
Hal pertama yang Dimas lakukan ketika tiba di rumah adalah membawa Meila ke sofa ruang utama dan menyandarkan tubuhnya yang lemas di sana. Lalu mengucapkan sebuah instruksi agar gadis itu diam di tempatnya, menunggu dirinya sampai kembali dari mengambil peralatan kompres untuk lukanya.
Sambil menengadahkan kepalanya ke sandaran sofa, Meila masih menatap dengan pandangan kosong dan sisa air mata yang mulai mengering di pipinya. Kemudian Meila merubah posisinya menjadi meringkuk dengan kedua tangan memeluk lututnya, mengundang siapa saja yang melihatnya menjadi iba dan ingin segera memberikan pelukan dengan sukarela ataupun sebuah kecupan lembut serta belaian sayang ke kepalanya.
Selang beberapa menit, Dimas datang dengan membawa semangkuk air hangat beserta handuk juga sekotak alat P3K. Dimas duduk di samping Meila yang masih saja terdiam lemah tanpa mengucapkan apapun. Dimas pun mengerti, saat ini untuk mengeluarkan sepatah kata saja sudah terlalu lemas untuk gadis itu. Energinya sudah terkuras habis dengan seluruh isakan yang telah dikeluarkan sejak dalam perjalanan dan baru berhenti saat akan memasuki gerbang komplek perumahan.
Perlahan, Dimas memasukkan handuk ke dalam air hangat dan memerasnya. Lalu merengkuh Meila agar mendekat padanya.
"Ini akan sedikit perih. Tahan sebentar, ya." Ucap Dimas lirih disertai kelembutan.
Dengan telaten Dimas langsung mengompres luka cakar dimana terdapat darah yang sudah mengering. Dan benar! Terdengar suara ringisan kecil yang keluar dari bibir yang tampak kering itu sebagai reaksi atas sentuhan yang Dimas berikan. Karena memang, Dimas telah mencampurkan cairan antiseptic ke dalam air kompres itu sebagai pencegahan terjadinya infeksi.
Sesekali Dimas meniupi luka itu agar tidak terlalu perih. Dan aksinya itu membuat Meila tenang dan terdiam kembali. Setelah selesai mengompres lukanya, Dimas memberikan salep untuk membantu menutup luka goresan dari cakaran itu. Salep itu berbentuk seperti pasta gigi, berwarna bening terang dan terasa dingin sejuk di kulit. Dimas yakin kalau Meila pasti akan merasa lebih tenang karena rasa perihnya tertutupi oleh rasa dingin yang menyejukkan.
Ketika Dimas telah selesai, diletakkannya alat kompres itu ke atas meja. Kemudian di tatapnya wajah polos itu. Hatinya bagaikan teriris saat mata tajamnya menangkap raut kesedihan disertai rasa bersalah yang amat tanpa bisa ditutupi. Padahal, beberapa jam sebelumnya mereka telah saling memberikan pernyataan atas perasaan masing-masing dan gadis itu tampak sangat bahagia.
Namun sekarang, gadis itu terlihat menyedihkan dengan air mata yang membekas di pipinya. Menyisakan isakan ringan tanpa suara yang sangat menyesakkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Ditangkupnya wajah sendu itu dekat dengan rahangnya, dan menariknya untuk diberikan sebuah kecupan sayang ke keningnya. Meila pun memejamkan mata, meresapi kecupan Dimas saat menyentuh kulitnya.
"Kamu merasa lapar? Atau mau makan sesuatu untuk mengisi perut kamu?"
Tanya Dimas sambil menggesekkan bibirnya di kening gadis itu.
Dimas sengaja menawarkan Meila sesuatu untuk dimakannya. Karena mengingat gadis itu yang belum mengisi perutnya sejak sore tadi, sejak mereka pergi ke taman. Ditambah lagi, kondisi perutnya yang kosong dan energi yang terkuras habis karena menangis semakin membuatnya lemas dan tampak sedikit pucat.
