
Perkuliahan pun dimulai. Semua mahasiswa mengikuti mata kuliah masing-masing dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Ada yang mendengarkan dengan serius, ada pula yang hanya mengamati sambil mencatat, ada pula yang hanya mendengarkan layaknya angin lalu.
Sampai jam istirahat datang, semuanya mulai keluar satu persatu. Tak terkecuali Meila dan para anggota senat lainnya yang sedang berada di ruangan kerja mereka begitu waktu istirahat tiba. Semuanya terlihat fokus pada tugas masing-masing, pun dengan Dimas yang sedang menatap ke arah laptop di depannya sambil sesekali mencuri pandang mengawasi Meila dengan perasaan cemas.
Sejak Meila merasakan sakitnya tadi pagi, Dimas mulai merasa khawatir. Takut-takut jika rasa sakit itu muncul tanpa ada dirinya di dekat Meila. Maka dari itu pandangannya tidak pernah sedetikpun lepas darinya.
"Semuanya, gue butuh beberapa orang buat menata buku-buku yang baru datang ke perpustakaan. Gue butuh dua sampai tiga orang buat merapikannya. Karena jumlah buku yang datang lumayan banyak juga."
Suara Rendy tiba-tiba memecah konsentrasi para anggota lainnya. Semua yang menunduk, mengangkat kepalanya pada satu titik, yaitu sang ketua, Rendy.
"Yaudah kalo gitu aku aja yang akan ke perpustakaan." Suara Vika menawarkan diri.
"Aku ikut,"
"Gue juga,"
Diikuti dengan suara Meila dan Airin yang berbarengan. Sontak membuat Dimas menoleh ke arah gadisnya, mengawasi Meila dengan seksama yang sedang memasang senyuman khasnya.
Meila langsung menyadari jika Dimas sedang mengawasinya sambil memasang sikap ketidaksetujuan di wajahnya dengan dahi yang mengerut.
"Kak, aku nggak apa-apa." Ucapnya meyakinkan. "Lagipula ada kak Vika dan Airin juga di sana. Kamu tau kan, kalo aku suka ke perpustakaan?"
Tatapan Dimas berubah lembut diikuti desahan ringan. Lalu dia memajukan tubuhnya pada Meila dan menjawab.
"Okay. Tapi jangan lakukan pekerjaan terlalu berat. Hm? Kalo kamu ngerasa tubuh kamu mulai nggak enak dan rasa sakit itu datang, kamu harus langsung istirahat. Hentikan pekerjaan apapun itu. Mengerti?"
Dimas berusaha memberikan persetujuannya dengan kalimat paling lembut. Dan hal itu membuat Meila senang hingga tidak lupa untuk memberikan senyuman manisnya.
Meila mengangguk dengan semangat. "Thank you...!" Sahutnya dengan suara paling pelan dan nyaris berbisik. Terdengar manis.
Sampai Dimas harus membalasnya dengan sebuah senyuman disertai kedipan mata.
"Yaudah, kalo gitu kita ke sana sekarang biar cepat selesai. Gimana?"
Ucap Vika sambil menoleh kearah Airin dan Meila secara bergantian.
Lalu menolehkan kepalanya kepada Rendy seolah meminta izin.
Terlihat Rendy tersenyum lembut yang disertai anggukan kepala. Mereka bertiga akhirnya beranjak dari kursi dan mulai melangkah berjalan keluar. Tapi, saat Meila akan melangkah, tiba-tiba Diimas menahan tangannya dan berdiri, lalu membawa tangannya bergerak ke atas untuk mengusap kepala Meila dengan sayang.
"Ingat apa yang aku bilang, ya?" Ucap Dimas mengingatkan sampai membuat Meila sedikit merasa malu dan merona karena perlakuan hangatnya.
Rendy pun tidak segan-segan berdehem dengan sengaja. Namun pria itu langsung mendapatkan tatapan isyarat peringatan dari Vika.
