
Meila baru selesai mandi dan telah memakai baju hangat milik Dimas yang tadi diberikan padanya. Seperti dugaan sebelumnya, pakaian itu sangatlah kebesaran namun juga hangat. Sehangat pelukan pria itu padanya. Lalu, seulas senyum terukir begitu saja saat dia berdiri di depan meja rias dan mulai menyisir rambutnya perlahan.
Dia berbalik menuju pinggir ranjang untuk segera membuka barang-barang belanjaannya. Tapi, ketika langkahnya hampir sampai, Meila merasakan lagi sakit di perutnya. Sakit yang begitu menusuk dan membuatnya kesulitan bernapas. Dia mengerang seketika sambil meletakkan tangannya ke atas luka bekas jahitannya, sementara sebelah tangannya lagi berusaha meraih ujung sprai ranjang lalu meremasnya kuat.
Napasnya tersengal-sengal, dan buliran-buliran keringat dingin pun mulai membasahi keningnya. Dia sangat takut dan cemas kalau tiba-tiba saja Dimas datang dan melihatnya sedang kesakitan dan terlihat lemah. Sudah pasti pria itu akan mengkhawatirkannya.
Dengan cepat Meila berusaha agar tetap tenang dan tidak panik. Dia mulai menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan dan terus mengulanginya berkali-kali sampai dirasakannya rasa sakit itu mulai mereda.
"A-ada apa lagi...? K-kenapa... lukanya sakit sekali," lirihnya berat dengan napas tertahan. Matanya pun ikut menggenangkan buliran bening yang akan mudah jatuh karena tidak kuat menahan rasa sakit yang menusuk.
Meila mengusap air matanya dengan cepat, kemudian menghirup udara, dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya menghembuskannya perlahan. Matanya memejam seolah sedang berusaha mengusir rasa sakitnya sendiri. Sampai beberapa menit kemudian rasa sakit menusuk itu benar-benar hilang dan napasnya terasa ringan kembali. Meila mulai bangkit, duduk di pinggir ranjang dan meraih satu persatu tas belanjaannya dan membukanya perlahan. Dari mulai buku-buku, beberapa aksesoris, lalu gaun yang dibelikan oleh Dimas pun tak luput dari pandangannya.
Meila meraih gaun itu, menerawangnya ke udara sambil mengulas senyum di wajahnya dengan rasa bersalah.
"Nggak seharusnya aku nyembunyiin rasa sakit ini, kak. Aku nggak ada cara lain selain menyembunyikannya dari kamu. Tapi aku berbuat seperti ini karena aku nggak mau bikin kamu cemas. Kamu terlalu baik, kak." Kalimat sendu itu diucapkannya sambil memeluk gaun pemberian Dimas.
Dimas sengaja membelikan gaun untuk Meila karena dia tidak tahan saat melihatnya terpampang di kaca toko yang di pajang pada patung mannequinn. Begitu mereka melewati depan toko baju itu, Dimas langsung menarik Meila ke dalam dan langsung meminta kepada pegawai toko untuk membungkusnya dengan rapi. Meila sudah berusaha menolaknya, tapi tetap saja dia kalah argumen dari Dimas.
Meila akui, gaun itu sangatlah cantik dan elegan. Berbahan halus selembut sutra, bermotif renda brukat berwarna nude salem yang berukuran sampai di bawah lutut. Ukurannya juga sangat pas di tubuh mungilnya yang kontras yang berkulit putih mulus.
Meila melipat gaun itu dengan rapi dan memasukkannya kembali ke dalam kotak cantik berpita. Namun, tiba-tiba suara pintu yang terbuka membuatnya menoleh seketika dan menghentikan gerakan tangannya.
Rupanya Dimaslah yang memasuki kamar. Membawakan teh hangat untuk Meila dan juga potongan cheese cake untuknya.
"Aku membawakan teh hangat dan camilan untuk kamu. Karena aku tau, gadis mungil aku ini pasti lagi membuka semua bingkisan itu."
