A Fan With A Man

A Fan With A Man
Teror 3



Meila terbangun tiba-tiba dari tidurnya karena terkejut. Entah dia merasa tengah mimpi buruk, atau hanya sekedar terkejut saja. Namun yang pasti, saat ini dirinya menjadi gelisah tanpa tau apa penyebabnya. Mungkin karena tadi mereka telah membicarakan tentang Dion, sehingga efeknya terbawa sampai tidur.


Meila melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Lalu  membawa pandangannya ke seluruh penjuru ruang kamar dan langsung menghela napas lega saat sudah memastikan semuanya jika dia sedang berada di kamar yang sama, di tempat yang sama seperti biasanya. Yaitu di kamar Dimas.


"huuuuhhh, syukurlah...." sambil membawa tangannya ke dada.


Mengingat tentang Dimas, Meila lalu membawa pandangannya ke samping dimana biasanya Dimas tidur di sebelahnya. Dan lagi-lagi, dia menghembuskan napas lagi dengan perasaan lega yang tidak bisa ditutupi. Pria itu sedang tertidur lelap dengan suara dengkuran halusnya yang khas.


Tanpa pikir panjang, Meila langsung merebahkan diri, merapatkan dirinya dengan Dimas, berbaring kembali sebelum kemudian meringkuk dalam pelukan hangat pria itu. Dan seolah sudah terbiasa, lengan Dimas secara otomatis langsung melingkupi. Memeluk Meila dengan sendirinya tanpa mengeluarkan erangan protes atau mengerjap sekalipun. Dimas langsung memposisikan dirinya untuk berbaring miring dan menyempatkannya menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh mereka.


Meila yang saat itu sedang meringkuk langsung tersenyum dalam pelukan Dimas. Semakin merapatkan dirinya pada pria itu dan memilih memejamkan matanya kembali. Membawa dirinya ke alam mimpi yang dia yakini tidak akan ada mimpi buruk lagi jika ada Dimas bersamanya.


●●●


Ponsel Sisil berbunyi berulang-ulang di waktu dini hari seolah meminta sang empunya ponsel untuk segera meraihnya dan mengangkat panggilan telepon itu. Sempat mengerang kesal dalam kondisi mata masih terpejam, Sisil berseru kesal sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


Meskipun begitu, dia mengira jika itu adalah James. Karena hanya James sajalah yang menurutnya berani mengganggunya di waktu tengah malam dengan alasan sedang terjaga untuk menyiapkan bahan meeting di perusahaannya besok.


"Pasti laki-laki itu lagi." Gerutunya sambil meraih ponselnya di meja nakas.


Klik!


"Halo? Kenapa lagi, James? Ini udah tengah malam. Kenapa kamu suka banget mengganggu orang?!"


"Wow! Sepertinya ada laki-laki lain yang lagi deket sama lo, ya?"


Ajaib! Sisil langsung membulatkan matanya dengan sempurna karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dan tak hanya itu, dia langsung beranjak duduk di atas ranjang yang diterangi dengan minim pencahayaan itu.


Rupanya itu adalah suara Beno. Si laki-laki peneror yang belakangan ini sedang berusaha memancing kemarahannya.


"Lo? Ngapain lo nelepon gue?"


Eskpresi Sisil berbuah menjadi penuh antisipasi.


Beno terkekeh. "Emang apalagi? Ya gue cuma mau tau kondisi calon anak kita."


Ap-apa? Dia bilang apa barusan?


"Jangan mimpi, Beno! Nggak ada kata calon anak. Bahkan kalaupun ada, gue akan dengan senang hati menggugurkannya. Karena gue nggak sudi mengandung bening dari laki-laki rendah kayak lo di rahim gue!" Pungkas Sisil penuh amarah.


Perkataan Sisil itu rupanya telah memantik amarah Beno hingga ke puncak. Dia menggeram marah hingga terdengar suara gemelutuk dari gigi-giginya yang mengetat. Dan itu sempat membuat Sisil bergidik ngeri.