"Tenang, Dim. Ada kita yang akan jagain Meila." Seolah mengerti yang Dimas maksudkan, Vika menyahutinya dengan nada meyakinkan. Airin pun ikut mengangguk setuju.
Setelahnya, setelah Meila menganggukkan kepalanya pada Dimas dan meninggalkan ruangan itu, Rendy baru memberanikan diri untuk bersuara.
"Bukan tanpa alasan lo kayak gitu, Dim. Ada apa sama adek gue hari ini?"
Dimas menarik napasnya dalam dan menghembuskannya. "Pagi ini... dia kesakitan karena luka jahitan di perutnya itu." Mendengar pengakuan Dimas membuat Rendy mengangkat alisnya, "gue udah menawarkan untuk dia izin hari ini biar gue bisa ajak dia periksa ke dokter." Dimas memulas senyuman, menaikkan sudut bibirnya. "Tapi lo tau sifat adek lo itu. Dia memohon sama gue dengan wajah memelas yang nggak pernah bisa buat gue tolak. Dan rencananya, kita memutuskan akan check-up setelah pulang kuliah nanti."
Mendengar pernyataan Dimas, Rendy tersenyum sebelum kemudian terdiam sejenak.
Keduanya beradu pendangan. "Semoga aja nggak terjadi apa-apa." Sahut Rendy penuh arti.
●●●
Sisil berjalan melewati lorong koridor dengan wajah celingukan. Dia sedang mencari Meila untuk memberikan cheese-cake titipan ibunya karena harus menghadapi kuis di jam mata kuliah pertama. Semenjak dia memulai perkuliahan kembali, dia memutuskan untuk berpindah jurusan namun tetap di fakultas yang sama.
Sisil berniat untuk menemui Meila ke ruang senat, namun dia berpikir tidak mungkin gadis itu ada di sana. Jika memang iya, pasti akan ada banyak orang terutama Dimas dan Rendy yang sangat mengenal dirinya sejak kejadian itu. Dan itu membuat Sisil malas dan mengurungkan niatnya kembali. Tetapi, ketika dia akan berbelok menuju kelasnya lagi, dia melihat adanya kerumunan yang melibatkan banyak orang keluar masuk perpustakaan dengan wajah yang panik.
Hal itu memancing keingintahuan Sisil untuk berjalan ke arah perpustakaan dan mencari tahu apa yang terjadi. Dia membawa kakinya melangkah dengan cepat, pun dengan setengah berlari.
Melihat ada beberapa orang yang berkerumun di depan pintu perpustakaan yang dibuka lebar, matanya sudah membelalak sempurna dengan mulut yang menganga.
"Astaga! Apa yang terjadi di sini?" Ucapnya dalam hati. "Dan itu.........."
Belum sempat dia melanjutkam kalimatnya, tubuhnya sudah menerobos kerumunan dengan paksa. Dia melihat Meila dan Vika sudah terkapar di lantai sambil memasang wajah kesakitan. Meila yang memegangi perutnya, dan Vika yang kesakitan pada area kakinya karena tertimpa rak buku. Entah bagaimana kejadiannya rak buku itu benar-benar roboh dan menimpa mereka. Padahal, baru kemarin dia mengingatkan Meila untuk tidak menaruh buku di sana demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti saat ini.
Suasana pun menjadi berisik, hiruk pikuk kerumunan pun semakin menambah sesak ruangan itu. Tapi yang lebih menyedihkannya, belum ada yang mau membantu mereka demi menyingkirkan rak yang menimpa. Hal itu membuat Sisil geram dan kesal.
"Kalian! Ngapain pada diam aja! Cepetan bantuin angkat rak itu!"
Sungutnya marah dengan suara meninggi. Namun tindakannya itu berhasil memaksa yang lainnya bergerak cepat untuk membantu mengangkat rak yang nyaris menutupi jalan yang menghubungkan antar lorong rak lainnya.
