
Seperti ajakan Bryant untuk mencoba wahana roller-coster, saat ini mereka sudah berada didepan pintu yang menghubungkan jembatan besi untuk memasuki wahana yang memacu adrenalin tersebut.
Wajah Airin tak henti-hentinya membentuk senyum senang, menampilkan ketidaksabarannya untuk segera memasuki dan merasakan ketinggian yang pastinya menampilkan keindahan dari atas sana.
Didahului oleh Bryant yang memasuki ruang berbentuk transparan kaca tebal berbentuk kapsul yang hanya cukup untuk dua orang. Lalu, mengulurkan tangannya untuk membawa Airin memasuki ruang kapsul itu dengan hati-hati lalu menghelanya untuk duduk disebuah bangku yang diperuntukkan bagi para penikmat wahana tersebut.
Setelah mereka menempati tempat duduk, ruangan berbentuk kapsul itu mulai bergerak dengan perlahan mengikuti laju seperti kincir angin raksasa. Dengan mulut terbuka, Airin mengisyaratkan kesan takjub dan terkesima ketika pandangan matanya hanya dikelilingi dengan suasana alam diikuti dengan kabin yang mulai beranjak menjauh. Dan hal yang lebih indah lagi, saat kepalanya tertunduk untuk melihat sekeliling area taman itu dari bagian atas.
"Ini lebih indah dari yang aku bayangin, kak." Ucap Airin dengan semangat.
"Aku tau kalo kamu pasti akan menyukainya. Makanya aku ajak kamu kesini." Jawab Bryant.
Airin tersenyum perlahan, melihat ke sekeliling ruang kapsul itu dengan bola mata memutar serta mulut yang sedikit terbuka.
"Jujur, aku baru ngerasain wahana kayak gini lagi semenjak aku kuliah. Dulu, aku sering mengunjungi taman bermain hanya untuk mencoba wahana yang memacu adrenalin dengan ketinggian yang cukup tinggi. Dan itupun saat aku masih SMA. Tapi... setelah aku lulus dan masuk kuliah, sibuk dengan segala tugas-tugas yang ada, akhirnya baru hari ini aku bisa merasakannya lagi. Dan kamu tau kak, ini kali pertama aku mencoba wahana kayak gini lagi setelah dimasa kuliah," Kepalanya tertunduk, namun beberapa detik kemudian terangkat kembali dengan bola mata yang langsung menatap ke arah Bryant.
Tepat ke bola matanya. "Jadi, aku berterima kasih banget sama kamu, kak." Ucapnya tulus.
Mendengar perkataan Airin, membuat Bryant tersenyum ironi, matanya memindai wajah Airin dalam diam. Seolah sedang membaca isi pikiran gadis itu melalui matanya.
"Kamu nggak perlu berterima kasih sama aku. Karena aku pun senang melakukannya." Jawabnya singkat dibalut dengan kejujuran.
Saking tidak terasa, roller-coster yang mereka tumpangi sudah hampir menuju ke puncak teratas.
"Kak Bryant, Liat! Kita udah hampir berada di puncak." Ujaran Airin itu memaksa Bryant untuk mengikuti arah mata Airin. Memandang ke bagian puncak tertinggi, dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sekilas sambil menghela napas ringan.
"Kita bisa ngeliat semuanya dari atas sana." Ucap Bryant yang langsung dijawab anggukan antusias oleh Airin.
Detik demi detik roller-coster itu bergerak hingga sampailah di puncak.
Awalnya semuanya tampak baik-baik saja, tidak ada kendala atau tanda-tanda apapun. Namun, didetik ketika roller-coster itu akan bergerak turun kembali, entah mengapa berhenti di tengah-tengah dengan didahului bunyi yang berderak lalu diikuti dengan suara me-nyit dan setelahnya berhenti total.
Sontak Airin pun langsung didera kebingungan dan sedikit terperanjat dari tempatnya duduk sambil melempar pandangannya ke seisi dalam ruang sempit itu. Hal sama pun dilakukan oleh Bryant. Pria itu beranjak dari tempatnya duduk untuk menunduk ke arah bawah lalu mendongak ke atas.
"Kak Bryant, roller-costernya berhenti bergerak!" Dipenuhi dengan kecemasan, Airin berusaha tetap tenang saat ruangan sempit itu bergoyang seperti akan jatuh.
"Kayaknya ada sesuatu pada mesinnya. Mungkin ada yang macet atau...." belum selesai Bryant mengatakan kalimatnya, mata tajamnya tidak sengaja melihat ke arah tombol darurat yang ada di samping dekat pintu. Lalu dengan cepat memencetnya berkali-kali sebelum kemudian terdengar pemberitahuan jika ada kendala pada salah satu mesin. Pemberitahuan itu berasal dari arah pengeras suara kecil dari seorang petugas yang menjalankan sistem kerja wahana tersebut.
"Gimana nih, kak. Kayaknya bakal lama nunggunya." Ucap Airin sambil mendesah pelan.
"Mau gimana lagi, Rin. Kita cuma bisa nunggu sampe mesinnya kembali berjalan lagi, kan?" Jawab Bryant sambil menenangkan. Tubuhnya bergerak duduk disamping Airin dengan tubuh bersandar ke kaca. Lalu mencuri lirikan ke arah gadis itu dengan pikiran berkecamuk dan campur aduk. Disatu sisi, kalau boleh jujur, ada rasa senang yang tersembunyi dibagian hatinya yang terdalam dan hampir tak terbaca.