Dirasakannya Meila tidak menjawab, namun Dimas bisa merasakan hembusan napas hangat Meila yang mengenai lehernya.
"Atau kamu mau hot cokelat? Aku akan buatkan untuk kamu," Tanya Dimas lagi dengan sabar. Dan kali ini sambil menyelipkan anak rambut Meila ke belakang telinga.
Lagi, jika biasanya Meila akan antusias mendengar kata 'hot cokelat', tetapi kali ini sungguh berbeda. Gadis itu menggeleng lemah, tepat di bawah dagu Dimas yang beradu dengan keningnya.
Dijauhkannya Meila darinya, lalu dipandanginya gadis itu lekat-lekat. Ada sinar kecemasan di dalam bola mata jernih dan polos itu. Rasa cemas, takut, bersalah, serta pikiran buruk yang berkumpul menjadi satu dan tercermin di sana.
"Sayang, jangan tutup diri kamu dengan rasa bersalah." Dimas mengucapkan kalimat yang berhasil membuat mata jernih itu menatap ke arahnya. "Jangan biarkan rasa bersalah itu mendominasi diri kamu. Kamu boleh menumpahkan semuanya sama aku. Semua kekhawatiran kamu, rasa gelisah kamu, rasa takut, rasa sakit, apapun itu." Tangannya mengusap pipi itu dengan lembut.
"Ada aku di sisi kamu. Aku selalu bersama kamu apapun keadaan dan kondisi kamu." Sambungnya dengan penuh penekanan.
Kalimat pernyataan Dimas seketika membuat dada Meila bergemuruh. Napasnya memburu disertai dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"A-aku percaya kalo kak Dimas pasti selalu ada buat aku. Aku percaya kalo kak Dimas selalu berusaha bikin aku bahagia dan terhibur. T-tapi.... tapi aku juga tau kalo rasa takut aku ini mungkin berlebihan. Apalagi saat aku mengingat semuanya yang baru aja terjadi di depan mata aku...." Dan kali ini air matanya berhasil lolos lagi. "....a-aku merasa takut, kak. Takut, kalo rasa bersalah aku akan datang dan menghantui aku dalam bentuk mimpi buruk di setiap malam. Takut kalo rasa bersalah ini selalu teringat saat aku nggak mau mengingatnya." Ucapnya menahan isak.
"Aku takut, kak......" ucapnya sendu. Dan kali ini tangisannya pecah kembali dengan segala kesesakan yang tidak bisa ditahan lagi.
"Ssshh... okay, kamu takut. Aku tau. Tapi jangan bebani pikiran kamu dengan semua rasa bersalah itu, Sayang. Berikan diri kamu ruang untuk bisa menempatkan rasa takut itu sebagai pendatang yang hanya singgah sesaat lalu pergi. Dan pastikan jika pendatang itu nggak bisa mempengaruhi diri kamu."
Sambil terisak, Meila berusaha memandang Dimas dengan tatapan sendunya yang berurai air mata.
"Tapi, jika rasa takut itu berusaha menempati ruang dan nggak mau
dihilangkan hingga membuat diri kamu putus asa," Dimas semakin kencang menangkup sisi wajah Meila. Kencang tapi tidak menyakiti. Lalu mengucapkan sebuah janji dengan lantang dan penuh tekad. "Aku sendiri yang akan jadi penghalang untuk membuang rasa takut itu agar nggak bisa menempati ruang dalam diri kamu setitikpun. Aku akan pastikan itu! Kita akan hadapi sama-sama, semuanya! Dan Aku yang akan selalu peluk kamu di sepanjang malam saat mimpi buruk itu datang. Bersandarlah sama aku sepuas yang kamu mau. Jadikan aku sebagai tempat berlindung bagi kamu. Aku selalu ada. Selalu ada untuk kamu."
