
Dimas masih saja terus menciumi Meila seolah tidak menghiraukannya. Mulai dari menciumi pipi, naik ke matanya, lalu menggeser ke area rahang pipi Meila hingga membuat gadis itu memejamkan kedua matanya.
Dimas seketika berhenti, kembali menatap Meila dengan napas yang sama terengahnya. Lalu, dengan satu gerakan kilat Dimas langsung mematikan kompor yang masih menyala hingga membuat Meila membelalak. Dan, tanpa aba-aba dia langsung mengangkat Meila sampai refleks meletakkan tangannya ke leher Dimas hingga memekik. Lalu, mendudukkannya ke atas meja marmer sampai membuat matanya membelalak sempurna.
"Ka-kak Dimas," panggilnya kemudian.
Dimas lalu membenarkan anak-anak rambut Meila yang menjuntai dan menyelipkannya ke belakang telinga dan menangkup wajahnya disertai dengan tatapan sayang.
"Kamu bisa melanjutkannya lagi nanti," pungkas Dimas dengan suara rendah.
"Tap-tapi... umph!"
Belum selesai Meila berucap, Dimas sudah kembali membungkam bibirnya dengan ciuman. Memagutnya dan mencecapnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Entah kenapa saat ini Dimas sangat ingin memberikan tanda kepemilikannya pada Meila. Dia merasa bahwa sikapnya sangat agresif belakangan ini. Dan dia sangat-sangat menyadarinya. Mungkin itu semua disebabkan karena kehadiran Dion yang seolah-olah selalu pas dan telah diperhitungkan sebelumnya.
Apa itu hanya kebetulan saja? Atau ada sesuatu yang sudah dia rencakan?
Dimas masih belum tau kebenarannya. Mungkin dia harus memberikan tugas penting ini kepada Henry untuk mulai menyelidikinya sendiri.
Ciuman pun masih berlanjut dan kini beralih ke pipi hingga tulang rahang Meila. Dan itu membuat Meila mengeratkan pegangan tangannya yang ada di leher Dimas dengan segera. Dan sudah pasti, Dimas sangat senang akan itu.
Dimas merasa jika inilah saatnya. Dia lalu perlahan membawa bibirnya menyusuri leher jenjang Meila yang harum dan juga lembut. Menghirupnya hingga menyebabkan Meila bergidik dalam rengkuhannya. Lalu mulai menciuminya serta memberi cecapan kecil hingga akhirnya memberikan tandanya disana.
Meila sedikit tersentak dan mengerang tertahan ketika langsung mencengkram bahu Dimas dengan tangan mungilnya sambil menahan sensasi aneh yang menjalari seluruh tubuhnya.
Nafas Meila seolah terengah dan berkejaran saat Dimas menghentikan tindakannya. Begitupun dengan Dimas. Karena tidak mau membuat Meila semakin bertambah malu, Dimas langsung membawa Meila ke dalam dekapannya dan memeluknya erat. Memberikan usapan lembut ke punggungnya. Membiarkan gadis itu mengatur nafasnya kembali sambil bersandar nyaman padanya.
Ini adalah pertama kalinya Dimas memberikan tanda kepemilikannya. Dia sadar karena sifatnya ini bisa dibilang possessif. Terlepas dari semua itu, sangatlah beralasan jika disangkut-pautkan dengan kehadiran Dion. Dan itu sangat mengganggu pikirannya belakangan ini hingga nyaris membuatnya lepas kendali.
●●●
"Gimana, pa? Apa teleponnya tersambung?"
"Tersambung, ma. Tapi anak itu lagi-lagi nggak jawab teleponnya."
Adrian dan Riana, tiba-tiba berubah cemas ketika Sisil belum juga pulang setelah tadi sore meminta izin ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas kampusnya. Tetapi, sudah hampir tengah malam, belum juga ada tanda-tanda kepulangannya. Jangankan pulang, mengabari pun tidak.
Berulang kali Adrian dan Riana menghubungi ponsel Sisil secara bergantian. Tetapi, tak satupun dari panggilan mereka yang dijawab olehnya.