Bryant sendiri pun sampai bertanya-tanya, perasaan apa yang saat ini menyelimutinya?
Lalu, senyum ironi terbentuk begitu saja tanpa diduga. Muncullah perasaan asing yang menyenangkan dan secara jahat berharap agar dia berada lebih lama lagi di dalam kabin roller-coster itu bersama Airin. Memandanginya lebih lama, mencari tahu sisi lain dari perempuan tomboy yang telah berhasil membuatnya jatuh kedalam pesonanya.
Saat Bryant masih belum mau memalingkan pandangannya dari Airin, tiba-tiba gadis itu tidak sengaja menoleh kearahnya dengan alis sebelah terangkat dan perasaan tanda tanya.
"Kak Bryant, ada apa? Ada sesuatu di wajah aku?"
Suara Airin itu memecahkan lamunan yang sudah tercipta sejak beberapa menit yang lalu, dan lenyap begitu saja tertelan oleh suara gadis yang sedang memasang wajah bingung kepadanya.
"Ah, nggak," Bryant berusaha menjawab dengan jeda, "Nggak ada yang salah, kok. Justru sebaliknya," sambungnya kemudian dengan teka-teki dan senyuman misterius. Senyuman yang membuatnya bertanya-tanya sekaligus berdebar, senyuman yang membuat Airin bingung sampai harus mengernyitkan alisnya dan sedikit tertegun membeku, senyuman yang berhasil membuat bulu kuduknya berdiri disertai degup jantung yang tak beraturan.
Kenapa rasanya aneh diliatin kayak gitu? Jantung gue kayak meletup-letup sampe rasanya kayak ada sesuatu yang menggelitik di perut.
●●●
"Kita pindah kesana?"
Dimas dan Meila rupanya masih setia untuk menikmati ikan-ikan kecil yang terkadang muncul ke permukaan hanya untuk mengambil makanannya. Mereka masih duduk di bawah pohon sejuk yang meneduhkan. Berbeda dari satu jam sebelumnya, saat ini pengunjung mulai memadati tempat lapangan luas hanya demi untuk menyaksikan pertunjukan kembang api di penghujung acara.
Waktu mulai mendekati senja, dan semua pengunjung mulai berkerumun di halaman luas hijau untuk menempati tempat senyaman mungkin agar tidak ketinggalan moment sedikitpun.
Meila tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat para pengunjung yang sudah memenuhi lapangan dan hampir penuh sesak. Kemudian, pandangannya kembali menatap Dimas dengan dahi yang mengkerut dalam.
"Tapi Airin dan kak Bryant....mereka...."
"Mereka udah dewasa. Aku yakin Bryant bisa menjaga Airin." Sergah Dimas cepat dengan intonasi suara yang menenangkan.
Meila tampak masih berpikir dan menimbang, tapi didetik kemudian wajahnya berubah cerah diisertai senyuman tipis dan anggukan kepala tegas.
"Kalo gitu... Ayo, kita cari tempat untuk liat kembang apinya." Ucapnya dengan penuh semangat.
Dimas sedikit terkekeh hingga tangannya terangkat untuk mengusak rambut Meila dengan gemas. Dengan cepat, Dimas langsung berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Meila dan membantunya berdiri.
Mereka berjalan membelah kerumunan pengunjung yang mulai memadati area. Tangan Dimas pun tak pernah lepas untuk menggengam tangan Meila yang mungil dengan erat, dan menariknya dengan perlahan, begitupun dengan Meila yang memegang lengan punggung Dimas dengan manja untuk menghindar dari riuh sesaknya kerumunan.
Dimas mencari tempat duduk yang bisa mereka tempati. Namun, satupun dia tidak menemukannya. Jika diwaktu yang lalu mereka menikmati pertunjukan kembang api itu dengan santai disebuah bangku panjang yang dikelilingi lampu kerlap-kerlip penuh warna, hari ini rupanya tidak. Tidak bisa menyaksikan pertunjukan kembang api sambil berduduk santai dan berangkulan, bukan berarti kesan romantis akan hilang bukan?
Saat mata Dimas mulai mencari alternatif lain, matanya menangkap pada sebuah pohon besar yang sulur-sulur rantingnya terdapat lampu warna-warni yang menggantung. Tepat disebelahnya juga terdapat sebuah ayunan kayu yang juga menggantung disisi bagian ranting yang dahannya sangat kuat untuk diduduki.
Dimas menarik Meila menuju tempat itu, lalu berhenti dibawah pohon besar yang bertepatan dengan lampu taman yang mulai menyala.
"Karena semua tempat duduk penuh, jadi kita disini aja. Lebih leluasa, dan juga...." Dimas memberi jeda dalam kalimatnya, lalu dimajukan wajahnya ke depan telinga Meila setengah berbisik. "....lebih romantis."
Sontak Meila melebarkan matanya dengan pipi yang mulai bersemu merah. "Kak Dimas!" Lalu tangannya bergerak untuk mencubit perut Dimas dengan gemas. Dimas sendiri tak menepis cubitan Meila, pria itu justru membiarkan tubuhnya menjadi sasaran dari jemari mungil gadisnya yang tidak terasa sakit itu.
