A Fan With A Man

A Fan With A Man
Mengambil Tindakan



Sesampainya di rumah sakit, Dimas langsung membawa Meila sambil berlari. Dia tidak menghiraukan tatapan orang-orang padanya. Yang dia utamakan saat ini adalah, Meila, gadisnya yang sedang sangat membutuhkan pertolongan akan rasa sakitnya.


Meila terus meringis kesakitan, kesadarannya pun mulai menurun. Namun Dimas berusaha agar Meila tidak hilang kesadarannya.


"Suster, dimana dokternya?" Dari kejauhan Dimas sudah berteriak sambil berlari-lari. "Dia sedang sangat kesakitan, Suster. Saya butuh pelayanan secepatnya."


Mendengar ada keributan, seorang dokter keluar dari ruangannya untuk mencari tahu. Dan benar saja, dokter itu ternyata langsung mengenali suara dari ribut-ribut yang ditimbulkan oleh Dimas.


"Dimas?"


Dia adalah Dokter Yoga. Yoga Pradana, yang beberapa waktu lalu sempat menangani Meila saat gadis itu mengalami demam tinggi. Dan Dimaslah yang menghubunginya.


Dimas menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya langsung memancarkan kesan lega namun kecemasan juga masih terpampang nyata di sana.


"Om Yoga? Syukurlah..." sejenak, Dimas dapat bernapas lega.


"Ada apa, Dim? Dia...." melihat gadis yang di gendong Dimas adalah gadis yang sama yang pernah di rawatnya, Yoga langsung dapat mengenalinya.


"Om, aku butuh pertolongan pertama untuknya. D-dia... sangat kesakitan, Om." Suara Dimas terdengar memohon.


"Yasudah bawa dia ke ruang rawat. Biar Om yang akan menanganinya."


Tanpa berpikir panjang, Yoga langsung menyuruh beberapa perawat untuk menyiapkan alat-alat yang diperlukan. Sementara Dimas, langsung mengikuti Yoga untuk membawa Meila ke ruang rawat seperti yang diinstruksikannya.


Dimas membaringkan Meila ke atas ranjang, tangannya menggenggam erat tangan Meila sambil mengucapkan kata-kata menenangkan untuknya.


Yoga mulai menyingkap sedikit baju Meila untuk melihat luka yang ada di perutnya. Tidak memakan waktu lama, Yoga langsung memutuskan untuk mengambil tindakan operasi guna menutup lukanya kembali dan menghentikannya dari pendarahan. Pun, agar mencegah terjadinya komplikasi tentunya.


"Ada luka jahitan di sini. Dan luka jahitannya terbuka. Kita harus melakukan operasi kecil untuk menghentikan pendarahan dan menutup lukanya kembali." Dokter Yoga berucap saat melihat luka di perut Meila.


Mendengar penjelasan Yoga, Meila semakin menangis dan mengeratkan pegangannya pada Dimas. Gadis itu semakin ketakutan saat mendengar kata operasi dari mulut Yoga.


"Kak..." Meila merengek di sela-sela tangisnya.


"Lakukan yang terbaik, Om. Apapun itu." Dimas menyahuti.


Dimas sudah tidak bisa lagi berpikir. Dengan menyetujui Yoga, baginya adalah keputusan terbaik yang dia ambil untuk Meila saat ini.


Yoga mengerti kecemasan Dimas. Dia tidak mengatakan apapun lagi selain anggukan kepala seraya isyarat mata padanya, seolah menjelaskan tidak akan terjadi apa-apa pada gadis yang sangat dicintainya itu.


Melihat Meila yang tidak berhenti menangis, Dimas menundukkan


kepalanya sambil membawa satu tangannya mengusap kepala Meila.


"Mei, semuanya akan baik-baik aja. Kamu dengar aku, hm?" Bisiknya lembut.


"Suster, segera siapkan ruang operasi. Kita akan melakukan operasi secepatnya."


Setelah Yoga memberikan perintah, dengan berat hati Dimas langsung meninggalkan Meila yang masih terisak sebelum kemudian mengecup dahinya lembut sambil melepaskan tangannya. Membiarkan tim dokter beserta perawat melakukan pekerjaannya dengan baik demi menyelamatkan orang yang amat disayanginya.


