
Wanita paruh baya itu tampak gelisah dengan berulang kali mondar-mandir didepan sebuah pintu. Bukan, bukan untuk menyambut seseorang, melainkan sedang berusaha membujuk putrinya untuk keluar dari kamarnya yang sudah berhari-hari tidak menampakkan diri.
Entah sudah berapa kali seorang asisten rumah tangga membawakan sarapan namun juga tidak dibukakan pintu dari sang empunya kamar.
"Gimana, ma. Ada perubahan?" Seorang pria datang menghampiri wanita itu untuk menanyakan perkembangan putrinya.
Langkahnya terhenti, dia membalikkan tubuhnya dengan alis mengkerut dalam, sementara jemarinya saling bertautan karena gelisah, wanita itu tampak menghampiri sang pemilik suara, suaminya.
"Belum, pa. Mama udah berulang kali membujuk Sisil agar mau keluar dari kamar. Tapi tetap aja, pa... nggak ada tanggapan dari dalam." Wanita itu berucap dengan nada cemas, hampir putus asa.
Ya, mereka berdua adalah orang tua Sisil. Mereka sengaja datang dari Australia meninggalkan semua pekerjaannya untuk melihat kondisi anak semata wayangnya, karena telah mendapatkan kabar dari salah satu asisten rumah tangga jika Sisil sudah dua hari tidak keluar dari kamarnya.
Bahkan asisten rumah tangga pun menyebutkan, jika sesekali Sisil sering berteriak tanpa sebab seperti orang yang sedang marah sambil menyebut-nyebut sebuah nama dengan gumaman keras.
"Apa papa dobrak aja, ma?" Tanya pria paruh baya itu seolah memutuskan, sementara sang istri tampak berpikir, apakah keputusan untuk mendobrak pintu kamar anaknya itu pilihan yang tepat atau tidak.
Tidak perlu menunggu keputusan sang istri, sang suami bersiap mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu kamar dan mendobraknya. Tapi, seakan sang pemilik kamar tahu, Sisil bersuara dengan berteriak untuk menghentikan tindakan papanya yang baru akan mendobrak pintu.
"Jangan coba-coba dobrak pintu itu! Atau aku akan bertindak diluar yang kalian pikirkan." Teriak Sisil dengan nada mengancam.
Mendengar suara ancaman yang keluar dari mulut Sisil, sang istri dengan cemas langsung memegangi lengan suaminya agar menghentikan niatnya.
"Jangan, pa... mama nggak mau anak kita kenapa-napa. Bagaimanapun juga, Sisil anak kita, pa.. anak kita satu-satunya." Sergah sang istri dengan diselipi nada memohon.
"I-iya, nak. Kami nggak akan mendobrak pintu ini. Tapi mama mohon, nak. Jangan mengurung diri seperti ini. Bicarakan sama kami apa yang terjadi, nak."
Sang ibu lah yang akhirnya bersuara diselipi dengan permohonan. Alih-alih membujuk anaknya yang keras kepala.
Ketika tak ada jawaban dari Sisil, sang istri menahan diri dengan putus asa. Lalu, bukannya menjawab permintaan sang ibu, Sisil malah berteriak marah-marah tidak jelas sambil menyebut nama Meila berkali-kali dengan geraman marah. Tak jarang terdengar suara barang-barang yang dilemparkan ke tembok atau ke kaca rias hingga menimbulkan bunyi bantingan dan pecahan dari benturan benda-benda tersebut.
"Meila brengsek! Cewek munafik. Sok polos. Cewek nggak tau diri. Gue nggak akan biarin lo tenang. Gue akan bales semua perbuatan yang lo udah perbuat ke gue! Aaaaaaargh.... brengsek!"
Teriakan-teriakan itu tak henti-hentinya terdengar dari dalam kamar hingga menembus dinding yang berlapis tebal. Seperti teriakan putus asa yang tidak mendapatkan kepastian tentang kehidupannya.
Sambil memijat keningnya frustasi, sang suami tampak kehabisan akal karena ulah anak satu-satunya dan lebih memilih untuk mengalah.
"Ma, kayaknya kita harus cari tau siapa itu Meila. Kalo perlu... kita datangi rumahnya untuk mendapat kejelasan penyebab anak kita seperti ini."
"Iya, pa. Mama akan cari tau lebih dulu lewat teman-temannya. Untuk sekarang... lebih baik kita biarin dia sendiri dulu. Ayo, pa." Ajaknya kemudian sambil menarik lengan suaminya untuk menjauh.