Pernyataan Dimas membuat Meila semakin terisak. Bukan tanpa alasan, pernyataannya telah mampu membangkitkan perasaan disayangi dan dibutuhkan oleh seseorang. Terlebih lagi, seseorang itu adalah yang sangat menyayanginya, mencintainya tanpa batas dan tanpa syarat apapun.
"Kak Dimas....." Meila berusaha mengeluarkan suaranya, merangkai kata di tengah tenggorokannya yang tersekat, memegang lengan Dimas dengan tangan gemetar. ".....a-aku, aku sayang kamu....." Suaranya serak namun masih bisa didengar.
Tatapan Dimas berubah sayang. "Begitupun aku. Melebihi apapun!" Jawab Dimas pasti disertai penekanan. Dan langsung menciumi gadis itu dengan penuh cinta dan sayang. Keningnya, mata jernih dan polosnya, hidungnya, pipinya, bibir tipis dan manisnya, serta dagunya tak luput dari kecupan yang Dimas berikan.
Lalu, membawa Meila ke dalam pelukan hangatnya. Menciumi rambut halusnya, menghirup aroma bayi yang menguar di sana, memberikan kenyamanan dalam perlindungannya sebagai bentuk rasa sayang yang dimilikinya. Meila sendiri langsung menenggelamkan wajahnya ke dada pria itu ditengah isakan yang tak tertahankan. Dengan tangan yang dilingkarkan ke pinggang Dimas dengan erat, berusaha sekuat tenaga mengatur napasnya yang sesak karena terus-terusan menangis sejak tadi. Namun, apapun masalah yang dihadapinya, jika ada Dimas disampingnya, bersamanya, Meila merasa terlindungi, terjaga, dan jadi yang paling diutamakan oleh pria itu.
Dan tanpa dikurangi sedikitpun, Dimas akan selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman dengan segala perlakuannya.
Dan bagi Meila, itu semua sudah lebih dari cukup jika dibandingkan dengan apapun di dunia ini.
●●●
Belum ada tanda-tanda dari Sisil yang menunjukkan jika perempuan itu akan siuman. Mungkin dikarenakan efek obat bius yang di aliri lewat selang infus di tangannya, hingga membuatnya masih terlelap. Hanya terdengar suara mesin pendeteksi jantung yang berjalan di samping kepala ranjang rumah sakit.
Setelah melakukan pemeriksaan secara intens, sekarang Sisil sudah dipindahkan ke ruang rawat inap agar kedua orang tuanya juga bisa menungguinya dengan nyaman. Tangan wanita paruh baya itu membelai kepala putrinya dengan sayang, menatapnya dengan sendu serta mata berkaca-kaca sambil meratapi kondisi putrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Sisil, cepatlah siuman, nak... mama ingin bicara sama kamu," ucapnya lirih sambil menitikan air matanya, "banyak yang perlu kita bicarakan saat kamu siuman nanti. Maka dari itu.... mama mohon.... cepatlah siuman, nak."
Kalimat permohonan itu bagaikan sembilu yang menusuk di jiwa. Bukan karena sebuah kalimat permohonan yang membuat terenyuh, melainkan permintaan seorang ibu kepada putrinya yang membuat hati siapa saja bergetar karenanya.
Setelah dokter kandungan mengatakan jika Sisil tidak perlu melakukan operasi pembersihan rahim, sang ibu tampak lega. Dikarenakan tidak ada yang mengkhawatirkan dari kondisi rahim putrinya. Sementara sang ayah, lebih memilih berkutat dengan pekerjaannya yang sempat ia tinggalkan karena sibuk mengurus Sisil.
Bukan tanpa alasan sang ayah lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya, tetapi juga karena dirinya yang terlalu memikirkan keadaan putrinya apalagi soal keguguran yang mengejutkannya. Sang ayah berpikir jika akan berbicara dengan tegas dan mendisiplinkan putrinya.
