A Fan With A Man

A Fan With A Man
Melindungi



Jadi intinya, kamu sudah menyelidiki semuanya dan tinggal mengumpulkan  satu data lagi dari seseorang? Siapa orang itu?"


"Ya." Dimas menyahut cepat disertai tatapan serius. "Dan sepertinya orang itu kini telah berada di tanganku. Hanya saja......."


Ucapan Dimas tiba-tiba terpotong oleh suara panggilan telepon yang berasal dari ponselnya. Perlahan, Dimas mengambil ponsel itu dan melihat ke layar pipih sambil menunjukkan ekspresi kening yang mengkerut.


"Kamu angkatlah dulu. Mungkin itu penting." James berucap agar Dimas segera mengangkat panggilan teleponnya yang terus berbunyi dengan keras kepala.


Dimas mengangguk sekilas sebelum kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Ya. Katakan..." Suara Dimas yang terkesan dingin namun tegas, membuat James ikut merasa heran.


"Tuan, kami telah mendapatkan target seperti yang tuan minta. Dia sekarang sudah bersama kami dengan aman."


"Bagus. Beri dia makan dan minum secara teratur sampai aku datang. Awasi dia jangan sampai kabur."


Suara Dimas yang sedang memberi perintah tidak lebihnya semakin membuat James mengerutkan kening. Pasalnya, wajah Dimas yang tadi kaku, sekilas menjadi dingin lalu menegang seiring dengan serentetan perintah tegas yang tidak boleh dibantahnya.


Sebenarnya siapa yang sedang dicari Alex?


"Baik, tuan."


Setelah percakapan ponsel itu selesai, Dimas kemudian melirik pada James yang sedang menatap heran dengan penuh penasaran. Seolah di keningnya itu tertulis jelas kalimat, 'apa yang kamu rencanakan, lex?'. Dan itu membuat Dimas tergelitik hingga ujung bibirnya terangkat.


"Hey, kenapa kamu tertawa? Apa maksud dari 'awasi dan jangan sampai kabur'? Apa kamu sedang menawan seseorang?"


Dimas terkekeh mendengar kalimat yang akhirnya keluar dari mulut James sama seperti dugaannya.


"Itu adalah maksud dari ucapanku tadi. Orang yang aku cari. Dan dia sudah ada di bawah kuasaku." Dimas berujar membingungkan. "Seorang mantan petinggi kepolisian yang telah dipecat secara tidak hormat karena menyembunyikan dan bekerjasama melakukan aktifitas ilegal bersama Dion."


James terkejut bukan main mendengar pengakuan Dimas. Dia cukup takjub melihat usaha Dimas yang tak main-main dengan Dion. James pun merasa jika dia baru mendengar pernyataan itu dari Dimas. Dia hanya mengetahui tentang aktifitas ilegal yang Dion lakukan. Tetapi James tidak mengetahui adanya campur tangan petugas kepolisian yang bekerjasama untuk menghalalkan transaksi haram milik Dion selama ini.


"Sebenarnya sejauh apa kamu menyelidikinya, Lex? Sampai-sampai kamu harus mencari orang itu untuk mendapatkan informasi lebih mengenai Dion?"


Dimas terkekeh dengan pertanyaan James. "Aku tidak pernah main-main jika itu menyangkut seseorang yang aku kasihi. Kalau perlu, aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menghabisi siapapun yang berani menyakiti, bahkan menyentuhnya melalui tangan kotornya itu." Ekspresi Dimas yang berubah gelap membuat James mengerti betapa dia begitu melindungi Meila selama ini.


Dan seolah mirip dengan dirinya, James pun bertekad untuk melindungi Sisil apapun yang akan terjadi kedepannya. Kalau perlu, dia juga akan menggunakan kuasanya untuk membuat Beno mendekam di dalam penjara paling bawah sekalipun. Dia akan lebih keras lagi untuk melindungi Sisil seperti yang Dimas lakukan untuk Meila.


"Aku mengerti sekarang. Sedalam apa kamu mencintainya telah terlihat jelas sejak pertama kali aku menemui kalian setelah malam pesta itu. Apa kamu tau, Lex, aku juga berpikir untuk melakukan hal yang sama jika bertemu dengan orang yang kukasihi. Mungkin itu adalah satu-satunya cara menunjukkan kesungguhan kita pada orang itu."


Dimas menelisik James lebih dalam melalui tatapannya yang tajam.


"Apa yang kamu maksud itu adalah.... Sisil?"


James terperangah sesaat hingga akhirnya terkekeh kemudian. Belum menjawab pertanyaan Dimas namun melalui kekehannya itu sudah cukup membuktikan jika dugaannya tidak salah.


"Dari senyumanmu udah cukup membuktikan jika dugaanku benar. Iya, kan?"


Bukannya mengiyakan, James hanya menaikkan bahunya saja. "Aku sedang berusaha meyakinkannya untuk mulai percaya padaku."


"Maksudmu?" Dimas balik bertanya karena sedikit terpancing.