●●●


"Dia tidak apa-apa. Hanya saja... kakinya sedikit terkilir akibat tertimpa benda berat."


Seorang dokter baru saja selesai memeriksa Vika. Dokter itu sengaja melakukan pengecekan dalam pada pergelangan kakinya. Dan menurut hasil, pergelangan kakinya terkilir hingga akhirnya menimbulkan memar di area mata kakinya. Tidak ada yang mengkhawatirkan dari kondisi Vika. Mungkin juga dikarenakan dia yang sedikit sigap mendorong Meila sampai dia tidak berhasil menghindar sepenuhnya hingga mengakibatkan kakinya tertimpa rak kayu besar itu.


"Hati-hati." Ucap Rendy yang sedang membantu Vika untuk menuruni ranjang. Memapahnya dengan perlahan dikarenakan kakinya yang masih terasa nyeri.


"Satu atau dua hari memarnya akan hilang seiring dengan rasa sakitnya. Saya akan memberikan beberapa resep obat untuknya."


Mereka duduk di kursi yang berhadapan dengan meja dokter. "Apa ada luka dalam yang perlu dikhawatirkan, dok?" Karena masih merasa cemas, Rendy bertanya kembali tentang kondisi Vika untuk memastikannya.


Dokter itu tersenyum, "tidak ada. Hanya butuh istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak menggerakkannya. Apalagi melakukan kegiatan yang memicu beban yang berpusat di kakinya."


Rendy dan Vika mengangguk mengerti, "baik, dok. Terima kasih." Lalu, Rendy dan dokter itu saling berjabat tangan sebelum kemudian berbalik keluar dari ruangan itu sambil membantu Vika berjalan.


Rendy menebus beberapa obat yang telah diresapkan dokter, sementara Vika menunggunya di kursi tunggu. Vika tidak bisa menutupi rasa cemasnya akan kondisi Meila. Mengingat bayangan gadis itu yang tampak begitu kesakitan sampai menumpahkan air mata hingga wajahnya memerah.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama Meila? Kenapa dia begitu kesakitan? Apa... apa aku mendorongnya begitu kencang?" Gumamnya dengan nada bersalah dan tangan gemetar.


Sesaat kemudian Rendy datang dengan membawa kantung obat yang telah dibelinya, menghampirinya dengan wajah bingung.


"Ada apa, Vika?" Tanya Rendy sambil membawa dirinya berlutut di hadapan Vika.


"Rendy, aku... aku memikirkan Meila. Apa dia baik-baik aja? Dia begitu kesakitan tadi. Aku menariknya agar dia terhindar dari rak itu. Tapi... tapi dia...." Ucapnya cemas dan air mata pun mulai menggenang di pelupuk matanya.


Perlahan, Rendy tersenyum sambil membawa tangannya bergerak naik, menangkup kedua tangan Vika yang tampak gemetar dan meremasnya lembut.


"Vika, kamu nggak perlu mengkhawatirkan itu. Meila kesakitan karena luka jahitan di perutnya."


Vika terkejut, "luka jahitan?" Seolah tidak percaya, Vika mengulang ucapan Rendy.


Kedua mata Rendy menajam saat akan melanjutkan ucapannya kembali. "Ternyata rencana mereka udah dimata-matai Beno tanpa mereka sadari. Karena kami pikir, pria brengsek itu menyerah dan bertaubat." Ada kilatan amarah di mata Rendy. "Tapi ternyata kita salah, Beno melancarkan aksi balas dendamnya dengan berniat menusuk Dimas. Tapi, Meila datang dan sudah berdiri di hadapan Dimas dengan membelakanginya, untuk mencegah itu terjadi hingga dialah yang akhirnya terkena pisau itu."


Mendengar pengakuan Rendy, Vika terperangah sekaligus tidak percaya. Dia benar-benar terkejut sekaligus sedih.


"Astaga, Rendy..." Vika akhirnya menitikan air matanya. "La-lalu... kenapa dia sangat kesakitan tadi? Apa aku... menariknya begitu kencang?"


"Ssshh... bukan, Sayang." Rendy mengusap air mata Vika di pipinya.


