
Mereka baru saja sampai di depan rumah Meila. Agak meleset sedikit dari perkiraan, mereka akhirnya pulang agak sore menjelang malam karena menunggu hujan reda terlebih dahulu. Tidak ada pembicaraan apapun yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan tadi, Meila yang masih memakai jacket Dimas hanya menolehkan kepalanya keluar jendela sambil menatap lampu-lampu jalanan menjulang tinggi yang mulai menyala satu persatu.
Sesekali Dimas melirik ke arah Meila, untuk memastikan bahwa gadis itu sudah tidak apa-apa. Sampai didetik ketika Dimas melirikkan lagi matanya untuk yang kesekian kali, didetik itulah Meila menolehkan pandangannya ke arah Dimas tanpa sengaja, membuatnya tersipu malu mengingat adegan yang baru saja terjadi diantara mereka.
Meila menundukkan wajahnya, kemudian menautkan jari-jari tangannya untuk mengusir rasa malunya. Hal itu tidak lepas dari perhatian Dimas, dia meraih tangan Meila dan menautkan jemarinya pada sela-sela jemari gadis itu, serta mengeluskan jari jemari itu dengan lembut.
Meila dapat merasakan permukaan tangan Dimas yang hangat, sangat kontras dengan tangannya yang mulai dingin. Dia menolehkan kepalanya, menatapnya dan berusaha mengukirkan senyumnya, Dimas pun ikut tersenyum lembut padanya.
Dan sinilah mereka, didepan rumah besar Meila dengan halaman luas dan penghijauan yang asri.
Dimas keluar terlebih dulu, memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Meila. Meila pun keluar dari mobil, melangkah maju dan membiarkan Dimas menutup pintu kembali.
Dimas merapatkan jacket yang membungkus tubuh mungil Meila. "Kamu baik-baik aja?" Tanya Dimas untuk memastikan.
Meila menghirup udara dan menghembuskannya kembali, "I'm feeling better now, kak.. Thank you very much!" Meila tersenyum tulus.
Dimas ikut tersenyum, kemudian memajukan wajahnya hingga ke depan telinga dan berbisik disana. "Anything for you, love!"
Setelahnya Dimas langsung mengalihkan matanya pada Meila, memastikan wajah gadis itu yang pastinya akan merona karena godaannya. Dan benar saja, rona merah langsung memulas tulang pipinya. Dimas terkekeh, menangkup wajah Meila dan sedikit mendongakkan kepala gadis itu. Dimas memajukan sedikit tubuhnya kemudian menundukkan kepalanya, dan mencium kening Meila dengan lembut disana.
"Kamu istirahat, okay?! Jangan dipikirin lagi.." Dimas menyelipkan anak rambut Meila ke belakang telinga.
"Besok aku jemput!" Ucap Dimas bagai ultimatum yang tidak bisa ditolak.
Meila hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh. Dia sudah tidak bertenaga lagi untuk menyanggah pernyataan Dimas. Dirinya juga sudah lelah karena mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menangis tadi.
"Selamat malam, kak.."
"Selamat malam." Dimas tersenyum sambil mengelus pipi Meila sejenak, sebelum kemudian melepaskan tangannya dari pipinya.
Setelahnya Meila masuk dengan membawa jacket Dimas di tubuhnya. Jacket yang terasa hangat. Hangat seperti pelukan Dimas untuknya.
โโโ
Meila baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Dirinya merasa lebih segar setelah mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat di bawah guyuran shower. Rambutnya masih setengah basah, dia mengeringkan rambutnya asal dan duduk di bangku meja riasnya.
Dia membayangkan peristiwa sebelumnya, dirinya tidak pernah menduga kalau dia bisa mengeluarkan begitu saja air matanya dan menumpahkannya begitu saja tanpa ditahan-tahan lagi. Dia tersenyum ironi didepan kaca riasnya, dan di waktu yang sama tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan adanya pesan yang masuk.
Dia beranjak dari bangku menuju kasurnya yang tertata rapi belum ditiduri. Dia mengambil posel itu dan membukanya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Dan ternyata Dimas lah yang mengiriminya pesan.
*Kak Dimas :
"Aku gak berharap kamu bales pesan ini. Dengan kamu baca pesan dari aku, berarti kamu udah baik-baik aja.