Sudah cukup selama ini mereka menuruti kemauan putrinya. Karena mereka berpikir, jika mereka memenuhi keinginannya, putrinya akan menjadi gadis yang baik dan penurut serta mandiri. Tapi, mereka sudah salah. Salah besar! Dan kali ini, mereka tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Sementara di tempat lain, sekuat tenaga Dimas membuat Meila tertidur setelah lama berpelukan. Pelukan menenangkan yang diberikannya telah membuat Meila tertidur dalam pelukannya. Tadi, saat Dimas mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menenangkan gadis itu, membisikkan kalimat-kalimat menenangkan sebagai penghiburan dari masalah berat yang baru saja dihadapinya, mengecupnya berulang-ulang sebagai wujud rasa sayangnya.
Cukup lama, sampai terdengar suara hembusan napas halus dari gadis itu. Hembusan napas teratur dari wajah polos yang disayanginya. Dibawanya Meila ke dalam gendongannya untuk dibaringkan di atas tempat tidurnya agar lebih nyaman. Namun, kali ini Dimas tidak membawanya ke kamar gadis itu, melainkan ke kamarnya sendiri dengan tujuan agar lebih mudah menjangkaunya.
Diselimutkannya gadis itu dengan perlahan, dibelainya rambut itu dengan sayang, ditatapnya sejenak dengan pandangan lekat sambil menyeka sisa air mata yang sudah mengering di kedua pipinya sebelum kemudian mengucapkan kata selamat malam untuk kekasihnya yang terkasih.
"Selamat malam, Sayangku."
Ucapnya pelan sambil berbisik. Dikecupnya pelipis Meila dengan penuh perasaan, dibiarkannya gadis itu tenggelam dalam hangatnya selimut yang
membungkus tubuh mungilnya dalam tidur malamnya.
●●●
Seorang wanita tampak sedang menyeruput secangkir mocca latte di sebuah balkon rumahnya. Wanita itu terlihat anggun dengan potongan sweater oversize dan celana beggy pants berwarna senada. Wanita itu duduk bersandar di kursi, mengambil selembar foto di meja dan di angkatnya ke udara.
Dipandanginya foto itu dengan mata berbinar. Sambil mengulas sebuah senyum getir di bibirnya, dan mengusap foto itu dengan gerakan perlahan.
"Aku sangat merindukanmu, Rendy. Kapan kita bisa bertemu lagi?" Ucapnya lirih mengandung sebuah permohonan di dalamnya.
Dialah Devika Naura Darusman, seorang mahasiswi sekaligus seorang model freelance yang memiliki karir cukup cemerlang.
Bukan tidak biasa, Vika memang memiliki insomnia yang sulit dikendalikan. Jika insomnia itu datang, dia bisa menghabiskan hingga 5 cangkir mocca latte miliknya dan berkutat dengan sebuah buku bacaan, atau sekedar menatap kumpulan foto sang manta. Ralat! -Bukan mantan, tapi masih menjadi pujaan hatinya yang bersemayam dalam ruang di hatinya yang terdalam-, yang sengaja dibiarkannya berserakan di atas meja hingga dinihari dan waktu fajar menjelang.
Dan seperti inilah Vika sekarang. Duduk termenung sambil memandangi foto ditangannya dengan beratapkan langit yang dipenuhi bintang-bintang. Sesekali dia tersenyum, namun senyum itu bukan senyuman bahagia, melainkan sebuah senyuman beban penuh penyesalan yang teramat dalam.
Sejenak dia meraih ponselnya segera, mencari kontak seseorang yang selalu disimpannya selama bertahun-tahun tanpa berniat menghapusnya. Karena memang, dia tidak berkeinginan untuk melupakan semua yang berkaitan dengan pria yang dicintainya.
Dengan sedikit ragu, Vika men-dial tanda telepon untuk menghubungi kontak itu. Jarinya gemetar saat keraguan merayapi dirinya. Dirinya ragu, bagaimana jika orang itu sudah mengganti nomor ponselnya? Atau, bagaimana jika saat ini orang itu sudah memiliki tambatan hati yang mengisi ruang hatinya? Jika belum, ingatkah dia padanya? Bolehkah sedikit saja, dia mengharapkannya?
