
Mereka sedang dalam perjalanan. Setelah memutuskan, akhirnya Airin menyetujui ajakan Meila untuk ikut bersamanya. Didalam mobil itu tampak Meila dan Airin duduk dikursi penumpang belakang, sedangkan para pria dibiarkan untuk di kursi depan menjalankan kemudi.
Pandangan Airin tampak keluar jendela, membuat ekspresi berpikir kemana sebenarnya mereka akan pergi. Namun kemudian pandangannya berpindah pada Meila yang juga sedang memandangi jalan yang cukup ramai sambil tersenyum senang.
Didahului dengan sebuah colekan ke atas paha Meila, Airin bertanya setengah berbisik. Membuat gadis itu langsung menoleh ke arahnya.
"Mei, sebenernya kita mau kemana?" Tanya Airin dengan suara hati-hati.
Meila tersenyum melihat tingkah Airin yang tampak bingung tapi juga penasaran.
"Sebenernya gue juga nggak tau kita mau kemana. Karena kak Dimas juga nggak bilang tujuan kemana dia akan membawa kita. Tapi gue yakin, pasti akan menyenangkan, kok. Lo tenang aja, Rin." Jawab Meila dengan santai sambil menepuk-nepuk paha Airin.
Rupanya percakapan mereka yang berbisik itu diperhatikan oleh Dimas lewat kaca depan yang memperlihatkan ke arah kursi penumpang bagian belakang. Sambil memberikan senyuman dengan sedikit gelengan kepala, Dimas memfokuskan kembali dirinya ke posisi kemudi. Melanjutkan perjalanan mereka tanpa suara sampai tempat yang dituju.
●●●
Sesampainya disana, di sebuah lahan parkir luas yang sangat lapang dan pengunjung yang mulai berdatangan, Dimas memarkirkan mobilnya tepat didekat sebuah gazebo kecil berbentuk minimalis yang tiang-tiangnya tersulur akar pepohonan hijau yang menyelimuti.
Dengan cepat Meila langsung bisa menebak dimana dirinya berada saat ini. Rupanya, Dimas mengajaknya ke suatu taman yang cukup berkesan bagi keduanya, taman dimana ciuman pertamanya diambil oleh Dimas dibawah letupan nyala kembag api yang saling bersautan. Ditengah perasaan membuncah disertai pipi memerah, Meila mencuri irik ke arah Dimas dengan hati-hati, membuat jantungnya berdegup kencang seketika.
"Ayo, kita turun. Kita udah sampai." Ucap Dimas kemudian ketika baru saja menarik rem tangannya dan memastikan jika semua aman.
Suara Dimas yang tiba-tiba itu berhasil membuat Meila sedikit tersentak. Namun tak urung dia membuka pintu dan melangkahkan kakinya untuk keluar dengan dibantu oleh Dimas yang menahan pintu, dan menjaga agar kepala gadis itu tidak terjeduk atap kabin mobil. Lalu, mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Meila seperti kebiasaannya. Dan Meila sendiripun tanpa ragu langsung menerima uluran tangan Dimas.
Diikuti dengan Bryant yang keluar dari mobil sambil mengawasi suasana sekitar dengan wajah santai dan sedikit senyuman ironi. Bryant sendiri belum pernah datang ke taman ini. Dirinya hanya mendengar dari orang-orang yang pernah berkunjug jika taman ini sangatlah indah dan terbilang romantis. Tapi, berhubung Dimas yang mengajaknya, bukan tidak mungkin jika dia akan menyaksikan dan merasakannya langsung tanpa perlu mendengar perkataan orang-orang.
Nggak salah Dimas ngajak kesini. Taman yang terkenal indah dengan pertunjukan kembang api di akhir acara akan menciptakan suasana romantis pastinya.
Berbeda dengan Airin, yang kelihatannya memang baru pertama kali ke taman ini, seketika tercengang dan tak henti-hentinya membuat ekspresi takjub saat baru saja memasuki lahan parkir yang langsung menghubungkan pintu masuk utama.