Jangan membebankan pikiran kamu dengan hal-hal negative, jangan berfikir hal-hal aneh yang hanya akan membuat perasaan kamu down. Ada aku yang akan selalu support kamu, meluangkan waktu untuk kamu, kapanpun. Sesulit apapun kamu, mengadu lah sama aku.
Oiya, satu lagi.. Jangan tidur terlalu malam, jangan begadang, okay?! "
~~ Good Night, manis! ~~ โก*
Meila melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dia bersyukur telah dikelilingi oleh orang-orang baik yang sangat mengerti dirinya. Terutama pria-pria seperti Dimas dan Rendy. Dia tampak menggerakkan jari-jarinya, mengetikkan sebuah kalimat dalam bentuk kata-kata untuk membalaskan pesan yang dikirimkan oleh Dimas.
Tampak ditempat lain Dimas sedang bersandar pada tiang-tiang balkon yang kokoh, tepat didepan kamarnya yang luas dengan perpaduan nuansa putih dan coklat tua, sambil sesekali menyesap secangkir teh hangat untuk mengusir hawa dingin sehabis hujan mengguyur begitu deras.
Dia masih menggenggam ponselnya. Sebelah tangannya lagi memegang secangkir teh untuk menyesapnya. Tepat saat Dimas mendaratkan bibirnya pada bibir cangkir untuk menyesap kehangatan dari aroma harum berwarna coklat keemasan itu, didetik itulah ponselnya berbunyi menandakan adanya pesan masuk. Dia melepaskan bibirnya dari bibir cangkir itu dan meletakkannya pada sebuah meja kecil disana.
Dia membuka ponselnya dengan sebuah kode kunci rahasia yang hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya. Dilihatnya sebuah nama yang sedang dipikirkan olehnya, dibukanya pesan itu dan tidak lama kemudian terbentuklah sebuah senyuman hangat dari bibirnya.
Sweet Meila :
"Sebelumnya aku mau bilang terima kasih untuk hari ini.. Terima kasih juga untuk waktu-waktu sebelumnya yang udah kak Dimas luangkan buat aku. Aku baik-baik aja. Mungkin ucapan terima kasih ini masih belum sepadan dengan apa yang kamu lakuin buat aku. Dan... aku janji, malam ini gak begadang๐ Sekali lagi, terima kasih untuk semua perhatian kamu buat aku.. Good night too, kak! :)"
Dimas menipiskan bibirnya, tak mampu untuk mengekspresikan rasa bahagianya saat itu juga. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini ketika dengan seorang wanita. Atau mungkin... Meila lah gadis pertama yang sudah berhasil menyentuh hatinya serta membuatnya rela melakukan hal sekecil apapun demi membahagiakan gadis itu.
Gadis ini, meski hanya percakapan dalam bentuk pesan, energi dari sikap cerianya bisa dia rasakan meski sudah terpisah jarak cukup jauh darinya.
Dia menggenggam ponselnya erat-erat, kemudian seulas senyum terukir dibibirnya dengan penuh tekad.
"I will do anything as promised, honey!" Dimas menggumamkan kalimat itu dengan penuh janji. Dengan tekad bulat tanpa ada keraguan dalam hatinya.
โโโ
"Pokoknya kali ini gue gak mau ada kesalahan lagi. Cukup kemarin aja cara kerja lo yang gagal."
Sisil bersedekap, melangkah maju pada Beno. Mereka saat ini sedang berada disebuah gudang besar yang cukup gelap dan sudah lama tidak pernah dikunjungi lagi oleh pemiliknya. Sisil memutuskan untuk bertemu dengannya dan menghubunginya dengan sangat mendesak hingga membuat Beno mau tak mau harus menurutinya.
Beno hanya duduk terdiam di sebuah kursi yang bisa dibilang cukup usang untuk ukuran kursi kayu yang mulai agak reyot. Dia mengangkat wajahnya, mengamati Sisil yang mulai mondar mandir didepannya seakan menahan amarah.
"Tapi pake cara apa lagi, Sil? Kita udah berusaha untuk menyabotase data-data penting di laptop mereka kemarin."
Beno memajukan tubuhnya, menumpukan sikunya pada kedua lututnya.
Sisil tampak tersenyum licik ketika menatap ke arah Beno yang sedang menatapnya heran. Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan pria itu.
"Lo masih terobsesi sama cewek yang udah buat lo di D.O dari kampus itu, kan?"
