A Fan With A Man

A Fan With A Man
Bengkak



Malam pun berganti pagi. Disambut dengan kicauan riang burung-burung yang diselimuti sinar mentari. Dimas baru saja membuka matanya, sedikit menguceknya pelan untuk menarik diri dari rasa kantuk yang masih tersisa. Dilihatnya waktu yang baru menunjukkan tepat pukul 06.30 pagi.


Seolah menyadari, pandangan Dimas langsung beralih pada sosok mungil yang masih setia meringkuk dalam pelukannya. Tidak berniat untuk beranjak dari sana, Dimas membawa jemarinya untuk mengelus pipi Meila yang mulus yang tertutup oleh anak rambut yang diterpa hembusan ringan angin melalui celah kaca jendela.


Disusurinya wajah itu yang tampak polos. Ditatapnya lekat-lekat pada setiap lekuk wajah mungil yang tampak damai dan tenang. Berbeda dengan semalam yang penuh dengan derai air mata hingga membasahi seluruh wajahnya yang mulus.


Elusan Dimas yang lembut ke pipinya berhasil membuatnya menggeliat hingga akhirnya mengerjap. Dan membuka matanya perlahan dengan mata yang langsung menuju pada bola mata Dimas yang sedang asyik memandanginya.


"Kak Dimas, kamu udah bangun?" Tanya Meila seketika dengan suara parau sambil mengumpulkan kesadarannya.


"Selamat pagi." sapa Dimas kemudian ketika mata sayu nan sedikit bengkak bekas menangis semalam milik Meila itu berhasil menatapnya lurus. "Aku baru aja bangun. Sekitar.... lima menit yang lalu."


Meila mengedarkan pandangannya ke luar jendela yang langsung menampakkan cuaca pagi yang tidak tertutup tirai.


"Sekarang jam berapa?" Tanyanya ingin tahu dan kali ini dengan wajah yang mendongak.


"Baru jam 06.35. Masih terlalu pagi buat kamu yang memulai kuliah di jam 10 nanti." Pungkas Dimas dengan senyuman.


Kemudian, sebuah pertanyaan melintas begitu saja saat Dimas memberitahu jika dia tahu tentang jadwal mata kuliah miliknya.


Sedangkan pria itu tampak santai dan tidak segera merapikan diri untuk pergi berkuliah juga.


"Kak Dimas, nggak kuliah?" Tanya Meila dengan wajah polos.


Membuat Dimas gemas hingga menyentuhkan ujung hidungnya ke ujung hidung Meila yang lancip.


Sambil tersenyum, Dimas menjauhkan sedikit wajahnya untuk menyahuti pertanyaan Meila.


"Aku libur, Sayang. Jadi, biarkan aku yang akan mengantar, menunggu, juga menjemput kamu seharian ini."


Mendengar jawaban Dimas, membuat Meila menautkan kedua alisnya dengan bingung.


"Menunggu?" Tanyanya kemudian dengan kepolosan yang nyata.


"Iya. Menunggu. Aku akan menunggu kamu di kampus sampai jam mata kuliah kamu berakhir." Pungkasnya dengan jelas.


"Tapi... kamu akan bosan nanti. Dan juga......"


"Nggak akan ada kata bosan kalo untuk kamu, Mei. Disana akan ada Rendy beserta yang lainnya juga. Sekalian aku akan menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan kemarin." Dimas menyela perkataan Meila yang akan terlontar dari mulut gadis itu, sambil membawa jemarinya untuk memainkan rambut Meila yang menjuntai menutupi dahinya.


Hening sejenak menguasai kamar itu, namun sesaat kemudian Meila melengkungkan sebuah senyuman di bibirnya. Hal itupun menular pada Dimas. Namun, pria itu bukanlah tersenyum melainkan terkekeh sendiri hingga membuat Meila sedikit bingung.


"Kamu itu tampak menggemaskan dengan mata yang sedikit bengkak kayak gini," sambil menangkupkan telapak tangannya pada sisi wajah Meila agar semakin mendongak padanya.


