A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kamar 305



Di tengah tidur nyenyaknya, Dimas dibangunkan dengan paksa oleh suara bunyi ponsel yang berdering. Satu tangannya yang dia letakkan sebagai bantalan untuk Meila bersandar, tiba-tiba tidak sengaja bergeser sedikit karena harus mengangkat setengah badannya untuk mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja nakas.


Merasa tidurnya terganggu, Meila sedikit menggeliat sebelum akhirnya Dimas menenangkannya dengan mengusap lembut punggungnya. Dan seketika, Meila kembali terlelap dengan tubuh merapat seperti mencari kenyamanan ke dalam pelukan Dimas.


"Ya, ada apa?" Suara parau dan berat khas baru bangun tidur pun terdengar jelas oleh si penelepon. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Henry, asistennya.


"Maaf mengganggu tengah malam, tuan. Saya harus memberitahukan sesuatu yang sangat penting dan mendesak. Karena ini menyangkut tentang seseorang yang sedang saya selidiki."


Tentu saja Dimas tau apa yang dimaksud Henry. Seketika Dimas langsung melebarkan mata dan memaksanya untuk bangun dan menjauh dengan gerakan yang sangat hati-hati. Berusaha meminimalisir pergerakan sekecil apapun agar gadis mungil yang sedang terlelap di atas ranjangnya itu tidak terbangun.


"Tunggu. Aku akan menjauh sebentar."


Setelah memastikan Meila tetap terlelap dan menyelimutinya, barulah Dimas keluar dari kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


"Lanjutkan...!"


"Begini, tuan, saya telah menyelidiki kasus-kasus Dion seperti yang tuan perintahkan hingga yang terkecil sekalipun. Dan ada satu hal lain selain kasus besar yang telah kita ketahui sebelumnya."


"Apa yang kamu temukan?!" Dimas bertanya dengan nada tertahan.


"Begini, selain kasus pelecehan yang telah Dion lakukan, ternyata dia adalah pengedar barang-barang haram sekaligus juga mengkonsumsinya. Bahkan, korbannya itu juga dulu telah diberi obat-obatan terlarang dengan dosis kecil sehingga siapapun tidak akan sadar termasuk si korban. Efeknya itu berkelanjutan hingga akhirnya korbannya merasa ketergantungan dan hilang akal sampai pasrah dan lebih memilih mati di tangannya dari pada melawan."


Dimas mendengarkan penjelasan Henry dengan seksama sampai ke bagian terkecil. Bohong jika Dimas tidak terkejut. Dia sendiri mulai merasa cemas jika suatu saat Dion memberikan sebuah minuman atau makanan yang langsung dikonsumsi yang ternyata telah ditaruh sesuatu didalamnya. Dan Dimas tidak mau itu terjadi.


Dimas mencatat dalam otaknya jika dia harus mengingatkan Meila untuk tidak mudah menerima barang terlebih makanan atau minuman dari seseorang apalagi dari Dion tanpa tau alasannya.


"Apa bisnis haram itu masih dijalankan sekarang?"


"Menurut info yang saya dapat, dia masih terus menjalankannya secara kucing-kucingan agar tidak terendus oleh pihak kepolisian, tuan."


"Bukan tidak mungkin jika ada orang dalam yang bekerja sama, bukan?" Dimas menyela perkataan Henry dengan kalimat ironi.


"Benar, tuan. Ada seorang petugas kepolisian yang sudah bertahun-tahun menjadi pintu keluar masuknya bisnis tersebut. Dan saya juga sudah menyelidikinya."


"Bagus!" Dimas memuji cara kerja Henry yang sangat cepat. "Berikan aku data-datanya besok di kantor. Aku mau data itu sudah ada di meja kerjaku besok pagi." Dimas memberikan ultimatum tegas yang tidak bisa dibantah. Dan Henry, dengan setia akan melakukan apapun yang tuannya perintahkan dengan sangat rapi dan tertata.


"Baik, tuan." Jawab Henry dengan tegas dan penuh dengan kesiapan.


Sambungan telepon pun berakhir. Dengan masih memegangi ponselnya, Dimas bertekad untuk menjauhkan Meila dari Dion sebisa mungkin agar gadisnya itu tidak dicemari oleh barang-barang haram seperti yang telah Dion lakukan pada korbannya. Dan yang pasti, dia akan terus mengingatkan Meila agar terus ingat perkataannya untuk selalu mewaspadai serta menjauhi Dion dengan segera.


●●●


Sisil berjalan menyusuri lorong apartemen sambil mencari-cari nomor kamar yang resepsionis tadi sebutkan. Dengan langkah pelan penuh antisipasi, tangan Sisil terus memegangi tali rantai tas selempang yang dia pakai dengan kencang.