Seorang anggota senat junior berlari tergesa-gesa menuju ruangan. Dengan napas yang tersengal, dia berhenti tepat di depan pintu itu dan membukanya dengan kasar, membuat Dimas dan Rendy yang berada di dalamnya menoleh dengan cepat penuh atisipasi.
"Kak, gawat! Salah satu rak buku di perpustakaan kita roboh dan........."
"Vika!"
Belum sempat anggota itu menyelesaikan ucapannya, Dimas dan Rendy langsung bisa menerka dengan wajah yang diselimuti kepanikan. Sontak mereka berlari dengan cepat menuju tempat kejadian untuk melihatnya secara langsung.
Dan benar saja, kecemasan Dimas dan Rendy semakin menjadi saat melihat kerumunan yang menutupi pandangan mereka. Keduanya menerobos kerumunan dan langsung menghampiri Meila dan Vika yang masih terduduk lemas di lantai sambil menahan kesakitan.
Dimas mendekati Meila sambil berjongkok. "Mei, apanya yang sakit, hm? Perut kamu?" Tanyanya dengan cemas. Tangannya meraih serta merangkul Meila dengan rapat.
"Vika, kamu nggak apa-apa?" Sama halnya pada Rendy yang bertanya dengan kecemasan yang nyata pula.
"A-aku... aku nggak apa-apa. Cuma kaki aku aja yang sedikit terkilir." Sambil melirikkan matanya ke arah Meila. "Tapi.... Meila... dia sepertinya sangat kesakitan,"
"....kak Dimas...." Melihat Dimas didekatnya, air mata Meila tidak dapat terbendung lagi. Sambil menahan sakitnya, dia menangis tersedu-sedu di tengah tenggorokannya yang tersekat sambil memegangi perutnya yang terasa semakin sakit dan perih layaknya dikuliti.
Tanpa berpikir panjang, Dimas langsung mengangkat Meila ke dalam gendongannya. Wajahnya semakin cemas saat melihat noda darah yang menghiasi bajunya.
"Ren, gue harus bawa Meila ke rumah sakit, sekarang!" Ucapnya sambil lalu. Kemudian bergegas berlari menerobos kerumunan mahasiswa yang mengerumuni.
"Okay. Gue sama Vika akan nyusul. Lo duluan aja bawa Meila." sahut Rendy sembari membantu Vika berdiri dan memapahnya berjalan.
Sepanjang jalan menuju halaman parkir Dimas berlari tergesa-gesa sambil berusaha membuat Meila agar tetap sadar.
"Bertahanlah, Sayang. Kita akan ke rumah sakit sekarang. Ya? Aku mohon bertahanlah sebentar aja."
"P-perut aku... s-sakit, kak..." jawabnya dalam isakan. Wajahnya pun mulai memucat disertai derai air mata yang terus bercucuran.
"Kamu akan baik-baik aja. Kamu dengar aku? Kita akan segera ke rumah sakit. Aku mohon... tetaplah sadar, Mei."
Dimas dapat memahami jika Meilanya amat sangat kesakitan. Maka dari itu dia langsung membawa Meila ke kursi kemudi sambil merebahkan kursinya. Lalu, menancapkan mobilnya dengan cepat untuk segera sampai ke rumah sakit agar Meila mendapatkan pertolongan dengan cepat pula.
●●●
30 Menit sebelumnya...
"Mei seharusnya kamu nggak perlu ikut kita ke sini, wajah kamu keliatan pucat. Pantas Dimas sangat mengkhawatirkan kamu. Apa kamu sakit?"
Sambil menasihati Meila yang sedang memilah buku yang akan diletakkan ke atas rak, Vika tampak khawatir dengan wajah Meila yang mulai kehilangan rona merah pada permukaan kulitnya.
"Iya sih, Mei. Harusnya lo istirahat aja kalo emang lagi sakit. Biar gue sama kak Vika yang ngerjain ini." Airin ikut bersuara. Dia sendiri sangat amat menyadari kondisi Meila yang tampak lemas dan sedikit pucat.
