali. Dengan sigap juga Dimas langsung mengusapnya. Menahan air mata itu jatuh dari sana.
"Lihat aku," menangkup sisi wajah Meila dengan lembut. Memaksanya agar perhatiannya tertuju padanya. "Dengar aku. Nggak ada siapapun disini. Cuma ada kita. Aku, dan kamu. Nggak ada siapapun yang bisa masuk kesini. Siapapun itu, nggak ada yang bisa nyakitin kamu atau menyentuh kamu sekalipun. Mengerti?" Dimas berucap dengan penuh penekanan namun dengan tutur kalimat lembut.
Dengan sekali gerakan perlahan Dimas langsung menarik kembali Meila ke dalam dekapannya. Menenangkannya, mengusap-usap punggungnya dengan gerakan lembut seirama. Bahkan sesekali menimang-nimangnya seperti bayi yang sedang merengek.
"Jangan nangis lagi. Okay?" Ucapnya lembut. "Aku nggak bisa liat kamu menderita kayak tadi." Lirih Dimas yang berbisik sambil menempelkan pipinya ke rambut Meila, dan menghirup aromanya.
Seketika, hanya terdengar isakan yang teredam, yang tersisa dari balik dada bidangnya. Begitu Dimas merasakan gadisnya sudah mulai tenang, dia melepaskan pelukannya. Menatapnya dengan penuh kasih sayang sambil mengusap wajahnya yang memerah basah dan sembab.
"Udah merasa lebih tenang? Atau masih merasa sesak?"
Meila hanya diam, tetapi kedua matanya menatap lurus pada Dimas. Seperti sedang menghafal dan merekam bentuk dari tiap lekukan wajah Dimas ke dalam ingatannya. Mungkin karena mimpi buruk tadi, dia jadi merasa perlu meyakinkan dirinya sekali lagi agar apa yang ia lihat dan rasakan benar-benar nyata.
Dengan tangan gemetar, Meila mengangkat tangannya. Meraba wajah Dimas, mulai dari pipi dan naik ke dahi lalu meraba seluruh permukaan wajah Dimas dengan mata terpejam. Tindakannya itu sempat membuat Dimas terkejut. Tetapi Dimas bisa memahami, jika Meila pasti sedang berusaha meyakini dirinya sendiri.
Tangan Dimas akhirnya menuntun tangan Meila yang ada di wajahnya.
"Kamu boleh menyentuh selama yang kamu mau jika itu bisa membuat kamu merasa yakin dan tenang." Ucapnya. "Karena,..." lalu mengusap-usap pipi Meila dengan sayang, yang masih menyisakan isakan ringan. "....membuat kamu merasa tenang dan nyaman adalah salah satu tugas yang harus aku wujudkan." Imbuhnya.
Mata Meila berkaca-kaca, tetapi tidak menumpahkannya. Ada perasaan haru yang bercampur dengan rasa takut saat dia membayangkan jika orang yang ada di dalam mimpinya itu benar-benar ada.
Lalu, Dimas mengambilkan air minum yang ada di meja nakas. "Diminum dulu, ya?" Lalu membantu Meila mendekatkan bibir gelas ke bibirnya. "Pelan-pelan,"
Setelah menaruh air minumnya kembali ke meja nakas, Dimas membaringkan tubuhnya kembali sebelum kemudian membawa Meila agar kembali tidur dan membiarkan kepalanya berbaring ke dadanya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, mengusap-usap lengan Meila dengan lembut yang ia letakkan ke atas dada bidangnya.
"Kak... gimana kalo orang itu benar-benar ada?" Meila berucap tiba-tiba.
"Itu nggak akan terjadi," Sahutnya cepat.
Kepala Meila terangkat dengan dagu yang menempel ke atas dada Dimas. "Karena aku nggak akan pernah lepasin kamu dari pelukan aku." Candanya. "Aku akan terus pelukin kamu kayak gini," lalu mengeratkan pelukannya tetapi tidak menyakiti. "Biar nggak ada seorangpun yang bisa ambil kamu dari aku." Tandasnya. Dan itu berhasil membuat pipi Meila merona di tengah wajahnya yang basah.