"Waaah! Ini keren banget, Mei. Indah banget. Gue baru tau kalo ada taman kayak gini." Ucap Airin dengan segala ketakjubannya.
Meila sendiri hanya terkekeh, "ini belum apa-apa, Rin. Masih banyak yang lebih indah dan menarik lagi setelah kita masuk kedalam."
Mendengar Meila yang menjawab dengan santai, dan menandakan jika sahabatnya itu memang sudah pernah mengunjunginya, membuat Airin tidak tahan untuk menaikkan sebelah alisnya penuh selidik dan mengucap kata,
"Lo udah pernah kesini? Kapan? Kok nggak ngajak gue?" Tanya Airin dengan memberondong, membuat Meila tergeragap dan berpikir jika bukan waktu yang tepat untuk bercerita padanya.
"Ah! Itu.... waktu itu. Udah lama banget, Rin. Gue juga lupa, kok. Nggak sengaja soalnya." Jawab Meila terbata diselipi dengan cengiran di akhir kalimatnya.
Melihat Meila yang tampak bingung dan kesulitan dalam merangkai kata, tangan Dimas yang masih menggenggam jemari Meila, seketika memberikan remasan ringan dengan sedikit usapan lembut ke atas permukaan kulit Meila hingga berhasil membuat gadis itu menoleh padanya.
"Mendingan sekarang kita masuk aja, gimana? Daripada cuma diluar kayak gini, cuma menerka-nerka, kalian bisa merasakannya langsung saat kita didalam."
Dimas berujar untuk mencairkan suasana, meski tujuannya adalah agar Meila terhindar dari rasa gugup karena pertanyaan yang diajukan oleh Airin. Mendengar ajakan Dimas, sontak membuat Meila menoleh kepadanya dengan kepala terangkat, yang langsung ditanggapi oleh kedipan mata pelan dari pria itu.
Seolah ajakan Dimas menggiurkan, Airin dengan tidak sabar menganggukkan kepala penuh antusias. Dibarengi dengan langkah Bryant yang berjalan menghampiri Airin untuk menyamai langkahnya. Dan tanpa diduga mencuri gerak untuk meraih tangan gadis itu dan kemudian menggenggamnya.
"Ayo, kita masuk! Kita liat apa yang ada didalam sana." Ucap Bryant kemudian ketika mengapitkan jemarinya ke sela-sela jemari Airin tanpa menoleh. Melenggang ringan sambil menarik tangan Airin dalam genggaman. Membiarkan gadis itu menoleh ke arahnya tanpa menghiraukannya, menatapnya dengan terperangah dengan alis terangkat sebelah namun tidak memiliki kesempatan untuk menyanggah.
Membiarkan Airin dan Bryant berjalan lebih dulu, Dimas dan Meila lebih memilih berjalan dibelakang sambil terkikik geli tanpa suara. Menikmati kebersamaan mereka yang hampir beberapa waktu lalu tidak bisa merasakan suasana luar. Dan sekarang, Dimas ingin semuanya tanpa kendala, tanpa ada insiden apapun yang akan merugikan mereka semua, terutama bagi gadisnya.
●●●
Seperti kedatangan mereka pertama kali, tadi mereka sampai di waktu siang menjelang sore. Setelah berdebat dan Meila membujuk dengan memohon pada Airin untuk ikut bersamanya, akhirnya gadis itu menyetujuinya meski masih terlihat canggung dikarenakan ucapan Meila yang menyebut mereka akan double-date.
Setelah menyetujui, Dimas dan Meila membiarkan Airin dan Bryant untuk masing-masing membersihkan diri. Lalu pergi menggunakan kendaraan Dimas ke tempat yang akan mereka tuju.
Dan disinilah mereka, memasuki halaman luas yang sesak akan pengunjung layaknya mereka yang datang berpasangan dan tanpa malu mengumbar kemesraan. Pertama kali memasuki pintu gerbang, mereka disuguhkan dengan berbagai macam jenis tanaman hias yang mengelilingi sekitar taman guna memanjakan pengunjung di area utama. Terdapat juga arena bermain yang didalamnya ditujukan bagi para orang tua yang membawa anak-anak mereka.