"Apa, sayang....." ujarnya gemas sambil terkekeh, lalu membawa gadisnya kedalam pelukan dan menghadiahkan kecupan ke puncak kepalanya. Seolah sudah terbiasa, Meila pun dengan cepat melingkarkan lengannya ke punggung Dimas sambil tersenyum sendiri dibalik dada pria itu.
Beberapa detik kemudian, suara dentuman pertama dari kembang api menjadi pembuka pertunjukan itu. Dengan cepat, Meila mendongakkan wajahnya sambil menjauhkan diri dari pelukan Dimas.
"Kak, kembang apinya..." ujar Meila sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah langit.
Dimas pun langsung menatap ke arah langit dengan tangan meraih bahu Meila untuk merangkulnya dan merapat kepadanya. Setelah menatap ke arah langit, lalu matanya kembali menatap gadisnya yang sedang kegirangan dengan bola mata memancarkan binar cahaya kebahagiaan dibawah langit terbuka bagaikan kanvas itu.
Pandangan Dimas tidak lagi pada kembang api itu, melainkan pada sosok mungil yang tidak lebih tinggi dari bahunya. Dimas begitu terkesima melihat Meila, bahkan dia hampir tidak berkedip melihat pancaran bola mata gemas dari gadis itu.
"Teruslah tersenyum, Mei.. teruslah tersenyum seperti itu." Suara Dimas memecah suasana bising dari kembang api hingga berhasil membuat Meila mengalihkan pandangan ke arahnya. "Karena senyuman kamu itu lebih indah dari bintang-bintang di langit sana. Bahkan kembang api itu sekalipun."
"Kamu pantas mendapatkan dunia ini. Seluruh kebahagiaan ini." Dimas membenarkan posisinya, saling berhadapan dengan Meila dengan jarak yang sangat dekat. "Tapi, karena aku nggak bisa memberikan dunia ini untuk kamu, maka aku akan memberikan duniaku untukmu." Tangannya meraih tangan Meila, menyelipkan jemarinya ke sela-sela jemari Meila, lalu menggenggamnya erat seolah sedang mengucap janji.
Bukan Meila jika tidak tersentuh dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Dimas begitu saja. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca, menatap pria itu lekat-lekat, ingin mengucapkan sesuatu namun entah mengapa pita suaranya seakan terpilin hingga sulit untuk berbicara.
"K-kak Dimas......"
"Ssshh..." dengan cepat Dimas meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Meila, "...jangan katakan apapun, cukup dengarkan apa yang aku katakan."
"Kamu liat, Bintang itu, sangat indah, bukan?" Kepalanya terangkat menatap ke atas langit. Meila pun mengikuti, menatap ke arah langit dimana banyak bintang yang bertaburan, diselimuti oleh nyala kembang api yang berkejaran.
"Tapi nggak bisa aku miliki. Begitupun dengan Bulan yang hanya bisa aku kagumi. Tapi, perlu kamu tau, yang paling berharga dan paling terindah adalah bumi ini. Karena apa? Karena di bumi inilah aku mengenalmu, dan karena kamu juga aku selalu memikirkan kamu."
Meila hanya terdiam, seolah kesulitan merangkai kata. Rasanya, semua kata-kata didunia ini tidak cukup untuk mewakilkan kekagumannya pada pria itu. Dirinya terlena, terenyuh, dan tersentuh hingga ke lapisan dasar dari hatinya yang terdalam.
●●●
Suara letupan kembang api yang saling bersahutan itu memaksa Airin untuk mengangkat kepalanya. Tepatnya mengangkat kepala ke arah atap kabin roller coster, untuk mencuri pandang pada bunga-bunga api penuh warna yang menyebar di atas langit.
"Kak Bryant, pertunjukan kembang apinya udah dimulai." Sambil memasang wajah terperangah, Airin tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Entah Airin harus bersyukur atau menyesal. Keberadaannya di dalam kabin roller coster yang berhenti mendadak itu membuatnya tercengang akan apa yang sedang dilihatnya. Airin merasakan jika menyaksikan kembang api dalam jarak dekat dan tempat yang paling tinggi lebih mengasyikkan jika dibandingkan di bawah sana.
Bryant sendiri tampak mengikuti, berdiri berdampingan bersama Airin sambil memandangi langit yang penuh akan berbagai macam bentuk yang dihasilkan dari bunga-bunga api yang berbaur bersamaan dengan bintang yang berkerlap-kerlip.
"Kayaknya menyaksikan dari ketinggian kabin ini lebih indah daripada dibawah sana, kan?" Ujar Bryant sambil melirilkkan matanya ke bawah, mengajak Airin untuk mengikutinya.
Airin tersenyum lebar, mengangguk dengan semangat. "Bener banget, kak. Kayaknya aku nggak nyesel sih, kalo ternyata akan seindah ini." Ucapnya antusias.
Ucapannya itu berhasil membuat Bryant tersenyum, kembali menatap Airin yang entah sudah ke berapa kali ikut terpesona hingga membuatnya tersenyum ironi. Bryant merasa jika berada didalam kabin ini sangatlah mengasyikkan. Jika dia berubah antagonis saja, bolehkah dia meminta untuk berada lebih lama lagi dan menghentikan waktu agar tetap diatas saja bersama gadis tomboy itu?