"Jangan macam-macam, Sisil!" Geramnya marah. "Gue yakin kalo gue udah menumpahkan sedikit benih gue disana. Dan setelah gue perhitungkan, harusnya usia kandungan itu udah 6 bulan terhitung sejak bulan pertama gue masuk penjara. Jadi, jangan coba-coba buat membohongi gue dengan bilang lo nggak hamil!"


Sisil sampai harus menelan ludahnya berkali-kali untuk mentralkan rasa takutnya. Namun tak urung dia menjawab kemarahan Beno dengan kalimat bernada amarah yang tak kalah tinggi.


"Perlu lo tau. Bayi itu nggak ada! Gue udah keguguran beberapa hari setelah kejadian itu. Dan itu juga belum bisa disebut sebagai calon janin. Bisa aja cuma sekedar gumpalan darah biasa. Lagi pula mana mungkin laki-laki lemah kayak lo bisa menghasilkan benih yang kuat?"


Kali ini Sisil benar-benar membuat Beno murka. Sisil benar-benar melakukan kesalahan dengan membuat amarah laki-laki itu memuncak dengan tanpa sadar merendahkannya.


"Jangan main-main sama gue, Sisil! Jangan mancing emosi gue kali ini. Gue bisa aja masuk ke rumah lo sekarang juga dan ngelakuin hal-hal yang nggak pernah lo bayangkan sebelumnya."


Dion memberikan kalimat peringatan yang kental akan ancaman.


"M-maksud lo?" Tanya Sisil tidak percaya.


"Haha. Coba sekarang lo jalan ke arah jendela dan liat ke bawah."


Perlahan namun pasti, Sisil beranjak turun dari kasur dan berjalan ke arah jendela kamar yang tirainya setengah terbuka. Dia lalu mengibaskan tirai itu dan langsung membawa pandangannya ke bawah. Tepatnya pada halaman rumahnya.


Sontak Sisil langsung terkejut sekaligus membeku karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ada Beno yang sedang melambai-lambaikan tangan padanya sambil menghiasi wajahnya dengan senyuman mengerikan yang membuat seluruh bulu kuduk Sisil meremang.


Mulut Sisil menganga tidak percaya.


"Ap-apa yang lo lakuin di rumah gue, Beno! Cepat pergi dari sini atau gue teriak panggil security sekarang?!"


"Lakuin aja! Silahkan!" ujar Beno menantang. "Karena dengan begitu, secara nggak langsung lo udah memudahkan gue buat bertemu orang tua lo dan menjelaskan semuanya. Semua tentang kita. Kejadian di malam itu." Beno menyeringai. Sengaja menekankan kata demi kata yang membuat Sisil menjadi gelisah.


"Oh, ya. Satu lagi. Kayaknya bakal seru juga kalau..... siapa tadi? Pria itu. Ah,... James! Ya, James! Kalau dia tahu tentang kita dan kebenarannya. Pasti akan semakin seru, bukan? Kira-kira apa yang akan dia pikirkan tentang lo, ya?"


Setelah mengatakan kata ledekan yang menusuk, Beno langsung memutuskan panggilannya sebelum akhirnya dia tertawa lepas.


"Ha-halo? Jangan coba-coba! Halo?!" Panggil Sisil yang tanpa sadar nyaris berteriak.


Sebelum Sisil berhasil mengatakan kalimatnya, Beno sudah lebih dulu bergerak cepat. Sebelum akhirnya melambai-lambaikan tangannya dengan gaya meledek. Dan kemudian berlari menjauh meninggalkan Sisil yang masih terdiam membeku dengan mulut menganga. Disertai perasaan cemas dan juga detak jantung yang bergemuruh kencang tak terkendali.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


HALOOO Semuanya! khususnya Readers🙋🏻‍♀️🙋🏻‍♀️🙋🏻‍♀️


Alhamdulillah, setelah satu bulan penuh berpuasa, Hari Raya Idul Fitri pun Tiba ! 🥳🥳


Minal Aidin Wal Faidzin ya kawan..


Mohon Maaf Lahir & Bathin...🤝🏻🙏🏻