A Fan With A Man

A Fan With A Man
Masalah Berat



"Jadi maksud kakak, kak Dion itu mungkin punya niat buruk?"


"Iya. Aku akan secara terang-terangan bilang ini ke kamu. Karena nggak ada gunanya juga aku menahannya." Tangan Dimas bergerak menggenggam tangan Meila dengan menangkup seluruh tangannya yang kecil. "Kamu ingat apa yang pernah aku bilang beberapa hari lalu saat kita pulang dari pesta?"


Meila langsung mengangguk saat dia mengingatnya.


"Kakak bilang, aku nggak perlu mendekat bahkan mengenalnya lebih jauh. Aku hanya perlu mewaspadainya. Begitu?"


"Good. Tepat sekali! Tapi sekarang, bukan hanya waspada. Kamu perlu untuk menjaga jarak darinya. Sebab, aku nggak akan main-main kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu." Dimas mengultimatum dengan sikap yang sedikit tegas namun tetap lembut. Mengimbangi sikap polos Meila yang mendominasi agar mudah dicerna dengan oleh pikirannya yang polos.


"Okay, aku akan melakukannya. Haahh... Sebenernya aku emang nggak mau berurusan bahkan sampai satu mobil dengannya. Tapi, aku nggak bisa menolak saat dia memaksa."


"Aku tau. Aku tau sifat kamu." Dimas menyela dengan nada membela.


"Tapi aku janji itu yang terakhir. Karena aku juga merasa nggak nyaman saat didekati. Aku merasa seperti akan ada bahaya yang datang kalau aku bersamanya, kak."


Kedua mata Dimas membulat mendengar kata 'bahaya' yang keluar dari mulut Meila. Dia juga ingin memberitahu gadis itu tentang catatan hitam Dion menyangkut tindakan pelecehan terhadap seorang perempuan. Tetapi, dia belum memiliki cukup bukti. Itu tidak cukup hanya dengan mengetahui informasi dari James saja. Dia perlu bukti akurat dan juga konkret. Kalau perlu, bukti catatan kriminal dari kepolisian akan dia cari untuk membuktikan kejahatannya.


Ekspresi Meila berubah antusias. "Kamu tau, saat aku berada satu mobil dengannya kemarin, aku terus memegangi gagang pintu mobil dengan kencang. Jadi, kalau misalkan ada kejadian buruk nggak terduga, aku bisa langsung keluar meskipun dalam kondisi mobil sedang melaju."


"Jangan. Jangan lakukan itu!" Kalimat cegahan dari ekspresi Dimas yang tidak dapat terbaca membuat kedua mata Meila membelalak. "Jangan lakukan hal ekstrim apapun jika itu akan melukai kamu. Mulai sekarang kamu hanya perlu menjauhinya. Karena aku akan berusaha melakukan apapun agar kamu merasa aman tanpa harus merasa dihantui siapapun atau apapun. Kamu mengerti, kan, sayang?"


Meila menatap Dimas dengan seksama. Dimas pun menatap Meila dengan wajah serius dan tatapan dalam. Menandakan jika Dimas tidak akan main-main untuk memberikan perlindungan dan pengamanan bagi dirinya.


Entah mengapa setelah mendengar kata-kata menenangkan Dimas, Meila jadi ingin memeluknya. Merasakan kehangatan laki-laki itu tanpa harus ditutup-tutupi.


Meila akhirnya menghambur ke dalam pelukan Dimas. Mencari ketenangan dan kehangatan di dalam dekapan pria yang selalu memperlakukannya dengan lembut sejak pertama hingga detik ini. Pria yang selalu sabar meski dia merengek ketakutan tanpa tahu batasan. Pria yang juga selalu mengerti semua yang dia inginkan tanpa harus meminta. Pria yang selalu memenuhi segala kebutuhan maupun keinginannya dengan menanyakan lebih dulu hal-hal terkecil sekalipun.


"Iya. Aku janji. Aku mengerti, kak." Ucap Meila saat memeluk Dimas. "Tolong ingatkan aku kalau aku berbuat salah. Aku akan berusaha buat memperbaikinya." Sambuungnya kemudian sembari menenggelamkan wajahnya ke bahu Dimas.