Hampir sepertiga dari luas halaman telah mereka masuki dengan berjalan santai. Sambil saling bergandengan tangan disertai wajah-wajah saling memasang penuh takjub akan keindahan taman tersebut.
"Suasananya masih tetap sama waktu pertama kita kesini ya, kak?" Meila berucap sambil mendongak ke arah Dimas, menunjukkan sikap manja seorang gadis kecil yang sedang digenggam tangan oleh ayahnya.
Melihat tingkah gemas Meila, membuat Dimas tidak tahan untuk menghadiahkan senyuman dari bibirnya hingga menampakkan lesung pipinya yang tersembunyi.
"Ini masih permulaan. Nanti akan ada sesuatu yang berbeda dari saat pertama kita kesini." Jawab Dimas setengah menunduk, berbisik tepat di depan telinga Meila.
Meila tampak menyipitkan matanya, mengangkat wajahnya ke arah Dimas sambil mencari tahu apa maksud ucapan pria itu.
Gadis itu melebarkan matanya, "Sesuatu? Sesuatu apa?" Tanyanya tanpa bisa menahan rasa ingin tahunya.
Dimas terkekeh, membawa jemari Meila dalam genggamannya ke depan bibirnya untuk memberikan kecupan singkat ke atas permukaan kulitnya.
"Kamu akan tahu nanti." Jawabnya singkat disertai kedipan sebelah mata.
Berusaha mengusir rasa ingin tahunya yang memuncak, Meila akhirnya memilih diam dan menunggu dengan nurut sampai hal yang dimaksud Dimas itu datang. Berbeda dengan Airin dan Bryant yang sudah lebih dulu jalan mendahului mereka.
●●●
"Pah, gimana ini pa? Anak kita belum ada perkembangan juga. Mama udah coba bujuk dia, tapi belum ada hasil juga sampe sekarang."
Lagi, suara itu adalah suara milik ibu Sisil. Wanita paruh baya yang sedang dan masih mencemaskan putri semata wayangnya yang masih belum juga keluar kamar. Langkahnya tampak buru-buru dan langsung menghampiri sang suami yang sedang duduk di ruang utama sambil membaca koran.
Didepannya bahkan ada laptop yang menampilkan skema perkembangan
bisnis mereka di luar negeri selama mereka meninggalkannya ke Indonesia.
Meski sudah menunjukkan perkembangan yang sedikit pesat dengan menerima setiap makanan yang dibawakan asisten rumah tangga, dan sangat jarang menyentuhnya, tapi itu sudah menunjukkan jika Sisil sudah mulai melunak.
Sang suami melepaskan kacamatanya, sebelum kemudian melipat koran ditangannya dan meletakkannya ke atas meja.
"Tenang, ma.. kita harus sabar. Kita harus tenang hadapi Sisil yang keras kepala itu. Mama liat, kan? Beberapa kali dia melempar barang-barang hingga hampir melukai kita saat mama memaksa papa mendobrak pintu kamarnya?"
"Iya, pa. Tapi mama khawatir Sisil kenapa-napa. Makanan yang kita antar ke kamar nggak pernah habis bahkan sama sekali nggak disentuh. Mama takut anak kita sakit pa..." ujar sang istri diselimuti wajah cemasnya.
Sang suami tampak mendesah pelan, memijat keningnya. "Soal nama perempuan yang selalu disebut-sebut itu... mama udah dapet informasi tentang siapa dia?"
Sang suami tampak membahas soal nama yang selalu disebut-sebut Sisil hingga kamarahannya histeris. Setelah kemarin Sisil melampiaskan kemarahannya dengan melempar barang-barang dan membanting benda pecah belah, sang istri langsung bergegas mencari tahu siapa perempuan bernama Meila melalui teman-temannya.
"Udah, pa. Menurut informasi yang mama dapat, perempuan itu satu kampus dengan Sisil. Bahkan mereka berada di satu jurusan yang sama. Anak itu termasuk siswi populer di kampus, dan juga cukup berprestasi, pa." Jelasnya pada sang suami.