Pertanyaan Sisil sontak membuat kilatan tajam di mata Beno menyala. Seketika senyuman jahatnya muncul bersamaan dengan kilatan rasa dendam yang menumpuk di hatinya. Dia masih mengobsesikan gadis itu, sudah cukup lama dia tidak melihat Meila secara langsung. Dan sekarang sudah saatnya dia untuk muncul lagi dihadapan gadis itu.
Dia tiba-tiba membayangkan wajah Meila yang akan sangat terkejut melihat kehadirannya kembali didepan wajahnya secara langsung.
Dia membayangkan wajah cantik Meila yang bercampur dengan rasa takut dan keterkejutan yang nyata hingga menjadi satu nantinya. Saat-sata itu akan sangat menyenangkan, bukan?
Beno mengangkat kepalanya ke arah Sisil, kemudian senyuman jahat dan licik menguar dari wajahnya.
"Kayaknya gue gak perlu repot-repot lagi buat ngejelasin ke lo. Lo udah cukup tau apa yang harus lo lakuin!"
Sisil mengucapkan kalimat itu dengan penuh isyarat mata pada Beno. Dia bisa menangkap rencana apa yang akan Beno lakukan nantinya untuk mengusik ketenangan Meila yang selama ini hanya bisa merebut hati banyak orang dengan wajah lugunya itu.
"Of course! Lo gak perlu susah-susah buat mikir lagi. Kali ini.. biar gue yang bertindak."
Beno mengucapkan kalimat meyakinkan itu pada Sisil. Seolah sedang mengucapkan janji untuk melakukan hal terbaiknya pada sang majikan yang mendesaknya untuk melakukan tugas penting dengan ide-ide gila meski sampai diluar nalar sekalipun.
"Deal!" Beno menyambut tangan Sisil dengan penuh semangat dan siap melakukan tugasnya tanpa ragu lagi.
โโโ
Seperti biasa, Dimas sudah berada di depan gerbang rumah Meila sambil menunggunya keluar dari rumahnya. Sebenarnya hari ini masih belum ada sistem perkuliahan yang padat seperti biasanya. Namun, jika menyangkut dengan Meila, dia selalu bersemangat lain dari sebelumnya.
Dia melihat jam di tangannya, kemudian berganti menatap pintu utama yang masih tertutup rapat belum ada tanda-tanda sang pemilik rumah akan keluar.
Memang, class meeting masih berlaku sampai beberapa hari kedepan. Tapi dia merasa ingin cepat melihat gadis manisnya itu dan menatapnya lekat-lekat sampai membuat gadis itu tersipu malu. Tiba-tiba dia teringat kembali ketika pipi Meila yang telah merona karena godaannya. Dia tersenyum, hampir terkekeh sendiri di dalam kabin mobilnya yang hanya dia tempati seorang diri.
Tangannya bergerak merogoh saku jeansnya, mengambil benda pipih dari sana dan berniat untuk menghubungi Meila sekali lagi kalau dirinya sudah berada di luar pintu gerbang untuk menjemputnya dan sedang menunggunya.
Tepat saat dia akan menempelkan ponsel itu pada telinganya, didetik itulah pintu utama terbuka menandakan sang pemilik rumah keluar. Dan benar, Meila lah yang keluar dari sana. Dia memasukkan ponsel itu kembali ke sakunya, sedangkan bibirnya membentuk senyuman yang nyata. Dengan segera, Dimas keluar dari mobilnya untuk menyambut Meila dengan sambutan hangat layaknya sang pangeran menyambut tuan putrinya.
Hal yang sama pun terjadi pada Meila, sambil sesekali menyunggingkan senyum canggungnya, lebih tepatnya memasang wajah bersalahnya, terlihat langkahnya tergesa-gesa seperti sedang mengejar sesuatu. Dia kesiangan hari ini, padahal semalam dia tidak begadang dan langsung beranjak tidur setelah menutup percakapannya dengan Dimas.
"Maaf kak.. Aku kesiangan tadi!" Ucap Meila dengan muka bersalah ketika langkahnya terhenti didepan Dimas.
Dimas menyipitkan matanya kemudian terkekeh padanya.
"Itu tandanya kamu tidur dengan nyenyak, kan?" Sambar Dimas menyahuti pernyataan Meila.