Seketika diletakkannya kembali ponselnya ke atas meja. Pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikirannya itu telah membuatnya mengurungkan niatnya meski hanya sekedar mendengar suara berat khas dari pria itu yang sangat dirindukannya selama ini.
"Apa kamu masih mengingatku? Atau kamu malah membenciku?"
Ucapnya sendu disela-sela tawa getirnya, "andai aku bisa jelaskan semuanya tanpa harus melihat kebencian di mata kamu, aku mungkin udah dari kemarin memberanikan diri untuk bertatap muka sama kamu. Menatap bola mata kamu yang teduh. Merasakan hembusan napas kamu yang hangat menyapu lembut kulit wajahku. Menikmati setiap sentuhan bibir kamu di bibirku seperti yang pernah kamu lakukan dulu." Seketika wajah sendu itu berubah menjadi senyuman getir hingga membuatnya tersadar dengan angan-angannya yang terlalu tinggi.
"Tapi sayangnya, aku nggak bisa menggapai itu semua. Aku terlalu pengecut untuk datang padamu. Aku terlalu takut untuk memberikan penjelasan jika akhirnya kamu nggak bisa menerima aku lagi. Aku terlalu pengecut, Rendy..."
Mata yang sendu itu berubah menjadi tumpukan genangan air mata. Mata indahnya berkaca-kaca, saat matanya berkedip, satu tetes air mata itu jatuh ke atas foto yang di tatapnya. Matanya terpejam, membuatnya melemah frustasi menahan penyesalan sekaligus kerinduan yang bercampur menjadi satu.
●●●
Hembusan dinginnya angin begitu menusuk disaat Meila sudah hampir membangun mimpi dalam tidur lelapnya. Matanya mengerjap, memaksanya untuk membuka matanya lebar-lebar dan melihat apa yang membuat angin kencang itu bisa memasuki kamarnya.
Dia mendudukkan tubuh dengan segera, lalu menyapu matanya ke arah jendela kaca yang ternyata terbuka lebar dengan tirai melambai, seolah mengisyaratkan untuknya segera menghampirinya dan menutup rapat-rapat jendela itu.
Perlahan Meila beranjak, menapaki lantai marmer yang dilapisi karpet bulu tebal dan halus lalu berjalan menuju jendela tanpa memakai alas kaki. Ditutupnya jendela itu dengan rapat, dirapikannya juga tirai yang sebelumnya akan membalikkan tubuh untuk kembali bergelung dibalik selimut.
Namun, saat tubuhnya membalik sempurna, sudah ada Sisil berdiri di depannya dengan raut wajah penuh amarah disertai darah yang mengalir dari bawah alat reproduksinya. Meila membelalak, menutup mulutnya refleks dengan ketakutan yang ada di depan matanya.
"Ap-apa yang kamu lakukan di sini, Sisil? Bu-bukannya.... kam-kamu ada di rumah sakit?"
Meila terbata dalam kalimatnya, namun berusaha kuat melawan rasa takutnya.
Sisil tertawa, tepatnya tertawa jahat. Matanya melotot penuh dendam. Sedangkan tangannya sudah bersiap untuk mencekik dan mencakar wajah Meila tanpa ampun.
"Gue ke sini mau balas perbuatan lo ke gue. Gara-gara lo calon anak gue mati. Gara lo gue keguguran. Dan gara-gara lo juga, gue semakin menderita." Ucapnya sengit dan berapi-api.
Seluruh tubuh Meila gemetar, sontak berjalan mundur ke belakang hingga tanpa sadar sudah membentur tembok dan tak mampu bergerak lagi. Sementara Sisil, tampak menyeringai lebar melihat Meila tidak bisa melarikan diri darinya.