Dirinya sama sekali tidak berniat untuk memandang ke arah langit. Justru makhluk tomboy disampingnya lah yang lebih menarik untuk dipandangnya. Sambil bersedekap dan menyandarkan punggungnya pada kabin kaca, Bryant memindai wajah Airin disertai senyuman ironi tanpa suara. Jika melihat waktu kebelakang, dia tidak pernah menyangka akan mengagumi pesona Airin yang belum pernah ia duga. Bahkan, saat pertama kali ia datang ke kampusnya, dan mereka saling berkenalan tanpa ada niat apapun, Bryant masih terlihat cuek dan minim tegur sapa pada Airin. Bahkan saking tidak menyadari, Bryant tanpa sadar sudah membuka diri untuk gadis itu dengan menawarkan diri agar Airin membantunya untuk memperkenalkan semua fasilitas kampus kepadanya.
"Sumpah! Ini indah banget. Aku belum pernah menyaksikan pertunjukan kembang api kayak gini sebelumnya. Bahkan... pesta kembang api di malam tahun baru pun masih kalah meriah dari pertunjukan ini." Airin berkilah sementara matanya masih tetap memandangi langit. "Iya kan, kak?" Tutupnya disertai pertanyaan.
"Kalo aku bilang... apa yang aku liat saat ini lebih indah dibanding apapun, gimana?" Bryant berucap dengan berteka-teki, sontak membuat Airin mulai menyadari jika saat ini, ada yang terasa aneh dan ada yang sedang memandanginya dengan lekat.
Ketika Airin menoleh, matanya langsung bertatapan dengan mata Bryant. Memakunya, hingga untuk menelan ludahpun rasanya sulit.
"K-kak Bryant.... ke-kenapa ngeliatin aku kayak gitu?" Ucap Airin dengan hati-hati. Tanpa sadar telah memancing imajinasi Bryant yang entah kenapa, semakin membuat Bryant menatapnya lekat-lekat. Mulai dari mata, hidung, pipi, lalu berhenti pada bibir ranum Airin.
Meski Airin adalah gadis tomboy, bukan berarti gadis itu tidak mengenakan polesan make-up apapun pada wajahnya. Gadis itu selalu mengenakan bedak tipis dan juga lipstick berwarna nude senada. Airin juga tidak perlu membentuk alisnya agar terlihat tebal menggunakan pensil alis, karena memang sudah tebal alami. Bulu matanya yang lentik dan panjang juga berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang tomboy.
Perlahan Bryant membenarkan posisinya dan menegakkan tubuh, berdiri tegap berhadapan dengan Airin. Matanya masih belum mau menatap yang lain, masih memaku Airin hingga membuat gadis itu salah tingkah. Tanpa sadar, Airin menggigit bibir bawahnya untuk mengusir rasa gugup, menelan ludahnya berkali-kali hingga pikiran-pikiran aneh berkecamuk dibenaknya.
Ada apa sama kak Bryant? Kenapa tatapannya menusuk kayak gitu? Tatapannya bikin gue deg-degan dan juga..... sesak!
Rupanya bukan tanpa sebab Bryant melakukan itu. Dirinya teringat pada insiden ketidaksengajaan pada saat mereka di Bandung. Insiden dimana bibir mereka saling bersentuhan karena tidak sengaja. Dan Bryant sedang meyakinkan jika yang ia rasakan saat itu dan sekarang adalah sama. Perasaan membuncah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Kakinya bergerak maju, membuat Airin membulatkan matanya. Selangkah Bryant bergerak maju, maka selangkah pula Airin berjalan mundur. Terus begitu hingga punggung Airin membentur dinding kaca kabin sampai ia tidak bisa bergerak dan menghindar lagi.
Bryant berhenti tepat hanya jarak satu langkah saja. Pria itu memaku Airin dengan kedua tangan, mengurungnya pada sisi kanan dan kirinya. Airin dapat merasakan hembusan napas hangat Bryant yang sangat dekat itu. Menundukkan kepalanya sambil menatap Airin yang tak bergeming. Airin sendiri mulai merasakan jantungnya yang berdegup kencang tak beraturan.
"Kak Bryant.... k-kamu.... mau ngapain?" Berusaha menahan rasa gugupnya, Airin bertanya sampai terbata.
Pria itu tersenyum, semakin menundukkan wajahnya agar semakin dekat hanya tinggal sejangkauan saja.
"Kamu ingat, insiden di Bandung kemarin?" pertanyaan Bryant itu merujuk
pada malam dimana ketidaksengajaan itu terjadi. Tidak perlu Bryant perjelas, dengan cepat Airin langsung mengingatnya. Kejadian dimana bibir mereka yang saling bersentuhan tanpa sengaja tergambar dengan jelas dikepalanya.
Wajah yang tadi pucat karena gugup, seketika berubah merona dengan cepat hingga udara dalam kabin itu terasa panas dan sesak.
"Mungkin itu adalah sebuah ketidaksengajaan. Tapi...." sebelah tangannya bergerak untuk menangkup sebelah pipi Airin dekat dengan leher. "....saat ini, aku ingin ketidaksengajaan itu berubah menjadi keyakinan."
Tanpa memberikan Airin kesempatan untuk berucap, dengan satu kali gerakan, Bryant mendaratkan bibirnya ke atas bibir Airin dengan sempurna. Membungkam gadis itu dari sanggahan yang akan keluar dari bibirnya. Saat Airin terkesiap, Bryant semakin menarik tengkuk leher Airin dengan perlahan, membawa gadis itu kedalam ciumannya yang hangat. Suara letupan dari kembang api yang saling bersahutan pun seketika menjadi alunan musik latar yang terdengar indah ditelinga.