Dimas berkata sambil memberikan teh kepada Meila dan meletakkan cheese cake ke atas ranjang dekatnya.
"Terima kasih..." ucap Meila penuh senyum ketika menerima teh hangat dari tangan Dimas.
Dimas ikut mendudukkan bokongnya ke pinggir ranjang. Kemudian, melirik ke arah bingkisan gaun berpita berwarna pink magenta yang sangat mencolok.
"Kamu menyukainya?"
Meila tersenyum dan menatap Dimas dengan lekat, "....sangat...."
Jawabnya. "Seharusnya... kamu nggak perlu membelikan semua ini, kak. Ini.... terlalu banyak dan berlebihan."
Lagi-lagi, Meila mengeluarkan rasa tidak enaknya pada Dimas.
Dimas tersenyum lembut, lalu mengangkat tangannya ke bahu mungil Meila dan mengusapnya dengan sayang.
"Baru tadi aku mengingatkan. Tapi kamu udah lupa lagi." Ucapnya.
Dimas kemudian menghela napasnya sejenak sebelum kemudian memposisikan dirinya agar saling berhadapan. "Aku sangat suka melakukannya. Dengan aku membelikan semua ini, itu nggak akan merubah sifat kamu, kan? Aku tahu sifat kamu luar dan dalam dengan sangat baik. Aku cuma mau memanjakan orang yang aku sayangi dan yang memang benar-benar pantas mendapatkannya. Jadi, jangan ada penolakan lagi, please...." Dimas menutup kalimatnya dengan wajah memelas yang sangat lucu hingga membuat Meila tidak tahan untuk tertawa.
Melihat gadisnya tertawa, membuat Dimas ikut tertawa juga. "Aku akan menganggap tawa kamu ini sebagai persetujuan." Dan Meila akhirnya menganggukkan kepala pelan dengan sisa tawanya.
"Yaudah, kamu lanjutkan lagi, ya? Aku akan ke bawah untuk mengecek beberapa pekerjaan pada sistem keamanan." Dimas berkata seraya mengusap kepala Meila dengan sayang. Lalu, bangkit dari duduknya sebelum kemudian mengecup puncak kepala Meila dengan lembut.
Saat Dimas baru akan berjalan menuju pintu, Meila memanggilnya lagi dan menghampirinya. Membuat Dimas berhenti seketika sambil memutar tubuhnya.
Gadis itu rupanya memberikan kecupan ke pipi Dimas tanpa aba-aba. Tubuhnya yang mungil mengharuskan kakinya untuk menjinjit karena postur tubuh Dimas yang tinggi dan tegap. Sampai-sampai tangannya harus berpegangan pada bahu kokoh Dimas dan sedikit menariknya agar membungkuk.
"Terima kasih untuk hari ini. Dan... terima kasih juga untuk semuanya."
Ucapnya lembut dengan berbisik. Wajahnya sangat dekat hingga nyaris tidak ada jarak di antara mereka.
Tatapan Dimas berubah sayang. Tersenyum hangat sambil membawa kedua tangannya untuk menangkup sisi wajah Meila. Lalu membalas kecupan itu dengan memberikan kecupan lembut ke atas bibir merah Meila yang manis dan menggoda.
"Sama-sama, Sayangku." Sahutnya tak kalah lembut dan berbisik.
Setelahnya dia langsung melanjutkan lagi langkahnya. Membiarkan gadisnya menyenangkan diri dengan membuka semua bingkisan dengan sepuas hati.
●●●
Bersandar mesra adalah kegiatan favorit Rendy dan Vika saat ini. Setelah hubungan mereka membaik, keduanya selalu berdampingan dan saling memeluk dan mendekap. Seolah tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia dan selalu melakukan semuanya bersama. Seperti saat ini, mereka sedang menikmati kebersamaan suasana malam di balik kaca besar yang tirainya dibiarkan terbuka sambil bersandar ke kepala ranjang.