"Lo liat, kan? Bahkan keberuntung lagi nggak berpihak sama lo!"
Tawanya pecah memenuhi ruangan, bahkan suara tawanya mampu membuat telinga Meila sakit seperti tertusuk benda tajam yang masuk ke telinganya.
"J-ja-jangan, Sisil.. aku mohon... a-aku minta maaf sama kamu, aku sungguh nggak tau kalo ternyata ada calon bayi yang lagi tumbuh di dalam perut kamu. A-a-aku......"
"Permintaan maaf lo nggak berguna lagi setelah apa yang udah lo lakuin ke gue. Dan sekarang..." suaranya terhenti dengan tatapan menajam, seringaian senyumnya mampu membuat bulu kuduk Meila meremang hingga berhasil membuat gadis itu sontak memeluk tubuhnya sendiri.
"Gue nggak akan maafin seorang pembunuh kayak lo! Lo itu pembunuh! Dasar pembunuh!" Sambil menggeram, Sisil mengucapkan kalimat tuduhan sampai Meila terdesak. Alarm tanda bahaya mulai terdengar dalam benaknya.
Sisil memajukan tubuhnya mantap. Mengangkat tangannya dan langsung mencekik leher mulus Meila dengan kencang. Meila terbatuk-batuk. Tidak mampu menghalau tangan Sisil yang tercengkram dengan kencang di lehernya.
"Lo harus mati! Dasar pembunuh! Pembunuh kayak lo harus mati!" Ucap Sisil bertubi-tubi.
Meila mulai kehabisan napas. Dia terus berusaha mendorong Sisil agar terlepas dari lehernya. Namun, cengkraman perempuan itu sangat kuat. Begitu kuat hingga Meila hampir putus asa dan nyaris berpikir jika hidupnya harus berakhir di tangan Sisil secara paksa.
"Lo itu pembunuh! Dasar pembunuh!"
Suara itu terus terngiang hingga membuat Meila semakin ketakutan dan berderai air mata. Tubuhnya bergerak meronta-ronta meminta ingin dilepaskan. Mulutnya pun meracau tidak jelas sebisa mungkin meski tenggorokannya tersekat dan hampir kehabisan napas, hingga membuat
Dimas yang sedang berada di samping Meila di atas ranjang yang sama, memfokuskan diri dengan cepat dan mengalihkan perhatiannya dari laptop di pangkuannya. Pria itu sedang berselonjor dengan laptop di atas kakinya tepat disamping Meila yang berbaring.
Ya! Meila sedang bermimpi buruk. Mimpi buruk itu datang seperti yang gadis itu takutkan. Buliran keringat sebesar jagungpun sudah memenuhi dahinya.
"N-n-nggak... m-ma-maaf..." dirinya terus saja meracau dengan suara bergetar disertai air mata yang menetes melalui sudut matanya.
Dimas melepaskan semua tugasnya dari laptop. Menutup benda pipih itu dengan kasar dan meletakkannya dengan asal ke meja nakas. Dimas mendekat, menepuk-nepuk pipi Meila dengan pelan sambil memanggil nama gadis itu lembut.
"Sayang! bangun, Sayang..." dengan sedikit kasar, Dimas menepuk pipi Meila agar gadis itu cepat tersadar.
"Meila, bangun!" Setengah teriakan disertai tepukan di pipi itu berhasil membangunkan Meila dari alam bawah sadarnya yang menakutkan.
Dengan napas terengah-engah, Meila membuka matanya lebar-lebar sambil membasa situasi. Sedetik kemudian tangisnya pun pecah didera ketakutan saat ingatan mimpi buruk itu terulang kembali,
"Hei, ssshh... it's okay... it's just a nightmare! I'm here with you." Ucap Dimas menenangkan,
Lalu, Dimas membantu Meila ke posisi duduknya dengan menahan punggung gadis itu menggunakan sebelah tangannya. Sementara pria itu mengambil segelas air di atas nakas dan meminumkannya pada Meila.
