A Fan With A Man

A Fan With A Man
Hati Seorang Wanita



Udara dalam ruangan itu berubah menjadi udara kelegaan yang tadinya hanya diliputi kepengapan hingga menyesakkan dada. Meila yang masih dalam dekapan Dimas belum mau beranjak untuk menjauh dalam lindungan pria itu. Suara isakannya masih menyisakan irama yang belum mau diberhentikan, seolah masih belum puas untuk menumpahkan ketakutannya yang ia tahan hampir seharian penuh.


Begitupun dengan Dimas yang tidak melepaskan bibirnya untuk terus mengecup puncak kepala gadisnya, dan membisikkan kata-kata menenangkan dan melegakan sampai gadis itu benar-benar merasa tenang. Dimas akan memberikan apapun agar Meila selalu ada didekatnya, dalam perlindungannya dan pengawasannya.


"Ssshh... Semuanya udah berakhir. Semuanya udah berakhir, Sayang. Kamu aman sama aku. Aku disini. Aku disini. Aku nggak akan ngebiarin kamu kenapa-napa." Berulang-ulang, Dimas berbisik di telinga Meila dengan suara rendah, sambil mengusapkan tangannya ke punggung Meila dengan gerakan seirama menenangkan.


Perlahan suara tangisan itu memelan, hanya terdengar isakan yang tersisa yang tenggelam di dada bidang Dimas. Dimas menjauhkan tubuh Meila sedikit, memastikan bahwa gadis itu sudah baik-baik saja. Dimas menatap Meila yang masih terisak dalam diam, begitupun dengan Meila yang masih belum mau melepaskan tangannya yang ia pegang erat-erat ke punggung lengan Dimas.


Dimas mengangkat tangannya, mengusap air mata gadisnya dengan lembut, lalu menangkup wajah Meila untuk mendongakkannya.


"Udah merasa lebih baik?" Dimas berucap lembut, menatap langsung ke bola mata Meila yang sembab dan bengkak. Meila pun tidak menjawab, dia hanya menatap Dimas dengan tatapan mata jernih polosnya yang mampu membuat pria manapun melembut karenanya.


Melihat reaksi Meila, Dimas tidak berucap apapun lagi. Dia tahu, meski belum sepenuhnya rasa takut itu hilang, namun gadis itu sudah terlihat nyaman kembali seperti biasa ketika didekatnya.


Tatapan Dimas melembut, kemudian dengan sigap pria itu langsung membuka jaketnya untuk kemudian dipakaikan ke tubuh bagian depan Meila untuk menutupi bagian tubuhnya yang terlihat karena robekan yang disebabkan oleh Beno.


"Tunggu sebentar ya," setelah memakaikan jaketnya untuk Meila, Dimas dengan cepat beranjak bangun dan berlari untuk mengambil ponsel yang tadi ditinggalkan oleh Sisil sebagai bukti yang akan ia berikan pada Rendy, dan juga untuk berjaga-jaga sebagai alat untuk membalas wanita licik itu.


Dimas langsung mengamankan ponsel itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya, dan kembali untuk menghampiri Meila yang sedang menunggunya.


Setelah mengambil dan menyimpan ponsel itu ke dalam sakunya, Dimas kembali lagi menghampiri Meila yang terlihat sangat lemas. Dengan cepat dan sigap, Dimas langsung meletakkan lengannya ke bawah lekukan lutut Meila dan sebelah lengannya lagi ia letakkan ke belakang punggung Meila untuk menggendongnya. Secara refleks, Meila langsung mengalungkan tangannya pada leher Dimas dan meletakkan wajahnya ke lekukan antara leher Dimas yang hangat dan menenangkan baginya.


Tanpa berlama-lama lagi, Dimas langsung menuju mobilnya dan membawa Meila masuk terlebih dahulu ke kursi penumpang samping kemudi. Lalu membenarkan posisi duduknya dan memundurkan kursinya ke belakang agar Meila juga bisa beristirahat dengan nyaman sebelum kemudian berucap,


"Kamu masih kuat kan? Atau kita perlu ke rumah sakit......"