Dimas merasa senang jika kata-katanya bisa membuat Meila terhibur. Dia akan melakukan apapun untuk mengalihkan ketakutan Meila. Kepala Meila akhirnya bersandar kembali ke atas dada Dimas diikuti dengan gerakan tangan Dimas yang baru akan meraih tombol lampu untuk dimatikan kembali. Namun, gerakan cepat dari tangan Meila yang menahannya disertai kalimat permohonan yang tidak bisa Dimas abaikan begitu saja.
"Jangan matiin lampunya, please..." ucap Meila memohon.
Ditatapnya dengan lekat kedua mata sayu itu dengan tatapan sayang.
Terdiam dua detik sampai akhirnya menjawab, "....as you wish!...." sahutnya disertai senyuman lembut dan langsung memeluk Meila kembali dengan erat dan hangat sebelum kemudian memberikan kecupannya ke puncak kepala Meila.
●●●
Ballroom besar nan megah itu tampak ramai. Dipenuhi dengan lampu-lampu gantung besar berhias kristal yang menggantung di langit-langit dan juga para pelayan yang bergantian berlalu lalang terlihat sedang fokus dengan tugas masing-masing. Menata ruangan dengan indah, dengan meja dan kursi mewah yang dihiasi bunga di sekitar sandarannya.
Di ujung ruangan tepatnya dekat dengan pintu masuk, terlihat James yang sesekali mengawasi dan memberikan arahan kepada para pekerja sambil berbincang-bincang dengan Event Organizer. Selain dia yang mengurus persiapan acara, James juga perlu memastikan jika persiapan dan segala kebutuhan persiapannya berjalan lancar dan terpenuhi tanpa kekurangan sedikitpun. Sebab, selain keluarga besar yang datang, seluruh kolega bisnis yang dijalani keluarganya juga perusahaan yang diurusnya akan menghadiri acara perjamuan makan malam nanti. Jadi, bisa dibilang, sebagian besar yang datang adalah orang-orang penting dan berkelas.
Seketika, suara dering ponsel dari saku James membuatnya menghentikan obrolan dengan pengurus Event Organizer dan mengambil jarak untuk sedikit memisahkan diri.
"Yes, mom?"
Rupanya itu adalah Eliana, ibu James. Wanita paruh baya nan cantik dengan wajah Indonesia yang sebagian diturunkan oleh James itu sedang mencari-cari keberadaan putranya yang sudah menghilang di jam pagi-pagi buta.
"Son, where are you? Why did you disappear so early?"
Mendengar kata-kata sang ibu, membuat James memulas senyum.
"Don't worry, mom. I'm just finishing for our tonight's event. I'm just making sure that everything is absolutely perfect." Sahut James dengan aksen britishnya.
"Kenapa harus kamu yang turun tangan, James. Mama dan papa sudah menyerahkan semuanya pada EO. Mereka yang akan mengerjakannya dan menyelesaikannya."
Lagi, James hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya.
"It's okay, mom. Ini adalah acara tahunan kalian yang nggak boleh ada kekurangan sedikitpun dan tiap tahunnya harus lebih sempurna." Jawabnya. Lalu, dia mengangkat tangannya untuk melihat jam tangan. "Lagipula, ini masih terlalu pagi. Mama sama papa istirahat aja. Biarkan semuanya James yang handle. Dan James pastikan, semuanya akan sempurna seperti yang mama inginkan." Imbuhnya.
"Kamu yakin, James?"
"I'm really sure, mom."
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi ingat, jangan lupa breakfast dan juga istirahat, ya."
"Siap, ma." Jawabnya disertai senyum sumringah.
"Ah, ya. James, adikmu sudah kamu beritahu, kan? Mama nggak mau ya kalau ternyata putri mama itu nggak hadir cuma karena kamu lupa memberitahunya."