Gadis itu masih terisak, sesenggukan dengan wajah memerah luar biasa meski cahaya di kamar itu tampak redup. Lalu matanya menatap pada Dimas yang masih terlihat cemas namun tetap tenang, dan isakannya pun semakin menjadi.
Dengan berderai air mata, Meila menghela napasnya pendek-pendek.
"S-sisil.... S-sisil datang, kak... dia bilang, aku itu seorang pembunuh," suaranya tersekat, namun berusaha melanjutkan kalimatnya lagi. "S-sisil nggak m-maafin aku, kak." Tangisnya pecah kembali, "a-aku......."
"Ssshhh, itu cuma mimpi buruk." Dimas mengusap pipi Meila yang penuh dengan air mata, lalu membawanya ke dalam pelukannya. "Tenang, Sayang.. Tenang..." kemudian mengusap punggungnya lembut sambil menghadiahkan kecupan ke pelipis Meila.
"Kamu nggak membunuh siapapun. Itu semua murni kecelakaan. Dan kamu bukan pembunuh. Kamu dengar itu?" Sambil mendekap gadis itu erat-erat, Meila juga tampak mengeratkan pelukannya. Tenggelam dalam aroma tubuh Dimas yang menenangkan baginya. Aroma itu lalu menyadarkannya jika saat ini dia sedang tidak di kamarnya, melainkan di kamar Dimas. Ditandai dengan aroma ruangan itu yang beraroma maskulin aftershave yang dikombinasikan antara percampuran vanilla dan green tea.
"Sekarang, kamu tidur lagi. Okay?" Dimas menjauhkan Meila sedikit dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Kemudian memberikan instruksi sambil memberikan senyumnya yang khas.
Melihat raut wajah Meila yang ketakutan saat mendengar Dimas menyuruhnya untuk tidur kembali, seketika cengkraman tangannya di baju Dimas mengencang. Seolah tidak mau menutup matanya karena takut mimpi itu akan datang lagi.
"Kamu ingat janji aku? Aku akan memeluk kamu saat mimpi buruk itu datang. Iya, kan?"
Meila terdiam, namun bola matanya menatap ke kedalaman mata Dimas yang hanya ada ketulusan di sana.
"Dan sekarang, aku akan melakukannya." Ucapnya pasti dengan kalimat paling lembut.
Lalu menghela tubuh Meila yang lemas untuk berbaring sebelum kemudian mengusap air matanya lagi yang tak kunjung henti. Diikuti oleh Dimas yang langsung berbaring dan membawa Meila ke dalam peluknya. Menarik selimut untuk membungkus keduanya dalam dinginnya malam. Meila sendiri dengan sendirinya langsung melingkarkan lengannya ke pinggang pria itu dengan erat, seolah tidak membiarkan pria itu untuk pergi darinya.
Sambil masih terisak, Meila berusaha mengucapkan kalimatnya yang tertelan.
"K-kak Dimas... jangan kemana-mana..." pintanya memelas, membuat pria itu langsung menunduk menatapnya.
Jarak mereka sangat dekat, sampai bisa saling merasakan hembusan napas hangat masing-masing yang menyapu kulit wajah mereka. Lalu, senyum itu muncul disertai kecupan di kening Meila.
Ditatapnya Meila lekat-lekat, "Tanpa kamu minta pun, aku akan melakukannya, Sayang. Aku nggak akan kemana-mana." Lalu menghadiahkan kecupan hangat ke bibir Meila yang kering, menyapunya dengan lembut, serta membasahinya agar tetap lembab. Lalu memeluknya lagi ke dadanya, Meila pun langsung menelusupkan wajahnya ke lekukan leher Dimas yang hangat. Dan juga menghirup aromanya yang menenangkan.
"Selamat malam, Sayang. Tidurlah!" Ucap Dimas memerintah yang langsung disambut oleh anggukan kepala tipis Meila dalam peluknya.