A Fan With A Man

A Fan With A Man
Tatapan Penuh Makna



"Ayo, kenapa masih melamun? Kamu nggak mau masuk?"


James dan Sisil baru saja tiba di depan rumah Sisil dan akan memasuki halaman rumah. Tetapi, saat James akan mulai melangkah masuk, Sisil justru masih terlihat ragu dan termenung. Hal itu membuat James bertanya pada Sisil.


"Oh, i-iya," Sisil menyahut karena terkejut.


Karena langkah Sisil yang terlalu lama, dan juga karena tidak sabar, akhirnya James menarik tangan Sisil agar berjalan bersamaan.


Tepat di depan pintu utama, James lah yang berinisiatif menekan tombil bel. Yang tidak begitu lama langsung dibukakan oleh sang asisten rumah tangga yang langsung menyapa keduanya.


"Non Sisil,? Tuan James? Mari, masuk. Tuan dan nyonya kebetulan sedang berada di ruang tamu."


James mengangguk dengan senyuman, sementara Sisil tampak tersenyum getir karena merasa waswas akan dimarahi papanya.


Begitu mereka sudah menuju ruang tamu, James langsung menyapa Adrian dan Riana yang belum menyadari kedatangan mereka hingga akhirnya keduanya terkejut dan tampak senang.


"Kalian? Ayo, ayo, masuk." Ajak Adrian dengan ramah


Seketika Riana langsung merangkul dan memeluk Sisil. Dan Sisil merasa terkejut saat itu juga.


Memangnya selain dengan kebohongan yang James buat, apalagi yang pria itu ceritakan?


"Sisil, bagaimana kondisi mu, nak? Kamu baik-baik aja, kan?"


Dengan masih memasang ekspresi heran penuh tanya, namun tak urung Sisil menjawab pertanyaan Riana dengan tenang.


"Aku baik-baik aja kok, ma, pa... maaf aku nggak ngabarin kalian kemarin."


"Nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu pulang dengan selamat. James sudah menceritakan semuanya pada kami. Iya, kan, pa?"


Adrian mengangguk mengiyakan. Sosoknya yang biasa tegas dan sedikit galak, seketika tampak berwibawa dan tenang kali ini.


"Itu benar. Harusnya kamu membangunkan kami saja. Kami pasti akan mengantar kamu."


"Ah, itu... Nggak apa-apa kok, pa. Aku cuma nggak mau mengganggu istirahat kalian. Lagipula itu udah tengah malam."


"Ya sudah,... sekarang kamu mandi, ya. Bersih-bersih,"


Sisil mengangguk dengan perintah Riana, raut kelegaan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Dan itu tak luput dari pengawasan James.


"Dan kamu, James, berhubung kamu sudah disini, kamu pernah janji untuk ngopi bareng om, kan? gimana kalau kita ngpbrol-ngobrol?" Adrian rupanya sedang menagih janjinya pada James. Dan tanpa berat hati, James langsung mengabulkannya.


James tertawa renyah. "Sure. Dengan senang hati, om." Lalu mengiyakan permintaan Adrian padanya.


"Ya sudah, kalau gitu... biar tante yang akan buatkan kopi dan camilan buat kalian."


Tak kalah dengan suaminya, Riana tampak ikut senang menerima kehadiran James di rumah mereka.


"Terima kasih, tante." James mengucap dengan sopan.


Lalu Setelahnya, Adrian langsung menghela James untuk duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang ringan. Sedangkan Sisil, yang langsung membawa kakinya berjalan menuju kamar, tampak masih memperhatikan interaksi damai antara papanya dan juga pria yang beberapa jam lalu telah membuat perasaannya sedikit melunak. Mencuri pandangan dari kejauhan yang tiba-tiba saja tanpa disadarinya membuat hatinya membuncah senang. Dan dadanya pun bergemuruh riang. Wajahnya menjadi panas kala dia mengingat kejadian semalam tentang bagaimana James menenangkannya dengan penuh sabar dan sebuah pelukan.