Bryant bisa merasakan jika Airin sempat membelalak dan membeku ketika tanpa aba-aba menerima bibirnya begitu saja. Namun, dengan buaian dari kelembutan ciumannya yang lembut, membuat gadis itu terlena dan melemah hingga matanya berhasil terpejam.
Perlahan tangan Airin terangkat dan meletakkannya ke atas dada Bryant. Airin
dapat merasakan ciuman lembut itu dibibirnya. Ciuman yang hangat dan syarat akan kelembutan yang nyata.
Ciuman itu terlepas saat napas mereka mulai terengah. Bryant melepaskan bibirnya dari bibir Airin sebelum kemudian mencecapnya sedikit sambil meletakkan tangannya ke pipi Airin.
Saat bibir itu sudah terlepas, Bryant menempelkan keningnya ke kening Airin. Sambil mengatur napasnya, Bryant melirik ke arah gadis itu yang masih terpejam dengan napas tersengal dan alis yang mengernyit dalam.
"Sekarang aku udah yakin pada perasaanku. Bagaimana denganmu, Airin...?"
Suara Bryant yang tiba-tiba, memaksa Airin untuk membuka matanya. Masih sedikit tersengal dan bibir merah merekah, disertai mata teduh nan sayu dibawah lampu redup dalam kabin itu, mata Airin beradu tatap langsung ke dalam bola mata Bryant yang sedang menatapnya dengan tatapan menusuk.
Tidak ada yang terucap dari bibir Airin. Dia rupanya masih berusaha untuk mencari tahu perasaannya sendiri. Perasaan aneh yang membuncah hingga menggelitik tapi juga menyenangkan.
Tanpa diduga, Airin malah menghela napas sejenak lalu tersenyum kemudian.
Dimiringkannya kepalanya disertai mata yang menyipit, "Kamu tuh ambil kesempatan ya, kak?" Ujarnya diselipi ledekan.
Kalimat Airin membuat Bryant tergelak, lalu kemudian menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap bibir bawah Airin yang masih lembab.
"Aku hanya meyakinkan perasaan aku. Tapi... kalo kamu menganggap aku udah mengambil kesempatan dari kamu, dengan gamblang aku mengakuinya." Jawab Bryant dengan lantang dan santai.
Mereka akhirnya sama-sama tergelak, suara tawa yang memenuhi isi kabin kedap suara hingga tak seorangpun mendengarnya.
●●●
Kali ini Meila sudah tidak mampu membendung air matanya lagi. Dengan mudahnya, begitu Dimas melontarkan setiap kata-kata romantis yang menyentuh, air matanya lolos begitu saja tanpa terkendali.
Meila terisak, air matanya bercucuran membasahi pipinya. Kepalanya sampai tertunduk, menyembunyikan wajahnya dari tatapan Dimas yang pasti masih menatapnya dalam-dalam.
Disaat Meila sedang sekuat tenaga mengatur napasnya yang mulai tersekat, Dimas malah menertawainya. Diraihnya dagu itu, ditengadahkannya padanya, ditatapnya wajahnya yang memerah penuh dengan air mata. Mata sembab serta hidung yang memerah.
"Pertunjukan kembang apinya belum selesai. Kenapa kamu malah menunduk?" Ucapnya lembut sambil menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap air mata itu.
Meila tak bergeming, jangankan untuk merangkai kata, tenggorokannya seperti terpilin kuat tidak bisa mengucap kalimat. Dia hanya menatap Dimas saja yang menatap dengan matanya yang tajam namun meneduhkan.
"Ada beberapa hal yang perlu kamu tahu," Dimas mulai berucap lagi, mengapit kedua pipi Meila dengan rapat hingga membentuk wajah gemas sambil sesekali mengusap air matanya yang menetes kembali. "Kalo aku jadi air mata kamu, aku akan lahir dari mata kamu, hidup dipipi kamu," ibu jarinya bergerak seirama mengelus pipi kenyal gadis itu, "dan juga mati dibibir kamu." Lalu ibu jari itu bergerak turun untuk mengusap bibirnya dengan lembut. "Tetapi....." suaranya terhenti, sambil mengedarkan bola matanya ke seluruh wajah Meila. "......kalo kamu yang jadi air mata aku, aku nggak akan pernah menangis. Karena apa? Karena aku nggak mau kehilangan kamu." Sambungnya kemudian dengan kalimat lugas dan intonasi tegas.
Seketika dadanya bergemuruh, entah bagaimana lagi caranya agar tidak menumpahkan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Air mata itu lolos begitu saja, bercucuran tanpa henti dengan isakan yang tak terkendali.
"Kak Dimas, mau sampe kapan kamu akan buat aku terharu. Kamu kan tau, kalo aku paling gampang buat nangis. Apalagi.... kalo kata-kata itu sangat menyentuh." Ujarnya dengan nada merajuk sambil menahan isakannya.
Dimas terkekeh disertai tatapan yang berubah sayang. Dia mendaratkan sebuah kecupan ke kening Meila dengan lembut.
"Ini belum semuanya, masih ada satu lagi." Ucapnya sambil menggesekkan bibirnya pada kening itu. Lalu, Dimas bergerak mundur dan berhenti tepat dibelakang gadis itu.
"Sekarang kamu liat kembang api itu, lalu pejamkan mata kamu." Perintahnya dengan berbisik.
