A Fan With A Man

A Fan With A Man
Tolong Ceritakan



"Ayo, sekali lagi."


Dimas tampak menyuapi Meila dengan telaten. Melihat makanan yang dibawakan oleh Henry tidak disentuhnya sedikitpun, hal itu sudah cukup menjadi jawaban jika Meila belum makan malam.


"Udah,.."


Setelah sendok terakhir berhasil masuk ke mulutnya, Dimas tersenyum lega. Bubur yang dia buat setengah jam yang lalu akhirnya berhasil dihabiskan.


Ya! Bubur. Dimas sengaja membuatkan semangkuk bubur agar Meila dapat mencerna lebih mudah. Itu juga akan membantu menghangatkan perutnya yang sedang tidak enak.


"Sekarang diminum susunya selagi masih hangat." Lalu memberikan segelas susu hangat untuknya setelah meletakkan mangkuk kosong ke atas meja.


Mereka masih berada di ruang utama. Setelah penjelasan panjang lebar dan adegan saling minta maaf antara keduanya, Dimas lantas meminta Meila untuk duduk diam di ruang utama sementara dirinya membuatkan bubur untuk mengisi perut Meila yang kosong karena belum terisi oleh makan malam.


"Kak, kapan kamu sampai rumah? Kenapa nggak bangunin aku?"


"Aku sengaja nggak bangunin kamu karena aku tau kamu lagi kesakitan. Benar, kan?"


Sebelah alis Meila mengernyit bingung. Lalu, melihat eskpresi Meila yang seolah-olah sedang bingung karena ucapannya, Dimas lalu mendekatkan wajahnya ke depan telinga Meila dan berbisik disana.


"Tamu bulanan," bisiknya dengan suara sangat pelan. Seakan-akan takur ada seseorang yang akan mendengarnya.


Pipi Meila merona mendengar bisikan Dimas. Dan tentu saja membuat Dimas tertawa hingga gemas dengan sendirinya. Dimas lalu menatapnya dengan dalam. Memandangi kedua matanya sampai membuat Meila tersipu dan mengalihkan pandangannya sendiri.


"Jangan tatap aku kayak gitu. Muka aku rasanya panas." Meila berujar dengan kalimat tertelan.


Dimas tertawa renyah mendegar ocehan Meila. "Kalau gitu aku bisa mengigitnya kalau udah matang."


Meila membelalak kaget dengan wajah yang semakin merah padam karena godaan Dimas.


"Ih, kak Dimas!" Imbuhnya sambil memukul pelan dada bidang Dimas yang langsung disambut gelak tawa pria itu.


Meila lalu mengingat sesuatu tentang dari mana Dimas mengetahui kalau dirinya sedang dalam masa periodenya. Apa mungkin dia menghitungnya?


"Tapi... kakak tau dari mana kalau aku lagi ada kedatangan... 'itu'?" Meila tidak menyebutkannya. Melainkan hanya menekankan kata 'itu' sebagai pengganti kata-kata yang dimaksudkannya.


"Airin meneleponku."


"Airin?" Meila membeo dengan ekspresi terkejut.


Dimas pun mengangguk. "Airin meneleponku saat aku sedang memeriksa hasil rapat. Dia bilang, kalau dia berusaha menelepon kamu tapi nggak ada jawaban. Dia jadi khawatir hingga akhirnya menelepon aku untuk menanyakan kabar kamu."


Meila akhirnya mengingat sesuatu. Dia mengingat kata-kata Airin tadi yang memintanya untuk segera meneleponnya begitu sudah sampai rumah. Dan karena rasa sakit perut yang tidak berhenti dan juga memikirkan kemarahan Dimas padanya, akhirnya dia lupa dan meninggalkan ponselnya di kamar.


"Astaga! Aku lupa untuk mengabarinya." Meila berujar kaget. "Pantes aja dia menelepon kakak karena aku nggak mengangkat panggilannya."


Dimas terkekeh. Lalu menyentuh dagu Meila dan mencubitnya gemas. "Nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu udah di rumah dan baik-baik aja, kan?"


Meila memberikan senyuman manisnya sebagai bentuk jawaban. Dan untuk menandakan jika dia setuju dengan perkataan Dimas.


●●●


Setelah selesai mengompres, Beno langsung membalut luka-lukanya dengan perban yang telah ditetesi dengan obat antiseptik pencegah infeksi. Lalu membebatnya dengan kuat agar tidak terbuka dan terkontaminasi dengan bakteri sehingga menimbulkan infeksi.