●●●


Suasana ruang tamu itu terasa hangat. Ada canda tawa yang tercipta diantara dua pria yang saat ini sedang bertukar cerita ringan. Sisil terlihat sedang membantu Riana di dapur. Menyiapkan kopi dan juga teh serta camilan untuk menemani perbincangan papanya dan James.


"Sisil, ayo antarkan kopi itu untuk papa kamu dan James. Mama akan siapkan camilannya. Jangan lupa teh nya juga, ya."


"Iya, ma."


Sisil langsung mengambil sebuah nampan dan meletakkan dua cangkir kopi dan juga dua cangkir teh hangat ke atas nampan. Dan berjalan perlahan menuju ruang tamu untuk diletakkan disana.


"Ini kopinya, pa..."


"Terima kasih, sayang." Jawab Adrian lembut.


"Ini untukmu," lalu memberikan secangkir kopi untuk James dan diletakkan ke depannya.


"Thanks,"


James pun menjawabnya dengan suara pelan namun hangat. Ditambah lagi dengan tatapan matanya yang meneduhkan. Membuat Sisil seketika salah tingkah dan kesal sendiri.


"Nah, ini dia camilannya." Riana berseru kejauhan dari arah dapur. Membuat semuanya menoleh padanya dengan saling melempar senyum.


"Wah, tante. Aku jadi ngerepotin, nih." James berucap dengan bercanda.


"Aduh, James. Tante malah seneng kamu main kesini. Om jadi ada yang nemenin ngobrol. Terutama masalah perusahaan. Tante suka nggak nyambung malah kalau membicarakan masalah perusahaan." Kilah Riana sambil terkekeh. Sontak membuat semuanya ikut terkekeh tak terkecuali Sisil yang ikut tertawa ringan.


Tawa Sisil itu tak pelak membuat James menjatuhkan pandangan padanya secara terang-terangan. Tatapan yang dalam dan penuh makna. Seketika, tanpa sengaja pandangan mereka pun akhirnya bertemu. Saling bertukar pandangan hingga 5 detik yang langsung diputus lebih dulu oleh Sisil dengan salah tingkah. 


●●●


"Akh! Aaaaakh... Sial!"


Beno terlihat meringis kesakitan dengan setengah berteriak. Dia masih bersembunyi di sebuah gudang tua dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Luka di wajahnya terlihat cukup parah dengan luka lebam yang mulai membiru gelap. Sementara perutnya yang habis terkena tendangan James terlihat seperti remuk diantara tulang-tulang rusuknya.


Untung saja Beno masih bisa menahan rasa sakitnya. Jika tidak, mungkin dia sudah mati setelah pukulan dan tendangan itu diberikan.


Karena tidak bisa berdiam diri begitu saja, akhirnya Beno bergerak bangun dengan kaki terpincang-pincang sambil memegangi perutnya. Mengambil sweater hoodie berwarna hitam serta memakai masker wajah untuk menutupi sebagian wajahnya. Lalu menutupi kepalanya dengan hoodie dan berjalan keluar gedung dengan tujuan membeli sebuah obat.


Penampilannya yang cukup mencurigakan itu sempat menarik perhatian banyak orang. Namun Beno tidak menghiraukannya. Dia justru berjalan semakin cepat agar segera sampai ke toko obat untuk membeli obat-obatan yang dibutuhkannya.


Sesampainya di sebuah apotek, James langsung meminta kepada seorang apoteker beberapa perlengkapan obat dan juga alat yang akan digunakan untuk menutupi luka-luka di tubuhnya.


Tanpa memberi kesempatan apoteker itu menyapanya, Beno langsung menyela dengan kalimat kasar.


"Cepat berikan aku alkohol, perban, dan juga obat untuk mengobati luka."


Tingkahnya itu sempat membuat seorang penjaga toko curiga. Namun, gaya Beno yang seperti sedang menindas membuat pelayan toko itu ketakutan dan tanpa banyak bertanya langsung menyiapkan pesanan yang diminta oleh Beno.


Lalu setelahnya, saat Beno telah menerima perlengkapan alat dan beberapa obat yang telah di kemas ke dalam sebuah kantung, Beno langsung pergi setelah meninggalkan beberapa lembar uang ke atas meja etalase toko dan menghilang tanpa jejak.