"Orang di masa lalu. Laki-laki biadab menjijikkan itu telah kembali dan mulai meneror Sisil dengan beberapa ancaman. Orang itu juga pernah ada hubungannya dengan kekasihmu." Mendengar pengakuan James, seketika Dimas menegang dengan wajah menggelap. Kedua tangannya mengepal kuat hingga terlihat tulang dari ruas-ruas jarinya menonjol keluar.


James langsung mengangguk dan membenarkan ucapan Dimas.


"Jadi intinya, kita harus lebih ekstra menjaga perempuan-perempuan itu dari ancaman laki-laki biadab dan menjijikkan sepertinya. Tapi kamu tenang saja, Lex, aku bisa mengurusnya dengan kekuatan yang aku punya. Dan kamu bisa tenang untuk mengurus masalahmu tentang Dion."


James berucap untuk meyakinkan Dimas. Menjelaskan padanya secara langsung jika dirinyalah yang akan mengurus Beno, sementara Dimas bisa tetap fokus pada satu orang saja, yaitu, Dion.


●●●


"Haaahh... gimana? Enak, kan, disini? Ini jadi spot favorit aku kalau lagi sendirian sambil nunggu kak Dimas pulang dari kantor."


"Kantor? Bukannya dia masih kuliah?" Sisil bertanya heran.


"Iya, benar. Tapi, beberapa bulan ini dia mulai mengurus bisnis papanya di kantor. Itu sebabnya dia jarang masuk kuliah."


Pantes aja gue jarang liat Dimas di kampus. Ternyata ini alasannya?


"Oooh..." Sisil ber 'oh' ria sendirian. "Berarti lo udah lama juga ya di rumah ini?"


Meila tersenyum sesaat. "Ya... maka dari itu, sebenarnya aku merasa gak enak tinggal terlalu lama disini. Aku berpikir untuk kembali ke rumahku aja setelah kuis nanti. Karena......."


"Jangan!" Sisil menyela dengan tegas sambil refleks memegang tangan Meila. Dia langsung memotong kalimat Meila begitu saja ketika mendengar ucapannya yang akan keluar dari rumah Dimas dan kembali ke rumahnya.


Kalau Meila keluar dari rumah ini dan kembali ke rumahnya, itu sama aja dengan membuka peluang buat Beno untuk menyakitinya lagi. Sisil tidak berniat memberi tahu Meila tentang Beno yang telah bebas dari penjara. Karena Sisil juga tidak berniat membuat rasa trauma Meila muncul kembali.


Sisil berfikir, kalau Meila berniat kembali ke rumahnya, otomatis pengawasan keamanannya akan berkurang meskipun Dimas dengan sekuat tenaga pasti akan terus mengerahkan perlindungannya tanpa diminta. Tetapi, bukan tidak mungkin jika nantinya Beno kembali mendapatkan kesempatan untuk menyakitinya, kan?


Seketika Meila langsung dilanda keheranan melihat ekspresi Sisil yang mendadak cemas dan gelisah. Di otaknya langsung muncul berbagai macam pertanyaan yang tidak tahan untuk ditanyakan.


●●●


Sisil mendadak salah tingkah karena sadar kalau sanggahannya itu telah memancing rasa ingin tahu Meila yang kental. Terlihat jelas dari cara Meila menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu yang sebentar lagi mungkin akan dia tanyakan dalam bentuk sebuah pertanyaan padanya.


Mencegah hal itu terjadi, Sisil pun langsung melanjutkan kalimatnya dengan sedikit mengalihkan topik pembicaraan.


"Ah, emmm... maksud gue, ma-maksud gue lo jangan buru-buru buat kembali ke rumah lo. Kalau gue mau ngobrol-ngobrol sama lo kayak gini kan, gue bisa langsung ke sini. Gue juga bisa nanya-nanya soal masalah perkuliahan, kan?"


Ekspresi Meila yang sedang bingung seketika berubah sumringah mendengar perkataan Sisil yang membuat hatinya senang.


"Oh, iya, kamu betul juga. Tapi... Aku juga harus melihat rumahku yang udah lama aku tinggalin. Pasti rerumputan disana udah mulai lebat."


Haaahh.... syukurlah dia langsung percaya!


Helaan napas lega pun terlihat samar dari ekspresi Sisil.


"Iya, bener! Lo liat-liat tuh rumah lo! Jangan ditinggalin gitu. Dan setelah itu lo tinggal disini lagi biar gue gampang nyari lo. Lagi pula nyokap gue sering tuh bikin cheese cake kesukaan lo. Kan kalo lo disini, gue jadi gampang bawainnya!" Pungkas Sisil memberi alasan.


Meila mengeluarkan jurus cengirannya yang khas dengan memperlihatkan giginya yang rapih.


"Thanks sebelumnya, Sil. Aku beruntung mengenal kalian." Ujar Meila dengan segala ketulusannya. Yang tanpa sengaja telah membuat Sisil kembali canggung.