Belum selesai Dimas melanjutkan ucapannya, Meila sudah menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan wajah cemas sekaligus mata memerah berkaca-kaca, serta kerutan didahinya yang dalam, "jangan kak... jangan ke rumah sakit. Aku mohon." Pinta Meila dengan lemah dan sedikit memaksa.


Tatapan Dimas berubah sayang, tangannya bergerak untuk mengusap kepala Meila dan dibarengi dengan bibirnya yang mengecup keningnya singkat, "Oke... kita nggak akan kesana." Dimas berucap lembut dengan suara rendah dibalut dengan senyuman menenangkan.


Setelah memastikan semuanya, Dimas langsung beranjak menuju kursi kemudi dan melajukan mobilnya untuk segera sampai ke rumah dengan cepat untuk mengurus gadisnya semaksimal mungkin.


●●●


Mereka sudah memasuki rumah Dimas, dan dengan segera, pria itu langsung membawa Meila ke lantai dua menuju kamarnya. Dimas memasuki kamar Meila dan meletakkan tubuh gadis itu secara hati-hati ke atas ranjang tempat tidurnya dan membenarkan posisinya.


Dengan keadaan Meila yang masih lemah, Dimas tidak mungkin membiarkan Meila untuk mandi membersihkan diri ditengah cuaca dingin dengan udara yang digulung oleh awan mendung yang sebentar lagi akan menurunkan hujannya untuk membasahi setiap makhluk yang berada dibawahnya.


Dimas lalu menarik selimut yang ada diujung ranjang dan menaikkannya untuk menutupi tubuh Meila sampai batas leher. Kemudian beranjak untuk mengambil setelan baju hangat yang akan Meila pakai setelah ia membersihkan gadis itu dengan basuhan air hangat. Namun rupanya di lemari baju tempat Meila menaruh pakaian, tidak ditemukan baju hangat apapun. Mungkin berhubung kemarin sangat terburu-buru dan terkesan mendadak, Meila akhirnya mengambil baju dan membawanya secara acak.


Akhirnya Dimas memutuskan untuk mengambil baju setelan berbentuk sweater tebal miliknya ke kamarnya. Dan benar saja, tak butuh waktu lama baginya untuk mencari-cari baju itu. Setelah menemukan baju yang sesuai, Dimas lalu membawa baju itu dan kembali ke kamar Meila lalu meletakkannya di ujung ranjang sebelum akhirnya ia mengeluarkan suara,


"Karena aku nggak mungkin membiarkan kamu kedinginan dibawah guyuran air, meski disana ada pilihan air hangat, tapi melihat kondisi kamu yang lemah kayak gini, aku memutuskan yang akan membantu membersihkan luka-luka di tubuh kamu dengan air hangat." Dimas berhenti sejenak, menatap Meila yang juga sedang menatapnya dengan mata sayunya.


Meila hanya diam dan mengangguk pelan, saat ini rasanya seluruh tubuhnya terasa sakit seperti diremukkan sampai ke tulang-tulang, dia tidak mampu lagi untuk sekedar bergerak ataupun menolak. Dia hanya pasrah dan membiarkan Dimas membantunya kali ini.


"Aku akan mengambil air hangat buat mengompres luka kamu,"


Setelah memberikan ultimatum lembut yang langsung dimengerti oleh Meila, Dimas langsung beranjak pergi tanpa berlama-lama, dan Meila juga hanya menganggukkan kepalanya lagi tanpa berkata apapun sambil menatap punggung Dimas yang akhirnya menghilang di balik pintu toilet kamarnya.


●●●


Seperti janjinya tadi, Dimas keluar dari toilet dengan membawa satu buah wadah besar berisi air hangat beserta handuk kecil ditangannya. Dirinya bergerak untuk membantu Meila bangun ke posisi duduk lalu menyandarkannya ke kepala ranjang sebelum kemudian dia menaruh sebuah bantal sebagai sandaran punggung.