Setelah memutuskan, mereka beranjak pergi meninggalkan Sisil tanpa niat membujuk lagi. Membiarkan Sisil sendiri dan baru akan membujuk kembali setelah mendapat kejelasan penyebab anaknya seperti itu dari nama yang disebutkan oleh anaknya dalam kemarahan dan teriakannya.
●●●
Meila terlihat gelisah dan berulang kali menggulingkan tubuhnya, merubah posisinya berkali-kali di tempat tidur dengan gerakan gusar. Baru berjalan tiga jam sejak dia memejamkan matanya lalu terbangun kemudian dengan rasa gelisah yang merayapi dirinya.
Dirinya mendadak tidak bisa tertidur kembali. Meila sudah berusaha memejamkan matanya, namun yang ada malah kerutan dalam yang dia rasakan dan entah kenapa membuat pikirannya kelimpungan.
Berusaha melawan pikirannya, digelengkannya kepalanya kuat-kuat dan segera bangkit terduduk di atas ranjangnya dengan gerakan cepat. Terdengar desahan perlahan yang dihembuskannya ke udara, sementara tangannya terangkat untuk mengusap rambutnya ke belakang.
"Huuft...!" Tampak dirinya menyemburkan napasnya cepat, seolah sedang menenangkan diri sendiri.
Ditolehkannya kepalanya ke arah nakas dekat ranjang, dilihatnya jam yang diletakkan disana, alisnya terangkat ketika mengetahui kalau saat ini baru memasuki waktu dini hari, lebih tepatnya pukul 01.10 dini hari.
Dirinya berpikir untuk pergi ke dapur dan membuat sesuatu, mungkin secangkir teh hangat atau segelas hot cokelat untuk membantu menghilangkan kegelisahannya. Disingkirkannya selimut yang menutupinya, lalu diturunkan kakinya secara perlahan dan beranjak berdiri. Diseretnya kedua kakinya dengan langkah ringan menuju pintu keluar untuk menuju dapur tanpa menutup kembali pintu kamarnya yang hanya menyisakan sedikit celah namun tidak tertutup rapat.
Dengan langkah ringan, Meila menuruni satu persatu anak tangga sampai ujung batas lantai dasar. Dia langsung membawa langkahnya menuju dapur dan mengambil bubuk coklat yang ada di lemari kecil paling atas tempat Dimas meletakkannya. Dirinya berniat untuk membuat segelas cokelat hangat lalu meminumnya sejenak di ruang utama, barulah setelahnya ia melanjutkan tidurnya lagi.
Meila membuka lemari paling atas dengan kaki berjinjit sementara sebelah tangannya berpegangan pada meja marmer dekat kompor. Tangannya meraba-raba toples bubuk cokelat dengan perlahan, rupanya bukan sesuatu yang sulit baginya, karena dengan cekatan, tangannya langsung menyentuh ujung tutup toples lalu menariknya segera.
Ketika dirasakannya toples itu bukannya semakin dekat malah menjauh, Meila semakin berjinjit dengan sekuat tenaga hingga ujung jemari kakinya terasa sakit. Tak berapa lama, dia hampir meraih toples itu jika saja kakinya tidak terselip dan membuatnya kehilangan keseimbangan hingga hampir terjerembab jatuh, kalau saja tidak ada sebuah lengan kokoh yang memegangi pinggangnya seperti sedang memeluknya dari belakang.
Punggung Meila menubruk dada bidang Dimas yang kokoh, yang langsung menangkapnya dengan sigap.
"Hati-hati, sayang..." ucap Dimas cemas begitu Meila berada dalam dekapnya.
Meila mendongakkan kepalanya perlahan, matanya langsung beradu tatap dengan mata Dimas yang saat itu menunduk padanya.
"Kak Dimas..." jawabnya setengah terkejut, sambil berusaha membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Dimas.
"Kamu ngapain malem-malem ada didapur?" Dimas bertanya ingin tahu, dibarengi dengan tangannya yang bergerak memegang bahu Meila dan meremasnya lembut.
"Ak-aku nggak bisa tidur, kak.. tadinya aku mau buat hot cokelat, tapi... toples itu terlalu tinggi," Meila melirik ke arah toples yang hampir terjatuh itu, "aku berusaha meraihnya tapi malah kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh kalo nggak ada kak Dimas." Jelasnya lagi menyambung ucapannya.
Dimas melirik ke arah toples yang sudah terbalik dengan tutup yang mengarah ke pintu lemari, lalu tersenyum seketika dan mengarahkan kembali pandangannya ke arah gadisnya.
