
"Gue bersyukur banget akhirnya masalah ini selesai. Selamat yaaa... gue ikut seneng!"
Airin yang saat itu sedang bersama Meila di taman kampus, begitu bersemangat ketika mendengar kabar bahwa mereka telah menyelesaikan permasalahan kebocoran data itu. Setelah makan siang tadi, mereka memanfaatkan waktu luang untuk mengevaluasi tugas-tugas kampus mereka sambil bersenda gurau menghirup udara lepas ditengah terik siang nan sejuk. Cuacanya tak seterik udaranya, suasana mendung dengan angin semilir yang berhembus menerpa wajah sumringah dua gadis itu.
"Thank you, Rin!" Meila menarik napas dalam, kemudian berpikir sejenak sebelum kemudian berucap, "Ini juga berkat kak Rendy sama kak Dimas yang diem-diem nyelesaiin masalah ini dibelakang gue. Tanpa mereka.... gue gak akan bisa nyelesaiin masalah ini sendirian. Gue hampir nyerah ketika setiap saat ucapan pak Andre muncul di benak gue, gue hampir gak peduli sanksi apa yang akan pak Andre kasih buat gue. Tapi secara mengejutkan.... beban yang udah beberapa hari ini terasa berat dipundak gue, seakan hilang, lepas, terangkat nggak tersisa." Sambung Meila panjang lebar. Sambil sesekali senyum tulus muncul dibibir tipisnya.
Airin menopang dagunya dengan sebelah tangan, ikut menganggukkan kepala ketika mendengar penjelasan Meila. "Kalo kak Rendy sih udah nggak perlu diraguin lagi kalo soal pasang badan buat ngebela lo! Tapi kalo soal kak Dimas.... akhir-akhir ini gue perhatiin... kalian makin deket, ya?"
Meila menoleh, terdiam sejenak tapi belum sepenuhnya mencerna perkataan Airin. Ketika pikirannya mulai merespon, dirinya tergeragap berusaha mencari jawaban paling aman agar tidak terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Ah?! m-mungkin... mungkin karena mereka bersahabat sejak lama. Dan... mereka juga dari instansi yang sama, jadi mereka udah tau harus berbuat apa untuk memecahkan masalah kayak gini!" Meila tergeragap, menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, berusaha mengalihkan matanya dari tatapan Airin yang terasa sangat mengintimidasi.
Sikap Meila yang terlihat gugup malah membuat Airin semakin tertarik untuk menarik percakapan mereka lebih jauh. Dia tak segan-segan untuk terkekeh, meledek Meila agar semakin terpojok hingga akhirnya memilih untuk berkata jujur.
"Yakin?" Airin masih terus berusaha mendekat, memajukan wajahnya. "Jujur aja sama gue, Mei! Gue gak akan macem-macem sama calon pacar lo itu." Airin terus meledek Meila, mengelurkan kata-kata ejekan yang kental sampai sahabatnya itu menyerah akan tindakannya.
Dan berhasil! Di detik Airin mengatakan 'calon pacar', Meila langsung menolehkan kepalanya cepat dengan wajah bingung dengan jawaban yang masih belum bisa ditemukan. Disaat itulah pipinya memulas merah dan Airin dapat melihatnya dengan jelas.
"Apaan sih calon pacar segala! Nggak ada gitu-gituan ih.."
Meila mencebik. Berusaha memfokuskan diri pada buku didepannya dengan membolak-balik halaman secara acak.
Airin terkekeh, tak habis pikir dengan kejujuran sahabatnya itu. Airin tau, bahkan seisi kampus juga tahu mengenai kedekatan Meila dengan Dimas akhir-akhir ini. Bukan! Bukan akhir-akhir ini, tapi sejak pertama kali Dimas datang ke kampus ini dan mereka bertemu kemudian berkenalan, Airin menyadari ada percik-percik asmara diantara mereka yang akhirnya membuat keduanya menjadi tegang hingga orang-orang diruangan itu ikut merasakan ketegangan mereka.
"Kita sahabatan udah lama, Mei! Gue tau kapan lo gugup karena gak bisa jawab soal, sama ketika lo gugup pas lo tau jawabannya tapi lo milih nggak mau jawab. Jadi, gugup lo yang satu ini... pasti menurut analisa gue yang kedua!"