Dimas mulai memasukkan handuk itu ke dalam air hangat dan memerasnya, lalu mulai membasuh wajah Meila dengan perlahan dan lembut sampai ke titik yang tidak terlihat. Setelahnya Dimas menurunkan ke leher Meila yang mulus dan terlihat jenjang, membasuhnya juga dengan lembut termasuk ke tanda bekas suntikan obat bius yang disuntikkan oleh Beno hingga membuat gadisnya itu kehilangan kesadaran.


Seketika rahangnya mengetat menahan amarah bersamaan dengan ingatan ketika dengan penuh nafsu dan hasrat menggebu, Pria psikopat itu melakukan hal tidak bermoral pada Meila yang sudah terlihat lemah tak berdaya.


Dimas mengehentikan gerakan membasuhnya dan meletakkan handuk itu kembali ke dalam wadah air hangat, tangannya ia gerakkan kembali untuk mengusap kulit leher Meila yang terdapat bekas suntikan, kemudian ditatapnya Meila yang saat itu sedang mengerutkan keningnya sambil beradu tatap.


"Ini.... bekas suntikan itu?" Sambil mengusap dengan ibu jarinya, Dimas bertanya dengan suara lirih.


Meila mengangguk lemah, ada perasaan resah dalam bola matanya ketika kembali mengingat kejadian dimana dirinya harus menyerah pasrah dibawah kekuasaan Beno melalui obat bius. Matanya berkaca-kaca, seolah tidak bisa menahan rasa takutnya lagi yang kembali muncul ke permukaan.


"Ssshh... nggak apa-apa, semua udah berlalu. Kamu udah berhasil melewatinya." Dimas mengusap air mata Meila, mengelus pipinya dengan lembut lalu menangkup wajahnya.


Dimas melanjutkan kembali untuk membasuh bahu Meila yang terdapat luka cakaran karena Beno berhasil merobek baju Meila dengan paksa. Meila sedikit meringis menahan perih ketika handuk hangat itu menyentuh luka dengan sisa darah yang sudah mengering. Dimas memelankan gerakannya, dibasuhnya luka itu dengan sabar hingga tidak menyisakan darah lagi dan sampai luka itu benar-benar steril.


"Setelah ini... aku akan olesin salep untuk mencegah infeksi."


Meila lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya, membuat bibir Dimas membentuk senyuman penuh yang menghiasi wajahnya.


Dimas sudah menyelesaikan tugasnya, lalu meletakkan wadah berisi air hangat tadi ke lantai sekaligus mengambil obat salep dari dalam laci kecil pada lemari nakas disamping ranjang. Lalu mengoleskan obat salep itu ke bagian-bagian luka yang terlihat menggunakan jarinya. Salep itu berbentuk bening dan terasa dingin, tidak menimbulkan perih yang menyayat seperti yang Meila pikir. Sehingga yang ditimbulkan adalah rasa sejuk dan efek menenangkan ketika mulai menyerap melalui pori-pori kulit yang tak terlihat.


Dimas sangat beruntung hanya terdapat luka fisik yang terlihat dan tidak terlalu parah, meskipun Dimas sendiri tahu, luka fisik dan memar seperti itu jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan luka psikis yang saat ini Meila rasakan dan belum bisa dilupakan dengan mudah begitu saja.


"Setelah ini kamu ganti baju, dan aku akan buatin bubur buat kamu."


Dimas berucap setelah selesai mengoleskan salep ke luka-luka Meila. Lalu tangannya menggapai setelan baju hangat yang ia sudah siapkan tadi dan meletakkannya ke atas pangkuan Meila.


"Ini baju gantinya," sambung Dimas lagi dengan suara lembutnya disertai lesung pipi.


