A Fan With A Man

A Fan With A Man
Ciuman Kerinduan



Kegiatan perkuliahan akhirnya selesai. Semua mahasiswa dari masing-masing jurusan tampak berkerumun keluar dari kelas untuk kembali beristirahat di rumah. Ada juga yang masih memilih bersantai di area kantin untuk mengisi perut atau sekedar mengobrol. Selebihnya, ada juga yang lebih memilih ke perpustakan untuk sekedar membaca atau meminjam buku-buku yang akan dibawa pulang.


Tak terkecuali Meila, dirinya saat ini sedang bergegas merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Diikuti dengan Airin yang juga tampak sibuk merapikan beberapa file miliknya.


"Lo balik sama siapa, Rin? Kak Bryant?" Tanya Meila tiba-tiba saat tangannya masih berkutik dengan buku di atas mejanya.


"Hmm," Airin hanya menjawab dengan gumaman, tanpa mengalihkan matanya. Tapi, beberapa detik kemudian dirinya kembali bersuara.


"Paling sebentar lagi orangnya juga nongol di depan pintu." Sambungnya kemudian disertai kekehan.


Dan benar saja, tepat setelah Airin berucap, Bryant datang menyambangi pintu kelas Airin dengan seringaian lebar di wajahnya.


Pria itu berdehem sejenak sebelum kemudian berjalan mendekati keduanya.


"Tuhkan, Mei. Liat, kan? Orangnya muncul." Ujar Airin jahil sambil terkekeh sendiri.


Bryant tampak tersenyum sambil menempelkan pinggulnya di ujung meja.


"Udah siap? Kita jalan sekarang?"


"Tunggu, kak. Meila masih nunggu kak Dimas. Tunggu sampe kak Dimas dateng baru kita berangkat." Airin menyahuti dengan cepat yang langsung disambut anggukan cepat oleh Bryant. Tanda jika pria itu setuju untuk menunggui sehabatnya.


"Nggak apa-apa, Rin. Lo balik aja duluan. Paling sebentar lagi juga dateng, kok." Meila berujar sambil memasang wajah tidak enak.


Mengingat dia baru saja masuk tapi sudah merepotkan.


"It's okay. Nggak usah nggak enak gitu. Lagian aku setuju sama Airin. Kayaknya Dimas lagi ke ruangan dekan, sih. Gak apa-apa, kita tungguin kamu dulu di sini, okay?" Ucap Bryant kemudian sambil bersedekap santai dengan nada pengertian.


Detik demi detik kelas terlihat sepi dan tak beberapa lama orang yang sedang ditunggupun datang. Dimas datang dengan sedikit rasa cemas. Pria itu langsung berjalan mendekati Meila yang sedang memasang senyum ke arahnya.


"Maaf. Aku lama, ya?" Ucap Dimas seketika berhenti di depan Meila dan langsung menangkup sisi wajah gadis itu. "Aku habis ke ruangan dekan dulu."


Meila tersenyum menanggapi, "nggak apa-apa, kak. Aku tau kok. Kak Bryant udah bilang tadi."


Dimas tersenyum dan langsung menolehkan wajahnya pada Bryant. "Thanks, yan. Padahal gue lupa pesan ke lo tadi." Kekehnya sejenak.


Bryant hanya mengibaskan tangannya ke udara, "santai, Dim. Lagian mana mungkin gue ninggalin cewek lo sendirian di ruang kelas yang sepi kayak gini. Lagian di sini ada cewek gue juga." Jelasnya tak tanggung-tanggung hingga mampu membuat Airin salah tingkah dibuatnya. Membuat Bryant terlihat senang melihat gadisnya tampak kebingungan dengan wajah yang mulai bersemu merah.


"Yaudah, yuk!" Sambil menyambar tangan Meila dan menggenggamnya, Dimas berseru seraya mengajak semuanya untuk keluar kelas.