"Semuanya beres, ma. Putri kesayangan mama itu pasti datang. Mungkin dia akan hadir sambil menggandeng kekasihnya nanti." Kelakar James dari seberang telepon.
Terdengar helaan napas takjub bercampur perasaan tidak sabar dari Eliana di seberang telepon. "Oh,ya? Waahh... Mama jadi nggak sabar buat ngeliat kekasih adikmu nanti."
James terkekeh ringan. "Yaudah, mama sama papa nggak perlu capek-capek lagi. Biar semuanya James yang urus. Serahin semuanya pada putramu yang bisa diandalkan ini." Imbuhnya yang langsung dibalas tawaan ibunya.
"Baiklah. Kamu memang selalu bisa diandalkan. Mama tutup teleponnya, ya. Bye, James...."
Setelahnya, James hanya terkekeh ringan sambil menatap ponselnya. Lalu mengembalikan lagi perhatiannya kepada para pekerja yang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
●●●
Suara dering ponsel dari arah nakas berhasil membangunkan Dimas yang masih setia memeluk Meila dalam dekapannya. Dengan hanya sekali mengerjap, dia langsung mengambil ponselnya dengan pandangan yang masih berkabut. Tak lupa juga dia menggerakkan tangannya untuk mengusap punggung lengan Meila dengan pelan sebelum kemudian mengangkat panggilan telepon yang ia tahu itu dari Henry, asistennya.
"Ya. Ada apa, Henry?" Terdengar suaranya yang masih sedikit parau.
"Maaf mengganggu, tuan. Saya bermaksud untuk mengingatkan anda perihal acara pesta perjamuan makan malam nanti. Apa saya perlu mengkonfirmasi untuk kedatangan anda?"
Sesaat, Dimas sedikit tertegun karena dia hampir lupa jika saja Henry tidak membangunkan dan mengingatkannya. Kedua matanya langsung membulat sempurna mengingat undangan jamuan makan malam yang Henry berikan padanya beberapa hari yang lalu.
"Tidak perlu. Saya akan datang....." ucap Dimas tegas tanpa ragu dengan kedua mata melirik ke arah Meila. Ucapannya pun sempat terjeda saat dirasakannya Meila menggeliat dalam pelukannya. ".....terima kasih karena sudah mengingatkan saya."
"Baik, tuan. Hubungi saya jika anda membutuhkan sesuatu."
Percakapan itu terputus disambut dengan geliat Meila yang disertai tatapan sayup-sayup manjanya.
"...Siapa...?" Tanya Meila akhirnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Dimas tersenyum seraya meletakkan kembali ponselnya ke atas meja nakas.
"Henry. Dia mengingatkan aku," Dimas langsung meralat kalimatnya dengan cepat. "Bukan. Lebih tepatnya mengingatkan kita, supaya kita nggak lupa untuk acara perjamuan makan malam nanti." Sahutnya dengan gerakan tangan mengusap kepala Meila.
Seketika Meila langsung mengingat, kalau Dimas akan mengajaknya untuk menemaninya dalam undangan tersebut.
"Apa hari ini?" Tanya Meila memastikan.
Tatapan Dimas melembut disertai anggukan kepala. Sementara Meila hanya terdiam dengan kedua mata sayu dengan dagu menempel ke dada Dimas.
Sambil mengelus pipi Meila. "Mau tidur sebentar lagi?" Tanya Dimas yang dengan begitu pengertiannya. Karena dia tahu, bahwa tidur Meila semalam sedikit terganggu dikarenakan mimpi buruk.
Dengan langsung mengusak-usakkan wajahnya ke dada Dimas dan meringkuk ke pelukannya, Dimas langsung tahu jika itu adalah sebuah jawaban. Dengan senang hati, Dimas langsung memeluk dan mengecup dahi Meila. Memberinya usapan lembut ke kepala dan punggungnya. Memejamkan kembali matanya sambil menempelkan hidungnya ke pucuk kepala Meila dengan sebuah ulasan senyum manis nan tipis yang begitu menenangkan bagi siapapun yang melihatnya.