Dan reaksi Meila pun sesuai dengan dugaannya, wajah gadis itu terlihat bingung dengan alis mengernyit ketika melihat baju yang diletakkan Dimas bukanlah miliknya. Dan reaksi Dimas pun langsung tersenyum, dan tatapannya seketika melembut, "ini memang bukan baju kamu, tapi berhubung kamu nggak membawa baju hangat, sedangkan diluar sana udaranya cukup dingin yang mungkin sebentar lagi akan turun hujan, jadi kamu pakai baju ini aja. Ini akan menghangatkan tubuh kamu." Dimas mengedipkan matanya perlahan, dan langsung ditanggapi senyuman dari wajah Meila yang masih tampak pucat meski dipaksakan, "Te-terima kasih, kak Dimas." Ucap Meila tulus menahan malu dan suara yang hampir tidak terdengar. Yang dengan refleks, membuat Dimas menggerakkan tangannya untuk mengusap rambut Meila dengan usapan sayang.


Jika Dimas mau, dia bisa saja mengambil alih untuk menggantikan baju Meila. Namun, dia tidak ingin melakukannya, Dimas tidak mau di cap sebagai pria yang sengaja mengambil keuntungan dari gadis yang terlihat lemah. Sebab Dimas pun tahu, selemah apapun seorang gadis, akan selalu membutuhkan privasi walau sedikit saja.


Setelah memberikan ultimatumnya, Dimas langsung beranjak pergi meninggalkan Meila yang masih menatapnya sampai pintu keluar. Lalu membiarkan gadis itu memberikan waktu untuk berganti pakaian yang sudah ia siapkan.


●●●


"Argh! Gimana caranya Dimas bisa sampe ke tempat itu?"


Sisil baru saja memasuki kamarnya dan langsung melempar tas ke ranjang sambil menghentakkan kakinya dengan kasar. Dia tampak begitu kesal dengan keberuntungan yang lagi-lagi berpihak pada Meila sehingga datanglah Dimas sebagai pahlawan untuknya.


"Atau jangan-jangan.... dia ngikutin gue secara diem-diem? Tapi, kenapa gue nggak sadar sih?" Sisil beranjak duduk di pinggir ranjang dengan menghentakkan bokongnya, "kalo bener Dimas ngikutin gue, itu tandanya dia tau kalo yang bantu Beno selama ini adalah.... gue?"


Seketika Sisil tersadar kalau dirinya tidak sengaja telah meninggalkan ponselnya disana. Dirinya sangat terkejut dengan kedatangan Dimas yang secara tiba-tiba hingga dia memutuskan untuk memilih kabur demi menghindari kemarahan Dimas yang sudah memuncak.


Kemudian pikirannya teringat akan Beno yang dipukuli habis-habisan oleh Dimas seperti orang kesetanan. Beno yang tidak berkutik ketika dipukuli, begitu juga dengan Dimas yang tidak memberi kesempatan pada Beno untuk membalas pukulannya hingga membuat wajah psikopat itu babak belur.


"Gimana caranya gue hubungin Beno kalo ponsel gue ketinggalan?" Sisil yang masih terlihat kesal memukul-mukul ranjangnya dengan kasar dengan rahang mengetat.


"Ah peduli amat! urusan Beno biar nanti gue pikirin. Sekarang gimana caranya biar gue nggak ketemu mereka untuo sementara waktu." Sisil tampak memutar otaknya untuk menemukan solusi, namun otaknya kali ini terasa buntu.


"Aaargh! Kenapa gue selalu sial? sedangkan cewek sok lugu itu selalu ada sang penyelamat yang menolongnya?"


Sisil menghembuskan napas kasar, mengetatkan rahangnya lalu melemparkan selimut di atas ranjang ke segala arah, membuat kamarnya berantakan karena melemparkan barangnya untuk melampiaskan amarahnya.


●●●


"Udah, kak... aku nggak napsu lagi,"


Meila berucap setengah merengek sambil mendorong sendok yang disodorkan padanya secara perlahan. Dimas yang saat itu masih menyuapinya, seketika berhenti mendengar Meila yang terlihat sudah tidak sanggup lagi menelan makanannya ke krongkongan. Dimas benar-benar menepati janjinya untuk mengurus Meila dengan telaten dan sabar serta menungguinya sampai selesai mengunyah dan menelannya.


"Sekali lagi, ya?" Dimas kembali menyodorkan sesendok lagi untuk suapan terakhir. Namun Meila masih tetap menolaknya dengan gelengan kepala, mungkin karena rasa mual yang bergolak di perutnya hingga membuatnya tidak napsu untuk memakan apapun.