Mendengarkan suara Meila di dekat telinganya itu bagaikan sebuah alunan lembut yang sangat enak didengar. Suaranya yang lembut bercampur dengan napas hangatnya yang menyentuh permukaan kulit. Dimas hanya perlu mengeratkan dekapannya dan menghadiahkan kecupan ke pelipis Meila sebelum kemudian menyahutinya dengan kata-kata menenangkannya yang khas.


"Aku percaya kamu sepenuhnya. Kamu cukup dengan menjauhinya aja. Selebihnya, aku nggak akan meminta apapun dari kamu kecuali itu  menyangkut soal keamanan dan keselamatan kamu." Dimas memberikan kecupan sayang ke sisi wajah Meila dengan penuh perasaan. Memeluknya dengan erat seperti sedang menyalurkan ketenangan.


"Kamu tau aku sangat menyayangimu, kan?" Dimas berbisik lembut dengan mata terpejam. Dirasakannya anggukan Meila dibahunya dibarengi dengan lingkaran tangannya yang mengetat seolah tidak ingin pergi darinya.


●●●


Begitu Sisil masuk kamar, disaat bersamaan ponselnya berdering. Suara dering panggilan masuk yang ponselnya dia letakkan di atas tempat tidur membuatnya bergegas untuk mengambilnya. Mulutnya berdecak tatkala melihat nama si penelepon di layar ponsel.


"Dia lagi? Mau ngapain lagi sih!" Gerutunya.


Meski begitu, tak urung Sisil mengangkat panggilan itu dan langsung menyapa dengan nada jutek khasnya.


"Ada apa lagi?"


"Tahan, nona. Kenapa kamu selalu ketus setiap aku meneleponmu?" Tanya James dengan nada heran.


Sisil mendengus heran. "Ya harus apalagi emangnya? Apa aku harus bersikap manis padamu?"


Terdengar kekehan James di seberang telepon yang membuat Sisil heran.


Apa laki-laki ini gila? Kenapa dia tertawa?


"Tadinya aku mau menanyakan keadaanmu. Apakah kamu menelan makananmu dengan benar setelah merasakan hangover tadi pagi? Tetapi... setelah mendengar suaramu yang ketus itu sepertinya kamu sudah baik-baik saja." Pungkasnya kemudian.


"Kamu pikir aku semabuk apa sampai aku nggak bisa menelan makananku dengan benar? Aku cukup berpengalaman untuk bisa mentralkan alkohol dengan cepat."


"Yaa... mungkin bisa dibilang begitu. Tapi, kalau dilihat semalam sih sepertinya nggak seperti yang kamu ucapkan." Kekeh James seperti meledek.


"Apa maksudmu ngomong begitu?"


"Oh, rupanya kamu nggak mengingatnya. Syukurlah. Karena, kalau kamu mengingatnya pun.... kamu akan merasa malu." Jawab James dengan kalimat teka-teki.


Hah? Kenapa gue harus malu? Emang gue berbuat apa sampai harus merasa malu? Pria ini benar-benar....


"Ah, baiklah. Aku rasa cuma itu yang perlu aku pastikan. Istirahatlah. Jangan pergi ke tempat itu lagi kalau kau sedang memiliki masalah. Jangan berfikir untuk selalu menyelesaikan masalah dengan alkohol. Karena itu bukannya membantu, tetapi malah akan menambah masalah." James berbicara menasihati. Sisil yang mendengarnya hanya diam tak bersuara. "Aku tutup teleponnya." Sambungnya kemudian.


"Tu-tunggu..."


Disaat James akan menutup panggilan telepon, Sisil menahannya agar tidak memutus panggilannya dulu. Dan James pun bingung keheranan.


"Ada apa? Ada yang mau kamu sampaikan?"


"Emmm... itu...." Sisil tampak masih ragu dan bingung harus bagaimana mengucapkannya. Karena, rasa gengsi dalam dirinya saat ini lebih besar dibanding rasa kesal. Dia mengingat ucapan Adrian tentang James yang bilang kalau dirinya menginap di rumah teman tanpa memberitahu sedikitpun kondisinya. Dia rasa, dia perlu untuk mengucapkan kata terima kasih pada James meski dia tau, pria itu akan merasa besar kepala setelah mendengarnya.


