
"Kak, kita mau kemana? Kok, jalannya bukan arah pulang?"
Melihat mobil yang Dimas kendarai melaju melewati jalanan yang tidak mereka lalui biasanya, membuat Meila bingung hingga bertanya-tanya.
Kemana sebenarnya mereka akan pergi?
"Sekarang, kamu mau kita kemana? Berhubung ini masih terlalu siang, kamu mau kemana dulu sebelum kita pulang?"
Bukannya menjawab, Dimas malah balik bertanya pada Meila yang masih kebingungan.
"Jadi maksud kakak yang tadi pagi ngajakin jalan-jalan itu beneran?" Tanya Meila tidak percaya.
Dimas terkekeh dengan kepala menoleh dan posisi tangan yang masih pada setir kemudi.
"Kamu pikir aku bercanda? Aku serius, sayang." Sahutnya dengan kalimat paling lembut dengan menyematkan kata 'sayang' di akhir kalimat.
Wajar memang kalau Meila berpikir jika pertanyaan itu mungkin hanya sebatas bercandaan Dimas saja. Itu sebabnya dia mengira, Dimas sedang memancingnya agar tidak mengalihkan pandangan padanya saat mereka berbicara.
"Ya-yaaa... aku pikir kamu tanya kayak gitu cuma karena biar aku fokus sama kamu pas bicara. Cuma buat mancing-mancing aja gitu." Jawabnya malu-malu.
Dimas terkekeh. "Kamu itu kenapa lucu banget sih, kalo lagi gugup? Jadi makin sayang, kan!" Tutur Dimas sambil memasang ekspresi gemas. Bahkan, dia sampai mengangkat satu tangannya untuk mencubit sayang pipi Meila yang merona itu.
"Kakak, kamu selalu deh seneng bikin orang salah tingkah." ujarnya sambil merengut.
Dimas tergelak keras mendengar perkataan Meila. Karena tidak mau membuat Meila semakin malu, akhirnya dia bertanya kembali. "Jadi, kamu mau kita kemana, sayang?" Tanya Dimas sekali lagi.
"Mmm... aku sebenernya nggak pengen kemana-mana. Tapi... apa boleh kita muter-muter di dalam mobil aja? Cukup dengan muterin pusat kota aku seneng, kok." Pintanya dengan dibubuhi senyuman yang dibalut permohonan.
"Kamu yakin? Nggak mau nonton? Ke mall, atau kemana gitu?" Dimas memberikan pilihan lain untuk meyakinkan Meila akan keputusannya. Dan lagi, dengan mantap Meila langsung menolak dengan lembut.
"Yakin, kok. Kita kan bisa nonton di rumah. Kalo ke mall baru beberapa hari yang lalu kita kesana. Dan baru kemarin juga kita jalan-jalan ke taman, kan? Nah, sekarang kita puterin pusat kota aja. Ya?" Pintanya memohon dengan sedikit nada paksaan yang saaaaangat tipis.
Dengan sangat antusias, Meila juga bertingkah dengan amat senang saat menyebutkan kemauannya. Dan kalau sudah begitu, apalagi yang akan Dimas lakukan selain menurutinya? Terlebih lagi jika Meila sudah mengeluarkan senyuman manisnya ditambah dengan ekspresi yang luar biasa menggemaskan. Tidak ada alasan untuk Dimas menolaknya.
"Baiklah. Sesuai permintaanmu, nona." Dimas akhirnya mengiyakan. Dan itu membuat Meila senang.
Dimas lalu menekan tombol yang ada di samping ac mobil. Sebuah tombol untuk membuka dan menutup sunroof yang terpasang di atap kabin mobil. Saat sunroof itu mulai bergerak jalan hingga akhirnya membuka sempurna, Meila seketika terperangah kagum bercampur senang dengan kepala mendongak ke atas. Bahkan saking senangnya, dia langsung berdiri untuk mengeluarkan sebagian badannya ke luar sunroof yang terbuka lebar agar bisa melihat pemandangan ibu kota yang terasa sejuk di waktu menjelang sore.
"Hati-hati, sayang." ujar Dimas mengingatkan.
Tangan Dimas langsung memegang tangan Meila dengan posisi masih menyetir. Seberkas senyum pun menghiasi wajah Dimas. Perasaannya ikut senang kala melihat kebahagiaan terpancar di wajah gadis yang dia sayangi.