Tampak Bryant dan Airin mengikuti di belakang dengan mengekori Dimas dan Meila yang ada di depannya. Keduanya tak mau kalah, Bryant berjalan tegap sambil mengandeng tangan Airin dengan erat.


Mereka berpisah di halaman parkir. Dengan Meila yang mulai memasuki mobil diikuti oleh Dimas di kursi kemudi. Sedangkan Airin, tampak duduk manis di kursi penumpang di atas jok motor Bryant yang tinggi dengan berpegangan pada pinggang ramping Bryant yang kokoh.


Mereka pun berjalan terpisah dengan Airin dan Bryant yang berjalan mendahului Dimas dan Meila.


●●●


Sementara para mahasiswa yang lainnya tampak gembira menyambut berakhirnya mata kuliah. Hal itu rupanya berbeda bagi Vika. Hari ini, dia ditugaskan untuk menata beberapa buku di perpustakaan dan meletakkan buku-buku yang baru saja datang pada rak-rak yang sudah disiapkan.


Melihat buku-buku yang cukup banyak dan hampir tidak dapat dihitung, membuatnya sedikit kewalahan hingga menghela napasnya berkali-kali sambil mengusap keringatnya yang mulai bercucuran.


Suasana di dalam perpusatakaan juga tampak sepi. Hanya seorang penjaga wanita saja yang masih setia duduk di meja tugasnya yang baru akan bersiap-siap mengakhiri tugasnya.


"Vika, tugas saya sudah selesai. Nanti kalo kamu sudah selesai menata bukunya, tolong kunci pintunya dan taruh di loket tata usaha, ya? Saya yang akan mengambilnya besok." Ucap seorang penjaga memberikan instruksi pada Vika yang masih berkutat dengan tumpukan buku di hadapannya.


"Ah, baik miss!" Sahut Vika dengan nada sopan. Lalu, memperhatikan pegawai itu berjalan keluar sambil menarik napasnya dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


Karena saking terfokusnya pada tumpukan buku, Vika sampai tidak memperhatikan dengan pintu yang dibuka, pertanda telah masuknya seseorang ke dalam perpustakaan. Perlahan, langkah itu mendekat, berjalan menghampiri rak-rak buku yang menjulang tinggi berbentuk lorong panjang.


Orang itu berjalan mendekati rak demi rak. Dengan langkah ringan, dia sesekali berhenti pada sebuah rak dan mengambil beberapa buku yang akan dipinjamnya.


Saat Vika memundurkan langkahnya, dan dia tanpa sadar terus berjalan tanpa menolehkan wajahnya ke belakang. Begitu juga dengan orang itu yang tampak masih belum menyadari jika masih ada seseorang di dalam perpustakaan itu seorang diri.


Keduanya saling berjalan pelan membelakangi, hingga tanpa sadar punggung mereka saling bertabrakan tanpa sengaja. Dan....


"Aakh!"


Vika memekik kaget dan nyaris menjerit begitu dirasakannya punggung mungilnya membentur sesuatu yang keras. Dia akan cepat-cepat menghindar namun seketika kakinya terselip hingga terhuyung dan hampir jatuh jika saja lengan kokoh itu tidak segera menahan pinggang rampingnya dengan kuat.


Seketika waktu pun berhenti, dan betapa terkejutnya Vika saat apa yang dilihatnya begitu nyata hingga memaksa matanya membulat sempurna.


"K-kamu......?"


●●●


Mata keduanya saling bertemu, dengan degup jantung yang tak beraturan, Vika masih saja tertegun sambil memasang wajah tidak percaya. Oh jelas! Apa yang ada dihadapannya sekarang adalah Rendy. Pria yang saat ini berusaha dihindarinya setelah insiden kemarin saat Rendy mengantarnya pulang. Pria yang sangat dihindari dan berusaha agar tidak melakukan kontak mata padanya.


Berusaha menarik kesadarannya segera, Vika tergeragap dan dengan cepat langsung menguasai diri melepaskan pegangannya pada Rendy.


