A Fan With A Man

A Fan With A Man
Mengajak Keluar



Waktu telah berganti pagi. Berbeda dengan semalam, keheningan yang membungkus suasana dinginnya malam kini berubah menjadi hangatnya sinar mentari yang menyelimuti dua insan yang saling berpelukan dalam lelap.


Setelah percakapan penuh makna semalam, keduanya tenggelam dalam suasana masing-masing hingga jatuh tertidur beralaskan sofa besar di ruang utama. Meila yang langsung terlelap dalam dekapan Dimas seolah enggan untuk beranjak kembali ke kamarnya dan malah memilih melanjutkan tidur di atas sofa besar ruang utama bersama dengan Dimas disampingnya.


Begitupun dengan Dimas, seakan tak ingin menjeda waktu kedamaian yang tercipta diantara mereka, dia membiarkan gadis itu terlelap dalam dekapannya dan memposisikan dirinya untuk bersandar pada kepala sofa sambil dengan membawa gadis itu tertidur dalam pelukannya.


Dimas mengerjap, membuka matanya perlahan dan menariknya dari kabut yang masih berkumpul di pelupuk matanya. Dirinya langsung menyadari keberadaan gadisnya yang masih bergelung manja dalam peluknya. Seketika bibirnya membentuk senyuman, diangsurkannya bibirnya untuk memberikan kecupan ke pelipisnya, mengecupnya berkali-kali sebelum kemudian mengusap lengannya lembut sambil sedikit menekan agar semakin rapat.


Seakan tidurnya merasa terganggu, dengan mata yang masih terpejam rapat, Meila bergeliat manja sambil menggumamkan sesuatu yang tak jelas dari bibirnya, berusaha menolak gerakan apapun yang mengganggunya.


Dimas pun lagi-lagi tersenyum, diangsurkannya kembali bibirnya untuk mengecup sisi pipi Meila dekat dengan telinga, lalu merangkulnya lagi.


Meila pun menggeliat kembali, kali ini dia mulai menyadari jika saat ini dia sedang dalam rengkuhan lengan Dimas yang kokoh. Keningnya pun berkerut dalam sebelum kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya terbuka.


Pemandangan pertama yang langsung disuguhkan adalah wajah Dimas yang sangat dekat sedang tersenyum kepadanya. Menggulirkan jemarinya untuk mengelus pipi Meila yang kenyal, menyentuh kulitnya. Meila tersenyum disela-sela matanya yang masih terasa lengket sampai dirinyalah yang lebih dulu berucap kata.


"Selama pagi," dengan suara serak, Meila lebih dulu menyapa begitu mata bulatnya menangkap sosok Dimas didepannya.


Tangan Dimas bergerak, menyusuri wajah Meila sebelum kemudian mengusap anak rambut gadis itu ke belakang kepala, lalu menangkup wajahnya.


"Selamat pagi," tangannya bergerak menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. "Tidur kamu nyenyak semalam?" Sambung Dimas kembali dengan nada memastikan,


Kepalanya menengadah, menempatkan dagunya ke dada bidang Dimas sebagai penyangga. "....iya....," jawabnya malu-malu dengan suara hampir tak terdengar. Sikap Meila yang seperti itu tak luput dari pandangan Dimas, membuatnya mendaratkan bibirnya ke dahi Meila untuk menghadiahkan kecupan singkat disana.


Mata Dimas melirik ke arah jendela kaca yang tirainya sedikit terbuka, lalu menatap kembali ke arah Meila sebelum kemudian menawarkan sesuatu padanya.


"Cuacanya cukup cerah hari ini. Aku berencana untuk mengajak kamu keluar," ucap Dimas dengan nada misterius, memancing rasa ingin tahu Meila.


"Mengajak keluar?" Bola matanya membesar, mendorong rasa ingin tahunya yang tak bisa ditutupi.


"Ya." Lalu sebelah alisnya terangkat seolah menelisik, "kamu nggak mau kita keluar?" Tanyanya membalik keadaan.