Tangannya meraih dagu itu, mencubitnya gemas lalu bergerak menangkup kedua sisi pipi Meila.
"Kenapa nggak bilang sama aku? Aku bisa buatkan itu untuk kamu." Tawar Dimas dengan diselipi nada perhatian.
"Aku takut ganggu kamu, kak. Lagi pula... ini udah lewat tengah malam," dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang tampak gelap dan sunyi, lalu berucap kembali sambil memandang Dimas dengan pandangan ingin tahu. "Kak Dimas sendiri ngapain ada disini?" Meila sengaja tidak menanyakan dengan gamblang apakah benar Dimas belum tertidur atau memang juga terbangun seperti dirinya. Tetapi tak urung dirinya menanyakan dengan kalimat yang lebih sopan tanpa mengintimidasi. "Apa kak Dimas terbangun karena aku ganggu kamu? Karena... aku berisik?" Sambil memiringkan kepalanya, Meila bertanya dengan bola mata polos nan berbinar dibawah sinar lampu yang meremang, membuatnya terlihat gemas dimata Dimas.
Dan itu terbukti! Sambil terkekeh, Dimas menggerakkan tangannya untuk menarik maju wajah Meila dan menggesekkan hidungnya ke hidung gadis itu dengan gemas.
"Aku emang belum tidur. Aku lagi menyelesaikan tugas yang tadi dikirim dosen lewat e-mail. Ketika aku keluar kamar dan melewati kamar kamu yang nggak tertutup dan nggak ada kamu disana, lalu aku mendengar suara derak pintu lemari yang terbuka dari arah dapur, aku langsung berpikir kalo itu pasti kamu." Jawabnya menjelaskan, disertai cubitan jahil ke pipi Meila yang kenyal.
Sikap Meila yang menanggapi ucapan Dimas hanya mengangguk pelan sambil ber-oh ria. Hampir saja pipinya merona dibuatnya.
"Tadi kamu bilang mau hot cokelat, kan?" Tanya Dimas kemudian membuat pandangan Meila dengan cepat langsung terarah padanya. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung menganggukkan kepala penuh antusias disertai senyuman riang.
"Sini, biar aku yang buatkan untuk kamu. Kamu cukup tunggu aja disana." Dengan sikap lembut dan perhatian, disertai bola mata yang melirik ke arah ruang televisi, Dimas menawarkan diri dengan sikap lembut dan juga perhatian. Tanpa pikir panjang lagi, membuat Meila langsung membawa langkahnya ke ruang televisi, menurut padanya tanpa membantah. Lalu mendudukkan bokongnya ke sofa besar dan bersandar disana.
●●●
Dua sejoli itu duduk berdampingan pada sofa besar yang ada pada ruang televisi, dengan Dimas bersandar pada kepala sofa dengan sebelah lengannya ia selipkan ke belakang punggung Meila dan merangkulnya rapat, membuat gadis itu bersandar sepenuhnya pada dada bidang pria itu.
Seperti janji Dimas tadi, dia membuatkan segelas hot coklat untuk Meila dan secangkir cappuccino hangat untuknya, lalu menikmati kebersamaan mereka di waktu dinihari dalam keheningan malam nan damai.
Dimas memiringkan kepalanya, menunduk ke arah Meila yang tampak senang ketika menghirup aroma coklat yang menguap masuk ke dalam indra penciumannya. Bibirnya tidak tahan untuk tidak melengkungkan senyuman dan menghadiahkan kecupan lembut ke puncak kepala Meila.
"Are you feeling better now?" Ucapnya kemudian begitu melepaskan bibirnya dari puncak kepala Meila yang baru saja dikecupnya.
Meila menganggukkan kepala, lalu menengadahkan wajahnya hingga matanya berhasil menatap Dimas.
"Sooo much better. Thank you..." jawabnya pelan diselipi kelembutan dalam intonasinya, sementara bibirnya tersenyum dengan bola mata berbinar.
Dimas mengangguk perlahan disertai kedipan lembut dari kelopak matanya yang menampilkan bulu-bulu mata nan lentik dan tebal. Tak lupa juga dia menghadiahkan kecupan ke pelipis Meila dengan lembut.
Meila kembali menyesap hot cokelatnya, menangkupkan kedua telapak tangannya ke sisi gelas untuk menyerap kehangatannya. Lalu, sebersit perasaan mengganjal muncul di benaknya tatkala mengingat ucapan Dimas tadi, bahwa pria itu belum tertidur dan masih saja mengerjakan tugas kampus yang dikirimkan melalui pesan elektronik.