Dimas mengerti kondisi Meila, tanpa berkata apapun lagi, Dimas meletakkan mangkuk bubur itu ke meja nakas lalu mengambil segelas air putih dan meminumkannya ke mulut Meila dengan perlahan. Setelahnya, Dimas meletakkan gelas itu dan mengambil napkin yang ada di atas nampan untuk mengelap bibir Meila dengan lembut.


Seketika Meila terdiam, mengamati Dimas dengan lekat seolah ada sesuatu yang mengganggunya. Matanya tampak berkaca-kaca menahan kesedihan. Dimas pun memperhatikan Meila, dia pun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan rasa ingin tahunya.


"Hei... Apa yang lagi kamu pikirin, hm?"


Meila menggeleng lemah, kepalanya menunduk dengan tangan yang saling bertautan.


"Kamu tau kak, apa yang aku pikirin saat itu? Saat dimana aku mulai bersikap pasrah karena aku pikir nggak akan ada seseorang yang datang buat nyelametin aku?"


Dimas memajukan tubuhnya, menggenggam tangan Meila yang sedikit gemetar dan dingin menahan gugup yang sangat pas dengan suhu kulitnya saat ini.


"Apa?" Jawab Dimas lembut dengan nada rendah.


"Aku berpikir kalo saat itu... hidup aku akan berakhir disaat Beno....."


"Ssshh..." seketika Dimas meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Meila untuk menghentikan ucapan gadis itu, "jangan dilanjutin lagi. Aku ngerti, bahkan sangat memahami maksud kamu." Dimas mengangkat dagu Meila dengan tangannya agar gadis itu menatapnya, "Liat aku. Selama aku ada disini, hal buruk itu nggak akan terjadi. Aku nggak akan pernah membiarkan itu terjadi. Kamu dengar itu?" Dimas menekankan kalimatnya dengan nada tegas dan kemudian merendah.


Wajah gadis itu berubah sendu, seiring dengan tatapan Dimas yang berubah sayang. Dimas tidak tega melihat kesedihan yang tampak nyata dihadapannya, dengan perlahan pria itu menarik tubuh Meila dan menghelanya kedalam dekapannya, mengecup puncak kepala gadis itu dan mengusapkan tangannya ke punggung Meila yang langsung melemah seketika dengan usapan lembut.


"Menangislah, Sayang. Jangan menyimpan rasa sakit itu sendirian. Aku disini, bersama kamu." Bibir Dimas bergerak mengecup pelipis Meila, dan secara otomatis gadis itu melingkarkan tangannya ke punggung Dimas. Menenggelamkan wajahnya dibalik dada bidangnya untuk menghirup aroma manis vanilla menyenangkan, yang berpadu dengan ekstrak green tea yang menyegarkan.


Tanpa bisa menahan lagi, Meila akhirnya menumpahkan air mata itu yang kemudian mengalir begitu saja dengan sendirinya ketika mendengar kalimat perhatian yang tulus dan terkesan jujur. Jika ada sebuah pepatah bilang -mengambil hati seorang wanita itu sangatlah muda. Jika kau benar-benar mencintainya, sentuhlah dia dengan kata-kata menenangkan juga berikan dia sebuah perlindungan, maka dia akan menyerahkan hatinya kepadamu.-


Mungkin itulah yang saat ini Meila rasakan, sebuah perlindungan juga kata-kata menenangkan yang selalu Dimas berikan untuknya, itu sudah sangat cukup untuk membuktikan kalau Dimas benar-benar tulus padanya. Dimas lah yang membuat Meila berpikir untuk menjadikannya satu-satunya tempat berlindung, tempatnya bersandar, dan juga tempat dimana ia bisa menumpahkan kesedihannya, menumpahkan air matanya, berkeluh kesah, serta mengeluarkan rengekan-rengekan kecil hingga mampu membuat Dimas bersikap lembut dan menumbuhkan rasa sayang setiap harinya.