"Mmm... t-terima kasih karena kamu nggak bilang ke papa kalau aku pergi ke tempat itu. Tap-tapi... kamu jangan merasa besar kepala dulu. Bukan berarti dengan aku bilang terima kasih kamu menganggap kalo aku suka sama kamu, ya!? Kamu itu tetap pria yang suka mengambil kesempatan, suka tebar pesona dan juga sok tau!"


"Udah bicaranya?" James menyergah dengan nada mengejek namun tetap santai. Lalu terkekeh geli saat akan berucap lagi. "Nona, kamu itu terlalu berfikiran buruk terhadap seseorang. Lagi pula, aku nggak pernah bilang kalau kamu menyukaiku, kan? Kamu yang terlalu menyimpulkan sendiri tentang pendapatmu mengenai orang lain."


Sisil terdiam mendengarkan James. Bisa Jamss bayangkan jika saat ini Sisil pasti sedang membuka mulutnya lebar-lebar karena kesal dengan ucapannya.


"Dan mengenai semalam, aku cuma nggak mau om Adrian dan tante Riana merasa terpukul melihat kondisi putrinya. Aku hanya berusaha agar mereka tenang. Dan agar kamu juga nggak kepikiran jika nanti mereka akan memarahimu habis-habisan saat mengetahui putrinya pulang dengan bau alkohol yang menyengat dalam keadaan tidak sadar karena mabuk."


Benar! James memang benar. Seharusnya Sisil memikirkan itu sebelum melakukannya. Dia sudah berjanji untuk berubah. Tetapi, kenapa dia malah membuka peluang untuk menceburkan diri ke kebiasaan lamanya lagi?


Pikiran Sisil berkecamuk. Perasaannya berubah kalut sampai tidak sadar jika dia sudah mengepalkan tangannya ke atas dada dengan perasaan bersalah saat mengingat orang tuanya.


"Halo, Sisil? Kamu masih disana?"


James menyapa saat tidak mendengar tanggapan dari Sisil. Dia berushaa memastikan jika lawan bicaranya masih mendengarkannya dengan baik.


"Kalau aku bilang, aku memiliki masalah dan itu adalah masalah paling berat dan nggak akan mungkin bisa terselesaikan. Apa kamu percaya?"


Kedua mata James membulat sempurna. Dia tidak mengerti dengan sifat Sisil yang suka berubah-ubah. Tetapi, tak urung James tersenyum saat akan menanggapi pertanyaan Sisil.


"Nggak ada masalah yang ngga bisa diselesikan di dunia ini. Masalah seberat apapun, akan memiliki penyelesaiannya sendiri. Tinggal bagaimana kita menghadapinya dan menyelesaikannya. Memangnya masalahmu seberat apa sampai nggak bisa diselesaikan?"


Jawaban sekaligus pertanyaan James kali ini entah mengapa membuat perasaan Sisil sedikit tenang sekaligus takut. Takut kalau pria seperti dirinya, akan menilainya sebagai perempuan murahan yang rela menjajakan tubuhnya kepada sembarang pria. Tetapi entah karena jawabannya itu, atau cara bicaranya yang begitu meyakinkan, Sisil merasa seperti masih ada sedikit harapan meskipun itu hanya setipis benang.


"Sisil? Kamu lagi kesulitan?"


"A-ah, sudahlah. Lupakan! Aku cuma asal bicara. Aku tutup dulu teleponnya. Aku mengantuk."


Karena tidak mau James semakin jauh berpikiran tentang dirinya, akhirnya Sisil menghentikan topik pembicaraannya dengan nada suara yang kikuk dan sedikit terbata. Dan tidak lupa juga menyelipkan nada ketusnya yang khas di akhir kalimat.


Setelah sambungan telepon itu terputus, Sisil memejamkan matanya dan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Menenangkan dirinya dengan menarik napasnya berkali-kali.


"Lo salah, James! Masalah gue ini benar-benar nggak bisa diselesaikan dengan cara apapun."


Sementara Sisil berusaha menenangkan diri, James sendiri sedang merasa bingung namun sedikit tertarik.


Sebenarnya apa masalah perempuan itu sampai dia berfikir tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara apapun itu?


James pun menggelengkan kepalanya dan memilih untuk tidak memikirkannya. Tetapi, sekeras apapun dia berusaha, rasanya tetap sulit meski dia sudah berusaha untuk pura-pura tidak tahu apa-apa tanpa perlu memedulikannya.