Meila memutar bola matanya, sedikit menggumamkan kata-kata tak jelas namun Airin langsung bisa menebak bahwa gumaman Meila adalah jawaban atas perkataannya.
"Jadi, sejak kapan?" Ke-kepoan Airin semakin menjadi. Dia tak habis akal untuk terus menggoda Meila dengan pertanyaan-pertanyaan jahil yang mampu membuat Meila merona.
Meila mengangkat bahunya lemah, "gue nggak tau, Rin! Semuanya berjalan begitu aja. Bahkan... gue juga lupa kapan batas diantara gue sama kak Dimas itu terlepas." Meila tersenyum ironi ketika dirinya mengingat perkenalan mereka hingga sejauh ini hubungan mereka.
"Tapi ini rekor buat lo!" Airin berucap sambil menganggukkan kepalanya dibarengi dengan Meila yang mengernyitkan alisnya.
"Rekor? Rekor.... apa?" Meila berpikir lambat-lambat, memasang wajah polosnya.
Sekali lagi Airin harus menggelengkan kepalanya, jawaban polos Meila membuat Airin ragu untuk melanjutkan perbincangan atau tidak. Kalau sahabatnya sepolos ini, bagaimana dia bisa pacaran? Yang ada malah Meila yang akan selau dibohongi pria, bukan?
Tapi melihat sifat Dimas yang ramah dan terlihat penyayang jika didekat Meila, serta sikap melindungi dan menjaga layaknya pria gentle, Airin percaya Dimas pria yang pantas untuk sahabatnya ini.
"Iya, Rekor! Selama ini... lo kan nggak pernah keliatan deket sama cowok manapun, kecuali kak Rendy! Dan sekarang ada kak Dimas yang mulai berusaha mendekati lo. Bahkan gara-gara kalian dateng bareng ke kampus kemaren, semua cowok terang-terangan ngaku patah hati karena kalian berdua. Belom lagi cewek-cewek yang kecentilan pengen mepet-mepet kak Dimas, itu udah ngebuktiin betapa cocoknya kalian, Mei...!"
Meila menarik ujung bibirnya, terkekeh pelan dengan jawaban panjang lebar Airin yang membuatnya geli ketika mendengarnya.
"Sok tau deh! Lo jadi pakar cinta dadakan, ya?" Meila terkekeh sendiri, sedangkan Airin yang disebut sebagai pakar cinta dadakan, hanya mendelikkan matanya penuh tanya. Dia tak marah dengan julukan yang diberikan Meila untuknya saat ini, namun ia masih penasaran dengan hubungan Meila dengan Dimas yang sama-sama bisa pintar dan sangat kalem menyembunyikan sikap masing-masing jika bersama.
"Apapun julukan lo buat gue, gue terima dengan senang hati kalo buat lo, Mei.. Asalkan lo bahagia! Siapapun yang lagi deket sama lo sekarang, yang penting nggak kayak laki-laki hidung belang diluaran sana yang cuma liat tampang dan kekayaan. Istilah kasarnya, cowok nggak modal yang cuma numpang hidup sama cewek." Airin terkikik sendiri mendengarkan pendapat yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Gue udah kayak jadi pakar cinta beneran, ya?" Airin bertanya menunjuk dirinya sendiri yang sadar akan ucapannya.
Meila tergelak tak henti-hentinya, dia bersyukur mempunyai sahabat yang serba bisa seperti Airin. Bisa menempatkan diri pada porsi yang semestinya, tak dilebih-lebihkan dan tak juga dikurangkan. Sangat cocok untuk dirinya yang terlihat polos namun merasa canggung untuk sekedar meminta pendapat, padahal jelas-jelas sedang membutuhkan nasihat seorang sahabat. Dan dengan sifat pekanya, Airin selalu tau apa yang sedang dialami Meila, entah dia cerita ataupun tidak.
"Thanks ya, Rin!"
●●●
*flashback on
"Kita harus ngelakuin ini. Minimal kita tau siapa pelakunya!"
Rendy terlihat gusar. Dirinya terlihat mondar-mandir dengan tubuh gelisah. Wajahnya memancarkan tanda bahaya seakan predator yang mengincar mangsa.
"Tapi, kita harus melewati tahap prosedurnya terlebih dulu, Ren."