Dia ingat, resepsionis tadi menyebutkan sebuah nomor kamar yang ada di lantai 3. Dan nomor kamar itu berjarak 5 meter dari tangga darurat.


Sontak, Sisil terperangah ketika melihat penampilan Beno yang tengah bertelanjang dada sedang menyeringai di balik pintu. Cengkraman tangannya semakin kencang pada tali tas selempang miliknya. Pikirannya pun beralih mundur, ingin berbalik dan berlari sekencang mungkin kembali ke kamarnya yang hangat lalu meringkuk di bawah selimut tebal. Namun, pikiran itu dihancurkan tiba-tiba oleh suara lelaki yang hanya dengan mendengar suaranya saja langsung membuatnya merinding.


"Kenapa masih disitu? Ayo, masuk!" Perintah Beno.


Dengan perlahan dan ragu, Sisil akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar itu sambil *******-***** tangannya sendiri. Setengah mencakarnya, sambil beberapa kali melirikkan matanya menggunakan ekor matanya yang tajam takut-takut Beno akan melakukan hal-hal yang tidak Sisil lihat tanpa adanya kesiapan untuk melawan.


"Lo mau minum? Bir? Whisky, atau.... Wine?"


Sambil menutup pintu kamar, Beno menawarkan minuman untuk Sisil yang langsung di jawab dengan suara datar.


"Ng-nggak perlu! Air putih aja."


Beno mendengus dengan seringaian lebar. Perlahan dia membawa langkahnya pada mini bar yang ada di sudut kamar dekat lemari pakaian yang sudah terlihat usang.


"Sejak kapan lo cuma minum air putih?" Beno balik bertanya dengan nada meremehkan. Mengambil sebuah botol air mineral dingin yang terlihat masih tersegel rapat.


Beno lalu memberikan air mineral dingin itu pada Sisil yang langsung diterima dengan ragu. Hal itu membuat Beno merasa terhina. Lantas dia langsung mendorong botol itu dengan ke depan dada Sisil yang mau tidak mau langsung Sisil terima dengan sigap.


"Gue nggak menaruh apapun ke dalamnya. Itu masih tersegel rapi. Pegang!" Pungkas Beno sedikit tersinggung. "Duduklah!" Imbuhnya memberi perintah saat melihat Sisil masih berdiri kaku di depan pintu masuk.


Suasana hening langsung mendominasi. Membuat Sisil membatu dilanda rasa kecanggungan sekaligus kecemasan secara bersamaan.


"Jadi, kita akan bersantai-santai dulu, atau..... mau langsung ke intinya aja seperti yang kita bicarakan sebelumnya?"


Pertanyaan itu membuat Sisil merinding. Hingga tanpa sadar tangannya tergerak mengusap lengannya sendiri ketika bulu kuduknya meremang.


"I-itu... apa lo serius? lo nggak sekejam itu mengancam gue dengan nyuruh gue melakukan itu sama lo, kan?"


Beno tergelak. Suaranya memenuhi seluruh isi kamar sehingga menambah ketidaknyaman. Bahkan di mata Sisil, suara tawanya itu lebih menyeramkan dibanding dengan sosok hantu paling seram sekalipun.


"Lo pikir gue main-main? Kita bukan anak kecil lagi, Sisil?! Kita sama-sama udah dewasa dan merasakan bagaimana rasanya memberi dan menerima."


"Tapi itu sebuah kesalahan, Beno! Lo memanfaatkan gue yang saat itu lagi mabuk!" Sisil tersulut emosi hingga dadanya naik turun.


"Ya. Gue akui, itu memang sebuah kesalahan. Tapi gue masih ingat jelas, kalau lo juga begitu menikmatinya. Bahkan suara ******* lo masih terdengar sampai sekarang." Beno mulai berbicara vulgar. Dan itu membuat Sisil tidak nyaman.


Sisil mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Menahan amarah hingga wajahnya memerah antara marah, malu, jijik, sekaligus juga merasa terhina.


"Baiklah, gue akan bersiap-siap. Setelah itu, persiapkan diri lo. Karena malam ini akan terasa panjang buat kita berdua!"


Seringaian lebar yang menyakitkan itu terlihat jelas ketika Beno berbicara sambil lalu. Tanpa memberi kesempatan untuk Sisil menjawab, Beno sudah lebih dulu bangkit dari sofa dan pergi menuju kamar mandi yang langsung ditutupnya rapat.


"Mati aja lo, Beno! Mati di dalam sana!" Umpat Sisil marah dengan geraman tertahan.