"Gara-gara laki-laki itu, gue harus ngerasain sakit karena pukulan dan tendangannya." Gerutu Beno disertai geraman diantara tulang-tulang gerahamnya yang mengetat. 


"Awas aja lo, Sisil. Gue nggak terima dengan semua ini. Lo tunggu aja sampai gue sembuh. Karena gue nggak akan tinggal diam dengan semua hinaan yang lo berikan ke gue!"


Sambil mengepalkan tangannya, Beno terlihat sedang menaruh dendam dalam ekspresinya. Ekspresi yang tidak terbaca seperti sedang menyimpan sebuah rencana jahat yang akan mulai disusunnya dengan rapi.


●●●


"Kenapa makanannya nggak dimakan? Aku sengaja menyuruh Henry untuk membawakan makan malam itu buat kamu."


Ekspresi Meila berubah lesu. Sambil meletakkan gelas susu yang masih tersisa sedikit, Meila menjawab pertanyaan Dimas dengan jujur.


"Aku nggak nafsu makan. Lidah aku terasa pahit dan perutku juga nggak enak. Aku juga kepikiran sama kak Dimas yang masih marah. Gimana bisa aku makan tapi pikiran aku ke kamu?" Lalu memberengutkan bibirnya sembari melanjutkan kalimatnya. "Sedangkan aku belum benar-benar berhasil ngasih penjelasan ke kamu dengan benar."


Dimas tertawa renyah mendengar pengakuan polos dan jujur dari Meila. Dia lalu mencubit sayang hidung mungil perempuan itu dan mengelus-elus pipinya lembut.


"Kamu tau, perkataan kamu yang terlalu jujur itu bisa bikin semua pria salah faham."


Meila mengernyitkan alisnya kebingungan. " Kenapa salah faham? Emang aku salah ngomong?"


"Tuhkan, baru aja dibilangin udah mulai lagi." Dimas lalu meraih kedua tangan Meila dan meremasnya lembut. "Pokoknya, jangan terlalu jujur di depan orang lain terutama pria. Mengerti?"


"Termasuk kamu?" Meila balik bertanya dengan nada mengejek. Sedang mencoba menjahili Dimas.


Dimas tersenyum lembut disertai kekehan ringan. "Nggak kamu lakukan pun aku tetap tau. Kapan kamu jujur dan kapan kamu menyembuyikannya." Lalu menatap Meila lekat-lekat sambil melanjutkan kalimatnya kembali. "Karena cuma aku yang paling tau cara memperlakukan kamu dengan benar."


Dimas lalu memberi kecupan lembut ke tangan Meila. Tepat ke atas permukaan lukanya.


"Aku juga minta maaf karena udah marah dan mendiami kamu kayak tadi. Aku nggak bermaksud menakuti kamu, Mei. Aku hanya mau kamu menjauhi laki-laki itu." Dimas menatap Meila dalam-dalam. Dan Meila merasakan sesuatu yang mengganjal ketika Dimas dengan terang-terangan menyuruhnya untuk menjauhi Dion.


"Maksud kakak... untuk menjauhi kak Dion?" Meila bertanya hati-hati sambil memperhatikan perubahan reaksi di wajah Dimas.


Dimas tak menjawab pertanyaan Meila itu. Namun dia terus menatapnya lekat-lekat seperti sedang menahan sebuah perasaan.


"Kak, apa ada sesuatu yang kamu tau tentang kak Dion?"


Karena ingin tau dan tidak tahan dengan sikap diam Dimas, akhirnya Meila bertanya dengan spontan.


"Kalau aku bilang, aku mempunyai sebuah rahasia besar mengenai Dion, apa kamu mau mendengarnya? Mungkin ini akan sedikit membuat kamu merasa terganggu sampai harus membangkitkan rasa trauma itu." Dimas membaca reaksi Meila tanpa mengedipkan kedua matanya sedikitpun.


Tubuh Meila menegang seketika. Dan tangannya yang masih digenggam erat oleh Dimas tampak tidak nyaman hingga basah berkeringat. Namun Dimas bisa melihat jika Meila sedang berusaha sekuat tenaga untuk tetap kuat di depannya. Dan genggaman tangan Dimaslah yang benar-benar membuatnya kuat hingga akhirnya memberanikan diri untuk menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan Dimas.


"Ka-kalau memang... aku harus tau,... to-long, tolong ceritakan semuanya, kak. Karena aku juga merasa nggak nyaman saat didekatnya." Imbuh Meila kemudian dengan tatapan dalam dan bola mata yang jernih.