Dimas bergantian berucap, dirinya juga sebenarnya penasaran dengan siapa pelaku sebenarnya. Dia yang sedang berdiri menumpukan kedua tangannya ke meja sambil mengepal, beralih posisi menjadi tegap dan bersedekap.
Rendy mengerling nakal, matanya memancarkan sinar jenaka yang langsung dapat ditangkap oleh mata telanjang Dimas.
"Gue udah urus itu duluan. Lo tenang aja. Kita udah dapet izin dari bagian control room." Rendy menyandarkan pinggulnya pada ujung meja.
"Kapan kita bisa mulai?" Tanya Dimas tak sabar.
"Sore ini juga!" Jawab Rendy tegas.
Sore pun akhirnya tiba, dengan siswa siswi yang berangsur-angsur pergi menghilang untuk pulang ke rumah masing-masing mengistirahatkan pikiran dan tubuh sejenak sehabis memeras otak dan tenaga. Karena bukan hanya otak saja yang bekerja, tapi tubuh mereka juga. Tidak semua orang pulang pergi mengendarai kendaraan pribadi apalagi seperti diantar jemput oleh supir. Mereka ada yang harus menunggu bus di bawah teriknya matahari, bahkan ada yang berjalan kaki dengan alasan jarak antara rumah mereka dengan kampus yang cukup dekat.
Seperti janji Dimas dan Rendy, mereka berjalan menuju control room dengan pandangan waspada penuh antisipasi. Keduanya berjalan setengah berlari begitu dilihat keadaan sudah mulai aman.
Dibukanya pintu ruangan itu, ruangan yang sangat gelap dengan banyak layar monitor berjajar rapi. Meski mereka sudah mendapatkan izin, namun tetap saja ada rasa was-was yang menggayutinya.
"Karena kita nggak tau kapan kejadian pastinya... kita akan coba buka rekaman dari hari sabtu sore sampai minggu tengah malam." Rendy memulai menarik kursi dan menempatkan dirinya didepan layar monitor. Diikuti dengan Dimas yang ikut menarik kursi dan menempatkan diri di sebelah Rendy.
Mereka harap-harap cemas ketika mulai menyalakan monitor yang memperlihatkan gambar yang bergerak berwarna hitam putih. Tubuhnya menegang penuh antisipasi ketika belum menemukan apapun atau sesuatu yang mencurigakan. Mereka yakin pasti ada orang yang benar-benar sengaja melakukannya.
Antara tegang dan penasaran, perasaan campur aduk itu semakin mendominasi dengan jantung yang mulai berpacu dengan cepat. Dilihatnya waktu rekaman sejak Sabtu sore hingga tengah malam tak ada yang mencurigakan, tak ada tanda-tanda orang yang masuk keruangan senat selain petugas keamanan yang berpatroli secara rutin tiap harinya.
Kemudian rekaman berganti pada hari Minggu pagi sampai siang menuju sore, dan hasilnya tetap sama. Tak ada yang mencurigakan.
"Sejauh ini masih aman. Gak ada yang mencurigakan. Mungkin mereka melakukannya hampir tengah malam, bisa jadi... lewat tengah malam." Dimas berucap memecah suasana hening ketika pandangan Rendy masih terfokus pada layar monitor. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil sesekali memajukan tubuhnya semakin agar dekat pada monitor.
Rekaman itu mereka replay dengan kecepatan sedang untuk mempersingkat waktu. Karena mereka tak mau kalau sampai petugas keamanan yang akan berpatroli datang, mereka masih terlihat berkeliaran di area kampus, terutama di area control room ini.
Ketika rekaman itu sedang bermain, memutar seluruh sudut area vital sekitar kampus, tiba-tiba saja ada sekelebat bayangan mencurigakan yang sedang berusaha mengendap-endap penuh antipati.
"Coba lo mundurin ke menit sebelumnya." Dimas rupanya memperhatikan bayangan itu, dia menyipitkan matanya.
Dengan cepat Rendy memundurkan ke menit sebelumnya, dan memperlambat rekaman itu seperti yang seharusnya.
Tatapan dua pasang mata itu semakin menegang menunggu harap-harap cemas siapa sosok pelaku itu.
Mereka memperhatikan langkah pelaku mulai dari mengendap-endap sambil mengarahkan lampu senter sebagai pencahayaan, dan mulai membuka pintu ruang senat dengan mudah, sampai akhirnya masuk dengan aman tanpa dicurigai petugas.