Lalu menghembuskan napasnya perlahan, "Dimas bilang sama aku, kalo tadi pagi Meila memang udah merasakan sakit itu. Dimas udah berusaha untuk membujuk Meila untuk izin masuk kuliah dan mengajaknya check-up. Tapi Meila menolak. Dia memohon sama


Dimas dan berjanji untuk memeriksakannya setelah pulang kuliah nanti. Tapi kejadiannya malah kayak gini." Rendy terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Andai aku tau kejadian sebenarnya.... aku mungkin akan lebih hati-hati menariknya." Sesal Vika.


"Nggak ada yang perlu disesali, Vika. Nggak akan terjadi apa-apa sama Meila." Ucap Rendy menenangkan. "Dimas udah mengabari aku kalo Meila udah mendapatkan perawatan terbaik. Semuanya akan baik-baik aja. Hm?" Ucap Rendy lagi dengan penuh sayang.


●●●


Operasi berjalan lancar. Dan saat ini Meila sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Melihat tidak adanya komplikasi di lukanya, tim dokter segera memutuskan untuk memindahkannya ke ruangan rawat karena kondisinya yang stabil. Dan sekarang, dia masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius.


"Syukurlah tidak ada komplikasi di tubuhnya. Jadi, kita hanya tinggal melihat perkembangannya satu sampai dua hari kedepan."


Saat ini, Dimas dan Yoga sedang berada di sisi kanan dan kiri ranjang Meila. Yoga sedang mengecek botol infus yang dialiri ke tangan Meila, sekaligus melihat kondisinya setelah menjalani operasi. Meskipun itu hanya operasi kecil, tapi pengecekan luar dan dalam keseluruhan tubuh sangat diperlukan agar dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


"Apa ada yang perlu dikhawatirkan, om? Karena pada operasi pertama, Meila sempat mengalami pendarahan dan komplikasi karena saat itu bertepatan dia mengalami masa periodenya." Sambil berdiri cemas menatap Meila yang masih tertidur, Dimas menanyakannya untuk lebih memastikannya lagi. Sebab, dia tidak mau jika nantinya gadis itu akan merasa kesakitan lagi.


Melihat kekhawatiran yang ditunjukkan Dimas, Yoga sangat memahami. Dia sangat tahu jika gadis itu sangatlah berarti untuknya.


Dokter Yoga menipiskan bibirnya diikuti dengan helaan napas. "Untuk saat ini, om pastikan tidak ada, Dimas. Kamu bisa mempercayai kata-kata om. Untuk lebih memastikannya lagi... dia harus memeriksakannya satu minggu sekali setelah melakukan operasi ini sampai lukanya benar-benar tertutup dan sembuh."


Seakan mengerti ucapan Yoga, Dimas mengangguk diikuti helaan napas lega. Lalu, sebuah gerakan pada jemari lentik milik Meila disertai suara erangan lemah dari bibir yang sedikit pucat membuat fokusnya terarahkan pada satu titik. Dengan segera, Dimas mendekat dan membungkuk, menangkup dahi Meila dengan lembut sambil berbisik.


"Mei, kamu udah sadar?" Melihat Meila merasa tidak nyaman, Dimas berbisik kembali dengan kata-kata menenangkan. "Ssshh... aku di sini. Jangan terlalu banyak gerak." Mendengar kalimat Dimas yang lembut, perlahan Meila mulai menenang, lalu membuka matanya yang masih sayu bercampur bengkak karena habis menangis.


Hal pertama yang Meila lihat saat membuka matanya adalah Dimas, matanya langsung berkaca-kaca saat menatap pria itu. Melihat Meila seperti akan menangis, Dimas langsung berusaha menenangkannya. Karena hal itu akan menimbulkan tekanan pada perutnya. Dan itu akan membuatnya kesakitan lagi.


Kemudian, Meila beralih menoleh ke arah kirinya, di sana dia langsung melihat jelas seorang dokter yang penuh wibawa sedang tersenyum menatapnya.


"Halo!" Sambil setengah melambai. "Kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Mungkin kamu lupa. Tapi kalau boleh diingatkan lagi, saya yang menangani kamu saat kamu demam waktu itu." Dokter Yoga menjelaskan perlahan pada Meila. Seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang sedang ketakutan guna menggali kembali ingatannya.


"Syukurlah kamu sudah sadar." Sambil berucap santai, Yoga menggerakkan tangannya pada stetoskop dan mengarahkannya ke dada Meila lalu memeriksa denyut nadinya. "Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?"