Pipi Meila langsung merah padam, dia berusaha memalingkan wajahnya dari pandangan Dimas yang membuatnya semakin salah tingkah karena malu.


"Nggak perlu malu dan menghindari tatapan aku, Sayang. Aku sungguh menyukainya." Sanggah Dimas cepat dengan tatapan lekat.


Hening kemudian diantara keduanya. Hanya saling menatap hingga Dimaslah yang lebih dulu berucap kata.


"Love you," ucap Dimas seketika disertai tatapan mata teduh,


Meila menatap Dimas lekat-lekat, namun tak urung dia juga membalas ucapan Dimas dengan suara pelan yang diselipi senyuman manisnya.


"Love you too," sahutnya dengan suara pelan.


Dimas langsung mengecup lembut bibir Meila ketika gadis itu selesai mengucap kata. Kemudian, membawanya kembali ke dalam rengkuhan lengannya yang kokoh, sementara gadis itu tersenyum dalam pelukan Dimas.


"Kak, gimana aku akan mandi dan bersiap-siap kuliah kalo kamu nahan aku kayak gini?" Ucap Meila tiba-tiba hingga membuat Dimas tergelak.


Dimas pun perlahan memberikan kecupan sekali lagi di pucuk kepala Meila dan sedikit menjauhkannya. "Baiklah, kalo gitu. Silahkan mandi dan bersiap-siap. Aku akan menyiapkan sarapan di bawah. Hm?"


Tanpa menunggu gadis itu menjawab, Dimas sudah beranjak dari ranjang dan menegakkan tubuhnya ke pinggir ranjang. Kemudian berjalan mendekati pintu dan menghentikan tangannya yang baru akan meraih gagang pintu saat didengarnya suara pelan dan lembut memanggilnya, dan memaksanya menolehkan wajah ke arah suara itu.


"Kak.... thank you!"


Tatapan Dimas melembut disertai kedipan matanya yang meneduhkan. Setelahnya, pria itu keluar hingga akhirnya menghilang di balik pintu, membiarkan Meila seorang diri untuk merapikan diri dan bersiap-siap.


●●●


"Ah! James, kamu sungguh membuatku kaget. Kapan datang?"


Terkejut!


Kata itulah yang menggambarkan perasaan Vika saat ini. Begitu dirinya berjalan menuruni anak tangga, matanya tanpa sengaja menangkap sosok pria berpakaian rapi dengan kemeja putih yang digulung sampai siku sedang menata sarapan di atas meja. Sosok itu adalah James. Pria itu sudah berada dirumahnya entah sejak kapan, dan Vika sama sekali tidak menyadarinya.


James hanya melirik diikuti dengan seringaian tipis di bibirnya.


"Aku memegang kunci rumah ini. Dan kamu sendiri yang memberikannya padaku jika kamu lupa." Sahut James.


Dan benar saja, dengan ekspresi bingung sambil memutar bola matanya, Vika tampak mengingat-ngingat saat dia memberikan sebuah kunci cadangan rumahnya kepada James beberapa hari lalu.


Dan disaat itulah Vika yang bergantian untuk menyeringai dengan cengiran khasnya.


Sambil menyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Vika berucap. "Aku lupa!"Jawabnya yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari James.


"Duduklah! Nikmati sarapanmu." Perintah James begitu gadis itu masih saja berdiri sambil melihat sarapan yang dibuat untuknya dan tampak menggiurkan.


Mendengar suara James, membuat Vika mengangkat wajah untuk menatapnya.


"Kamu nggak sarapan, James?"


Vika hanya mengangguk mengerti. Sementara James langsung berpindah ke ruang utama yang hanya berjarak sepuluh langkah dari meja makan. Ditemani dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas ke udara.


"James, boleh aku bertanya sesuatu?" Dengan tiba-tiba, Vika bertanya pada James sambil menikmati sarapannya. Seolah sedang meminta izinnya sebelum melakukan sesuatu.