"Ini seru banget, kak." Meila berseru dengan setengah berteriak dari atas kabin dengan senyumannya yang lebar.
"Iya. Tetap hati-hati." Sambung Dimas mengingatkan.
●●●
Shila menyindir Dion yang saat itu tengah berada di dapur. Membuatkan kopi untuknya dan juga Dion yang baru saja datang bertandang ke rumahnya.
"Ini bukan sekedar senang. Bahkan gue selangkah lebih maju dari langkah awal."
"Oh, ya? Wow. Kok bisa?" Shila tampak berseru penasaran.
"Entah itu takdir yang emang udah diatur atau gue yang lagi beruntung. Kemarin gue nganter dia ke rumahnya. Tepatnya rumah pacarnya sih."
"Pacar?" Shila berseru heran sambil membawa dua cangkir kopi untuk mereka. "Kok lo bisa tau kalo itu rumah pacarnya?"
Dion mengambil cangkir kopi miliknya. "Karena gue udah lebih dulu menyelidikinya."
"Waw! Lo beneran serius sama tuh cewek sampe bela-belain menyelidiki semuanya, hah?" Shila menyeringai dengan sindiran. "Kalo lo tau itu rumah pacarnya, berarti lo juga udah pernah ketemu dong?" Simpulnya kemudian.
"Siapapun yang ngeliat mereka, pasti menebak kalau mereka itu sepasang kekasih. Si pria, namanya Dimas. Dia seorang pengusaha muda yang masih kuliah semester akhir sekaligus satu-satunya pewaris perusahan hotel terbesar milik Alfero Alexsander."
Shila nyaris memuncratkan kopi dari mulutnya karena saking kagetnya. Dia sangat terkejut dengan penjelasan yang Dion katakan. Kalau begitu, sudah sampai mana Dion menyelidiki perempuan itu sampai dia tau identitas kekasihnya?
"What? Alfero Alexsander yang itu?" Shila membeo tidak percaya. Dia bahkan sempat ternganga sesaat sebelum kemudian tersadar kembali. "Berarti pacarnya itu adalah putra satu-satunya dari pasangan Alfero Alexsander dan Natalizha Oswel sang desainer terkenal itu? Pewaris tunggal tahta kerajaan hotel terbesar di kota ini?"
Dion mengangguk. "Tepat sekali! Lo pasti nggak percaya kan dengan apa yang gue bilang barusan? Tapi itulah kenyataannya. Gue udah menyelidiki semuanya sampe hal terkecil sekalipun."
Shila sangat amat terkejut luar biasa. Sampai-sampai dia kesulitan mencerna kata demi kata dari apa yang Dion ucapkan. Seolah ingin rasanya dia merebut posisi gadis itu dengan menggantikannya secara sukarela.
Gila! Mimpi apa tuh cewek sampe bisa punya pacar konglomerat? Andaikan gue yang ada di posisinya. Pasti semuanya akan jadi lebih mudah!
●●●
"Yap! Hati-hati."
Dimas tampak membantu Meila keluar dari mobil. Mereka baru saja pulang dari jalan-jalannya memutari pusat kota. Mereka juga sudah menyempatkan untuk makan malam di sebuah restoran saat perjalanan pulang.
Senyuman lebar tampak menghiasi bibir Meila. Terlihat dari raut wajahnya yang sangat senang dan sumringah.
"Kamu senang hari ini?" Dimas bertanya sambil menuntunnya melewati jalan setapak menuju pintu utama.
"Iya. Kapan-kapan boleh lagi, ya?" Sambung Meila dengan pertanyaan. Seolah sedang meminta sesuatu dari Dimas dan berjanji agar menepatinya.
"Sure! Why not? Selama itu membuat kamu senang, itu nggak masalah buat aku." Dan Dimas tidak menolak. Dia tampak setuju dan tidak merasa keberatan sama sekali.
Meila tersenyum lagi dengan cengiran khasnya. "Hehe. Terima kasih."
"Sekarang, kamu mandi dan ganti baju. Aku mau ke ruang kerja sebentar untuk mengecek e-mail." Perintahnya pada Meila yang langsung dijawab dengan anggukan darinya. "Come! Come! Let's go!" imbuh Dimas kemudian seperti sedang menyemangati anak kecil yang berumur lima tahun.