Seketika kening Meila berkerut dalam, lalu menggelengkan kepalanya cepat namun sedetik kemudian tersadar jika Dimas pasti salah mengartikannya. "Eh, maksud aku... mau, kak." Lalu merubah jawabannya kembali secepatnya menjadi anggukan kepala tegas disertai tatapan antusias. Sambil menyerukan jawabannya disertai nada memohon yang kental.


Sambil tersenyum, Dimas beranjak duduk dengan gerakan perlahan, lalu menghela tubuh mungil Meila yang ringan untuk ikut duduk berdampingan dengannya.


"Setelah ini mandilah, lalu bersiap. Aku akan buatkan sarapan dan juga  bersiap-siap." Bibirnya bergerak untuk menghadiahkan kecupan ke pipinya, lalu beringsut dari tempatnya duduk untuk berdiri lalu membungkukkan tubuh sebelum kemudian berkata lagi,


"Kita juga akan pergi ke suatu tempat," bisiknya dengan nada misterius tepat di depan wajah Meila.


Seolah tidak ingin membiarkan Meila untuk bertanya lagi, dengan cepat Dimas langsung menegakkan tubuh dan membalikkan badan dengan senyum misterius dibibirnya, melenggang pergi meninggalkan Meila dengan wajah bingung namun juga penasaran.


●●●


Airin tampak gusar sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru bandara yang masih tampak lengang. Sambil mendudukkan bokongnya pada sebuah kursi, dengan ditemani secangkir teh hangat yang menguarkan aroma harum dan masih mengepul yang sekitar 15 menit lalu dipesannya.


Dan disinilah mereka, Jakarta. Mereka telah sampai di Bandara dengan mengambil jadwal keberangkatan dinihari.


Seolah sedang menunggu, Airin lagi-lagi menolehkan kepalanya ke arah loket tempat Bryant menyelesaikan beberapa berkas keberangkatan mereka. Ketika dilihatnya Bryant yang tampak selesai dan mulai berjalan menghampirinya, seketika matanya langsung membulat setengah mengerling kesenangan.


"Udah, kak?" Tanya Airin begitu Bryant menghampirinya sambil beringsut bangun dari tempatnya duduk.


"Udah, nih.." jawab Bryant sambil melambaikan berkas ditangannya ke udara.


"Kalo gitu, Ayo kita ke rumah kak Dimas. Aku nggak sabar pengen denger semua cerita dari Meila." Serunya antusias diselipi ketidaksabaran.


Bryant terkekeh sambil menggelengkan kepala, "sabar, Rin... kita akan kesana, kok. Lagipula... ini juga masih terlalu pagi, jadi nggak mungkin mereka nggak ada dirumah." Jelasnya santai dengan dibumbui senyum ironi.


"Iya juga sih, tapi kan...."


"Oke... oke... aku ngerti maksud kamu." Tanpa Airin duga, tangan Bryant terangkat dan mengusap rambutnya dengan gerakan mengacak, membuat Airin mendadak salah tingkah dibuatnya.


Dengan kepala setengah tertunduk, Airin menatap malu-malu ke arah Bryant yang menunduk kepadanya. Tampak tawa renyah belum hilang dari bibirnya.


"Ayo kita pergi. Kita ketemu sahabat kamu," Bryant sedikit menekankan di akhir kalimatnya. Lalu, dengan gerakan perlahan namun pasti, ditariknya tangan Airin ke dalam genggamannya, menghelanya perlahan untuk berjalan bersisian bersamanya dalam langkah ringan, sambil menyatukan jemari mereka dalam nuansa damai yang tak bisa diungkapkan.


Seolah Airin yang tidak bisa menolak, mengikuti begitu saja dengan menyamakan langkah sambil sesekali mencuri tatap ke arah Bryant yang berjalan dengan tegap, sambil memasang senyum ramah meneduhkan yang membuat jantungnya berdegup tak terkendali.