"M-maaf. Aku nggak sengaja. Aku kaget tadi," ucap Vika cepat sambil membenarkan penampilannya sejenak.


Rendy pun sama salah tingkahnya dengan Vika. Namun, pria itu tampaknya lebih bisa menguasai diri agar tetap bersikap tenang di depan gadis itu.


"Ngapain kamu di sini? Yang lainnya udah pada pulang. Kenapa masih ada di perpustakaan, sendirian pula?" Tanya Dimas langsung tanpa basa-basi.


"Aku diberi tugas buat menata buku-buku itu," sahutnya cepat sambil menunjuk ke arah tumpukan buku dengan dagunya.


Berusaha menjaga jarak, Vika membalikkan badannya segera dan kembali berkutat dengan buku-buku. Berusaha tidak menghiraukan kehadiran Rendy yang saat itu berada satu ruangan di atmosfer yang sama, bahkan saling berdekatan.


"Nggak usah dilanjutin kalo masih nggak enak badan. Biar aku yang selesaiin itu nanti,"


Sambil memilih buku-buku yang dicarinya, Rendy berucap tanpa menoleh sedikitpun. Pria itu rupanya juga sedang menghindari kontak dengan Vika. Namun, mendengar Rendy yang berucap seolah sedang mencegahnya menyelesaikan tugasnya, seketika membuat Vika tersenyum ironi seraya menyahuti.


"Aku udah jauh lebih baik. Dan aku masih sanggup untuk menyelesaikan tugasku," sahutnya kemudian sambil mengurutkan buku-buku yang akan ditaruhnya.


Rendy tampak menghela napasnya kasar, "Yah. Keliatan jelas sih kalo kamu emang udah jauh lebih kuat setelah apa yang udah kamu ucapkan kemarin." Celanya dengan nada ironis yang kental.


"Apapun yang aku ucapkan kemarin, anggap aja angin lalu. Itu karena pikiran aku yang lagi nggak konsen dengan apa yang aku rasakan pada tubuh aku. Mungkin kamu pernah dengar, seseorang yang lagi sakit itu selalu ngawur dalam bicara. Dan aku seperti itu!"


Ucapnya acuh tanpa mempedulikan Rendy yang mulai tertarik dengan pembicaraannya.


Ngawur dia bilang? Tapi, cara bicaranya nggak menggambarkan kalo dia ngawur. Justru sebaliknya, gadis itu tampak biasa aja dan juga... serius. Seperti ada sesuatu yang mau dijelaskan.


"Ngawur? Ngawur seperti apa yang tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang berasal dari hatinya? Coba jelasin ke aku?" Dengan gaya menantang yang kental, Rendy tampak dibuat sedikit kesal dengan sikap membangkang yang ditunjukkan Vika padanya.


Rendy berusaha memancing sisi emosional Vika dengan berjalan mendekatinya.


Sadar jika Rendy sedang berusaha membuatnya berbicara, langkah demi langkah Vika menarik diri untuk berjalan mundur menjaga jarak darinya. Berusaha agar Rendy tidak menyadari jika memang ada sesuatu yang harusnya diluruskan dalam hubungan mereka.


"A-apa maksud kamu? A-apa yang harus dijelasin lagi? Nggak ada yang perlu dijelasin di sini. M-mungkin... mungkin kamu salah paham tentang itu?" Berusaha menguasai diri, Vika bertanya tanpa bisa menutupi ketergeragapannya menghadapi Rendy yang tampak mengintimidasi.


Rendy tampak berdecak ringan, "Sesuatu yang harus dijelaskan, mungkin? Dan kali ini aku nggak mungkin salah untuk menanggapi ucapan kamu, Vika." Rendy menyahuti dengan santai tanpa mempedulikan kegugupan Vika.


Langkahnya masih terus berlanjut. Mencoba memangkas jarak diantara mereka dengan memaksa Vika berjalan mundur hingga tanpa disadari, punggung gadis itu telah membentur dinding rak buku dibelakangnya.