"Tentang apa?"


Vika menghela napasnya sejenak sebelum kemudian mengutarakan pertanyaannya.


"Kemarin kamu bilang, kamu nggak janji jika pada akhirnya kamu juga akan turun tangan dan terlibat tentang hubungan aku bersama Rendy. Tapi, kamu sendiri nggak mengenalnya sama sekali.


Bagaimana kamu akan memulai pembicaraan dengannya?"


Tanpa menoleh, James tampak menarik sudut bibirnya dengan mata memandang lurus pada laptop.


"Itu bukan hal yang sulit buat aku, Vika. You know, I'm your boss as well as your brother too. Aku bisa melakukan apapun yang tidak bisa kamu pikirkan dan bayangkan sama sekali." Jelasnya dengan nada


santai.


"Jangan sampai ada kekerasan, James. Aku nggak mau diantara kalian ada yang terluka gara-gara aku." Suara Vika berubah lirih disertai tatapan matanya yang tidak terbaca.


James pun akhirnya memutar sedikit tubuhnya untuk menghadap Vika. Pria itu tampak menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berucap.


"Kamu nggak perlu khawatir, Vika. Jika kamu berpikir aku akan melakukan kekerasan, itu nggak akan terjadi. Sebab, permasalahan ini berawal dari aku, dan sudah menjadi tugasku untuk ikut membantu meluruskannya. Aku akan berusaha membicarakannya baik-baik dengannya. Kamu bisa tenang sekarang." James menyahuti dengan tenang, hingga ikut membuat hati Vika sedikit lega.


Namun, jika James bisa diingatkan untuk tidak melakukan kekerasan, bagaimana dengan Rendy? Dengan sikap Rendy yang sama sekali tidak bisa ditebak dan terkesan dingin juga arogan, dia berpikir jika pria itu pasti tidak bisa menahan kemarahannya saat mengetahui kebenarannya nanti.


"Aku tau kamu pasti bisa mengatasinya. Tapi, bagaimana dengan Rendy? Dia nggak mungkin bisa menerima dengan mudahnya setelah mengetahui segalanya. Apalagi jika kebenaran itu bukan berasal dari mulut aku sendiri. Aku takut... dia akan melakukan sesuatu sama kamu hingga lepas kendali. Aku bicara kayak gini karena tau sikapnya saat ini yang selalu berubah dan nggak bisa ditebak sama sekali, James."


"Aku tau maksud kamu, Vika. Kamu nggak perlu khawatir tentang itu. Aku yakin, Rendy akan mengerti semuanya disaat yang tepat."


Jawab James disertai nada menenangkannya "Lebih baik, kamu lanjutkan sarapan kamu. Aku akan mengantar kamu setelah ini."


Kemudian berucap memerintah pada Vika sambil mencetak senyum di bibirnya. Membiarkan Vika menghabiskan sarapannya lebih dulu, baru kemudian mengantarnya kuliah.


●●●


"Kak Dimas, apa bengkaknya masih keliatan? Aku udah coba menutupinya dengan sedikit polesan make-up tadi."


Meila baru saja turun dan menapaki lantai menuju meja makan. Dia sudah rapi, dan tiba-tiba suara lembut dan manjanya memenuhi pendengaran Dimas yang saat itu masih menyiapkan sarapan ke atas meja.


Sambil tersenyum, Dimas menolehkan wajahnya pada Meila yang mulai mendekati meja makan. Lalu, setelah meletakkan susu di sana, Dimas langsung mendekati Meila dan menangkup wajah mungil gadis itu seraya menyusurinya.


"Apanya yang kamu tutupi?" Tanya Dimas seketika sambil menggerakkan wajah Meila ke segala arah. "Nggak ada bedanya. Tetap cantik dan juga.... gemas!" sambungnya lagi dengan menggoda sambil menahan tawanya.