Meila sempat menoleh kebelakang, menatap bingung pada Dimas. Namun, setelah pria itu meyakinkannya, Meila menurutinya, menatap langit bagaikan kanvas raksasa yang menyala dengan kembang api sambil mengukir senyum. Kemudian, menutup matanya seperti yang diinstruksikan Dimas kepadanya.
Dengan perlahan, Dimas merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak persegi berwarna merah bludru. Lalu mengambil sebuah kalung dan langsung diposisikan ke depan wajah Meila.
"Perlahan kamu buka mata kamu," perintahnya berbisik diselipi dengan kelembutan.
Saat matanya membuka sempurna, Meila sungguh terperangah dengan apa yang dilihatnya. Matanya membulat sempurna dipenuhi dengan keterkejutan yang nyata. Namun, pancaran dari binar matanya yang jernih telah menggambarkan perasaannya. Mungkin inikah yang Dimas maksud dengan sesuatu yang berbeda itu?
Itu adalah kalung emas berliontin infinity♾, berwarna rose-gold yang berkilauan. Bentuknya sangat sederhana, jauh dari kata mewah namun terkesan elegan dan simpel, sangat cocok dengan kepribadian Meila yang manja dan polos.
"Kak, ini....." jemarinya meraih liontin itu yang masih dalam genggaman Dimas.
Sambil memposisikan diri, Dimas memakaikan kalung itu ke leher Meila sambil mengucap sesuatu.
"Aku membelinya di hari saat penculikan itu terjadi." Dimas sudah pasti merujuk pada kejadian dimana Meila diculik oleh Beno. "Ketika aku dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah toko dan berinisiatif mengunjunginya. Tanpa harus melihat berbagai macam pilihan, aku langsung tertarik dengan kalung ini dan membelinya. Lalu, aku membayangkan kalo kamu memakainya. Pasti akan sangat cantik dan terlihat manis."
"Kalung ini memiliki arti tanpa batas atau tak terhingga. Bentuknya tidak termasuk kedalam sebuah huruf, melainkan termasuk dalam bentuk simbol bukan huruf yang merupakan dalam ketegori bilangan. Bahkan, dalam sebuah blog milik Aria Turn dituliskan bahwa, Tak terhingga atau infinity diambil dari kata "infinitas" yang artinya tak terbatas." Perlahan, Dimas membalikkan tubuh Meila dan dihadapkan padanya.
Dimas bisa melihat jelas jika binar yang terpancar dari mata bening dan sayu itu adalah perpaduan antara rasa haru dan bahagia.
Meila meraih liontin itu, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca kembali.
Tatapan Dimas melembut sampai dirinya tidak tahan untuk menangkup kedua pipi Meila. "Aku pengen kamu tau kalo perasaan aku ke kamu itu seperti simbol ini. Tanpa batasan ruang dan waktu, tak terhingga meski terpisah jarak, setiap detik, menit bahkan jam, aku akan selalu jatuh cinta sama kamu."
Mereka saling bertatapan ditengah suara riuh rendah pengunjung dibawah suara letupan kembang api yang saling menyambar.
"Aku mencintaimu, Carmeila Queenza."
Entah karena Dimas yang pertama kali mengucap namanya dengan lengkap, atau memang suasana dan hatinya yang memang telah tersentuh sejak tadi, air mata itu bercucuran kembali. Terisak ditengah-tengah senyum haru kebahagiaan yang membuncah didada.
"Seni seviyorum..."
Dengan susah payah Meila berusaha mengucapkan kata itu meski tenggorokannya tersekat karena isakan. Sedangkan Dimas, sempat terpaku ketika dengan tiba-tiba, untuk pertama kalinya gadis itu mengucapkan kata cinta padanya.
Senyum Dimas membentuk sempurna. Lalu dengan segera menghadiahkan ciuman ke bibir Meila yang gemetar. Sedikit ********** sebelum kemudian memberikan cecapan kecil ke bibir Meila yang lembut.
Jika biasanya Meila hanya diam dan menerima saja kecupan itu, kali ini dia membalasnya. Bahkan sampai Dimas harus melepaskan bibirnya sejenak karena tidak percaya.
"Kamu membalas ciumanku?" Tanya Dimas tidak percaya.
Dengan napas yang sedikit tersengal, Meila mengangguk perlahan dengan pipi memerah menahan malu. Pria itu memeluk mesra pinggang Meila, lalu menarik belakang leher gadis itu untuk mendaratkan ciuman lagi ke bibirnya. Kali ini keduanya saling memberi dan menerima. Menyalurkan rasa cinta masing-masing dengan perasaan lega satu sama lainnya.
"Ben de... ben de çok seviyorum seni, Sevgilim!"
Dimas menggesekkan bibirnya, mengucap balasan dari pernyataan Meila begitu melepaskan bibirnya dari bibir gadisnya, lalu menghembuskan napasnya disana.
Lagi, Dimas membuatnya terharu sekaligus bahagia. Meila belum pernah merasa sebahagia ini. Gadis itu langsung memeluk Dimas dengan erat, melingkarkan lengannya pada punggung Dimas yang kokoh. Begitupun Dimas, dengan sigap langsung merapatkan gadis itu padanya, semakin menempel rapat.
"Terima kasih untuk semuanya, Kak. Terima kasih untuk sesuatu yang berbeda ini. Aku sangat menyukainya. Dan aku sangat bahagia."