Melihat dokter Yoga yang begitu ramah, Meila berusaha menjawab dan akan mengucapkan kalimatnya namun di tahan oleh Yoga.


"Jangan terlalu dipaksakan jika masih terasa sakit. Berbicaralah seperlunya. Ya? Karena berbicara terlalu banyak akan membuat tekanan di perut kamu. Dan itu akan menimbulkan rasa sakit."


Mendengar saran dari dokter Yoga, Meila mengangguk seraya berucap dengan suara pelan dan lemahnya.


"Te-terima... kasih, dok.......?"


"Panggil Om Yoga aja. Sama seperti Dimas."


Meila mengangguk paham meski masih terlihat lemah. Setelahnya, karena tidak ingin memangkas waktu kebersamaan Dimas dan Meila, dokter Yoga mengundurkan diri sebelum kemudian berucap pada Dimas.


"Baiklah.. Om akan tinggal dulu karena ada banyak pasien yang menunggu." Kelakarnya ringan. "Ah, ya. Dimas, sebelum kekasihmu pulang dari rumah sakit ini, main-mainlah dulu ke ruangan om. Kapan saja."


Mendengar dirinya disebut sebagai 'kekasih' Dimas, Meila tidak bisa menyembuyikan rona merah di pipinya. Sementara Yoga, terlihat samar senyuman puas yang disengaja dengan mengatakan kalimat seperti itu dan Dimas pun sangat menyadarinya. Pria itu hanya tersenyum seraya mengangguk saat menyikapi kalimat yang dilontarkan Yoga.


"Dan kamu, cepat sembuh, ya?!" Tidak lupa juga Yoga memberikan kalimat perhatian sekaligus semangat untuk Meila.


Senyum tipis itu melengkung di bibir Meila, "...terima kasih, om..." 


Setelah menjawab kalimat Meila dengan anggukan, Yoga berbalik dan berjalan ke pintu keluar. Dia baru akan menutup pintu saat sebuah suara dari dalam ruangan itu menghentikannya disertai rasa keingintahuannya, untuk bergerak perlahan tanpa suara diikuti dengan senyuman. Dan memaksanya untuk berhenti dan berpikir untuk mencuri dengar.


"Kak...," suara Meila yang serak langsung berubah menjadi isakan. Dia ingin sekali menangis sejak tadi, namun Dimas mencegahnya. Dan sekarang, dia tidak bisa menahannya lagi saat matanya kembali menatap pada Dimas.


Dimas langsung membungkuk, "Hey... ssshh... jangan menangis, Sayang." Sambil mengusap air mata Meila yang turun melalui sudut matanya yang basah. "Aku baru mengingatkan kamu, tapi kamu malah nggak dengar dan menangis lagi. Perut kamu akan sakit lagi nanti. Hm?" Sambungnya dengan kalimat paling lembut.


Sambil terisak, Meila berusaha berucap di sela-sela tenggorokannya yang tersekat.


"...M-maaf..." ucapnya tiba-tiba dengan suara bergetar yang nyaris tidak terdengar.


Mendengar kata 'maaf' dari Meila, Dimas tidak bisa menahan senyumnya hingga tatapannya pun berubah sayang. Dia mengerti kenapa Meila mengucapkan kata itu padanya. Gadis itu pasti berpikir karena merasa telah merepotkan dirinya.


Diawali dengusan ringan, "Gadis nakal!" Serunya pelan sambil mengecup lembut dahi Meila.


Sementara Dimas berusaha membuat Meila berhenti terisak, di luar sana Yoga tampak menyunggingkan senyumnya lebar. Mencuri pandang dari balik pintu yang hanya menyisakan sedikit celahnya untuknya mengintip. Bagaimana Dimas memperlakukan Meila dengan hangat dan juga sayang. Dan dia sangat menikmati percakapan mereka yang menurutnya telah menjadi sebuah hubungan yang terjalin dengan sangat baik.


Kemudian, sebelum Dimas dan Meila menyadari jika dia dengan sengaja sedang menguping, dengan gerakan pelan dan penuh kehati-hatian Yoga segera menutup pintu rapat-rapat sebelum kemudian melangkahkan kembali kakinya menuju ruangan dengan perasaan senang disertai senyuman lebarnya.