Mendengar Airin dan Vika yang sangat perhatian itu, Meila tersenyum seraya menyahuti.
"Sebelumnya, terima kasih atas perhatian kalian buat aku. Tapi aku nggak apa-apa, kok. Aku cuma kelelahan aja hari ini. Lagipula, aku bosen di ruangan senat terus. Kalo di sini aku bisa baca apapun yang aku mau." Sergahnya sambil berusaha tersenyum ceria.
Airin berdecak ringan, "lo tuh ya, selalu aja ngejawab. Gue denger ucapan kak Dimas tadi buat lo. Pokoknya, kalo badan lo udah ngerasa nggak enak, lo harus istirahat, jangan dilanjutin lagi tugasnya. Biar gue sama kak Vika aja yang ngerjain semuanya. Iya kan, kak?"
Vika membalas perkataan Airin dengan senyuman diikuti anggukan kepala.
Meila pun ikut tersenyum lembut, "siap, kakak." sahut Meila dengan semangat dan sedikit godaan.
Setelahnya, Meila langsung membawa beberapa buku di tangannya menuju rak. Lalu, dia mengingat jika rak yang akan ditempati adalah rak yang sudah rapuh, dan Sisil sudah mengingatkannya kemarin. Dia baru saja akan mengatakannya pada Airin dan Vika untuk tidak meletakkan buku-bukunya pada rak itu. Namun, tiba-tiba perutnya sakit lagi hingga membuatnua kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh.
Sedangkan di saat yang bersamaan, seorang siswa datang dan tanpa sengaja meletakkan buku pada rak yang rapuh dan keropos. Dan Meila tidak menyadarinya. Tapi, merasakan perutnya yang kesakitan seperti itu membuat buku-buku yang ada di tangannya terjatuh berserakan ke lantai. Hal itu sontak membuat Airin dan Vika menoleh padanya.
"Mei kamu kenap........pa?" Suara Vika menggantung lalu merendah di akhir kata saat melihat rak buku yang membelakangi Meila akan menimpa tubuhnya. "Mei, Awas!"
Sambil berteriak, Vika langsung beranjak dan refleks menarik tangan Meila agar terhindar dari reruntuhan rak.
Meila tersungkur, sedangkan Vika, kakinya terkilir karena tertimpa bongkahan ujung rak yang jatuh karena gagal untuk menghindar.
"Meila! Kak Vika!" Airin ikut berteriak panik, seolah sedang mengundang orang-orang untuk datang.
Alhasil, keduanya sama-sama berteriak 'mengaduh' hingga membuat seisi ruangan kisruh. Semuanya berdatangan, mengerumuni mereka karena ingin tahu apa yang baru saja terjadi.
Meila merasakan perutnya yang sakit. Dan kali ini lebih sakit dari sebelumnya. Tangannya refleks menyentuh perutnya, meremasnya, dimana terdapat bekas luka jahitan. Kepalanya pun menunduk, dan dari situlah indera perabanya langsung dapat merasakan jika ada sesuatu yang basah di sana.
Matanya membelalak sempurna disertai kepanikan yang nyata.
"D-darah...."
Matanya berkaca-kaca, dia terus mengaduh kesakitan sampai tidak berdaya untuk mengaduh lagi. Rasa sakitnya begitu menyesakkan, sampai dia harus sekuat tenaga mengatur napasnya perlahan.
Keringat dingin pun mulai bercucuran, matanya mulai berkunang-kunang. Dan disaat itulah Sisil datang, menerobos kerumunan dengan paksa, dan melihatnya sedang kesakitan.
Disusul oleh Dimas, sang malaikat penolongnya yang selalu datang untuknya, yang selalu membuatnya tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, entah itu rasa sakit, kebahagiaan, kesedihan, bahkan air mata sekalipun.