Mendengar penjelasan dari sang istri, sang suami terlihat mengerutkan keningnya, memaksa pandangannya untuk menatap sang istri dengan tatapan menyelidik.
"Populer dan beprestasi? Lalu... kenapa Sisil keliatan menyimpan amarah besar padanya, ma? Seolah... perempuan itu sudah melakukan hal yang membuat Sisil marah sebegitu besarnya?" Tanya sang suami dengan rasa ingin tahu yang kental.
"Mama juga nggak tau, pa." Sang istri menjawab pelan, ekespresinya tampak melemah. "Tapi itu yang jadi pertanyaan mama, pa... ada hubungan apa antara perempuan itu dan anak kita?"
Tak lama kemudian, ketika sang istri baru saja selesai berucap, terdengar kembali suara pecahan disertai amarah kencang hingga menembus dinding dan sampai ke telinga mereka. Sontak membuat keduanya menoleh sambil memasang wajah tercengang.
Keduanya lalu saling beradu tatap, "tuh...tuh.. papa dengar, kan? Sisil ngamuk lagi pa? Gimana ini, pa? Gimana kalo terjadi apa-apa sama Sisil, pa?"
Sang suami menghembuskan napasnya perlahan, sudah kehabisan akal bagaimana caranya lagi membujuk anak semata wayangnya untuk keluar kamar dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Tenang, ma.... tenang... kita juga nggak bisa gegabah. Mama sendiri tau, kan. Kalo anak kita itu keras kepala." Sang suami tampak menenangkan sang istri, tangannya terangkat mengusap kedua bahu sang istri untuk menyalurkan ketenangan.
Sedangkan sang istri tampak lemah dengan mata yang berkaca-kaca. Menahan kesedihan dari amarah sang putri yang meledak-ledak tanpa tahu dasar permasalahan yang terjadi. Tak ada yang bisa dilakukan lagi, hingga akhirnya sang istri mengangguk pasrah sambil merapatkan diri ke dalam rangkulan hangat sang suami.
"Pokoknya kita harus segera bertemu perempuan itu, pa. Kita cari tahu kebenarannya." Ujar sang istri menutup pembicaraan mereka.
●●●
Sudah berjalan satu jam dari sejak mereka sampai. Mereka saat ini sedang berada di pinggir kolam, tempat yang cukup banyak dikunjungi pengunjung wisata. Airin dan Meila memilih untuk menunggu para pria yang sedang membeli umpan untuk ikan-ikan kecil didalam kolam tersebut.
Meila terkekeh, "iya. Gue juga tau ada taman ini dari kak Dimas. Dia yang pertama kali bawa gue kesini." Balasnya santai sambil mengembangkan senyumnya dengan lebar. Namun, sedetik kemudian wajahnya langsung menegang ketika tanpa sadar dia telah mengucap jika Dimaslah yang mengajaknya ke tempat ini sebelumnya.
Ya ampun! Keceplosan kan, gue!
"Kak Dimas? Kak Dimas yang ngajak lo kesini?" Airin sampai menolehkan kepalanya dengan mimik wajah setengah terkejut. "Jadi, yang lo bilang tadi udah pernah kesini sebelumnya.... sama kak Dimas, Mei?" Sambungnya lagi dengan nada menelisik disertai mata yang menyipit.
Meila pun tergeragap, memutar bola matanya ke sekeliling taman sambil sesekali menelan ludahnya. Karena sudah kepalang tanggung, Meila akhirnya memilih untuk bercerita pada Airin yang saat ini masih memasang wajah menelisik ingin tahu.
Meila pun mendesah perlahan, melirik ke arah Airin dengan cengiran canggung seperti anak sekolah dasar yang ketahuan akan membolos.
"Awalnya karena nggak sengaja. Waktu itu, saat gue kepengen banget makan cheese cake, lo tau kan toko kue langganan gue yang biasa itu?" Meila memulai cerita awal mulai dirinya berkunjung ke taman ini. Airin pun mengangguk ketika sekilas ingatan tentang toko kue langganan Meila terbersit dibenaknya.