Memang benar, semalam Meila tidur tanpa merasakan lagi perasaan sesak didadanya akibat menahan trauma dan rasa takutnya selama ini. Senyumnya mengembang menghiasi wajah cantiknya pagi ini. Tanpa bertanya lagi, Dimas sudah tahu senyuman itu menandakan sebuah jawaban dari pertanyaannya.
"Kenapa kamu gak nanya semalem aku begadang atau nggak?" Meila bertanya kembali pada Dimas yang sedang menatapnya lekat-lekat.
Dimas memajukan tubuhnya, mengangkat tangannya untuk menangkup wajah Meila.
"Karena aku percaya sama kamu." Dimas berbisik didepan wajah Meila kemudian mengecup keningnya singkat.
Meila tersentak dengan sikap Dimas yang tiba-tiba langsung mengecup keningnya tanpa aba-aba. Dia sadar betul kalau mereka sedang berada diluar rumahnya sekaligus di jalanan luar komplek yang bisa langsung dilihat orang yang berlalu lalang disana.
"Kak Dimas...!" Meila menolehkan kepalanya waspada. Takut-takut ada yang telah melihat mereka tadi.
"Apa, sayang?" Dimas semakin senang menggoda Meila dengan wajah panik dan muka memerah karena menahan malu. Ditambah lagi dengan ucapan Dimas yang menyebutkan kata 'sayang' semakin membuat pipi Meila merona karena godaannya.
"Nggak akan ada yang liat kita. Kalaupun ada, emangnya kenapa? Nggak masalah buat aku." Dimas berucap dengan nada mengejek yang kental.
Meila memberengutkan wajahnya, menatap Dimas dengan rasa ingin tahu.
"Kenapa sih kak, kamu tuh orangnya terang-terangan dan to the point banget? Sedangkan aku aja sadar banget selalu cuek sama kamu selama ini." Meila bertanya sambil memasang wajah rasa ingin tahunya. Menatap Dimas lekat sambil menunggu jawabannya dengan mata polosnya.
Dimas terkekeh, gemas dengan sikap Meila yang memang benar-benar sangat polos dengan pertanyaannya itu.
"Kalau bisa to the point buat apa harus disembunyiin lagi? Lagi pula... aku juga sadar akan kecuekan kamu selama ini. Tapi aku lebih memilih cuek juga dan gak mau menanggapi hal itu. Karena aku yakin, akan ada saatnya nanti semuanya berjalan seperti yang seharusnya." Dimas berucap tenang dengan ekspresi santai.
Tatapan Meila tidak lepas dari Dimas. Dia mengamati Dimas selama pria itu menjelaskan padanya dengan sabar. Dimas pun sama, tatapannya melembut ketika dirasakannya Meila sempat memasang wajah bersalahnya ketika mendengarkan ucapannya tadi.
"Udah... gak usah dipikirin lagi! Kepala kamu yang mungil itu gak akan kuat buat mikir hal-hal yang belum saatnya kamu pikirin." Dimas terkekeh sambil mengacak-acak rambut Meila dengan lembut, sedangkan Meila hanya merengut polos seperti anak kecil.
Kemudian Dimas mengulurkan tangannya, menunggu Meila menyambutnya, "Kita berangkat sekarang?"
Meila menerima uluran tangan itu sebelum kemudian dia menatap ke arah Dimas terlebih dahulu. Tak lupa juga dia memberikan senyuman terbaiknya pada Dimas, yang langsung meremas tangan mungil itu dengan lembut dan tatapan penuh sayang.
โโโ
Mereka sudah sampai di kampus sedikit lebih telat sepuluh menit dari perkiraan awal. Mungkin dikarenakan juga Meila yang kesiangan, ditambah lagi karena jalanan ibukota yang cukup macet di pagi hari karena banyak bermacam-macam orang yang akan beraktivitas untuk memulai hari. Beruntung class meeting masih diberlakukan, jadi mereka tidak perlu cemas akan dimarahi atau diberi sanksi karena keterlambatan mereka.
Mereka melewati koridor demi koridor dengan tangan saling bergandengan sambil sesekali tertawa ringan tanpa adanya rasa canggung dari Meila sendiri. Berbeda dari sebelumnya yang hampir-hampir membuat Meila risih karena tatapan-tatapan para siswa dan siswi yang berlalu lalang melewati mereka. Meila sudah mulai membiasakan diri dan berusaha untuk tidak memperhatikan tatapan orang-orang yang melihat ke arah mereka.