"Aduh, gimana dong, pa. Mama benar-benar cemas." Riana mulai merasa gelisah. Dia tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali saat Sisil jauh dari pengawasan mereka. "...mama takut kalau anak itu berbuat aneh-aneh lagi, pa."
"Sstt... jangan berpikir macam-macam, ma. mungkin anak itu lagi fokus mengerjakan tugasnya sampai nggak sadar ada panggilan masuk."
Riana terdiam sejenak mendengar ucapan suaminya.
"Ada satu cara." Adrian berucap tiba-tiba.
"Cara? Apa itu, pa?" Riana mengucap dengan wajah penasaran dan ekspresi tidak sabar.
Tanpa berpikir panjang, Adrian langsung menekan tombol 'panggil' yang langsung terdengar suara nada sambung. Itu menandakan jika ponselnya masih aktif di jam-jam tengah malam seperti ini.
Selang nada sambung ketiga, panggilan itu terangkat dan terdengar suara jawaban dari sana.
"Halo, om?" sapa James.
"Haahh.. syukurlah kamu mengangkatnya James."
"Ada apa, om? Apa ada hal mendesak?"
"Begini, James. Om minta maaf kalau udah mengganggu jam istirahat kamu. Emm.. gimana ya?" Tiba-tiba Adrian merasa tidak enak pada James karena akan merepotkannya lagi kali ini.
"Katakan saja, om. Apa yang perlu aku bantu?"
"Emmm.. om langsung ke intinya saja, ya. Ini mengenai Sisil, James. Dia masih belum pulang juga jam segini. Apa kamu tau dia kemana? Riana bilang, dia meminta izin ke rumah temannya sore tadi untuk mengerjakan tugas kampus. Tetapi berulang kali kami menghubungi tidak pernah ada yang diangkat. Kami jadi cemas. Terutama Riana. Apa kamu bisa membantu kami untuk mencarinya?"
Sore? Bukannya itu saat aku mengantarnya pulang? Apa mungkin dia pergi lagi setelahnya?
"Baik, om. Aku akan mencarinya. Kalau aku boleh tau, siapa nama temannya itu, om? Apa aku bisa meminta kontaknya? Atau... alamatnya mungkin?"
"Naah, itu yang jadi masalahnya, James." Sesal Adrian. "Kami nggak tau soal itu. Mamanya juga nggak bertanya karena nggak merasa curiga." Adrian tampak memijat dahinya dengan putus asa.
"Apa kamu tau kira-kira kemana seorang perempuan biasanya berkumpul selain di rumah teman?"
James tampak berpikir sejenak. Tetapi dia juga tidak bisa menemukan tempat dimana biasanya seorang wanita singgah di waktu tengah malam ini. Kecuali tempat itu adalah... klub malam!
Mata James membelalak saat mengingat klub malam. Bukan tidak mungkin jika perempuan itu pergi kesana, kan?
Tunggu! Apa mungkin....
"Ah, gini aja om. Aku akan mencoba hubungi Sisil. Kalau aku udah tau lokasinya, aku akan menjemputnya dan mengantarnya pulang. Om nggak perlu khawatir tentang ini. Aku akan bantu mencarinya."
Adrian menghela napas lega mendengarnya. Sementara Riana, sang istri, yang sedari tadi mencoba menguping, tampak antusias melihat eskpresi lega suaminya.
"Baik, kalau begitu. Sekali lagi terima kasih karena kamu mau membantu kami. Om minta maaf kalau lagi-lagi om merepotkan kamu."
"Jangan terlalu sungkan, om. Kebetulan aku masih terjaga dan sedang mengerjakan beberapa tugas kantor untuk meeting besok. Kalau gitu... aku tutup teleponnya, om. Aku akan langsung mencari Sisil. Om dan tante bisa sedikit tenang sekarang."
Setelahnya panggilan itu terputus dengan menyisakan ekpresi wajah Adrian yang sedikit lebih tenang. Tak mau kalah dengan Adrian, Riana bertanya pada suaminya dengan ekspresi tidak sabar berbalut penasaran.
"Gimana, pa? James bilang apa?"
"James bilang dia akan membantu kita mencari Sisil. Dia akan segera mencarinya. Kita bisa sedikit lega sekarang."
"Huuhh.. syukurlah." Ucap Riana lega yang disertai helaan napas.