Meila mencebik, "kak Dimas! Aku serius. Aku malu kalo di kampus nanti, banyak yang akan perhatiin aku karena mata aku yang bengkak ini." Rengeknya.


Dimaspun akhirnya terkekeh, tidak mampu menahan tawanya lagi melihat gadisnya seperti itu. Akhirnya, dia pun menghadiahkan kecupan hangat ke pipi Meila yang halus dengan kecupan lembut.


"Itu udah resiko, Sayang. Karena semalam kamu menangis, hingga akhirnya tertidur dalam pelukan aku dengan mata yang sembab.


Maka jadilah bengkak di area mata kamu ini. Itu wajar, Sayang."


Jawabnya menenangkan sambil menggerakkan jemarinya ke area mata Meila yang bengkak hingga berhenti di pipinya dan mengelusnya lembut.


Meila memberengut sambil membawa wajahnya untuk menunduk, "tapi, kan..... aku malu...." ucapnya lagi dengan suara pelan nyaris tak terdengar.


Lagi, Dimas tergelak. "Itu urusan nanti. Kamu kan bisa cari alasan kalo kamu habis nonton film drama menyedihkan sampe kamu nangis dan akhirnya ketiduran. Iya, kan?" Ucapnya memberi solusi.


Seketika Meila langsung mengangkat wajahnya disertai kerlingan matanya yang bening. "Oh! Iya! Benar juga, ya. Pake alasan itu aja."


Dimas terkikik geli sampai menggelengkan kepalanya karena tidak


habis pikir dengan kepolosan Meila. Membuat tangannya tidak tahan untuk bergerak mengusak rambut kepalanya dengan gemas.


"Sekarang, nikmati sarapan kamu," ucapnya sambil menyisir rambut Meila yang sedikit berantakan dengan jari-jarinya. "Aku akan bersiap-siap dan mengantar kamu setelahnya, hm?"


Meila mengangguk mengerti, lalu menghadiahkan sebuah senyuman manisnya pada Dimas sebelum kemudian pria itu berjalan meninggalkannya seorang diri di meja makan.


●●●


Terdengar helaan napas Vika begitu mobil yang ditumpanginya, membawanya berhenti ke depan pintu masuk kampus. Gadis itu tampak membuka sabuk pengaman ditubuhnya. Sedangkan James, pria itu tampak mengawasi dengan dahi mengkerut keheranan. Namun, tak urung dia lebih memilih diam dan memperhatikan gerak-gerik Vika di sampingnya.


Sambil menghembuskan napas, Vika berucap. "Akhirnya sampai dan saatnya aku memutar otakku kembali. Thank you for taking me, kak James!" Ucapnya seraya memberikan cengiran di sana.


James menyeringai, "anytime, little sissy" jawabnya ringan dengan nada santai.


"Kamu akan langsung ke kantor?" Tanya Vika tiba-tiba.


Terdengar gumaman dari bibir James. "Ada beberapa jadwal meeting yang harus aku hadiri hari ini. Dan ya, nanti Satya yang akan menjemputmu di sini."


Terlihat senyuman dari bibir Vika sebelum kemudian menjawab James dengan menggerakkan tangannya membentuk sikap hormat ke arah pria itu. 


"Siap, pak James!" Sahut Vika dengan sikap hormatnya. Yang seketika langsung membuat James terkekeh ringan disertai tangannya yang bergerah mengusap kepala Vika dengan sedikit mengacaknya lembut.


"Yaudah, masuk sana! Atau kamu akan telat dan kena hukuman, nanti."


Vika pun langsung membuka pintu mobil, kemudian berjalan menapaki jalan setapak yang mengubungkannya dengan lorong kampus.


Mereka tidak mengetahui, jika telah ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka sejak tadi. Dan itu adalah Rendy. Pria itu tampak mengetatkan rahangnya dengan marah disertai kepalan tangannya yang mengencang pada setir kemudi. Duduk di balik kursi kemudi mobilnya dengan perasaan cemburu luar biasa.