"R-rendy? J-jangan macam-macam, atau aku akan......"


"Akan apa, Vika? Apa yang akan kamu lakukan saat diri kamu terhimpit di ruang sempit kayak gini yang cuma ada aku dan kamu didalamnya?" Rendy menyela ucapan Vika dengan kalimat penuh intimidasi yang semakin membuat gadis itu terpojok tak berkutik.


Belum lagi dengan kedua lengan kokoh Rendy yang digunakan untuk mengunci pergerakan Vika di sisi kanan dan kirinya.


Sungguh! Jika Vika pikir Rendy akan menghentikan gerakannya saat dia menggertaknya, justru sebaliknya, kali ini pria itu tampak menantang dengan sengaja. Seolah sedang menghipnotisnya agar Vika hanya terfokus padanya saja.


Vika pun terdiam, berkali-kali menelan ludahnya dengan kasar seolah ada benda asing yang membuat tenggorokannya tersekat hingga menyulitkannya untuk mengucap kata. Jarak keduaya sekarang sangatlah dekat. Nyaris tanpa jarak, hanya menyisakan sedikit ruang untuk keduanya bernapas.


"Apa yang mau kamu jelasin, Vika?" Kali ini suara Rendy terdengar berat namun melembut, dan juga setengah berbisik. Tetapi tetap tidak menghilangkan kesan arogan pada intonasinya. "Apa yang berusaha mau kamu luruskan diantara kita?" Sambungnya kemudian diselipi dengan sedikit nada permohonan.


Mata Vika membelalak. Dirinya tertegun dengan perubahan sikap Rendy yang terlalu tiba-tiba.


"U-udah a-aku bilang kan tadi? Aku... aku nggak sedang berusaha jelasin apap........"


Tanpa peringatan, dan membiarkan Vika melanjutkan kalimatnya, Rendy sudah menyambar bibir Vika dengan sebuah ciuman. Membungkamnya dengan cepat. Didetik Rendy merasakan Vika akan meronta, didetik itu juga tangan Rendy bergerak untuk menekan tengkuk Vika dengan kuat namun juga lembut. Menariknya agar semakin dekat dan merapat padanya.


Vika sempat terkejut dengan pergerakan Rendy yang cepat dan dengan kurang ajar memaksanya untuk menerima ciumannya.


Kedua lengannya digunakan untuk mendorong dada Rendy, namun hal itu sia-sia. Tenaga pria itu sangatlah kuat disertai permainan bibirnya yang sungguh lembut dan menuntut. Membuat Vika menyerah dan terbuai pasrah dibawah kuasa cumbuan Rendy padanya, hingga akhirnya berhasil membuatnya memejamkan matanya.


Ciuman itu terasa lembut, hangat, dan juga syarat akan kerinduan. Saling memberi dan menerima, memagut, mencecap, dan menyesapnya lembut dengan bibir yang saling menyapu hangat disertai hembusan napas hangat yang saling beradu.


Keduanya saling menyalurkan kerinduan. Perasaan yang sudah sejak lama dipendam terlalu dalam. Perasaan hangat di hati yang membuncah hingga terasa sampai ke jiwa.


Ciuman itu berlangsung cukup lama. Hingga seketika Rendy lah yang berinisiatif melepaskan ciuman mereka saat dirasakannya Vika mulai terengah dan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Napas keduanya saling tersengal, dengan kening yang saling menempel dan mata yang saling terpejam.


"Aku udah mendapatkan jawabannya,"


Sambil berbisik, Rendy berucap seketika disela-sela dirinya yang masih berusaha mengatur napasnya. Dengan pipi yang memerah padam, Vika dapat merasakan napas Rendy yang hangat menyapu lembut wajahnya.


Perlahan, mata indah itu terbuka, mendongakkan kepalanya sedikit dan menampilkan tatapan sayu bercampur kebingungan yang nyata dari sana. Keduanya membisu, tanpa bicara. Hanya terdengar deru napas keduanya beserta degup jantung yang saling berkejaran.