●●●


Dengan perlahan, Meila menyeret kakinya menuju kaki ranjang dengan masih mengenakan jubah mandi berwarna putih sambil mengusap rambut kepalanya yang masih basah. Kemudian ingatan tentang Dimas yang akan mengajaknya keluar teringat kembali, didorong oleh rasa penasaran dan juga antusias, tak henti-hentinya otaknya berpikir dan bertanya-tanya kemana Dimas akan membawanya pergi hari ini.


Mengingat ucapannya yang terlalu misterius yang mengatakan bahwa dirinya akan mengajak Meila ke suatu tempat.


Seolah mengusir rasa penasaran yang tidak terjawab, Meila mengangkat bahunya acuh disertai gelengan kepala. Namun ,tidak menghilangkan rasa bahagianya yang terpancar dari wajahnya.


Berusaha menghentikan pikirannya, Meila berjalan menuju lemari untuk mengambil baju yang akan dipakainya nanti. Ketika tangannya baru akan meraih gagang pintu lemari, sebuah ketukan dari arah pintu menghentikan gerakannya seketika.


"Mei, sarapannya udah siap. Mau aku bawakan atau......" itu suara Dimas, suara berat namun tegas yang teredam dibalik pintu.


Belum sempat Dimas menyelesaikan kalimatnya, disaat itulah pintu kamar terbuka dan langsung menampakkan sosok mungil yang sedang membingkai senyuman padanya, yang tenggelam dalam jubah mandi yang dipakainya.


Berkebalikan dengan Meila yang langsung menyambutnya dengan sebuah senyuman, Dimas sendiri terpaku dan hampir terperangah dibuatnya. Padahal, ini adalah kali kedua dirinya melihat Meila mengenakan jubah mandinya. Setelah kemarin, dia juga telah memeluk gadis itu dari belakang ketika masih mengenakan jubah mandinya. Tapi, kali ini terlihat berbeda, mungkin juga karena dia langsung melihat dengan jelas dan dengan jarak dekat hingga gadis itu tampak terlihat imut dan menggemaskan. Sedangkan kemarin, mungkin Dimas tidak terlalu memperhatkan dengan seksama.


Dimas bergerak maju, melangkahkan kakinya memasuki kamar Meila sambil mendorong tubuh gadis itu perlahan. Lalu, sebelah kakinya bergerak untuk menutup pintu dengan sedikit rapat.


Tangannya merengkuh pinggang Meila, menariknya agar mendekat padanya.


"Kamu terlihat imut dan menggemaskan dengan jubah mandi ini," ucapnya setengah berbisik. Dimajukannya wajahnya ke arah pipi dekat telinga untuk mencium aroma lembut dari bayi yang menyenangkan itu, "dan juga.... wangi. Aku suka wanginya." Tak lupa Dimas menghadiahkan kecupan ke pipi Meila hampir mendekati rahang, hingga Meila merasakan geli dan sedikit bergerak untuk menghindar.


Meila terkekeh, menepuk dada bidang Dimas dengan ringan.


"Aku kan abis mandi, kak." Jawabnya cepat disela-sela tawanya.


Tawa Meila pun menular, pria itu ikut terkekeh dengan mata menyusuri setiap inci wajah Meila hingga tatapannya berhenti pada satu titik yang sangat menggoda, yaitu bibir ranum tipis berwarna merah muda segar yang jika dikecup akan terasa manis.


"Bibir kamu selalu membuat aku tergoda untuk tidak memberikan kecupan," ibu jarinya bergerak, mengusap bibir itu dengan gerakan lembut tak terkira. "Apa aku boleh... mencicipinya?" Sambung Dimas kembali diselipi nada sensual.


Meila terdiam, diselimuti dengan tanda tanya dalam hatinya.


Kenapa kak Dimas harus bertanya dulu ketika akan memberikan kecupan dibibirnya? Seolah ini adalah kali pertama untuknya memberikan kecupan? Padahal, tanpa bertanya pun dan tanpa menunggu reaksinya, pria itu dengan sendirinya bergerak maju dan.....


Membayangkan itu semua, seketika membuat pipinya merona sambil menahan malu luar biasa. Dengan perlahan, gadis itu menundukkan kepala untuk menyembunyikan pipinya yang memerah dan terasa panas.