"Gue kesana untuk beli cheese cake. Tapi ternyata chef yang biasa buat cheese cake itu lagi libur karena emang hari minggu. Salah gue juga sih sebenernya..." tawa Meila disela-sela ucapannya. "Hingga akhirnya gue ketemu kak Dimas yang kebetulan abis dari rumah Dosen yang deket dari daerah toko itu. Dan jadilah gue diajak ke toko kue langganannya tepat disamping taman ini,"
"Terus abis itu... lo langsung di ajak kesini?" Tanya Airin menyela ucapan Meila.
Meila mengangguk mengiyakan, "iya,"
"Wahhh... berarti itu bisa dibilang kencan pertama lo dong?" Ucap Airin meledek sahabatnya, yang langsung dibalas dengusan ringan dari Meila. Bibirnya pun mengikuti, membentuk senyum ironi namun terlihat tenang menyikapi tanggapan Airin.
"....mungkin...." terbentuk sebuah senyum tulus dari lekukan bibir ranumnya.
"Ciee... sekarang udah nggak malu-malu lagi cieee..." ledek Airin sambil menggerakkan jemarinya menunjuk ke arah Meila, membuat Meila tersenyum malu-malu dengan pipi yang mulai memerah.
"Apaan sih, Rin.. udah ah, gue malu.." sergahnya dengan sedikit nada merajuk. Sisi lain dari Meila yang jarang sekali ditunjukkan pada siapapun.
Airin tergelak melihat tingkah sahabatnya, tangannya terulur dan bergerak untuk memeluk erat Meila.
"Gue ikut seneng, Mei. Akhirnya lo bisa dapetin orang yang sayang sama lo, melindungi lo, menjaga lo banget pokoknya. Gue bahagia kalo sahabat gue ini akhirnya dapetin pria yang selalu bisa membuat lo bahagia." Ucapnya tulus dengan tangan terulur bergerak untuk mengusap punggung Meila.
Meila sendiri tampak tersenyum dibalik pelukan Airin, "thank you, Rin... gue juga bahagia punya sahabat kayak lo, selalu ada buat gue. Kapanpun." Ucap Meila dengan tulus sambil masih berpelukan. Menikmat waktu kebersamaan persahabatan mereka yang telah terjalin cukup lama.
Meila sangat beruntung memiliki sahabat seperti Airin. Selain sikap perhatian dibalik sifat tomboynya itu, ada setitik sifat tulus yang tersimpan dalam-dalam dan hanya diperuntukkan yang menurutnya memang pantas mendapatkan sifat tulusnya. Dia tidak akan segan-segan menentang siapapun yang menurutnya tidak sejalan dan sepaham dengannya, apalagi jika orang itu hanya memanfaatkan keadaannya semata dan pergi meninggalkannya begitu saja setelah tujuan mereka tercapai.
●●●
"Kalian membicarakan sesuatu?"
Dimas berucap ketika dia berhasil menebak jika selama ditinggalnya tadi, sudah banyak yang diceritakan Meila pada Airin. Sambil memandangi Meila yang sedang memberikan umpan pada ikan-ikan didalam kolam, Dimas membenarkan posisi duduknya dan bergerak maju.
"Cuma pembicaraan kecil, kok. Bukan apa-apa." Ucap Meila sambil menolehkan wajahnya sejenak. Lalu terfokus kembali pada ikan-ikan kecil itu.
"Oh ya? Tapi... senyuman kamu itu nggak menggambarkan hal kecil. Pasti lebih dari itu. Iya, kan?" Tanya Dimas kembali sambil menyelidik. Berhasil membuat Meila menghentikan gerakannya dan memaksanya menoleh lagi ke arah Dimas.
Meila tersenyum, berpikir sejenak sebelum akhirnya berucap kata.
"Kita cuma membicarakan tentang pertama kali aku ke tempat ini," Ucapnya malu-malu, kepalanya tertunduk sedikit, "karena.... karena tadi aku nggak sengaja keceplosan tentang kamu..." suaranya hampir hilang tertelan, disertai pipi yang mulai memerah.