Tiba-tiba saja rasa bersalah muncul begitu saja, dia berpikir bahwa karena dirinyalah beban tugas Dimas bertambah dan malah menumpuk karena terlalu berkonsentrasi untuk merawatnya selama mereka tidak melakukan perkuliahan.
Kalau bukan karena dirinya, tidak mungkin Dimas mempunyai banyak tugas sampai membuatnya tidak tidur, bukan? Tidak mungkin pria itu mengerjakan tugas-tugas kampus yang menumpuk hingga waktu dinihari menjelang fajar?
Jika memang karena dirinyalah Dimas menjadi terbebani dikarenakan fokusnya yang terbagi antara menjaganya dan tugas kampus, sudah pasti rasa bersalah menggayuti hatinya.
Berusaha menekan rasa bersalahnya, Meila tampak mendesah perlahan disela-sela pikiran yang memberatkannya. Lalu, demi meringankan rasa bersalah di hatinya, tak urung dirinya berdehem sejenak sebelum kemudian menyuarakan apa yang ada dibenaknya.
"Kak Dimas," Meila mulai berucap, tampak ada nada keraguan dalam suaranya.
"Ya. Kenapa?" Jawab Dimas ingin tahu, tak luput juga telapak tangannya mengusap kepala Meila dengan gerakan lembut.
"Ma-maaf... kalo gara-gara aku tugas kampus kamu menumpuk. Sampe bikin kamu kurang tidur, bahkan bikin kamu begadang karena harus mengerjakan tugas yang dikirimkan lewat e-mail." Meila tampak gelisah, bahkan saking gelisahnya, dia sampai memainkan jemarinya dengan memutar-mutarnya ke permukaan gelas yang hangat. "Aku... aku pasti ngerepotin kamu dengan keadaan aku yang lemah ini. Berkali-kali bikin kamu cemas, berkali-kali bikin kamu ikut bermasalah sama Beno, dan berkali-kali juga bikin keadaan menjadi semrawut karena aku. Kak Dimas pasti merasa terbebani karena aku."
Sedangkan Dimas, yang tidak menyangka kalau Meila berpikir hingga merasa bersalah, sempat tertegun beberapa detik namun didetik kemudian dapat kembali menguasai dirinya.
"Kenapa kamu berpikir kayak gitu? Siapa yang bilang kalo aku merasa terbebani oleh kamu?" Tanya Dimas membalikkan keadaan, membuat Meila juga bingung harus menjawab bagaimana atas pertanyaan Dimas padanya yang sebenarnya diperuntukkan untuknya.
"Aku." Jawab Meila cepat. "Aku yang bilang barusan kalo kamu merasa terbebani. Kalo kamu pasti mempunyai banyak tugas yang harus kamu selesaiin dalam waktu singkat. Dan udah pasti sangat menguras tenaga dan pikiran berkali-kali lipat. Iya, kan?" Dengan kepala terangkat dan bola mata melebar, Meila menengadahkan wajahnya ke arah Dimas, mengundang pria itu untuk bersikap menunduk dan memandangnya dalam.
Diluar dugaan, Dimas malah terkikik geli karena pemikiran yang Meila ucapkan. Membuat gadis itu terheran-heran dan mengira jika ada yang lucu dalam ucapannya.
Dengan sebelah tangan menangkup wajah Meila, lalu menggoyangkannya gemas sambil berucap kata, "beruntung kamu yang mengatakannya. Jadi aku nggak akan marah. Sebab, jika orang lain yang mengatakan itu sama aku, aku nggak bisa jamin kalo orang itu akan lolos dari geraman kemarahan aku," pungkasnya kemudian membuat Meila menaikkan sebelah alisnya tidak percaya.
Dimas tampak mendesah pelan, digerakkan jemarinya untuk merapikan anak rambut Meila yang sedikit berantakan dan menyelipkannya ke belakang telinga, lalu menangkup kedua pipi gadis itu menggunakan kedua telapak tangannya sambil menunduk dan wajah yang sangat dekat.