"Sama-sama, Sayangku." Lagi, Dimas menghadiahkan kecupan ke puncak kepala Meila, disertai usapan kepala sayang untuk gadisnya.
"....I Love You...." Sambil menciumi pelipis Meila, juga menghirup aroma dari rambutnya yang harum.
"Aku tau," Meila tersenyum haru, menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Dimas yang hangat menyenangkan, bersandar pada dadanya yang bidang untuk menghirup aroma vanila dan green tea yang menenangkan baginya. Tenggelam dalam nuansa magis didetik-detik akhir pertunjukan kembang api yang sangat indah.
●●●
Hujanpun turun bertepatan dengan berakhirnya pertunjukan kembang api. Beruntung Dimas dan Meila berada dekat dengan gazebo yang memudahkannya untuk berteduh sementara, menghindar dari air hujan yang berjatuhan.
Para pengunjung pun tampak berlarian mencari tempat berteduh. Ada pula yang langsung menuju lapangan parkir untuk berlindung kedalam kendaraan masing-masing.
Dimas menarik tubuh Meila agar merapat padanya. Merengkuhnya kedalam dekapan hangatnya sambil mengusap lengan punggung Meila sebagai penghantar rasa hangat dari kulit ke kulit.
"Kamu kedinginan?" Tanya Dimas dengan nada perhatian sambil merapatkan diri pada Meila.
Meila menggeleng, mengangkat kepalanya ke arah Dimas. "Aku masih bisa tahan, kak."
Dimas tersenyum, lalu menghadiahkan sebuah kecupan ke kening Meila.
"Kita tunggu sampai hujannya reda, ya. Setelah itu baru kita pulang."
"Sekarang pun gak apa-apa, kok. Kita nggak tau kapan hujannya akan berhenti, kan?" Sergah Meila dengan cepat,
"Nanti kamu sakit, Sayang..." ucap Dimas sambil menyelipkan anak rambut Meila ke belakang telinga.
"Kan ada kak Dimas," jawabnya sambil terkekeh manja, membuat Dimas mengerutkan dahinya.
"Kamu udah mulai nakal, ya?" Dengan gemas, Dimas mencubit hidung Meila dengan gemas.
Meila pun terkekeh, lalu menyandarkan dagunya pada dada Dimas dengan kepala menengadah. "Aku baik-baik aja, kak. Daripada disini nggak ada siapa-siapa, semua pengunjung udah pulang semua." Ucapnya lagi sambil membuat wajah gemas dan manja, serta tatapan sayu dari mata beningnya.
Tiba-tiba suara pesan singkat dari ponsel Dimas berbunyi. Perlahan Dimas meraih ponselnya yang ia simpan di saku celana. Lalu membuka pesan itu dengan sebelah tangannya.
"Dari siapa?" Tanya Meila ingin tahu.
Dimas mengerutkan keningnya, kemudian berubah menjadi senyuman ironi.
"Dari Bryant. Dia cuma ngasih tau, kalo mereka pulang duluan sekalian nganter Airin katanya."
Meila terperangah senang, lalu membentuk senyuman lebar.
"Aku yakin deh, kak. Pasti udah terjadi sesuatu dengan mereka." Ucapnya dengan mata mengerling.
"Sesuatu?" Ucap Dimas membeo. Dinaikkannya sebelah alisnya. Lalu, dengan cepat mengecup bibir ranum nan manis itu dengan singkat. "Seperti itu maksudnya?"
Lalu, bola matanya memutar tampak berpikir, "mmm.... mungkin?" Kemudian terkekeh gemas sambil membayangkan hal itu.
Dimas membawa Meila kedalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut sambil berucap.
"Kita pulang sekarang?" Dimas menunduk, memiringkan kepalanya untuk memastikan, dan dengan cepat Meila langsung menganggukkan kepalanya kuat-kuat.
Perlahan Dimas menghela Meila agar semakin merapat padanya, melindunginya dari rintik hujan yang masih setia menyapa, meletakkan telapak tangannya ke atas kepala gadis itu. Lalu, mengajaknya untuk berlari menuju lapangan parkir yang tampak mulai sepi oleh pengunjung.
●●●
Mereka telah sampai dan telah memasuki halaman. Setelah mobilnya terparkir, Dimas langsung menarik Meila dan memasuki rumah. Membawanya ke kamarnya sebelum kemudian mengambil sebuah handuk kering dari dalam lemari.
Diusapnya rambut Meila menggunakan handuk itu. Hujan deras yang datang tiba-tiba sejenak berubah gerimis saat mereka dalam perjalanan. Meski hanya hujan ringan, namun tidak mampu menghindarkan mereka dari basahnya air hujan yang menimpa.
Dengan lembut, Dimas mengeringkan rambut Meila yang basah dengan handuk, mengusapnya dengan gerakan selembut mungkin agar tidak menyakiti.
"Kamu kedinginan?" Tatapan Dimas tampak khawatir ketika melihat Meila yang mulai menggigil saat merasakan pendingin ruangan menyentuh kulitnya.
Tidak mau melihat Dimas cemas, Meila tersenyum, tak urung dia mengucap kata
"I'm okay, kak Dimas..."
Dengan cepat Dimas mengambil handuk kering yang mirip seperti selimut tebal lalu menyelimuti seluruh tubuh Meila tanpa sisa hingga tubuh gadis itu tenggelam sepenuhnya oleh handuk. Membungkusnya dengan rapat sambil melengkungkan sebuah senyuman meneduhkan.