Dimas terkekeh, "tentang aku?" Tanya Dimas membeo, yang langsung dijawab anggukan oleh Meila. "Tentang saat pertama kali kita kesini, lalu...."
Ucapan Dimas menggantung di udara. Meila sendiri langsung mengetahui maksud ucapan Dimas yang menjurus pada moment ciuman pertama mereka di taman ini.
"Nggak, nggak, aku belum cerita kalo yang itu..." suaranya merendah sambil tertunduk menautkan jemarinya.
Tatapan Dimas melembut, lalu tangannya tergerak untuk menyuruh Meila mendekat padanya.
"Kemari, Mei..." Dimas membuka lengannya, menanti gadisnya untuk menghampirinya.
Tanpa pikir panjang, Meila pun menuruti perintah Dimas. Beranjak dari tempatnya duduk lalu menghampiri Dimas dan masuk kedalam rangkulan lengannya yang kokoh.
Ketika Meila sudah masuk kedalam rangkulannya, Dimas merapatkannya lagi agar semakin menempel, merasakan suhu tubuh Meila yang hangat namun sejuk bersisian dengannya.
"Dengar aku," Diletakkannya dagunya ke atas puncak kepala Meila, "Kamu itu sangat polos. Aku nggak bisa ngebayangin kalo kepolosan kamu itu ditunjukkan ke orang lain." Dimas meraih dagu Meila dan mengangkatnya agar menatap padanya. "Dan aku nggak akan ngebiarin orang lain memanfaatkan kepolosan kamu itu. Cukup kamu tunjukkan kepolosan kamu itu ke aku. Karena emang udah seharusnya kamu melakukannya.
Penjelasan Dimas itu bagaikan hipnotis yang tidak bisa Meila bantah. Sambil masih menatap ke arah bola mata Dimas yang tajam nan teduh, tiba-tiba terpaan angin sejuk menghembuskan pepohonan rindang yang mengelilingi mereka. Hembusan angin itu berhasil membuat rambut Meila berantakan dan hampir menutupi sebagian wajahnya.
Refleks Meila mengedipkan mata, menghalau anak rambut yang mengganggu penglihatannya.
Dimas sendiri memandanginya dalam diam, lalu sebelah tangannya bergerak untuk menjumput anak rambut Meila untuk menyelipkannya ke belakang telinga.
"Selain jangan memperlihatkan kepolosan kamu ke orang lain, jangan membiarkan juga orang lain menyentuh dan merapikan rambut kamu yang halus ini. Karena apa? Karena cuma aku yang boleh menyentuhnya, dan aku juga yang akan merapikannya."
Dimas berucap dengan kelembutan tak terkira. Membuat pipi Meila merona seketika dan akan menyembunyikannya ke balik dada Dimas dengan segera. Namun, dengan cepat pria itu menahan dagunya, memaksanya untuk menatapnya sambil menahan rasa dipipinya yang mulai memanas.
"Cantik!" Ucap Dimas seketika. Membuat jantung Meila berdegup kencang mengetuk-ngetuk rongga dadanya.
Oh, ya ampun... kayak ada sesuatu yang menggelitik di perut aku. Rasanya aku pengen teriak sekencang-kencangnya. Tenangkan dirimu, Mei.... tenang....
Karena Dimas tidak tega melihat gadisnya yang terdiam kaku karena ulahnya, dengan perlahan Dimas membawa Meila kedalam dekapannya yang secara otomatis Meila langsung menenggelamkan wajahnya ke dada Dimas.
"Kamu itu bikin gemas kalo lagi panik dengan muka memerah kayak gitu." Ucap Dimas sambil menggerakkan bibirnya ke puncak kepala Meila untuk menghadiahkan kecupan singkat disana.
Meila sendiri tampak tersenyum dalam dekapan Dimas, disertai lengan yang bergerak melingkar memeluk pinggang Dimas. Tiba-tiba ingatan akan ucapan Dimas tentang akan adanya sesuatu berbeda pada pertunjukan di taman ini teringat kembali, membuatnya dengan cepat menengadahkan wajahnya untuk menatap Dimas.