Sayangnya, didalam ruang senat tidak dipasang kamera pengawas seperti area vital lainnya. Rendy hampir putus asa begitu dia mulai kehabisan akal untuk mengetahui siapa pelaku itu. Dia mendengus kesal, menggebrak meja menggunakan kepalan tangannya.
"Sial! Gak ada kamera pengawas diruangan itu!" Kesal Rendy putus asa.
"Jangan nyerah dulu, Ren! Kita putar lagi, lagi, dan lagi. Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum petugas datang."
Ucapan optimis Dimas membangkitkan kembali semangat Rendy yang hampir terputus. Dengan anggukan kepala tegas dan rahang yang mengetat, dia mencoba memutar kembali dan mempelajari ciri-ciri pelaku. Dia mulai mengamati dari cata berjalan, kemudian cara berpakaian, agak sangat menyulitkan karena suasana malam yang gelap dengan kualitas gambar hitam putih yang mendominasi.
Rendy menggertakkan giginya, mengamati gerak-gerik pelaku, mulai mempelajari ciri-cirinya.
"Mereka dua orang!" Tatapan Dimas menyipit ketika matanya menangkap dua sosok pelaku yang langkahnya tersendat.
"Ya! Tapi... meski kita tau pelakunya dua orang, kalau ciri-cirinya belum gue temuin sama aja nggak ada hasil, Dim."
Rendy mendesah pasrah, dia menyandarkan bahunya ke punggung kursi. Dia memejamkan matanya, dan mengerutkan dahinya.
"Masih ada 5 menit lagi, Ren! Gue yakin kita bisa menebak siapa pelakunya. Terutama lo! Lo pasti bisa menebak ciri-ciri pelakunya"
Rendy membuka matanya yang terpejam, menegakkan tubuhnya kembali. Kemudian semangat penuh tekad mulai bangkit dan mengelilinginya, membawanya kembali pada misi awalnya, melindungi adiknya, Meila.
Kemudian Rendy memajukan tubuhnya, meregangkan otot-ototnya yang sempat menegang kaku. Dia kembali memutar rekaman, matanya menatap tajam ke layar, sementara otaknya mulai berpikir. Jika memang pelakunya orang dalam, dia pasti hafal ciri-ciri pelaku dengan hanya melihat caranya berjalan. Tapi ternyata hal itu masih sulit, karena tidak mudah mengingat ratusan siswa atau siswi, apalagi menghafal ciri-ciri mereka.
Akhirnya di dua menit terakhir, sebuah nama melintas ketika matanya terpejam dan mulai memutar kembali memori otaknya.
Rendy membuka matanya disaat sebuah nama sudah ia kantongi, dengan memutar sekali lagi rekaman itu untuk memastikan dan men-sinkronkan kalau apa yang dilihatnya sesuai dengan yang ia dapat.
Dimas menangkap sesuatu yang ia lihat melalui perubahan wajah Rendy. Dirinya tak sabar menunggu sebuah nama yang keluar dari mulut sahabatnya. Jantungnya itu berdebar menantikan Rendy mengucapkan sebuah nama yang telah ia kantongi.
"Gimana? Siapa pelakunya?" Dimas tak sabar berucap, meyuarakan kegusarannya yang tak tertahan lagi.
Rendy menoleh ke arah Dimas, menatapnya dengan tatapan antisipasi. Dia menarik napas dalam sebelum mengucapkan sebuah nama yang ia yakini sebagai pelakunya.
"Karena mereka dua orang, gue belum bisa menebak siapa yang membantunya. Tapi.... sesuai dugaan gue... kalau pelakunya itu pernah berurusan dikampus ini. Pernah kuliah disini, makanya nggak heran kalau dia tau seluk beluk universitas ini." Rendy memulai perlahan penjelasannya dengan dugaan yang ia yakini.
Begitupun dengan Dimas yang mendengarkan tanpa niat memalingkan wajahnya. Dirinya semakin antusias untuk mendengarkan sebuah nama yang akan dikeluarkan Rendy.
"Dan... sesuai dugaan gue, orang itu adalah.... Beno! Beno Aryatama."
Akhirnya Rendy menyimpulkan nama itu tanpa ragu lagi. Dia yakin, ada maksud tertentu yang diinginkannya jika mengingat kejadian menyangkut Meila beberapa tahun lalu.
*flashback off