Mereka saling memeluk. Satu tangan Rendy merangkul Vika dan satu tangannya lagi saling bertautan dengan tangan Vika. Kecupan-kecupan kecil pun tidak berhenti diberikan Rendy sebagai penghantar tidur sebelum mereka benar-benar terlelap. Selimut tebal juga telah terpasang menutupi, membungkus tubuh keduanya.
Seketika Vika menguap, matanya mulai berat dan terasa lengket. Menandakan jika dia mulai mengantuk dan siap untuk pergi ke alam mimpi.
Rendy memiringkan wajahnya, mengawasi wajah Vika yang matanya memerah dan sayu.
"Udah ngantuk?" Tanya Rendy seketika.
Vika mengeratkan lengannya ke pinggang Rendy. Memeluknya rapat sebagai jawaban atas pertanyaan pria itu.
Rendy memahaminya dengan cepat. Dia mengecup kening Vika dengan lembut dan membaringkannya ke posisi yang lebih nyaman.
"Tidurlah, kamu pasti lelah seharian ini." Bisiknya pelan yang masih dijawab anggukan tipis dan senyuman oleh Vika.
Rendy ikut berbaring di sampingnya sambil menarik selimut untuk menutupi mereka sampai batas pinggang. Vika langsung memeluk Rendy, merapatkan tubuhnya sambil menyusupkan wajahnya mencari kehangatan dari tubuh pria itu.
Gerakan Vika itu membuat Rendy tersenyum hangat seraya meraih dagunya lembut. Di tatapnya Vika yang sudah setengah terpejam dan tenggelam dalam kantuknya. Kemudian, memberikan kecupan selamat malam ke bibir Vika.
"Selamat malam, Vika-ku, ....Love you....!" Bisiknya tepat di depan wajah Vika.
Rupanya Vika masih setengah sadar meski dilanda kantuk berat dan hampir terpejam. Dia tersenyum dan menyahutinya dengan suara parau.
"....Love you more...." Vika semakin merapatkan dirinya pada Rendy.
Dia menyerah pasrah akan rasa kantuk yang mendera. Dia sudah sangat nyaman dengan posisinya saat ini.
Dan Rendy pun langsung mendekap Vika dengan erat. Memeluknya rapat seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi.
●●●
Ketika Dimas memasuki kamar, dia melihat Meila yang sudah berbaring dengan buku yang masih di pegangnya. Gadis polos itu tampak kelelahan. Dan di tengah rasa lelahnya, dia berusaha memaksakan diri untuk membaca salah satu buku yang baru dibeli. Dan itu membuat Dimas tersenyum senang sekaligus gemas sampai tidak tega untuk membangunkannya.
Perlahan, Dimas naik ke atas tempat tidur hingga setengah berbaring di samping Meila. Mengambil buku di tangan gadis itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya ke atas meja nakas. Setelahnya, dia membenarkan posisi Meila agar berbaring dengan nyaman. Tapi, kehati-hatiannya itu rupanya berhasil membuat Meila mengerjap di tengah-tengah rasa kantuknya.
Gadis itu menggeliat manja dengan mata yang setengah terpejam. Membawa lengannya untuk memeluk Dimas.
"......kak Dimas......" suaranya terdengar serak dan juga parau.
Dimas menyunggingkan sebuah senyuman seraya mengelus kepala Meila dengan sayang. Dia juga mengecup kening gadis itu dengan lembut sebelum kemudian menarikkan selimut untuk menutupi mereka dan memeluknya hangat.
"Ssshh... Aku disini," bisiknya lembut sambil mengecupi puncak kepala rambutnya. "Tidurlah..."
Seolah menyadari kehadiran Dimas, mendengar suaranya saja telah berhasil membuat Meila tenang dan semakin meringkuk padanya.
"Selamat malam, Sayang." Ucap Dimas lagi saat dirasakannya napas Meila mulai teratur kembali.
Tidak ada yang lebih membahagiakan saat seseorang yang sangat berarti untukmu terlelap manja dalam dekapanmu. Meringkuk dalam ketenangan di keheningan malam yang membisu. Dan itu sudah sangat cukup dari hal apapun yang ada dunia ini.