Jemari Dimas menarik dagu Meila perlahan, memaksanya agar kembali menatapnya.


"Apa itu artinya.... boleh?" Tanyanya perlahan sekaligus wajah yang semakin mendekat. Lagi-lagi, Meila tak menjawabnya, gadis itu hanya menatap sambil tersipu malu yang langsung diketahui Dimas arti dari sikapnya itu.


Perlahan tapi pasti, dimajukannya wajahnya, tangannya pun mengikuti, merengkuh pinggang Meila dan memeluknya posesif. Wajahnya semakin mendekat, hanya sejangkauan lagi bibirnya akan mendarat ke atas bibir ranum itu. Namun tiba-tiba...


"Ah! Aww...." suara rintihan yang sedikit meringis itu terdengar begitu saja, membuat Dimas dengan cepat menghentikan wajahnya dan langsung memasang wajah cemas.


"K-kamu kenapa? Perut kamu sakit? Perlu aku pangggilkan dokter kesini?" Tanya Dimas dengan segala kepanikan yang nyata. Membuatnya dengan perlahan menghela tubuh Meila dan mendudukkannya di tepi ranjang.


Dengan tangan masih memegangi perut dan wajah menahan sakit, Meila berusaha menarik napas untuk meredakan rasa nyeri diperutnya.


"A-aku nggak apa-apa, kak... nggak perlu panggil dokter, kok..." Dengan mata terpejam disertai dahi yang mengkerut, Meila tampak menarik napas berulang-ulang dan menghembuskannya. "...mungkin aku banyak bergerak sampe lupa kalo jahitan diperut aku baru aja kering." Sergahnya lagi diselipi senyum getir.


"Kamu yakin?" Tanya Dimas memastikan dan dengan tatapan yang tak luput dari gadisnya.


Tanpa bersuara, Meila mengangguk mengiyakan sambil berusaha menekan rasa sakitnya yang perlahan mulai menghilang. Namun, didetik kemudian, seketika ingatan jika Dimas bisa saja akan membatalkan rencana untuk mengajaknya pergi muncul begitu saja, membuatnya dengan cepat mengangkat kepalanya dengan wajah bertanya-tanya.


Tangannya yang tadi memegangi perutnya, bergerak dengan cepat memegang pergelangan tangan Dimas, menggoyangkannya sedikit sebelum kemudian menanyakan sesuatu yang mengganggunya.


"Kak Dimas, kamu nggak akan membatalkannya, kan? Iya, kan...?" Tanya Meila dengan wajah memelas penuh permohonan. Membuat tatapan Dimas melembut sekaligus tangannya terangkat untuk menangkup kedua sisi pipi Meila, membentuk senyuman misterius namun meneduhkan.


"Kak Dimas... jangan batalkan itu... Aku mohon, kak...." ucapnya lagi dengan bola mata besar penuh permohonan, layaknya anak kucing yang meminta elusan dari sang majikan.


Mendengar permohonan manja dari gadis yang dicintainya, serta tatapan dari mata polos yang sudah pasti membuat Dimas tidak mempu untuk menolaknya. Namun, Dimas memilih untuk tidak menjawabnya, dia hanya melengkungkan senyuman penuh makna di wajahnya.


Dengan perlahan, wajahnya bergerak maju untuk menghadiahkan sebuah  kecupan mesra ke atas bibir Meila. Ciuman itu mendarat sempurna, mengecupnya perlahan dengan sedikit memberikan cecapan ringan disana.


Setelah beberapa detik ciuman itu tercipta, Dimas lebih dulu melepaskan bibirnya tanpa mengatakan sesuatu, dengan sekejap langsung menarik Meila kedalam pelukan, mendekapnya kedalam rengkuhan lengannya yang kokoh, menenggelamkannya ke dada bidangnya, memberikan kecupan ke puncak kepala gadisnya, sebagai jawaban atas pertanyaannya yang tadi belum terjawab oleh Dimas.