"Mungkin kamu berpikir seperti itu karena ucapan aku yang mengatakan, kalau aku sedang mengerjakan tugas yang dikirim melalui e-mail. Disitu pasti kamu langsung menyimpulkan kalo aku, pasti kurang tidur dengan tugas menumpuk ditambah lagi dengan tugas lainnya yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Iya?" Desahnya perlahan dan memberi jeda. "Itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan kamu, Mei..." jawabnya lembut sedikit tegas, berusaha membuat Meila terfokus akan ucapannya. "Dan kamu bilang, kalo aku merasa terbebani dengan merawat kamu?" Dimas tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan sebelum kemudian menyambung ucapannya lagi. "Urusan aku merawat kamu dengan tugas-tugas yang menumpuk nggak ada hubungannya dengan itu semua. Aku yang berinisiatif untuk merawat dan memulihkan kamu. Aku yang mau menjaga kamu dari awal tanpa ada dorongan dari siapapun untuk melakukannya. Aku yang mau menjaga kamu, melindungi kamu dari bahaya diluar sana yang mengancam. Karena aku nggak mau melihat air mata penderitaan kamu yang bikin aku juga merasa sakit, Mei... Aku nggak bisa ngebiarin itu."
Entah mengapa penjelasan Dimas yang tegas dan beralasan di akhir kalimat itu telah menyentuh bagian hati Meila yang terdalam hingga terbentuk berupa cairan bening yang meluap ke permukaan bola matanya. Dirinya merasa terharu, hingga berpikir tidak ada lagi yang harus dipertanyakan dari pria dihadapannya kecuali dengan memandangi kedua bola matanya yang tajam namun meneduhkan itu.
Sikap Meila yang terdiam membisu itu sontak membuat Dimas mengerutkan keningnya, bertanya-tanya pada batinnya sendiri apakah gadis ini mendengar penjelasannya sejak tadi, atau sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri hingga tidak menghiraukan perkataannya dan hanya menganggapnya sambil lalu.
Namun, jika memang Meila tidak sedang mendengarkannya, lalu air mata yang meluap di pelupuk matanya itu.... atau mungkin ada kata-kata yang menyakitinya?
Meila sendiri merasa tersentuh atas perkataan Dimas tadi, keterdiamannya saat ini karena dirinya merasa semakin bersalah mengenai Dimas yang berkali-kali mengungkapkan perasaannya dengan gamblang, mengakui rasa sayang dan cintanya tanpa ditutup-tutupi, sedangkan dirinya hanya menahan malu-malu yang entah sampai kapan mulai mengakui perasaannya secara gamblang seperti yang pria itu lakukan tanpa harus merasa canggung.
"Hey, are you okay?" Suara itu berhasil membangkitkan Meila dari pikiran yang berkecamuk dan menariknya lagi pada kenyataan. Dimas sendiri masih tampak memandangi Meila dengan air mata yang menumpuk dibawah pelupuk matanya. Lalu menangkup kedua pipinya sebelum kemudian mengarahkan jemarinya untuk mengelus pipinya lembut.
"Eh!" Meila tersentak kaget dan sedikit tergerap, namun didetik kemudian dirinya bisa menguasai diri kembali. "Ng-nggak apa-apa.. Aku... aku cuma terharu," sambungnya kemudian disertai tangisan haru namun juga diselipi tawa. Tangan Meila pun terangkat akan mengusap wajahnya yang basah karena tetesan air mata yang jatuh. Namun, Dimas lebih dulu menghentikannya untuk mengambil alih, dialah yang mengusap air mata itu dan mengeluskan jemarinya di atas pipi Meila yang lembab karena air mata.
"Aku seneng kalo ucapan aku berhasil membuat kamu terharu," seru Dimas disela-sela tindakannya yang sedang mengelus pipi Meila dengan lembut, lalu terhenti tepat ketika matanya kembali memandangi Meila dengan pandangan meneduhkan. "Karena itu tandanya, aku udah berhasil menempati ruang di hati kamu." Sambungnya kembali dengan perkataan tersirat penuh arti, ditutup dengan sebuah kecupan mesra ke kening Meila.
Begitu kecupan di kening itu terlepas, kedua mata mereka saling bertemu, seakan sama-sama sedang menelaah rasa melalui tatapan dengan minim jarak. Rasa yang sulit diungkapkan hingga membuat Dimas berinisiatif merengkuh tubuh mungil gadis itu kedalam dekapan hangatnya, menempatkan sisi kepala Meila ke dadanya, agar gadis itu dapat merasakan detak jantungnya yang meletup-letup memukul rongga dadanya.
Meila pun seakan sudah terbiasa, langsung memejamkan matanya rapat, bersandar manja dalam kedamaian yang melingkupinya, melingkarkan lengannya ke pinggang Dimas, dan menghirup aroma menenangkan dari tubuh Dimas yang khas melingkupinya.