"Kak Dimas, tadi kamu bilang... akan ada sesuatu? Sesuatu apa?" Tanpa bisa menahan rasa penasarannya, Meila bertanya kembali agar Dimas kali ini mau memberi tahunya. Tapi dugaan Meila salah, Dimas masih tetap menyembunyikannya sebagai kejutan untuk Meila sampai waktunya tiba nanti.
"Kamu akan tahu nanti.." jarinya mencolek ujung hidung Meila dengan gemas, "tunggu aja saat waktunya tiba." Rupanya Dimas masih mau berteka-teki.
"Tapi...." belum sempat Meila melanjutkan kalimatnya, Dimas sudah menaruh jemarinya ke atas bibir Meila, membuatnya secara refleks menghentikan sanggahan yang akan keluar dari bibir manisnya.
Perlahan mata Dimas terarah untuk menatap ke arah jam tangan miliknya, membaca waktu yang tersisa menuju senja di penghujung acara.
"Kurang dari satu jam lagi, kamu akan tau nanti." Ucapnya kemudian sambil menghadiahkan kecupan mesra ke atas kening Meila. Membuat gadis itu terdiam seketika dengan segala pertanyaan yang ada dibenaknya.
Melihat Dimas yang masih saja berteka-teki padanya, membuat Meila semakin ingin mengetahuinya segera. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya untuk saat ini, dirinya hanya bisa menunggu sampai waktu di penghujung acara nanti.
●●●
"Kamu mau mencoba wahana kereta gantung itu?"
Airin dan Bryant sedang berada ditempat terpisah dari Dimas dan Meila. Setelah tadi Bryant kembali dengan membawa sekantung umpan untuk memberi makan ikan-ikan kecil di kolam, Bryant mengajak Airin mengelilingi taman untuk mencoba wahana lainnya.
Seakan memberi izin, Dimas dan Meila kompak untuk mengompori Airin jika didalam sana, ada beberapa wahana memacu adrenalin yang sesuai dengan karakter Airin yang tomboy itu. Tanpa pikir panjang, Airin langsung mengiyakan dan memberikan umpan ikan yang ia pegang ke tangan Meila, lalu langsung beranjak pergi bersama Bryant sambil berkeliling taman.
Dan disinilah mereka, berdiri didepan papan petunjuk arah besar yang memperlihatkan wahana permainan yang cukup ekstrim berketinggian hanya berkisar 5 sampai 10 meter menjulang tinggi.
Memang, diantara wahana yang memacu adrenalin hanya beberapa saja, diantaranya roller-coster yang hanya memiliki ketinggian 7 meter dan kereta gantung yang memiliki ketinggian paling tinggi hingga 10 meter dari tempat mereka berpijak.
Airin menoleh, membentuk senyum simpul yang Bryant sudah tahu pasti apa arti dari senyumnya itu. "Mau banget, kak!"
Namun, sedetik kemudian wajahnya berubah serius tampak seperti sedang berpikir.
"Tapi... Meila bilang tadi, akan ada pertunjukan kembang api di penghujung acara nanti. Dan di waktu senja menjelang petang. Sekarang kurang dari satu jam lagi waktu senja akan tiba. Apa kita nggak akan telat?"
Bryant tersenyum, lalu memandang ke arah Airin. "Naik kereta gantung itu nggak akan memakan waktu lama, Rin. Kita pasti akan menyaksikan pertunjukan kembang api itu." Ujarnya.
Wajahnya kembali sumringah, sambil setengah melompat kegirangan. "Baiklah, kalo gitu. Ayo, kita coba wahana memacu adrenalin itu." dan tanpa sadar, tangannya menarik tangan Bryant untuk mengikutinya. Sedangkan Bryant, yang sempat tercengang karena sikap Airin, hanya memandanginya dari belakang dan menatap tangannya sendiri yang saat ini sedang digenggam oleh Airin dengan senyum terkembang dibibirnya.
Kali ini Bryant merasa yakin, dirinya memang sudah jatuh ke dalam pesona cewek tomboy seperti Airin yang tidak pernah terpikirkan olehnya.