"Kalo gini kamu nggak akan kedinginan. Malah terlihat imut dan menggemaskan." Rayunya dengan nada lembut dan perhatian.
Suara bel yang dibunyikan membuat keduanya menoleh seketika. Gerakan Dimas yang masih mengusap rambut Meila yang basah sempat terhenti sebelum kemudian mengucapkan sebuah instruksi.
"Kayaknya ada yang datang. Setelah ini kamu bersih-bersih dan ganti pakaian kamu. Ingat, jangan terlalu lama, pakai air hangat cuma buat membasuh tubuh kamu dari air hujan. Aku akan liat siapa yang datang." Perintah Dimas dengan tegas, dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Meila.
"Gadis pintar." Lalu menghadiahkan kecupan singkat ke dahi Meila, dan membiarkan gadisnya membersihkan diri, sementara dirinya melenggang pergi untuk memastikan siapa yang bertamu kerumahnya jika bukan karena sesuatu yang penting dan mendesak. Sebab, Dimas telah memerintahkan kepada tim keamanannya untuk menolak siapapun yang datang dan ingin menemuinya, terlebih lagi jika itu berkaitan dengan Meila.
Dengan segala pertanyaan yang mengganggu pikirannya, perlahan Dimas membuka pintu. Tampak sudah berdiri seorang pria bertubuh tegap mengenakan seragam serba hitam sedang menunggu sang tuan rumah membukakan pintu untuknya. Pria itu terlihat membungkukkan tubuh dengan hormat saat Dimas telah berdiri menunggu reaksinya.
"Maaf tuan, sudah mengganggu waktu istirahat Anda."
"Ada apa?"
"Ada yang ingin bertemu dengan nona, tuan. Kami sudah memberitahu jika nona sedang tidak bisa menerima tamu. Tapi mereka tetap memaksa. Mereka bilang... ada sesuatu yang penting dan harus dibicarakan langsung dengan nona."
Tampak Dimas mengerutkan keningnya, berpikir sejenak dan menimbang-nimbang, namun tak urung dia menanyakan pada pria itu siapa yang ingin sekali bertemu dengan gadisnya.
"Dimana mereka?" Tanya Dimas ingin tahu.
"Disana tuan," dengan segera, pria itu langsung mengarahkan Dimas ke arah dimana orang yang dimaksudkan sedang menunggu keputusan darinya.
"Ajak mereka kesini. Aku sendiri yang akan memutuskannya." Perintah Dimas dengan tegas hingga membuat pria itu dengan segera kembali ke tempat orang itu menunggu sebelum kemudian membungkuk hormat lalu mengundurkan diri.
Tanpa menunggu lama, tampak sepasang wanita dan pria paruh baya datang menghampirinya dengan diantarkan oleh pria yang ditugaskan Dimas. Setelah mengantarkannya pada Dimas, pria itu lalu meminta izin untuk kembali bertugas seperti yang diperintahkan padanya.
"Saya permisi, tuan." Pamit sang pria yang dibalas anggukan kepala tipis oleh Dimas.
Tanpa menunggu waktu lagi, Dimas dengan segera menanyakan maksud dari kedatangan mereka yang tampak memaksa untuk bertemu dengan Meila.
"Maaf, anda siapa? Dan ada keperluan apa anda bertamu kemari?"
Tampak sang wanita paruh baya itu gugup saat akan menjawab pertanyaan Dimas. Wanita itu sempat melirik ke arah sang suami sebelum kemudian akhirnya mengucapkan maksud kedatangan mereka.
"Sebelumnya... kami minta maaf jika kami telah mengganggumu. Kami adalah orang tua Sisil." Mendengar nama Sisil, Dimas langsung tertegun disertai bola mata yang melebar. "Kami datang kemari ingin bertemu dengan Meila. Kami mencari informasi dimana Meila tinggal, dan informasi yang kami dapat katanya dia tinggal disini. Apa kami.... boleh menemuinya? Ada hal penting yang harus kami tanyakan dan bicarakan langsung padanya. Tolong... tolong izinkan kami bertemu dengannya."
Mendengar penjelasan wanita itu, membuat Dimas menimbang dan sedikit tidak tega jika dengan sepihak langsung memutuskan jika dia tidak mngizinkan siapapun untuk bertemu dengan Meila. Terlebih lagi jika itu menyangkut wanita yang telah membuat Meila menderita. Tetapi, dikarenakan ada rasa iba dari permohonan seorang ibu, dan juga dalam hatinya yang membisikkan padanya agar dia memberikan izin, akhirnya Dimas memutuskan untuk mengizinkan mereka mengutarakan maksudnya pada yang bersangkutan.
Disaat Dimas akan bersuara mengeluarkan keputusannya, tiba-tiba...
"Kak Dimas, siapa yang datang?"
Suara lembut dan polos itu terdengar dari arah anak tangga hingga sampai ke telinganya, membuatnya menoleh dengan cepat ke arah sang pemilik suara itu.
Meila berucap sambil berjalan mengampiri Dimas yang masih berdiri didepan pintu sambil terdiam membisu. Sementara Meila, yang sudah sampai dan berdiri disampingnya, tampak berdiri dengan memasang wajah bingung ketika melihat wanita dan pria paruh baya yang tampak lesu sedang menatap Dimas penuh harap.