Ketika mereka hampir sampai menuju ruang senat, tiba-tiba Meila menghentikan langkahnya dan secara otomatis juga membuat langkah Dimas ikut berhenti dengan mengerutkan alisnya penuh rasa ingin tahu.
"Kak.. aku mau ke toilet dulu. Kamu duluan aja ke ruang senat, nanti aku nyusul." ucap Meila.
Dimas menatap Meila. "Mau aku anterin?" Dimas menawarkan dengan nada menggoda.
"Kak Dimas!" Tegur Meila memperingati. Sontak membuat Dimas tergelak karena sikapnya.
"Gak perlu, kak.. emang aku anak kecil," Mata Meila mengawasi suasana sekitar. "Lagian... aku malu sama yang lainnya."
Dimas terkekeh, "Okay.. aku tunggu di ruang senat, ya." Ucap Dimas lembut sambil mengedipkan matanya. Meila pun terseyum sebagai jawaban atas perkataan Dimas.
Setelahnya Dimas langsung berjalan kembali menuju ruang senat, begitupun dengan Meila yang langsung memasuki toilet dengan cepat.
Meila baru saja keluar dari bilik toilet sambil mengelap tangannya dengan tisue basah yang ia bawa. Dia menuju wastafel untuk mencuci tangannya kembali dan membilas sisa-sisa tisue basah tadi yang mengandung alkohol di tangannya.
Setelah dia selesai membilas serta membersihkan tangannya dari sisa-sisa alkohol dari tisue basahnya, tiba-tiba ponsel nya berdering ketika dia sedang mengeringkan tangannya di sebuah alat pengering tangan yang ada di dinding toilet.
Dia meraih ponsel itu dari dalam tasnya, sebuah panggilan telepon tanpa menyertakan nomor serta nama. Dia mengerutkan dahinya, jarinya semula ragu untuk menggser tanda hijau dan menjawabnya. Namun kemudian dia memberanikan diri untuk menggeser tanda hijau itu lalu menempelkan ponselnya ke depan telinga.
"Ha-halo?" Meila berusaha mengeluarkan suaranya yang tersekat. Sampai tidak ada sautan dari seberang telepon, dia mencoba untuk berucap kembali. "Halo? Ini... siapa?"
Perasaan aneh mulai merambat naik memenuhi dirinya, Meila memutuskan untuk menutup panggilan itu sebelum serangan paniknya kembali muncul setelah sekian lama berhasil ia kendalikan.
Tepat saat Meila sedang menjauhkan ponsel itu dari telinganya, didetik itulah sebuah suara muncul dari seberang, membuat Meila mengurungkan tindakannya untuk menutup telepon itu.
"Hai, Cantik! Akhirnya gue bisa denger suara lo lagi."
Sapaan itu membuat Meila tersentak dan langsung memundurkan tubuhnya hingga hampir jatuh kalau saja dia tidak berpegangan pada pinggiran wastafel. Nafasnya tiba-tiba sesak, jantungnya berdegub kencang bercampur dengan ingatan menyakitkan yang tiba-tiba muncul kembali dalam ingatannya.
Meila sangat mengenali suara itu. Suara yang membuatnya ketakutan setengah mati dan baru kemarin dia sudah berhasil menangani rasa takutnya. Tapi sekarang, setelah dia mulai bisa menguasai perasaannya dan mulai melupakan rasa takutnya, kenapa suara itu muncul lagi seolah ingin mengusiknya kembali?
"Be... B-beno?"
Dengan suara gemetar dan mata yang berkaca-kaca, Meila berusaha mengucapkan sebuah nama itu dengan pita suara yang mulai tersekat. Tangannya bergetar sambil meremas ponselnya erat-erat, dadanya terasa sesak dengan buliran-buliran keringat yang mulai muncul membasahi dahinya.
Meila menyandarkan tubuhnya pada dinding toilet yang mulai gemetaran sambil berusaha mengendalikan serangan paniknya.
Kenapa dia muncul lagi? Kenapa aku bisa mendengar suara mengerikan itu lagi?
Setelahnya, dengan tanpa izin air mata itu turun kembali membasahi pipi mulusnya sambil membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak pecah sejadi-jadinya.